0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan28 halaman

Karakteristik dan Komposisi Resin Komposit

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai resin komposit dan smart dentin replacement (SDR). Resin komposit dijelaskan sebagai bahan restorasi gigi yang terdiri dari matriks resin, bahan pengisi, dan pengikat. SDR merupakan jenis resin komposit flowable terbaru yang memiliki modulus elastisitas seperti dentin sehingga dapat berperan sebagai pengganti dentin. Keunggulan resin komposit antara lain memiliki nilai
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan28 halaman

Karakteristik dan Komposisi Resin Komposit

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai resin komposit dan smart dentin replacement (SDR). Resin komposit dijelaskan sebagai bahan restorasi gigi yang terdiri dari matriks resin, bahan pengisi, dan pengikat. SDR merupakan jenis resin komposit flowable terbaru yang memiliki modulus elastisitas seperti dentin sehingga dapat berperan sebagai pengganti dentin. Keunggulan resin komposit antara lain memiliki nilai
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Resin Komposit
1. Definisi Resin Komposit
Resin komposit merupakan tumpatan sewarna gigi yang merupakan gabungan
atau kombinasi dua atau lebih bahan kimia berbeda dengan sifat-sifat unggul atau
lebih baik dari pada bahan itu sendiri. Resin komposit dapat pula didefinisikan
sebagai material yang tersusun dari matriks organik dan partikel bahan pengisi
anorganik yang dihubungkan oleh coupling agent. Selain mengandung tiga
komponen utama tersebut, resin komposit juga mengandung pigmen warna agar
resin komposit dapat menyerupai warna struktur gigi dan inisiator serta aktivator
untuk mengaktifkan mekanisme pengerasan (Poeradisastra, 2011).
Resin komposit merupakan restorasi yang paling banyak digunakan dalam
bidang kedokteran gigi, karena mempunyai nilai estetis yang sangat baik,
konduktivitas termal yang sangat rendah dan dapat melindungi struktur gigi yang
tersisa. Kandungan utama resin komposit adalah matriks resin, bahan pengisi
(filler), pengikat (cuopling agent) dan inisiator (Douglas dkk, 2006).
Resin komposit merupakan suatu bahan tumpatan yang memiliki banyak
kelebihan dibandingkan dengan bahan tumpatan lainnya, hal ini karena tumpatan
resin komposit memiliki kekuatan mekanik dan sifat estetik yang bagus.
Komposit mempunyai berbagai macam ukuran filler diantaranya resin komposit
microfiller dan nanofiller yang mempunyai ukuran filler yang lebih kecil
dibandingkan dengan resin komposit lainnya. Resin komposit nano memiliki

estetika yang baik, tahan terhadap keausan dan kebocoran mikro (Auliasari dkk,
2013).
Resin komposit memiliki beberapa sifat fisik dan mekanik. Sifat fisiknya antara
lain pengerutan polimerisasi, compressive strength, absorbsi warna sebagai akibat
kontaminasi berbagai sumber zat berwarna (Farahanny, 2009). Sifat mekaniknya
antara lain kekuatan fleksural, modulus elastisitas yang mempengaruhi ketahanan
terhadap perubahan bentuk, kekuatan ikat dengan struktur gigi, serta ketahanan
aus. Modulus elastisitas ditentukan antara lain oleh volume fraction partikel filler
sebagai fasa organik resin komposit. Kekerasan permukaan dalam hal ini resin
komposit memiliki ketahanan terhadap lekukan ketika beban diberikan secara
spesifik dan konstan (Tjuatja dkk, 2011).
2. Komposisi Resin Komposit
Resin komposit tersusun oleh beberapa komponen resin komposit antara lain :
a. Matriks resin.
Kebanyakan bahan komposit menggunakan monomer yang merupakan diakrilat
aromatik atau alipatik. Bisphenol-A-Glycidyl Methacrylate (Bis-GMA), Urethane
Dimethacrylate (UDMA), dan Triethylene Dimethacrylate (TEGDMA) merupakan
dimetakrilat yang umum digunakan dalam resin komposit. Monomer dengan berat
molekul tinggi, khususnya Bis-GMA amatlah kental pada temperatur ruang
(25C). Monomer yang memiliki berat molekul lebih tinggi dari pada metil
metakrilat

dapat

membantu

mengurangi

pengerutan

polimerisasi.

Nilai

polimerisasi pengerutan untuk resin metilmetakrilat adalah 22%V dimana untuk


resin Bis-GMA yaitu 7,5%V. Ada juga sejumlah komposit yang menggunakan
UDMA dari pada Bis-GMA.

Bis-GMA dan UDMA merupakan cairan yang memiliki kekentalan tinggi


karena memiliki berat molekul yang tinggi. Ukuran filler yang lebih besar
cenderung membuat bahan lebih kaku dan bentuk partikel tidak seragam
menghasilkan nilai modulus elastisitas yang lebih tinggi dibanding bentuk partikel
spherical. Untuk mengatasi masalah tersebut, monomer yang memiliki kekentalan
rendah dikenal sebagai pengontrol kekentalan ditambahkan seperti metil
metakrilat (MMA), etilen glikol dimetakrilat (EDMA), dan (TEGDMA) adalah
yang paling sering digunakan (Prasetyo dkk, 2008).

Gambar1. Struktur kimia resin komposit dimethacrylate matriks resin bisGMA.

Gambar2. Struktur kimia resin komposit dimethacrylate matriks resin


TEGDMA.

Gambar 3. Struktur kimia resin komposit dimethacrylate matriks resin UDMA

b. Partikel bahan pengisi.


