Anda di halaman 1dari 9

ETIKA DAN MORAL

(Sumber uraian diambil dari: Keraf, 2002)


Etika berasal dari kata ethos (jamak-ta etha) bahasa Yunani, berarti kebiasaan atau adat istiadat.
Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup serta tata cara hidup yang baik, pada pribadi seseorang atau
kelompok masyarakat. Kebiasaan yang baik tersebut kemudian dibakukan menjadi kaidah, norma, aturan
yang dipahami, diajarkan dan disebarluaskan secara lisan dalam masyarakat serta diwariskan dari generasi
ke generasi.
Etika merupakan hasil pertimbangan mendalam, menyeluruh, didasari sikap dan pandangan hidup
dalam bertindak, mengungkapkan, menjaga dan melestarikan nilai tertentu tentang apa yang dianggap baik
dan penting untuk dilakukan dalam kehidupan ini. Karena itu etika juga memuat nilai-nilai dan prinsipprinsip moral sebagai pedoman dalam menuntun perilaku serta mengandung berbagai kriteria penilaian
moral tentang apa yang seharusnya dilakukan dan yang tidak baik dan tidak penting untuk dilakukan.
Secara etimologis, kata moral berasal dari kata mos (jamak-mores) bahasa Latin yang juga berarti
adat istiadat atau kebiasaan. Moralitas berkaitan dengan nilai-nilai tentang bagaimana manusia harus
hidup secara baik sebagai manusia. Dapat dikatakan moralitas merupakan gagasan-gagasan tentang benar
atau salah yang mengatur manusia dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dalam hal ini, baik etika
atau moral berbicara tentang nilai dan prinsip moral yang dianut masyarakat tertentu sebagai pedoman
dan kriteria dalam berperilaku sebagai manusia. Perbedaannya: etika berkaitan dengan sistem nilai
sedangkan moralitas berbicara tentang nilai-nilai dan norma-norma. Norma diartikan sebagai aturan, kaidah
perilaku dan tindakan manusia.
Etika merupakan cabang falsafah umum yang mempelajari moralitas dan mempunyai pengertian yang jauh
lebih luas dibanding moralitas. Dalam kaitan ini etika dipahami sebagai falsafah moral atau ilmu
yang membahas dan mengkaji secara kritis tentang persoalan benar dan salah secara moral, dan refleksi
kritis tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup dan bertindak dalam situasi kongkrit
untuk menentukan pilihan, mengambil sikap, dan akhirnya mampu bertindak secara benar.
Refleksi kritis ini bukan saja meliputi norma dan nilai yang bersumber dari etika dan moralitas yang
selama ini telah menjadi pedoman hidup, tetapi juga mencakup refleksi kritis dalam menghadapi situasi
kongkrit tertentu dengan segala kompleksitas dan kekhususannya. Di samping itu juga meliputi refleksi kritis
yang berhubungan dengan berbagai paham yang dianut manusia atau kelompok masyarakat tertentu
baik tentang alam, Tuhan, manusia, sistem sosial politik, sistem ekonomi, sistem kerja dan sebagainya. Hal
ini penting bagi seseorang atau kelompok masyarakat untuk menentukan pilihan dan prioritas moral
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam keadaan khusus yang dilematis. Dalam pengambilan keputusan
menghadapi situasi khusus yang dilematis, tiga aspek tersebut perlu benar-benar dipertimbangkan dengan
keyakinan moral bahwa yang akan kita lakukan adalah benar. Pada tingkat ini etika membutuhkan evaluasi
kritis atas seluruh situasi terkait. Diperlukan informasi mendalam dan sebanyak mungkin yang terkait dengan
kasus yang dihadapi, bagaimana dampaknya, siapa yang terkena dampak, seberapa besar kerugian yang
ditimbulkan, serta sikap pro dan kontra. Dalam hal ini etika membutuhkan bantuan berbagai disiplin ilmu
agar dapat diambil keputusan moral yang benar, maka ilmu etika dapat dikatakan merupakan ilmu
interdisiplin.

