Anda di halaman 1dari 31

ACIDITAS

A. Pengertian Aciditas
Asiditas adalah kapasitas kuantitatif air untuk bereaksi dengan basa kuat sehingga
menstabilkan pH hingga mencapai 8,3 atau kemampuan air untuk mengikat OH- untuk
mencapai pH 8,3 dari pH asal yang rendah. Semua air yang memiliki pH < 8,5 mengandung
asiditas. Penyebab asiditas adalah asam-asam lemah, protein dan ion-ion logam yang bersifat
asam, terutama Fe3+. Penentuan asiditas lebih sukar dari alkalinitas karena adanya gas CO 2
dan H2S yang keduanya mudah menguap dan mudah hilang dari sampel yang diukur. Pada
pengolahan air limbah, penentuan asiditas menjadi penting untuk memperhitungkan jumlah
kapur atau zat-zat lain yang harus ditambahkan dalam proses penentuan kadar asiditas dalam
air limbah.
Pada dasarnya asiditas (keasaman) tidak sama seperti pH. Asiditas melibatkan dua
komponen yaitu jumlah asam, baik sam kuat maupun asam yang lemah serta konsentrasi ion
hidrogen. Menurut APHA (1976) dalam Effendi (2003), pada dasarnya asiditas
menggambarkan kapasitas kuantitatif air untuk menetralkan basa sampai pH tertentu, yang
dikenal dengan base-neutralizing capacity (BNC); sedangkan Tebbut (1992) dalam Effendi
(2003) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion hidrogen.
B. Prinsip Analisa
Prinsip Analisa asiditas air yaitu penetralan asam basa, yang mana larutan asam sebagai
larutan standart dalam penetapan kadar zat dalam suatu sampel yang bersifat basa. Titik
ekuivalen adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan disertai perubahan
warna indikatornya. Sedangkan titik akhir titrasi adalah saat terjadinya perubahan warna
indicator
C. Reaksi Kimia

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

Asiditas H+ + OH- H2O


CO2 + OH- HCO3HCO3- + H+ H2O + CO2
D. Batasan
Berdasarkan

Peraturan

Mentri

Kesehatan

Republik

Indonesia

nomor

429/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, bahwa kadar maksimun


asiditas air adallah 500 mg/dl.
E. Jenis-Jenis Aciditas
Jenis asiditas ada dua macam:
1. Asiditas Total (Asiditas Phenophtalein)
Asiditas total merupakan asiditas yang disebabkan adanya CO2 dan asam mineral.
Karbondioksida merupakan komponen normal dalam air alami. Sumber CO2 dalam air dapat
berasal dari adsorbsi atmosfer, proses oksidasi biologi materi organik, aktivitas fotosintesis,
dan perkolasi air dalam tanah. Karbondioksida dapat masuk ke permukaan air dengan cara
adsorbsi dari atmosfer, tetapi hanya dapat terjadi jika konsentrasi CO 2 dalam air <
kesetimbangan CO2 di atmosfer. Karbondioksida dapat diproduksi dalam air melalui oksidasi
biologi dari materi organik, terutama pada air tercemar. Pada beberapa kasus, jika aktivitas
fotosintesis dibatasi, konsentrasi CO2 di dalam air dapat melebihi keseimbangan CO2 di
atmosfer dan CO2 akan keluar dari air. Air permukaan secara konstan mengadsorpsi atau
melepas CO2 untuk menjaga keseimbangan dengan atmosfer.
Air tanah dan air dari lapisan hypolimnion di danau dan reservoir biasanya mengandung
CO2 dalam jumlah yang cukup banyak. Konsentrasi ini dihasilkan dari oksidasi materi
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

organik oleh bakteri dimana materi organik ini mengalami kontak dengan air dan pada
kondisi ini CO2 tidak bebas untuk keluar ke atmosfer. CO 2 merupakan produk akhir dari
oksidasi bakteri secara anaerobik dan aerobik. Oleh karena itu konsentrasi CO 2 tidak dibatasi
oleh jumlah oksigen terlarut.
2. Asiditas Mineral (Asiditas Metil Orange)
Asiditas mineral merupakan asiditas yang disebabkan oleh asam mineral. Dapat juga
disebut asiditas metil orange karena untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator
metil orange untuk mencapai pH 3,7. Asiditas mineral di dalam air dapat berasal dari industri
metalurgi, produksi materi organik sintetik, drainase buangan tambang, dan hidrolisis garamgaram logam berat.
Asiditas mineral terdapat di limbah industri, terutama industri metalurgi dan produksi
materi organik sintetik. Beberapa air alami juga mengandung asiditas mineral. Kebanyakan
dari limbah industri mengandung asam organik. Kehadirannya di alam dapat ditentukan
dengan titrasi elektrometrik dan gas chromatografi.
Garam logam berat, terutama yang bervalensi 3, terhidrolisa dalam air untuk melepaskan
asiditas mineral sesuai dengan reaksi
Fecl3 + 3H2O

Fe (OH)3 + 3 H+ + 3 Cl -

Kehadirannya dapat diketahui dari pembentukan endapan ketika pH larutan meningkat


selama netralisasi. Air yang mengandung asiditas biasanya bersifat korosif sehingga
memerlukan banyak biaya untuk menghilangkan/mengontrol substansi yang menyebabkan
korosi (umumnya CO2). Jumlah keberadaan asiditas merupakan faktor penting dalam
penentuan metode pengolahan, apakah dengan aerasi atau netralisasi sederhana dengan kapur
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

atau sodium hidroksida. CO2 merupakan pertimbangan penting dalam mengestimasi


persyaratan kimia untuk pelunakan kapur/kapur soda. Dalam penelitian ini, digunakan titrasi
asam basa dengan indikator phenophtalein (p) dan metil orange (m) sesuai reaksi
H+ + OH- H2O
CO2 + OH- HCO3
HCO3 + H+ H2O + CO2
Karbondioksida dan asiditas mineral dapat diukur dengan larutan standar menggunakan
reagen alkaline. Asam mineral dapat diukur dengan titrasi pada pH 3,7 sehingga disebut
asiditas metil orange. Titrasi contoh air pada pH mencapai 8,3 dapat mengukur asam mineral
dan asiditas dari asam lemah. Asam mineral dapat dinetralkan ketika pH mencapai 3,7. Hasil
yang diperoleh dinyatakan dalam CaCO3. Karena CaCO3 memiliki berat ekivalen 50, maka
N/50 NaOH digunakan sebagai agen penitrasi sehingga 1 ml ekivalen dengan 1 mg asiditas.
F. Akibat
Tinggi rendahnya asiditas pada air tentu memberi dampak terhadap lingkungan. Sampel
tersebut memiliki nilai asiditas yang kecil, maka air memiliki kecenderungan menyebabkan
korosi atau pengkaratan pada pipa aliran air tersebut.

