Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MAKALAH

HARGA POKOK PROSES BAGIAN II


KONSEP YANG DIPERLUAS

Disusun Oleh :
Kelompok 3

Widi Fatimah Azzahra (A21115042)


Sabrina Magfirah Ibrahim (A21115310)
Fitri (A21115526)
Fang Jianwen (A21115802)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIERSITAS HASANUDDIN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmatNya kita dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Harga Pokok
Proses Bagian II Konsep Yang Diperluas ini dengan baik. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah akuntansi biaya. Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 31 Oktober 2016

Kelompok 3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

keuangan yang baik, sangat membantu manajemen dalam melakukan pengambilan


keputusan keputusan penting bagi kemajuan perusahaan atau organisasi yang
dipimpin. Dalam rangka menyiapkan laporan keuangan yang baik, maka diperlukan
kemampuan yang mumpuni dari jajaran manajemen dalam melakukan perhitungan
biaya-biaya yang terkait. Salah satu sistem perhitungan biaya tersebut adalah
perhitungan biaya berdasarkan proses.
Perhitungan biaya dalam proses atau process costing termasuk dalam salah satu
desain sistem yang penting dalam pembuatan laporan keuangan, sehingga laporan
tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi yang akurat oleh
manajemen demi menentukan keputusan keputusan penting bagi kemajuan
perusahaan. Bagi perusahaan / industri yang memproduksi produk yang homogen
(sejenis) secara terus menerus, perhitungan biaya dalam proses atau process costing
menjadi alternatif yang efektif dalam menentukan harga pokok penjualan.
Metode harga pokok proses merupakan metode pengumpulan biaya produksi yang
digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara massa.
Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka
waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya
produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari
proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.
Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik metode Harga PoKok Proses, yaitu :
1. Pengumpulan biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi.
2. Perhitungan HPP per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang
dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang
dihasilkan selama periode yang bersangkutan.
3. Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung seringkali tidak
diperlukan.
4. Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari biaya produksi selain biaya
bahan baku dan biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja (baik yang
langsung maupun tidak langsung). BOP dibebankan berdasarkan biaya yang
sesungguhnya terjadi.
Harga Pokok proses pada umumnya menggunakan metode Harga Pokok Proses-Tanpa
Memperhitungkan Persediaan Produk Dalam Proses Awal

a. Metode Harga Pokok Proses pada Perusahaan yang produknya diolah melalui 1
Departemen Produksi
b. Metode Hara Pokok Proses pada Perusahaan yang produknya diolah melalui 1
Departemen Produksi
c. Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Dalam Proses terhadap. Perhitungan Harga
Pokok Produksi per satuan, dengang anggapan :
1. Produk Hilang Awal Proses
2. Produk Hilang Akhir Proses

Apabila pada awal periode terdapat persediaan awal barang dalam proses maka timbul
masalah untuk menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini tiimbul karena persediaan
barang dalam proses tersebut telah mempunyai harga pokok yang berasal dari periode
sebelumnya. Ada tiga metode dalam penyelesaiannya, yaitu ata-rata, FIFO.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana menghitung harga pokok proses dengan metode rata-rata ?
2. Bagaimana menghitung harga pokok proses dengan metode FIFO ?
3. Bagaimana menghitung harga pokok proses dengan metode LIFO ?
4. Kemukakan kasus-kasus khusus dalam perhitungan Harga Pokok Proses ?

1.3 Tujuan Penulisan

Memahami perhitungan Harga Pokok Proses dengan metode rata-rata, FIFO, LIFO, dan
khasus-khasus Khusus dalam perhitungan Harga Pokok Proses.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Metode harga pokok rata-rata

Perlakuan produk dalam proses awal dengan metode harga pokok rata-rata memiliki
karakteristik sebagai berikut:

(1) Setiap elemen harga pokok produk dalamproses awal digabungkan dengan elemen
biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.

(2) Oleh karena setiap elemen haraga pokok produk dalam proses digabungkan dengan
biaya periode yang bersangkutan, harga pokok produk dalam proses awal harus dipecah
kembali ke dalam setiap elemen biaya.

