0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
520 tayangan38 halaman

K2 dan K3 dalam Distribusi Listrik

Dokumen tersebut membahas tentang hubungan antara Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT PLN. K2 mencakup upaya pengamanan instalasi listrik dan pemanfaatan tenaga listrik untuk menjamin keselamatan kerja, umum, lingkungan, dan instalasi. K3 bertujuan menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja. Dokumen ini juga menjelaskan landasan hukum, pengertian, dan

Diunggah oleh

Dony Hanggoro
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
520 tayangan38 halaman

K2 dan K3 dalam Distribusi Listrik

Dokumen tersebut membahas tentang hubungan antara Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT PLN. K2 mencakup upaya pengamanan instalasi listrik dan pemanfaatan tenaga listrik untuk menjamin keselamatan kerja, umum, lingkungan, dan instalasi. K3 bertujuan menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja. Dokumen ini juga menjelaskan landasan hukum, pengertian, dan

Diunggah oleh

Dony Hanggoro
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

K2 DAN K3

PADA
PEKERJAAN

BIDANG DISTRIBUSI

PT. PLN ( Persero )


DISTRIBUS JAWA BARAT DAN BANTEN
TAHUN 2010

KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN DAN


PENCEGAHAN KECELAKAAN

DAFTAR ISI / POKOK BAHASAN


1. Hubungan antara K2 dan K3
2. Pengertian Keselamatan Ketenagalistrikan (K2)
3. Ruang Lingkup K2 di PT PLN (Persero)
4. Landasan Hukum K2
5. 4 (Empat) Pilar K2
6. Pengertian K3
7. Undang - Undang No.1 Tahun 1970
8. Hak Dan Kewajiban Setiap Tenaga Kerja
9. Filosopi Dasar
10. Pola penerapan K2 / K3 di PT PLN (Persero)
11. Pengaruh K2 terhadap Kinerja Unit Unit PT PLN (Persero)
12. Pengertian Kecelakaan
13. Jenis jenis kecelakaan
14. Penyebab terjadinya kecelakaan
15. Piramida perbandingan kecelakaan
16. Kerugian kerugian akibat kecelakaan
17. Bahaya Listrik
18. Pencegahan kecelakaan
19. Doktrin K3
20. Alat Pelindung Diri
21. Hambatan Dalam Pemakaian APD
22. Penyakit Akibat Kerja

TUJUAN :
Setelah menyelesaikan pelajaran peserta mampu mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
TUJUAN POKOK BAHASAN
Setelah menyelesaikan pokok bahasan peserta mampu:
1. Menjelaskan Hubungan antara K2 dan K3
2. Menjelaskan Pengertian Keselamatan Ketenagalistrikan (K2)
3. Menjelaskan Ruang Lingkup K2 di PT PLN (Persero)
4. Memahami Landasan Hukum K2
5. Menjelasakan 4 (Empat) Pilar K2
6. Menjelaskan Pengertian K3
7. Menjelaskan Undang - Undang No.1 Tahun 1970
8. Menjelaskan Hak Dan Kewajiban Setiap Tenaga Kerja
9. Menjelaskan Filosopi Dasar
10. Memahami Pola penerapan K2 / K3 di PT PLN (Persero)
11. Memahami Pengaruh K2 terhadap Kinerja Unit Unit PT PLN (Persero) /
SK Direksi NO : 099.K/DIR/2008, Tanggal 02 April 2008.
12. Menjelaskan Pengertian Kecelakaan
13. Menjelaskan Jenis jenis kecelakaan
14. Mengidentifikasi Penyebab terjadinya kecelakaan
15. Menjelaskan Piramida perbandingan kecelakaan
16. Menjelaskan Kerugian kerugian akibat kecelakaan
17. Menjelaskan Bahaya listrik bagi manusia
18. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja
19. Menjelaskan Doktrin K3
20. Menggunakan Alat Pelindung Diri yang tepat
21. Menjelaskan Hambatan Dalam Pemakaian APD
22. Menjelaskan Penyakit Akibat Kerja

Sesuai

1 HUBUNGAN ANTARA K2 DAN K3


BAGAIMANA HUBUNGAN ANTARA K2 DAN K3 ?
K3 = Keselamatan dan Kesehatan Kerja
dan
K2 = Keselamatan Ketenagalistrikan

2.PENGERTIAN KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN (K2)


DEFINISI / PENGERTIAN :
Keselamatan Ketenagalistrikan Adalah Segala Upaya Atau Langkah-Langkah Pengamanan
Instalasi Tenaga Listrik Dan Pengamanan Pemanfaat Tenaga Listrik Untuk Mewujudkan
Kondisi Andal Bagi Instalasi Dan Kondisi Aman Dari Bahaya Bagi Manusia, Serta Kondisi
Akrab Lingkungan, Dalam Arti Tidak Merusak Lingkungan Hidup Di Sekitar Instalasi Tenaga
Listrik
UPAYA UNTUK MEWUJUDKAN A 3
1. STANDARISASI
2. PENERAPAN 4 PILAR K2
3. SERTIFIKASI
4. PENERAPAN SOP / IK
5. ADANYA PENGAWAS PEKERJAAN

3. LANDASAN HUKUM / DASAR HUKUM


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

UU No.1 / 1970 ttg Keselamatan Kerja


UU No.15 / 1985 ttg Ketenagalistrikan
PP No.3 / 2005 ttg Instalasi Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik
Keppres No.22 / 1993 ttg Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja
Kep Menaker No.5/Men/1996 ttg Sistem Manajemen K3 (SMK3)
Kep Direksi No.090.K/DIR/2005 ttg Pedoman Keselamatan Instalasi
Kep Direksi No.091.K/DIR/2005 ttg Pedoman Keselamatan Umum
Kep Direksi No.092.K/DIR/2005 ttg Pedoman Keselamatan Kerja

KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN ( berdasarkan PP No.3/2005 Psl.21 )