ALKALINITAS
A. Pengertian Alkalinitas
Alkalinitas atau total alkalinitas adalah konsentrasi total dari unsur basa-basa yang
terkandung dalam air dan biasa dinyatakan dalam mg/L atau setara dengan kalsium
karbonat (CaCO2) dalam air, basa-basa yang terkandung biasanya dalam bentuk ion
karbonat dan bikarbonat (Kordi dan Tancung 2007).
Alkalinitas adalah jumlah asam (ion hidrogen) air yang dapat menyebar (buffer)
sebelum mencapai pH yang diinginkan. Total alkalinitas dingkapkan sebagai miligram
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

per liter atau bagian per juta kalsium karbonat (mg/L atau ppm CaCO 3- alkalinitas 20
mg/L. Faktor-faktor yang mempengaruhi:
Menurut Kordi (2009) , konsentrasi total alkalinita sangat erat hubungannya dengan
konsentrasi total kesadahan air. Hal ini disebabkan kesadahan atau atau yang disebut juga
dengan konsentrasi ion-ion logam bervalensi 2. Seperti Ca 2+ dan Mg2+ dipasok dalam
jumlah yang sama dari lapisan tanah dengan HCO3- dan CO32- yang merupakan unsur
pembentuk total alkalinitas.
Di larutan alkalinitas total akan berubah karena adanya perubahan salinitas sebagai
akibat adanya konsentrasi ion Na+ dan ion Cl- lainnya. (Frisetal, 2003). Selain itu yang
dapat mempengaruhi perubahan alkalinitas kalsium karbonat atau adanya produksi
partikel senyawa organik oleh mikroalga (Wolf-Gladwow. 2007 dalam Sulino dan Bayu
2007).

B. Manfaat Alkalinitas
Alkalinitas merupakan penyangga (buffer) perubahan pH air dan indikasi kesuburan
yang diukur dengan kandungan karbonat. Alkalinitas adalah kapasitas air untuk
mentralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan.
Alkalinitas berperan dalam menentukan kemampuan air untuk mendukung
pertumbuhan alga dan kehidupan air lainnya, hal ini dikarenakan pengaruh sistem buffer
dan alkalinitas.
Alkalinitas berfungsi sebagai reservoir untuk karbon organik. Sehingga alkalinitas
diukur sebagai faktor kesuburan air.
C. Prinsip Analisa
Suatu sampel air ditentukan pHnya dengan indikator kertas lakmus, indikator
universal dan pH meter. Selanjutnya, sampel tersebut dititrasi dengan larutan standar HCl
dengan indikator MM atau MO (Reaksi Penetralan Asam Basa)
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

D. Reaksi Kimia
Alkalinitas OH- + H+ H2O
CO32- + H+ HCO3HCO3- + H+ H2O + CO2
E. Batasan Alkalinitas Air
Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas
menyangga dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu terhadap ion karbonat dan
hidroksida dalam air. Semakin tinggi alkalinitas, maka kemampuan air untuk menyangga
lebih tinggi. Sehingga fluktuasi pH perairan smakin rendah. Alkalinitas biasanya
dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat.
Alkalinitas optimal pada nilai 90-150 ppm. Alkalinitas rendah diatasi dengan
pengapuran dosis 5 ppm. Dan jenis kapur yang digunakan disesuaikan dengan kondisi
pH air sehingga pengaruh pengapuran tidak membuat pH air tinggi. Serta disesuaikan
dengan keperluan dan fungsinya.
Perbedaan antara basa tingkat tinggi dengan alkalinitas yang tinggi adalah sebagai
berikut:
a. Tingkat Basa tinggi ditunjukkan dengan pH tinggi.
b. Alkalinitas Tinggi ditunjukkan dengan kemampuan menerima proton tinggi.
Perairan mengandung alkalinitas 20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif
stabil terhadap perubahan asam/basa sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil.
Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu,
dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alam tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3. Air
dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin,
sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat
alkalinitas sedang.
F. Akibat
Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme
akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam
natrium yang tinggi.

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

KESADAHAN
A. Pengertian Kesadahan
Kesadahan air didefinisikan sebagai kemampuan air untuk mengendapkan sabun,
sehingga keaktifan/ daya bersih sabun menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Sabun
adalah zat aktif permukaan yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air, sehingga air
sabun dapat berbusa. Air sabun akan membentuk emulsi atau sistem koloid dengan zat
pengotor yang melekat dalam benda yang hendak dibersihkan.
Kesadahan terutama disebabkan oleh keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan
magnesium (Mg2+) di dalam air. Keberadaannya di dalam air mengakibatkan sabun akan
mengendap sebagai garam kalsium dan magnesium, sehingga tidak dapat membentuk emulsi
secara efektif. Kation-kation polivalen lainnya juga dapat mengendapkan sabun, tetapi karena
kation polivalen umumnya berada dalam bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat
organik yang ada, maka peran kesadahannya dapat diabaikan. Oleh karena itu penetapan
kesadahan hanya diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+. Kesadahan total
didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air
(Anonim, 2008).
Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Penyebab
air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga disebabkan
karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe,
Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil.
Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal sebagai air
sadah, atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium
bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air. Oleh
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka
senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau
presipitat yang akhirnya menjadi kerak.
Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air mengendapkan sabun, di mana sabun ini
diendapkan oleh ion-ion yang saya sebutkan diatas. Karena penyebab dominan/utama
kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+, khususnya Ca2+, maka arti dari kesadahan dibatasi sebagai
sifat / karakteristik air yang menggambarkan konsentrasi jumlah dari ion Ca 2+ dan Mg2+, yang
dinyatakan sebagai CaCO3.

