Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ASMA BRONKHIAL
Di Instalasi Gawat Darurat RSUD Lawang

Disusun untuk memenuhi Tugas Kepaniteraan klinik Departemen Emergency

Disusun Oleh :

I Ketut Yoga Sedana


140070300011175

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

I. Definisi Asma

Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang menyebabkan


hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan gejala episodik berupa
batuk, sesak napas, mengi, dan rasa berat di dada terutama pada malam hari atau dini
hari, yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan (Somantri,
2007).

Asma merupakan penyakit pernapasan obstruktif ditandai dengan inflamasi


saluran napas dan spasme akut otot polos bronkiolus yang menyebabkan produksi
mukus berlebihan dan menumpuk, penyumbatan aliran udara, dan penurunan ventilasi
alveolus (Corwin, 2009).

Menurut GINA (Global Initiative For Asthma) tahun 2002, batasan asma
menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanismenya. Asma didefinisikan
sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan,
khususnya sel eosinofil dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini
menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk,
terutama pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan
penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, biasanya bersifat reversibel baik
secara spontan maupun dengan pengobatan.

Menurut Corwin (2009), berdasarkan penyebabnya asthma bronkhial dapat


diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :

1. Ekstrinsik (alergik)

Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang
spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin)
dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu
predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus
spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asthma
ekstrinsik.

2. Intrinsik (non alergik)

Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang
tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh
adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat
dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis
kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.

3. Asthma gabungan

Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
alergik dan non-alergik.
Berdasarkan Frekuensi serangannya , asma dapat dibagi menjadi 4 tipe, yaitu :

1. Asma Intermiten (asma jarang)


a. Gejala < 1 kali seminggu
b. Gejala asma malam < 2 kali sebulan
c. Serangan singkat tidak mengganggu aktivitas
a. Nilai VEP1 atau APE 80% nilai prediksi
b. Variabiliti 20%
2. Asma Mild Persistent (Persisten Ringan)
a. Gejala 1 kali serangan tapi < 1 kali sehari
b. Eksaserbasi dapat mengganggu aktivitas dan tidur
c. Gejala asma malam > 2 kali sebulan
d. Nilai APE / VEP1 > 80% nilai prediksi
e. Variabiliti 20% - 30%
3. Asma Moderate Persistent (Persisten Sedang)
a. Gejala setiap hari
b. Gejala asma malam > 1 kali seminggu
c. Eksaserbasi mengganggu aktiviti dan tidur
d. Nilai VEP1 atau APE 60% tetapi 80% nilai prediksi
e. Variabiliti > 30%
4. Asma Severe Persistent (Persisten Berat)
a. Gejala berkepanjangan, setiap hari, dan terus menerus
b. Eksaserbasi sering
c. Gejala asma pada malam setiap hari
d. Aktiviti fisik terbatas
e. Nilai APE / VEP1 60% nilai prediksi
f. Variabiliti > 30%

Berdasarkan klasifikasi GINA (2006), asma dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu :

1. Asma Terkontrol Total Bila semua kriteria asma terkontrol terpenuhi


2. Asma Terkontrol Sebagian Bila > 3 kriteria asma terkontrol dipenuhi
3. Asma Tidak Terkontrol Bila kriteria asma terkontrol yang dicapai < 3 buah
Dengan Kriteria Asma Terkontrol :
a. Tidak ada gejala asma/ minimal
b. Tidak ada gejala asma malam
c. Tidak ada keterbatasan aktiviti
d. Faal paru normal atau mendekati normal
e. Nilai APE/VEP1 normal
f. Pemakaian obat pelega napas minimal atau tidak ada
g. Tidak ada kunjungan ke Unit Gawat Darurat

II. Etiologi Asma


Sampai saat ini penyebab penyakit asma belum diketahui secara pasti meski
telah banyak penelitian oleh para ahli. Teori atau hypotesis mengenai penyebab
seseorang mengidap asma belum disepakati oleh para ahli didunia kesehatan.
Namun demikian yang dapat disimpulkan adalah bahwa pada penderita asma
saluran pernapasannya memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap
berbagai rangsangan (bronchial hyperreactivity = hipereaktivitas saluran napas)
seperti polusi udara (asap, debu, zat kimia), serbuk sari, udara dingin, makanan,
hewan berbulu, tekanan jiwa, bau/aroma menyengat (misalnya;parfum) dan
olahraga.Selain itu terjadinya serangan asma sebagai akibat dampak penderita
mengalami infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) baik flu ataupun sinisitis.
Serangan penyakit asma juga bisa dialami oleh beberapa wanita dimasa siklus
menstruasi, hal ini sangat jarang sekali. Angka peningkatan penderita asma dikaitkan
dengan adanya faktor resiko yang mendukung seseorang menderita penyakit asma,
misalnya faktor keturunan. Jika seorang ibu atau ayah menderita penyakit asma,
maka kemungkinan besar adanya penderita asma dalam anggota keluarga tersebut
(Sumantri, 2007).

