Anda di halaman 1dari 15

BAB III

LAPORAN KASUS
3.1

Identitas Pasien
Nama
: An. F
Usia
: 11 tahun
Tempat,Tanggal/Lahir : 14 April 2005
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Bangsa
: Indonesia
Alamat
: Jl. KH Azhari Lr. Jambi RT 46 No.Tanggal Periksa
: 1 November 2016

3.2

Anamnesis

3.2.1

Keluhan Utama (Autoanamnesis dan Alloanamnesis pada 1 November


2016, pukul 12:00)
Timbul bintil-bintil dengan jumlah banyak sejak 1 tahun yang lalu di
punggung kaki kanan.

3.2.2

Keluhan Tambahan
Tidak ada keluhan tambahan.

3.2.3

Riwayat Perjalanan Penyakit


Sekitar 1 tahun yang lalu timbul bintil-bintil dengan jumlah banyak
di punggung kanan. Timbul tidak bersaman. Awalnya hanya timbul satu
bintil kecil seperti kepala jarum pentul. Tidak terasa gatal, tidak nyeri atau
sakit bila ditekan.
Keluhan baru pertama kali, pada keluarga adik os mempunyai
keluhan yang sama tetapi sembuh dengan sendirinya. Os sering berenang
bersama teman- temannya apabila air sedang pasang, penderita sering
mandi disaat banjir.

3.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat gatal-gatal sebelumnya disangkal.
2. Riwayat sering bersin-bersin disangkal.

3. Riwayat alergi makanan (-)

3.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga


1. Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga (+) : adik.
2. Riwayat alergi pada keluarga disangkal.
3.3

Pemeriksaan Fisik

3.3.1

Status Generalis
Keadaan Umum
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan
BB
TB

: Baik
: Compos Mentis
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: 92 x/menit
: 36,5 C
: 22x/menit
: 24 kg
: 121 cm

Keadaan Spesifik
Kepala

: Normocephali

Wajah

: Tidak tampak pucat ataupun kemerahan, pytiriasis


alba (-)

Mata

: CA (-/-), SI (-/-)

Hidung

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Telinga

3.3.2

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Mulut

: Tidak ada kelainan pada bentuk

Leher

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Thoraks

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Punggung

: Status Dermatologikus

Abdomen

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Status Dermatologikus

Gambar 3.1 Regio Truncus Dorsum


Keterangan:
= Papul
Regio Truncus Dorsum, tampak papul-nodul, multipel, bentuk tidak
beraturan, ukuran 0,2 cm 0,3 cm x 0,2 cm 0,5 cm / miliar, lentikuler,
tersebar diskret, sebagian konfluens, di atasnya.
3.4

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Histopatolgi epidermis

3.5

Diagnosis Banding
1. Moluskum Kontangiosum
2. Veruka Vulgaris
3. Keratoakantoma

3.6

Diagnosis Kerja
Moluskum Kontangiosum

3.7

Penatalaksanaan

3.7.1

Penalaksanaan umum:
a. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya antara lain:

1) Moluskum

Kontangiosum

merupakan

penyakit

yang

di

sebabkan oleh virus, yaitu virus poks


2) Penyakit ini menular dengan cara kontak langsung ke penderita
dan melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi.
3) Penyakit ini memiliki kecendurangan bisa sembuh sendiri tapi
dalam waktu yang lama, dan tidak cukup ditatalaksana dengan
pengobatan karena penyebaran dan pengulangan tetap bisa
terjadi.
b. Menjelaskan pasien akan dilakukan tindakan pembedahan kulit:
1) Jelaskan akan dilakukan pembedahan dengan cara pembedahan
kulit dengan listris electrocauter.
2) Sebelum dilakukan tindakan pasien akan diberikan anastesi
lokal.
3) Penatalaksaan ini baik untuk Moluskum Kontangiosum, agar
tidak menimbulkan infeksi pengulangan di masa depan.
4) Akan terdapat bekas luka operasi berupat scar/sikatrik yang
dapat mengurangi estetika kulit.
c. Menyarankan agar pasien:
1) Meningkatkan kebersihan diri.
2) Menghindari menyentuk atau menggaruk lesi karena bisa
menyebabkan infeksi sekunder.
3) Tidak pinjam- meminjam barang yang dapat terkontaminasi
seperti handuk, baju dan sisir.
3.7.2

