Anda di halaman 1dari 31

BAGIAN 1 FARMAKOLOGI DAN TERAPI

Golongan Obat Logo Keterangan

Obat Bebas Dapat digunakan untuk swamedikasi.

Dapat digunakan untuk swamedikasi, harus


Obat Bebas Terbatas diberikan informasi lebih karena mengandung obat
keras.

Obat Keras Harus dengan resep dokter.

Khasiat yang dicantumkan merupakan khasiat


empiris di masyarakat, belum sepenuhnya
Jamu
terstandar, dan belum dilakukan uji praklinik dan
klinik.
Khasiat yang dicantumkan sudah dibuktikan dengan
Obat Herbal Terstandar uji praklinik, sudah terstandar, dan sudah dilakukan
uji praklinik dan/atau uji klinik belum lengkap.

1
Khasiat yang dicantumkan sudah dibuktikan dengan
uji praklinik dan klinik, sudah terstandar, dan sudah
Fitofarmaka
dilakukan uji klinik dengan lengkap (fase 1, fase 2,
dan fase 3).
Harus dengan resep dokter dan mengakibatkan
Narkotika ketergantungan yang kuat. Distribusinya
dikendalikan oleh pemerintah.

Harus dengan resep dokter dan kadang


Psikotropika
mengakibatkan ketergantungan.

Obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker


dengan syarat dan ketentuan yang berlaku
Obat Wajib Apotek
menurut undang-undang, dapat digunakan
untuk swamedikasi atau pengobatan rutin.

Golongan
Mekanisme Aksi Contoh Obat
Farmakologi
Anastesi Amida Blokade reversibel pada kanal natrium Lidokain, bupivikain
Anastesi Ester pada akson Benzokain, prokain
Inhibisi hidrolisis asetilkolin pada
Antikolinesterase Piridostigmin, neostigmin
enzim kolinesterase
Agonis
Memacu reseptor muskarinik Pilokarpin
muskarinik
Agonis nikotinik Memacu reseptor nikotinik Nikotin
Antagonis Menghambat reseptor muskarinik dan
Atropin, hiosin, ipatropium
muskarinik mengakibatkan efek excitatory
Menghambat reseptor alfa adrenergik,
Alfa blocker Prazosin
sehingga terjadi dilatasi vena.
Beta-1 selektif : bisoprolol
(low dose), atenolol,
Beta blocker Menghambat reseptor beta adrenergik. metoprolol
Beta blocker nonselektif :
propanolol
Meningkatkan kerja reseptor beta
Salbutamol, formoterol,
Beta-2 agonis adrenergik 2, sehinga terjadi relaksasi
salmeterol
otot polos bronkus.
Menghambat perubahan angiotensin I
ACE Inhibitor Kaptopril, lisinopril, enalapril
menjadi angiotensin II pada ginjal
Angiotensin
Menghambat pada reseptor angiotensin Valsartan, losartan, candesartan
Receptor Blocker
DHP : Amlodipin, nifedipin
Calcium Channel Menghambat masuk kalsium pada sel
NonDHP : Diltiazem,
Blocker otot jantung
verapamil
Menghambat reabsorbsi natrium di
Diuretik thiazide tubulus distal, sehingga meningkatkan Hidroklortiazid
eksresi air, natrium, dan ion hidrogen.
Menghambat reabsorbsi natrium dan
klorida di tubulus proksimal, tubulus
Diuretik sulfon distal, dan lengkung Henle, sehingga Furosemid
meningkatkan eksresi air, natrium,
klorida, magnesium, dan kalsium.
Mengikat reseptor aldosteron di tubulus
Antagonis distal, sehingga meningkatkan sekresi
Spironolakton
aldosteron natrium dan klorida dan menahan
kalium dan ion hidrogen.
Modulasi metabolisme lipid,
karbohidrat, dan protein serta
mempertahankan keseimbangan cairan.
Metilprednisolon,
Kortikosteroid Mengontrol sintesis protein, menekan
hidrokortison
migrasi PMN dan fibroblas, mengubah
kapilaritas membran, dan menstabilkan
lisosom.
Menurunkan produksi glukosa hepatik,
menurunkan absorbsi glukosa di saluran
Biguanid Metformin
cerna, dan meningkatkan sensitivitas
reseptor insulin.
Meningkatkan sekresi insulin,
Menurunkan produksi glukosa hepatik,
Sulfonilurea Glibenklamid, glimepirid
dan meningkatkan sensitivitas reseptor
insulin.
HMG-CoA
Menghambat enzim pengubah substrat Simvastatin, atorvastatin,
Reductase
kolesterol (HMG-CoA Reductase) rosuvastatin
Inhibitor
Menghambat lipolisis perifer dan
Asam Fibrat menurunkan pengambilan asam lemak Gemfibrozil
bebas oleh hati.
Resin Asam Mengikat asam empedu pada saluran Kolestipol, Koleselvam,
Empedu cerna. Kolestiramin
Mengikat kristal hidroksiapatit pada
tulang dan menghambat osteoklast serta Asam alendronat, asam
Bifosfonat
menghambat pelepasan mineral dan risendronat
kolagen dari tulang.
Proton Pump Menghambat pompa proton dalam
Omeprazol, pantoprazol
Inhibitor sekresi ion hidrogen pada lambung.
Menghambat reseptor H-2 pada sel
H-2 Antagonis parietal lambung, sehingga Famotidin, ranitidin, simetidin
menghambat sekresi asam lambung.
Generasi lama : klorfeniramin
Menghambat reseptor H-1, sehingga maleat.
H-1 Antagonis
tidak tejadi aktivasi oleh histamin. Generasi baru : loratadin,
cetirizin, fexofenadin.
Antibiotika
Amoksisilin, ampisilin
Penisilin
Menghambat sintesis dinding bakteri Generasi 1 : Cefradoksil
Antibiotika (golongan beta laktam). Generasi 2 : Cefuroksim
Generasi 3 : Ceftriakson,
Sefalosporin
cefotaksim, ceftazidim
Menghambat sintesis protein dengan
Antibiotika mengikat subunit ribosom 30S dan 50S Tetrasklin, oksitetrasiklin,
Tetrasiklin dan mengikat logam untuk metabolisme doksisiklin
bakteri.
Antibiotika Menghambat DNA girase, sehingga
Ciprofloksasin, levofloksasin
Quinolon merusak struktur double helix DNA.
Antibiotika Menghambat sintesis protein dengan Azitromisin, klaritomisin,
Makrolida mengikat subunit ribosom 30S dan 50S. eritromisin
Antibiotika Menghambat sintesis protein dengan Kloramfenikol, tiamfenikol
Fenikol mengikat subunit ribosom 50S.

