Anda di halaman 1dari 15

Trigger

Puskesmas Sukamiskin yang berada di lereng gunung Arjuna melaporkan terjadi


peningkatan kasus kematian pada ibu baru melahirkan dan bayi baru lahir. Data laporan
kunjungan pemeriksaan kehamilan ketenaga kesehatan 40%, persalinan pada tenaga
kesehatan 30% dan sisanya pada dukun bersalin. Insiden dalam 6 bulan dilaporkan 3
kematian ibu dari 23 ibu hamil. Prevalensi BBLR selama 1 tahun terahir 5 balita, kematian
bayi pada satu tahun terahir 3. Laporan KUA 60% terjadi usia pernikahan antara 14-16
tahun. Mata pencaharian 80% di lading. Tingkat ekonomi menengah kebawah, dan tingkat
pendidikan 65% SD. Upaya yang sudah dilakukan oleh puskesma antara lain melakukan
pendidikan kesehatan, mengadakan posyandu, mendeteksi ibu hamil resiko tinggi, dan
memotivasi untuk melahirkan di tenaga kesehatan.
SLO :
1 Pengertian dan Cara menghitung AKI dan AKB
2 Faktor Resiko AKI dan AKB
3 Pengertian dan angka Prevalensi, Insiden, Epidemiologi
4 Hubungan Perawatan Prakonsepsi, Prenatal, Intranatal, Antenatal, Postnatal dalam
Mempengaruhi AKI Dan AKB
5 Upaya menurunkan tingkat AKI dan AKB

A. Pengertian dan Cara menghitung AKI dan AKB


Angka kematian bayi dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi antara saat
setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun (BPS).

Jumlah Kematian bayi di bawah umur 1 tahun selama tahun x


AKB=X 1000
Jumlah Kelahiran selama tahun x

Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun
waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau
tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau
pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll
(Budi, Utomo. 1985).
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per
100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas
umum. Dengan cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal per 100.000
kelahiran.
Rumus
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan
karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di
daerah tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu, di
daerah tertentu.
Konstanta =100.000 bayi lahir hidup.
Contoh
Berdasarkan data SDKI 2002 - 2003, Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortality
Ratio(MMR) di Indonesia untuk periode tahun1998-2002, adalah sebesar 307 per
100.000 kelahiran hidup.
Keterbatasan
AKI sulit dihitung, karena untuk menghitung AKI dibutuhkan sampel yang besar,
mengingat kejadian kematian ibu adalah kasus yang jarang. Oleh karena itu kita
umumnya dignakan AKI yang telah tersedia untuk keperluan pengembangan
perencanaan program.

B. Faktor Resiko AKI dan AKB


Depkes RI membagi faktor faktor yang sebagai berikut :
Faktor Non Medik
Faktor non medik yang dapat meningkatkan Angka Kematian pada Ibu yaitu :
Ketidakmampuan sebagian ibu hamil untuk membayar biaya transport dan
perawatan di rumah sakit.
Ketidakberdayaan sebagian besar ibu hamil di pedesaan dalam pengambilan
keputusan untuk dirujuk.
Kurangnya kesadaran ibu untuk mendapatkan pelayanan antenatal.
Terbatasnya pengetahuan ibu tentang bahaya kehamilan risiko tinggi.
Faktor medik
a Faktor empat terlalu, yaitu :
Usia ibu pada waktu hamil terlalu muda (kurang dari 20 tahun)
Usia ibu pada waktu hamil terlalu tua (lebih dari 35 tahun)
Jumlah anak terlalu banyak (lebih dari 4 orang)
Jarak antar kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun)
b Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang merupakan penyebab langsung
kematian maternal, yaitu :
Perdarahan pervaginam, khususnya pada kehamilan trimester ketiga, persalinan
dan pasca persalinan.
Infeksi.
Keracunan kehamilan.
Komplikasi akibat partus lama.
Trauma persalinan.
c Beberapa keadaan dan gangguan yang memperburuk derajat kesehatan ibu selama
hamil, antara lain :
Kekurangan gizi dan anemia.
Bekerja (fisik) berat selama kehamilan.
Selain itu AKB dapat disebabkan oleh BBLR. Bayi lahir dengan berat badan lahir
rendah merupakan salah satu faktor risiko yang mempunyai kontribusi terhadap
kematian bayi khususnya pada masa perinatal selain itu BBLR dapat mengalami
gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya sehingga
membutuhkan biaya perawatan yang tinggi.
Faktor pelayanan kesehatan
Faktor pelayanan kesehatan yang belum mendukung upaya penurunan kesakitan dan
kematian maternal antara lain berkaitan dengan cakupan pelayanan KIA, yaitu :
Belum mantapnya jangkauan pelayanan KIA dan penanganan kelompok
berisiko.
Masih rendahnya (kurang lebih 30%) cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan.
Masih seringnya (70 80%) pertolongan persalinan yang dilakukan di rumah,
oleh dukun bayi yang tidak mengetahui tanda tanda bahaya.