Penatalaksanaan Khusus
Electrocouterisasi / electrosurgery

3.8

Prognosis
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam : bonam


Quo ad sanationam : dubia ad bonam

BAB IV
ANALISA KASUS
Diagnosa pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinik
dan pemeriksaan fisik yang dilakukan.
Tabel 4.1.Perbandingan Anamnesis Secara Teori dan Kasus
Anamnesis
Teori

Kasus
Riwayat Penyakit dalam Keluarga:
-

Riwayat atopi (+) pada ibu OS berupa


asma bronkhiale.

Gejala utama D.A. ialah pruritus, dapat 1 tahun yang lalu timbul bercak kemerahan di
hilang

timbul

sepanjang

hari,

tetapi tungkai bawah kanan dan kiri serta di

umumnya lebih hebat pada malam hari. punggung kaki kanan OS, disertai rasa gatal
Akibatnya

penderita

akan

menggaruk yang lebih hebat pada malam hari dan saat

sehingga timbul bermacam-macam kelainan berkeringat. Apabila terasa gatal, maka OS


di kulit berupa papul, likenifikasi, eritema, menggaruk bercak kemerahan tersebut. 3 hari
erosi, ekskoriasi, eksudasi, dan krusta.1

kemudian, muncul bintil-bintil ukuran sebesar


kepala

jarum

pentul

di

daerah

kemerahan dan gatal tersebut.

Tabel 4.2.Penegakan Diagnosis Dermatitis Atopik secara Teori dan Kasus


Kriteria Mayor pada pasien:
Pruritus
Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
Dermatitis di fleksura pada dewasa
Dermatitis kronis atau residif
Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya
Kriteria Minor pada pasien:
Xerosis
Infeksi kulit (khususnya oleh S.aureus dan virus herpes simpleks)
Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki
lktiosis/hipediniar palmads/keratosis pilaris
Pitiriasis alba
Dermatitis di papila mame
White dermographism dan delayed blanch response
Keilitis
Lipatan infra orbital Dennie-Morgan
Konjungtivitis berulang
Keratokonus
Katarak subkapsular anterior
Orbita menjadi gelap
Muka pucat atau eritem
Gatal bila berkeringat
Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak
Aksentuasi perifolikular
Hipersensitif terhadap makanan
Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan atau emosi
Tes kulit alergi tipe dadakan positif, Kadar IgE di dalam serum meningkat
Awitan pada usia dini
6

yang

Berdasarkan kriteria Mayor dan Minor Dermatitis Atopik oleh Hanifin &
Rajka1, bila ditemukan minimal 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor, maka pada
pasien mengarah ke manifestasi dari Dermatitis Atopik.
Kemudian

dilakukan

pengkajian

lebih

lanjut

berdasarkan

status

dermatologis yang ditemukan :


Tabel 4.3.Status dermatologis berdasarkan teori dan kasus.
Status Dermatologis
Teori
Tempat predileksi :

Kasus
Regio dorsum pedis dextra, tampak makula-patch

Pada anak usia 2 tahun 10 tahun hiperpigmentasi, multipel, bentuk tidak beraturan,
yaitu pada lipat siku, lipat lutut, ukuran 0,5 cm 3 cm x 0,4 cm 2 cm, tersebar
pergelangan tangan bagian fleksor, konfluens, sebagian diskret, di atasnya tampak
kelopak mata, leher, jarang di muka.1
Menurut kriteria minor diagnosis
dermatitis atopik, pada anak-anak
yaitu pada daerah ekstensor.1

diskret, di atasnya tampak beberapa krusta hitam.

lebih

papul, multipel, bentuk tidak beraturan, ukuran 2,5 cm 8

banyak

likenifikasi,

dan

skuama.Dapat

terjadi

likenifikasi,

multipel, bentuk tidak beraturan, ukuran 2,8 cm 4

kering, tidak begitu Regio cruris sinistra, tampak patch hiperpigmentasi,

lebih

eksudatif,

Regio cruris dextra, tampak patch hiperpigmentasi,


cm x 2,3 cm 3 cm, tersebar konfluens sebagian

Efloresensi :
Lesi

beberapa krusta coklat dan hitam.

sedikit cm x 2 cm 6 cm, tersebar konfluens sebagian

mungkin

erosi, diskret, di atasnya tampak:


juga

Papul, multipel, bentuk bulat, ukuran miliar

diameter 0,1 cm, tersebar diskret.


