Anda di halaman 1dari 16

CASE SCIENCE SESSION (CSS)

TETANUS
Diajukan untuk memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D)
SMF Saraf
Disusun oleh:
Robby Ashar

12100115023

Deo Valendra

12100115130

Nita Ayu Toraya

12100115078

Preseptor:
Asep S, dr., SpS
Waya N, dr., SpS

SMF ILMU PENYAKIT SARAF


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
RSUD AL-IHSAN BANDUNG
2016

TETANUS
I. PENDAHULUAN
1

Tetanus merupakan penyakit yang akut dan seringkali fatal, penyakit ini
disebabkan oleh eksotoksin yuang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Kata tetanus
berasal dari bahasa Yunani tetanos, yang diambil dari kata teinein yang berarti
teregang. Tetanus dikarakteristikan dengan kekakuan umum dan kejang kompulsif
pada otot-otot rangka. Kekakuan otot biasanya dimulai pada rahang ( lockjaw ) dan
leher dan kemudian menjadi umum. Penyakit ini merupakan penyakit yang serius
namun dapat dicegah kejadiannya pada manusia.
II. DEFINISI
Penyakit yang timbul karena sistem saraf pusat terintoksikasi oleh Clostridium
tetani, suatu kuman basil gram positif yang memproduksi neurotoksin spesifik.
III. EPIDEMIOLOGI
Tetanus terjadi secara luas di seluruh dunia namun paling sering pada daerah
dengan populasi padat, pada iklim hangat dan lembab. Organisme penyebab
ditemukan secara primer pada tanah dan saluran cerna hewan dan manusia. Transmisi
secara primer terjadi melalui luka yang terkontaminasi. Luka dapat berukuran besar
atau kecil. Pada tahun-tahun terakhir ini, tatanus sering terjadi melalui luka- luka yang
kecil. Tetanus juga dapat menyertai setelah luka operasi elektif, luka bakar, luka tusuk
yang dalam, luka robek, otitis media, infeksi gigi, gigitan binatang, aborsi dan
kehamilan.
Di Amerika Serikat, insidensi tetanus telah berhasil diturunkan sejak
pertengahan tahun 1940, sejalan degan penggunaan imunisasi tetanus secara luas.
Pelaporan kasus pada tahun 1981 1991 oleh CDC di Amerika menunjukkan bahwa
angka kematian pasien dengan tetanus hanya sekitar 40%. Dari tahun 1991 -1994
telah dilaporkan bahwa 60% pasien berusia 20 -59 tahun dan 35% >60tahun.
Secara internasional pada tahun 1992 terhitung sekitar 578.000 bayi
mengalami kematian karena tetanus neonatorum. Pada tahun 2000, dengan data dari
WHO menghitung insidensi secara global kejadian tetanus di dunia secara kasar
berkisar antara 0,5 1 juta kasus dan tetanus neonatorum terhitung sekitar 50% dari
kematian akibat tetanus di negara negara berkembang. Perkiraan insidensi tetanus
secara global adalah 18 per 100.000 populasi per tahun. Di negara berkembang,
tetanus lebih sering mengenai laki laki dibanding perempuan dengan perbandingan
3 : 1 atau 4 :1
2