1. Setiap usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan keselamatan
ketenagalistrikan
2. Keselamatan ketenagalistrikan meliputi :
a. Standarisasi
b. Pengamanan instalasi dan pemanfaat TL untuk mewujudkan kondisi :
- Andal dan aman bagi instalasi ( Keselamatan Instalasi )
- Aman dari bahaya bagi manusia :
* Tenaga Kerja ( Keselamatan Kerja )
* Masyarakat Umum ( Keselamatan Umum )
- Akrab lingkungan ( Keselamatan Lingkungan )
c. Sertifikasi :
- Sertifikasi laik operasi bagi instalasi penyediaan TL,
- Sertifikasi kesesuaian dengan standar PUIL untuk instalasi
pemanfaatan TL (instalasi pelanggan),
- Tanda keselamatan bagi pemanfaat TL (alat kerja/rumah tangga)
- Sertifikasi kompetensi bagi tenaga teknik ketenagalistrikan

3. LINGKUP K2

PEGANGAN AWAL MELAKSANAKAN KEGIATAN BERPOTENSI BAHAYA :


- Standarisasi Proses ( Pemasangan dsb)
- Standarisasi Uji (Performance Test, Komisioning dsb)
- Standarisasi Produk (Spesifikasi dsb)
BEBERAPA PENGERTIAN / DEFINISI
Keselamatan kerja, upaya mewujudkan kondisi aman bagi pekerja dari bahaya yang dapat
ditimbulkan oleh kegiatan Instalasi dan kegiatan ketenagalistrikan lainnya dari Perusahaan,
dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan penyelesaian terhadap terjadinya
kecelakaan kerja dan penyakit yang timbul karena hubungan kerja yang menimpa pekerja.
Keselamatan umum, upaya mewujudkan kondisi aman bagi masyarakat umum dari bahaya
yang diakibatkan oleh kegiatan Instalasi dan kegiatan ketenagalistrikan lainnya dari
Perusahaan, dengan memberikan perlindungan, pencegahan dan penyelesaian terhadap
terjadinya kecelakaan masyarakat umum yang berhubungan dengan kegiatan Perusahaan.
Keselamatan lingkungan, upaya mewujudkan kondisi akrab lingkungan dari Instalasi, dengan
memberikan perlindungan terhadap terjadinya pencemaran dan / atau pencegahan terhadap
terjadinya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan Instalasi.

Keselamatan instalasi, upaya mewujudkan kondisi andal dan aman bagi Instalasi, dengan
memberikan perlindungan, pencegahan dan pengamanan terhadap terjadinya gangguan dan
kerusakan yang mengakibatkan Instalasi tidak dapat berfungsi secara normal dan atau tidak
dapat beroperasi.

6. PENGERIAN K3
Upaya atau pemikiran dan penerapannya yang ditujukan untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan
manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya, untuk meningkatkan kesejahteraan
tenaga kerja
Pengertian Kecelakaan
Kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga /tiba-tiba yang dapat menimbulkan korban
manusia dan atau harta benda
Pengertian Keselamatan Kerja Secara Umum
Adalah suatu usaha pencegahan terhadap kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan berbagai
kerugian, baik kerugian harta benda (rusaknya peralatan), maupun kerugian jiwa manusia (luka
ringan, luka berat, / cacat bahkan tewas)
7. UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1970 TENTANG :
KESELAMATAN KERJA
Diundangkan tanggal : 12 januari 1970
Tujuan / sasaran :
1.Agar tenaga kerja dan setiap orang lain yang berada ditempat kerja selalu dalam
keadaan selamat dan sehat.
2.Agar sumber sumber produksi dapat dipakai dan digunakan secara aman dan efisien
3.Agar proses produksi dapat berjalan secara aman dan efisien

UNDANG-UNDANG NO : 1 TAHUN 1970


Berlaku untuk setiap tempat kerja yang di dalamnya terdapat tiga unsur , yaitu :
1. Adanya suatu usaha, baik usaha yang bersifat ekonomi maupun sosial
2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus menerus atau hanya
sewaktu-waktu
3. Adanya sumber bahaya
8.HAK DAN KEWAJIBAN SETIAP TENAGA KERJA DALAM K3 (BAB VIII,
PASAL 12 UU NO : 1 TAHUN 1970)
1. Memberikan keterangan yang bener tentang k3, bila diminta oleh pengawas / ahli k3
2. Memakai alat-alat pelindung diri yang diwajibkan
3. Mematuhi dan mentaati semua syarat k3
4. Minta kepada pengurus agar dilaksanakan semua syarat k3 yang di wajibkan
5. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat k3 dan alat pelindung diri
yang diwajibkan diragukan olehnya, kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain
oleh pengawas dalam batas-batas yang masih dapat di pertanggung jawabkan
9. FILOSOPI DASAR
1
Mengelola kegiatan K3 diibaratkan dengan orang naik sepeda di jalan tanjakan, bila
berhenti mengayuh akan terjatuh.
2
Harus selalu ada aktivitas K3 agar tidak terjadi kecelakaan kerja
3
2. K3 harus melibatkan seluruh unsur yang ada diperusahaan tanpa kecuali Safety by all
PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN MENURUT MW HEINRICH (TEORI
KARTU DOMINO)

Faktor penyebab terjadinya kecelakaan


1. UNSAFE ACTION
2. UNSAFE CONDITION
PRESENTASE PERBANDINGAN KECELAKAAN YANG DIAKIBATKAN OLEH
MANUSIA DAN KONDISI ALAT / LINGKUNGAN :
Manusia 80 %
Kondisi alat/lingkungan 18 %

10. POLA PENERAPAN K2 DI PT PLN (Persero)

11.PENGARUH K 2 TERHADAP PENILAIAN TINGKAT KINERJA UNITUNIT PT PLN (Persero)