Penambahan partikel bahan pengisi kedalam resin matriks secara signifikan
meningkatkan sifatnya, seperti berkurangnya pengerutan karena jumlah resin
sedikit, berkurangnya penyerapan air dan ekspansi koefisen panas, meningkatkan
sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan, dan ketahanan abrasi. Faktor
faktor penting lainnya yang menentukan sifat dan aplikasi klinis komposit
adalah jumlah bahan pengisi yang ditambahkan, ukuran partikel dan distribusinya,
radiopak, dan kekerasan ( Prasetyo, 2008 ).
c. Coupling agent. ( Bahan pengikat )
Bahan pengikat berfungsi untuk mengikat partikel bahan pengisi dengan resin
matriks. Adapun kegunaannya yaitu untuk meningkatkan sifat mekanis dan sifat
fisik resin, menstabilkan hidrolik dengan mencegah air dari penetrasi bahan
pengisi resin. Bahan pengikat yang paling sering digunakan adalah organosilanes
(3-metoksi-profil-trimetoksi silane). Zirconates dan titanates juga sering
digunakan ( Guler dkk, 2009 ).
Resin Komposit Berdasarkan Viskositas
a. Resin Komposit Packable
Resin komposit packable adalah resin yang memiliki kelekatan
permukaan yang rendah dan viskositas tinggi karena mengandung
partikel bahan pengisi (filler) dengan volum yang tinggi, yaitu sekitar
70% (Dalli M dkk, 2014). Karakteristik tersebut menyebabkan
konsistensi resin yang kaku, lebih kuat, shrinkage yang rendah,
radiopasitas, dan lebih tahan terhadap pemakaian (3,5 m/tahun).9,19
Resin komposit packable digunakan untuk restorasi gigi posterior,
yaitu klas I dan II (Dalli M dkk, 2014). Penggunaan ekstra sistem

adhesif atau resin komposit flowable selapis tipis pada preparasi


dinding kavitas dapat meningkatkan adaptasi dan perlekatan resin
komposit packable (Mukuan T dkk, 2013).
b. Resin Komposit Flowable
Resin komposit flowable mengandung resin dimethacrylate dan
partikel filler anorganik dengan ukuran partikel 0,04-1,0 m dan bahan
pengisi lebih rendah daripada resin komposit lainnya, yaitu 41-53%
volume (Diansari dkk, 2008). Resin komposit flowable memiliki
viskositas rendah sehingga dapat beradaptasi dengan baik, yaitu
menghasilkan ikatan yang rapat dengan dasar dan dinding kavitas
(Dalli M dkk, 2014). Selain itu, resin komposit flowable memiliki
kelebihan

seperti

kemampuan

membasahi

permukaan

gigi,

memastikan penetrasi ke dalam setiap iregularitas, membentuk lapisan


dengan ketebalan minimal, memperbaiki dan mengeliminasi udara
yang masuk, radio-opaqueness, dan fleksibilitas tinggi (Deliperi Sdkk,
2007). Resin komposit flowable diindikasikan untuk restorasi klas I, II,
V, pit dan fissure sealants, bahan reparasi batas tepi restorasi, dan lebih
sering digunakan sebagai liner dibawah resin komposit hibrid dan
packable.8,12,13,24 Perbedaan sifat fisis dan mekanis antara resin
komposit packable dan flowable (Tabel 1) menghasilkan perbedaan
kualitas penggunaan bahan restorasi (Perdigo J dkk, 2009).

3. Indikasi dan Kontraindikasi Resin Komposit

Bahan resin komposit direkomendasikan untuk kasus kasus sebagai berikut


( Garcia dkk, 2006 ) :
1. Karies pada pit dan fisur kelas I dimana restorasi resin preventif konservatif
tepat untuk dilakukan
2. Karies kelas I yang meluas ke dentin
3. Restorasi kelas II pada gigi susu yang tidak meluas diluar sudut garis proksimal
4. Restorasi kelas II pada gigi permanen yang meluas kira-kira 1/3 sampai
panjang interkuspal bukolingual gigi
5. Restorasi klas III, IV, V untuk gigi susu dan gigi permanent ( Starchefs, 2006 ).
Bahan resin komposit bukanlah suatu pilihan restorasi untuk kasus-kasus
seperti berikut :
1. Bila gigi tidak bisa diisolasi untuk kontrol kelembaban
2. Individu yang membutuhkan restorasi permukaan multipel dan besar pada gigi
susu posterior
3. Pasien resiko tinggi memiliki karies multipel dan/atau gigi demineralisasi dan
kebersihan mulut yang buruk.
4. Keuntungan dan Kerugian Resin Komposit
Keuntungan ( Studevant, 1995 ) :
1. Partikelnya cukup halus dan lunak
2. Cukup kuat menahan tekanan kunyah
3. Tidak larut dalam cairan mulut
4. Permukaan tetap bersih dan translusen
5. Penampilan cukup baik karena warna sesuai warna gigi asli
6. Sangat banyak digunakan

7. Dapat diperbaiki dengan mudah


8. Melekat pada permukaan gigi, menghasilkan retensi yang baik,
microleakage yang rendah, pewarnaan interfasial yang minimal dan peningkatan
kekuatan dari struktur gigi yang tersisa
Kerugian :
1. Dapat terbentuk gap, biasanya terdapat pada permukaan akar sebagai hasil
kekuatan pengerutan polimerisasi pada bahan komposit yang lebih besar
dibandingkan dengan kekuatan perlekatan awal sebelumnya dari bahan terhadap
dentin
2. Lebih sulit untuk dilakukan, memakan waktu yang lebih lama dan biaya lebih
besar dibandingkan dengan restorasi amalgam, karena :
- Restorasi gigi biasanya memerlukan berbagai macam tahap
- Lebih sulit dilakukan insersi
- Penyesuaian kontak proksimal, kontur aksial, embrassur, dan kontak oklusal
dapat lebih sulit dilakukan
- Prosedur finishing dan polishing lebih sulit dilakukan
3. Tekniknya lebih sensitif, karena daerah operasi harus terisolasi dengan baik dan
penempatan bahan etsa, primer, dan adhesif pada permukaan struktur gigi (email
dan dentin) sangat memerlukan teknik yang sangat hati - hati
4. Dapat mengalami pengausan di bagian oklusal apabila terkena tekanan
langsung yang berat atau ketika semua permukaan oklusal gigi memakai bahan
komposit