Secara epidemiologi, angka kematian tetanus sekitar 45% dan 6 % diketahui


mendapatkan 1 -2 dosis tetanus toksoid, dan 15% pada individu yang tidak divaksin.
Angka kematian tertinggi diketahui pada penderita dengan usia >60 tahun (18%).
IV. ETIOLOGI
Penayakit tetanus ini disebabkan karena Clostridium tetani yang merupakan
basil gram positif obligat anaerobik yang dapat ditemukan pada permukaan tanah
yang gembur dan lembab dan pada usus halus dan feses hewan. Mempunyai spora
yang mudah bergerak dan spora ini merupkan bentuk vegetatif. Kuman ini bisa masuk
melalui luka di kulit. Spora yang ada tersebar secara luas pada tanah dan karpet, serta
dapat diisolasi pada banyak feses binatang pada kuda, domba, sapi, anjing, kucing,
marmot dan ayam. Tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang mungkin mengandung
sejumlah besar spora. Di daerah pertanian, jumlah yang signifikan pada manusia
dewasa mungkin mengandung organisma ini. Spora juga dapat ditemukan pada
permukaan kulit dan heroin yang terkontaminasi. Spora ini akan menjadi bentuk aktif
kembali ketika masuk ke dalam luka dan kemudian berproliferasi jika potensial
reduksi jaringan rendah. Spora ini sulit diwarnai dengan pewarnaan gram, dan dapat
bertahan hidup bertahun tahun jika tidak terkena sinar matahari. Bentuk vegetatif ini
akan mudah mati dengan pemanasan 120oC selama 15 20 menit tapi dapat betahan
hidup terhadap antiseptik fenol, kresol.
Kuman ini juga menghasilkan 2 macam eksotoksin yaitu tetanolisin dan
tetanospasmin. Fungsi tetanolisin belum diketahui secara pasti, namun diketahui dapat
menyebabkan kerusakan jaringan yang sehat pada luka terinfeksi, menurunkan
potensial reduksi dan meningkatkan pertumbuhan organisme anaerob. Tetanolisin ini
diketahui dapat merusak membran sel lebih dari satu mekanisme. Tetanospasmin
(toksin spasmogenik) ini merupakan neurotoksin potensial yang menyebabkan
penyakit. Tetanospasmin merupakan suatu toksin yang poten yang dikenal
berdasarkan beratnya. Toksin ini disintesis sebagai suatu rantai tunggal asam amino
polipeptida 151-kD 1315 yang dikodekan pada plsmid 75 kb. Tetanospasmin ini
mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran neurotransmiter glisin dan GABA pada
terminal inhibisi daerah presinaps sehingga pelepasan neurotransmiter inhibisi
dihambat dan menyebabkan relaksasi otot terhambat. Batas dosis terkecil
tetanospasmin yang dapat menyebabkan kematian pada manusia adalah 2,5 nanogram

per kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk manusia dengan berat badan 75
kg.
V. PATOGENESIS
C.tetani biasa memasuki tubuh melalui luka. Pada keadaan yang anaerobik,
spora dapat tumbuh. Jaringan nekrosis, benda asing atau infeksi aktif juga merupakan
tempat yang baik untuk perkembangan spora dan pelepasan toksin. Tetanospasmin
merupakan suatu zinc metalloprotease, suatu substansi amino acid polyperptide chain
yang dilepaskan di dalam luka. Toksin kemudian dapat menyebar melalui otot yang
terkena kepada otot di sekitarnya, dan terikat pada ujung terminal motor neuron
perifer, kemudian memasuki akson dan ditransport secara retrograd mealui
intraneuronal. Toksin ini bekerja pada sistem saraf simpatis. Selain itu toksin juga
dapat menyebar melalui sistem predaran darah dan limfatik.
Toksin tetanus ini memblokade pelepasan neurotransmitter dengan membelah
permukaan protein dari vesikel sinaps, hal ini mencegah eksositosis normal dari
neurotransmiter. Toksin ini menginterfensi fungsi arkus refleks dengan memblokade
transmiter inhibisi, terutama GABA, pada daerah presinaps pada medula spinalis dan
brainstem. Elisitasi dari gerakan rahang, secara normal akan diikuti dengan supresi
dari aktivitas motor neuron, manifestasi pada elektromiogram sebagai silent period.
Pada pasien dengan tetanus, terdapat kegagalan dari mekanisme inhibisi, yang
menghasilkan peningkatan pada aktivasi saraf-saraf yang menginervasi muskulus
maseter (trismus or lockjaw). Dari semua sistem neuromuskular, persarafan maseter
merupakan yang paling sensitif terhadap toksin. Stiulus yang berbeda ini bukan hanya
menghasilkan efek yang berlebihan, tetapi juga menghilangkan inervasi resiprokal;
kontraksi agonis dan antagonis, meningkatkan spasme muskular. Selain terjadi efek
generalisata pada saraf-saraf motorik di medula spinalis dan brainstem, toksin ini juga
beraksi langsung pada otot skeletal pada titik akson membentuk end plate (muingkin
terjadi pada tetanus terlokalisasi) dan pada korteks serebral dan sistem saraf simpatis,
pada hipotalamus.