DITUANGKAN DALAM :
KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (Persero)
NOMOR
: 099.K/DIR/2008 dan 041.K/DIR/2008
TANGGAL : 02 APRIL 2008
TENTANG : SISTEM PENILAIAN TINGKAT KINERJA PT PLN (Persero)
PEMBANGKIT,WILAYAH,DISTRIBUSI,PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR
BEBAN DAN JASA PENUNJANG
TAHUN 2008
DALAM KEP. DIR. TSB :
K2 Merupakan salah satu indikator kinerja yang dinilai pada Perspektif Bisnis
Internal
K2 Adalah indikator yang digunakan untuk mengukur ketaatan unit PLN untuk
melaksanakan kewajiban :
1. Keselamatan kerja
2. Keselamatan Instalasi
3. Keselamatan Umum
4. Keselamatan Lingkungan

.Jika K2 ini tidak dilaksanakan, maka akan menjadi Salah satu faktor pengurang penilaian
tingkat kinerja unit.
12.PENGERTIAN KECELAKAAN KERJA
Suatu kejadian tidak diduga (insident) yang mengakibatkan kacaunya proses pekerjaan /
produksi yang direncanakan sebelumnya
Catatan :
Kecelakaan kerja tidak selalu diukur adanya korban manusia cidera atau mati.
KOMITMEN MANAJEMEN TERHADAP K3
 Dinyatakan secara tertulis
 Merupakan bagian dari misi perusahaan
 Hasil berupa kinerja k3
 Bagian dari kontrak kinerja
14. PENYEBAB TERJADINYA KECELAKAAN
A. UNSAFE ACTION (Sikap / perilaku manusia yang tidak aman / berbahaya)
Antara lain ;
- lalai, ceroboh
- bergurau ditempat kerja
- menggunakan alat yang rusak
- bekerja dengan cara yang salah
- bekerja tanpa wewenang
- dan lain-lain
UNSAFE CONDITION (Kondisi / keadaan tempat kerja / peralatan kerja yang
tidak aman / bernahaya ),diantaranya;
- tempat kerja licin, bau, dan pengap
- perlatan rusak / tidak laik pakai
- peralatan listrik yang masih bertegangan
- peralatan / mesin tanpa pelindung
- terdapatbahaya kebakaran / ledakan
- dan lain-lain

15. PIRAMIDA KECELAKAAN

Perbandingan tersebut mengungkapkan bahwa perhatian yang hanya di tujukan kepada


kecelakaan fatal tidak sebanding dengan kerugian kerugian yang mengawalinya..
16.KERUGIAN AKIBAT KECELAKAAN

KERUGIAN-KERUGIAN AKIBAT KECELAKAAN


 Terhadap karyawan :
 Luka ringan, luka berat, cacat atau bahkan tewas
 Penderitaan dan kesedihan
 Beban masa depan
 Dan sebagainya
 Terhadap perusahaan :
 Kehilangan jam kerja
 Timbulnya biaya pengobatan
 Kerusakan instalasi
 Merusak nama baik perusakan
 Kelambatan produksi
 Dan sebagainya

 Terhadap masyarakat :
 Kerusakan lingkungan
 Kerusakan harta benda
 Kehilangan jiwa
 Dan sebagainya
17. BAHAYA LISTRIK BAGI MANUSIA
Bahaya yang ditimbulkan oleh arus / tegangan listrik
Terhadap manusia adalah :
1
Shock (terkejut)
2
Pingsan
3
Terbakar
4
Kematian

17.1 DENYUT JANTUNG YANG TERSENGAT LISTRIK

KEADAAN NORMAL
DENYUT NORMAL :
80 kali per menit
Satuan medan listrik dan medan magnet :
> medan listrik [kv / m]
> medan magnet [mt]
Medan listrik dan medan magnet di tempat kerja :
> SUTR,SUTM,SUTT,SUTET
> mesin pendingin, mesin ketik elektronik,
mesin pendingi, mesin photo copy
> mesin las
> alat kerja komputer dan printer
> mesin kompresor, dan lain-lain
17.2 MEDAN LISTRIK

TERKENA SENGATAN LISTRIK

diperintahkan 100 kali per detik

medan listrik adalah suatu medan atau lapangan yang dapat menimbulkan gaya pada
pertikel bermuatan listrik yang terletak dalam medan tersebut.
medan listrik itu sendiri timbul oleh adanya partikel bermuatan listrik atau dengan
katalain oleh adanya tegangan listrik
medan listrik berkurang kekuatannya selaras dengan bertambahnya jarak dari sumber
satuan dari medan listrik adalah [kv/m].

17.3 MEDAN MAGNET


Medan magnet adalah suatu medan atau lapangan yang dapat menimbulkan gaya pada
benda-benda magnet atau partikel bermuatan listrik.
Medan magnet ditimbulkan oleh benda-benda magnet atau konduktor yang dialiri arus
listrik
Ada beberapa besaran dari medan magnet, salah satunya adalah induksi medan magnet
atau rapat fluks magnet.
Satuannya t (tesla) atau g (gauss) atau wb/m2 (weber/meter persegi)
17.4 POLA MEDAN LISTRIK DAN MEDAN MAKNIT DARI SUATU KONDUKTOR
YANG MENGALIRKAN ARUS LISTRIK
KONDUKTOR
BERTEGANGAN

MEDAN LISTRIK

MEDAN
LISTRIK

MEDAN MAGNET
TANAH/BUMI

TANAH/BUMI

antara ionosfir dan permukaan bumi : udara cerah 100 500 volt / meter
awan mendung yang mengandung potensial petir membangkitkan medan listrik
3000 30.000 volt / meter
MEDAN MAKNIT
Menyelimuti bumi, kekuatannya 40 70 microtesla
It = 1000. Mt ----> t = tesla
Ig = 1000. Mg ----> g = gauss
It = 10.000 . G.