10

5. Mempunyai koefisien linear dan ekspansi termal yang lebih tinggi,


kemungkinan berpotensi menyebabkan celah marginal jika tidak digunakan teknik
bonding yang tepat
B. Smart Dentin Replacement ( SDR )
1. Definisi Smart Dentin Replacement ( SDR )

Jenis resin komposit flowable terbaru yang sering digunakan saat ini adalah
Stress Decreasing Resin (SDR) (Dewa SK dkk, 2012). SDR adalah suatu
komponen yang mengandung fluoride, menggunakan visible light cured,
merupakan bahan restorasi resin komposit yang radiopak dan berperan sebagai
pengganti dentin karena memiliki modulus elastisitas yang sama (Bayne SC dkk,
2009). SDR mempunyai perlakuan sama seperti resin komposit flowable
konvensional, tetapi bisa diletakkan dengan ketebalan mencapai 4 mm dalam 1
lapisan dan setiap lapisan dilight-cured hanya selama 20 detik untuk mengurangi
stress polimerisasi dan lapisan teratas ditutupi oleh resin komposit konvensional
yang memiliki viskositas tetap dengan ketebalan 2 mm (Esterina H dkk, 2012).
SDR mempunyai keutamaan sendiri yang menyediakan adaptasi yang sangat
baik terhadap dinding kavitas yang telah dipreparasi (Arslan dkk, 2013). SDR
digunakan dengan aplikasi sistem adhesif enamel atau dentin yang tepat dan
memiliki biokompatibilitas dengan semua sistem adhesif dentsply yang didesain
untuk digunakan dengan restorasi komposit visible light cured (Bayne SC dkk,
2009).
SDR tersedia dalam 1 warna yang sama dan didesain sehingga dapat dilapisi
oleh methacrylate berbasis komposit posterior untuk menggantikan bagian enamel
oklusal dan fasial yang hilang (Bayne SC dkk, 2009). SDR diindikasikan sebagai

11

basis restorasi klas I dan II, tetapi kontraindikasi pada pasien yang memiliki
riwayat alergi resin berbasis methacrylate (Kala M dkk, 2011). SDR tersedia
dalam bentuk kompul dan diaplikasikan ke dalam kavitas dengan menggunakan
gun (Bayne SC dkk, 2009).

Gambar 4. Gun dan kompul untuk aplikasi Smart Dentin Replacement (SDR).
2. Komposisi Smart Dentin Replacement (SDR)
SDR memiliki kandungan formula yang lengkap yaitu gabungan dari
komponen terbaru dan konvensional (Tabel 2) (Bayne SC dkk, 2009). Teknologi
SDR terbaru adalah struktur urethane dimethacrylate yang bisa mengurangi
shrinkage dan stress polimerisasi (Ahmadi R, 2012). SDR mempunyai tingkat
shrinkage yang sangat rendah daripada resin komposit flowable konvensional
lainnya yaitu 3,5% (Bayne SC dkk, 2009). Volume shrinkage yang lebih rendah
mengurangi shrinkage dan stress secara keseluruhan (Bayne SC dkk, 2009).

12

Tabel 1. Komposisi SDR dan fungsinya


Kandungan
SDR urethane dimethacrylate
Resin dimethacrylate
Difungsional diluents
Barium dan Strontium aluminofluoro-silicate-glasses (68% berat
dan 45% volum)
Sistem fotoinisiator
Colorants

Fungsi
Mengurangi shrinkage dan
mengurangi stress pada struktur
resin
Struktur resin
Membentuk ikatan silang pada
resin komposit
Struktur partikel kaca dan fluoride
Visible light curing
Universal shade

SDR terdiri dari kombinasi unik dengan struktur molekul besar dengan
bagian kimia yang disebut modulator polimerisasi dan secara kimia tertanam di
tengah pusat monomer resin SDR yang berpolimerisasi (Arslan dkk, 2013).
Perluasan fase curing memaksimalkan keseluruhan derajat konversi dan
meminimalisir stress polimerisasi di atas 60% daripada resin komposit flowable
konvensional (Esterina H dkk, 2012). Berat molekul yang tinggi di sekitar pusat
modulator memberikan fleksibilitas dan struktur jaringan resin SDR yang baik
(Gambar 9) (Sahelangi OP dkk, 2010).

Gambar 5. Struktur kimia Smart Dentin Replacement (SDR).

13

3. Kelebihan Smart Dentin Replacement (SDR)


Bahan resin komposit konvensional tersusun dari matriks resin organik dan
mineral fillers (Dalli M dkk, 2014). SDR berbeda dengan resin komposit
konvensional karena membentuk suatu teknologi resin yang dapat mengurangi
stress (Bayne SC dkk, 2009). Proses polimerisasi berlangsung sangat cepat
bersamaan dengan volumetric shrinkage terhadap sistem resin yang mendapat
paparan visible light (Bayne SC dkk, 2009). Sistem resin komposit konvensional
menyebabkan polimerisasi dan shrinkage berlangsung cepat sehingga stress
polimerisasi meningkat luas (Bayne SC dkk, 2009). SDR menunjukkan perbedaan
secara kontras walaupun berada di posisi yang sama dengan resin komposit
konvensional, yaitu stress polimerisasi yang sangat berkurang hampir sekitar 80%
dan pengurangan volumetric shrinkage sekitar 20% (Bayne SC dkk, 2009). Stress
yang dihasilkan oleh SDR selama polimerisasi adalah 1,4 MPa, sedangkan resin
komposit flowable konvensional lainnya melebihi 4 MPa (Esterina H dkk, 2012).
C. Glass Ionomer Cement ( GIC )
1. Definisi Glass Ionomer Cement (GIC )
Glass ionomer cement adalah istilah dalam kedokteran gigi yang
menunjukkan sekelompok bahan gigi yang menggunakan tepung kaca silikat dan
larutan asam poliakrilat (Hamzah et al, 2010).
Ionomer kaca adalah nama generik dari sekelompok bahan yang
menggunakan bubuk kaca silikat dan larutan asam poliakrilat. Bahan ini
mendapatkan namanya dari formulanya yaitu sutu bubuk kaca dan asam ionomer
yang mengandung gugus karboksil. Juga disebut sebagai semen polialkenoat.
(Anusavice, 2004)