Menurut Brunner & Suddart (2002), Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas
yang reversibel yang disebabkan oleh :
a. Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan
nafas.
b. Pembengkakan membran bronkus.
c. Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

III. Faktor Resiko Asma


Menurut Tanjung (2003), ada beberapa hal yang merupakan faktor
predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial:
1. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
Inhalan: yang masuk melalui saluran pernapasan, contohnya: debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
Ingestan: yang masuk melalui mulut, contohnya: makanan dan obat-
obatan.
Kontaktan: yang masuk melalui kontak dengan kulit, contohnya
perhiasan, logam dan jam tangan.
b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan
dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal
ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
c. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping
gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang
mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi
maka gejala asmanya belum bisa diobati.
d. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang
bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu
lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
e. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
2. Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.
Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

IV. Tanda Dan Gejala Asma

Gejala dan tanda klinis sangat dipengaruhi oleh berat ringannya asma yang
diderita. Gejala dan tanda tersebut antara lain (Sylvia & Wilson, 2005) :
i. Batuk
ii. Nafas sesak (dispnea) terlebih pada saat mengeluarkan nafas (ekspirasi)
iii. Wheezing (mengi)
iv. Nafas dangkal dan cepat
v. Ronkhi
vi. Retraksi dinding dada
vii. Pernafasan cuping hidung (menunjukkan telah digunakannya semua otot-
otot bantu pernafasan dalam usaha mengatasi sesak yang terjadi)

Menurut Arif Muttaqin (2008), gejala klasik dari asma adalah sesak nafas, mengi
(wheezing), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada.
Gejala bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pda malam
hari. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang timbul makin banyak,
antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hiperinflasi dada, takikardi
dan pernafasan cepat dangkal.

Gejala pada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :


1. Tingkat I :
a. Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b. Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test
provokasi bronkial di laboratorium.
2. Tingkat II :
a. Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru
menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
b. Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3. Tingkat III :
a. Tanpa keluhan.
b. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan
nafas.
c. Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang
kembali.
4. Tingkat IV :
a. Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
b. Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan
nafas.
5. Tingkat V :
a. Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan
asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan
yang lazim dipakai.
b. Status asmatikus merupakan keadaaan asma gawat dan kontinyu yang
tidak berespon terhadap terapi konvensional. Serangan ini dapat
berlangsung lebih dari 24 jam.

V. Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa modalitas yang bisa digunakan untuk menegakan diagnosa asma
maupun sebagai pemeriksaan penunjang antara lain (Somantri, 2007; Muttaqin,
2008) :
1. Spirometri
Spirometri adalah mesin yang dapat mengukur kapasitas vital paksa
(KVP) dan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1). Untuk
menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversibel, cara yang paling cepat
dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan
bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah
pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan
adrenergik. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan
diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek
pengobatan. Hasil pemeriksaan spirometri pada penderita asma:

a. Volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1) menurun


b. Kapasitas vital paksa (FVC)menurun
c. Perbandingan antara FEV1 dan FEC menurun. Hal ini disebabkan karena
penurunan FEV1 lebih besar dibandingkan penurunan FVC
d. Volume residu (RV) meningkat
e. Kapasital fungsional residual (FRC) meningkat

Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai
yang diperiksa. Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai VEP1 < 80% nilai
prediksi atau rasio VEP1/KVP < 75%.

2. Peak Expiratory Flow Meter (PEF Meter)

Alat ini adalah alat yang paling sederhana untuk memeriksa gangguan
sumbatan jalan napas, yang relatif sangat murah, mudah dibawa. Dengan
PEF meter fungsi paru yang dapat diukur adalah arus puncak ekspirasi
(APE).

Penuntun meteran dikembalikan ke posisi angka 0. Pasien diminta


untuk menghirup napas dalam, kemudian diinstruksikan untuk
menghembuskan napas dengan sangat keras dan cepat ke bagian mulut alat
tersebut, sehingga penuntun meteran akan bergeser ke angka tertentu.
Angka tersebut adalah nilai APE yang dinyatakan dalam liter/menit.
Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai APE < 80%.

3. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
a. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal
eosinopil.
b. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari
cabang bronkus.
c. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
d. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat
mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
4. Pemeriksaan darah
a. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
b. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
c. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
d. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada
waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.
5. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu
serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen
yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang
menurun.
6. Pemeriksaan IgE
Uji tusuk kulit skin prick test untuk menunjukkan adanya antibody IgE
spesifik pada kulit. Uji tersebut menyokong anamnesis dan mencari faktor
pencetus. Uji allergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma.
Pemeriksaan darah IgE atopi dilakukan dengan cara radioallegensorbent test
(RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan.