3.2 TEORI ETIKA


Terdapat tiga teori etika dengan argumen masing-masing sebagai berikut:
1. Etika Deontologi
Istilah deontologi berasal dari bahasa Yunani. Deon berarti kewajiban dan logos berarti ilmu atau teori.
Sejalan dengan pengertian tersebut, deontologi sangat menekankan kewajiban manusia untuk berbuat baik,
jadi etika deontologi ini sangat menekankan pada motivasi, kemauan yang baik, dan watak yang kuat untuk
bertindak sesuai dengan kewajiban. Suatu perbuatan atau tindakan bukan dinilai dari tujuan dan juga bukan
akibat dari tindakan tersebut melainkan dari nilai moral tindakan itu sebagai suatu kewajiban. Sebagai
contoh, (a) bila seseorang melakukan tindakan penghematan pemakaian air, bukan dinilai hanya karena biaya
pengeluaran rumah tangganya untuk pembayaran air bersih pada PAM akan berkurang, tetapi dinilai baik
karena alasan memenuhi kewajiban untuk melestarikan SDA. (b) Tindakan membakar hutan atau lahan, tidak
dinilai buruk hanya karena mengakibatkan udara tercemar, rusaknya hutan dan keanekaragaman hayati dan
sebagainya, melainkan karena tidak memenuhi kewajiban untuk bersikap hormat kepada alam (respect
for nature), dalam hal ini tidak memenuhi kewajiban untuk melestarikan fungsi dan kondisi lahan,
hutan serta keanekaragaman hayati.
Ahli filsafat Emmanuel Kant menolak argumen tentang akibat suatu tindakan sebagai dasar untuk menilai
suatu tindakan karena tidak menjamin universalitas dan konsistensi dalam bertindak serta menilai suatu
keadaan.
2. Etika Teleologi
Istilah teleologi berasal dari bahasa Yunani di mana kata telos berarti tujuan dan logos berarti ilmu atau
teori. Etika teleontologi menilai atau mengukur suatu tindakan itu baik atau buruk berdasar tujuan dan hasil
atau akibat/dampak suatu tindakan. Etika teleontologi berkaitan dengan bagaimana dalam suatu situasi
nyata tertentu tidakan seseorang seharusnya mengacu pada tujuan dan pada pertimbangan dampak
tindakannya tersebut. Sebagai contoh seseorang menangkap satwa tertentu, misal burung cendrawasih yang
populasinya sudah sangat terbatas dengan tujuan melakukan penelitian bagi kepentingan khasanah ilmu
pengetahuan khususnya dalam upaya menunjang pelestarian satwa tersebut. Maka hal ini akan dinilai
sebagai tindakan yang baik karena menunjukkan sikap hormat terhadap alam.
Lain halnya bila tujuan tindakannya untuk kesenangan semata, atau untuk tujuan komersial, tentu akan
dinilai sebagai tindakan buruk. Dari perspektif tersebut nampak bahwa etika teleologi bersifat situasional
dan subyektif, dalam arti bahwa pada situasi yang berbeda, norma moral tidak berlaku tetap. Dalam
hubungan ini dikenal prinsip egoisme dan prinsip utilitarianisme. Tujuan baik suatu tindakan itu baik untuk
siapa? Untuk pribadi atau untuk orang banyak? Egoisme etis menilai tindakan yang tujuannya untuk
kepentingan pribadi sebagai tindakan yang baik karena secara moral manusia dibenarkan untuk
mengejar kebahagiaan bagi diri pribadinya. Ada kecenderungan hedonistis dalam etika ini.
Tindakan seseorang dinilai baik karena mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. Tindakan seseorang dinilai
buruk jika ia membiarkan dirinya menderita dan merugi. Pada kenyataannya dapat terjadi pergeseran nilai
bila seseorang hanya memperhatikan kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan orang lain dan
secara lahiriah menempatkan harkat dirinya pada penguasaan materi semata.
Berbeda dengan prinsip egoisme maka prinsip utilitarianisme menilai tindakan yang tujuannya untuk
kepentingan banyak orang sebagai tindakan baik. Etika utilititarianisme dicetuskan Jeremy Bentham (17481832), bertolak dari masalah bagaimana menilai suatu kebijakan publik (baik yang berhubungan dengan

aspek sosial, politik, legal dan sebagainya, maupun secara moral). Dasar obyektif dilakukannya suatu
tindakan hendaknya mempertimbangkan tiga kriteria sebagai berikut:
a. Kriteria manfaat. Tindakan tertentu dinilai baik bila mendatangkan manfaat, sebaliknya bila tidak
mendatangkan manfaat apalagi bila hanya mendatangkan kerugian akan dinilai buruk;
a. Kriteria manfaat terbesar. Tindakan atau kebijakan yang mendatangkan manfaat terbesar akan dinilai
lebih baik dari alternatif lain yang manfaatnya lebih kecil. Dalam situasi di mana sebuah alternatif kebijakan
atau tindakan hanya mendatangkan kerugian maka yang terbaik adalah memilih tindakan yang tingkat
kerugiannya paling kecil;
b. Kriteria manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Suatu tindakan atau kebijakan
dinilai baik bila mendatangkan manfaat terbesar yang berguna bagi banyak orang (the greatest good for the
the greatest number)
3. Etika Keutamaan
Etika