Efek tetanospasmin terhadap pelepasan neurotransmiter


Pengaruh tetanospasmin terhadap pelepasan neurotransmiter dapat terjadi
melalui invasi saraf terminal, aksi potensial dependent calcium entry, dan peranan
4

kalsium itu sendiri terhadap pelepasan transmiter. Terdapatnya hambatan aliran


kalsium oleh toksin juga dapat menghambat pelepasan eurotransmiter, selain itu
pelepasan transmiter dari saraf terminal presinaps juga tergantung pada kalsium.
Toksin diketahui dapat memodifikasi proses mekanisme perubahan 4 Ca dependent
menajadi 1 Ca dependent, bersamaan dengan meningkatnya daya ikat kalsium.
Vesikel sinaptik memerlukan 4 kalsium untuk dapat berataut pada membran presinaps
bagian

dalam,

untuk

mkemudian

bergabung

dna

melepaskan

transmiter.

Tetanospasmin ini merupah keadaan tadi menjadi 1 ca dependent, bersamaan dengna


menurunnya afinirtas terhadap kalsium. Dnenga demikian vesikel sinaps menjauhi
membran presinaps yang aktif dan neurotransmiter yang gagal dilepaskan.
Hipotesa lain oleh Gambale dan Montal, yang menyebutkan bahwa setelah
toksin masuk ke dalam sel, meniumbulkan passive cation channel yang menyebabkan
sel tetap berdepolarisasi sehingga mencegah pelepasan transmiter. Sedangkan Sanberg
dkk mengemukakan sehingga mencegah pelepasan transmiter. Sedangkan Sanberg
dkk mengemukakan bahwa tetanospasmin dapat menginhibisi pelepasan asetilkolin
dari sel faeokromositoma adrenal tikus dan mencegah akumulasi cGMP (cyclic
guanosin monophosphate).
VI. GAMBARAN KLINIS
Tetanus biasanya mengikuti luka-luka yang

dikenali. Kontaminasi benda

tajam dengan tanah, pupuk atau besi yang berkarat dapat menyebabkan tetanus.
Penyakit ini juga dapat sebagai komplikasi dari luka bakar, ulkus, gangren, gigitan
ular yang telah nekrotik, infeksi telinga tengah, aborsi, kelahiran, injeksi
intramuskular dan pembedahan.
Ada trias gejala yaitu rigiditas atau kekauan, spasme dari otot, jika parah maka
bisa disfungsi otonom. Kekakuan otot leher, nyeri tenggorokan,
membuka mulut

dan kesulitan

sering merupakan gejala awal. Spasme otot masseter bisa

menyebabkan trismus atau lockjaw. Spasme yang prosesif meluas dari otot muka
menyebabkan ekspresi khusus yang disebut Risus Sardonicus dan pada otot
menelan menyebabkan disfagia. Kekakuan dari otot leher menyebabkan retraksi
kepala. Kekauan otot-otot rangka tubuh menyebabkan opisthotonus dan kesulitan
bernafas dengan complience dinding dada yang menurun.
Untuk meningkatkan tonus otot, ada episode spasme otot. Kontraksi tonik ini
seperti konvulsi yang mempengaruhi agonis dan antagonis dari sekelompok otot. Bisa
5

spontan atau dipengaruhi oleh sentuhan, visual, suara, atau emosi. Spasme bervariasi
untuk kekuatannya dan frekuensi tapi cukup kuat menyebabkan patah tulang dan
robeknya suatu jaringan (avulsi). Spasme bisa terjadi terus-menerus yang bisa
mengakibatkan gagal nafas. Spasme faring sering diikuti spasme laring dan
berhubungan dengan aspirasi dan obstruksi jalan nafas.
Masa inkubasi bervariasi antara 3 sampai 21 hari, biasanya sekitar 8 hari.
Pada umumnya tergantung pada lokasi dan jarak antara luka dengan system saraf
pusat, sehingga lokasi luka yang jauh dapat menyebabkan masa inkubasi yang lebih
lama. Masa inkubasi yang pendek mempunyai angka kematian yang cukup tinggi.
Pada tetanus neonatorum gejala biasanya muncul antara 4 sampai 14 hari setelah lahir
dengan rata-rata 7 hari.
Karakteristik Dari Tetanus:
1. Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama , dan menetap selama 5-7
hari.
2. Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekuensinya.
3. Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
4. Biasanya didahului dengan ketegangan otot terutama pada rahang dan
leher.
5. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus / lockjaw) karena
spasme otot masseter.
6. Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( nuchal rigidity)
7. Risus Sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik
ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan kebawah, bibir tertekan kuat.
8. Gambaran umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus,
tungkai dengan eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya
kesadaran tetap baik.
9. Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis,
retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak).
Berdasarkan pada temuan klinis terdapat 4 bentuk tetanus yang telah
dideskripsikan yaitu:
1. Tetanus lokal, merupakan bentuk yang tidak umum dimana pasien mengalami
kontraksi otot yang persisten pada daerah luka yang terjadi ( agonis, antagonis,
dan fixator). Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot
6

biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progresif dan
biasanya menghilang secara bertahap. Tetanus lokal dapat mendahului tetanus
umum namun dalam bentuk yang relatif lebih ringan dan jarang menimbulkan
kematian.. Prognosis pada pasien dengan tetanus lokal ini sangat baik, hanya
berkisar 1% dari kasus yang mengalami kematian.
2. Tetanus sefalik, merupakan bentuk tetanus yang jarang terjadi, bisanya terjadi
menyertai otitis media dimana C. tetani ditemukan sebagai flora pada telinga
tengah atau menyertai trauma kepala. Tetanus bentuk ini dapat mengenai
nervus kranialis, khususnya pada daerah wajah. Bentuk tetanus ini merupakan
bentuk yang tidak biasa dengan masa inkubasi 1-2 hari.
3. Tetanus Umum, merupakan bentuk yang paling sering terjadi (sekitar 80%).
Penyakit ini biasanya muncul dalam bentuk descending. Gejala pertama yang
muncul adalah trismus dan lockjaw, kemudian diikuti dengan kekakuan leher,
kesulitan menelan, dan rigiditas abdomen.

Gejala lain berupa Risus

sardonicus, (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus


(kekakuan otot punggung), kejang dinding punggung. Spasme dari laring dan
otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas,

sianose

asfiksia. Gejala lainnya adalah suhu tubuh yang meningkat 2-4 C di atas
suhu normal, berkeringat, peningkatan tekanan darah, dan denyut jantung yang
cepat secara episodik. Spasme dapat terjadi secara berkala selama beberapa
menit. Spasme dapat berkelanjutan selama 3-4 minggu. Penyembuhan secara
komplit dapat memakan waktu selama beberapa bulan.
4. Tetanus neonatorum, merupakan bentuk tetanus umum yang terjadi pada bayi
baru lahir. Tetanus neonatorum terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan
perlindungan imunisasi pasif, karena ibu yang tidak diimunisasi.

Infeksi

biasanya terjadi melalui umbilikus yang dipotong dengan perangkat yang tidak
steril.

Tetunus neonatorum sering terjadi di negara-negara berkembang

(terhitung sekitar lebih dari 215.000 kematian di dunia pada tahun 1998),
namun sangat jarang terjadi di Amerika Serikat.
VII. DIAGNOSIS
Anamnesis
-

Pertanyaan seputar luka sangat penting, terutama waktu terkena luka serta
waktu dari luka sampai munculnya gejala. Selain itu tanyakan lokasi luka,
jenis luka (kotor atau bersih).
7

Port the entry lain seperti penggunaan jarum suntik, adaya otitis media

supuratif kronik, dan lainnya.


Tanyakan riwayat imunisasi tetanus

Pemeriksaan Fisik
-

Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai tanda dan gejala tetanus seperti :
o Hipertotonus otot
o Spasme
o Trismus
o Kaku di leher, bahu, serta ekstremitas
o Abdomen seperti papan
o Risus sardonicus (kontraksi pada otot wajah, otot bibir mengalami
retraksi, mata tertutup parsial karena kontraksi M. orbicularis oculi.
Alis terelevasi karena spasme otot frontalis)
o Spasme pada otot-otot pernapasan
o Pada tetanus lokal terjadi pada salah satu bagian organ saja berupa
rasa kaku, kencang, dan nyeri otot di sekitar luka.
o Pada tetanus sefalik biasanya terjadi kelemahan dan paralisis otototot wajah. Spasme dapat melibatkan lidah dan tenggorokan
sehingga bisa terjadi disartria, disfonia, dan disfagia.

