Anda di halaman 1dari 3

Prinsip-prinsip Pengukuran

Ketelitian (Akurasi) Pengukuran


Kita melakukan pengukuran diameter luar sebuah spidol dengan penggaris, dengan hasil 1,5 cm.
Apakah hasil ini pasti benar?

Jika pengukuran kita lakukan dengan jangka sorong, diameter spidol itu bisa jadi 1,48 cm, bisa jadi
1,51 cm, bahkan bisa jadi 1,45 cm. Misal nilai yang diperoleh dengan jangka sorong adalah 1,48
cm. Nilai ini memiliki tingkat pendekatan yang lebih terhadap nilai (diameter spidol) yang
sesungguhnya

Ketelitian adalah tingkat pendekatan hasil pengukuran terhadap nilai yang benar (X0)

Ketepatan (Precision)
Dalam pengukuran besaran-besaran tertentu, kadang-kadang diperlukan pengukuran berulang,
karena pengukuran satu kali belum tentu menghasilkan nilai yang akurat. Contoh pada pengukuran
waktu yang singkat, arus listrik yang fluktuatif, kadang-kadang diperlukan pengukuran berulang.
Jika dalam pengukuran berulang menghasilkan nilai-nilai yang relative sama (ajeg), maka
pengukuran itu memiliki ketepatan yang baik. Namun jika hasil pengukuran pertama dan
seterusnya menghasilkan nilai yang masing-masing berbeda jauh, maka pengukuran itu kurang tepat
atau presisinya kurang baik.

Berhitung dengan Angka Penting


Angka Penting dan Angka Eksak

Angka penting adalah angka-angka hasil pengukuran. Hasil pengukukuran biasanya terdiri dari
beberapa angka penting, yang diperoleh dari angka pasti dan satu angka di belakang yang ditaksir
(diperkirakan).

Contoh:

Tinggi badan seseorang adalah 172,8 cm.

172,8 cm adalah hasil pengukuran yang terdiri dari 4 angka penting. Angka 1, 7, dan 2 adalah
angka penting yang pasti, sedangkan angka 8 adalah angka penting hasil perkiraan.

Jumlah siswa X MIPA adalah 32 orang

32 orang adalah bilangan eksak, karena bukan hasil pengukuran, dan tidak ada angka yang
diperkirakan.

Aturan Angka Penting

Tebak berapa banyaknya angka penting pada hasil-hasil pengukuran di bawah ini!

3,24 cm terdiri dari 3 a.p. 3,24 x 100 cm

123,45 g terdiri dari 5 a.p. 1,2345 x 102 g

24,05 kg terdiri dari 4 a.p. 2,405 x 10 kg

120,60 s terdiri dari 5 a.p. 1,2060 x 102 s

3450 mm terdiri dari 4 a.p. 3,450 x 103 mm

0,01230 kg terdiri dari 4 a.p. 1,230 x 10-2 kg


Aturan Operasi Angka Penting

Lakukan perhitungan besaran-besaran fisika di bawah ini dengan memperhatikan aturan angka
penting!

Contoh:

1. Suatu persegi panjang memiliki panjang 28,7 cm dan lebar 4, 44 cm. Tentukan kelilingnya
dengan menggunakan aturan angka penting!
2. Suatu segitiga memiliki panjang sisi-sisi 18,8 cm, 15,3 cm dan 5,57 cm . Tentukan
kelilingnya!
3. Sebuah balok memiliki panjang 15,0 cm, lebar 4,44 cm dan tinggi 2,220 cm. Tentukan
volumenya!
4. Sebuah balok memiliki massa 122,2 gram dan volume 186 cm3. Tentukan massa jenis bahan
balok itu!
5. Tebal sebuah buku yang diukur tanpa sampul adalah 44,44 mm. Jika buku itu terdiri dari 111
lembar, berapakah tebal setiap kertasnya?
6. Sebuah persegi dengan panjang sisi 1,2 cm. Tentukan luasnya!
7. Sebuah persegi memiliki luas 6,25 cm2. Berapakah panjang sisinya?