keutamaan

menekankan

pada

pengembangan

karakter

moral

pada

diri

seseorang,

yaitu

tidak mempermasalahkan kewajiban secara moral maupun tujuan dan secara moral akibat dari
suatu tindakan atau kebijakan. Aristoteles mengatakan bahwa nilai moral diperoleh dan tumbuh
dari pengalaman hidup dalam masyarakat, keteladanan moral tokoh-tokoh besar masyarakat menyikapi suatu
permasalahan dalam suatu kehidupan. Dari tokoh-tokoh tersebut orang belajar tentang nilai-nilai keutamaan
moral seperti kejujuran, kesetiaan, kesediaan berkorban, ketulusan dan sebagainya.
Etika

keutamaan

ini,

tidak

mengutamakan

tindakan

bermoral

tetapi

pribadi

bermoral,

yaitu

bagaimana seseorang hidup dengan baik sepanjang kehidupannya (berprinsip dan mempunyai integritas
moral). Pada

etika

keutamaan

wayang) merupakan

hal

aspek

penting

di

sejarah,

mana

sastra,

cerita

tokoh-tokohnya

(termasuk

adalah

legenda,

merupakan

dongeng

dan

model keteladanan

dan keutamaan moral. Dalam situasi nyata yang dilematis etika keutamaan menekankan untuk
meneladani sikap

dan

perilaku

tokoh-tokoh

dalam

menghadapi

situasi

serupa.

Rasionalitas

dan

kebebasan merupakan hal penting, artinya terbuka kemungkinan setiap orang dapat menafsirkan pesan
moral yang khas dari sejarah, cerita dan keteladanan para tokoh. Pada perkembangan selanjutnya dua
atau tiga teori tentang etika tersebut (deontologi, teleologi dan keutamaan) dapat dIgabungkan
secara bersama-sama.

3.3 TEORI ETIKA LINGKUNGAN


Etika lingkungan adalah sebuah refleksi kritis tentang norma dan nilai atau prinsip moral tentang
lingkungan yang selama ini telah dikenal, serta refleksi kritis cara pandang tentang: manusia, alam,
hubungan antara manusia dengan alam serta perilaku yang bersumber dari cara pandang ini. Diharapkan agar
refleksi kritis ini dapat menghasilkan cara pandang dan perilaku baru yang dianggap lebih tepat khususnya
terkait dengan upaya penyelamatan pada suatu krisis lingkungan.
Etika

lingkungan

merupakan

bagian

filsafat

lingkungan

dan

berupa

filsafat

terapan,

di

mana

persoalan filsafati direfleksikan sebagai persoalan substantif berdasar pengalamanpengalaman manusia. Ciri
filsafati berkembang setelah mendapatkan perlakuan reflektif. Konsepsi etika lingkungan merupakan
perpaduan dari konsepsi etika yang berangkat dari lingkup filsafat umum dan konsep lingkungan yang
berawal dari filsafat khusus ( Azhari, 1997 dalam Keraf, 2002).

Menurut

Skolimowski

karakteristik

filsafat

lingkungan

adalah:

(a)

berorientasi

pada

kehidupan;

(b) mempunyai komitmen terhadap nilai-nilai manusia, alam, dan kehidupan; (c) hidup secara spiritual; (d)
bersifat

komprehensif;

(e).