(3) Besarnya produksi ekuivalen dapat dihitung sebesar jumlah produk selesai ditambah
jumlah produk dalam proses akhir.

(4) Besarnya harag pokok satuan untuk setiap elemen biaya dihitung dengan cara
membagi jumlah total elemen biaya yang bersangkutan setelah digabung jumlah
produksi ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.

(5) Tidak dibedakan asal dari produk selesai dan produk dalam proses akhir apakah dari
produk dalamproses awal atau dari produk yang baru dimasukkan dalam proses.
Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam proses awal ditambahkan dengan
biaya produksi yang dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit ekuivalensi
produk untuk menghasilkan harga pokok rata-rata tertimbang.
Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama
merupakan harga pokok kumulatif,yaitu merupakan penjumlahan harga pokok dari
departemen satu ditambahkan dengan departemen berikutnya yang bersangkutan
Proses Pemberlakuan Metode Rata-rata

A. Di departemen Pertama :
Dihitung total biaya untuk masing-masing jenis biaya produksi, yaitu : biaya
bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik dengan cara biaya yang
melekat pada persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya-biaya
periode berjalan.
Dihitung jumlah unit ekuivalen produksi yang dihasilkan dalam periode yang
bersangkutan : Barang jadi (yang ditransfer ke departemen berikutnya) ditambah
barang dalam proses akhir menurut unit ekuivalen. Harga pokok rata-rata
kemudian dihitung berdasarkan total biaya dibagi jumlah unit ekuivalen.
B. Di departemen Lanjutan :
1. Dihitung harga pokok rata-rata yang berasal dari departemen sebelumnya. Harga
pokok tersebut terdiri dari : Harga pokok persediaan awal dan harga pokok yang
diterima pada periode yang bersangkutan.
2. Dihitung harga pokok rata-rata per satuan yang ditambahkan dalam departemen
yang bersangkutan.
3. Menghitung harga pokok rata-rata per satuan di departemen yang bersangkutan
dengan cara : Harga pokok rata-rata dari departemen yang mendahului ditambah
harga pokok rata-rata di departemen yang bersangkutan.

Penerapan Metode Rata-rata

Contoh Kasus

Dalam laporan ini, persediaan barang dalam proses akhir bulan Januari dicantumkan
sebagai persediaan barang dalam proses awal bulan Februari. Dengan mengambil data
dari laporan biaya prosuksi bulan Januari, maka data untuk persediaan barang dalam
proses awal bulan Februari adlah sebagai berikut.

Departemen Pemotongan Departemen Perakitan

Jumlah unit dalam proses awal 8.00 4.


periode 0 000
Biaya dari departemen
sebelumhya
7.600.00 12.240.
Bahan baku 0 000
4.360.00 3.408.
Tenaga kerja langsung 0 000
4.080.00 3.144.
Overhead pabrik 0 000
Jumlah biaya 16.040.00 18.792.
0 000

Data tersebut diatas dari PT RATIH selanjutnya akan digunakan dalam penyusunan
laporan biaya produksi bulan Februari untuk kedua departemen produksi, yaitu
departemen pemotongan dan departemen perakitan.

Dalam ilustrasi mengenai laporan biaya produksi ini, diasumsikan bahwa unit yang
hilang berada dalam batas toleransi yang normal dan biaya dari unit yang hilanh tersebut
dibebankan kepada semua unit produksi yang selesai pada departemen tersebut.

Berikut merupaka laporan biaya produksi departemen pemotongan.

PT RATIH
Departemen Pemotongan Laporan
Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang
Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat
8.000
penyelesaian : bahan baku 100 %, TK dan BOP 50%
Unit yang diamsukkan dalam periode ini 30.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 38.000
B. Pertanggunjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 31.000
Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan
baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 7.000
pabrik 60%)
Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan
38.000

BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus
Total per Unit
dipertanggungjawabkan:
Barang dalam proses awal periode
Bahan baku Rp7.600.000
4.360.00
Tenaga kerja langsung
0
4.080.00
Overhead pabrik
0
Biaya yang ditambakan dalam peiode ini
32.300.00
Bahan baku
0 Rp1.050
35.240.00 1.1
Tenaga kerja langsung
0 25
33.232.00 1.0
Overhead pabrik
0 60
Jumlah biaya yang dipertanggungjawabkan Rp116.812.000 Rp3.235
B. Pertanggungjawaban biaya
Biaya ditrasnfer ke departemen berikut
(31.000x Rp 3.235) Rp100.285.000
Barang dalam proses akhir periode:
Bahan baku (7.000x100%x Rp
1.050) Rp7.350.000
Tenaga kerja langsung 4.725.00
(7.000x60%xRp 1.125) 0
Overhead pabrik (7.000x60%x Rp 4.452.00
1.060) 0 Rp16.527.000
Jumlah biaya yang
dipertanggungjawabkan Rp116.812.000

C. Perhitungan biaya per unit


Produksi ekuivalen
Bahan baku 31.000+(100%x7.000) 38.000
Tenaga kerja langsung dan overhead
31.000+(60%x7.000) 35.200
pabrik
Biaya per unit:

Bahan baku (Rp 7.600.000 + Rp 32.300.000):38.000 = Rp 1.050

Tenaga kerja langsung(Rp 4.360.000 + Rp35.240.000):35.200 = Rp 1.125

Overhead pabrik (Rp 4.080.000 + Rp 33.232.000): 35.200 = Rp 1.060

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode rata-rata tertimbang


disajikan seperti tabel berikut ini.

PT RATIH
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang
Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus di pertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian):
Tenaga kerja langsung dan ov. pabrik 60% 4.000
Unit yang diterima dari dept. Sebelumnya 31.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 35.000
B. Pertanggungjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 30.000
Unit dalam proses akhir awal periode (tingkat
penyelesaina):
tenaga kerja langsung dan ov. Pabrik 5.000
Jumalh produksi yang harus di pertanggungjawabkan:
35.000

BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan: Total per Unit
Biaya dari departemen sebelumnya
Barang dalam proses awla periode
12.240.000
( 4.000 unit)
Diterima selama periode berjalan
100.285.000
(31.000 unit)
Jumlah35.000 unit 112.525.000 Rp3.215
Biaya yang ditambahkan
Barang dalam proses awal periode
Tenaga kerja langsung 3.408.000
Overhead pabrik 3.144.000
Barang yang ditambahkan selama periode berjalan
Tenaga kerja langsung 43.717.000 1.450
Overhead opabrik 40.081.000 1.330
Jumlah biaya yang ditambahkan 90.350.000 2.780
Jumlah biaya yang harus
202.875.000 Rp5.995
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya:
Biaya ditrasfer ke persediaan barang jadi
179.850.000
(3.000x 5.995)
Barang dalam proses akhir periode
Biaya dari departemen sebelumnya
16.075.000
(5.000x3.215)
Tenaga kerja langsung (5.000x50%x1.450) 3.625.000
Overhead pabrik (5.000x50%x1.330) 3.325.000 23.025.000
Jumlah biaya dipertanggungjawabkan 202.875.000
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen:
Tenaga kerja langsung dan overhead pabrik
32.500
30.000+(50%x5.000)
Biaya per unit
Tenaga kerja langsung (Rp 3.408.000+Rp
1.450
43.717.000):32.500
Overhead pabrik (Rp 3.144.000+Rp
1.330
40.081.000):32.500
2. Metode First In First Out (FIFO)

Perlakuan produk dalam proses awal dengan metode harga pokok pertama masuk
pertama keluar memiliki karakteristik sebagai berikut:

(1) Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk dalam proses awal menjadi
produk selesai, baru kemudian untuk mengolah produk yang baru masuk proses yang
sebagian akan menjadi bagian produk selesai yang disebut current production dan
sisanya merupakan produk dalam proses akhir periode.

(2) Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal tidak digabungkan degan
elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.

(3) Harga pokok produk dalam proses pada awal periode tidak perlu dipecah kebali
menurut elemennya ke dalam setiap elemen biaya.

(4) Besarnya produksi ekuivalen adalah sebesar jumlah produk dalam proses awal
dikalikan tingkat penyelesaian yang masih diperlukan untuk menyelesaikan menjadi
produk selesai, ditambah produksi current atau produk yang baru masuk proses
produksi tersebut dan dapat diselesaikan pada periode itu juga, ditambah produk dalam
proses akhir dikalikan tingkat penyelesaian yang sudah dinikmati.