Keamanan Obat dan Toksikologi


Keamanan Obat
a. Indeks Kehamilan
Masa kehamilan merupakan masa kritis pertumbuhan janin. Namun, tidak jarang ditemui ibu hamil
yang menderita penyakit tertentu saat hami. Berikut adalah indeks kehamilan dan keterangan
mengenai indeks kehamilan :
Indeks Keterangan Penggunaan Klinis
Kehamilan
A Studi terkontrol pada wanita hamil tidak Dapat digunakan secara aman
memperlihatkan adanya resiko terhadap bagi wanita hamil.
janin pda kehamilan trimester 1 dan
trimester berikutnya.
B Studi terhadap reproduksi binatang Dapat digunakan relatif aman bagi
memperlihatkan tidak ada resiko wanita hamil.
terhadap janin, tetap belum ada studi
terkontrol terhadap manusia.
C Studi pada binatang percobaan Penggunaan obat harus
memperlihatkan adanya efek terhadap mempertimbangkan manfaat
janin dan studi terkontrol pada wanita klinis dan resiko terhadap janin.
dan binatang tidak tersedia atau tidak
dapat dilakukan.
D Terdapat bukti adanya resiko pada janin Penggunaan obat dapat digunakan
pada binatang percobaan atau studi pada dalam kasus life-threatening atau
manusia. apabila ada alternatif lebih baik
harus diutamakan.
X Studi pada manusia dan binatang Tidak dianjurkan penggunaannya
memperlihatkan adanya abnormaltas selama masa kehamilan.
pada janin.

b. Efek Samping Beberapa Obat


Obat Efek Samping Khas
Amlodipin Edema dan edema paru
Kaptopril Batuk
Pirazinamid Nyeri tulang, hepatotoksik
INH Kesemutan, hepatotoksik
Rifampisin Mengubah warna urin menjadi merah, induksi
sitokrom
Streptomisin Ototoksis, nefrotoksis
Asetosal Perdarahan, iritasi saluran cerna, tinitus
Hidroklortiazid Hipokalemia, kenaikan asam urat
Kortikosteroid Inhalasi Candidasis
Kortikosteroid Oral Iritasi saluran cerna, moon face karena retensi
Na dan Air, keropos tulang
Etambutol Buta warna, kebutaan
Fenitoin Gingival hyperplasia, induser sitokrom
Karbamazepin Hepatotoksik dari metabolitnya, induser
sitokrom
Orlistat Feses berlemak
Antibiotika Kuinolon Menghambat pertumbuhan anak
Antibiotika Tetrasiklin Kolorasi gigi menjadi kuning
Antibiotika Nefrotoksis
Aminoglikosida
Bifosfonat Iritasi saluran cerna
Semua OAT Mual dan muntah
Codein Konstipasi

1.1.1. Toksikologi
Kasus keracunan selalu ditemukan terkait dengan penggunaan bahan kimia sebagai obat atau
kecelakaan. Berikut adalah daftar senyawa yang dapat bersifat racun dan penawar yang dapat
diberikan :
Substrat Racun Penawar
Parasetamol Asetilsistein
Logam berat (As, Pb, Hg, Cu) BAL (dimecaprol)
Logam berat (Pb) EDTA
Ferrum Deferoksamin
Opioid Nalokson
Pestisida organofosfat Atropin, Pralidoksim
Sianida Nitrit, Nitrat
Metanol, etilen glikol Etanol
Beta blocker Glukagon
Benzodiazepin Flumazenil
Karbonmonoksida Oksigen, hiperbarik oksigen
Kumarin Vitamin K
Digoksin Digoksin FAB
Heparin Protamin
INH Piridoksin
Nitrit Metilen Blue

1.2. Cara Pemakaian Obat


Pemakaian obat yang tepat memiliki beberapa pertimbangan, salah satunya adalah sifat fisika kimia
obat, mengikuti ritme biologis tubuh dan/atau mengikuti t1/2 obat yang digunakan. Sebagai contoh
penggunaan atorvastatin dan simvastatin memiliki perbedaan. Atorvastatin dapat diberikan pada sore
hari, sedangkan simvastatin harus diberikan malam hari. Hal ini terjadi karena t1/2 atorvastatin adalah
14 jam, sedangkan simvastatin 2 jam, sehingga simvastatin harus segera digunakan pada waktu
biologis tubuh untuk sintesis kolesterol, yaitu pada waktu malam hari. Golongan bifosfonat harus
diberikan dengan cara pasien harus duduk dikarenakan sifat kimia obat yang iritatif, sehingga dengan
duduk diharapkan berinteraksi singkat dengan saluran cerna atas dan segera memasuki lambung.