C. Prevalensi, Insiden dan Epidemiologi


Prevalensi adalah jumlah orang dalam populasi yang menderita suatu penyakit atau
kondisi pada waktu tertentu; pembilang dari angka ini adalah jumlah kasus yang ada
dengan kondisi pada waktu tertentu dan penyebutnya adalah populasi total (Dorland,
2002). Prevalensi adalah bagian dari studi epidemiologi yang membawa pengertian
jumlah orang dalam populasi yang mengalami penyakit, gangguan atau kondisi tertentu
pada suatu tempo waktu dihubungkan dengan besar populasi dari mana kasus itu
berasal. Prevalensi sepadan dengan insidensi dan tanpa insidensi penyakit maka tidak
akan ada prevalensi penyakit. Insidensi merupakan jumlah kasus baru suatu penyakit
yang muncul dalam satu periode waktu dibandingkan dengan unit populasi tertentu
dalam periode tertentu.
Insidensi adalah gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu waktu tertentu di suatu kelompok masyarakat. Angka insidensi
(Insiden rate) adalah jumlah kasus baru penyakit tertentu yang dilaporkan pada periode
waktu dan tempat tertentu dibagi dengan jumlah penduduk dimana penyakit tersebut
berjangkit. Biasanya dinyatakan dalam jumlah kasus per 1000 kasus atau per 100.000
penduduk per tahun.
Epidemiologi adalah ilmu yang memepelajari tentang distribusi penyakit dan
determinannya pada manusia (MacMahon & Pugh, 1970). Distribusi penyakit dapat
dideskripsikan menurut orang (usia, jenis kelamin, ras), tempat (penyebaran geografis),
dan waktu, sedangkan pengkajian determinan penyakit mancakup penjelasan pola
distribusi penyakit tersebut menurut faktor-faktor penyebabnya.
Istilah Epidemiologi berasal dari kata epi (atas), demos (rakyat, penduduk), dan
logos (ilmu), sehingga epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
tentang hal hal yang terjadi/ menimpa penduduk.
Menurut data yang dikeluarkan oleh UNFPA, WHO, UNICEF dan Bank Dunia
menunjukkan bahwa satu wanita meninggal dunia tiap menitnya akibat masalah
kehamilan. Rasio kematian ibu (jumlah kematian tiap 100,000 kelahiran hidup) telah
menurun secara global pada laju kurang dari 1%. Jumlah kematian wanita hamil atau
akibat persalinan secara keseluruhan juga menunjukkan penurunan yang cukup berarti
antara tahun 1990-2005. pada tahun 2005, 536,000 wanita hamil meninggal dunia
dibandingkan dengan tahun 1990 yang sebanyak 576,000.
Angka kematian ibu di Negara maju berkisar antara 3-5 per 100.000 kelahiran hidup,
sedangkan di Negara berkembang berkisar antara 50-800 per 100.000 kelahiran hidup.
Negara dengan jumlah AKI terbesar menurut data WHO tahun 2004 adalah India,
Nigeria, Pakistan, Republik Kongo dan Ethiopia, Tanzania, Afganistan, Banglades,
Angola, Cina dan Kenya, Indonesia dan Uganda. Semua Negara tersebut menyumbang
67% dari seluruh kematian ibu di dunia (WHO, 2004). Angka kematian ibu di Indonesia
berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 sebesar 307
per 100.000 kelahiran hidup.

