Anda di halaman 1dari 20

Referat

SKABIES

Pembimbing:
Dr. Didi Supriadi, Sp.KK

Disusun Oleh:
Mira Kurnia
1102011164

BAGIAN ILMU KESEHATAN


KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD SUBANG
2016

BAB I

PENDAHULUAN
Sinonim atau nama lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.(1)
Skabies terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, di semua geografi daerah, semua
kelompok usia, ras dan kelas sosial. Namun menjadi masalah utama pada daerah yang padat
dengan gangguan sosial, sanitasi yang buruk, dan negara dengan keadaan perekonomian yang
kurang. Skabies ditularkan melalui kontak fisik langsung. (skin-to-skin) maupun tak langsung
(pakaian, tempat tidur, yang dipakai bersama).(2,3)
Gejala utama adalah pruritus intensif yang memburuk di malam hari atau kondisi dimana
suhu tubuh meningkat. Lesi kulit yang khas berupa terowongan, papul, ekskoriasi dan
kadang-kadang vesikel.(4,5)
Tungau penyebab skabies merupakan parasit obligat yang seluruh siklus hidupnya
berlangsung di tubuh manusia. Tungau tersebut tidak dapat terbang atau meloncat namun
merayap dengan kecepatan 2.5 cm per menit pada kulit yang hangat. (6)

BAB II
I.

DEFINISI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.(1)

II.

EPIDEMIOLOGI
Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Daerah
endemik skabies adalah di daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika
Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, Kepulauan Karibia, India, dan Asia
Tenggara.(2,7)
Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terjangkit
tungau skabies.(6) Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies
cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin,
ras, umur, ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah
kemiskinan dan kondisi hidup di daerah yang padat, (7) sehingga penyakit ini lebih sering
di daerah perkotaan. (3)
Terdapat bukti menunjukkan insiden kejadian berpengaruh terhadap musim dimana
kasus skabies lebih banyak didiagnosis pada musim dingin dibanding musim panas.
Insiden skabies semakin meningkat sejak dua dekade ini dan telah memberikan pengaruh
besar terhadap wabah di rumah-rumah sakit, penjara, panti asuhan, (3) dan panti jompo. (8)
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang
menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: higiene yang buruk, kesalahan
diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologi. Penyakit ini dapat dimasukkan
dalam P.H.S. (Penyakit akibat Hubungan Seksual).(1)

III.

ETIOLOGI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.(1,4) Sarcoptes scabiei adalah parasit
manusia obligat yang termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima,
superfamili Sarcoptes. Bentuknya lonjong, bagian chepal depan kecil dan bagian
belakang torakoabdominal dengan penonjolan seperti rambut yang keluar dari dasar kaki.
(6)

Tungau skabies mempunyai empat kaki dan diameternya berukuran 0,3 mm. Sehingga
tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tungau ini tidak dapat terbang atau melompat
dan hanya dapat hidup selama 30 hari di lapisan epidermis. (3) Skabies betina dewasa
berukuran sekitar 0,4 mm dengan luas 0,3 mm , dan jantan dewasa lebih kecil 0,2 mm
panjang dengan luas 0,15 mm. Tubuhnya berwarna putih susu dan ditandai dengan garis
melintang yang bergelombang dan pada permukaan punggung terdapat bulu dan dentikel.
(9)

Gambar 1. Sarcoptes scabiei *

Terdapat empat pasang kaki pendek, di bagian depan terdapat dua pasang kaki yang
berakhir dengan perpanjangan peduncles dengan pengisap kecil di bagian ujungnya. Pada
tungau betina, terdapat dua pasang kaki yang berakhir dengan rambut (Satae) sedangkan pada
tungau jantan rambut terdapat pada pasangan kaki ketiga dan peduncles dengan pengisap
pada pasangan kaki keempat.(9)
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di
atas kulit, tungau jantan akan mati. Tapi kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari
dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali
terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil
meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai 40-50 telur yang dihasilkankan
oleh setiap tungau betina selama rentang umur 4-6 minggu dan selama itu tungau betina tidak
meninggalkan terowongan. Setelah itu, larva berkaki enam akan muncul dari telur setelah 3-4
hari dan keluar dari terowongan dengan memotong atapnya. Larva kemudian menggali
terowongan pendek (moulting pockets) di mana mereka berubah menjadi nimfa. Setelah itu
berkembang menjadi tungau jantan dan betina dewasa. Seluruh siklus hidupnya mulai dari
telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 12 hari.(9,10)

Gambar 2.