1.3. Farmakokinetika
1.3.1. Kecepatan Infus
S x Dosis
R=

Dimana :
R = kecepatan infus
S = fraksi aktif
= interval pemberian
Pasien ATS menerima infus teofilin dengan dosis 40 mg tiap jam. Berapakah kecepatan infus yang
harus diatur? Diketahui teofilin memiliki fraksi aktif sebesar 80 %.
S x Dosis
R=

0,8 x 40
R=
1
R = 32 mg/jam

1.3.2. Perubahan Dosis Intravena ke Dosis Peroral


Umumnya diberikan pada keadaan tunak rerata (Cav), dengan rumus :
Cav x k x Vd x
D=
FxS
Dimana :
D = dosis peroral
Cav = konsentrasi tunak rerata
k = konstanta eliminasi
Vd = volume distribusi
F = fraksi bioavaibilitas
S = fraksi aktif
= interval pemberian

Pasien RA 28 tahun, 78 kg diresepkan Tetrasiklin HCl untuk keluhan Gonorrhae. Tetrasiklin HCl
memiliki bioavabilitas oral 77 % dengan semua fraksi aktif. Volume distribusi sebesar 0,2 L/kgBB,
waktu paro eliminasi adalah 10,6 jam. Kadar tunak rerata yang digunakan dalam pengobatan RA di
rumah sakit adalah 35 mg/mL. Apabila RA diizinkan pulang oleh dokter dan meneruskan terapi
tetrasiklin HCl peroral dengan interval tiap 6 jam, berapakah dosis yang Anda sarankan?
Diketahui :
Vd = 0,2 L/kgBB x 78 kg = 15,6 L
K = 0,693/t1/2 = 0,693/10,6 = 0,065 /jam
Cav x k x Vd x
D=
FxS
mg
35 x 0,065 x 15,6 x 6
D= mL
0,77 x 1
D = 276,54 mg ~ 300 mg

1.4. Kapita Selekta Farmakoterapi


1.4.1. Hipertensi
Hipertensi diklasifikasikan sebagai berikut :

Menurut JNC 7, target terapi dan obat yang dipilih adalah sebagai berikut :
Kondisi Target Tekanan Darah Obat Pilihan
Normal <140/90 mmHg Tunggal : ACE Inhibitor ARB, CCB, atau
diuretik thiazid
ACE Inhibitor atau ARB + diureik tiazid;
atau ACE Inhibitor atau ARB + CCB
Geriatrik < 140/90 mmHg ACE Inhibitor, ARB, atau diuretik tiazid
Gagal ginjal kronis < 130/80 mmHg ACE Inhbitor atau ARB
dengan albuminuria (>
30 mg albumin/24
jam)
Diabetes mellitus < 130/80 mmHg First line : ACE Inhbitor atau ARB
Second line : CCB
Third line : diuretik tiazid atau beta-blocker
Gagal jantung dengan < 130/80 mmHg First line : ACE Inhbitor atau ARB + beta-
pengurangan volume blocker
Second line : antagonis aldosteron
Post-myocardial < 130/80 mmHg Beta blocker + ACE Inhibitor atau ARB
infark
Coronary artery < 130/80 mmHg First line : beta-blocker + ACE Inhbitor atau
disease ARB
Second line : CCB
Third line : diuretik tiazid
Pencegahan < 130/80 mmHg Diuretika tiazid atau diuretika tiazid + ACE
kekambuhan stroke Inhibitor

Target penurunan tekanan darah dapat JNC 7 dan JNC 8 sangat berbeda. Pada JNC 8, penurunan
tekanan darah tidak agresif seperti JNC 7. Berikut adalah target menurut JNC 8 :
1.4.2. Dislipidemi dan Berat Badan Berlebih
Menurut ATP III, dalam tata laksana penurunan LDL dan manajemen resiko penyakit degeneratif ada
faktor resiko yang harus diketahui, berikut adalah faktor resiko menurut ATP III.
Faktor Resiko Nilai
Lingkar Pinggang Wanita >88 cm (>35 inch)
Lingkar Pinggang Pria >120 cm (> 40 inch)
Trigliserida 150 mg/dL
HDL Pria < 40 mg/dL
HDL Wanita < 50 mg/dL
Tekanan darah 130/85 mmHg
Glukosa puasa 110 mg/dL

Dengan mengetahui faktor resiko, target penurunan LDL dan memulai terapi dapat diketahui. Berikut
adalah target dan nilai LDL memulai terapi :
Faktor Resiko Target Penurunan Nilai LDL mulai Nilai LDL mulai
LDL terapi terapi obat
nonfarmakologi
Ada riwayat < 100 mg/dL 100 mg/dL 130 mg/dL
coronary heart
disease atau dengan
faktor resiko setara
2 faktor resiko < 130 mg/dL 130 mg/dL Pantauan selama 10
tahun dengan 10
20 % resiko
130 mg/dL
Pantauan selama 10
tahun dengan
resiko < 10 %
160 mg/dL
0 1 faktor resiko < 160 mg/dL 160 mg/dL 190 mg/dL

Berikut adalah pilihan obat yang dapat diberikan :


Golongan Contoh Efek Terapi Efek Samping Kontraindikasi
Obat
HMG CoA Simvastatin Menurunkan Miopati, Penyakit liver aktif dan
lovastatin,
Reductase LDL dan meningkatkan kronis
pitavastatin,
Inhibitor trigliserida, enzim hati
rosuvastatin
menaikkan HDL
Resin asam Colestipol Menurunkan GI Upset Trigliserida > 400 mg/dL
Coleselvam Konstipasi
empedu LDL, menaikkan
Colestirami Menurunkan
HDL
n absorbsi obat

Asam Asam Menurunkan Muka merah Penyakit liver kronis


Hipoglikemi Gout parah
nikotinat nikotinat LDL dan
Hiperurisemia
trigliserida, Hepatotoksis
GI Upset
menaikkan HDL
Asam fibrat Gemfibrozil Menurunkan Dispepsia Gangguan ginjal dan hati
Fenofibrat Batu empedu
LDL dan parah
Miopati
trigliserida,
menaikkan HDL
Penurunan berat badan dapat digunakan orlistat, apabila target dengan terapi nonfarmakologi tidak
mencapai penurunan 10 % berat badan. Orlistat memiliki efek samping feses berlemak dan dapat
menggangu absorbsi vitamin, siklosporin, dan levotiroksin.