14

Awalnya semen ini dirancang untuk tambalan estetik pada gigi anterior
dan dianjurkan untuk penambalan gigi dengan preparasi kavitas kelas III dan V.
Semen ini menghasilkan ikatan adhesi yang sangat kuat dengan struktur gigi, akan
sangat berguna untuk restorasi konservatif pada daerah yang tererosi. Kebutuhan
akan retensi mekanis melalui preparasi kavitas menjadi berkurang atau ditiadakan
(Anusavice, 2004).
Penggunaan semen ionomer kaca telah meluas antara lain sebagai bahan
perekat, pelapik, bahan restoratif untuk restorasi konservatif kelas I dan II, sebagai
penutup pit dan fisura. Meskipun demikian, semen ionomer kaca tidak dianjurkan
untuk restorasi kelas II dan IV karena sampai saat ini formulanya masih kurang
kuat dan lebih peka terhadap keausan penggunaan jika dibandingkan dengan
komposit. (Anusavice, 2004)
Semen ionomer kaca adalah material yang tersusun dari kalsium, bubuk
kaca strontium aluminosilikat, dan digabungkan dengan cairan polymer (acid) (P.,
Uphadaya, 2005).
2.Klasifikasi GIC
A. Berdasarkan Bahan Pengisi
- Semen Ionomer Kaca Konvensional
Semen ionomer kaca secara luas digunakan untuk kavitas Klas V, hasil klinis
dari prosedur ini baik meskipun penelitian in vitro berpendapat bahwa semen
ionomer kaca modifikasi resin dengan ketahanan fraktur yang lebih tinggi
dan peningkatan kekuatan perlekatan memberikan hasil yang jauh lebih baik.
Beberapa penelitian berpendapat bahwa versi capsulated lebih menguntungkan
karena pencampuran oleh mesin sehingga memberikan sifat merekatkan yanglebih
baik. Penggunaan semen ionomer kaca telah meluas antara lain sebagai bahan

15

perekat, pelapik dan bahan restoratif untuk restorasi konservatif Klas I danKlas II
karena sifatnya yang berikatan secara kimia pada struktur gigi danmelepaskan
fluorida. Selain itu respon pasien juga baik karena teknik penempatan bahan yang
konservatif dimana hanya memerlukan sedikit pengeboran sehingga pasien tidak
merasakan sakit dan tidak memerlukan anastesi lokal. Meskipun demikian SIK
tidak dianjurkan untuk restorasi Klas II dan klas IV karena sampaisaat ini
formulanya masih kurang kuat dan lebih peka terhadap keausan penggunaan jika
dibandingkan dengan komposit (McCabe, 2008).
GIC konvensional pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh Wilson
dan Kent. Berasal dari asam polyalkenoat cair seperti asam polyacrilic dan
komponen kaca yang biasanya adalah fluoroaluminosilikat. Saat bubuk dan
cairandi campur terjadi reaksi asam basa kemudian asam polyalkenoat
mengalami percepatan hingga terjadi pengentalan sampai semen mengeras. Ini
dapat dijadikan sebagai bubuk kaca yang melepaskan ion dan larut dengan campuranyang
mengandung asam polyacrilic cair dengan dikeringkan melalui pembekuan untuk
dicampur dengan air murni. Pabrik juga dapat menanbahkan sedikit asam tartaric
pada air yang dapat memperkirakan reaksi pengerasan yang lebih tepat (Gladwin,
2009).
- Semen Ionomer Hybrid
Komponen

bubuk

terdiri

dari

partikel

kaca

ion-leachable

fluoroaluminosilicatedan inisiator untuk light curing atau chemical curing.


Komponen cairan biasanyaterdiri dari air dan asam polyacrylic atau asam
polyacrilyc yang dimodifikasidengan monomer methacrylate hydroxyethyl
methacrylate. Komponen yang duaterakhir bertanggung jawab untuk polimerisasi.

16

Reaksi pengerasan awal dari bahan ini terjadi melalui polimerisasi dari gugus
methacrylate. Reaksi asam basayang lambat pada akhirnya akan bertanggung
jawab pada proses pematangan yangunik dan kekuatan akhir. Kandungan air
secara keseluruhan lebih sedikit untuk tipe ini untuk menampung bahan yang
berpolimerisasi (Gladwin, 2009).
Perbedaan yang paling nyata adalah berkurangnya translusensi dari bahan ini
karena adanya perbedaan yang besar pada indeks pembiasan antara bubuk dengan
matrix resin yang mengeras. Tes in vitro dari semen ionomer hibrid
melepaskanflorida dalam jumlah yang sebanding dengan yang di lepaskan semen
ionomer kaca konvensional. Kekuatan tarik dari ionomer kaca hibrid lebih tinggi
dariionomer kaca konvensional. Peningkatan ini di akibatkan oleh modulus
elastisitasnya yang lebih rendah dan deformasi plastis yang lebih banyak yang
dapat

ditahan

sebelum

terjadinya

fraktur.

Sifat-sifat

yang

lain

sulit

untuk dibandingkan karena formulasi bahan dan cara pengetesan (Lippincot, 2007).
Mekanisme pengikatan terhadap struktur gigi dari semen ini sama
denganionomer kaca konvensional. Aktifitas ionik yang lebih sedikit diharapkan
karenaadanya pengurangan dari asam karboksilat dari cairan ionomer kaca
denganmodifikasi resin; namun bagaimanapun kekuatan ikat pada struktur gigi
bisa lebihtinggi dari semen ionomer kaca konvensional. Bila dibandingkan dengan
ionomer kaca konvensional maka ionomer kaca dengan modifikasi resin
memperlihatkankekuatan ikat yang lebih tinggi kepada komposit berbasis resin.
Ini sepertinya dikontrol oleh gugus fungsi non polimerisasi residu didalam semen
ionomer kacakonvensional. Akibat polimerisasi, bahan ini seharusnya memilki
derajat penyusutan yang lebih besar ketika mengeras. Lebih sedikitnya kandungan

17

air danasam karboksilat juga mengurangi kemampuan semen untuk membasahi


substratgigi, yang dimana akan meningkatkan kebocoran micro dibandingkan
semen ionomer kaca konvensional (Anusavice, 2004.)
Biokompatibilitas dari ionomer kaca hibrid dapat dibandingkan dengan
ionomer

kaca

konvensional.