berkaitan

dengan

kebijaksanaan/wisdom

(yang

dapat

diartikan

sebagai penggunaan nilai-nilai berdasarkan kriteria kualitatif ); (f ) sadar ekologis dan lingkungan; (g)
Bersekutu dengan ekonomi kualitas kehidupan; (h) sadar politis; (i) memperhatikan kesejahteraan
masyarakat; (j) menekankan tanggung-jawab individual; (k) toleran dengan fenomena transfisik; (l) sadar
akan kesehatan (berada pada kesehatan yang positif berarti berada dalam hubungan-hubungan yang baik
dengan dengan kosmos).
Menyikapi terjadinya krisis lingkungan, maka pemikiran mendasar dan korektif diperlukan dalam pengelolaan
lingkungan dengan segenap unsurnya (termasuk SDA) yang sudah krisis ini, sehingga pelestarian fungsi, daya
dukung dan manfaatnya bagi kehidupan dapat dicapai. Moralitas seperti apa yang perlu dikembangkan dalam
menghadapi permasalahan lingkungan yang semakin komplek dan sarat dengan konflik kepentingan? Refleksi
kritis yang bagaimana perlu ditumbuhkan serta yang sesuai dengan norma dan nilai yang bersumber dari
etika lingkungan bila menghadapi situasi kongkret permasalahan lingkungan dengan segala kompleksitas dan
kekhususannya? Demikian juga halnya dengan refleksi kritis yang berhubungan dengan berbagai paham (baik
tentang alam lingkungan, sistem sosial politik, sistem ekonomi, dan sebagainya). Hal ini penting direnungkan
dan dikaji oleh orang per orang atau kelompok masyarakat dalam menentukan pilihan dan prioritas moral
dalam menjalankan kehidupan sehari-hari maupun dalam keadaan khusus yang dilematis.
Perkembangan teori etika lingkungan yang mengkaji tentang manusia, alam lingkungan dan hubungan antara
manusia dengan alam lingkungan, utamanya meliputi (Keraf, 2004):
1. Anthroposentrisme
Antroposentrime bersumber dari Kitab Kejadian Dunia, serta pemikiran ahli-ahli filsafat seperti Aristoteles,
Thomas Aquinas, Rene Descartes, dan Immanuel Kant. Etika lingkungan berdasarkan anthroposentrisme
berpandangan bahwa manusia adalah pusat sistem alam semesta. Dalam pandangan ini manusia dengan
segenap keinginannya adalah yang terpenting dan sangat menentukan dalam penetapan kebijakan dan
pengambilan keputusan berkaitan dengan alam lingkungannya. Manusialah yang mempunyai nilai tertinggi
dan elemen lain dalam tatanan ekosistem yang hanya atau bernilai bila menunjang dan bermanfaat demi
kepentingan manusia saja. Falsafah yang mendasari antroposentrisme berpangkal tolak dari pandangan
bahwa nilai dan prinsip moral hanya berlaku bagi manusia. Kepentingan serta kebutuhan manusia adalah
paling penting dan mempunyai nilai tertinggi. Semua yang ada di alam hanya mempunyai nilai bila dapat
memenuhi kebutuhan dan menunjang kepentingan manusia. Etika hanya berlaku untuk manusia.
Kewajiban dan tanggung jawab moral manusia terhadap lingkungan dianggap tidak relevan kalaupun
ada, maka tanggung jawab moral tersebut adalah demi kepentingan manusia. Demikian pula, alam
hanya merupakan instrumen bagi manusia.
Antroposentrisme dianggap sebagai teori etika lingkungan yang dangkal serta sempit (shallow environmental
ethics) karena mempunyai ciri instrumentalistik dan egoistik (hanya untuk kepentingan manusia), juga
dianggap sebagai penyebab terjadinya krisis lingkungan. Cara pandang antroposentris ini mempengaruhi
perilaku manusia yang cenderung mengeksploitasi atau menguras alam serta memperlakukan alam secara
berlebihan tanpa atau kurang memperhatikan kelestarian fungsinya. Dalam perkembangannya beberapa ahli
filsafat antara lain W.H. Murdy dan F. F. Darling, lebih memperhalus argumen antroposentrisme ini sehingga
walaupun manusia dinilai sebagai makhluk tertinggi di alam semesta tetapi kelangsungan hidupnya tidak
dapat bertahan bila lingkungannya hancur. Oleh karena itu demi eksitensinya sendiri, maka manusia harus

mau dan mampu memelihara lingkungannya termasuk makhluk lainnya yang biasanya selalu dinilai lebih
rendah. Manusia sebagai makhluk tertinggi wajib bertanggungjawab dan melindungi makluk lain beserta
lingkungannya.
Antroposentrisme merupakan etika lingkungan yang kontroversial dan dianggap sebagai biang keladi krisis
lingkungan.