(5) Besarnya harga pokok persatuan setiap elemen biaya dihitung sebesar elemen biaya
yang terjadi pada periode yang bersangkutan dibagi jumlah produksi ekuivalen dari
elemen biaya yang bersangkutan.

(6) Harga pokok produk selesai dipisahkan menjadi dau golongan, pertama,produk
selesai yang berasal dari produk dalam proses awal, kedua, produk selesai yang berasal
dari produksi current.
Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali
digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam proses,
baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang dimasukkan dalam
proses periode sekarang.
Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat penyelesaian persediaan
produk dalam proses awal harus diperhitungkan.
Dalam departemen setelah departemen I, produk telah membawa harga pokok dari
periodesebelumnya digunakan pertama kali untuk menentukan harga pokok produk
yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.
Proses Pemberlakuan Metode FIFO

Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk dalam proses awal


menjadi produk selesai.
Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal tidak digabungkan dengan
elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.
Harga pokok produk dalam proses awal periode tidak perlu dipecah kembali
menurut elemennya ke dalam setiap elemen biaya.
Produksi ekuivalen = (Produksi dalam proses awal x tingkat penyelesaian yang
dibutuhkan) + Produksi Current + (Produk dalam proses akhir x Tingkat
penyelesaian yang sudah dinikmati).
Besarnya harga pokok satuan setiap elemen biaya dihitung sebesar elemen biaya
yang terjadi pada periode yang bersangkutan dibagi jumlah produksi ekuivalen
dari elemen biaya yang bersangkutan.

Penerapan Metode FIFO

Contoh kasus

Melanjutkan contoh PT RATIH dan juga menggunakan data yang sama


dengan metode rata-rata tertimbang, laporan biaya produksi dari departemen
pemotongan dengan menggunakan metode FIFO. Tabel laporan biaya
produksi departemen pemotongan metode FIFO disajikan seperti tabel berikut
ini.

PT RATIH
Departemen Pemotongan
Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO
Bulan Februari 2008

PRODUKSI DALAM UNIT


A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian : bahan
8.000
baku 100 %, TK dan BOP 50%
Unit yang dimasukkan dalam periode ini 30.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 38.000

B. Pertanggunjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 31.000
Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan baku 100%,
tenaga kerja langsung dan overhead pabrik 60%) 7.000

Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan 38.000


BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan: Total per Unit
Barang dalam proses awal periode Rp16.040.000
Biaya yang ditambakan dalam peiode ini
Bahan baku 32.300.000 Rp1.077
Tenaga kerja langsung 35.240.000 1.129
Overhead pabrik 33.232.000 1.065
Jumlah biaya yang ditambahkan Rp100.772.000
Jumlah biaya yang
Rp116.812.000 Rp3.271
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya
Barang yang ditransfer ke dept. Berikutnya
Barang dalam proses awal periode:
Barang periode yang lalu Rp16.040.000
Biaya tenaga kerjayang ditambahkan
(8.000x50%xRp 1.129) 4.516.000
Biaya overhead pabrik yang ditambahkan
(8.000x50%x Rp 1.065 4.260.000
Jumlah Rp24.816.000

Produk selesai periode berjalan (23.000xRp


75.242.200
3.271)
Jumlah biaya yang ditransfer ke dep.
Rp100.058.200
Berikutnya
Barang dalam proses akhir periode
Bahan baku (7.000x100%xRp 1.077) Rp7.539.000
Tenaga kerja langsung (7.000x60%xRp
4.741.800
1.129)
Overhead pabrik (7.000x60%xRp 1.065) 4.473.000 Rp16.753.800
Jumlah biaya yang
Rp116.812.000
dipertanggungjawabkan

C. Perhitungan biaya per unit


Produksi ekuivalen Bahan baku TKL & BOP

Unit yang selesai dan ditransfer 31.000 31.000


Unit dalam proses awal periode (8.000) (8.000)
Unit yang selesai dari produksi periode
23.000 23.000
berjalan
Barang dalam proses awal periode - 4.000
Barang dalam proses akhir periode 7.000 4.200
Jumlah 30.000 31.200
Biaya per unit:
Bahan baku (Rp 32.300.000:30.000) Rp1.077
Tenaga kerja langsung (Rp
Rp1.129
35.240.000:31.200)
Overhead pabrik (Rp 33.232.000:31.200) Rp1.065
*(23.000 x Rp 3.271) Rp75.233.000
Selisih pembulatan 9.200
Produksi yang selesai periode ini Rp75.242.200

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode FIFO disajikan seperti tabel
berikut ini.