Tindakan

pencegahan

yang

sama

harus

dilakukan,seperti penggunaan kalsium hoidroksida untuk preparasi yang dalam.


Peningkatan suhu sementara yang berhubungan dengan proses polimerisasi juga
menjadi pertimbangan (Gladwin, 2009).
Karakteristik dari penanganan ionomer kaca hibrid telah diatur sehingga dapat
digunakan sebagai liners atau bases. Kekuatan tekan dan tarik dari liners lebih
rendah dari pada semen restorasi yang lain. Kegunaan yang paling utama dari
liners ionomer kaca adalah untuk bertindak sebagai bahan pengikat lanjut antara
gigi dan restorasi komposit. Karena adanya adhesi pada dentin, maka
kemungkinan dari formasi celah pada tepi ginggival yang terletak pada
dentin,sementum atau keduanya disebabkan oleh penyusutan polimerisasi dari
resin (Lippincot, 2007).
keuntungan dari ionomer kaca diatas resin bonding agent yang menjamin
ikatan adhesive, mengurangi sensitivitas teknik dan memebnetuk mekanisme anti
kariogenik melalui pelepasan florida. Ketika digunakan pada keadaan ini,
prosedur yang lebih dianjurkan adalah teknik sandwich. Tekinik ini memberikan
keuntungan berupa kualitas yang diinginkan dari ionomer kaca yang memberikan
estetik

dari

restorasi

komposit.

Tekhnik

sandwich

di

rekomendasikan

untuk restorasi komposit kelas II dan V ketika pasien individual memiliki resiko

18

karies yang tinggi. Hal tersebut berlaku untuk formulasi semen ionomer kaca
konvensional dan semen ionomer kaca hibrid like-curable (Lippincot, 2007).
- Semen Ionomer Tri-cure
Terdiri dari partikel kaca silicate, sodium florida dan monomer yang dimodifikasi
polyacid tanpa air. Bahan ini sangat sensitif terhadap cairan, sehingga biasanya
disimpan didalam kantong anti air. Pengerasan di awali oleh foto polimerisasi dari
monomer asam yang menghasil bahan yang kaku. Selama restorasi digunakan
bahan yang telah di pasang menyerap air di dalam saliva dan menambah reaksi
asam basa antara gugus fungsi asam dengan matrix dan partikel kaca silicate.
Reaksi asam basa yang di induce memungkinkan pelepasan floridakarena tidak
adanya air dalam formulasi, pengadukan semen tidak self-adhesiveseperti semen
ionomer kaca konvensional dan hibrid. Sehingga dentin-bondingagent yang terpisah
di perlukan untuk kompomer yang digunakan sebagai bahan restorasi (Gladwin,
2009).
Akhir-akhir ini, beberapa bahan dengan 2 komponen, yang terdiri dari bubuk dan cairan
atu yang terdiri dari 2 pasta telah dipasarkan sebagai kompomer untuk penerapan
luting(luting application). Bubuknya memiliki komposisi srontium aluminum
fluorosilicate, metalik oksida, inisitor dengan aktivasi kimia atau cahaya. Cairanya
terdiri

dari

monomer

berpolimerisasi, monomer

asam

karboksilat

multifungsional

atau

methacrylate

acrylate,

yang bisa

dan air. Sedangkan

yang berbentuk pasta memilki bahan yang sama disesuaikan dengan bubuk dan
cairan.Karena adanya air di dalam cairan , maka bahan ini bersifat self-adhesive
danreaksi asam basa dimulai pada saat pengadukan (Lippincot, 2007).

19

Kekuatan ikat dari kompomer terhadap struktur gigi memiliki rentang


yangsama dengan semen ionomer kaca karena penggunaan dentin-bonding agent. Meskipun
kompomer satu pasta terutama di terapkan untuk restorasi pada area dengan
tegangan rendah, data klinis saat ini dibatasi mengingat penggunaan kompomer
untuk restorasi kavitas kelas 3 dan 5 sebagai alternative ionomer kaca atau komposit
resin (Lippincot, 2007).
- Semen Ionomer Kaca yang di perkuat dengan Metal
Semen glass ionomer kurang kuat, dikarenakan tidak dapat menahan
gayamastikasi yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadap keausan
penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan
keramik. Ada 2 metode modifikasi yang telah dilakukan, metode I adalah
mencampur bubuk logam campur amalgam yang berpartikel sferis dengan bubuk
glass ionomer tipe II. Semen ini disebut gabungan logam campur perak. Metode II
adalah mencampur bubuk kaca dengan partikel perak dengan menggunakan
pemenasanyang tinggi. Semen ini disebut sebagai cermet. Mikrograf skening
electron dari bubuk cermet menunjukan partikel-partikel bubuk perak melekat ke
permukaan dari partikel-partikel bubuk semen. Jumlah dari fluoride yang dilepaskan
dari kedua sistem modifikasi logam ini cukup besar. Namun, fluoride yang
dilepaskan dari semen cermet lebih sedikit daripada yang dilepaskan dari semen
ionomer kaca tipe II. Hal ini dikarenakan sebagian partikel kaca, yang
mengandung fluoride telah dilapisi logam. Pada awalnya semen gabungan
melepas lebih banyak fluoride daripada semen tipe II. Tetapi besarnya pelepasan
ini menurun dengan berjalannya waktu. Karena partikel-partikel logam pengisi
tidak terikat pada matriks semen, sehingga permukaan antar semen menjadi