VIII. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang karakteristik untuk tetanus. Pada
pemeriksaan darah, jumlah lekosit mungkin meningkat, laju endap darah sedikit
meningkat. Pemeriksaan cairan serebrospinal masih dalam batas normal. Tingkat
serum enzim otot mungkin meningkat. Diagnosis ditegakkan secara klinis

dari

anamnesa dan pemeriksaan fisik dan tidak tergantung pada konfirmasi bakteriologis.
C. Tetani hanya ditemukan pada 30% pada luka pasien dengan kasus tetanus, dan
dapat diisolasi dari pasien yang tidak memberikan gejala tetanus.
IX. KLASIFIKASI
Berdasarkan gambaran klinis yang telah dideskripsikan, maka tingkatan
penyakit tetanus dapat dibuat dalam suatu kriteria/derajat berat ringannya penyakit.
Menurut abletts, kriteria tetanus ini dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu :
I.

(ringan) : kasus tanpa disfagia dan gangguan respirasi

II.

(sedang) : kasus dengan spastisitas nyata, gangguan menelan (disfagia)


dan gangguan respirasi

IIIa.

(berat) : kasus dengan spastisitas berat disertai spasme berat

IIIb

(sangat berat) : sama dengan tingkat IIIa disertai adanya aktivitas

simpatis berlebihan (disotonomia)


Modifikasi Abletts :
I : trismus ringan dan sedang dengan kekakuan umum. Tidak disertai dengan kejang,
gangguan respirasi dengan sedikit atau tanpa gangguan menelan
II

: trismus sedang, kaku disertai spasme kejang ringan sampai sedang yang

berlangsung singkat disertai disfagia ringan dan takipnea > 30 35 x/ menit


III : trismus berat, kekakuan umum, spasme dan kejang spontan yang berlangsung
lama. Gangguan pernapasan dengan takipnea > 40 x/menit, kadang apnea, disfagioa
berat dan takikardia > 120x/menit. Terdapat peningkatan aktivitas saraf otonom yang
moderat dan menetap.
IV : gambaran tingkat III disertai gangguan saraf otonom berat dimana dijumpai
hipertensi berat dengan takikardi berselang dengan hipotensi relatif dan bradikardia
atau hipertensi diastolik yang berat dan menetap (tekanan diastolik >110 mmHg) atau
hipotensi sistolik yang menetap (tekanan sistolik <90 mmHg). Dikenal juga dengan
autonomic storm
Sedangkan Patel dan Joag membagi penyakit tetanus ini dalam tingkatan dengan
berdasarkan gejala klinis yang dibaginya dalam 5 kriteria :
Kriteria 1 : rahang kaku, spasme terbatas, disfagia, dan kekakuan otot tulang belakang
Kriteria 2 : spasme saja tanpa melihat frekuensi dan derajatnya
Kriteria 3 : inkubasi antara 7 hari atau kurang
Kriteria 4 : waktu onset adalah 48 jam atau kurang
Kriteria 5 : kenaikan suhu rektal sampai 100 0 farenheit dan aksila sampai 990
farenheit
Dengan berdasarkan 5 kriteria di atas, maka dibuatlah tingkatanh p[enyakit tetanus
sebagai berikut :
Tingkat I

: Ringan, minimal 1 kriteria ( K1 / K2 ) mortalitas 0 %

Tingkat II

: Sedang, minimal 2 kriteria ( K1& K2) dengan masa inkubasi lebih


dari 7 Hari dan onset lebih dari 2 hari, moirtalitas 10 %

Tingkat III

: Berat, minimal 3 kriteria dengan masa inkubasi kurang dari 7 hari dan
onset kurang dari 2 hari, mortalitas 32%