Siklus Hidup Skabies *

Tungau skabies lebih


suka

memilih area tertentu

untuk

membuat

terowongannya dan menghindari area yang memiliki banyak folikel pilosebaseus. Biasanya,
pada satu individu terdapat kurang dari 20 tungau di tubuhnya, kecuali pada Norwegian
scabies dimana individu bisa didiami lebih dari sejuta tungau. Orang tua dengan infeksi virus
immunodefisiensi dan pasien dengan pengobatan immunosuppresan mempunyai risiko tinggi
untuk menderita Norwegian scabies.(3,9)
IV.

PATOGENESIS
Reaksi alergi yang sensitif terhadap tungau dan produknya memperlihatkan peran

yang penting dalam perkembangan lesi dan terhadap timbulnya gatal. (9) S. Scabiei
melepaskan substansi sebagai respon hubungan antara tungau dengan keratinosit dan selsel Langerhans ketika melakukan penetrasi ke dalam kulit. (11)
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe IV
dan tipe I.

(9,11)

Pada reaksi tipe I, pertemuan antigen tungau dengan Imunoglobulin-E

pada sel mast yang berlangsung di epidermis menyebabkan degranulasi sel-sel mast.
Sehingga terjadi peningkatan antibodi IgE. Keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe IV
akan memperlihatkan gejala sekitar 10-30 hari setelah sensitisasi tungau

(11)

dan akan

memproduksi papul-papul dan nodul inflamasi yang dapat terlihat dari perubahan
histologik dan jumlah sel limfosit T banyak pada infiltrat kutaneus.

(9)

Kelainan kulit yang

menyerupai dermatitis tersebut sering terjadi lebih luas dibandingkan lokasi tungau
dengan efloresensi dapat berupa papul, nodul, vesikel, urtika dan lainnya. Akibat garukan

yang dilakukan oleh pasien dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta hingga terjadinya infeksi
sekunder. (12)
Cara penularan skabies:
Skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. (7)
Penularan melalui kontak langsung (skin-to-skin) menjelaskan mengapa penyakit ini
sering menular ke seluruh anggota keluarga. (11) Penularan secara tidak langsung dapat
melalui penggunaan bersama pakaian, handuk, maupun tempat tidur. Bahkan dapat pula
ditularkan melalui hubungan seksual antar penderita dengan orang sakit,(1) namun skabies
bukan manifestasi utama dari penyakit menular seksual. (7)
V.

DIAGNOSIS
Diagnosis klinis ditetapkan berdasarkan:

Anamnesis
Adanya pruritusnokturna dan erupsi kulit berupa papul, vesikel, dan
pustule di tempat predileksi,distribusi lesi yang khas, terowongan-terowongan pada
predileksi, adanya penyakit yang sama pada orang-orang sekitar
Gambaran Klinis
Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei sangat
bervariasi. Meskipun demikian kita dapat menemukan gambaran klinis berupa keluhan
subjektif dan objektif yang spesifik. Dikenal ada 4 tanda utama atau cardinal sign pada
infestasi skabies, yaitu (1,13) :
1. Pruritus nocturna
Setelah pertama kali terinfeksi dengan tungau skabies, kelainan kulit seperti
pruritus akan timbul selama 6 hingga 8 minggu. Infeksi yang berulang menyebabkan
ruam dan gatal yang timbul hanya dalam beberapa hari. Gatal terasa lebih hebat pada
malam hari.(3,4) Hal ini disebabkan karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu
yang lebih lembab dan panas. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur
dan penderita menjadi gelisah.(13)
2. Sekelompok orang
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam sebuah
keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam sebuah
pemukiman yang padat penduduknya, skabies dapat menular hampir ke seluruh
penduduk.