Beberapa krusta hitam.

mengalami infeksi sekunder.1

Pada status dermatologis di atas sesuai dengan teori dan yang ditemukan
pada pasien, sehingga diagnosis pasien Dermatitis Atopik menjadi lebih kuat.
Tabel 4.4.Diagnosis Banding1
Dermatitis Atopik

Dermatitis Kontak Alergika

Dermatitis Numularis

(DA)

(DKA)

(DN)

Etio

Sering

berhubungan Muncul akibat adanya faktor Diduga staphylococcus

logi

dengan

peningkatan pencetus kontak (iritan dan dan micrococcus ikut

kadar IgE dalam serum alergi).

berperan; mungkin juga

dan riwayat atopi pada

lewat

keluarga atau penderita

hipersensitivitas

mekanisme

Eflore

Lesi polimorfik: papul, Eritema, vesikel miliar, bula, Bercak merah, dengan

sensi

likenifikasi,
ekzematosa:

lesi luas

kelainan

biasanya efloresensi papul dan

eritema, sebatas daerah yang terkena, vesikel yang berbentuk

papulovesikel,

erosi, dan batas nya tegas.

ekskoriasi & krusta.

nummular

(uang

logam) dan terasa gatal

Predi

Anak pada lipat siku, Kejadian DKA paling sering Tungkai bawah, badan,

leksi

lipat lutut, pergelangan di tangan, Tergantung lokasi lengan dan punggung


tangan

bagian

dalam, yang terpapar alergen.

tangan.

kelopak mata, leher, dan


kadang-kadang di wajah.

Penulis mengeksklusi diagnosis dermatitis kontak alergi (DKA) karena


pada DKA lesi muncul akibat adanya faktor pencetus kontak (iritan dan alergi)
dan lokasi tergantung pada bagian tubuh yang terpapar alergen.Lesi yang muncul
berupa eritema, vesikel miliar, bula, luas kelainan biasanya sebatas daerah yang
terkena, dan batas nya tegas.Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan
eksudasi (basah).
Sedangkan pada kasus, lesi yang ditemukan berupa makula-patch
hiperpigmentasi dan papul dengan erosi, ekskoriasi, dan krusta, tanpa ada vesikel
atau bula.Dan juga pada kasus tidak ada riwayat kontak dengan allergen yang
menjadi pemicu terjadinya lesi.

Penulis mengeksklusi diagnosis dermatitis numularis (DN) karena pada


DN lesi muncul dengan penyebab yang belum diketahui, yang diduga
staphylococcus dan micrococcus, dermatitis kontak, dan trauma fisis serta kimia
ikut berperan dalam timbulnya penyakit ini.Lesi yang muncul berupa bercak
merah dengan efloresensi papul dan vesikel yang berbentuk numular (uang
logam) dan terasa gatal yang biasanya timbul di tungkai bawah, badan, lengan dan
punggung tangan.
Sedangkan pada kasus, lesi yang ditemukan berupa makula-patch
hiperpigmentasi dan papul dan krusta, tanpa berbentuk numular (uang logam).
Sehingga dari ketiga diagnosis banding tersebut, yang menjadi diagnosis
kerjanya adalah Dermatitis Atopik.
Tabel 4.5.Penatalaksanaan Dermatitis Atopik Berdasarkan Teori dan Kasus
Penatalaksanaan
Teori

Kasus

Umum :
Berbagai makanan seperti susu, ikan, Menjelaskan

kepada

pasien

tentang

telur, kacangkacangan yang dapat penyakitnya.