Tingkat IV

: Sangat berat, minimal ada 4 kriteria dengan mortalitas 60%

Tingat V

: Biasanya mortalitas 84 % dengan 5 kriteria, termasuk di dalamnya


9

adalah tetanus neonatorum maupun puerpurium


X. PENATALAKSANAAN
Prinsip :
1. Mengeliminasi

bakteri

dalam

tubuh

untuk

mencegah

pengeluaran

tetanospasmin lebih lanjut


2. Menetralisir tetanospasmin yang beredar bebas dalam sirkulasi (belum terikat
dengan sistem saraf pusat)
3. Meminimalisasi gejala yang timbul akibat ikatan tetanospasmin dengan sistem
saraf pusat
Terapi umum :
1. Semua pasien disarankan untuk menjalani perawatan di ruang ICU yang
tenang supaya bisa dimonitor terus-menerus fungsi vitalnya. Pasien dengan
tetanus tingkat II, III, IV sebaiknya dirawat di ruang khusus dengan peralatan
intensif yang memadai serta perawat yang terlatih untuk memantau fungsi
vital dan mengenali tanda aritmia. Hendaknya pasien berada di ruangan yang
tenang dengan maksud untuk meminimalisasi stimulus yang dapat memicu
terjadinya spasme.
2. Berikan cairan infus D5 untuk mencegah dehidrasi dan hipoglikemi
3. Debridement luka. Semua luka harus dibersihkan. Jaringan nekrotik dan
benda-benda asing harus dikeluarkan. Semua luka yang berpotensial harus
didebridement, abses harus diinsisi dan didrainase. Selama dilakukannya
manipulasi terhadap luka yang diduga menjadi sumber inkubasi tetanus ini,
harus diberikan hTIG dan terapi antibiotika. Juga penting diberikan obatobatan pengontrol spasme otot selama manipulasi luka.
Terapi khusus :
1. Human Tetanus Imunoglobulin (hTIG 3000-6000 IU i.m) : untuk menetralisir
tetanospasmin bebas. Antitoksin ini tidak mempunyai efek pada toksin yang
telah terikat pada jaringan saraf pada susunan saraf pusat ataupun sistem
otonom. Toksin bebas mungkin terdapat pada sekeliling luka tempat
pertumbuhan C. tetani. Diberikan secepat mungkin setelah diagnosis klinis
tetanus ditegakkan. Dosis efektif yang direkomendasikan adalah 3000-10.000
10

IT iv/im, dengan kadar puncak dalam darah dicapai dalam 48-72 jam. Sebagai
pengobatan secara aktif 1500-3000 IU diinfiltrasikan pada sekeliling luka. Di
Indonesia umumnya masih memakai Anti Tetanus Serum, termasuk juga di
RSHS. Serum ATS yang dianjurkan 10.000 U i.v satu kali. Sebelum
pemberian harus dilakukan skin tes. Untuk imunisasi aktif dipakai TT. Apabila
luka kecil, tidak terinfeksi, tetapi riwayat imunisasi tidak jelas, diberikan dosis
TT 0,5 ml. Dosis yang sama mutlak diberikan apabila luka besar, terinfeksi,
dan riwayat imunisasi terakhir lewat 5 tahun
2. Antibiotik : untuk menghilangkan sumber tetanospasmin
DOC : Metronidazole 500 mg p.o tiap 6 jam atau 1gr tiap 12 jam selama 10-14
hari, aktif menghambat pertumbuhan bakteri anaerob dan protozoa.
3. Benzodiazepine : untuk meminimalisasi spasme otot dan rigiditas karena
bersifat GABA enhancer.
DOC : Diazepam karena dapat mengurangi ansietas, menyebabkan sedasi dan
relaksasi otot. Dosis pemberian berdasarkan derajat keparahan spasme otot.
Pada orang dewasa :
Spasme ringan : 5-10 mg p.o tiap 4-6 jam
Spasme sedang : 5-10 mg i.v
Spasme berat : 50-100 mg dalam 500 ml D5, infuskan dengan
kecepatan 10-15 mg/jam
Bila refrakter terhadap benzodiazepine, berikan neuromuscular blocking
agents (vecuronium)
4. Tetanus Toxoid (Td 0,5 ml i.m) : untuk merangsang dibentuknya antibodi
terhadap eksotoksin bakteri. Td ini merupakan suatu eksotoksin yang telah
didetoksikasi dengan formaldehid dan diabsorbsi ke dalam garam aluminium.
Antigen ini akan menginduksi produksi antibody yang melawan eksotoksin.
5. -adrenergik blocking agents (Labetolol 0,25-1 mg/menit melalui infus i.v
setelah dititrasi) untuk mengontrol disfungsi otonom yang didominasi aktivitas
simpatis, yakni menurunkan tekanan darah tanpa memperberat takikardi
6. Intubasi endotrakeal atau trakeostomi pada tetanus berat (stadium III-IV)
untuk atasi gangguan napas. Hendaknya trakeostomi dilakukan pada pasien
yang memerlukan intubasi lebih dari 10 hari, disamping itu trakeostomi juga
direkomendasikan setelah onset kejang umum yang pertama.