Didalam

kelompok

mungkin

akan

ditemukan

individu

yang
6

hiposensitisasi, walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga tidak menimbulkan


keluhan klinis akan tetapi menjadi pembawa/carier bagi individu lain.(13)
3. Adanya terowongan
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada kemampuannya
meletakkan telur, larva dan nimfa didalam stratum korneum, oleh karena itu parasit
sangat menyukai bagian kulit yang memiliki stratum korneum yang relative lebih
longgar dan tipis. (13)
Lesi yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul dan nodul yang sering
ditemukan di daerah sela-sela jari, aspek volar pada pergelangan tangan dan lateral
telapak tangan, siku, aksilar, skrotum, penis, labia dan pada areola wanita. (3) Bila ada
infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).(13)

Gambar 3. Lesi pada sela jari, penis, dan areola mammae

Erupsi eritematous dapat tersebar di badan sebagai reaksi hipersensitivitas pada


antigen tungau. Lesi yang patognomonik adalah terowongan yang tipis dan kecil
seperti benang, berstruktur linear kurang lebih 1 hingga 10 mm, berwarna putih abuabu, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel yang merupakan hasil dari
pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Terowongan ini terlihat jelas kelihatan
di sela-sela jari, pergelangan tangan dan daerah siku. Namun, terowongan tersebut
sukar ditemukan di awal infeksi karena aktivitas menggaruk pasien yang hebat.(3)

Gambar 4. Tempat-tempat predileksi skabies

4. Menemukan Sarcoptes scabiei

Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh kemungkinan besar
kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa maupun skibala dan ini
merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi, kriteria yang keempat ini agak
susah ditemukan karena hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang
dengan lesi yang sangat variatif dan tidak spesifik. (13) Pada kasus skabies yang klasik,
jumlah tungau sedikit sehingga diperlukan beberapa lokasi kerokan kulit. Teknik
pemeriksaan ini sangat tergantung pada operator pemeriksaan, sehingga kegagalan
menemukan tungau sering terjadi namun tidak menyingkirkan diagnosis skabies.(14)
Bentuk Klinis
Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk yang tidak khas,
meskipun jarang ditemukan. Kelainan ini dapat menimbulkan kesalahan diagnostik yang
dapat berakibat gagalnya pengobatan
Bentuk-bentuk skabies antara lain : (15)
1. Skabies pada orang bersih

Klinis ditandai dengan lesi berupa papula dan kanalikuli dengan jumlah yang sangat
sedikit, kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur.

(13)

Namun bentuk ini

seringkali salah diagnosis karena lesi jarang ditemukan dan sulit mendapatkan
terowongan tungau. (15)

Gambar 5 . Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated)

2. Skabies nodular

Skabies nodular memperlihatkan lesi berupa nodul merah kecoklatan berukuran 2-20
mm yang gatal. Umumnya terdapat pada daerah yang tertutup terutama pada genitalia,
inguinal dan aksila. Pada nodus yang lama tungau sukar ditemukan, dan dapat menetap
selama beberapa minggu hingga beberapa bulan walaupun telah mendapat pengobatan
anti skabies.(14,15)

Gambar 6. Skabies Nodular

3. Skabies incognito

Penggunaan obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda
pada penderita apabila penderita mengalami skabies.(13) Sehingga penderita dapat
memperlihatkan perubahan lesi secara klinis.

(11)

Akan tetapi dengan penggunaan

steroid, keluhan gatal tidak hilang dan dalam waktu singkat setelah penghentian
penggunaan steroid lesi dapat kambuh kembali bahkan lebih buruk. Hal ini mungkin
disebabkan oleh karena penurunan respon imun seluler.(13)

Gambar 7. Skabies incognito dengan lesi krusta terlokalisasi pada penderita dengan pengobatan
regimen imunosupresan

4. Skabies yang ditularkan oleh hewan (7)

Sarcoptes scabiei varian canis bisa menyerang manusia yang pekerjaannya


berhubungan erat dengan hewan tersebut, misalnya anjing, kucing dan gembala. Lesi
tidak pada daerah predileksi skabies tipe humanus tetapi pada daerah yang sering
berkontak dengan hewan peliharaan tersebut, seperti dada, perut, lengan. Masa inkubasi
jenis ini lebih pendek dan sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi
bersih-bersih oleh karena varietas hewan tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada
manusia.(13,15)

Gambar 8. Skabies caninum

5. Skabies Norwegia (Skabies berkrusta)

Kondisi yang jarang ini sangat mudah menular karena tungau berada dalam jumlah
yang banyak (15) dan diperkirakan lebih dari sejuta tungau berkembang di kulit, sehingga
dapat menjadi sumber wabah di tempat pelayanan kesehatan. (3)
Kadar IgE yang tinggi, eosinofil perifer, dan perkembangan krusta di kulit yang
hiperkeratotik dengan skuama dan penebalan menjadi karakteristik penyakit ini.