Namun

ternyata

pembela

etika

antroposentrisme

ini

juga

banyak

karena validitas

argumentasinya, yang mengatakan bahwa yang salah bukan antroposentrisme sebagai etika, tetapi
penerapan antroposentrismenya lah yang berlebihan. Antroposentrisme juga dikatakan mempunyai daya tarik
untuk mendorong manusia agar menjaga lingkungan demi keberlanjutan kehidupan, termasuk bisnisnya.
Namun motivasinya menjaga lingkungan adalah demi kepentingan manusia itu sendiri.
2. Biosentrisme
Etika lingkungan biosentrisme menyatakan bahwa bukan hanya manusia yang mempunyai nilai, tetapi alam
juga mempunyai nilai dan berharga, terlepas dari kepentingan manusia. Pertimbangan moralitas dan
penghargaan perlu ditegakkan bagi semua kehidupan dan makhluk hidup, baik yang berguna untuk memenuhi
kebutuhan manusia ataupun tidak. Pusat perhatian biosentrisme adalah kehidupan yang juga bernilai bagi
dirinya sendiri oleh karena itu perlu dilindungi. Alam semesta membentuk komunitas moral dan suatu
pengambilan keputusan atau tindakan apapun perlu pertimbangan moralitas yang terlepas dari pertimbangan
kepentingan manusia. Etika ini berlaku untuk seluruh komunitas biotis:
a. Teori Lingkungan yang Berpusat pada Kehidupan:
Salah satu versinya adalah teori lingkungan yang berpusat pada kehidupan dengan tokoh Albert Schweitzer
yang mengatakan bahwa kehidupan adalah sakral. Manusia menjalani, mempertahankan kehidupannya serta
memperlakukan kehidupan dengan sikap hormat yang dalam. Suatu yang baik secara moral adalah bila kita
mempertahankan dan mengembangkan kehidupan, dan buruk adalah bila kita merusak kehidupan. Paul
Taylor mendasarkan biosentrisme pada empat keyakinan yaitu bahwa: (a) manusia adalah anggota
komunitas kehidupan di bumi dalam arti dan kerangka yang sama dengan anggota lainnya; (b)
spesies manusia bersama spesies lainnya merupakan bagian dari sistem yang saling tergantung di mana
kelangsungan hidupnya dan peluangnya untuk berkembang biak ditentukan oleh relasinya; (c) semua
organisme adalah pusat kehidupan yang mempunyai tujuannya sendiri; (d) manusia tidak lebih unggul dari
makhluk hidup yang lain.
Keempat keyakinan tersebut menimbulkan pemahaman baru bahwa manusia hanya makhluk biologis yang
sederajad, mendiami bumi yang sama dan sebagai bagian dari keseluruhan alam semesta. Manusia
mempunyai akal budi, kebebasan dan kemampuan yang dapat digunakan untuk bertindak secara moral, oleh
karena itu manusia adalah pelaku moral. Semua makhluk hidup merupakan subjek moral. Benda abiotik
bukan subjek moral tetapi harus diperlakukan dengan etis dan baik karena eksistensinya menentukan
kehidupan makhluk hidup yang ada. Sebagai contoh kualitas udara harus dijaga karena udara yang sehat
menunjang semua makhluk hidup bergantung padanya. Hutan harus kita lestarikan karena menyangga
kehidupan banyak sekali makhluk hidup.
b. Etika Bumi
Terjadinya krisis lingkungan telah memacu Adolf Leopold (seorang ahli dan manager konservasi
hutan/hidupan liar) mencetuskan teori lingkungan yang disebut sebagai the land ethic atau etika bumi.
Kepedulian terhadap lingkungan yang benar adalah: perwujudan pandangan yang melihat bumi atau alam
semesta sebagai subjek moral, sebagai suatu komunitas moral. Manusia adalah anggota suatu komunitas
biotis yang saling tergantung dan terkait satu dengan yang lain. Inti etika bumi adalah, bahwa: sesuatu

adalah benar bila hal itu melestarikan integritas, stabilitas dan keindahan komunitas biotik, tidak benar bila
tidak demikian adanya. Segala sesuatu di alam semesta adalah subyek moral dan mempunyai nilai pada
dirinya sendiri terlepas dari apakah menunjang kepentingan manusia atau tidak. Etika bumi merupakan
perluasan batas komunitas dari moral yang baik yang mencakup seluruh manusia tanpa kecuali, serta
mencakup pula: tanah, air, tumbuhan, binatang atau bumi secara kolektif.
c. Anti Spesiesisme
Teori ini dicetuskan Peter Singer dan James Rachels, yang hakekatnya menuntut perlakuan sama bagi semua
makhluk hidup dengan alasan bahwa semuanya memiliki kehidupan dan pantas mendapatkan perhatian dan
perlindungan yang sama seperti halnya spesies manusia. Teori ini merupakan penolakan terhadap
antroposentrisme yang dianggap sebagai spesiesisme. Spesiesisme menganggap manusia merupakan spesies
unggul dibanding spesies lain (binatang dan manusia). Dasar dari teori anti spesiesisme merupakan versi
biosentrisme ini adalah pada prinsip kepentingan semua maklhuk hidup yang harus diberikan nilai yang sama
dengan kepentingan manusia.
d. Ekosentrisme
Etika lingkungan ekosentrisme mencakup komunitas ekologis secara keseluruhan, biotik maupun abiotik.
Cara pandang ekosentrisme adalah bahwa: secara ekologis, semua makhluk hidup dengan unsur-unsur
abiotiknya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya, karena itu kewajiban dan tanggung jawab
moral tidak terbatas pada manusia dan makhluk hidup lainnya tetapi mencakup pula keseluruhan realitas
ekologis. Agar cara pandang dan pembahasan tentang etika lingkungan ini lebih komprehensif, dikemukakan
juga tentang: Ekofeminisme dan Prinsip-prinsip Etika Lingkungan.
1. Ekofeminisme
Ekofeminisme dikembangkan oleh Francoise d Eaubonne, seorang feminis berkebangsaan Perancis, tahun
1974, menggugat cara pandang dominan patriarkis, maskulin dan hierarkis. Ekofeminisme bukan saja
mengkritik antroposentrisme (human-center environmental ethics) tetapi melawan juga androsentrisme
yaitu etika lingkungan yang berpusat pada laki-laki (male centered environmental ethics) dan dominasi lakilaki atas alam sebagai penyebab terjadinya krisis lingkungan. Etika ini juga menganut pandangan integral,
holistik, dan intersubyektif. Hal yang menarik untuk digarisbawahi dari etika ini adalah bahwa ekofeminisme
berangkat dari asumsi bahwa manusia berada dan menjadi dirinya dalam relasi intersubyektif di mana ada
kesetaraan pada semua makhluk ekologis yang mendorong manusia untuk mencintai, memelihara dan
merawat makhluk lain sesama anggota komunitas ekologis. Ekofeminisme menawarkan etika yang didasarkan
pada nilai-nilai kasih sayang/kepedulian (care), hubungan harmonis, cinta, tanggung jawab dan saling
percaya. Etika kepedulian ini juga berlaku dalam kaitan hubungan manusia dengan alam lingkungannya
2. Prinsip-prinsip Etika Lingkungan
Bertolak dari teori etika lingkungan biosentrisme, ekosentrisme, ekofeminisme, dapat ditarik benang merah
prinsip-prinsip etika lingkungan sebagai berikut: (a) Sikap hormat kepada alam, (b) Sikap tanggungjawab
terhadap alam, (c) Solidaritas kosmis, (d) Prinsip kepedulian dan kasih sayang terhadap alam, (e) Prinsip
tidak merusak/merugikan alam, (f ) Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam, (g) Prinsip keadilan,
(h) Prinsip demokrasi, (i) Prinsip integritas moral