20

berjalan untuk pertukaran cairan. Ini sangatmeningkatkan daerah permukaan yang


tersedia untuk pelepasan fluoride (Anusavice, 2004).
Dengan meningkatnya daya tahan terhadap keausan dan potensi anti-kariesnya,
semen-semen dengan modifikasi logam ini telah dianjurkan untuk penggunaan
yang terbatas sebagai alternative dari amalgam atau komposit untuk restorasi gigi
posterior. Meskipun demikian, bahan-bahan ini masihdiklasifikasikan sebagai
bahan yang rapuh. Karena alas an inilah penggunaan bahan tersebut umumnya
terbatas pada restorasi konservatif dan umumnya kelas I (Lippincot, 2007).
Semen-semen ini mengeras dengan cepat sehingga dapat menerima
tindakan penyelesaian dalam waktu yang relative singkat. Bersamaan dengan
potensi adhesi dan daya tahannya terhadap karies, sifat-sifat menjadikan semen
tersebut digunakan untuk membangun badan inti untuk gigi yang akan diperbaiki
dengan mahkota cor penuh. Namun, karena rendahnya kekuatan terhadap fraktur
dan sifatnya yang rapuh, sebaiknya dilakukan pendekatan yang konservatif. Bahan
ini sebaiknya tidak digunakan jika bagian yang akan menggunakan semen adalah
lebih besar 40% dari keseluruhan. Untuk kasus seperti ini sebaiknya
digunakan pasak atau retensi bentuk lainnya (Gladwin, 2009).
B. Berdasarkan Kegunaannya
-Type I Luting cements
SIK tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen mahkota,
jembatan,veneer dan lainnya. Dapat digunakan sebagai liner komposit. Secara
kimiawi berikatan dengan dentin enamel, logam mulia dan porselen. Memiliki
translusensiyang baik dan warna yang baik, dengan kekuatan tekan tinggi. SIK
yang diberikanpada dasar kavitas akan menghasilkan ion fluorida serta

21

berkurangnya sensitifitasgigi, perlindungan pulpa dan isolasi. Hal ini mengurangi


timbulnya kebocoranmikro ( micro-leakage) ketika digunakan sebagai semen
inlay komposit atau onlay (Craig, 2004).
-Type II Restorasi
Karena sifat perekatnya, kerapuhan dan estetika yang cukup memuaskan, SIK
juga digunakan untuk mengembalikan struktur gigi yang hilang seperti abrasi
servikal. Abrasi awalnya diakibatkan dari iritasi kronis seperti kebiasaan menyikat
gigi yang terlalu keras (Craig, 2004).
-Type III Liners and Bases
Pada teknik sandwich, SIK dilibatkan sebagai pengganti dentine, dan komposit
sebagai pengganti enamel. Bahan-bahan lining dipersiapkan dengan cepat
untuk kemudian menjadi reseptor bonding pada resin komposit (kelebihan air pada
matriks SIK dibersihkan agar dapat memberikan kekasaran mikroskopis yang
nantinya akan ditempatkan oleh resin sebagi pengganti enamel (Anusavice, 2009).
-Type IV Fissure Sealants
Tipe IV SIK dapat digunakan juga sebagai fissure sealant. Pencampuran bahan
dengan konsistensi cair, memungkinkan bahan mengalir ke lubang dan celah gigi
posterior yang sempit (Powers, 2008).
-Type V - Orthodontic Cements
Pada saat ini, braket ortodonti paling banyak menggunakan bahan resin
komposit. Namun SIK juga memiliki kelebihan tertentu. SIK memiliki ikatan
langsung ke jaringan gigi oleh interaksi ion Polyacrylate dan kristal hidroksiapatit,
dengan demikian dapat menghindari etsa asam. Selain itu, SIK memiliki efek
antikariogenik karena kemampuannya melepas fluor. Bukti dari tinjauan

22

sistematis uji klinis menunjukkan tidak adanya perbedaan dalam tingkat


kegagalan braket Ortodonti antara resin modifikasi SIK dan resin adhesif (Powers,
2008).
-Type VI Core build up
Beberapa dokter gigi menggunakan SIK sebagai inti (core), mengingat
kemudahanSIK dalam jelas penempatan, adhesi, fluor yang dihasilkan, dan baik
dalam koefisienekspansi termal. Logam yang mengandung SIK (misalnya cermet,
Ketac perak, EspeGMbH, Germanyn) atau campuran SIK dan amalgam telah
populer. Saat ini, banyak SIK konvensional yang radiopaque lebih mudah untuk
menangani daripada logamyang mengandung bahan-bahan lain. Namun demikian, banyak
yang menganggapSIK tidak cukup kuat untuk menopang inti (core). Maka
direkomendasikan bahwagigi harus memiliki minimal dua dinding utuh jika
menggunakan SIK (Powers, 2008).
-Type VII - Fluoride releasing
Banyak laboratorium percobaan telah mempelajari fluorida yang dihasilkan
SIK dibandingkan dengan bahan lainnya. Namun, tidak ada review sistematis
dengan atau tanpa meta-analisis yang telah dilakukan. Hasil dari satu percobaan,
dengan salah satu tindak lanjut periode terpanjang, menemukan bahwa SIK
konvensional menghasilkan fluorida lima kali lebih banyak daripada kompomer
dan 21 kali lebih banyak dari resin komposit dalam waktu 12 bulan. Jumlah
fluorida yang dihasilkan, selama 24 jam periode satu tahun setelah pengobatan,
adalah lima sampai enam kali lebih tinggidari kompomer atau komposit yang
mengandung fluor (Craig, 2004).
-Type VIII - ART

23

ART adalah metode manajemen karies yang dikembangkan untuk digunakan dinegaranegara dimana tenaga terampil gigi dan fasilitas terbatas namun kebutuhan
penduduk

tinggi.

Hal

ini

diakui

oleh

organisasi

kesehatan

dunia.