VI. Patofisiologi (terlampir)


VII. Penatalaksanaan Medis

Tujuan terapi asma adalah :


a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
b. Mencegah kekambuhan
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
d. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan
exercise
e. Menghindari efek samping obat
f. Mencegah obstruksi jalan napas yang irreversible
g. Mencegah kematian karena asma
h. Khusus anak, untuk mempertahakan potensi sesuai tumbuh kembangnya
(Mansjoer, 2002)
Penatalaksanaan medis untuk asma dibagi menjadi dua, yaitu (Muttaqin,
2008):
1. Pengobatan Nonfarmakologi
a. Memberikan penyuluhan
b. Menghindari faktor pencetus
c. Pemberian cairan
d. Fisiotherapy
e. Beri O2 bila perlu
2. Pengobatan Farmakologi
Obat-obat pengontrol adalah obat-obat yang diberikan tiap hari untuk
jangka lama untuk mengontrol asma persisten.Dewasa ini pengontrol yang
paling efektif adalah kortikosteroid inhalasi. Obat-obat pelega adalah yang
bekerja cepat untuk menghilangkan konstriksi bronkus beserta keluhan-
keluhan yang menyertainya.
Selain pengobatan jangkah panjang, terdapat pula pengobatan
ekserbasi (serangan asma). Eksaserbasi (serangan ) asma adalah
memburuknya gejala asma secara cepat berupa bertambahnya sesak nafas,
batuk mengi atau berat di dada atau kombinasi dari gejalagejala ini.
Pengobatan Eksaserbasi pada penderita asma dapat dilakukan dengan
pengobatan-pengobatan berikut:

a. Pengobatan di Rumah
i. Bronkodilator
Untuk serangan ringan dan sedang :
Inhalasi agonis beta 2 aksi singkat 2 4 semprot tiap 20 menit
dalam satu jam pertama .
Sebagai alternatif :
Inhalasi antikolinergik ( Ipratropium Bromida ) , agonis beta 2 oral
atau teofilin aksi singkat . Teofilin jangan dipakai sebagai pelega ,
jika penderita sudah memakai teofilin lepas lambat sebagai
pengontrol . Dosis agonis beta 2 aksi singkat dapat ditingkatkan
sampai 4 10 semprot .
ii. Kortikosteroid :
Jika respon terhadap agonis beta 2 tidak segera terlihat atau
tidak bertahan ( umpamanya APE lebih dari 80 % perkiraan / nilai
terbaik pribadi ) setelah 1 jam, tambahkan kortikosteroid oral a.l
prednisolon 0,5 1 mg/ kg BB. Dibutuhkan beberapa hari sampai
keluhan menghilang dan fungsi paru kembali mendekati normal .
Untuk itu pengobatan serangan ini tetap dipertahankan di rumah.
b. Pengobatan di Rumah Sakit
Pemberian oksigen: Oksigen diberikan 4-6 L/menit untuk
mendapatkan saturasi O2 90% atau lebih.
i. Agonis beta-2:
Agonis beta-2 aksi singkat biasanya diberikan secara nebulasi setiap
20 menit selama satu jam pertama (salbutamol 5 mg atau fenoterol
2,5 mg, tarbutalin 10 mg). Nebulasi bisa dengan oksigen atau udara.
Pemberian secara parenteral agonis beta-2 dapat dilakukan bila
pemberian secara nebulasi tidak memberikan hasil. Pemberian bisa
secara intramuskuler, subkutan atau intravena.
ii. Adrenalin (epinefrin )
Obat ini dapat diberikan secara intramuskuler atau subkutan bila:
Agonis beta 2 tidak tersedia
Tidak ada respon terhadap agonis beta 2 inhalasi.
iii. Bronkodilator tambahan:
Kombinasi agonis beta-2 dengan antikolinergik (Ipratropium Bromida)
memberikan efek bronkodilator yang lebih baik dari pada diberikan
sendirisendiri. Obat ini diberikan sebelum mempertimbangkan
aminofilin. Mengenai aminofilin dalam mengatasi serangan ini masih
ada kontroversi. Walaupun ada manfaatnya, akan tetapi aminofilin
intravena tidak dianjurkan dalam 4 jam pertama pada penanganan
serangan asma. Aminofilin intravena dengan dosis 6 mg per kgBB
diberikan secara pelan ( dalam 10 menit ) diberikan pada penderita
asma akut berat yang perlu perawatan dirumah sakit, bila penderita
tidak mendapat teofilin dalam 48 jam sebelumnya.
iv. Kortikosteroid:
Kortikosteroid sistemik dapat mempercepat penyembuhan serangan
yang refrakter terhadap obat bronkodilator. Pemberian secara oral
sama efektifnya dengan intra vena dan lebih disukai karena lebih
gampang dan lebih murah. Kortikosteroid baru memberikan efek
minimal setelah 4 jam. Kortikosteroid diberikan bila:
Serangan sedang dan berat.
Inhalasi agonis beta-2 tidak memperlihatkan perbaikan atau:
Serangan timbul walaupun penderita telah mendapat
kortikosteroid oral jangka panjang.
c. Pengobatan farmakologik :
i. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin).
Nama obat :
Orsiprenalin (Alupent)
Fenoterol (berotec)
Terbutalin (bricasma)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk
tablet, sirup,suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI
(Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang
dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan
broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh
alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat
halus ) untuk selanjutnya dihirup.
ii. Santin (teofilin)
Nama obat :
Aminofilin (Amicam supp)
Aminofilin (Euphilin Retard)
Teofilin (Amilex)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik,
tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini
dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai
pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung
ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk
tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah
sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya
berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk
supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus.
Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak
dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).
iii. Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah
serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi
terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama
obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah
pemakaian satu bulan.
iv. Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin.
Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan
obat ini adalah dapat diberika secara oral.