(7)

Plak

hiperkeratotik tersebar pada daerah palmar dan plantar dengan penebalan dan distrofi
kuku jari kaki dan tangan.

(3)

daerah leher dan kulit kepala.

Lesi tersebut menyebar secara generalisata


(7)

(13)

seperti

telinga, bokong, siku, dan lutut.(13) Kulit yang lain

biasanya terlihat xerotik. Pruritus dapat bervariasi dan dapat pula tidak ditemukan pada
bentuk penyakit ini.(13)

Gambar 9. Skabies norwegian pada plantar

Bentuk ini ditemukan pada penderita yang mengalami gangguan fungsi imunologik
misalnya penderita HIV/AIDS, lepra, penderita infeksi virus leukemia type 1, pasien
yang menggunakan pengobatan imunosupresi, penderita gangguan neurologik dan
retardasi mental.(6,13)
6. Skabies pada bayi dan anak

Pada anak yang kurang dari dua tahun, infestasi bisa terjadi di wajah dan kulit kepala
sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi.(3) Lesi skabies pada anak dapat mengenai
seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki dan sering
terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima, sehingga terowongan jarang
ditemukan. Pada bayi, lesi terdapat di wajah.(13)
Nodul pruritis erithematos keunguan dapat ditemukan pada axilla dan daerah lateral
badan pada anak-anak. Nodul-nodul ini bisa timbul berminggu-minggu setelah
eradikasi infeksi tungau dilakukan. Vesikel dan bulla bisa timbul terutama pada telapak
tangan dan jari.(3)

10

Gambar 10. Skabies pada anak

Pemeriksaan Penunjang
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau dan produknya yaitu :
1. Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH 10% lalu
dilakukan kerokan dengan meggunakan scalpel steril yang bertujuan untuk mengangkat
atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup
dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.(13)
2. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam
terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian
dikeluarkan. Bila positif, Tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang sangat
kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi.(13)
3. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta
hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah
tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih gelap
dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes
dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai
bentuk zigzag. (16,13)
4. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Diagnosis pasti dapat melalui identifikasi tungau, telur atau skibala secara
mikroskopik. Ini dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk
kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superficial secara menggunakan pisau
dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan tersebut diletakkan
di atas kaca objek dan ditetesi dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa
dibawah mikroskop.(3,13)
5. Biopsi irisan dengan pewarnaan HE.

11

Gambar 11. Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan pewarnaan H.E

6. Uji tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam kanalikuli. Setelah
dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari lampu Wood, tetrasiklin
tersebut akan memberikan fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli.(13)
VI

DIAGNOSIS BANDING

1. Urtikaria Akut: erupsi pada papul-papul yang gatal. (16)

Gambar 12. Urtikaria Akut

2. Prurigo, biasanya berupa papul-papul yang gatal, predileksi pada bagian ekstensor
ekstremitas. (16)

Gambar 13. Prurigo nodularis

3. Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan, efloresensinya urtikaria
papuler. (16)

Gambar 14. Insects bite

4. Folikulitis berupa pustul miliar dikelilingi daerah yang eritem. (10)

12

Gambar 15. Folikulitis

VII

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan secara umum
Edukasi pada pasien skabies :
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada
malam hari sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila
perlu direndam dengan air panas
5. Jangan ulangi penggunaan skabisd yang berlebihan dalam seminggu walaupun
rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
6. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama
(17)

dan ikut menjaga kebersihan (13)

b. Penatalaksanaan secara khusus


Pengobatan skabies harus efektif terhadap tungau dewasa, telur dan produknya,
mudah diaplikasikan, nontoksik, tidak mengiritasi, aman untuk semua umur, dan
terjangkau biayanya. (11) Pengobatan skabies yang bervariasi dapat berupa topikal
maupun oral.