D. Hubungan Perawatan Prakonsepsi, Prenatal, Intranatal, Antenatal, Postnatal


dalam Mempengaruhi AKI Dan AKB
Perawatan Prakonsepsi
Perawatan prakonsepsi adalah merawat kesehatan sebelum hamil. Tujuan perawatan
prakonsepsi adalah untuk memeriksa setiap potensi resiko untuk ibu dan bayi selama
kehamilan dan untuk mengatasi masalah medis yang mungkin dimiliki sebelum hamil.
Pengetahuan mengenai kesehatan diri dan suami sangat perlu bagi pasangan yang
menghendaki kehamilan. Merubah gaya hidup untuk jangka waktu tertentu dapat
memperbaiki status kesehatan, mempermudah terjadinya proses kehamilan dan
menurunkan resiko abortus atau kelahiran bayi cacat.
Hal hal yang perlu memperoleh perhatian adalah :

o Riwayat reproduksi: ini mencakup kehamilan sebelumnya, riwayat menstruasi,


penggunaan kontrasepsi, hasil tes Pap smear sebelumnya, dan setiap penyakit
menular seksual atau infeksi vagina di masa lalu.

o Sejarah bedah: punya operasi, transfusi, dan rawat inap.

o Diet Makanan sehari-hari yang segar dan menghindari sejauh mungkin konsumsi
makanan olahan.
o Berat badan Berat badan kurang akan menyebabkan infertiliti dan lahirnya bayi
yang kecil atau memiliki abnormalitas. Berat berlebihan dapat meningkatkan resiko
kehamilan. Kehamilan hendak terjadi pada berat badan yang ideal. Diet ketat dapat
mengurangi asupan sejumlah nutrien penting.
o Gaya Hidup
Olah raga. Olah raga secara teratur dapat memperbaiki status kesehatan
Merokok dan alcohol. Hentikan kebiasaan merokok baik diri sendiri atau pasangan
untuk memperbaiki status reproduksi. Menghentikan kebiasaan minum alkohol
akan menyelamatkan bayi dari pengaruh yangtidak baik bagi kehamilan.
Kafein. Sebelum hamil, dokter merekomendasikan membatasi kafein tidak lebih
dari 300 miligram per hari. Atau setara dua cangkir kopi. Kafein bukan hanya pada
kopi dan teh saja juga terdapat dalam cokelat, beberapa minuman ringan, dan obat-
obatan tertentu .
o Melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi jantung, paru-paru, payudara,
tiroid, dan perut . pemeriksaan panggul dan Pap smear juga dapat dilakukan .
o Test Laboratorium : Untuk mengetahui kondisi diskrining mencakup rubella ,
hepatitis , HIV , sifilis , dan lain-lain sesuai indikasi .Diskusikan bagaimana untuk
memetakan siklus menstruasi untuk membantu mendeteksi ovulasi dan menentukan
waktu yang paling mungkin untuk hamil
o Memeriksa vaksinasi- Jika px tidak dilindungi terhadap rubella atau cacar air ,
dokter anda dapat merekomendasikan vaksin yang tepat dan menunda upaya untuk
hamil setidaknya satu bulan .
o Diskusikan konseling genetik - Konseling genetik dapat membantu Anda
memahami kesempatan Anda memiliki anak dengan cacat lahir . Ini mungkin
disarankan untuk ibu yang lebih tua dan orang dengan riwayat keluarga masalah
genetik , cacat lahir , atau retardasi mental.
o Obat Hanya mengkonsumsi obat yang benar benar diperlukan dan aman bagi
kehamilan. Bila anda secara regular meminum obat yang diberi atas petunjuk
dokter, tanyakan apakah jenis obat harus diganti bila anda sewaktu waktu menjadi
hamil. Dalam beberapa kasus, mungkin sudah saatnya mengganti obat obatan yang
kita konsumsi dengan obat yang lebih aman untuk membantu mencegah cacat lahir.
o Lingkungan yang berbahaya Usahakan untuk menghindari paparan polusi
udara akibat lalu lintas jalan raya, bahan kimia dan polutan lain. Sejumlah polutan
berkaitan erat dengan abortus dan kelainan kongenital.
o Psikologis dan finansial.
o Kontrasepsi Hindari penggunaan kontrasepsi hormonal sekurang-kurangnya
selama 3 bulan sebelum menghendaki kehamilan.
o Infeksi - Disarankan untuk mengetahui status imunologi terhadap Rubella sebelum
hamil dan mendapatkan imunisasi bila imunitas terhadap Rubella sangat rendah.
Bila pasien mengkhawatirkan menderita penyakit menular seksual, lakukan
pemeriksaan dan berikan terapi secara memadai.
Pemeriksaan Prenatal
Tujuan asuhan prenatal
Memantau kemajuan Kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang bayi.
Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan
bayi.
Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin
terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan
pembedahan.
Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian asi eksklusif.
Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat
tumbuh kembang secara normal.
Pemeriksaan Antenatal
Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu menghadapi
persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi
secara wajar (Manuaba, 2008). Menurut Prawiroharjo (2005), pemeriksaan
kehamilanmerupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan
ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka
post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental.
Tujuan :
a Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin.
b Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu dan
bayi.
c Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil,
termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibumaupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif.
f Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat
tumbuh kembang secara normal.
g Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Depkes RI (2004) tujuan Antenatal Care(ANC) adalah untuk menjaga agar
ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan baik dan
selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.Menurut Muchtar (2005) tujuan Antenatal
Care(ANC) adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak
selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang
sehat.
Tujuan Khusus
a Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin diderita sedini mungkin.
b Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.
c Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana,
kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi. Menurut Wiknjosastro (2005) tujuan
Antenatal Care(ANC) adalah menyiapkan wanita hamil sebaik-baiknya fisik dan
mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa
nifas, sehingga keadaan mereka pada post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik
tetapi juga mental.
Pemeriksaan Intranatal
Persalianan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari
uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan
cukup bulan ( setelah 37 minggu ) tanpa disertai adanya penyulit ( APN, 2007: 37).
Perubahan fisiologis: persalinan
a Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama terjadinya kontraksi (sistolik rata-rata naik, darah
kembali normal pada level sebelum pesalinan. Rasa sakit, takut dan cemas juga akan
meningkat tekanan darah).
b Metabolisme
Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara berangsur
disebabkan karena kecemasan dan aktifitas otot skeletal. Peningkatan ini ditandai
dengan adanya peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, kardiak output, pernafasan dan
cairan yang hilang.
c Suhu tubuh
Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka suhu tubuh sedikit meningkat selama
persalinan, terutama selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan ini jangan
melebihi 0,50C sampai dengan 10C.
d Detak jantung
Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, detak jantung secara dramatis naik
selama kontraksi. Antara kontraksi, detak jantung sedikit meningkat dibandingkan
sebelum persalinan.
e Pernafasan
Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka sedikit terjadi peningkatan tidak normal
dan bisa menyebabkan alkalosis.
f Perubahan pada ginjal
Poliuria sering terjadi selama persalinan, mungkin disebabkan oleh peningkatan
kardiak output, peningkatan filtrasi glomerullus dan aliran plasma ginjal. Proteinuria
yang sedikit di anggap biasa dalam persalinan.
g Perubahan gastrointestinal
Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat secara substansial berkurang banyak
sekali selama pesalinan. Selain itu, pengeluaran getah lambung berkurang,
menyebabkan aktifitas pencernaan hampir berhenti, dan pengosongan lambung
menjadi sangat lamban. Cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam
tempo yang biasa. Mual dan muntah biasa terjadi sampai ibu mencapai akhir kala.
h Perubahan hematologi
Hemoglobin meningkat sampai 1,2 gram / 100 ml selama persalinan dan akan
kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah paska bersalin kecuali
ada perdarahan postpartum. (Salmah,2006).
Perawatan Postnatal
Ada kebiasaan atau kepercayaan bahwa wanita bersalin baru boleh keluar rumah setelah
habis nifas yaitu 40 hari. Bagi wanita dengan persalinan normal ini baik dan dilakukan
pemeriksaan kembali 6 minggu setelah persalinan normal bagi wanita dengan
persalinan luar biasa harus kembali untuk control seminggu kemudian. Pemeriksaan
post natal antara lain meliputi :
a Pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi, keluhan dan sebagainya.
b Keadaan umum : suhu badan, selera makan, dan lain-lain.
c Payudara : ASI dan putting susu.
d Dinding perut apakah ada hernia
e Keadaan perineum
f Kandung kemih, apakah ada sistokel dan uretrokel.
g Rectum, apakah ada rektrokel dan pemeriksaan tonus muskulus spingter ani
h Adanya flour albus
i Keadaan serviks, uterus dan adneksa.