PT RATIH
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO
Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggugjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian:
bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 4.000
pabrik 60%)
Unit yang dimasukkan dalam periode ini 31.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 35.000
B. Pertanggungjawaban produksi
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 30.000
Unit dalam proses akhir periode (tingkat penyelesaian:
bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 5.000
pabrik 50%)
Jumlah unit dipertanggungjawabkan 35.000
BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan Total per Unit
Barang dalam proses awal periode Rp18.792.000
Biaya dari departemen sebelumnya diterima
Rp100.058.200 Rp3.228
dalam periode berjalan (31.000 unit)
Biaya yang ditambah dalam periode ini:
Tenaga kerja langsung Rp43.717.000 Rp1.452
Overhead pabrik 40.081.000 1.332
Jumlah biaya yang ditambahkan Rp83.798.000 Rp2.784
Jumlah yang harus
Rp202.648.200 Rp6.012
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya:
Biaya yang ditransfer ke persediaan
barang jadi:
Barang dalam proses awal periode:
Biaya periode yang lalu 18.792.000
Biaya tenaga kerja langsung yang
2.323.200
ditambahkan (4.000x40%xRp 1.425)
biaya overhead pabrik yang
2.131.200
ditambahkan (4.000x40%x 1.332)
Jumlah Rp 23.246.400
Produksi selesai periode berjalan
156.301.800* 179.548.200
(26.000xRp 6.012)
Barang dalam proses akhir periode
Biaya dari departemen sebelumnya
Rp16.140.000
(5.000xRp. 3.288)
Tenaga kerja langsung (5.000x50%xRp
3.630.000
1.452)
Overhead pabrik (5.000x50%x Rp 1.332) 3.330.000 23.100.000
Jumlah biaya yang
Rp 202.648.200
dipertanggungjawbkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen: TKL & BOP
Unit yang selesai dan ditransfer 30.000
Unit dalam proses awal periode (4.000)
Unit yang selesai dari produksi
26.000
periode berjalan
Barang dalam proses awal periode 1.600
Barang dalam proses akhir periode 2.500
Jumlah 30.100
Biaya per unit:
Tenaga kerja langsung (Rp
Rp1.452
43.717.000: 30.100)
Overhead pabrik (Rp 40.081.000 :
Rp1.332
30.100)
*(26.000x rp 6.012) Rp156.312.000
Selisih pembulatan (10.200)
Produksi yang selesai periode ini Rp156.301.800
3. Metode Last In First Out (LIFO)

Perlakuan produk dalam proses awal dengan metode harga pokok tearakhir masuk
pertama keluar memiliki karakteristik sebagai berikut:

(1) Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk yang baru masuk pada
periode yang bersangkutan, apabila semua produk yang baru masuk proses sudah dapat
diselesaikan kemudian untuk mengolah produk dalam proses awal. Apabila produk yang
baru masuk belum dapat diselesaikan secara keseluruhan berarti terdapat kenaikan
jumlah produk dalam proses pada akhir periode, maka harga pokok produk awal periode
akan diserap oleh harga pokok produk dalam proses akhir periode.

(2) Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal periode tidak perlu
digabungkan dengan setiap elemen biaya yang terjadi pada periode bersangkutan.

(3) Besarnya harga pokok persatuan setiap elemen biaya dihitung dengan cara membagi
elemen biaya tertentu yang terjadi pada periode yang bersangkutan dengan produksi
ekuivalen biaya yang bersangkutan.

(4) Dibedakan asal darri produk selesai atau produk dalam proses akhir dari produk
yang baru masuk proses dengan yang berasal dari produk dalam proses awal.