1.4.3. Metabolisme dan Darah


Kondisi Tanda dan Gejala Obat Pilihan
Polycystic Ovarian Hirsutisme (tumbuh Klomifen sitrat, metformin
Syndrome rambut), glukosa tinggi, (glukosa tinggi)
menstruasi tidak teratur.
Hipertiroid Gugup, cemas, takikardi, Beta-blocker (atenolol atau
tremor (gejala propanolol) untuk gejala
tirotoksikosis), tremor, takikardi, dan cemas
kelemahan otot, turun (gejala tirotoksikosis); agen
berat badan antitiroid (propilthiourasil,
methimazol, KI)
Hipotiroid Kelemahan, bradikardi, Levotiroksin, liothironin
mudah mengantuk,
goiter
Anemia Megaloblastik Nilai MCV besar, nilai Sianokobalamin, asam folat
kadar B-12 rendah, atau
nilai kadar asam folat
rendah.
Anemia Aplastik Kelemahan, perdarahan Agen imunosupresan :
gusi, bengkak pada kaki, metilprednisolon, siklosporin
Hemapoetic Growth Factor :
serta nilai rendah pada
filgastrim
retikulosit dan WBC.
Agen antineoplastik : fludarabin
Kelator : Deferoxamin
Anemia defisiensi besi Nilai MCV rendah dan Fe Sulfat, Fe Fumarat
serum feritrin rendah.
Osteoporosis Sakit pada tulang Suplementasi kalsium (kalsium
tertentu, penurunan karbonat, kalsium sitrat), first
tinggi badan, perubahan line (asam alendronat, asam
struktur tubuh, nilai T risendronat), alternatif
score di bawah 2,5. (raloksifen, asam ibandronat)

1.4.4. Diabetes
Diabetes ditanda dengan gejala : polivagi (banyak makan), poliuria (banyak buang air kecil), dan polidipsi
(banyak minum). Diabetes digolongkan menjadi dua tipe utama, yaitu tipe I dan tipe II.
Pada tipe I, pasien lebih cenderung memiliki berat badan rendah dan mengalami ketoasidosis, sedangkan pada
tipe II cenderung obesitas.
Berikut adalah target terapi dari diabetes mellitus :

Dalam tatalaksana terapi, diabetes mellitus tipe 1 dan 2 memiliki perbedaan. Berikut adalah tatalaksana terapi
menurut ADA 2015 :
Obat Keterangan
Metformin Digunakan apabila terapi nonfarmakologi belum mengontrol
kadar glukosa pasien
Insulin + antidiabetika oral atau Pasien baru terdiagnosa gejala DM tipe 2 atau terjadi
insulin tunggal kenaikan kadar glukosa atau HbA1C
Penambahan antidiabetika oral Apabila antidiabetika oral tidak menunjukkan perbaikan
kedua atau insulin setelah 3 bulan pada nilai HbA1C
Dalam terapi DM tipe 1 harus menggunakan insulin. Berikut adalah jenis insulin yang dapat digunakan :
Kerja Insulin Contoh Penggunaan
Rapid Acting Humalog (insulin lispro), NovoLog 5 15 menit sebelum makan
(insulin aspart), Apidra (insulin
glulisine)
Short Acting Humulin R, Novolin R 30 menit sebelum makan
Intermediat Humulin N, Novolin N Umumnya 1 x sehari
Long Acting Lantus (insulin glargine), Levemir Umumnya 1 x sehari di waktu
(insulin detemir) yang sama
1.4.5. Asam Urat
Gout merupakan penyakit yang ditandai dengan kadar asam urat serum lebih besar dari 6,8 atau 7,0

mg/dl. Pada manajemen terapi gout dan hiperurisemia, tujuan terapinya adalah :

1. Mengurangi serangan akut.

2. Menghindari terjadinya serangan.

3. Menghindari komplikasi yang disebabkan oleh penumpukan kronis kristal asam urat di jaringan.

Penggunaan obat pada terapi gout adalah untuk mendukung tercapainya tujuan terapi. Kondisi

inflamasi dapat di atasi dengan pemberian NSAID, kortikosteroid, atau kolkisin, sedangkan untuk

mencegah serangan gout dengan mengatur kadar asam urat dalam darah agar tidak lebih dari 6,8 atau

7,0 mg/dl dapat digunakan allopurinol, febuxostat, atau probenesid.

Kondisi Keterangan
Hiperurisemia First line yang digunakan adalah allopurinol atau

febuxosat. Apabila alergi terhadap xanthine oxidase

inhibitor (XOI) bisa digunakan probenesid.

Kombinasi XOI (allopurinol atau febuxosat) dan

agen urikosurik (probenesid) terkadang dibutuhkan.

Penderita gagal ginjal harus mengatur dosis

allopurinol.
Inflamasi Harus di-assesment tingkat inflamasi dan tingkat

nyeri (nyeri digunakan visual analog scale (VAS)).

Dapat digunakan terapi tunggal atau kombinasi.