Teknik menggunakan alat-alat tangan sederhana (seperti pahat dan excavator)


untuk menerobos enamel dan menghapus karies sebanyak mungkin. Ketika karies
dibersihkan,rongga yang tersisa direstorasi dengan menggunakan SIK viskositas
tinggi. SIK memberikan kekuatan beban fungsional (Craig, 2004).
-Type IX - Deciduous teeth restoration
Restorasi gigi susu berbeda dari restorasi di gigi permanen karena kekuatan
kunyahdan usia gigi. Pada awal tahun 1977, disarankan bahwa semen ionomer
kaca dapat memberikan keuntungan restoratif bahan dalam gigi susu karena
kemampuan SIK untuk melepaskan fluor dan untuk menggantikan jaringan keras
gigi, serta memerlukan waktu yang cepat dalam mengisi kavitas. Hal ini dapat
dijadikan keuntungan dalam merawat gigi pada anak-anak. Namun, masih
diperlukan tinjauanklinis lebih lanjut (Craig, 2004).
3. Komposisi GIC
Bubuk : yaitu larutan dasar asam kalsium aluminosilikat glass yang
mengandung fluoride. Ini dibuat dengan mencampur silika + alumina +
kalsium fluoride, metal oksida dan metal fosfat pada 1100o-1500o C
kemudian tuangkan lelehan ke pelat logam atau ke dalam air. Glass yang
terbentuk dihancurkan, digiling dan ditumbuk menjadi bubuk 20-50.
Ukuran tergantung kebutuhan. Campuran dapat terurai oleh asam karena
adanya ion Al+3 yang bisa dengan mudah dapat masuk ke dalam jaringan

24

silika. Ini adalah sifat yang memungkinkan pembentukan semen. Fungsi


dari masing-masing komponen diantaranya adalah :
1. Alumina : meningkatkan opasitas
2. Silika
: meningkatkan translusensi
3. Fluoride : meningkatkan to fusi, antikariogenesitas, meningkatkan
translusensi, meningkatkan waktu kerja, meningkatkan kekuatan
4. Ca- Fluoride
: meningkatkan opasitas, berperan sebagai
pencair/pengalir
5. Al-Fosfat : meningkatkan to leleh, meningkatkan translusensi
6. Cryolite : meningkatkan translusensi, sebagai pencair/pengalir
(Mahesh et al, 2011)
Cairan : Cairan yang digunakan pada GIC adalah asam poliakrilik dengan
konsentrasi sekitar 10%. (Anusavice, 2004)
Bahan tambahan : Asam tartar, metal oksida dan polifosfat. ( Mahesh et
al, 2011)
Reaksi Setting :
Pada pencampuran bubuk dan cairan atau bubuk dan air asam secara
lambat merendahkan lapisan luar partikel kaca melepaskan ion Ca+2 dan
Al+3. selama fase setting awal,

Ca+2 dilepaskan lebih cepat terutama

bertanggung jawab untuk reaksi dengan poliacid untuk membentuk produk


reaksi seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.5. Al+3 dilepaskan lebih
lambat dan terlibat dalam setting fase selanjutnya sehingga sering disebut
sebagai reaksi fase sekunder. Bahan terdiri dari ini kaca yang tidak
bereaksi tertanam dalam matriks silang poliacid. Fase setting digambarkan
pada gambar 24.6. (McCabe, 2008)

25

4. Sifat GIC
-

Sifat Fisik

Sifat yang sangat menonjol dari penggunaan semen ionomer kaca sebagai bahan
restorative adalah kekuatannya terhadap fraktur. Semen ionomer kaca tipe II jauh
lebih inferior daripada komposit. Juga lebih rentan terhadap keausan terhadap
dibanding komposit bila dikenai uji abrasi dengan sikat gigi secara in vitro dan uji
keausan oklusal. Namun, semen ionomer kaca cukup menarik karena mempunyai
kecocokan biologis, dapat melekat pada email dan dentin, dan bersifat
antikariogenik. (Anusavice, 2004)

26

Seperti banyaknya sifat dental cement, sifat glass ionomer tergantung padda rasio
bubuk:cairan. Sayangnya hand mixing dengan rasio bubuk:cairan yang optimal
akan menghasilkan campuran yang kering dan tampak rapuh yang kurang disukai
oleh dokter gigi. Oleh karena itu ada kecenderungan untuk dokter gigi untuk
menambahkan lebih banyak cairan untuk memberikan konsistensi yang lebih
basah dengan efek yang merugikan pada sifat fisik materi. Masalah ini diatasi oleh
penggunaan enkapsulasi dan mekanik pencampuran. (Mccabe et al, 2008)
- Mekanisme Adhesi
Mekanisme pengikatan ionomer kaca dengan struktur gigi belum dapat
diterangkan dengan jelas. Meskipun demukian, sepertinya tidak diragukan bahwa
perlekatan ini terutama melibatkan proses relasi dari gugus karboksil dari
poilasam dengan kalsium di Kristal apatit email dan dentin. Meskipun ini berlaku
untuk semen polikarboksilat, mekanisme adhesi dari semen ionomer kaca juga
setara, karena keduanya berdasar pada poliasam. Ikatan dengan email selalu lebih
besar daripada ikatan dengan dentin, ini dikarenakan kandungan anorganik dari
email lebih banyak dan homogenitasnya lebih besar dilihat dari sudut pandang
morfologi. (Anusavice, 2004).
- Sifat Kimia
semen ionomer kaca melekat dengan baik ke enamel dan dentin, perlekatan ini
berupa ikatan kimia antara ion kalsium dari jaringan gigi dan ion COOH dari
semen ionomer kaca. Ikatan dengan enamel dua kali lebih besar daripada
ikatannya dengan dentin. Dengan sifat ini maka kebocoran tepi tambalan dapat
dikurangi. Semen ionomer kaca tahan terhadap suasana asam, oleh karena adanya
ikatan silang diantara rantai-rantai semen ionomer kaca. Ikatan ini terjadi karena
adanya polyanion dengan berat molekul yang tinggi ( Anusavice, 2004).
5. Indikasi dan Kontraindikasi
a. Indikasi