MEDAN LISTRIK PADA PERALATAN LISTRIK

PERALATAN

MEDAN LISTRIK
(VOLT / METER)

SELIMUT LISTRIK

250

STEREO SET

90

LEMARI PENDINGIN

60

SETRIKA LISTRIK

60

PENGERING RAMBUT

40

TV BERWARNA

30

PENYEDOT DEBU

16

LAMPU PIJAR

MEDAN MAGNET PADA PERALATAN LISTRIK

3 CM

MEDAN MAGNET (
T)
30 CM

100 CM

PENGERING RAMBUT

6 - 2000

0,01 - 7

0,01 - 0,3

ALAT CUKUR

15 - 1500

0,08 - 5

0,01 - 0,3

BOR LISTRIK

4000 - 800

2 - 3,5

0,08 - 0,2

MIXER

60 - 700

0,6 - 10

0,02 - 0,025

TELEVISI

2,5 - 50

0,04 - 2

0,01 - 0,15

8 - 30

0,12 - 0,3

0,01 - 0,025

0,5 - 1,7

0,01 - 0,25

< 0,01

PERALATAN
PERALATAN

SETRIKA LISTRIK
LEMARI PENDINGIN

HASIL PENGUKURAN KUAT MEDAN MAGNET DI BAWAH SUTET 500 KV


KRIAN- PAITON OLEH ITS

Medan Magnet

Jarak Mendatar (m)


Obyek Pengukuran : SUTT 500 kV
lokasi Ds. Semambung Krian
Tgl. 13 Juli 1997
waktu : Pkl. 15.30-16.30

HASIL PENGUKURAN KUAT MEDAN LISTRIK DI BAWAH SUTET 500 KV


KRIAN- PAITON OLEH ITS

HASIL PENGUKURAN KUAT MEDAN MAGNET DI BAWAH SUTT 150 KV


SAWAHAN BARAT OLEH ITS

17.5 PEDOMAN NILAI AMBANG BATAS KUAT MEDAN LISTRIK DAN KUAT
MEDAN MAGNET YANG DIPAKAI PLN
PERATURAN

MEDAN LISTRIK

MEDAN MAGNET

STANDAR PLN (SPLN NO.


112/1994)
INIRC MENGENAI PETUNJUK
BATAS-BATAS PEMAPARAN
TERHADAP MEDAN LISTRIK
DAN MEDAN MAGNET (EMF)
50/60 HZ/REKOMENDASI WHO
IRPS 1990

WORKING HOUR E
(MAX) : 10 kV/m

WORKING HOUR B
(MAX) : 0,5 mt

CONTINOUSLY
E (MAX) : 5 Kv/m

CONTINOUSLY B (MAX)
: 0,1 mt

Referensi : Keputusan Direksi PT PLN (Persero) no. 031.k/008/dir/1997 tanggal 14 aprril


1997
17.6 TEGANGAN YANG TIMBUL AKIBAT ARUS BOCOR
Tegangan yang timbul akibat arus bocor / kesalahan ke tanah terhadap orang yang berada di
sekitar instalasi tenaga listrik :
tegangan sentuh
tegangan langkah

tegangan pindah

TABEL : BESAR DAN LAMA TEGANGAN SENTUH MAKSIMUM


BESAR TEGANGAN SENTUH (V)

LAMA SENTUHAN
MAKSIMUM (DETIK)

AC (RMS)

DC

< 50

< 120

50

120

5,0

75

140

1,0

90

160

0,5

110

175

0,2

150

200

0,1

220

250

0,05

280

310

0,03

ATURAN UMUM :
Seseorang Tidak Boleh Menyentuh Walau Sekejappun Peralatan Dengan Tegangan Di Atas
100 Volt
Batasan besarnya arus listrik yang mengalir melalui tubuh manusia serta pengaruh langsung
yang dirasakan :

Arus persepsi (perception current)


Arus mempengaruhi otot (letgo current)
Arus fibrilasi (fibrillating current)
Arus reaksi (reaction current)

PENGARUH ARUS LISTRIK PADA TUBUH MANUSIA


BESARNYA ARUS
0

PENGARUH PADA TUBUH MANUSIA

0,9 mA

BELUM DIRASAKAN PENGARUHNYA

0,9

1,2 mA

BARU TERASA ADANYA ARUS LISTRIK

1,2

1,6 mA

MULAI TERASA SEAKAN-AKAN ADA YANG


MERAYAP DIDALAM TANGAN

1,6

6,0 mA

6,0

8,0 mA

TANGAN SAMPAI KESIKU MERASA KESEMUTAN


TANGAN MULAI KAKU, RASA KESEMUTAN MAKIN
BERTAMBAH
RASA SAKIT TIDAKTERTAHANKAN PENGHANTAR
MASIH DAPAT DILEPASKAN DENGAN GAYA YANG
BESAR SEKALI

13

15,0 mA

15

20,0 mA

OTOT TIDAK SANGGUP LAGI MELEPASKAN


PENGHANTAR

20

50,0 mA

DAPAT MENGAKIBATKAN KERUSAKAN PADA


TUBUH MANUSIA

50

100,0 mA

BATAS ARUS YANG DAPAT MENYEBABKAN


KEMATIAN

17.7 JARAK BEBAS MINIMUM ANTARA PENGHANTAR SUTT DAN SUTET


DENGAN TANAH DAN BENDA LAIN
NO
LOKASI
1

LAPANGAN
TERBUKA
ATAU
DAERAH
TERBUKA
2
DAERAH DENGAN KEADAAN TERTENTU :
2.1.
BANGUNAN TIDAK TAHAN API
2.2.
BANGUNAN TAHAN API
2.3.
LALU LINTAS JALAN / JALAN
RAYA
2.4.
POHON
POHON
PADA
UMUMNYA, HUTAN, PERKEBUNAN
2.5. LAPANGAN OLAH RAGA
2.6.
SUTT LAINNYA,
PENGHANTAR
UDARA
TM,
JARINGAN
TELEKOMUNIKASI,
ANTENA
Catatan :
RADIO, ANTENA TELEVISI DAN
KERETA GANTUNG
2.7.
REL KERETA BIASA
2.8.
JEMBATAN
BESI,
RANGKA
BESIPENAHAN
PENGHANTAR,
KERETA LISTRIK TERDEKAT DSB.
2.9.
TITIK TERTINGGI TIANG KAPAL
PADA KEDUDUKAN AIR PASANG /
TERTINGGI PADA LALU LINTAS AIR

SUTET 500 KV
SIRKIT
SIRKIT
GANDA (M)
TUNGGAL (M)

SUTT 66
KV (M)

SUTT 150
KV (M)