3.4 POLITIK EKOLOGI

Politik ekologi mengkaji perubahan lingkungan yang sangat komplek di mana beragam kelompok
yang mempunyai persepsi dan kepentingan yang berbeda terhadap lingkungan dilibatkan. Bagaimana
proses dan sebab akibat terjadinya perubahan lingkungan dan, mengapa terjadi ketimpangan dalam
pemanfaatan sumberdaya, dan seterusnya. Penerapan etika lingkungan perlu dikaitkan dengan aspek politik
dan ekonomi. Dalam hal ini diperlukan komitmen moral pemerintah dan pihak terkait bagi perlindungan
lingkungan hidup. Pemerintahan yang bersih dan baik (good governance) akan berimplikasi pada keseriusan
terhadap perlindungan lingkungan.
Etika menjadi lebih makro dan terkait dengan implementasi etika politik dalam pembangunan
nasional dengan

adanya

kebijakan

sentral

yang

memadukan

kepentingan

pembangunan

dengan

perlindungan lingkungan. Paradigma pembangunan berkelanjutan merupakan puncak dari proses politik dan
merupakan sebuah agenda politik yang diterima oleh semua negara. Paradigma ini mempertemukan dua kubu
yang berseberangan

yaitu

antroposentrisme

yaitu pembangunan

ekonomi,

aspek

dengan

lingkungan

ekosentrisme

dan

aspek

dengan

sosial

memadukan

secara

tiga

berimbang

pilar

dengan

memperhatikan kepentingan generasi yang akan datang.


Etika lingkungan sudah mendesak harus segera diterapkan (urgent!). Dapat dikatakan bahwa terjadinya krisis
lingkungan yang parah di Indonesia saat ini antara lain belum diterapkannya etika lingkungan yang baik.
Perlu kajian aspek manajemen lingkungan dan penggunaan teknologi lingkungan yang tidak parsial.
Keberpihakan pada tiga pilar, yaitu: pembangunan lingkungan dan sosial belum seimbang serta tak setara
dengan pilar pembangunan ekonomi. Telah sadari bahwa sebenarnya akar permasalahannya akan jauh lebih
dalam dan luas bila etika lingkungan belum diterapkan secara benar atau bahkan telah terjadi pula degradasi
moral. Bagaimana landasan etika ini dapat diperkokoh dan kemudian dapat mengkristal menjadi tindakan
kongkrit ke arah perubahan sebagaimana kita harapkan?
Perlu pendekatan komprehensif-holistik termasuk di antaranya adalah hal-hal mendasar tentang pemahaman
dan penerapan etika lingkungan. Refl eksi kritis tentang prinsip moral, nilai-nilai dan norma-norma yang
bersumber pada etika lingkungan tersebut sangat diperlukan dalam menghadapi kompleksitas permasalahan
lingkungan secara kongkret dan seringkali dilematis ini.