B. Prinsip Analisa
Metode yang dapat dilakukan untuk penentuan kesadahan adalah metode Titrasi EDTA
( Ethylene Diamene Tetra Asetat). Bila Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid dan garam
natriumnya kedalam suatu larutan dari kation logam tertentu,akan membentuk komplek
khelat yang mudah larut.
Bila indikator EBT ditambah kepada suatu larutan yang mengandung suatu ion Ca 2+ dan
Mg pada PH 10 + 0,1 larutan akan menjadi merah anggur.Bila kemudian dititrasi dengan
EDTA, ion Ca dan Mg akan terikat sebagai komplek.Pada titik akhir titrasi yaitu bila seluruh
ion Ca dan Mg sudah terikat oleh EDTA larutan yang berwarna merah anggur berubah
menjadi biru.
C. Jenis Kesadahan & Reaksi Kimia
Kesadahan dibagi menjadi 2:
1. Kesadahan sementara
Kesadahan sementara merupakan kesadahan yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-),
atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau
magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2) Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa
tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan
pemanasan senyawa-senyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel.
Reaksinya:
Ca(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3(endapan)
Mg(HCO3)2 dipanaskan
2.

CO2 (gas) + H2O (cair)

+ MgCO3 (endapan)

Kesadahan Tetap
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang mengadung anion selain ion bikarbonat,

misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi
berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4),
magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat
(MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena
kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air
tersebut dari kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air
tersebut dengan zat-zat kimia tertentu.
Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda- kapur (terdiri dari
larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida) sehingga terbentuk endapan kaslium
karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/endapan) dalam air.
Reaksinya:
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut)
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4(larut)
MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2(larut)
MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4(larut)
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

Ketika kesadahan kadarnya adalah lebih besar dibandingkan penjumlahan dari kadar
alkali karbonat dan bikarbonat, yang kadar kesadahannya eqivalen dengan total kadar alkali
disebut kesadahan karbonat; apabila kadar kesadahan lebih dari ini disebut kesadahan nonkarbonat. Ketika kesadahan kadarnya sama atau kurang dari penjumlahan dari kadar alkali
karbonat dan bikarbonat, semua kesadahan adalah kesadahan karbonat dan kesadahan
nonkarbonat tidak ada. Kesadahan mungkin terbentang dari nol ke ratusan miligram per liter,
bergantung kepada sumber dan perlakuan dimana air telah subjeknya.
D. Batasan
Kandungan kapur yang terdapat dalam air, agar tidak kurang dan tidak juga berlebih
maka perlu diterapkan standar suatu air dikatakan sadah atau berlebih kesadahannya. Standar
kualitas menetapkan kesadahan total adalah 5-10 derajat Jerman. Apabila kurang dari 5
derajat Jerman maka air akan terasa lunak dan sebaliknya. Jika dalam air mengandung lebih
dari 10 derajat Jerman maka akan merugikan bagi manusia.
Di kalangan masyarakat yang awam, sangat sulit untuk membedakan mana air yang
tingkat kesadahannya tinggi. Mereka hanya bisa memperkirakan saja berdasarkan apa yang
ditimbulkan dari air, misalnya mereka mengamati kerak yang ditimbulkan air pada dasar
panci memberikan sedikit pemahaman pada masyarakat bahwa air yang dikonsumsinya itu
tingkat kesadahannya tinggi, dan sebaliknya jika tidak terlihat kerak yang ditimbulkan artinya
bahwa air yang dikonsumsinya tingkat kesadahannya masih tergolong rendah (Sanropie dkk,
1984 dalam Resthy, 2011)..
Standar kesadahan air meliputi (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy 2011):
1.

Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa :


a.

Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

10

b.

Lunak mengandung 0-60 ppm CaCO3

c.

Agak sudah mengandung 60-120 ppm CaCO3

d. Sadah mengandung 120-180 ppm CaCO3


e.

Sangat sadah 180 ppm ke atas.

2. Standar kesadahan menurut E. Merck, 1974, bahwa :


a.

Sangat lunak antara 0-4 OD atau 0-71 ppm CaCO3

b.

Lunak antara 4-8 OD atau 71-142 ppm CaCO3

c.

Agak sadah antara 8-18 OD atau 142-320 ppm CaCO3

d. Sadah 18-30 OD atau 320-534 ppm CaCO3


e.

Sangat sudah 30 OD keatas atau sekitar 534 ppm ke atas.

3. Standar kesadahan menurut EPA, 1974, bahwa :


a.

Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3

b.

Lunak, antara 0-75 ppm CaCO3

c.

Agak sadah, antara 75-150 ppm CaCO3

d. Sadah, 150-300 ppm CaCO3


e.
4.

Sangat sadah 300 ppm ke atas CaCO3.