Obat pilihan adalah : NSAID, kortikosteroid, dan

kolkisin.
1.4.6. Manajemen Nyeri
WHO Pain Ladder. Berikut adalah pembagian pain ladder dan terapi yang digunakan :
Tingkat Nyeri Terapi
Ringan (0 3) Parasetamol 650 mg, aspirin 500 mg, ibuprofen

400 mg, atau NSAID bisa ditambah NSAID lain,

antidepresan trisiklik, dan obat kejang


Menengah (4 6) Parasetamol 325 mg + opioid (kodein)
Parah (7 10) Morfin atau fentanil bisa ditambah NSAID lain,

antidepresan trisiklik, dan obat kejang


1.4.7. Epilepsi
Jenis Epilepsi First Line menurut UK Alternatif menurut UK
Guideline Guideline
Partial Seizure Karbamazepin, lamotrigin Levetiracetam, oxkarbazepin,
(Diagnosis Baru) asam valproat
Partial Seizure Lamotrigin, oxcarbazepin, -
(refractory topiramat
monotherapy)
Partial Seizure Karbamazepin, klobazam, Lacosamid, fenobarbital,
(refractory adjunct) gabapentin, lamotrigin, fenitoin, pregabalin, tiagabin,
levetiracetam, oxcarbazepin, vigabatrin, zonisamid
asam valproat, topiramat
Generalized Seizure Etoksusimid, lamotrigin, asam Klobazam, klonazepam,
absence valproat levetiracetam, topiramat,
zonisamid
Primary general (tonic- Asam valproat, lamotrigin, Klobazam, levetiracetam,
clonic) karbamazepin, oxkarbazepin topiramat
Juvenile myoclonic Etoksusimid, lamotrigin, asam Klobazam, klonazepam,
epilepsy valproat levetiracetam, topiramat,
zonisamid
1.4.8. Asma
Pada kondisi asma, pasien harus sering dikontrol. Kontrol dapat menggunakan spirometri dan
memantau frekuensi serangan asma. Berikut adalah tahapan dalam terapi asma dan rekomendasi yang
diberikan :
Obat yang digunakan dalam terapi asma adalah sebagai berikut :
Obat Keterangan
LABA (Long Acting Beta-2 Agonis) : Digunakan rutin dalam pengobatan asma
salmeterol
SABA (Short Acting Beta-2 Agonis) : Digunakan apabila merasa akan sesak
salbutamol (albuterol) dan formoterol (PRN)
Kortikosteroid Harus ada mekanisme tapping. Apabila
digunakan secara inhalasi harus kumur
untuk menghindari jamur di mulut
Teofilin Sebaiknya digunakan di jam yang sama
dan waspada terhadap obat induser
maupun inhibitor.

1.4.9. Infeksi dan Penggunaan Antibiotika


Dalam memilih antibiotika, harus mempertimbangkan spektrum antibiotika (luas atau sempit) dan
tipe mikrobia (aerob atau anaerob). Berikut adalah kasus pilihan dalam penggunaan antibiotika :
Infeksi Pilihan antibiotika
Saluran Nafas Atas Golongan penisilin, golongan kuinolon, golongan makrolida,
golongan tetrasiklin.
Saluran Nafas Bawah Golongan penisilin, golongan kuinolon, golongan makrolida,
golongan tetrasiklin.
Saluran Kemih Peroral : Cotrimoxazol 960 mg, fosfomisin, amoksisilin-
klavulanat, siprofloksasin, levofloksasin
Injeksi : gentamisin, tobramisin, ampisilin-sulbaktam,
ceftriaxon, ceftazidim, siprofloksasin, levofloksasin.
H.pylori First line : klaritomisin + amoksisilin atau metronidazol
Tuberkulosis Untuk memudahkan kombinasi terapi TBC digunakan
singkatan. H = INH, R = Rifampisin, Z = Pirazinamid, E =
Etambutol, S = Streptomisin.
Fase intensif : digunakan setiap hari selama dua bulan. Minimal
3 gabungan obat umumnya digunakan 2HRZE atau 2HRZ.
Fase lanjutan : setelah dua bulan dinyatakan BTA (-),
dilanjutkan 4 bulan dengan dosis 2 3 x seminggu (4H3R3).
Fase sisipan : apabila diakhir fase intensif dinyatakan BTA (+)
digunakan 1 bulan gabungan HRZE (1HRZE).
Relaps, gagal, atau kambuh : digunakan 2HRZES dilanjut
HRZE dilanjut 5H3R3E3.

BAGIAN 2 FARMASETIKA DAN TEKNOLOGI FARMASI

2.1. Sediaan Farmasi


2.1.1. Biofarmasetika
Pada pembuatan obat, harus diperhatikan kelas penggolangan obat menurut BSC. Berikut adalah
kelas pembagian obat berdasarkan BSC :

Kelas BSC Rate Limiting Step Solusi


I (kelarutan besar, Kecepatan disolusi Menambahkan bahan
permeabilitas tinggi) untuk mempercepat
disolusi
II (kelarutan kecil, Kelarutan senyawa Menambahkan bahan
pemeabilitas tinggi) yang dapat
meningkatkan kelarutan
senyawa
III (kelarutan tinggi, Permeabilitas senyawa Menambahkan
permeabilitas rendah) permeability enhancer
pada formulasi
IV (kelarutan rendah, Tidak diketahui (tidak ada hubungan -
permeabilitas rendah) antara invitro dan invivo)
2.1.2. Padat
Sediaan padat contohnya adalah serbuk, granul, tablet, dan kapsul. Pada sediaan padat apabila ingin
dibuat tablet harus memperhatikan bentuk partikel, ukuran partikel, dan sifat kimia, sehingga dapat
ditentukan cara pembuatan tablet.

Metode Keterangan
Granulasi Basah Senyawa aktif tahan air dan panas, sifat alir jelek, dilakukan
pembuatan massa dengan pengikat, dikeringkan lalu diayak.
Granulasi Kering Senyawa aktif tidak tahan panas dan air, sifat alir jelek,
dilakukan kempa dengan bahan pengisi lalu dihancurkan dan
diayak.
Kempa Langsung Senyawa aktif tidak tahan panas dan air, sifat alir baik.