4. Kasus Kasus Khusus dalam Perhitungan Akuntansi

Adanya Produk Hilang Dalam Proses

Untuk mencatat adanya pengaruh produk hilang selama proses produksi diadakan
pembedaan antara produk hilang dalam proses sebagai berikut :

- Produk Hilang Awal Proses

Dalam hal ini pengaruhnya ke perhitungan harga pokok adalah :

Di departemen Awal :

Produk yang hilang awal tidak dihitung dalam menentukan jumlah unit ekuivalen.

Di Departemen Lanjutan : (dept 2 dst)


Harga pokok dari departemen sebelumnya disesuaikan dengan jumlah satuan
setelah adanya produk hilang.

- Produk Hilang Akhir Proses


Apabila produk hilang terjadi pada akhir proses mempunyai pengaruh
terhadap perhitungan harga pokok produksi untuk departemen awal maupun
lanjutan.
Produk hilang tersebut tetap diperhitungkan dalam unit ekuivalen karena
dianggap telah ikut menyerap biaya-biaya produksi.
Harga pokok produk hilang tersebut diperhitungkan ke harga pokok produk
selesai yang ditransfer dari departemen produksi yang bersangkutan ke
departemen produksi berikutnya.
Adanya Produk Rusak Dalam Proses (Spoiled Goods)

Produk rusak adalah produk yang mutunya tidak sesuai dengan standar mutu yang
telah ditentukan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Adapun perlakuan terhadap produk
rusak adalah :

A. Apabila produk rusak tidak laku dijual maka produk rusak tersebut
diperlakukan sebagai produk hilang akhir proses.
B. Apabila produk rusak mempunyai harga jual maka perlakuan terhadap produk
rusak tersebut sebagai berikut :
Nilai jual produk rusak dicatat untuk mengurangi biaya-biaya produk
pada departemen tempat terjadinya produk rusak tersebut. Dasar
pembagian kepada masing-masing jenis biaya produksi adalah
perbandingan unit ekuivalen maka produk rusak tersebut tetap
diperhitungkan.
Kerugian atas produk rusak (selisih harga pokok dengan harga jual)
dicatat sebagai biaya overhead yang sesungguhnya di departemen tempat
terjadinya produk rusak. Pencatatan ini dipakai apabila biaya overhead
pabrik dibebankan ke produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka.
Niali jual produk rusak dicatat sebagai pendapatan di luar usaha, produk
rusak tetap diperhitungkan dalam unit ekuivalen.

Adanya Produk Cacat Dalam Proses (Defective Goods)


Produk cacat yaitu produk yang kondisinya rusak atau tidak memenuhi ukuran mutu
yang sudah ditentukan, tetapi masih dapat diperbaiki secara ekonomis menjadi produk
yang baik kembali, dalam arti biaya perbaikannya lebih rendah dibandingkan kenaikan
nilai yang diperoleh dengan adanya perbaikan.

Perlakuan produk cacat tergantung penyebab timbulnya produk cacat, yaitu :

A. Produk Cacat Bersifat Normal

Semua biaya perbaikan diperlakukan sebagai elemen biaya produksi dan digabungkan
dengan elemen biaya produksi yang ada pada departemen tersebut

B. Produk Cacat Karena Kesalahan

Perlakan biaya perbaikan tidak boleh dikapitalisasi ke dalam biaya produksi, akan tetapi
harus diperlakukan sebagai elemen rugi produk cacat.

Adanya Tambahan Bahan Setelah Departemen Awal

Meskipun pada umumnya bahan baku dipakai pada departemen awal tetapi adakalanya
bahan baku ditambahkan di departemen lanjutan (departemen 2 dst).

Adapun pencatatan tambahan bahan baku tersebut di departemen lanjutan adalah


sebagai berikut :

A. Apabila tambahan bahan baku tersebut tidak menambah unit produk maka
tambahan bahan baku itu hanya dicatat menambah biaya produk tanpa
mempengaruhi perhitungan unit ekuivalen departemen bersangkutan.
B. Apabila tambahan bahan baku tersebut mengakibatkan bertambahnya unit
produk di departemen yang bersangkutan, maka akan mengakibatkan
diadakannya penyesuaian terhadap harga pokok produksi per satuan dari
departemen sebelumnya.