Kesadahan merupakan salah satu sifat kimia yang dimiliki air. Kesadahan air disebabkan

adanya ion ion Ca2+ dan Mg2+. Berdasarkan Standar kesadahan menurut PERMENKES
RI, 2010 batas maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3.
Bila melewati batas maksimum maka harus diturunkan (pelunakan).
Dari data tersebut dapat dilihat jelas bahwa air yang dikatakan sadah adalah air yang
mengandung garam mineral khususnya CaCO3sekitar 120-180 ppm menurut WHO,
sedangkan menurut Merck air dikatakan sadah jika mengandung 320-534 ppm atau sekitar
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

11

18-30 OD, menurut EPA air yag dikatakan sadah jika mengandung CaCO3 sekitar 150-300
ppm, dan menurut PERMENKES RI, 2010 batas maksimum kesadahan air minum yang
dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3. Bila melewati batas maksimum maka harus diturunkan
(pelunakan).
E. Dampak Dari Kesadahan yang Kurang dan Berlebih
Air jika tidak mengandung kapur atau tidak sadah akan terasa lunak atau hambar karena
tidak mengandung garam-garam mineral sehingga akan mengurangi selera dalam
mengkonsumsinya. Akan tetapi, jika di dalam air kandungan kapurnya sangat tinggi atau
dengan kata lain terlalu banyak mengandung garam-garam mineral justru akan memberikan
dampak yang buruk bagi kehidupan. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk mengetahui dampak
apa saja yang dapat ditimbulkan jika kandungan kapur dalam air berlebih atau kesadahannya
tinggi (Sanropie dkk, 1984 dalam Resthy, 2011).
Air lunak atau air yang tidak mengadung kapur mempunyai kecenderungan
menyebabkan korosi pada pipa. Sedangkan jika air memiliki kandungan kapur yang banyak
atau tingkat kesadahannya tinggi, maka mengakibatkan terbentuknya kerak-kerak pada
dinding pipa yang menyebabkan penyempitan pipa, sehingga memperkecil debit aliran air.
Dalam rumah tangga hal tersebut menyebabkan terbentuknya kerak pada dinding peralatan
memasak sehingga menyebabkan pemakaian bahan bakar yang lebih banyak dan
menyebabkan pemakaian sabun yang semakin tinggi.
Apabila kandungan CaCO3 atan MgCO3 dalam air itu melewati batas 10 derajat Jerman
maka akan menyebabkan, antara lain):
a. Menyababkan lapisan kerak pada alat dapur yang terbuat dari logam;
b. Kemungkinan terjadinya ledakan pada boiler;
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

12

c. Pipa air menjadi terumbat;


d. Sayur-sayuran menjadi keras apabila dicuci dengan air bersih.
Air sadah tidak terlalu berbahaya untuk diminum, akan tetapi dapat menyebabkan
beberapa masalah jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menimbulkan
osteoporosis atau pengapuran pada tulang manusia. Air sadah dapat menyebabkan
pengendapan mineral, yang menyumbat pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan
pemborosan

sabun

di

rumah

tangga,

selain

itu

air

sadah

dapat

membentuk

gumpalanscum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan
diawasi ketat untuk mencegah kerugian. Untuk menghilangkan kesadahan biasanya
digunakan beberapa zat kimia ataupun dengan menggunakan resin pertukaran ion.
Adapun dampak negatif dari air sadah, yaitu:
1. Menyebabkan sabun tidak berbusa karena adanya hubungan kimiawi antara kesadahan
dengan molekul sabun sehingga sifat detergen sabun hilang dan pemakaian sabun menjadi
lebih boros
2. Menimbulkan kerak pada ketel yang dapat menyumbat katup-katup ketel karena
terbentuknya endapan kalsium karbonat pada dinding atau katup ketel. Akibatnya hantaran
panas pada ketel air berkurang sehingga memboroskan bahan bakar.

ZAT ORGANIK
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

13

A. Pengertian Zat Organik


Zat organik sering juga disebut angka permanganate, merupakan pengukuran angka
permanganate atau pengukuran zat organic dalam air, dimana zat organic di dalam air
dioksidasi oleh oksidator kuat KMnO4 pada temperatur mendidih (100oC) selama 10 menit.
Setiap senyawa organik mengandung ikatan karbon yang dikombinasikan antara satu
elemen dengan elemen lainnya. Bahan organik berasal dari tiga sumber utama sebagai
berikut:

Alam, misalnya fiber, minyak nabati dan hewani, lemak hewani, alkaloid, selulosa, kanji,

gula, dan sebagainya.


Sintesis, yang meliputi semua bahan organik yang diproses oleh manusia.

Fermentasi, misalnya alkohol, aseton, gliserol, antibiotika, dan asam; yang semuanyan

diperoleh melalui aktivitas mikroorganisme.


Karakteristik bahan organik yang membedakannya dari bahan anorganik adalah sebagai
berikut (Sawyer dan McCarty, 1978) :

Senyawa organik biasanya mudah terbakar.

Senyawa organik mempunyai titik leleh dan titik didih yang lebih rendah.

Senyawa organik kurang larut dalam air.

Beberapa senyawa organik memiliki formula yang serupa (isomer).

Reaksi dengan senyawa lain berlangsung lambat karena bukan terjadi dalam bentuk
ion, melainkan dalam bentuk molekul.

Berat molekul senyawa organik bisa menjadi sangat tinggi, seringkali lebih dari 1000.

Kebanyakan senyawa organik berfungsi sebagai sumber makanan bakteri.


Organik pada sistem air alami berasal dari sumber-sumber alami maupun aktivitas
manusia. Organik yang terlarut dalam air biasa ditemukan dalam dua kategori, yaitu :
1. Organik Biodegradable
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

14

Materi biodegradable mengandung organik yang dapat digunakan sebagai makanan bagi
mikroorganisme yang hidup di alam dalam waktu yang singkat. Dalam bentuk terlarut,
materi ini mengandung zat tepung, lemak, protein, alkohol, asam, aldehid, dan ester.
Materi ini dapat menyebabkan masalah warna, rasa, bau, serta merupakan efek kedua
yang dihasilkan dari aktivitas mikroorganisme pada substansi-substansi tersebut.
Penggunaan organik terlarut oleh mikroba dapat terjadi melalui proses oksidasi dan
reduksi. Kondisi aerob merupakan hasil akhir dekomposisi organik oleh mikroba yang
bersifat stabil dan merupakan senyawa yang masih dapat diterima. Proses anaerob
menghasilkan produk yang tidak stabil dan tidak dapat diterima.
2. Organik Non Biodegradable
Beberapa materi organik resisten dari degradasi biologis. Asam tannin, lignin, selulosa,
dan fenol biasa ditemukan pada sistem air alami. Molekul dengan ikatan yang kuat dan
struktur

cincin

merupakan esensi

non

biodegradable.