27

1. Karies kelas v estetik baik dengan daya tahan lebih efisien dan lebih
direkomendasikan daripada amalgam untuk gigi anak anak (Nicholson,
2008)
2. Karies yang mencapai pulpa, abrasi cervical, tumpatan untuk gigi decidui.
(McCabe, 2008)
3. Cocok untuk restorasi pada gigi sulung anterior terutama dibagian
proksimal. (Rhamdani, 2011)
4. Untuk karies kelas III dan V (Anusavice, 2004)
b. Kontraindikasi
1. Tidak dapat digunakan untuk karies kelas IV dan kelas I gigi permanen
2. Restorasi tumpatan dengan penekanan oklusal bersifat merusak
3. Agak opak daripada resin komposit sehingga kurang estetik untuk gigi
depan
(Adiana, 2008).
6. Kelebihan dan Kekurangan Semen Ionomer Kaca
Sebelum mengaplikasikan bahan GIC seorang operator harus mengetahui
kekurangan dan kelebihan dari bahan yang akan digunakan agar nantinya dapat
dipertimbangkan bahan yang cocok untuk diaplikasikan pada kavitas. Adapun
kelebihan dan kekurangan dari bahan restorasi GIC adalah sebagai berikut
kelebihan:
1) Potensi antikariogenik
2) Translusen
3) Biokompatibel
4) Melekat secara kimia dengan struktur gigi
5) Sifat fisik yang stabil
6) Mudah dimanipulasi (Craig, 2004).
Kekurangan :

28

1) Water in and water out


2) Compressive strenght kurang baik
3) Resistensi terhadap abrasi menurun
4) Estetik kurang baik
5) Warna tambalan lebih opaque, sehingga dapat dibedakan secara jelas antara
tambalan dengan gigi asli (Craig, 2004)
D. Teknik Sandwich
1. Definisi Teknik Sandwich
Teknik sandwich pada semen ionomer kaca adalah restorasi berlapis yang
menggunakan semen ionomer kaca dan resin komposit, di mana semen ionomer
kaca akan menggantikan dentin sedangkan resin komposit akan menggantikan
enamel (Hewlett and Mount, 2003).
Istilah teknik Sandwich mengacu kepada tumpatan restorasi yang
menggunakan semen ionomer kaca untuk menggantikan dentin dan resin
komposit untuk menggantikan enamel. Strategi ini menggabungkan sifat paling
baik dari kedua bahan tersebut seperti Daya tahan terhadap karies, Adhesi secara
kimia terhadap dentin, Pelepasan fluor dan proses remineralisasi , Pengerutan
pada lapisan dalam yang rendah, Pengikatan semen ionomer kaca dengan enamel,
Penyelesaian akhir enamel, Durabilitas dan Sifat resin komposit yang estetis
(Mount and Hewlett, 2003). Biasanya, Dalam penerapan teknik sandwich
biasanya di awali dengan pelapisan SIK tipe II pada dasar kavitas, kemudian di
lanjutkan dengan penggunaan resin komposit untuk memberikan ketahanan dan
durability ( annusavice, 2003 ).

29

Dengan mengaplikasikan teknik sandwich berarti menggunakan 2 jenis bahan


tumpatan didalam sebuah kavitas, hal ini menyebabkan terjadinya 2 janis ikatan.
Ikatan yang terjadi adalah Ikatan SIK dengan email dan dentin (ionic bond) dan
Ikatan SIK dengan material tumpatan (mechanics bond). Akibat adhesi dengan
dentin, bahan cenderung mengurangi terbentuknya ruang pada tepi gingival yang
berlokasi di dentin, sementum, atau keduanya akibat penyusutan polimerisasi dari
resin. Permukaan semen yang sudah mengeras di etsa untuk menghasilkan
permukaan yang lebih kasar sehingga menambah retensi, yang menjamin adhesi
dengan bahan restorasi komposit.
Ikatan SIK dengan email dan dentin (ionic bond) terjadi melalui adhesi kimia
(Manapphallil, 2003). Semen ionomer kaca diaplikasikan dalam bentuk cairan dan
cairan ini bersifat sangat asam. Garam metallic polyalkenoate menyatu dengan
hidroxyapatite dengan menghilangkan ion fosfat. Kelompok carboxylic dari rantai
polyalkenoate dapat bereaksi dengan kalsium dari hidroxyapatite untuk mengikat
semen ionomer kaca dengan dentin dan enamel (Spiller, 2000).

D. Kekuatan Tekan
Kekuatan tekan adalah tegangan tertinggi, apabila suatu material mendapat
suatu tekanan baik dari atas atau dari bawah. Kekuatan tekan menyatakan ukuran
tegangan yang diperlukan, untuk mematahkan atau merusak bahan. Tegangan
adalah perubahan gaya terhadap luas penampang daerah yang dikenai gaya
tersebut (Susanto, 2005). Besarnya compressive strengh dihitung dengan rumus:

30

F
= A
Dengan adalah stres karena gaya tekan (N/mm), F adalahn gaya yang
digunakan pada saat sampel patah (Newton), dan A adalah luas permukaan
(Susanto,2005).
Dalam penelitian Xu dikutip dari Bresciani yang mengukur kemampuan
bahan restorasi SIK sebagai basis melepas ion fluor terhadap compressive
strength, disimpulkan bahwa terjadi korelasi negatif antara pelepasan ion fluoride
dengan compressive strength. Bahan yang memiliki tingkat pelepasan ion fluoride
lebih tinggi, secara umum mempunyai kekuatan lebih rendah dari pada bahan
yang memiliki tingkat pelepasan fluoride rendah ( Quader dkk, 2012).
Compressive strength SIK konvensional umumnya ialah 150 MPa. Nilai ini
menunjukkan bahwa SIK cukup mampu menahan tekanan oklusal, namun masih
tergolong rendah ( Bresciani dkk, 2004).

Anda mungkin juga menyukai