6,5

7,5

10

11

12,5
3,5
8

13,5
4,5
9

14
8,5
15

15
8,5
15

3,5

4,5

8,5

8,5

12,5
3

13,5
4

14
8,5

15
8,5

8
3

9
4

15
8,5

15
8,5

8,5

8,5

17.8 PENELITIAN MEDAN LISTRIK DAN MEDAN MAKNIT


PENELITIAN Dr. ANIES - UNIVERSITAS DIPENOGORO (1993)
Dari hasil pengukuran ternyata kuat medan listrik dan kuat medan magnet dari sutt/sutet masih
jauh dibawah ambang batas yang direkomendasikan who/irpa sehingga dalam batas tertentu
(diatas) sutt/sutet tidak akan menimbulkan masalah kesehatan, namun ketakutan serta
kekhahawatiran masyarakat adalah wajar dan sebagai upaya untuk meperkecil dampak negatif
sutt / sutet terhadap kesehatan masyarakat, perlu dilakukan penyuluhan yang efektif kepada
masyarakat umum.
PENELITIAN SOSIOLOGI KASNODIHARDJO DAN SOESANTO (1995)
Penelitian-Penelitian Sosiologi Kasnodihardjo Dan Soesanto (1995) Dan Ganihartono (1995),
Yang Berusaha Menilik Keadaan Dan Hubungan Sosial Ekonomi Dan Gangguan Sutet 500 Kv
Yang Dikeluhkan Penduduk Didaerah Cibinong Dan Bekasi Jawa Barat, Telah Menunjukan
Bahwa Tidak Ada Hubungan Langsung Antara Keterpaparan Penduduk Yang Berada Dibawah
Jaringan Sutet Dengan Penyakit Yang Dilaporkan Ataupun Tingkat Kesehatan Masyarakat

PENELITIAN BUDI HARYANTO SKM, MSc BALITBANG DEPKES RI (1995/ 1996)


tidak ada korelasi antara gangguan kesehatan seperti sakit kepala, kelelahan seperti sakit
kepala, kelelahan mental, pusing kepala, keguguran, susah tidur, bradycardia, tachycardia,
indikasi tumor dan leukimia terhadap pajanan medan listrik dan medan magnet
PENELITIAN Ir. SYARIFUDIN MAHMUDSYAH M. Eng
FAKULTAS ELEKTRO- ITS
Dari hasil penelitian mengenai dampak medan elektromagnetik akibat pemakaian tenaga listrik
khususnya sutt 150 kv / sutet 500 kv pada daerah singosari gresik serta dharmahusada indah
surabaya, dari hasil pengukuran medan elektromagnetik akibat sutt / sutet diperoleh data bahwa
kuat medan listrik dan kuat medan magnet masih jauh dibawah level toleransi berdasarkan
standar irpa dan inrc. Masalah yang dihadapi penduduk lebih condong kepada masalah
psikologis dan tuntunan mendapatkan ganti rugi.
KERJASAMA LEMBAGA PENELITIAN MASYARAKAT
ITB - FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA (1996/ 1997)
Tidak ada korelasi frekuensi gangguan kesehatan masyarakat yang terpajan medan listrik dan
medan magnet dari sutet berhubungan dengan jarak tempat tinggal terhadap jaringan, dan juga
tidak ada pengaruh dari besar dan lamanya pemajanan medan listrik dan medan magnet
terhadap derajat kelainan fungsi sistem tubuh.
KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini besarnya medan listrik dan medan
magnet yang berada dibawah dan sekitar sutt / sutet yang ada di indonesia tidak
membahayakan bagi kesehatan penduduk
17.9 BAHAYA LISTRIK PADA TEGANGAN TINGGI / EKSTRA TINGGI
Bahaya listrik pada instalasi tegangan tinggi / ekstra yang paling dominan adalah gradien
tegangan tinggi atau tegangan ektra tinggi itu sendiri terhadap mahluk hidup maupun terhadap
benda-benda lain yang berada pada daerah sekitarnya
Pada saat ini lahan yang tersedia terasa semakin sempit karena pesatnya perkembangan di
segala bidang demikian pula pertumbuhan penduduk yang cukup besar, sehingga jalur yang
dilalui SUTT atau SUTET kemungkinan tidak dapat menghindari dan terpaksa harus melewati
daerah dengan keadaan tertentu, seperti daerah pemukiman yang padat
Bahaya langsung terhadap tegangan tinggi / ekstra tinggi terhadap manusia / mahluk hidup
lainnya adalah sengatan langsung jika yang bersangkutan bersentuhan / memegang tegangan
tinggi / ektra tinggi, ataupun terkena tegangan sisa pada instalasi tenaga listrik
Untuk mengantisipasi bahaya listrik pada tegangan tinggi / ekstra tinggi telah ditetapkan
adanya jarak aman terhadap instalasi tegangan tinggi / ekstra tinggi dimaksud yang disebut
ruang bebas dan ruang aman disekitar SUTT / SUTET

RUANG BEBAS
Ruang bebas adalah ruang sekeliling penghantar (kawat listrik) sutt atau sutet yang besarnya
tergantung tegangan, tekanan angin dan suhu kawat penghantar
Ruang tersebut harus dibebaskan dari orang mahluk hidup lain maupun benda apapun demi
keselamatan orang, mahluk dan benda lain tersebut demikian pula keamanan dari sutt atau sutet
itu sendiri
RUANG AMAN
Ruang aman adalah ruang yang berada diluar ruang bebas yang tanahnya masih dapat
dimanfaatkan
Dalam ruang aman pengaruh medan listrik dan kuat medan maknet sudah dipertimbangkan
dengan mengacu kepada peraturan yang berlaku. Untuk mendirikan bangunan di dalam ruang
aman, tetap diperlukan ijin mendirikan bangunan (imb) dari pemerintah daerah
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RUANG BEBAS DAN RUANG AMAN
Ruang bebas dan ruang aman dapat diatur besarnya sesuai dengan kebutuhan pada saat
mempersiapkan rancang bangun
Pada saat mempersiapkan rancang bangun tersebut, ruang aman dapat diperluas dengan
cara meninggikaan menara dan atau memperpendek jarak antara menara, sehingga bila ada
pemukiman yang akan dilintasi sutt atau sutet yang akan dibangun berada didalam ruang yang
aman
Faktor-faktor yang menentukan ruang bebas dan ruang aman adalah tegangan kekuatan
angin dan suhu disekitar penghantar
a.

tegangan
makin besar tegangan yang bekerja pada penghantar makin besar jarak bebas minimum
(clearance) yaitu jarak yang terpendek diijinkan antara kawat penghantar dan benda atau
kegiatan lain sesuai dengan angka-angka yang tertera pada tabel V-I
Jarak bebas minimum antara penghantar Sutt dan sutet dengan tanah dan benda lain
NO
.
1
.2
.