11

7. Walaupun imunisasi aktif tidak 100% efektif mencegah tetanus, namun


imunisasi tetanus telah memperlihatkan sebagai salah satu yang paling efektif
sebagai pencegahan terhadap kejadian tetanus. Pemberian imunisasi dan
penanganan luka yang baik diketahui merupakan komponen yang penting
dalam mencegah penyakit ini. Pada pasien dengan tetanus, imunisasi aktif
dengan Td harus mulai diberikan atau dilanjutkan sesegera mungkin setelah
kondisi pasien stabil.
Tingkat Kegawatdaruratan dan Indikasi Rawat Pada Tetanus

Interpretasi skor :
-

<9

: Dapat dilakukan rawat jalan

10-16

: Dapat dirawat di bangsal rawat inap

>17

: Harus dirawat di ruang rawat intensif

PENCEGAHAN
Imunisasi aktif :
o Imunisasi aktif ini perlu diberikan pada ank-anak sejak dini dan juga
pada ibu hamil. Sejak bayi sebaiknya sudah diberikan imunisasi
dengan jadwal seperti pada tabel 1. Namun jika belum diimunisasi,
anak-anak 7 tahun dapat pula diimunisasi dengan interval seperti
pada tabel 2.

12

TABEL 1:
Imunisasi
Primer 1
Primer 2
Primer 3
Primer 4
Booster
Booster
Tambahan

Usia /Interval pemberian


6 minggu
4-8 minggu setelah primer 1
4-8 minggu setelah primer 2
6-12 minggu setelah primer 3
4-6 tahun
Setiap 10 tahun setelah booster terakhir

TABEL 2:
Imunisasi
Primer 1
Primer 2
Primer 3
Booster

Interal Pemberian
4 minggu
6-12 minggu
Setiap 10 tahun setelah booster terakhir

Produk
DPT
DPT
DPT
DPT
DPT
Td

Produk
Td
Td
Td
Td

Pada ibu hamil dapat diberikan 2 kali injeksi Td toxoid pada trimester ke-2 atau
ke-3.

Imunisasi Td toxoid pada ibu hamil ini diperlukan untuk mencegah

terjadinya tetanus neonatorum. Selain itu persalinan yang bersih juga berperan
penting dalam pencegahan tetanus neonatorum.

Imunisasi setelah mengalami luka :


o Pada seseorang yang mengalami luka, dapat dilakukan pencegahan
tetanus dengan membersihkan luka (irigasi), menghilangkan benda
asing yang ada, debridement, penggunaan antibiotik jika diperlukan.
(a) Pada luka minor, tidak terinfeksi Diberikan TT dengan dosis 5 Lf (0,5 cc) pada
penderita dengan indikasi: status imunisasi yang tidak diketahui, belum pernah
diimunisasi atau terimunisasi parsial, lebih dari 10 tahun tidak mendapat
booster.
(b) Pada luka mayor, terinfeksi Indikasi pemberian TT sama seperti pada luka
minor, namun dengan dosis booster TT. Diberikan imunisasi pasif pada
penderita tersebut, baik dengan HTIG 250-500 U i.m ataupun dengan ATS
5000 U.
TABEL 3:
Luka Rentan Tetanus
> 6 jam
Kedalaman (> 1 cm)
Terkontaminasi