Permethrin
Merupakan sintesa dari pyrethroid,

(11)

dan bekerja dengan cara mengganggu

polarisasi dinding sel saraf parasit yaitu melalui ikatan dengan natrium. Hal ini
memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralise parasit.

(11)

Obat

ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan scabies karena efek toksisitasnya
terhadap mamalia sangat rendah

(11,13)

dan kecenderungan keracunan akibat kesalahan

dalam penggunaannya sangat kecil. (13)

13

Hal ini disebabkan karena hanya sedikit yang terabsorpsi di kulit dan cepat
dimetabolisme yang kemudian dikeluarkan kembali melalui keringat dan sebum, dan
juga melalui urin.

(11,13)

Belum pernah dilaporkan resistensi setelah penggunaan obat

ini.(13) Permethrin tersedia dalam bentuk krim 5%, yang diaplikasikan selama 8-12 jam
dan setelah itu dicuci bersih.

(11)

Apabila belum sembuh bisa dilanjutkan dengan

pemberian kedua setelah 1 minggu. (13)


Permethrin jarang diberikan pada bayi-bayi yang berumur kurang dari 2 bulan,
wanita hamil dan ibu menyusui.(13) Wanita hamil dapat diberikan dengan aplikasi yang
tidak lama sekitar 2 jam.

(11)

Efek samping jarang ditemukan, berupa rasa terbakar,

perih dan gatal,(13) namun mungkin hal tersebut dikarenakan kulit yang sebelumnya
memang sensitive dan terekskoriasi.(11)

Presipitat Sulfur 2-10%


Sulfur adalah antiskabietik tertua yang telah lama digunakan, sejak 25 M.

(11)

Preparat sulfur yang tersedia dalam bentuk salep (2% -10%) dan umumnya salep
konsentrasi 6% lebih disukai. Cara aplikasi salep sangat sederhana, yakni
mengoleskan salep setelah mandi ke seluruh kulit tubuh selama 24 jam selama tiga
hari berturut-turut.(13) Keuntungan penggunaan obat ini adalah harganya yang murah
dan mungkin merupakan satu-satunya pilihan di negara yang membutuhkan terapi
massal.(14)
Bila kontak dengan jaringan hidup, preparat ini akan membentuk hydrogen sulfide
dan pentathionic acid (CH2S5O6) yang bersifat germicid dan fungicid. Secara umum
sulfur bersifat aman bila digunakan oleh anak-anak, wanita hamil dan menyusui serta
efektif dalam konsentrasi 2,5% pada bayi. Kerugian pemakaian obat ini adalah bau
tidak enak, mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.(13)

Benzyl benzoate
Benzil benzoate adalah ester asam benzoat dan alkohol benzil

(14)

yang merupakan

bahan sintesis balsam peru.(11) Benzil benzoate bersifat neurotoksik pada tungau
skabies. Digunakan sebagai 25% emulsi dengan periode kontak 24 jam dan pada usia
dewasa muda atau anak-anak, dosis dapat dikurangi menjadi 12,5%. Benzil benzoate
sangat efektif bila digunakan dengan baik dan teratur dan secara kosmetik bisa
diterima.
Efek samping dari benzil benzoate dapat menyebabkan dermatitis iritan pada wajah
dan skrotum, karena itu penderita harus diingatkan untuk tidak menggunakan secara

14

berlebihan. Penggunaan berulang dapat menyebabkan dermatitis alergi. Terapi ini


dikontraindikasikan pada wanita hamil dan menyusui, bayi, dan anak-anak kurang
dari 2 tahun. Tapi benzil benzoate lebih efektif dalam pengelolaan resistant crusted
scabies. Di negara-negara berkembang dimana sumber daya yang terbatas, benzil
benzoate digunakan dalam pengelolaan skabies sebagai alternatif yang lebih murah.(14)

Gamma benzene heksaklorida (Lindane)


Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena, adalah sebuah
insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat (SSP) tungau. Lindane diserap masuk
ke mukosa paru-paru, mukosa usus, dan selaput lendir kemudian keseluruh bagian
tubuh tungau dengan konsentrasi tinggi pada jaringan yang kaya lipid dan kulit yang
menyebabkan eksitasi, konvulsi, dan kematian tungau.