LOKAS
I
LAPANGAN TERBUKA ATAU DAERAH
DAERAH DENGAN KEADAAN
TERBUKA
2.1
BANGUNAN
TIDAK TAHAN
TERTENTU
:
2.2
BANGUNAN
TAHAN
.
API
2.3
LALU
.
API LINTAS JALAN / JALAN
2.4
POHON-POHON
PADA UMUMNYA, HUTAN,
.
RAYA
2.5
LAPANGAN
OLAH
.
PERKEBUNAN
2.6
SUTT
.
RAGALAINNYA, PENGHANTAR UDARA
RENDAH, JARINGAN TELEKOMUNIKASI, ANTENA
.
TEGANGAN
ANTENA TELEVISI DAN KERETA
RADIO,
2.7 REL
KERETA
GANTUNG
2.8
JEMBATAN
BESI, RANGKA BESI PENAHAN
.
BIASA
KARENA LISTRIK TERDEKAT DAN
.
PENGHANTAR,
2.9 TITIK
TERTEINGGI TIANG KAPAL PADA KEDUDUKAN
SEBAGAINYA
PASANG / TERTINGGI PADA LALU LINTAS
.
AIR
AIR

66
KVM

SUT
T

150
KVM

SUTET 500
KV
SIRKI
SIRKI
GAND
TUNGGA
T
T
A M
L M

6.
5
12.
53.
58
3.
12.
5
53

7.
5
13.
54.
59
4.
13.
5
54

1
0
1
8.
4
51
8.
5
51
8.
4
5

1
1
1
8.
5
51
8.
5
51
8.
5
5

8
3

9
4

1
8.
5
5
8.
5

1
8.
5
5
8.
5

b.Angin
makin besar tekanan angin, makin besar ayunan kawat penghantar ke kiri atau ke
kanan, pada suatu gawang (jarak antara dua menara) ayunan yang terbesar karena pengaruh
angin adalah pada kawat penghantar yang lengkungannya paling rendah sedangkan ayunan
semakin kecil ke arah menara
c.Suhu kawat penghantar
makin besar suhu yang mempengaruhi kawat penghantar makin mengendor kawat
penghantar tersebut, sehingga andongannya menjadi lebih besar, hal ini sudah diperhitungkan
pada saat mendesain sutt atau sutet tersebut
kenaikan suhu tersebut disebabkan oleh suhu disekeliling dan suhu yang diakibatkan
oleh besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar
17.10 PENCEGAHAN KECELAKAAN
Kecelakaan :
Adalah suatu kejadian yang tidak di inginkan yang dapat menimbulkan berbagai kerugian, baik
kerugian harta benda (rusaknya peralatan / instalasi ) maupun kerugian jiwa (luka, cacat,
penyakit, tewas) dan atau kerugian proses
Kecelakaan yang terjadi pada perusahaan dapat berupa :
1.
near miss (kejadian hampir celaka)
2. kecelakaan kerja (ringan, berat)
3. kerusakan harta dan kerugian proses
4. musibah (bencana alam) dan kehilangan
5. penyakit akibat kerja
18. PENCEGAHAN KECELAKAAN
 Penerepan safety engineering pada saat perencanaan dan pelaksanaan
 Penerapan safety engineering pada waktu berlangsungnya proses produksi






Diarahkan terhadap :
lingkungan kerja
Instalasi, mesin, peralatan kerja dan material
Terhadap tenaga kerja
Terhadap cara kerja

19.DOKTRIN K3
Pencegahan Kecelakaan Atau Pemeliharaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Bertitik Tolak
Dari Konsep Pengendalian Kerugian Menyeluruh
Cara menanggulangi kecelakaan kerja :
Meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau mengadakan pengawasan yang ketat

LANGKAH PENENGGULANGAN KECELAKAAN KERJA (Menurut ILO)


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
o Ketentuan & syarat K3 mengikuti perkemb ilmu pengetahuan, tehnik &
teknologi
o Penerapan ketentuan & syarat K3 sejak tahap rekayasa
o Penyel pengawasan & pemantauan pelak K3
STANDARISASI
o Standar K3 maju akan menentukan tkt kemajuan pelak K3
INSPEKSI / PEMERIKSAAN
o Suatu kegiatan pembuktian sejauh mana kondisi tempat kerja masih memenuhi
ketentuan & persyaratan K3
RISET TEKNIS, MEDIS, PSIKOLOGIS & STATISTIK
Riset/penelitian untuk menunjang tingkat kemajuan bid K3 sesuai perkemb
ilmu pengetahuan, tehnik & teknologi
PENDIDIKAN & LATIHAN
Peningkatan kesadaran, kualitas pengetahuan & ketrampilan K3 bagi Tenaga
Kerja
PERSUASI
Cara penyuluhan & pendekatan di bid K3, bukan melalui penerapan &
pemaksaan melalui sanksi-sanksi
ASURANSI
Insentif finansial utk meningkatkan pencegahan kec dgn pembayaran premi yg
lebih rendah terhdp peusahaan yang memenuhi syarat K3
PENERAPAN K3 DI TEMPAT KERJA
Langkah-langkah pengaplikasikan di tempat kerja dlm upaya memenuhi syaratsyarat K3 di tempat kerja
20. ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
Fungsi APD :
mengurangi akibat / resiko dari suatu kecelakaan
 APD bukan untuk mencegah kecelakaan
 Pemakaian apd tidak menjamin pemakaian bebas dari kecelakaan, karena :
- Kecelakaan ada sebabnya, pencegahan kecelakaan hanya bisa dilaksanakan jika
sebab-sebab kecelakaan dihilangkan
- Adanya gerakan tak sadar / reflek dari pemakainya
- Apd mempunyai kemampuan terbatas
JENIS JENIS APD
 Alat pelindung wajah
 Alat pelindung mata
 Alat pelindung pernafasan
 Alat pelindung telinga
 Alat pelindung badan
 Alat pelindung tangan
 Alat pelindung kaki