Sebagai

contoh

senyawa

detergenalkylbenzenesulfonate (ABS), dimana dengan adanya cincin benzene, senyawa


tersebut tidak dapat terbiodegradasi. Sebagai surfaktan, ABS menyebabkan busa pada IPAL
dan meningkatkan kekeruhan.

Beberapa organik yang non biodegradable bersifat toksik bagi organisme. Hal ini
ditemukan pada pestisida organik, beberapa industri kimia, dan campuran hidrokarbon yang
berkombinasi dengan klorin. Sebagian besar pestisida bersifat toksik kumulatif dan
menyebabkan beberapa masalah pada rantai makanan yang lebih tinggi.

Pengukuran organik non biodegradable dapat dilakukan menggunakan tes COD


(Chemical Oxygen Demand). Organik non biodegradable dapat ditentukan dari analisa TOC
(Total Organic Compound). BOD dan TOC dapat mengukur fraksi biodegradable dari

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

15

organik, dimana BOD harus disubstraksi dari COD dan TOC untuk menghitung organiknon
biodegradable.

Secara umum, komponen penyusun materi organik terdiri dari 6 unsur, yaitu :

Unsur mikro

: Nitrogen (N), Phosfor (P), Sulfur (S)

Unsur makro : Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O)

B. Prinsip Analisa
Penetapan materi organik dapat dilakukan dengan metode Titrasi Permanganometri. Zat
Organik dalam sampel air dioksida dengan larutan standar KMnO4 direduksi dengan larutan
standar asam oksalat. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan larutan standar
KMnO4.
C. Reaksi Kimia
Zat anorganik + KMnO4 tidak berubah warna lagi
Zat organik + KMnO4 CO2 + H2O
D. Batasan
Menurut PERMENKES RI No 416/Menkes/Per/IX/1990, Kadar Maksimal zat organik
dalam air yaitu 10 mg/L.
E. Akibat
Zat organik (KMnO4) merupakan indikator umum bagi pencemaran. Tingginya zat
organik yang dapat dioksidasi menunjukkan adanya pencemaran. Zat organik mudah
diuraikan oleh mikroorganisme. Oleh sebab itu, bila zat organik banyak terdapat di badan air,
dapat menyebabkan jumlah oksigen di dalam air berkurang. Bila keadaan ini terus berlanjut,
maka jumlah oksigen akan semakin menipis sehingga kondisi menjadi anaerob dan dapat
menimbulkan bau, maka semakin jelas bahwa air tersebut telah tercemar.

CO2 AGRESIF
A. Pengertian CO2 Agresif

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

16

Karbondioksida (CO2) adalah komponen normal dalam semua air alami dan
merupakan gas yang mudah larut dalam air. CO 2 di alam terdiri dari CO2 bebas dan
CO2 terikat yang tergantung pada pH air. CO 2 bebas terdiri dari CO2 yang berada dalam
kesetimbangan, diperlukan untuk memelihara ion bikarbonat (HCO3-) dan CO2 agresif
yang dapat melarutkan CaCO3 dan bersifat korosif. CO2 terikat hadir dalam bentuk
bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO32-). CO2 agresif merupakan CO2 yang berada dalam
keseimbangan dan diperlukan untuk memelihara ion bikarbonat dalam air.
Air permukaan pada umumnya mengandung < 10 mg CO 2 bebas/liter, namun
beberapa air tanah mengandung lebih banyak lagi. Tidak semua CO 2 bersifat agresif.
CO2 bersifat agresif apabila terjadi kesetimbangan dalam reaksi.
Kadar HCO3- yang meningkat akan membuat kesetimbangan bergeser ke arah CO 2.
CO2menjadi agresif dan berusaha mempercepat kesetimbangan melalui reaksi dengan
CaCO3atau benda lain sehingga terjadi kekorosifan.
CO2 dapat berasal dari beberapa sumber, antara lain :

Masuknya CO2 melalui air permukaan oleh absorbsi dari atmosfer. Hal ini hanya terjadi
ketika konsentrasi CO2 dalam air lebih kecil daripada konsentrasi CO2 dalam atmosfer
dan mengikuti Hukum Henry, yang berbunyi Antara konsentrasi CO 2 di udara dengan
CO2 terlarut dalam air akan terjadi kesetimbangan (CO2 atm CO2terlarut).

Proses oksidasi biologi materi organik. Hal ini terutama terjadi pada air tercemar.
Oksidasi bakteri tersebut mengeluarkan CO2 sebagai hasil akhir, baik aerob maupun
anaerob.

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

17

Aktivitas fotosintesis yang dibatasi. Hal ini terjadi apabila konsentrasi CO 2 dalam air
lebih besar daripada konsentrasi CO2 di atmosfer.

Perkolasi air ke dalam tanah. Air tanah mengandung 30 50 mg/l CO 2. Hal ini
disebabkan air mengalami perkolasi dalam tanah yang tidak mengandung cukup
kalsium/magnesium karbonat untuk menetralisir CO2 melalui pembentukan bikarbonat.

Spesies karbon, misal CaCO3 (kapur).

Proses dekomposisi materi organik.

