Anda di halaman 1dari 7

BAB II

Pendahuluan
Analgesik adalah obat yang selektif mengurangi rasa sakit dengan bertindak
dalam sistem saraf pusat atau pada mekanisme nyeri perifer, tanpa secara signifikan
mengubah kesadaran. Analgesik menghilangkan rasa sakit, tanpa mempengaruhi
penyebabnya (Tripathi, 2003). Nyeri merupakan sensasi yang mengindikasikan bahwa
tubuh sedang mengalami kerusakan jaringan, inflamasi, atau kelainan yang lebih berat
seperti disfungsi sistem saraf. Oleh karena itu nyeri sering disebut sebagai alarm untuk
melindungi tubuh dari kerusakan jaringan yang lebih parah. Rasa nyeri seringkali
menyebabkan rasa tidak nyaman seperti rasa tertusuk, rasa terbakar, rasa kesetrum, dan
lainnya sehingga mengganggu kualitas hidup pasien atau orang yang mengalami nyeri
(Ferdianto, 2007).
Pengelolaan nyeri yang tidak optimal akan meningkatkan morbiditas pasien.
Tingginya angka morbiditas akan menyebabkan bertambahnya waktu penyembuhan,
lama rawat inap dan menambah biaya rawat rumah sakit. Oleh karena itu pengelolaan
nyeri yang optimal bukan saja merupakan upaya mengurangi penderitaan pasien tetapi
juga meningkatkan kualitas hidupnya. Telah terbukti tanpa pengelolaan nyeri yang
adekuat, penderita akan mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis yang pada
akhirnya secara bermakna meningkatkan angka morbiditas maupun mortalitas (Lucas,
2004).

BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1.1 Penggolongan Analgesik


Analgesik dibagi menjadi dua, yaitu analgesik narkotik dan analgesik non
narkotik.
1. Analgesik Narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur
dan kanker. Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut suatu skema
bertingkat empat, yaitu : obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal;
parasetamol, asetosal, obat perifer bersama kodein atau tramadol, obat
sentral (Opioid) peroral atau rectal, obat Opioid parenteral. Guna
memperkuat analgetik dapat dikombinasikan dengan co-analgetikum,
seperti psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin atau prednisone).
Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan
tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi
kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan
nyaman (euphoria) serta dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan
(habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan
gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Semua analgetik
narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat, teteapi potensi. Onzer, dan
efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan
mengantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotansi serta depresi
pernafasan.
Morfin dan petidin merupakan analgetik narkotik yang paling banyak
dipakai untuk nyeri walaupun menimbulkan mual dan muntah. Obat ini di
Indonesia tersedia dalam bentuk injeksi dan masih merupakan standar
yang digunakan sebagai pembanding bagi analgetik narkotika lainnya.
Selain menghilangkan nyeri, morfin dapat menimbulkan euphoria dan
ganguan mental.

Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang samapi sekarang masih


digunakan di Indonesia :
Morfin HCL,
Kodein (tunggal atau kombinasi dengan parasetamol),
Fentanil HCL,
Petinidin, dan
Tramadol.
Khusus untuk tramadol secara kimiawi memeng tergolong narkotika
tetapi menurut undang-undang tidak sebagai narkotik, karena kemungkinan
menimbulkan ketergantungan.
2. Analgesik Non Narkotik
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja
sentral. Obat- obat inidinamakan juga analgetika perifer, karena tidak
mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau
mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja
antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka
disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya
terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan
vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan
disertai keluarnya banyak keringat.
Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik hipotalamus atau di
tempat cedera. Respon terhadap cedera umumnya berupa inflamasi, udem,
serta pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG, dan histamine. PG dan
brankinin menstimulasi ujung staraf perifer dengan membawa implus
nyeri ke SSP. AINS dapat menghambat sintesis PG dan brankinin sehingga
menghambat terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Obat-obat yang
banyak digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan
salisilat dan asetaminofen (parasetamol). Aspirin adalah penghambat
sintesis PG paling efektif dari golongan salisilat.