mencetuskan D.A. harus diidentifikasi Menjelaskan pasien cara minum atau memakai
secara teliti melalui anamnesis dan obat oles yang benar.
beberapa

pemeriksaan

khusus. Menyarankan agar pasien:

Namun, eliminasi makanan esensial


pada

bayi/anak

harus

d. Jangan menggosok atau menggaruk area

berhati-hati

lesi karena dapat menimbulkan luka dan

karena dapat menyebabkan malnutrisi

infeksi.
e. Menggunakan pakaian yang longgar dan

sehingga sebaiknya diberi makanan


pengganti. 10
Mandi dengan air hangat teratur dua
kali sehari lalu dibilas dengan air biasa
dan menggunakan pembersih yang
lembut dan tanpa bahan pewangi akan
membersihkan kotoran dan keringat,

cepat

menyerap

keringat,

membawa

handuk pribadi, serta segera mengganti


baju yang basah untuk mengurangi rasa
gatal.
f. Menjaga dan meningkatkan kebersihan
diri (mandi, cuci tangan, memotong kuku)
dan lingkungan tempat tinggal.

juga skuama yang merupakan medium

g. Menjalani pengobatan secara teratur di

yang baik untuk bakteri. Keadaan itu

bawah

pengawasan

dokter

akan meningkatkan penetrasi terapi

menghindari resistensi dan efek samping

topikal. 10

obat yang tidak diinginkan.

Hindari sabun atau pembersih kulit


yang

mengandung

/antibakteri
karena

yang

antiseptic

digunakan

mempermudah

rutin

resistensi,

kecuali bila ada infeksi sekunder. 10


Hindari pakaian yang terlalu tebal,
bahan wol atau yang kasar karena
dapat

mengiritasi

kulit.

Kuku

sebaiknya selalu dipotong pendek


untuk menghindari kerusakan kulit
(erosi, eksoriasi) akibat garukan.10

10

untuk

Khusus :
Topikal :

Topikal1
-

Hidrasi

kulit

dengan

krim

dioleskan 2 x 1 hari

hidrofilik urea 10%


-

Kortikosteroid potensi rendah


pada bayi dan potensi menengah

Sistemik:
-

Cetirizine 2,5 mg (2 ml) sirup, 2 x 1

hari
Triamcinolone tab 4 mg/hari (1 x 1

pada anak dan dewasa.


-

Imunomodulator
(trakolimus,

Mometasone furoate 0,1% krim1,5 gr,

topikal

pimekrolimus)

hari)

penghambat calcineurin dalam


bentuk salep.
Sistemik1
-

Kortikosteroid sistemik dengan


tapering off.

Antihistamin untuk membantu


mengurangi rasa gatal yang
hebat.

Antiinfeksi

bila

ditemukan

tanda infeksi dan peradangan


luas.
Pemberian kortikosteroid topikal karena kortikosteroid topikal mempunyai
kemampuan menekan inflamasi/peradangan dengan cara menghambat fosfolipase
A dan menekan IL-1. Sebagai obat imunosupresan, kortikosteroid dapat
menghambat kemotaksis neutrofi l, menurunkan jumlah sel Langerhans dan
menekan pengeluaran sitokin, menekan reaksi alergi-imunologi, serta menekan
proliferasi/antimitotik. KT juga menyebabkan vasokonstriksi dan efek ini sejalan
dengan daya antiinflamasi.17

11

Tabel 4.6Klasifikasi potensi kortikosteroid topikal17

Pada pasien ini yang berusia 3 tahun (anak-anak), diberi kortikosteroid


topikal golongan potensi sedang,1 berupa Mometasone fuorate 0,1% krim,
dioleskan 2 x 1 hari.
Mometason furoat 0,1% krim, salep dan lotion yang ditemukan efektif,
aman dan sangat ditoleransi dalam eksim masa kanak-kanak dan senyawa itu
ditemukan sama amannya padabayi.18

12

Untuk menghitung jumlah KT yang diresepkan,sebaiknya menggunakan


ukuran fingertip unit yang dibuat oleh Long dan Finley. Satu fingertip unit
setara dengan 0,5gram krim atau salep.17