E. Upaya Menurunkan tingkat AKI dan AKB


- Upaya menurunkan AKI
Melihat kondisi AKI, disusunlah suatu gerakan yang disebut dengan Safe
Motherhood. Gerakan ini pertama kali dicanangkan pada International Conference
on Safe Motherhood, Nairobi, 1987.3 Program ini sendiri telah dilaksanakan di
Indonesia sejak tahun 1988 dengan melibatkan secara aktif berbagai sector
pemerintah dan non-pemerintah, masyarakat, serta dukungan dari berbagai badan
internasional.
Empat pilar Safe Motherhood
a. Keluarga Berencana. KB dapat menurunkan angka kematian ibu karena dapat
merencanakan waktu yang tepat untuk hamil, mengatur jarak kehamilan,
menentukan jumlah anak. Sehingga tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan,
4 terlalu, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering hamil, dan terlalu
banyak anak.
b. Pelayanan antenatal
Pelayanan antenatal memiliki tujuan untuk:
h Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang janin.
i Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu
dan bayi.
j Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama
hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan
pembedahan.
k Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat
ibumaupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
l Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
Eksklusif.
m Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
dapat tumbuh kembang secara normal.
n Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Menurut Depkes RI (2004) tujuan Antenatal Care(ANC) adalah untuk menjaga
agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya, persalinan dan nifas dengan
baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.Menurut Muchtar (2005)
tujuan Antenatal Care(ANC) adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan
mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga
didapatkan ibu dan anak yang sehat.
Antenatal Care (ANC) merupakan pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalisasi kesehatan mental fisik ibu hamil sehingga mampu
menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan memberi ASI dan kembalinya
kesehatan reproduksi secara wajar. Pada negara berkembang kunjungan ANC
minimal 4 kali yaitu 1 kali pada trimester I&II dan 2 kali pada trimester III
(Manuaba, 1998)
c. Persalinan yang bersih dan aman
Persalinan yang bersih dan aman memiliki tujuan memastikan setiap penolong
kelahiran/persalinan mempunyai kemampuan, ketrampilan, dan alat untuk
memberikan pertolongan yang bersih dan aman, serta memberikan pelayanan
nifas pada ibu dan bayi.
d. Pelayanan obstetri esensial
Memastikan bahwa tempat pelayanan kesehatan dapat memberikan pelayanan
obstetri untuk risiko tinggi dan komplikasi tersedia bagi ibu hamil yang
membutuhkan.
- Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai target Millenium
Development Goals (MDGs) tahun 2015 adalah menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang menjadi prioritas utama dalam
pembangunan kesehatan di Indonesia, diantaranya:
1. Mendekatkan jangkauan pelayanan kebidanan kepada masyarakat, diantaranya
dengan dibangunnya Pondok Bersalin Desa (Polindes) di setiap desa yang
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan cakupan dan pelayanan kesehatan ibu
dan anak.
2. Selain itu, bidan juga berperan dalam memberikan pelayanan yang
berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada aspek pencegahan melalui
pendidikan kesehatan dan konseling, promosi kesehatan, pertolongan
persalinan normal dengan berlandaskan kemitraan dan pemberdayaan
perempuan serta melakukan deteksi dini pada kasus-kasus rujukan.
3. Pemberian kewenangan tambahan pada Puskesmas untuk penanganan
kegawatdaruratan pada kasus Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar
(PONED). Pemberdayaan RS sebagai sarana rujukan dalam penanganan
kegawatdaruratan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif
(PONEK) dan upaya standarisasi pelayanan kebidanan (buk.depkes.go.id,
2014).
4. Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS), yang bertujuan untuk:
Meningkatkan kualitas pelayanan PONED dan PONEK, dengan
memastikan intervensi medis prioritas yang mempunyai dampak besar pada