VIII. Asuhan Keperawatan pada Pasien Asma


1. Prioritas Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi
secret
b. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas
oleh sekresi bronkus
2. Rencana Intervensi
a. Usia Bayi
Diagnosa 1
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret

Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam


Kriteria Hasil :
- Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas
bersih dan jelas
- Sputum mampu keluar dari jalan napas
- Keadaaan umum normal
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe
tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan
tidur atau istirahat, cuping hidung, retraksi, tubuh bayi, perubahan yang
kedalaman (hiperpnea) aau penyempitan mengindikasikan adanya obstruksi dan
(hipopnea), stridor saat inspirasi konsolidasi dari jalan napas dan fungsi
paru yang menurun untuk difusi gas,
perubahan kedalaman yang abnormal,
head bobbing mengindikasikan adanya
dispnea pada bayi dan fatigue
menyebabkan flesksi leher
mengindikasikan adanya distres respirasi
2. Kaji suara napas dengan auskultasi, 2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi
konsolidasi dengan perkusi untuk mengungkapkan adanya sekresi,
ronchi, pada obstruksi jalan napas dan
wheezing pada penyempitan bronchiolar.
Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan
penurunan fungsi paru
3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 3. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk 4. Mengungkapakan karakteristik batuk
sebagai kondisi respirasi yang mungkin
terjadi infeksi atau inflamasi. Jalan napas
yang sempit pada bayi mengakibatkan
susah batuk karena obstruksi dari sekret
dimana dapat resiko infeksi
5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 5. Posisi yang nyaman memfasilitasi
derajat dan pangku bayi (Ekstensikan ekspansi dada yang mengembang dan
kepala bayi dan leher dengan tangan efisiensi pernapasan.
dibawah bahu bayi)
6. Sediakan periode istirahat yang 6.Mencegah pemborosan energi yang
dibutuhkan bayi sebagaimana status terbuang
penyakit
7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24 7. Mencegah status dehidrasi dan
jam dengan jumlah spesifik untuk bayi dan mengencerkan sekret untuk mudah
hindari susu dimobilisasi keluar tubuh. Susu dapat
mempertebal sekret.
8.Lakukan postural drainase menggunakan 8. Promosikan pemindahan sekret dan
gravitasi, perkusi dan vibrasi kecuali sputum dari jalan napas, perkusi dan
kontraindikasi, pangku bayi dan dukung vibrasi mengurangi sekret, gravitasi
bayi dengan bantal. Ajari orang tua dengan mendukung pemindahan sekret.
posisi bayi yang nyaman.
9. Suction nasal atau orofaringeal dengan 9. Pemindahan sekret dengan suction jika
pijatan, jika dibutuhkan, gunakan catheter obstruksi hidung oleh mucus pada bayi,
dengan benar, gunakan suntik bulb untuk penggunaan tekanan tinggi dapat merusak
sekresi mukus pada hidung bayi, ukuran membran mucus pada jalan napas.
catheter tergantung pada usia bayi,
tekanan negatif maksimum dari 60-90 cm
H2O dengan batas 5 detik untuk bayi
10. Perletakan peralatan jalan napas dekat 10. Untuk keadaan emergency jika
tempat pasien dibutuhkan
11. Beri edukasi pada orang tua pasien 11. Mempertahankan status hidrasi
tentang kebutuhan cairan, tipe cairan yang
harus dihindari
12. Instruksikan orang tua untuk mencuci 12. Menghindari transmisi mikroorganisme
tangan via droplet
Kolaborasi
1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi 1.
- nebulizer (via inhalasi dengan golongan - pemberian bronkodilator via inhalasi akan
terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % langsung menuju area bronkus yang
solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg mengalami spasme sehingga lebih cepat
berdilatasi
- Intravena dengan golongan teophyline
- pemberian intravena merupakan usaha
ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6
pemeliharaan dilatasi jalan napas agar
mg/kgBB
optimal
2. Agen mukolitik dan ekspectoran 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan
dan perlengketan sekret paru untuk
mempermudah pembersihan
Agen ekspektoran akan memudahkan
sekret lepas dari perlengkatan jalan napas
3. Korticosteroid 3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan
dengan hipoksemia dan menurunkan
inflamasi akibat edema mukosa dan
dinding bronkus