 Alat pelindung jatuh


 Alat pelindung tenggelam
 Pelindung kepala
21. HAMBATAN DALAM PEMAKAIAN APD
Meliputi:
1. Hambatan dari manajemen
2. Hambatan tingkah laku / sikap tenaga kerja
3. Hambatan dalam penyediaan
22. PENYAKIT AKIBAT KERJA
Adalah Penyakit Yang Disebabkakn Oleh Pekerjaan Atau Oleh Lingkungan Tempat Kerja
PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA
Karena pekerjaan : - golongan faal / fisiologi
- golongan mental / psikologi

Karena lingkungan kerja :

- golongan fisik
- golongan kimia
- golongan hayati

SAFETY PROCEDURE
(PROSEDUR KESELAMATAN KERJA) PADA
PEKERJAAN BIDANG DISTRIBUSI

TUJUAN :
Setelah menyelesaikan mata pelajaran ini peserta mampu :
Menerapkan prosedur k3 pada pekerjaan instalasi tegangan menengah / tegangan
rendah ( instalasi distribusi )

TUJUAN POKOK BAHASAN


Setelah menyelesaikan pokok bahasan, peserta mampu :
1. Menjelaskan pengertian / definisi prosedur K3 pada pekerjaan bidang
distribusi
2. Menjelaskan tujuan prosedur K3 pada pekerjaan bidang distribusi
3. Menguraikan tugas pengawas pekerjaan
4. Menjelaskan tahapan prosedur K3 pada pekerjaan bidang distribusi
5. Menjelaskan urutan pengamanan pada lokasi pekerjaan
6. Menjelaskan danger zone & safety distance
7. Mengimplementasikan dokumen K3 / formulir K3
8. Menggunakan alat pelindung diri yang diperlukan dan fungsinya

1. PENGERTIAN PROSEDUR KESELAMATAN KERJA PADA


INSTALASI TEGANGAN MENENGAH / TEGANGAN RENDAH
(INSTALASI DISTRIBUSI)
Adalah suatu tata cara pelaksanaan pekerjaan yang benar dan aman yang
disusun secara sistematis untuk aturan - aturan keselamatan kerja dalam
melaksanakan pekerjaan pada instalasi tegangan menengah / rendah (instalasi
distribusi),sehingga pekerjaan tersebut berlangsung secara aman, tertib, dan
efektif .

2. T U J U A N
Menghindari kesalahan & kelalaian pelaksana dan pengawas pekerjaan
Mencegah kecelakaan personil
Mencegah kerusakan peralatan / instalasi
Sehingga tercipta zero accident (safety proces dan safety product)

3. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku untuk semua pekerjaan pada instalasi /peralatan
tegangan
Menengah / rendah (instalasi distribusi) yang sudah tidak bertegangan

4. SECARA UMUM TUGAS PENGAWAS PEKERJAAN ADALAH:


1. Mengawasi keselamatan personil
2. Mengawasi manuver pembebasan tegangan
3. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan
4. Mengawasi manuver pemberian tegangan

5. RINCIAN TUGAS PENGAWAS PEKERJAAN :


A. PADA SAAT MANUVER
Mengawasi pelaksanaan manuver
Mengawasi pemasangan & pelepasan grounding lokal
Menjaga keamanan instalasi
Mencegah kesalahan manuver yang dilakukan oleh pelaksana manuver
Mengunci pemisah-pemisah LBS / PTS , melepas Fuse / MCB PMS dan
PMT (memutus supply tegangan ke motor PMS / PMT),untuk pekerjaan di
gardu induk sisi 20 kV.
Melakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam maneuver

B. PADA SAAT MENGAWASI KESELAMATAN PERSONIL


Memeriksa kondisi petugas sebelum bekerja
Mengawasi kondisi / tempat - tempat yang berbahaya
(unsafe condition)
Mengawasi tingkah laku / sikap yang berbahaya
(unsafe act)
Menyiapkan / mengawasi pemakaian alat-alat keselamatan kerja/alat-alat
pelindung diri (APD)
Memasang rambu-rambu pengaman (bertanggung jawab
terhadap pemasangan / pelepasan rambu-rambu pengaman)
Mengadakan koordinasi dengan pihak terkait dalam bidang k3

C. PADA SAAT PELAKSANAAN PEKERJAAN


Mengawasi pelaksanaan pekerjaan, yang meliputi : metode, alat kerja,
material, waktu dan kompetensi personil

Memberikan penjelasan mengenai teknis pelaksanaan pekerjaan kepada


para pelaksana
Mengadakan koordinasi dengan pihak terkait
Memasang dan melepas grounding lokal (bertanggung jawab terhadap
pemasangan / pelepasan grounding lokal)

6. TAHAPAN PROSEDUR KESELAMATAN KERJA PADA PEKERJAAN BIDANG


DISTRIBUSI

TAHAPAN PROSEDUR KESELAMATAN KERJA PADA


PEKERJAAN BIDANG DISTRIBUSI

TAHAP I

PERSIAPAN

TAHAP II

PEMBEBASAN TEGANGAN DAN


PELAKSANAAN PEKERJAAN

TAHAP III

PEKERJAAN SELESAI
PEMBERIAN TEGANGAN DAN
PENORMALAN KONFIGURASI

A. TAHAP I : PERSIAPAN
1. Membuat rencana kerja
2. Melakukan koordinasi dengan unit / pihak terkait
3. Menyiapkan / memeriksa peralatan kerja dan material