penurunan kematian diterapkan di Rumah Sakit dan Puskesmas serta
pendekatan tata kelola klinis (clinical governance) diterapkan di Rumah
Sakit dan Puskesmas.
Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi sistem rujukan antar
Puskesmas/Balkesmas dan Rumah Sakit, penguatan sistim rujukan,
meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjamin akuntabilitas dan
kualitas tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan dan Pemerintah Daerah serta
meningkatkan akses masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan
(http://www.dinkesjatengprov.go.id, 2013).
5. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
Posyandu pada dasarnya merupakan salah satu wujud peran serta masyarakat
dalam pembangunan pembangunan, khususnya kesehatan, dengan menciptakan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk dan mewujudkan derajat
kesehatan masyarakat yang optimal.
Tujuan Posyandu:
Mempercepat angka penurunan AKB , anak balita dan angka kelahiran.
Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
(NKKBS).
Meningkatkan kemampuan masyarakat unyuk mengembangkan kegiatan
kesehatan dan kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan
(Priyono, 2013).
6. Making Pregnancy Saver (MPS)
Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam program MPS merupakan kegiatan
yang terfokus sesuai dengan penyebab masalah yang terbukti menjadi
penyebab utama tingginya angkaa kematian ibu dan neonatal di Indonesia.
MPS mengharapkan agar ibu hamil, melahirkan dan dalam masa setelah
persalinan (post natal) mempunyaai akses terhadap tenaga kesehatan terlatih.
Strategi MPS meliputi tiga pesan kunci, yakni:
Setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan.
Setiap komplikasi persalinan harus ditangani tenaga adekuat (dokter ahli).
Setiap wanita usia subur harus mempunyai akses pencegahan kehamilan dan
penanganan komplikasi keguguran.
7. Gerakan Sayang Ibu (GSI)
Bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan, dengan melakukan
berbagai kegiatan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil,
melahirkan, dan nifas. Kegiatan utama GSI antara lain adalah pengadaan dana
bersalin, pembentukan kelompok donor darah, penyediaan ambulan desa,
Pondok Sayang Ibu dan pendataan Ibu Hamil serta Kegiatan Komunikasi
Informasi Edukasi (KIE).
8. Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K).
Program ini merupakan upaya terobosan percepatan penurunan angka kematian
ibu dan merupakan salah satu kegiatan dari Desa Siaga. Melalui P4K dengan
stiker yang ditempel di rumah ibu hamil, maka setiap ibu hamil akan tercatat,
terdata dan terpantau secara tepat. Stiker P4K berisi data tentang: nama ibu
hamil, taksiran persalinan, penolong persalinan, tempat persalinan,
pendamping persalinan, transport yang digunakan dan calon donor darah.
Tujuan dari penyediaan stiker ini kader dukun bersama bidan di desa dapat
memantau secara intensif keadaan dan perkembangan kesehatan ibu hamil,
untuk mendapatkan pelayanan yang sesuai standar pada saat antenatal,
persalinan dan nifas, sehingga proses persalinan sampai dengan nifas termasuk
rujukannya dapat berjalan dengan aman dan selamat, tidak terjadi kesakitan
dan kematian ibu serta bayi yang dilahirkan selamat dan sehat
(www.dinkesprovkepri.org, 2010).
DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Hermawan. 2014. Angka Kematian Bayi. http://www.datastatistik-


indonesia.com/portal/index.php?
option=com_content&task=view&id=420&Itemid=420&limit=1&limitstart=2.
Diakses pada tanggal 14 Agustus 2014 Pukul 19.00 WIB.
Priyono, Ipiet. 2013. Peran Serta Masyarakat dalam Menurunkan AKI dan AKB. Online
(http://kesehatan.kompasiana.com /medis/2013/ 10/ 10/aki-dan-akb-makin-tinggi-
salah-siapa-594968.html). Diakses tanggal 17 Oktober 2014.
Dorland, W. A . Newman. 2008. Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 28. Jakarta: EGC
http://www.dinkesjatengprov.go.id, 2013
www.dinkesprovkepri.org, 2010
Hidayat, A. Aziz Alimul. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta;
Salemba Mesika. Hal : 2-5
LOG BOOK PRIMARY HEALTH CARE

Disusun Oleh:
Lusia Prihatini Ekasari
125070200111024 - Reguler2/2012
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014