Gambar 1.Fingertip Unit17


Pada laki-laki satu fingertipunit setara dengan 0,5 gram, sedangkan
padaperempuan setara dengan 0,4 gram. Bayidan anak kira-kira 1/4 atau 1/3 nya.
Jumlahkrim atau salep yang dibutuhkan per haridapat dikalkulasi mendekati
jumlah yangseharusnya diresepkan.17

Gambar 2.Pedoman FTU untuk anak-anak17


Pada kasus ini, diperlukan 3 FTU untuk masing-masing tungkai bawah
kanan dan kiri, serta punggung kaki kanan.Sehingga diperlukan 9 FTU. Karena
pada anak-anak, perkiraan jumlah yang dibutuhkan adalah 9 FTU x 1/3 x 0,5
gram = 1,5 gram per hari untuk satu kali pengolesan. Sehingga bila diberikan 2
kali diperlukan 3 gram dalam sehari.

13

Pengolesan KT yang dianjurkan adalah 1-2 kali per hari tergantung


dermatosis dan area yang dioles.Pada terapi dermatitis atopik, dianjurkan 1-2
kali/hari.Pengolesan lebih dari 2 kali tidak memberikan perbedaan bermakna,
bahkan dapat mengurangi kepatuhan pasien.Teknik aplikasi pengolesan KT,
aplikasi sederhana oleskan salep tipis merata pijat perlahan-lahan.17
Adanya reaksi hipersensitivitas dan inflamasi yang mendasari reaksi alergi
menunjukkan bahwa penyakit alergi membutuhkan tatalaksana farmakoterapi
yang mengatasi reaksi inflamasi alergi tersebut.16
Cetirizine merupakan antihistamin yang sangat kuat dan spesifik.Cetirizine
merupakan antagonis reseptor H1 generasi kedua, yang merupakan metabolit aktif
asam karboksilat dari antagonis reseptor H1 generasi pertama yaitu hidroksizin.16
Cetirizine mempunyai keunggulan dibandingkan antihistamin klasik lain
karena mempunyai efek antiinflamasi, terutama melalui penghambatan proses
kemotaksis sel inflamasi. Hasil studi ETAC juga menunjukkan cetirizine
mempunyai efektivitas yang tinggi dengan efek samping yang minimal.16
Sehingga pada kasus diberikan Cetirizine 2,5 mg (2 ml) sirup, 2 x 1 hari,
sesuai dosis anak-anak 5 mg per hari atau 2,5 mg setiap 12 jam.
Proses kemotaksis sel inflamasi juga dihambat oleh kortikosteroid. Efek
antiinflamasi kortikosteroid juga dicapai melalui penghambatan mediator atau
sitokin proinflamasi yang mencegah reaksi inflamasi alergi berlanjut.16
Triamcinolone merupakan kortikosteroid oral yang dapat digunakan pada
anak karena mempunyai efek antiinflamasi, efek samping retensi natrium yang
rendah dan rasa yang tidak pahit.16
Sehingga pada kasus diberikan Triamcinolone dengan dosis anak-anak
dengan BB < 34 kg yaitu 4 gram per hari. Karena sediaan Triamcinolone 1 tab = 4
gram jadi diberikan sebanyak 1 x 1 hari.
Untuk penentuan baik atau buruknya prognosis, faktor yang berhubungan
dengan prognosis kurang baik adalah DA yang luas pada anak, menderita rinitis
alergika dan asma bronkiale,riwayat DA pada orang tua atau saudaranya, awitan
(onset) DA pada usia muda, anak tunggal, kadar IgE serum sangat tinggi. 1 Pada

14

kasus ini hanya didapatkan onset DA pada usia muda, sehingga pada kasus ini
prognosis (quo ad vitam dan quo ad functionam) adalah baik (bonam).
Sebelumnya ada yang melaporkan bahwa 84% DA anak berlangsung
sampai remaja dan DA anak yang diikuti sejak bayi hingga remaja, 20%
menghilang dan 65% berkurang gejalanya.1 Sehingga untuk kesembuhan (quo ad
sanationam) pada kasus ini adalah dubia ad bonam.

15