Luka Tidak Rentan Tetanus


< 6 jam
Superfisial (< 1 cm)
Bersih
13

Stellate, avulsi, remuk


Liner, tapi tajam
Denervasi, iskemik
Saraf/vaskuler intak
Infeksi sekunder (+)
Infeksi sekunder (-)
Diambil dari Udwadia F.E., Tetanus, Bombay 1994
XI. KOMPLIKASI
1. Kematian (sudden cardiac death)
Kasus fatal sering terjadi terutamanya pada pasien yang berusia lebih dari 60
tahun (18%) dan pasien yang tidak mendapat vaksinasi (22%). Kematian sering
diakibatkan oleh adanya produksi katekolamin yang berlebihan dan adanya efek
langsung tetanospasmin atau tetanolisin pada miokardium.
2. Obstruksi jalan napas
Pasien tetanus sering merasa nyeri hebat waktu mengalami kejang (spasme)
hingga terjadinya laringospasme (spasme pita suara) hingga menyebabkan
obstruksi dan gangguan pada jalan napas.
3. Fraktur
Fraktur pada tulang vertebra atau tulang panjang bisa terjadi karena kontraksi
yang berlebih atau kejang yang kuat.
4. Hiperaktifitas sistem saraf otonomik
Efek samping yang terjadi pada keadaan ini adalah dengan meningkatnya tekanan
darah (hipertensi) dan denyut jantung yang tidak normal.
5. Infeksi nosokomial
Infeksi nosokomial sering terjadi karena perawatan di rumah sakit yang lama.
6. Infeksi sekunder
Infeksi sekunder dapat berupa sepsis akibat pemasangan kateter, hospitalacquired pneumonias dan ulkus dekubitus.
7. Hypoxic injury, aspirasi pneumonia dan emboli paru
Emboli paru adalah masalah yang sering ditemukan pada pasien lanjut usia dan
pasien dengan penggunaan obat-obatan. Aspirasi pneumonia adalah komplikasi
lanjut pada tetanus dan sering ditemukan pada 50 -70% pasien yang diotopsi.
8. Ileus paralitik, luka akibat tekanan, retensi urin dan konstipasi
9. Malnutrisi dan stress ulcers
10. Koma
11. Neuropati
12. Kelainan psikis
14

13. Kontraktur otot


14. Dislokasi sendi glenohumeral dan temporomandibular
XII. PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada masa inkubasi, waktu dari inokulasi spora sampai
timbul gejala awal dan waktu dari timbulnya gejala awal sampai spasme tetanik awal.
Secara umum, interval yang lebih pendek menunjukkan tetanus yang lebih berat dan
prognosis yang lebih buruk. Kebanyakan pasienyang bertahan dari tetanus ini
biasanya akan kembali pada kondisi kesehatan sebelumnya walau pun perbaikan
berjalan secara lambat (sekitar 2 hingga 4 bulan) dan pasien seringkali tetap menjadi
hipotonus. Pasien yang sembuh harus mendapatkan imunisasi aktif dengan tetanus
toksoid untuk mengelakkan dari terjadinya rekurensi. Selain itu, prognosis dan angka
kematian pasien dengan tetanus juga dipengaruhi oleh factor usia, gizi yang buruk
serta penangan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi. Dari data terkini yang
diperolehi, kadar kematian pada penderita tetanus ringan dan sedang adalah 6% dan
pada penderita tetanus berat bisa mencapai 60%. Meningkatnya kadar kematian pada
penderita tetanus adalah berhubung dengan faktor faktor berikut:
a. Masa inkubasi yang pendek
b. Onset kejang yang dini (early onset)
c. Penanganan yang lambat
d. Apabila terdapat lesi di kepala dan muka yang terkontaminasi
e. Tetanus neonatorum

DAFTAR PUSTAKA
1. CDC (Center for Disease Control an Prevention) Tetanus. In : Epidemiology
and Prevention of Vaccine-Preventable Disease The Pink book Course
Textbook. 8th Edition, Departemen of Health and Human Services Public
Health Foundation. 2004 : 65-73
2. Mylonakis E, Rutecki GW, Talavera F. Tetanus, In Tetanus Excerpt. Last
Updated In March 26. 2002. eMedicine.comCopyright 2003 : 1-6
15

3. Dire DJ, Gaeta T, Talavera F. Tetanus. In Tetanus Excerpt. Last Update in


July 17. 2002. eMedicine.com Copyright 2004 : 1-13
4. Ray S, Tolan RW, Liang RJ. Tetanus. In Tetanus Excerpt. Last Updated In
February 24. 2004. eMedicine.com Copyright 2004 : 1-8
5. Harrisons Internal Medicine
6. Adams. R.D,et al : Tetanus in :Principles of Neurology,McGraw-Hill,ed
7. Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER).
8. Wassilak SGF, Roper MH, Murphy TV, Orenstein WA. Tetanus. In: Plotkin
SA, Orenstein WA, eds. Vaccines. 4th ed. Philadelphia, PA: Saunders,

16