(15)

Lindane dimetabolisme dan

diekskresikan melalui urin dan feses. (14)


Lindane tersedia dalam bentuk krim, lotion, gel, tidak berbau dan tidak berwarna.
Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah
selama 12-24 jam dalam bentuk 1% krim atau lotion. Setelah pemakaian dicuci bersih
dan dapat diaplikasikan lagi setelah 1 minggu.

(11,13)

Hal ini untuk memusnahkan larva-

larva yang menetas dan tidak musnah oleh pengobatan sebelumnya. Beberapa
penelitian menunjukkan penggunaan Lindane selama 6 jam sudah efektif. Dianjurkan
untuk tidak mengulangi pengobatan dalam 7 hari, serta tidak menggunakan
konsentrasi lain selain 1%.(13)
Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas SSP, kejang, dan bahkan
kematian pada anak atau bayi walaupun jarang terjadi. Tanda-tanda klinis toksisitas
SSP setelah keracunan lindane yaitu sakit kepala, mual, pusing, muntah, gelisah,
tremor, disorientasi, kelemahan, berkedut dari kelopak mata, kejang, kegagalan
pernapasan, koma, dan kematian. Beberapa bukti menunjukkan lindane dapat
mempengaruhi perjalanan fisiologis kelainan darah seperti anemia aplastik,
trombositopenia, dan pancytopenia.(11)

Crotamiton krim (Crotonyl-N-Ethyl-O-Toluidine)


Crotamion (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim 10% atau lotion.
Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%. Hasil terbaik telah diperoleh
bila diaplikasikan dua kali sehari selama lima hari berturut-turut setelah mandi dan
mengganti pakaian (11,13) dari leher ke bawah selama 2 malam kemudian dicuci setelah
aplikasi kedua.

15

Efek samping yang ditimbulkan berupa iritasi bila digunakan jangka panjang.
Beberapa ahli beranggapan bahwa crotamiton krim ini tidak memiliki efektivitas yang
tinggi terhadap skabies. Crotamiton 10% dalam krim atau losion, tidak mempunyai
efek sistemik dan aman digunakan pada wanita hamil, bayi dan anak kecil. (11)

Ivermectin
Ivermectin adalah bahan semisintetik yang dihasilkan oleh Streptomyces
avermitilis, anti parasit yang strukturnya mirip antibiotic makrolid, namun tidak
mempunyai aktifitas sebagai antibiotic, diketahui aktif melawan ekto dan endo
parasit. Digunakan secara meluas pada pengobatan hewan, pada mamalia, pada
manusia dgunakan untuk pengobatan penyakit filarial terutama oncocerciasis.
Diberikan secara oral, dosis tunggal, 200 ug/kgBB dan dilaporkan efektif untuk
scabies. Digunakan pada umur lebih dari 5 tahun. Juga dilaporkan secara khusus
tentang formulasi ivermectin topikal efektif untuk mengobati scabies. Efek samping
yang sering adalah kontak dermatitis dan toxicepidermal necrolysis.(13)

Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk lotion 25% sebelum digunakan harus ditambahkan 2-3
bagian air dan digunakan setiap hari selama 2-3 hari.(13)

Malathion
Malathion 0,5% adalah insektisida organosfosfat

(11)

dengan dasar air digunakan

selama 24%. Pemberian berikutnya beberapa hari kemudian. (13) Namun saat ini tidak
lagi direkomendasikan karena berpotensi memberikan efek samping yang buruk.(11)
Penatalaksanaan skabies berkrusta
Terapi skabies ini mirip dengan bentuk umum lainnya, meskipun skabies
berkrusta berespon lebih lambat dan umumnya membutuhkan beberapa pengobatan
dengan skabisid. Kulit yang diobati meliputi kepala, wajah, kecuali sekitar mata,
hidung, mulut dan khusus dibawah kuku jari tangan dan jari kaki diikuti dengan
penggunaan sikat di bagian bawah ujung kuku. Pengobatan diawali dengan krim
permethrin dan jika dibutuhkan diikuti dengan lindane dan sulfur. Mungkin sangat
membantu bila sebelum terapi dengan skabisid diobati dengan keratolitik.(13)
Penatalaksanaan skabies nodular
Nodul tidak mengandung tungau namun merupakan hasil dari reaksi
hipersensitivitas terhadap produk tungau. Nodul akan tetap terlihat dalam beberapa