Diagnosa 2
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus
Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam
Kriteria Hasil :- Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal
- bunyi napas jelas terdengar
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi
adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan dengan umur bayi,
suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, perubahan pola mengidikasikan kondidi
ekspansi dada, periode apnea dan pola akut respirasi hasil infeksi dan obstruksi,
tidur bayi head bobbing terjadi dengan dispnea pada
bayi jika ada konsolidasi pada paru
2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio
dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi
pada anak-anak
3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi
derajat dan pangku bayi (Ekstensikan ekspansi dada yang mengembang dan
kepala bayi dan leher dengan tangan efisiensi pernapasan.
dibawah bahu bayi)
4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 4. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
5. Monitor gas darah dan sediakan 5. Mempertahankan O2 dalam darah dan
suplemen O2 via kap jika hipoksia karena fungsi organ
inadekuat pola napas
6. Ajarkan mencuci tangan ketika bersama 6. Pencegahan transmisi mikroorganisme
bayi, menutupi mulut dan hidung saat
batuk/pilek
7. Demonstrasikan posisi nyaman untuk 7. Menunjang perbaikan pernapasan
ventilasi udara bayi baik saat tidur maupun
terjaga
8. Informasikan orang tua untuk 8. Mencegah terjadinya gangguan pola
menghindari alergen asma napas lebih lanjut
Kolaborasi
1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan 1. Mencegah serangan asma lanjutan dan
maupun terapai aerosol atau sedatif via pertahanan diri menghadapi allergen
terapi oral jika efisisensi respirasi tidak
berkurang dan steroid sesuai indikasi

Diagnosa 3
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi
mukus
Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam
Kriteri Hasil :
- Gas darah arteri normal - PO2 dan PCO2 dalam batas normal
- Tidak ada sianosis - Bernapas dalam normal
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe
tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan
tidur atau istirahat, cuping hidung, retraksi, tubuh bayi, perubahan yang
kedalaman (hiperpnea) aau penyempitan mengindikasikan adanya obstruksi dan
(hipopnea), stridor saat inspirasi konsolidasi dari jalan napas dan fungsi
paru yang menurun untuk difusi gas,
perubahan kedalaman yang abnormal,
head bobbing mengindikasikan adanya
dispnea pada bayi dan fatigue
menyebabkan flesksi leher
mengindikasikan adanya distres respirasi
2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji 2. Mengungkapkan status hipoksemia dan
analisis gas darah meliputi pH, PaCO2, hiperkapnea dan potensi terjadinya
PaO2. kegagalan pernapasan
3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 3. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
4. Administrasikan terapi O2 via kap pada 4. Pemberian O2 adekuat untuk
bayi tergantung kondisi gas darah mendukung intake , PO2 < 60mmHg dan
PCO2 > 50-55 mmHg dapat
mengindikasikan kebutuhan untuk
stimulasi respirasi, suction dan support
ventilasi
5. Mendiskusikan dengan orangtua tanda 5. Menyediakan informasi cara mengontrol
dan gejala asma sesuai umur bayi gejala dan kesehatan umum
6. Menjelaskan kepada orangtua tentang 6. Mengurangi ansietas orangtua
prosedur dan penggunaan peralatan
respirasi
7. Menjelaskan pengangkutan O2 dan 7. Mempertahankan jumlah O2 yang
faktor keamanan diberikan untuk pencegahan hipoksia pada
bayi
8. Instruksikan dan demonstrasikan 8. Orangtua yang tanggap dapat
penggunaan monitor apnea, minta mencegah hipoksia sedini mungkin pada
orangtua untuk mengulangi bayi dengan penanganan yang tepat
Kolaborasi
1. pemeriksaan BGA 1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2
menunjukkan kebutuhan untuk intervensi
selanjutnya.
2. pemberian Oksigen 2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang
terjadi akibat penurunan ventilasi
b. Usia Anak-anak (bawah 12 tahun)