Pada pembuatan kapsul, harus diperhatikan sifat alir campuran karena berpengaruh pada
keseragaman bobot saat pengisian kapsul. Analisis bahan sediaan padat dapat berupa penetapan bulk
density dan sudut diam. Dalam kontrol kualitas sediaan padat dapat dilakukan keseragaman bobot,
keseragaman kadar, dan uji disolusi. Untuk uji stabilitas dapat dilakukan menurut ICH.

2.1.3. Semipadat
Sediaan semipadat contohnya adalah salep, krim, dan gel. Pada pembuatan sediaan semipadat, harus
memperhatikan sifat hidrofilisitas dan stabilitas senyawa aktif, sehingga dapat ditentukan cara
pembuatan sediaan semipadat. Apabila dalam pencampuran krim dengan salep harus digunakan
surfaktan agar tidak terjadi pemisahan fase. Pemilihan emulgator dalam pembuatan krim sangat
diperlukan dengan menghitung nilai HLB yang diperlukan. Umumnya senyawa yang hidrofob dibuat
sediaan salep dan krim emulsi o/w serta senyawa hidrofil dibuat sediaan gel atau krim emulsi w/o.
Dalam kontrol kualitas sediaan semipadat dapat dilakukan keseragaman bobot, keseragaman kadar,
uji pelepasan obat, uji daya lekat, dan uji penyebaran. Untuk uji stabilitas dapat dilakukan menurut
ICH.
2.1.4. Cair
Sediaan cair contohnya adalah larutan, suspensi, dan emulsi. Pada pembuatan sediaan cair, harus
memperhatikan polaritas, stabilitas, dan kelarutan senyawa aktif, sehingga dapat ditentukan cara
pembuatan sediaan cair. Sediaan cair dapat dibedakan menjadi dua, yaitu steril dan nonsteril. Pada
pembuatan sediaan steril, stabilitas senyawa aktif harus diperhatikan karena akan memilih metode
sterilisasi atau pembuatan sediaan steril. Pada larutan, senyawa aktif harus melarut pada medium
dispersi. Pada suspensi, senyawa aktif harus terdispersi pada medium dispersi. Pada sediaan emulsi,
senyawa aktif harus dapat berpartisi pada medium dispersi. Dalam pembuatan sediaan cair, metode
peningkatan kelarutan senyawa (solubilisasi) dapat dilakukan dengan pengubahan pH larutan,
penambahan surfaktan, atau menambahkan kosolven agar mudah melarut. Dalam pembuatan
suspensi, bahan tambahan dapat berupa agen flokulasi (pencegah penempelan partikel dengan
tolakan muatan listrik) dan thickening agent (menambah kekentalan medium dispersi agar partikel
tidak mudah mengendap). Dalam pembuatan emulsi, harus diperhatikan emulgator yang digunakan
serta nilai HLB yang akan digunakan. Sediaan emulsi dan suspensi harus dikocok dahulu dalam
penggunaan agar penyebaran senyawa aktif merata. Sediaan emulsi dan suspensi disarankan tidak
disimpan dalam lemari es karena dapat mengubah penyebaran partikel dan pemisahan fase emulsi.
Dalam kontrol kualitas sediaan semipadat dapat dilakukan keseragaman volume dan keseragaman
kadar. Untuk uji stabilitas dapat dilakukan menurut ICH.
2.1.5. Gas
Sediaan gas contohnya adalah aerosol dan spray. Pada pembuatan sediaan gas, harus memperhatikan
volatilitas senyawa aktif, jenis propelan, dan kompatibilitas senyawa aktif dengan propelan, sehingga
dapat ditentukan cara pembuatan sediaan gas. Sediaan gas harus disimpan jauh dari api agar tidak
meledak.

2.1.6. Produk Biologis


Produk biologis contohnya adalah protein rekombinan, vaksin, serum, dan toksoid. Pada pembuatan
produk biologis harus diperhatikan tujuan penggunaan, stabilitas senyawa aktif, dan metode
pembuatan. Hal ini dikarenakan beberapa produk biologis sangat sensitif, sehingga dapat rusak oleh
lingkungan yang tidak sesuai (suhu, oksigen, dan pH). Beberapa vaksin dan toksoid ditambahkan
pengawet, sehingga harus digunakan pengawet yang tidak merusak senyawa aktifnya. Umumnya
produk biologis harus disimpan disuhu 2 8 oC agar tidak rusak.
2.2. Farmasi Industri
2.2.1. Kualifikasi dan Validasi
Kualifikasi merupakan proses pembuktian secara tertulis berdasarkan data yang menunjukkan
kelayakan suatu peralatan, fasilitas, sistem penunjuang sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditetapkan. Tahapan kualifikasi ada empat, yaitu :
- Kualifikasi Desain
- Kualifikasi Instalasi
- Kualifikasi Operasional
- Kualifikasi Performa
Validasi merupakan tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, prosedur,
kegiatan, sistem, perlengkapan, atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan
akan senantiasa mencapai hasil yang diharapkan. Validasi yang dikenal adalah validasi metode
analisis, validasi proses, dan validasi pembersihan. Kualifikasi dilakukan sebelum validasi.