16

minggu setelah pengobatan. Skabies nodular dapat diobati dengan kortikosteroid


intralesi atau menggunakan primecrolimus topikal dua kali sehari. (11)
Pengobatan terhadap komplikasi
Pada infeksi bakteri sekunder dapat digunakan antibiotik oral.(13)
Pengobatan simptomatik
Obat antipruritus seperti obat anti histamin mungkin mengurangi gatal yang secara
karakeristik menetap selama beberapa minggu setelah terapi dengan anti skabeis yang
adekuat. Pada bayi, aplikasi hidrokortison 1% pada lesi kulit yang sangat aktif dan
aplikasi pelumas atau emolient pada lesi yang kurang aktif mungkin sangat membantu,
dan pada orang dewasa dapat digunakan triamsinolon 0,1% .(13)
Tabel 1. Pengobatan Skabies (3)
Jenis Obat
Permethrin
5%
cream
Lindane 1% lotion

Dosis
Dioleskan selama 8-14 jam,
diulangi selama 7 hari.
Dioleskan selama 8 jam
setelah
itu
dibersihkan,
olesan kedua diberikan 1
minggu kemudian.
Crotamiton
10% Dioleskan selama 2 hari
cream
berturut-turut, lalu diulangi
dalam 5 hari.
Precipitatum Sulfur Dioleskan selama 3 hari lalu
5-10%
dibersihkan.

Keterangan
Terapi lini pertama di US dan
kehamilan kategori B
Tidak dapat diberikan pada anak
umur 2 tahun kebawah, wanita
selama masa kehamilan dan laktasi.

Memiliki efek anti pruritus tetapi


efektifitasnya tidak sebaik topikal
lainnya.
Aman untuk anak kurang dari 2 bulan
dan wanita dalam masa kehamilan
dan laktasi, tetapi tampak kotor
dalam pemakaiannya dan data
efisiensi obat in masih kurang.
Benzyl
Benzoat Dioleskan selama 24 jam lalu Efektif namun dapat menyebabkan
10% lotion
dibersihkan
dermatitis pada wajah
Ivermectin
200 Dosis tunggal oral, bisa Memiliki efektifitas yang tinggi dan
g/kg
diulangi selama 10-14 hari
aman. Dapat digunakan bersama
bahan topikal lainnya. Digunakan
pada kasus-kasus scabies berkrusta
dan scabies resisten.
Setelah pengobatan berhasil untuk membunuh tungau skabies, masih terdapat gejala
pruritus selama 6 minggu sebagai reaksi eczematous atau masa penyembuhan. Pasien
dapat diobati dengan Emolien dan kortikosteroid topikal, dengan atau tanpa antibiotik
topikal tergantung adanya infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Crotamiton
antipruritic topikal sering membantu pada kulit yang gatal.(14)

17

Keluhan sering ditemukan pada pasien yaitu mengalami gejala yang berkelanjutan
selama 2-6 minggu setelah pengobatan berhasil. Hal ini karena respon tubuh dari
kekebalan terhadap antigen tungau. Jika gejalanya menetap di luar 2 minggu, itu mungkin
karena diagnosis awal yang tidak sesuai, aplikasi obat yang salah menyebabkan tungau
skabies tetap ditemukan pada pasien . Kebanyakan kambuh karena reinfeksi dan tidak
diobati.(15)
VIII PENCEGAHAN
Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan scabies, orang-orang yang kontak
langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid. Terapi
pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran scabies karena seseorang
mungkin saja telah mengandung tungau scabies yang masih dalam periode inkubasi
asimptomatik.(3)
Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal, handuk dan
pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih atau direndam
dengan air panas dan dikeringkan dengan udara panas karena tungau scabies dapat
hidup hingga 3 hari diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya sehingga harus
dibersihkan (vacuum cleaner).(3)
IX KOMPLIKASI
Infeksi sekunder pada pasien skabies merupakan akibat dari infeksi bakteri atau
karena garukan. Keduanya mendominasi gambaran klinik yang ada. Erosi merupakan
tanda yang paling sering muncul pada lesi sekunder. Infeksi sekunder dapat ditandai
dengan munculnya pustul, supurasi, dan ulkus. Selain itu dapat muncul eritema,
skuama, dan semua tanda inflamasi lain pada ekzem sebagai respon imun tubuh yang
kuat terhadap iritasi. Nodul-nodul muncul pada daerah yang tertutup seperti bokong,
skrotum, inguinal, penis, dan axilla.(5)
Infeksi sekunder lokal sebagian besar disebabkan oleh Staphylococcus aureus
dan biasanya mempunyai respon yang bagus terhadap topikal atau antibiotic oral,
tergantung tingkat pyodermanya.(10) Selain itu, limfangitis dan septiksemia dapat juga
terjadi terutama pada skabies Norwegian, post-streptococcal glomerulonephritis bisa
terjadi karena skabies-induced pyodermas yang disebabkan oleh Streptococcus pyogens.
(3)