Air yang banyak mengandung CO2 akan bersifat korosif karena dapat melarutkan logam
yang terdapat pada pipa penyaluran air sehingga dapat terjadi korosi pada pipa distribusi air
minum. Korosi disebabkan air mempunyai pH rendah, yang disebabkan adanya kandungan
CO2 agresif yang tinggi.
B. Prinsip Analisa
Penentuan CO2 total dengan menitrasi sampel meggunakan NaOH 0,1 N dengan
indikator PP 1%. Kemudian, kadar HCO 3 ditentukan engan menitrasi sampel menggunakan
HCl 0,1 N dengan indokator Metil Orange 0,2% menggunakan metil orange.
C. Reaksi Kimia
CO2 + H2O HCO3- + H+

D. Batasan

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

18

Karbondioksida (CO2) yang terkandung dalam air berasal dari udara dan dekomposisi zat
organik. Kadar CO2 Agresif yang terkandung dalam air Menurut standar kualitas air minum,
Permenkes No. 416/IX/MENKES/1990 yaitu 0,0 mg/l.
E. Akibat
CO2 agresif dalam air dapat bereaksi dengan marmer (CaCO3), dan dapat melarutkan
logam dalam pipa logam. Apabila kadar CO2 tinggi, maka dapat menyebabkan terjadinya
korosi sehingga dapat menyebabkan terjadinya korosi sehingga berakibat kerusakan pada
logam-logam dan beton.
Pada air minum, apabila CO2 agresif dalam air berada diluar batas maksimal, maka akan
menyebabkan terjadinya korosi pada pipa-pipa logam dan mengakibatkan efek toksikologis.
Terjadinya korosi akan menyebabkan derajad keasaman air semakin tinggi, sehingga
mengakibatkan perkembangan mikroorganisme dalam air pesat, yang akhirnya menyebabkan
kekeruhan air sumur gali tinggi. Dengan kekeruhan yang tinggi, akan mengakibatkan
gangguan pada kesehatan terutama diare.
Perairan yang diperuntukkan untuk perairan perikanan sebaiknya mengandung kadar
kaerbondioksida bebas

KLORIDA
A. Pengertian Klorida
Klorida adalah ion yang terbentuk sewaktu unsur klor mendapatkan satu elektron untuk
membentuk suatu anion (ion bermuatan negatif) Cl-. Garam dari asam klorida (HCl)
mengandung ion klorida, contohnya adalah garam meja, yang disebut Natrium klorida
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

19

dengan rumus kimia NaCl. Dalam air, senyawa ini terpecah menjadi ion Na+ dan Cl. Klorida
dalam senyawa kimia, satu atau lebih atom klornya memiliki ikatan kovalen dalam molekul.
Ini berarti klorida dapat berupa senyawa anorganik maupun organik. Contoh paling sederhana
dari suatu klorida anorganik adalah asam klorida (HCl), sedangkan contoh sederhana
senyawa organik (suatu atau organoklorida) adalah klorometana (CH3Cl), sering disebut metil
klorid.
B. Prinsip Analisa
Klorida dapat ditetapkan dengan metode Argentometri Mohr, dalam suasana netral
hingga alkalis pH 7-10, klorida diendapkan oleh larutan perak nitrat (AgNO3). Perak
klorida(AgCl) yang terbentuk merupakan titik kesetaraan yang sesuai dengan jumlah
kandungan klorida. Dan Sebagai indikator digunakan K2CrO4- 5 %.
C. Reaksi Kimia
AgNO3 + NaCl AgCl
putih + NaNO3
2AgNO3 +K2CrO4 Ag2CrO4
merah + 2KNO3

D. Batasan
Klorida dalam bentuk ion Cl- adalah anion anorganik yang banyak terdapat dalam air.
Adanya klorida yang berlebihan dalam air minum dapat menyebabkan gangguan pada sifat
fisis air, gangguan pipa logam, dan gangguan kesehatan.
Pemeriksaan klorida pada air minum isi ulang dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar kadar kandungan klorida dalam air minum isi ulang sesuai persyaratan air minum yang
diperbolehkan dalam KEPMENKES.RI.NO 907/MENKES/SK/VII/2002.
Kadar klorida dalam air minum isi ulang ditetapkan dengan metode Argentometri Mohr
yaitu dengan menggunakan larutan standar AgNO3 dan indikator K2CrO4, titik akhir titrasi
ditandai dengan terbentuknya endapan warna merah bata dari Ag2CrO4. Hasil Pemeriksaan
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

20

yang telah dilakukan di Laboratorium Analisa Makanan dan Minuman, menunjukkan bahwa
kandungan klorida yang ada dalam air minum isi ulang telah memenuhi persyaratan sesuai
dengan KEPMENKES.RI.NO907/MENKES/SK/VII/2002 karena kadarnya tidak lebih dari
250 mg/liter.
E. Akibat
Keberadaan ion Cl- dalam air akan berpengaruh terhadap tingkat kasinan air. Semakin
tinggi konsentrasi ion Cl-, maka semakin asin air dan semakin rendah kualitasnya.
Di Indonesia, klorida digunakan sebagai disinfektan dalam penyediaan air minum.
Dalam jumlah banyak, klorida dapat menyebabkan korosi pada sistem perpipaan penyediaan
air panas.

D.O (Dissolved Oxygen)


OKSIGEN TERLARUT
A. Pengertian D.O
Oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarut yang berasal dari fotosintesis dan
arbsorbsi di atmosfer/udara. Oksigen trelarut di suatu perairan snagat berperan dalam proses
penyerapan makanan oleh makhluk hidup di dalam air.
Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, metabolisme atau
pertukaran zat yang menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan.
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang sangatvital bagi
kehidupan organisme perairan. Konsentrasi oksigen terlarut cenderung berubah-ubah sesuai
dengan keadaan atmosfir. Penurunan kadar oksigen di air mempunyai dampak nyata terhadap
makhluk yang hidup di air.
Sumber uttama oksigen terlarit dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis
organisme yang mempunyai klorofil dan hidup di perairan. Kecepatan difusi oksigen dari
udra ke air berlangsung sangat lambat. Oleh sebeb itu fitoplankton merupakan sumber utama
dalam penyediaan oksigenterlarut di dalam perairan.
Kelarutan Oksigen dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: suhu, kadar
garam (salinitas), pergerakan air di permukaan, luas daerah permukaan perairan yang terbuka,
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

21

tekanan atmosfir, dan persentase oksigen di sekelilingnya. Semakin tinggi suhu air, semakin
rendah tingkat kejenuhan. Misalnya danau di pegunungan yang tinggi mungkin mengandung
oksigen terlarut 20-40 % kurang daripada danau pada permukaan laut.