2.2.2. Klasifikasi Ruang


Jenis Ruang Persyaratan Partikel Fungsi
I Dalam 1ft3 terdapat maksimum 100 Produksi sediaan steril secara
partikel berukuran 0,5 m aseptis
II Dalam 1ft3 terdapat maksimum 10000 Produksi sediaan steril secara
partikel berukuran 0,5 m non-aseptis
III Dalam 1ft3 terdapat maksimum 100000 Produksi sediaan non-steril
partikel berukuran 0,5 m
IV Dalam 1ft3 terdapat maksimum lebih Area nonproduksi seperti kantor,
dari 100000 partikel berukuran 0,5 m ruang, gudang, kamar mandi

2.3. Ekstraksi Tanaman Obat


2.3.1. Maserasi
Merupakan metode pembuatan ekstrak dengan cara merendam simplisia dalam larutan penyari.
Digunakan pada bahan yang lunak seperti daun, bunga, rimpang, dan beberapa buah. Pada maserasi
tidak menggunakan panas, sehingga cocok untuk senyawa aktif yang tidak tahan panas dan oksidasi.
2.3.2. Perkolasi
Merupakan metode pembuatan ekstrak dengan cara merendam simplisia dalam larutan penyari dan
diesktraksi dengan mengalirkan larutan dalam periode tertentu. Digunakan pada bahan yang keras
seperti kulit batang, akar, batang, biji, dan beberapa buah. Pada perkolasi tidak menggunakan panas,
sehingga cocok untuk senyawa aktif yang tidak tahan panas dan oksidasi.
2.3.3. Infudasi dan Dekoksi
Merupakan metode pembuatan ekstrak dengan cara merebus simplisia dalam air. Apabila dilakukan
selama 15 menit disebut infundasi. Apabila dilakukan selama 30 menit disebut dekoksi. Digunakan
pada senyawa aktif yang tahan panas dan oksidasi. Apabila senyawa aktif mudah menguap dan tidak
mengendap harus disaring pada saat dingin, sedangkan apabila senyawa aktif tidak mudah menguap
dan mudah mengendap harus disaring pada saat panas.
2.3.4. Sokhletasi
Merupakan metode pembuatan ekstrak dengan cara mengalirkan solven panas yang menguap selama
beberapa periode. Digunakan pada senyawa aktif yang tahan panas dan oksidasi.
2.3.5. Maserasi Termodifikasi
Merupakan metode pembuatan ekstrak dengan cara merendam simplisia dalam larutan penyari
dengan pemanasan suhu rendah dan/atau pengadukan kinetik. Digunakan untuk senyawa aktif yang
tahan panas dan oksidasi, serta untuk meningkatkan jumlah senyawa yang terekstraksi.
2.3.6. Destilasi
Merupakan metode pembuatan minyak atsiri dengan memanfaatkan volatilitas senyawa. Ada tiga
jenis destilasi, yaitu uap, air, dan uap-air. Destilasi uap dilakukan untuk senyawa yang tahan panas
dan oksidasi. Destilasi air digunakan untuk senyawa yang tidak terhidrolisis.

BAGIAN 3 FARMAKOGNOSI
3.1. Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali dinyatakan lain
berupa bahan yang telah yang dikeringkan. Simplisia terdiri dari nabati, hewan, dan mineral. Nama
simplisa terdiri dari dua kata kata pertama mengacu pada nama tanaman dalam bahasa latin dan kata
kedua mengacu pada bagian tanaman dengan nama latin.
Berikut adalah tatanama baku simplisia :
Nama Bagian Nama
Contoh
Tumbuhan Latin
Kayu Lignum Caesalpiniae lignum (Kayu secang)
Batang Caulis Tinospora caulis (Batang brotowali)
Buah Fructus Piperi fructus (Cabe Jawa/Buah cabe)
Bunga Flos Jasminum flos (Bunga melati)
Kulit Kayu Cortex Cinchonae cortex (Kulit kayu kina)
Biji Semen Myristae semenis (Biji pala)
Umbi Tuber Solanum tuber (Umbi kentang)
Akar Radix Rhei radix (Akar kelembak)
Akar tinggal Rhizome Curcuma xanthorrhizae rhizome (Temulawak)
Umbi lapis Bulbus Alii sativum Bulbus (Bawang putih)
Kulit buah Pericarpium Granati pericarpii (Kulit buah delima)
Daun Folium Orthosiphonis folium (Daun kumis kucing)
Bagian di atas tanaman Herba Centellae herba (Herba pegagan)
Minyak Oleum Oleum cocos (Minyak kelapa)