3.5 KERAGAMAN LINGKUNGAN SOSIAL DI INDONESIA


Indonesia diakui memiliki keanekaragaman hayati ketiga terbesar di dunia (Purba, dalam KLH, 2001), namun
kenyataan sebenarnya kekayaan ini sudah sangat terdegradasi, akibat dari kebijaksanaan keliru
dari pemanfaatan SDA (terutama yang tak terbarukan) pada masa lalu. Kesadaran akan masalah ini
sebenarnya sudah amat terlambat, dan akibatnya kita semua (terutama masyarakat menengah ke bawah)
cukup menderita saat ini. Namun demikian, kita harus tetap berharap, dapat segera diterapkannya
pelaksanaan kebijakan tanpa mengulangi kesalahan masa lalu, antara lain melalui PLH yang arif-bijaksana.
Melalui
pengetahuan dan kesadaran, bahwa persediaan SDA yang semakin TIDAK TAK TERBATAS ini, didekatilah PLH
yang harus mengacu pada kondisi biogeografis dan sosioekonomibudaya yang juga sangat beragam ini.
Keragaman lingkungan sosial (terutama bidang etika/norma hidup/budaya), di Indonesia mengikuti
pula sejarah perkembangan situasi dan kondisi PLH, yang sejak semula secara arif-bijaksana mengikuti
pola pemanfaatan yang berkelanjutan. Namun, karena kebutuhan pokok, dan terutama akibat melihat

contoh negatif segelintir orang/perusahaan yang menerapkan pola pemanfaatan SDA secara membabibuta, maka masyarakat lokal pun secara perlahan, mulai meninggalkan kearifan budaya PLH-lokal tsb.,
sehingga kualitas LH menjadi semakin menurun kualitas maupun kuantitasnya.
Berdasar bentuk mata pencaharian, maka secara umum masyarakat Indonesia ini pun sangat beragam, masih
ada kelompok yang hidup di antara hutan alam, dan hanya hidup dari hasil kegiatan meramu
berburu, berladang

berotasi/petani

tak

menetap/nomaden,

sampai

ke

masyarakat

modern

di

perkotaan, yang sudah menetap biasa hidup di antara hutan beton dengan pola kehidupan modern,
berbasis pada kegiatan produktivitas industri, jasa dan rekreasi (jalan-jalan dari satu ke lain super mall),
dan seterusnya Seharusnya pemerintah (nasional dan daerah), harus memperhatikan kondisi LH setempat
secara khusus, mulai dari pengamatan tingkat kehidupan sosialnya di dalam konstelasi lingkungan yang ada.
Masyarakat tepian perairan saja: sudah dapat dibedakan, apakah mereka tinggal di tepian sungai atau danau
atau lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil, sebab kondisi fisik-sosial dan ekonominya pasti berbeda
dengan yang hidup di kota-kota besar dan di pulau-pulau yang luas. Belum lagi bila dipertimbangkan pula
kondisi iklim, sifat dinamis alam setempat, serta daerah-daerah yang secara fisik berbahaya (rentan), misal:
daerah sekitar letusan gunung berapi, wilayah gempa dan kemungkinan bahaya gelombang pasang
(tsunami), daerah-daerah rendah atau kemiringan lahan > 45%, dan lain lain.

3.6 DARI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI (IPTEK) "KEMBALI" KE KEARIFAN TRADISIONAL
Deep ecology/DE (ekologi dalam) dilontarkan oleh Arne Naess (ahli fi lsafat Finlandia, 1973), merupakan
salah satu versi etika lingkungan ekosentrisme yang memusatkan perhatian pada biosfi r secara
keseluruhan, bukan hanya untuk jangka pendek melainkan agar memperhatikan pula kemungkinan
perkembangan biosfer jangka panjang. Hubungan antar manusia tidak berobah, tetapi manusia dan
kepentingannya bukan ukuran bagi segala sesuatu, bukan pula pusat dari dunia moral. Prinsip moral yang
dikembangkan DE meliputi seluruh komunitas ekologis. DE mengembangkan prinsip-prinsip moral yang
merupakan etika lingkungan praktis, menekankan pada gerakan atau aksi nyata yang kongkrit, mendukung
gaya hidup baru yang selaras dan serasi dengan alam, memperjuangkan isu lingkungan dan politik, perobahan
paradigma, nilai dan perilaku/gaya hidup.
Filsafat DE yang dinamakan ecosophy ini merupakan suatu kearifan hidup yang selaras dengan alam dalam
keterkaitan dan ketergantungan antara yang satu dengan yang lain dan dengan seluruh alam semesta sebagai
sebuah rumah tangga yang utuh menyeluruh. DE dimaksudkan sebagai implementasi etika yang baru, yaitu
diperlukannya komitmen bersama yang bersinergi untuk menjadi sebuah gerakan bersama secara global,
yang melibatkan seluruh kelompok masyarakat (ecosophy), yaitu gerakan merawat bumi sebagai sebuah
rumah tangga yang memerlukan tempat (ruang kehidupan) yang nyaman. Dengan membangun gerakan
seperti ini, melalui sosialisasi kepada semua orang dan antar atau lintas generasi, menjadi suatu etika baru
yang sama dengan: gerakan moral untuk menyelamatkan sistem ekologi. Dengan demikian maka krisis
ekologi dapat diatasi dan kehidupan dapat diselamatkan.
Krisis ekologi sama dengan krisis kehidupan, maka untuk dapat menyelamatkan kehidupan diperlukan
perubahan pola hidup dan perilaku yang bisa merusak dan mencemari lingkungan hidup, baik secara sendirisendiri selaku individu, maupun secara bersama dengan kelompok masyarakat lain, secara utuh memelihara
fungsi lingkungan