Diagnosa 1
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret
Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam
Kriteria Hasil :
- Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas
- Rasio , irama kedalaman napas dalam batas normal
- Sputum mampu keluar dari jalan napas
- TTV dalam batas normal
- Keadaaan umum normal
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe
tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan
tidur atau istirahat, cuping hidung, retraksi, tubuh anak perubahan yang
kedalaman (hiperpnea) aau penyempitan mengindikasikan adanya obstruksi dan
(hipopnea), stridor saat inspirasi konsolidasi dari jalan napas dan fungsi
paru yang menurun untuk difusi gas,
perubahan kedalaman yang abnormal
2. Kaji suara napas dengan auskultasi, 2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi
konsolidasi dengan perkusi untuk mengungkapkan adanya sekresi,
ronchi, pada obstruksi jalan napas dan
wheezing pada penyempitan bronchiolar.
Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan
penurunan fungsi paru
3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 3. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk 4. Mengungkapakan karakteristik batuk
sebagai kondisi respirasi yang mungkin
terjadi infeksi atau inflamasi. Jalan napas
yang sempit pada bayi mengakibatkan
susah batuk karena obstruksi dari sekret
dimana dapat resiko infeksi
5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 5. Posisi yang nyaman memfasilitasi
derajat, pada anak balita berikan posisi ekspansi dada yang mengembang dan
Ekstensikan kepala balita dan leher efisiensi pernapasan.
dengan tangan dibawah bahu balita, pada
anak atas 5 tahun dapat duduk atau
istirahatkan kepala dengan bantal, cek
posisi anak agar tidak berubah
6. Sediakan periode istirahat yang 6.Mencegah pemborosan energi yang
dibutuhkan anak sebagaimana status terbuang
penyakit
7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24 7. Mencegah status dehidrasi dan
jam dengan jumlah spesifik untuk anak dan mengencerkan sekret untuk mudah
hindari susu dimobilisasi keluar tubuh. Susu dapat
mempertebal sekret.
8.Lakukan postural drainase menggunakan 8. Promosikan pemindahan sekret dan
gravitasi, perkusi dan vibrasi kecuali sputum dari jalan napas, perkusi dan
kontraindikasi, beri anak bantalan. Ajari vibrasi mengurangi sekret, gravitasi
orang tua dan anak (atas 5 tahun)dengan mendukung pemindahan sekret.
posisi yang nyaman.
9. Suction nasal atau orofaringeal dengan 9. Pemindahan sekret dengan suction jika
pijatan, jika dibutuhkan, gunakan catheter obstruksi hidung oleh mucus pada anak,
dengan benar, ukuran catheter tergantung penggunaan tekanan tinggi dapat merusak
pada usia anak yaitu 90-110 cm H2O membran mucus pada jalan napas.
dalam 5 detik
10. Perletakan peralatan jalan napas dekat 10. Untuk keadaan emergency jika
tempat pasien dibutuhkan
11. Beri edukasi pada orang tua pasien dan 11. Mempertahankan status hidrasi
anak tentang kebutuhan cairan, tipe cairan
yang harus dihindari
12. Instruksikan orang tua dan anak untuk 12. Menghindari transmisi mikroorganisme
mencuci tangan via droplet
13. Rekomendasikan olahrga renang dan 13. Promosikan saturasi dai inhalasi gas
olah raga yang sedikit menguras tenaga dengan kelembaban, exhaling dibawah air
meningkatkan tekanan ekspirasi.Mencegah
pemborosan energi dan kebutuhan O2
dimana mengubah status respirasi saat
penyediaan permainan
14. Ajarkan napas dalam dan batuk efektiv 14. Mempromosikan bernapas dalam dan
pada anak saat posisi relax untuk postural pemindahan sekret lewat batuk
drainase kecuali kontraindikasi, untuk
inesensitif spirometer, pada anak lebih 5
tahun, ajari meniup balon
Kolaborasi
1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi 1.
- nebulizer (via inhalasi dengan golongan - pemberian bronkodilator via inhalasi akan
terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % langsung menuju area bronkus yang
solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg mengalami spasme sehingga lebih cepat
berdilatasi
- Intravena dengan golongan teophyline
- pemberian intravena merupakan usaha
ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6
mg/kgBB pemeliharaan dilatasi jalan napas agar
optimal
2. Agen mukolitik dan ekspectoran 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan
dan perlengketan sekret paru untuk
mempermudah pembersihan
Agen ekspektoran akan memudahkan
sekret lepas dari perlengkatan jalan napas
3. Korticosteroid 3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan
dengan hipoksemia dan menurunkan
inflamasi akibat edema mukosa dan
dinding bronkus

Diagnosa 2
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus
Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam
Kriteria Hasil :
- Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal
- bunyi napas jelas terdengar
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi
adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan dengan umur anak,
suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, perubahan pola mengidikasikan kondidi
ekspansi dada, periode apnea dan pola akut respirasi hasil infeksi dan obstruksi
tidur anak
2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio
dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi
pada anak-anak
3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi
derajat, pada anak balita berikan posisi ekspansi dada yang mengembang dan
Ekstensikan kepala balita dan leher efisiensi pernapasan.
dengan tangan dibawah bahu balita, pada
anak atas 5 tahun dapat duduk atau
istirahatkan kepala dengan bantal, cek
posisi anak agar tidak berubah
4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 4. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
5. Monitor gas darah dan sediakan 5. Mempertahankan O2 dalam darah dan
suplemen O2 via kap jika hipoksia karena fungsi organ
inadekuat pola napas
6. Ajarkan mencuci tangan ketika bersama 6. Pencegahan transmisi mikroorganisme
anak , menutupi mulut dan hidung saat
batuk/pilek, demikian pula pada anak
7. Demonstrasikan posisi nyaman untuk 7. Menunjang perbaikan pernapasan
ventilasi udara anak baik saat tidur
maupun terjaga
8. Informasikan orang tua dan anak untuk 8. Mencegah terjadinya gangguan pola
menghindari alergen asma napas lebih lanjut
Kolaborasi
1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan 1. Mencegah serangan asma lanjutan dan
maupun terapai aerosol atau sedatif via pertahanan diri menghadapi allergen
terapi oral jika efisisensi respirasi tidak
berkurang dan steroid sesuai indikasi