18

PROGNOSIS
Jika tidak dirawat, kondisi ini bisa menetap untuk beberapa tahun. Pada individu yang
immunocompetent, jumlah tungau akan berkurang seiring waktu.(3) Infestasi scabies
dapat disembuhkan. Seorang individu dengan infeksi scabies, jika diobati dengan benar,
memiliki prognosis yang baik, keluhan gatal dan ekzema akan sembuh.(8)

XI

KESIMPULAN

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya.

Penularannya dengan 2 cara, yaitu kontak langsung dan kontak tak langsung.

Pada penyakit skabies ditemukan 4 tanda cardinal yaitu pruritus nocturna, menyerang
manusia secara berkelompok, adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat
predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan dan menemukan tungau.

Bentuk kelainan kulit pada penyakit skabies yaitu ditemukannya papul, vesikel, erosi,
ekskoriasi, krusta dan lain-lain, serta bermanifestasi klinis dalam berbagai variasi.
Bila infeksi sekunder telah terjadi dapat disebabkan bakteri yang ditandai dengan
munculnya pustul maupun timbulnya gejala infeksi sistemik

Penanganan yang menjadi pilihan utama adalah primethrin 5% topikal yang dioleskan
di kulit 8-12 jam serta edukasi pasien.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Handoko RP, Djuanda A, Hamzah M. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.4. Jakarta:
FKUI; 2005. 119-22.
2. Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian) Scabies Following
Systemic And Topikal Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25: 2010. 88-91.
3. Scabies and Pediculosis, Orkin Miltoin, Howard L. Maibach. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine, 7th. USA: McGrawHill; 2008. 2029-31.
4. Siregar RS, Wijaya C, Anugerah P. Saripati Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.3.
Jakarta: EGC; 1996. 191-5.
5. Habif TP, Hodgson S. Clinical Dermatology. Ed.4. London: Mosby; 2004. 497-506.
6. Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006. July : 354/ 1718-27.
7. Walton SF, Currie BJ. Problems in Diagnosing Scabies, A Global Disease in Human
and Animal Populations. Clin Microbiol Rev. 2007. April. 268-79.
8. Johnston G, Sladden M. Scabies: Diagnosis and Treatment. British Med J. 2005.
(7517)/619-22.
9. Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. Vol.2. USA:
Blackwell publishing; 2004. 37-47.
10. Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions.
J Clin Microbiol. 1995. August: 33/2139-2140.
11. Hicks MI, Elston DM. Scabies. Dermatologic Therapy. 2009. November :22/279-292.
12. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit.Ed.1. Jakarta: Hipokrates; 2000. 109-13.
13. Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.1. Makassar: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin ; 2003. 5-10.
14. Hengge, R. Ulrich, Bart. J. Currie, Gerold Jager, Omar Lupi, Robert A. Schwartz.
Scabies: a Ubiquitous Neglected Skin Disease. PubMed Med. J. 2006. December. 6:
769-777
15. P. Stone Stephen, Jonathan N. Goldfarb, Rocky E. Bacelieri. Scabies. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine 5th. USA: McGrawHill; 2677-80
16. Beegs Jennifer,ed. Scabies Prevention and Control Manual. Michigan. Scabies
prevention and Control Manual.

20