sebagaimana

seharusnya

seperti

yang

dikenal

dalam

sistem

pembangunan

berkelanjutan (sustainable development) dalam etika lingkungan dari masyarakat yang berbudaya dan
bermoral.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dikenal sejak dulu dengan kelimpahan keanekaragaman sumber
daya hayati dan keanekaragaman serta kemajemukan budayanya. Diperkirakan terdapat lebih dari 555 suku
bangsa atau sub-suku bangsa yang berbeda bahasa maupun budaya lokalnya yang tersebar di seluruh
nusantara. Kearifan lingkungan yang masih berlangsung sampai sekarang, meski diketahui sudah mulai
terkikis oleh kehidupan modern.
Kearifan

budaya

suku-suku

bangsa

ini

merupakan

hasil

abstraksi

dari

pengalaman

dalam

mengelola lingkungan yang sudah ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun lalu, meski kebanyakan diturunkan
hanya melalui bahasa atau budaya tutur saja, atau melalui mantra-mantra khusus sebagai penjabaran dari
sistem budaya, namun dapat dihayati dan dianut oleh seluruh anggota masyarakat pendukungnya,
menjadi pedoman atau kerangka acuan dalam melihat, memahami dan memilah-milah gejala yang
dihadapi sehari-hari, kemudian memilih dan menetapkan strategi dalam bersikap atau bertindak dalam
pengelolaan lingkungan dan SDA-nya. (Intellectual property right, local knowledege, folk knowledge). Karena
itu kearifan pengelolaan sumber daya dan lingkungan sebagai akar budaya masyarakat Indonesia ini perlu
mendapat perlindungan, penghargaan dan penghormatan yang sesuai dan memadai. Misalnya melindunginya
dengan perangkat hukum lokal atau hukum nasional yang terkait dan masih berlaku dan sesuai dengan
kebutuhan kemanusiaan.
Diperlukan pula tindakan berupa: Inventarisasi dan revitalisasi masing-masing komunitas, yang telah nyata
memiliki SD (modal) sosial yang bermanfaat bagi pembangunan, yaitu berupa: pengetahuan tradisional, etika
lingkungan dan pranata sosial yang diwarisi secara turun temurun dan yang telah terbukti sangat efektif
dalam menjaga kelestarian fungsi lingkungan dan menjamin keserasian lingkungan sosial dan binaannya.
Efektivitas teknologi yang arif lingkungan tersebut, dikemukakan sebagai contoh, antara lain (KLH,
2001) : Sistem rotasi perladangan yang dikembangkan masyarakat lokal Kalimantan sebetulnya masih
bisa bermanfaat dalam memulihkan kesuburan tanah, bila memenuhi persyaratan tertentu, yaitu apabila
jumlah penduduk sesuai dengan rasio luasnya ruang hidup yang masih mampu mendukung atau
menampung kehidupan sekelompok masyarakat itu sendiri, seperti misalnya; Pranata masyarakat SASI di
Maluku sebagai norma perlindungan perairan serta menunjukkan budaya gotong-royong serta saling
kepedulian di antara anggota masyarakat; Rempong Damar, sebagai sebuah model konservasi, dikembangkan
oleh masyarakat Krui, di Lampung Barat; Teknologi Hompongan pada masyarakat Kubu, sebagai upaya
membentengi hutan dari eksploitasi SD-hutan; Awig-awig di Bali, yang sampai sekarang telah terbukti sebagai
sistem yang sangat efektif, dan masih banyak lagi.
SD-sosial yang arif lingkungan telah tergeser oleh persebaran nilai-nilai baru yang terbawa oleh
kegiatan pembangunan, ditandai oleh penerapan IPTEK maju yang berpedoman pada nilai-nilai industri.
Nilai-nilai baru telah menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek tanpa memperhatikan
kelestarian fungsi dan kebiasaan dan keserasian lingkungan sosial dan binaan. Hal ini akan merugikan
pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri. Orang Dayak berkata: Hancurnya hutan alam akan menghancurkan
kita juga, karena rasa menyatunya dengan alam begitu berarti.