Diagnosa 3
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi
mukus
Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam
Kriteri Hasil :
- Gas darah arteri normal - PO2 dan PCO2 dalam batas normal
- Tidak ada sianosis - Bernapas dalam normal

Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe
tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan
tidur atau istirahat, cuping hidung, retraksi, tubuh anak, perubahan yang
kedalaman (hiperpnea) aau penyempitan mengindikasikan adanya obstruksi dan
(hipopnea), stridor saat inspirasi konsolidasi dari jalan napas dan fungsi
paru yang menurun untuk difusi gas,
perubahan kedalaman yang abnormal
2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji 2. Mengungkapkan status hipoksemia dan
analisis gas darah meliputi pH, PaCO2, hiperkapnea dan potensi terjadinya
PaO2. kegagalan pernapasan
3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 3. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
4. Mendiskusikan dengan orangtua tanda 4. Menyediakan informasi cara mengontrol
dan gejala asma sesuai umur anak gejala dan kesehatan umum
5. Menjelaskan kepada orangtua dan anak 5. Mengurangi ansietas orangtua dan anak
tentang prosedur dan penggunaan
peralatan respirasi
6. Menjelaskan pengangkutan O2 dan 6. Mempertahankan jumlah O2 yang
faktor keamanan diberikan untuk pencegahan hipoksia pada
anak
7. Instruksikan dan demonstrasikan 7. Orangtua yang tanggap dapat
penggunaan monitor apnea, minta mencegah hipoksia sedini mungkin pada
orangtua untuk mengulangi anak dengan penanganan yang tepat
Kolaborasi
1. pemeriksaan BGA 1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2
menunjukkan kebutuhan untuk intervensi
selanjutnya.
2. pemberian Oksigen 2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang
terjadi akibat penurunan ventilasi

c. Usia Dewasa ( 12 tahun )

Diagnosa 1
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret
Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam
Kriteria Hasil :
- Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas
- Sputum mampu keluar dari jalan napas
- Keadaaan umum normal
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe
tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan
tidur atau istirahat, cuping hidung, retraksi, tubuh yang mengindikasikan adanya
kedalaman (hiperpnea) aau penyempitan obstruksi dan konsolidasi dari jalan napas
(hipopnea), stridor saat inspirasi dan fungsi paru yang menurun untuk difusi
gas, perubahan kedalaman yang abnormal
2. Kaji suara napas dengan auskultasi, 2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi
konsolidasi dengan perkusi untuk mengungkapkan adanya sekresi,
ronchi, pada obstruksi jalan napas dan
wheezing pada penyempitan bronchiolar.
Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan
penurunan fungsi paru
3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 3. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk 4. Mengungkapakan karakteristik batuk
sebagai kondisi respirasi yang mungkin
terjadi infeksi atau inflamasi.
5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 5. Posisi yang nyaman memfasilitasi
derajat, beri posisi tidur semifowler atau ekspansi dada yang mengembang dan
fowler efisiensi pernapasan.
6. Sediakan periode istirahat yang 6.Mencegah pemborosan energi yang
dibutuhkan terbuang
7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24 7. Mencegah status dehidrasi dan
jam dengan jumlah spesifik mengencerkan sekret untuk mudah
dimobilisasi keluar tubuh.
8. Berikan air hangat 8. Pemberian air hangat dapat
mengencerkan sekret sehingga mudah
dikeluarkan dari tubuh
9. Ajarkan napas dalam dan batuk efektiv 9. Mempromosikan bernapas dalam dan
pada anak saat posisi relax untuk postural pemindahan sekret lewat batuk
drainase kecuali kontraindikasi, untuk
inesensitif spirometer, pada anak lebih 5
tahun, ajari meniup balon
10. Perletakan peralatan jalan napas dekat 10. Untuk keadaan emergency jika
tempat pasien dibutuhkan
11. Beri edukasi pada pasien tentang 11. Mempertahankan status hidrasi
kebutuhan cairan, tipe cairan yang harus
dihindari
12. Instruksikan pasien untuk mencuci 12. Menghindari transmisi mikroorganisme
tangan via droplet
13. Rekomendasikan olahrga renang dan 13. Promosikan saturasi dai inhalasi gas
olah raga yang sedikit menguras tenaga dengan kelembaban, exhaling dibawah air
meningkatkan tekanan ekspirasi.Mencegah
pemborosan energi dan kebutuhan O2
dimana mengubah status respirasi saat
penyediaan permainan
14. Beri lingkungan yang nyaman bebas 14. Faktor pencetus dapat mengakibatkan
dari alergen serangan akut
Kolaborasi
1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi 1.
- nebulizer (via inhalasi dengan golongan - pemberian bronkodilator via inhalasi akan
terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % langsung menuju area bronkus yang
solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg mengalami spasme sehingga lebih cepat
berdilatasi
- Intravena dengan golongan teophyline
- pemberian intravena merupakan usaha
ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6
pemeliharaan dilatasi jalan napas agar
mg/kgBB optimal
2. Agen mukolitik dan ekspectoran 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan
dan perlengketan sekret paru untuk
mempermudah pembersihan
Agen ekspektoran akan memudahkan
sekret lepas dari perlengkatan jalan napas
3. Korticosteroid 3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan
dengan hipoksemia dan menurunkan
inflamasi akibat edema mukosa dan
dinding bronkus