Salisilat merupakan protipe AINS yang sampai sekarang masih


digunakan. Termasuk salisilat adalah Na-salisilat, aspirin (asam asetil
salisilat), salisid, dan meril salisilat bersifat toksik jika tertelan oleh Karen
itu, hanya dipakai topical untuk menghangatkan kulit dan antigatal
( antpruritus). Golongan salisilat dapat mengiritasi lapisan mukosa
lambung. Organ yang peka pada efek ini akan mengalami mual setelah
minum aspirin. Dalam lambung . PG berperan serta dalam mekanisme
perlindungan mukosa dari asam lambung atau gantrin. PG berfungsi
meningkatkan daya tahan membrane mukosa lambung. Aspirin selain
berefek analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi, daalam dosis kecil juga
berfungsi sebagai antitrombosis (antiplatelet). Pada dosis kecil, aspirin
dapat

menghambat

agreasi

trombosit

(antikoagulan)

mencegah

terbentuknya thrombus pada penderita infark jantung sehingga ddapat


mengurangi timbulnya stroke.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Kombinasi Analgetik

Penggunaan kombinasi analgetik dalam menangani nyeri


pasca operatif telah banyak membuktikan efek yang baik terhadap
pengrangan nyeri

pasien

dengan

efek

samping

yang dapat

dikurangi. Kombinasi tersebut dapat digunakan untuk menurunkan dosis


masing-masing obat sehingga mengurangi efek samping obat yang
dipergunakan. hasil penelitian yang dilakukan oleh setiawan (2014)

yang menunjukkan bahwa Penggunaan kombinasi ketamin dengan


opioid dapat menghasilkan efek hemat opioid dan akan memberikan efek
analgetik yang superior dibandingkan dengan memberikan salah satu
jenis obat saja.

Penggunaan

baik

NSAID

dan

opioid

secara

bersamaan

sebagai pengobatan nyeri akut juga adalah umum digunakan.


Penambahan

NSID

pada

pengobatan

regimen

opioid

dapat

mengurangi dosis opioid dimana dapat mengurangi efek samping


dari penggunaan NSAID. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Cepeda at al menemukan bahwa kombinasi ketorolac dan morfin
dapat mengurangi efek samping dari pruritis yang disebabkan oleh
morfin.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Bell dkk (2006)

menyimpulkan bahwa pemberian infus kontinyu ketamine low dose


sampai 48 jam pasca bedah abdomen memberbaiki nyeri dan
menurunkan

kebutuhan

morfin

PCA

serta

menurunkan

efek

samping mual muntah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa


penggunaan

kombinasi

obat

analgetik

dapat

meningkatkan

efektifitas managemen nyeri pada pasien.


Berikut ini contoh sediaan kombinasi analgetik yang tersedia di
pasaran :

No
1

Nama Obat
Analtram

Acetram

Komposisi
dosis
Acetaminofen ( 325 Meredakan

nyeri

mg)

4-6

tab

Dotramol

tab

sincronic

tab

sinergic

tab

Atrifen

tab

Coditam

tiap

4-6

1-2
jam.

tiap

4-6

1-2
jam.

tiap

4-6

1-2
jam.

Tramadol (37,5 mg) Maksimal 8 tab


Ibuprofen (200 mg) 1 tab 3-4 x sehari
Paracetamol

jam.

Tramadol (37,5 mg) Maksimal 8 tab


Acetaminofen ( 325 Meredakan nyeri
mg)

4-6

Tramadol (37,5 mg) Maksimal 8 tab


Acetaminofen ( 325 Meredakan nyeri
mg)

tiap

1-2

Tramadol (37,5 mg) Maksimal 8 tab


Acetaminofen ( 325 Meredakan nyeri
mg)

jam.

Tramadol (37,5 mg) Maksimal 8 tab


Acetaminofen ( 325 Meredakan nyeri
mg)

tiap

1-2

mg)
Codein

30

Paracetamol
mg

(235
mg 1-2 tab setiap 8 jam,
500 maksimal 8 tab/ hari

Tinajuan Pustaka

Bell R.F., Dahl J.B.,Moore R.A. & Kalso E. (2006). Perioperative


ketamin for acute
postoperative

pain.

Cochrane

Database

Syst

Rev,

(1):CD004603
Ferdianto. 2007. Rasionalitas Pemberian Analgesik Tramadol Pasca Operasi Di RS.
Kariadi Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang.

Schmid RL, Sandler AN, Katz J. Use and efficacy of low-dose


ketamine in the management of acute postoperative pain: a
review of current techniques and outcomes. Pain.
1999;82:11125.
Tripathi KD. 2003. Essentials of Medical Pharmacology 5th Edn. New Delhi: Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) Ltd.: 453.