B. Prinsip Analisa dan Reaksi Kimia


Metoda titrasi dengan cara WINKLER
Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih
dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02.
Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan
juga akanmembebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium
yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S2O3)
dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat
dirumuskan :
MnCI2 + NaOH ==> Mn(OH)2 + 2 NaCI
2 Mn(OH)2 + O2 ==> 2 MnO2 + 2 H2O
MnO2 + 2 KI + 2 H2O ==>

Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH

I2 + 2 Na2S2O3 ==> Na2S4O6 + 2 Nal

Metoda elektrokimia
Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung

untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

22

menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalam larutan
elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan
anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang
bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah:
Katoda : O2 + 2 H2O + 4e ==> 4 HOAnoda : Pb + 2 OH- ==> PbO + H2O + 2

C. Batasan
Oksigen terlarut adalah tingkat saturasi udara di air yang dinyatakan dalam kadar mg per
liter air atau part per million (ppm).
Standar baku sesuai Permenkes nomor 492/Menkes/Per/2010 tentang Standar Air, kadar
oksigen terlarut untuk air baku harus di atas 4 ppm.
D. Akibat
Apabila Kadar DO rendah:
Ikan akan mulai lemas dan kekurangan oksigen bila kadar udara terlarut dalam air di
bawah 4 mg/l. Tingkat saturasi udara dalam air juga akan berkurang seiring dengan naiknya
temperatur air. Tanaman dan algae di siang hari akan berfotosintesis mengkonsumsi CO2 dari
udara dan memberikan suply 02 ke air, sebalikanya pada malam hari akan mengkonsumsi 02
yang ada dalam air. Selain ikan, bakteri pengurai dalam juga akan mati jika kadar udara
dalam air makin rendah di bawah 3mg/l. Selain itu, jika kadar oksigen terlarut yang terlalu
rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akbibat degradasi aerobik yang mungkin saja
terjadi.
Rendahnya tingkat DO juga menjadi penyebab terjadinya amoniak booming, dimana
bakteri penguari tidak dapat berfungsi secara maksimal dalam proses siklus nitrifikasi.
Cara untuk menanggulangi jika kekurangan kadar oksigen terlarut adalah dengan cara :
1. Menurunkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur turun maka kadar oksigen
terlarut akan naik.
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

23

2. Mengurangi kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka semakin kadar
oksigen terlarut akan naik karena proses fotosintesis semakin meningkat.
3. Mengurangi bahan bahan organik dalam air, karena jika banyak terdapat bahan organik
dalam air maka kadar oksigen terlarutnya rendah.
4. Diusahakan agar air tersebut mengalir.

Apabila Kadar DO sangat tinggi:


Cara untuk menanggulangi jika kelebihan kadar oksigen terlarut adalah dengan cara :

1. Menaikkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur naik maka kadar oksigen terlarut
akan menurun.
2. Menambah kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka semakin kadar
oksigen terlarut akan menurun karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar
oksigen digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan bahan organik dan anorganik.

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

24

BOD
(Biochemical Oxygen Demand)
A. Pengertian B O D
BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses
mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. BOD diperlukan untuk menentukan beban
pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis
B. Prinsip Analisis
Pemeriksaan paameter BOD didasarkan pada reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen
di dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik. Untuk
menguraikan zat organik memerlukan waktu kurang lebih 2 hari untuk 50% reaksi. 5 hari
untuk 75% reaksi tercapai dan 20 hari untuk 100% reaksi tercapai.
Dengan kata lain, tes BOD berlaku sebagai simulasi proses biologi secara ilmiah, mulamula diukur DO nol dan setelah mengalami inkubasi selama 5 hari pada suhu 20 o Catau 3
hari pada suhu 25oC-27oC diukur lagi DO air tersebut. Perbedaan DO air tersebut yang
dianggap konsumsi oksigen untuk proses biokimia akan selesai dalam waktu 5 hari
dipergunakan dengan anggapan segala proses biokimia akan selesai dalam waktu 5 hari,
walau sesungguhnya belum selesai.
C. Reaksi Kimia
Dapat diketahui bahwa, ammonia sebagai hasil sampingan ini dapat dioksidasi menjadi
nitrit dan nitrat, sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan BOD.
Adapun reaksi Kimia yang dapat terjadi yaitu:
2NH3 + 3O2- 2NO2- + 2H+ +2H2O
2NO2- + O2 2NO2D. Batasan
Tinggi rendahnya pencemaran pada suatu perairan sangat mempengaruhi kadar oksigen
pada saat pemecahan bahan organik.

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

25

Kandungan BOD dalam air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 /


2001 mengenai baku mutu air dan air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah
6 mg/l
Kadar BOD yang tinggi akan mengancam kehidupan biotis air karena turunnya kadar
oksigen dalam air.
E. Akibat
Semakin banyak bahan organik dalam air, maka semain besar BODnya, sehingga
menyebabkan perairan menjadi tercemar. Sedangkan jika kadar BOD nya rendah, dapat
mengakibatkan hewan-hewan yang menempati perairan tersebut akan mati.

COD
(Chemical Oxygen Demand)
A. Pengertian C O D
Chemical oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel
air atau banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi
CO2 dan H2O. Pada reaksi ini hampir semua zat yaitu sekitar 85% dapat teroksidasi menjadi
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

26

CO2 dan H2O dalam suasana asam, sedangkan penguraian secara biologi (BOD) tidak semua
zat organik dapat diuraikan oleh bakteri. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air
oleh zat- zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis,
dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam air .
Beberapa bahan organik tertentu yang terdapat pada air limbah, kebal terhadap
degradasi biologis dan ada beberapa diantaranya yang beracun meskipun pada konsentrasi
yang rendah. Bahan yang tidak dapat didegradasi secara biologis tersebut akan didegradasi
secara kimiawi melalui proses oksidasi, jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
tersebut dikenal dengan Chemical Oxygen Demand. Kadar COD dalam air limbah berkurang
seiring dengan berkurangnya konsentrasi bahan organik yang terdapat dalam air limbah,
konsentrasi bahan organik yang rendah tidak selalu dapat direduksi dengan metode
pengolahan yang konvensional.
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara
alamiah dapat dioksidasi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Maka
konsentrasi COD dalam air harus memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan agar
tidak mencemari lingkungan.
Uji COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahanbahan organik yang terdapat didalam air. Pengukuran COD didasarkan pada kenyataan
hampir semua bahan organik dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan
bantuan oksidator kuat yaitu kalium dikromat
( K2Cr2O7) dalam suasan asam. Dengan menggunakan dikromat sebagai oksidator,
diperkirakan sekitar 95 % - 100 % bahan organik dapat dioksidasi.
Air yang telah tercemar limbah organik sebelum reaksi berwarna kuning dan setelah
reaksi oksidasi berubah menjadi warna hijau. Jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