Diagnosa 2
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus
Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam
Kriteria Hasil :
- Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal
- bunyi napas jelas terdengar
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi
adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan perubahan pola
suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, mengidikasikan kondidi akut respirasi hasil
ekspansi dada, periode apnea dan pola infeksi dan obstruksi
tidur
2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio
dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi
pada anak-anak
3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi
derajat, beri posisi fowler atu semi-fowler ekspansi dada yang mengembang dan
efisiensi pernapasan.
4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 4. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
5. Monitor gas darah dan sediakan 5. Mempertahankan O2 dalam darah dan
suplemen O2 via kap jika hipoksia karena fungsi organ
inadekuat pola napas
6. Demonstrasikan posisi nyaman untuk 6. Menunjang perbaikan pernapasan
ventilasi udara anak baik saat tidur
maupun terjaga
8. Informasikan untuk menghindari alergen 8. Mencegah terjadinya gangguan pola
asma napas lebih lanjut
Kolaborasi
1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan 1. Mencegah serangan asma lanjutan dan
maupun terapai aerosol atau sedatif via pertahanan diri menghadapi allergen
terapi oral jika efisisensi respirasi tidak
berkurang dan steroid sesuai indikasi

Diagnosa 3
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi
mukus
Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam
Kriteri Hasil :
- Gas darah arteri normal
- PO2 dan PCO2 dalam batas normal
- Tidak ada sianosis
- Bernapas dalam normal
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe
tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan
tidur atau istirahat, cuping hidung, retraksi, tubuh anak, perubahan yang
kedalaman (hiperpnea) aau penyempitan mengindikasikan adanya obstruksi dan
(hipopnea), stridor saat inspirasi konsolidasi dari jalan napas dan fungsi
paru yang menurun untuk difusi gas,
perubahan kedalaman yang abnormal
2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji 2. Mengungkapkan status hipoksemia dan
analisis gas darah meliputi pH, PaCO2, hiperkapnea dan potensi terjadinya
PaO2. kegagalan pernapasan
3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 3. Mengungkapkan derajat sianosis,
dan durasi sianosis indikasikan distribusi gas dan darah dalam
paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil
dari obstruksi jalan napas
4. Menjelaskan pengangkutan O2 dan 4. Mempertahankan jumlah O2 yang
faktor keamanan diberikan untuk pencegahan hipoksia
5. Instruksikan dan demonstrasikan 5. Keluarga diharap mampu mencegah
penggunaan monitor apnea, beri informasi komplikasi awal sehingga bisa dilakukan
juga pada keluarha pencegahan dini
Kolaborasi
1. pemeriksaan BGA 1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2
menunjukkan kebutuhan untuk intervensi
selanjutnya.
2. pemberian Oksigen 2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang
terjadi akibat penurunan ventilasi
(Doengoes et al, 2010)

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, K. 1990. Asma Bronchiale, dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FK
UI.
Brunner & Suddart 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta : AGC..
Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn E., Mary Frances Moorhouse., & Alice C. Murr. 2010. Nursing
Diagnosis Manual : Planning, Individualizing, and Documenting Client Care.
Philadelphia : F.A Davis Company
Mansjoer, Arif.,dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Media Aesculapius
Muchid, dkk. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma. Direktorat Bina Farmasi
Komunitas Dan Klinik Depkes RI
http://125.160.76.194/bidang/yanmed/farmasi/Pharmaceutical/ASMA.pdf
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Price, S & Wilson, L. M. 1995. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
Rengganis, Iris. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkhial. Majalah Kedokteran
Indonesia, Vol: 58 No: 11
Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan Dengan
Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika
Sylvia, A. Dan L. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC
Tanjung, Dudut. 2003. Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. USU digital library:
http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-dudut2.pdf