Adanya Bahan Sisa Proses Produksi (Scrap Matreial)

Adalah bahan baku yang merupakan sisa proses produksi yang tidak dapat dimasukkan
lagi dalam produksi untuk tujuan yang sama, tetapi mungkin dapat digunakan untuk
proses produksi yang berbeda atau dijual kembali dalam suatu jumlah tertentu. Bahan
sisa ini nilai jualnya lebih kecil dibandingkan produk utama.

Adanya Bahan Buangan (Waste Material)

Adalah bagian dari bahan mentah yang tertinggal sesudah proses produksi dan tidak
mempunyai kegunaan untuk dipakai atau dijual kembali. Biaya dalam mengatur bahan
buangan biasanya dibebankan pada kontrol overhead pabrik.

Kalkulasi Biaya Rata - Rata VS Kalkulasi Biaya FIFO

Kalkulas biaya rata - rata dan biaya FIFO masing - masing mempunyai keunggulan
tersendiri. Tidak layaklah untuk menyatakan bahwa metode yang satu lebih sederhana
atau lebih akurat daripada metode lain. Pemilihan salah satu metode itu akan tergantung
seluruhnya pada sikap manajemen mengenai prosedur penentuan biaya yang dapat
memberikan angka - angka yang andal bagi pedoman manajerial.

Perbedaan mendasar antara kedua metode terutama berkaitan dengan perlakuan


terhadap persediaan awal barang dalam proses. Dalam metode rata - rata, biaya
persediaan awal barang dalam proses ditambahkan ke biaya dari departemen
sebelumnya dan ke biaya bahan, pekerja, dan overhead pabrik yang dikeluarkan selama
periode itu. Biaya perunit akan ditentukan dengan membagi biaya - biaya ini dengan
kuantitas produksi ekuivalen. Unit - unit serta biayanya kemudian ditrasfer ke
departemen berikutnya sebagai suatu angka kumulatif.

Dalam metode FIFO, biaya persediaan awal barang dalam proses dicantumkan sebagai
satu angka yang terpisah. Biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan unit - unit
persediaan awal ditambahkan ke biaya tadi. Jumlah kedua biaya ini kemudian ditransfer
ke departemen berikutnya. Unit yang dimulai dan diselesaikan selama periode tersebut
memiliki biaya per unit tersendiri yang lazimnya berbeda dengan biaya per unit lengkap
untuk unit - unit dalam proses. Jadi metode FIFO mengidentifikasi secara terpisah biaya
- biaya per unit.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahsan dapat disimpulkan bahwa metode harga pokok proses merupakan

metode pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah

produknya secara massa.

Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka

waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya

produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari

proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.

Apabila pada awal periode terdapat persediaan awal barang dalam proses maka timbul

masalah untuk menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini tiimbul karena persediaan

barang dalam proses tersebut telah mempunyai harga pokok yang berasal dari periode

sebelumnya. Ada dua metode dalam penyelesaiannya, yaitu rata-rata, dan FIFO.

B. Saran

keuangan yang baik, sangat membantu manajemen dalam melakukan pengambilan


keputusan keputusan penting bagi kemajuan perusahaan atau organisasi yang
dipimpin. Dalam rangka menyiapkan laporan keuangan yang baik, maka diperlukan
kemampuan yang mumpuni dari jajaran manajemen dalam melakukan perhitungan
biaya-biaya yang terkait. Salah satu sistem perhitungan biaya tersebut adalah
perhitungan biaya berdasarkan proses.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/search?

es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&sclient=psyab&q=contoh+soal+harga+pkokpr

oses+dengan+metode+lifo+dan+fifo&oq=contoh+soal+harga+pkokproses+dengan+met

ode+lifo+dan+fifo&gs_l=serp.

https://www.google.com/search?

es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&q=contoh+soal+harga+pokok+proses+dengan

+metode+lifo+dan+fifo&spell=1&sa=X&ei=vddMVIbKIq78gW0xYKQDw&ved=0CB

kQvwUoAA