27

oksidasi terhadap limbah organic seimbang dengan jumlah kalium dikromat yang digunakan
pada reaksi oksidasi.
Pada analisa COD dari suatu air limbah menghasilkan nilai COD selalu lebih tinggi dari
nilai BOD . Perbedaan antara kedua nilai disebabkan banyak faktor antara lain:
a.

Bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak tahan terhadap oksidasi
kimia seperti lignin.

b.

Bahan kimia yang dapat dioksidasi secara kimia dan peka terhadap oksidasi biokimia
tetapi tidak dalam uji BOD seperti selulosa, lemak berantai panjang atau sel- sel
mikroba. Adanya bahan toksik dalam limbah yang akan mengganggu uji BOD tetapi
tidak uji COD.

c.

Angka BOD adalah jumlah komponen organik biodegradable dalam air buangan,
sedangkan tes COD menentukan total organik yang dapat teroksidasi, tetapi tidak dapat
membedakan komponen biodegradable/ nonbiodegradable.

d.

Beberapa substansi anorganik seperti sulfat dan tiosulfat, nitrit dan besi yang tidak akan
terukur dalam tes BOD akan teroksidasi oleh kalium dikromat, membuat nilai COD
anorganik yang menyebabkan kesalahan dalam penetapan komposisi organik dalam
laboratorium.

e.

Hasil COD tidak tergantung pada aklimasi bakteri sedangkan tes BOD sangat
dipengaruhi aklimasi seeding bakteri. Aklimasi adalah perubahan adaptif yang terjadi
pada bakteri dalam kondisi yang terkendali.

B. Prinsip Analisa
Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand = COD) adalah jumlah
oksidan Cr2O7(2-) yang bereaksi dengan contoh uji dan dinyatakan sebagai mg O 2 untuk tiap
1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan anorganik, terutama organik dalam contoh uji
dioksidasi oleh Cr2O7(2-) dalam refluks tertutup menghasilkan Cr (3+). Jumlah oksidan yang
dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O 2 mg /L) diukur secara spektrofotometri
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

28

sinar tampak. Cr2O7(2-) kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr (3+) kuat
mengabsorpsi pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai DO 100 mg/L sampai dengan
900 mg/L ditentukan kenaikan Cr(3+) pada panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji
dengan nilai DO yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum
pengujian. Untuk nilai DO lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan
konsentrasi Cr2O7(2-) pada panjang gelombang 420 nm.
C. Reaksi Kimia
3 Fe 3+ + Cr2O72- + 14 H+ Fe 3+ + 2Cr3+ + 7H2O
D. Batasan
Kandungan COD dalam air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 /
2001 mengenai baku mutu air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 12
mg/l. apabila nilai COD melebihi batas dianjurkan, maka kualitas air tersebut buruk.
E. Akibat
Semakin banyak bahan organic dalam air, maka semakin besar BODnya sedangkan DO
akan semakin rendah. Air yang bersih adalah jika tingkat DOnya tinggi, sedangkan BOD dan
zat padat terlarutnya rendah. Apabila kadar oksigen terlarut berkurang mengakibatkan hewanhewan yang menempati perairan tersebut akan mati. Dan jika kadar COD meningkat
menyebabkan perairan menjadi tercemar.

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

29

DAFTAR PUSTAKA

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/instrumen_analisis/titrasi-volumetri/penetapanalkalinitas/ (diakses tanggal 20 Desember 2013)


http://www.sentra-edukasi.com/2011/06/alkalinitas-dan-kesadahan.html (diakses tanggal 20

Desember 2013)
http://www.hukor.depkes.go.id/up.pdf (diakses tanggal 20 Desember 2013)
http://www.slideshare.net/infosanitasi/per-menkes-416-90-syaratsyarat-dan-pengawasan-kualitasair (diakses tanggal 23 Desember 2013)
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/01/metode-pengujian-chemical-oxygendemandcod.html (diakses tanggal 23 Desember 2013)
http://www.suarasurabaya.net/fokus/86/2013/127006 (diakses tanggal 23 Desember 2013)
http://eprints.undip.ac.id/17288/1/1905.pdf (diakses tanggal 23 Desember 2013)
http://pilnas.ristek.go.id/karya/index.php/record/view/35942 (diakses tanggal 23 Desember 2013)
Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

30

http://klh.solokkota.go.id/file/1412111746_sni-06-6989.19-2004.pdf (diakses tanggal 23 Desember


2013)
http://kimiateknologi.setiabudi.ac.id/index.php?option (diakses tanggal 23 Desember 2013)
http://odeyoni.blogspot.com/2012/06/titrasi-permanganometri.html (diakses tanggal 30 Desember
2013)
http://elearning.upnjatim.ac.id/courses/LKK21206/work/513ef885e64a5kesadahan.docx (diakses
tanggal 30 Desember 2013)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13855/1/09E00361.pdf (diakses tanggal 30
Desember 2013)
http://www.mineraltambang.com/Dissolved-Oxygen.html (diakses tanggal 30 Desember 2013)
http://teknologikimiaindustri.blogspot.com/2011/02/oksigen-terlarut-ot-dissolved-oxygen-do.html
(diakses tanggal 30 Desember 2013)

Makalah Kimia Air III B | KELOMPOK 8

31