4. Menyiapkan / memeriksa alat pelindung diri (APD)


5. Membuat / mengeluarkan surat perintah kerja (SPK)
6. Memeriksa kesiapan personil
7. Memberikan penjelasan teknis pekerjaan
8. Menjelaskan macam alat kerja dan alat pelindung diri yang harus
dipakai
9. Menjelaskan tempat - tempat yang rawan bahaya
10. Membuat rencana pengaman instalasi yang akan dikerjakan
11. Membagi tugas sesuai kemampuan / keahlian (kompetensi)
12. Menyusun langkah - langkah manuver pembebasan tegangan

B. TAHAP II : PEMBEBASAN TEGANGAN DAN PELAKSANAAN


PEKERJAAN
1. Melakukan doa bersama
2. Melaksanakan manuver pembebasan tegangan
3. Melakukan pengetesan tegangan / gunakan tester tegangan
4. Memasukan PMS tanah (di gardu induk sisi 20 kV)
5. Memasang grounding lokal
6. Melaksanakan pengamanan tambahan (pengaman berlapis / melepas
FUSE/ MCB, mengunci PMS, LBS, PTS, memutus supplay tegangan ke
motor PMS / PMT ( di gardu induk sisi20 kV)
7. Memasang rambu-rambu pengamanan (rantai, bendera, papan
peringatan, tagging, dsb)
8. Membuat / mengeluarkan pernyataan bebas tegangan
9. Melaksanakan pekerjaan sesuai rencana
10. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan dan keselamatan personil.

C. TAHAP III : PEKERJAAN SELESAI, PEMBERIAN TEGANGAN


DAN
PENORMALAN KONFIGURASI
1. Memeriksa hasil pekerjaan
2. Melepas grounding lokal / pentanahan setempat
3. Melepas tanda - tanda / rambu - rambu pengaman
4. Membuat pernyataan selesai pekerjaan
5. Melakukan persiapan pemberian tegangan
6. Melaksanakan manuver pemberian tegangan
(setelah ada instruksi dari pengatur)
7. Menormalkan konfigurasi jaringan (bila diperlukan)
8. Melakukan doa bersama
7. URUTAN PENGAMAN PADA LOKASI PEKERJAAN SETELAH
PERALATAN BEBAS TEGANGAN

PASANG KUNCI / GEMBOK MEKANIK PADA


PMS/LBS/PTS

MEMUTUS
SUPPLY
TEGANGAN
UNTUK
MOTOR PENGGERAK PMSDAN PMT (LEPAS
SIKRING / MCB) UNTUK PEKERJAAN DI
GARDU INDUK SISI 20 kV

GUNAKAN TESTER TEGANGAN MENENGAH


UNTUK
MEMASTIKAN
BAHWA
PADA
PERALATAN SUDAH TIDAK ADA TEGANGAN

MASUKKAN PMS TANAH (DI GI SISI 20 kV)

PASANG RAMBU-RAMBU PADA PERBATASAN


ANTARA DAERAH BERBAHAYA DAN DAERAH
AMAN

PASANG PENGAMAN TAMBAHAN PADA


PERALATAN YANG MEMUNGKINKAN TERJADI
PERGERAKAN (PISAU-PISAU PMS/LBS/PTS
YANG TERBUKA DLL),YAITU DENGAN :
* SEKAT-SEKAT ISOLASI / PARTISI
* SELUBUNG ISOLASI

LAKUKAN PENGAWASAN PEKERJAAN DAN


PENGAWASAN KESELAMTAN PERSONIL.

PASANG
GROUNDING
LOKAL
PADA
PERALATAN YANG AKAN DIKERJAKAN

PENGUNCIAN PEMISAH
(LBS/PTS)

PENGETESAN
TEGANGAN
PENTANAHAN

PEMASANGAN RAMBU
DAN
PENGAMAN TAMBAHAN

PELAKSANAAN
PEKERJAAN

8. DAERAH BERBAHAYA (DANGER ZONE) :


Tempat / daerah di sekitar peralatan (bagian) bertegangan yang batasnya
tidak boleh dilanggar

9. JARAK AMAN (SAFETY DISTANCE) :


Jarak dimana orang dapat bekerja dengan aman dari bahaya yang dapat
ditimbulkan oleh peralatan (bagian) yang bertegangan

DAERAH BERBAHAYA & JARAK AMAN

BAGIAN BERBAHAYA
BAGIAN BERTEGANGAN

JARAK AMAN

PENTANAHAN

BAGIAN BERBAHAYA

JARAK AMAN
BAGIAN TEGANGAN

PENTANAHAN

10. JARAK MINIMUM AMAN KERJA MENURUT PUIL 2000


TEGANGAN U
(ANTARA FASE DAN BUMI)
DALAM kV

JARAK AMAN MINIMUM


(cm)

50

12

60

20

75

36

100

11. FORMULIR - FORMULIR YANG DIGUNAKAN (DOKUMEN K3)


FORMULIR 1 BERIKUT LAMPIRAN
FORMULIR 2
FORMULIR 3
FORMULIR 4
FORMULIR 5
FORMULIR 6
FORMULIR 7

12. PERALATAN KESELAMATAN KERJA


(ALAT PELINDUNG DIRI) YANG DIBUTUHKAN UNTUK PEKERJAAN
BIDANG DISTRIBUSI:
Shackel stock (tongkat hubung)
Alat pentanahan portable (grounding lokal)
Tester tegangan
Bangku isolator
Rambu-rambu pengaman / tanda-tanda peringatan
Topi pengaman (helm)
Pakaian kerja

Sarung tangan
Sarung tangan tahan tegangan / berisolasi
Sarung tangan untuk pemeliharaan batere (di gardu induk)
Kaca mata pengaman
Sabuk pengaman
Sepatu panjat
Sepatu kerja biasa
Sepatu tahan tegangan / berisolasi
Respirator (masker hidung)
Jas hujan

Anda mungkin juga menyukai