Kesalahan/Ketidakpastian Pengukuran
Dalam setiap pengukuran selalu terdapat kesalahan atau ketidakpastian.
Kesalahan itu dapat disebabkan oleh faktor alat ukur, faktor manusia, atau
faktor lainnya yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran. Keterbatasan atau
kerusakan alat ukur dapat memperbesar kesalahan pengukuran. Kesalahan
manusia dalam melakukan setting alat, keteledoran manusia yang tidak
memastikan titik nol pengukuran (zero error), kesalahan posisi mata manusia
(kesalahan paralaks) dalam melihat hasil pengukuran, juga dapat
memperbesar kesalahan pengukuran. Begitu juga faktor lain seperti kondisi
lingkungan, fluktuasi tegangan listrik, medan listrik atau medan magnet juga
dapat berpengaruh terhadap hasil pengukuran.
Kesalahan/Ketidakpastian Pengukuran Tunggal
Dalam pengukuran besaran panjang, massa, suhu atau besaran lainnya
yang nilainya tidak terlalu besar atau terlalu kecil, dan hasilnya mudah dibaca
(diamati), biasanya dilakukan pengukuran 1 (satu) kali atau pengukuran
tunggal. Hal ini didasarkan pada keyakinan pengukur bahwa walaupun jika
pengukuran dilakukan berulang akan menghasilkan nilai yang sama.
Saat kita melakukan pengukuran panjang sebuah pensil warna menggunakan penggaris, dengan
hasil 8,5 cm, hasil ini bukanlah hasil yang pasti benar. Jika pengukuran kita lakukan dengan jangka
sorong, panjang itu bisa jadi 8,48 cm, bisa jadi 8,51 cm, bahkan bisa jadi 8,45 cm atau 8,55 cm.
Artinya ketika kita mengukur panjang menggunakan penggaris dengan hasil 8,5 cm, namun hasil
yang pasti adalah di antara 8,45 dan 8,55. Sehingga agar kita melaporkan hasil pengukuran secara
objektif dan jujur, maka hasil itu harus dilaporkan sebagai berikut:

Panjang benda l = (8,50 0,05) cm


Atau dalam bentuk l = l0 + l , dimana

l0 = panjang dari hasil membaca alat ukur


l = adalah kesalahan/ketidakpastiannya

Dalam aktivitas ilmiah, seperti penelitian dalam laboratorium, pengukuran dalam bidang arsitektur,
otomotif, elektronika dan aktivitas ilmiah lainnya dimana sangat diperlukan kehati-hatian dalam
pengukuran, maka hasil pengukuran perlu ditulis dengan menyertakan kesalahan/ketidakpastiannya.

Jika hasil dari membaca alat ukur adalah X0 dan ketidakpastiannya X, maka hasil pengukuran itu
dilaporkan X = X0 X

X = skala terkecil alat ukur

Kesalahan/Ketidakpastian Pengukuran Berulang


Pada pengukuran berulang sangat mungkin diperoleh hasil yang berbeda-beda.
Sebagai contoh: saat kita mengukur waktu jatuh sebuah kelereng dari atap ke
lantai dengan stopwatch. Bisa jadi diperoleh hasil 2,2 s pada pengukuran
pertama; 2,4 s pada pengukuran kedua; 2,5 s pada pengukuran ketiga; 2,3 s
pada pengukuran keempat dan 2,1 s pada pengukuran kelima; atau hasil yang
berbeda lainnya. Jika selisih antara hasil-hasil itu relative kecil, berarti
pengukuran itu
Dari pengukuran periode getaran sebuah pegas sebanyak 5 (lima) kali
percobaan diperoleh hasil seperti disajikan dalam tabel di bawah ini.

No. Periode
Percobaan (T)
1 1,37
2 1,40
3 1,35
4 1,33
5 1,36
Rata-rata (
_
T 1,36
)

a. Tentukan kesalahan/ketidakpastiannya
b. Periode ayunan yang harus dilaporkan