3.2. Metabolit Tanaman


Pada tanaman, terkandung senyawa yang tergolong metabolit primer dan sekunder. Metabolit primer
merupakan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Contoh
metabolit primer adalah : karbohidrat, protein, asam amino, dan asam lemak. Metabolit sekunder adalah senyaw
yang dibutuhkan tanaman sebagai perlindungan diri atau hasil dari metabolisme utama. Contoh metabolit
sekunder adalah : fenolik, flavonoid, alkaloid, glikosida, antrakuinon, triterpenoid, iridoid, senyawa pahit,
senyawa pedas, dan senyawa sulfur.
Golongan Senyawa Sifat Fisika-Kimia Contoh Senyawa
Polar, relatif mudah larut dalam air
(monosakarida dan disakarida, polisakarida Sorbitol, dekstrosa,
Karbohidrat relatif sukar larut), banyak mengandung laktosa, sukrosa,
gugus hidroksi (-OH), umumnya senyawa amilum.
nonaromatis.
Relatif polar, mengandung gugus amida (-
COONH-), terdenaturasi bila terkena suhu Enzim fenol
Protein
tinggi dan pH ekstrim, terdenaturasi dengan oksidase.
logam berat lalu mengendap.
Relatif polar, mengandung gugus karboksilat
Lisin, arginin,
Asam Amino (-COOH) dan amina (-NH-), mengendap
aspartat.
dengan logam berat.
Nonpolar, mengandung gugus karboksilat (- Asam linoleat, asam
Asam Lemak
COOH), dapat tersabunkan dengan basa. laurat.
Fenolik Relatif polar, mengandung gugus hidroksi (- Asam galat, EGCG,
OH), senyawa aromatis (ada benzena dengan asam sinamat,
gugus hidroksi), membentuk kompleks kumarin,
berwarna bila bertemu logam tertentu. kurkuminoid.
Relatif polar, mengandung gugus hidroksi (-
OH), senyawa aromatis (ada benzena dengan
gugus hidroksi), membentuk kompleks
Apigenin, narigenin,
Flavonoid berwarna bila bertemu logam tertentu,
antosianin.
merupakan bagian dari senyawa fenolik
(semua flavonoid adalah fenolik, tetapi
fenolik belum tentu flavonoid)
Dapat polar atau nonpolar, mengandung atom
Alkaloid N, mengendap dengan logam berat, memiliki Kuinin, nikotin.
aktivitas farmakologi.
Polar, mengandung bagian gula (glikon) dan Apiin, amigdalin,
Glikosida
nongula (aglikon) aloin.
Relatif polar, mengandung gugus hidroksi (-
OH) dan keton (-CO-), senyawa aromatis
(ada benzena dengan gugus hidroksi),
membentuk kompleks berwarna merah bila Aloin, rhein,
Antrakuinon
bertemu basa, merupakan bagian dari senosida
senyawa fenolik (semua antrakuinon adalah
fenolik, tetapi fenolik belum tentu
antrakuinon).
Limonen, karvon,
timol (mudah
menguap); asam
Nonpolar, mudah menguap (mono, seskui,
glisirizat,
dan diterpenoid; tri dan politerpenoid sulit
Triterpenoid andrografolid (tidak
menguap), politerpenoid umumnya berwarna,
mudah menguap);
tidak bisa tersabunkan.
beta karoten,
zeaxanthin
(politerpenoid).
Nonpolar, umumnya senyawa alkaloid dan Andrografolid,
Senyawa pahit
triterpenoid. kuinin.
Nonpolar, umumnya resin dari senyawa
Senyawa pedas Gingerol, shogaol.
fenolik.
Iridoid Nonpolar, merupakan kerangka modifikasi Valetriproat.
dari triterpenoid.

3.3. Obat Asli Indonesia


Berikut adalah beberapa nama simplisia yang umum digunakan di Indonesia. Kebanyakan berasal dari tanaman.
Kandungan yang Golongan senyawa
Nama bahan Khasiat
berkhasiat kandungan
Centellae herba Madekosida,
Penghilang luka Triterpenoid
(Herba pegagan) asiatikosida
Rhei radix
Pencahar Rhein Antrakuinon
(Akar kelembak)
Curcuma xanthorrhiza
rhizome Hepatoprotektor Kurkuminoid Fenolik
(Temulawak)
Tinospora caulis Penurun gula Triterpenoid, Senyawa
Tinosporin
(Batang brotowali) darah pahit
Psidii folium Diare
Tanin Fenolik
(Daun jambu biji) nonspesifik
Murrayae paniculata
Penurun berat
folium Polisakarida Karbohidrat
badan
(Daun kemuning)

Andrographis herba Penurun gula


Andrografolid Triterpenoid
(Herba sambiloto) darah
Phyllanti herba
Imunomodulator Filantin Triterpenoid
(Herba meniran)
Orthosiphonis folium
Diuretika Orthosiphonin Triterpenoid
(Daun kumis kucing)
Sonchi folium
Diuretika Sonchosida Glikosida flavonoid
(Daun tempuyung)
BAGIAN 4 KIMIA FARMASI
4.1.1. Kesetaraan mol
Kesetaraan mol sering digunakan dalam penggantian bahan baku dari suatu bahan yang setara.
Misalnya dalam membuat tablet atorvastatin, tetapi kita mendapat bahan baku atorvastatin kalsium
dari supplier. Apabila BM atorvastatin adalah 559 dan atorvastatin kalsium adalah 599. Hitung
berapa mg setara atorvastatin kalsium terhadap 10 mg atorvastatin.
Konsep mol :
Bobot
mol =
BM
karena senyawanya mirip bisa digunakan konsep mol. Jadi :
mol atorvastatin = mol atorvastatin kalsium
Bobot 1 Bobot 2
=
BM 1 BM 2
10 X
=
559 599
599
X= x 10
569
X = 10,53 mg
Jadi, 10 mg atorvastatin setara dengan 10,53 mg atorvastatin kalsium.

4.1.2. Pengenceran
Praktek pengenceran sering ditemukan pada praktek sehari-hari pada pelayanan kefarmasian,
misalnya dalam pembuatan alkohol cuci atau mengencerkan bahan obat tertentu. Prinsip pengenceran
adalah kesetaraan jumlah molekul atau jumlah bobot senyawa dalam larutan.
Bagaimana cara pembuatan alkohol 70 % dengan volume 1,5 liter dari alkohol 95 %?
Konsep pengenceran :
volume awal x konsentrasi awal = volume akhir x konsentrasi akhir
Atau,
V1 x C1 = V2 x C2
95 % x X = 70 % x 1,5 L
X = (70/95) x 1,5 L
X = 1,1 L
Jadi, ambil 1,1 liter alkohol 95 % lalu ditambahkan akuades sampai 1,5 liter.
4.1.3. Asam Basa
Konsep asam basa dalam farmasi penting dalam meramalkan jumlah obat yang terion dan terserap
pada bagian tubuh tertentu. Konsep asam basa juga berguna dalam meramalkan kompatibilitas
pencampuran obat suntik.
Rumus yang biasa digunakan adalah :
(Garam)
pH asam pH = pKa + log
( Asam)
( Basa)
pH basa pH = pKa + log
(Garam)
Dalam menentukan persentase terionisasi dapat digunakan dua cara :
- Rumus
Rumus untuk asam lemah :
100
% terionisasi =
1+10( pKa pH )
Rumus untuk basa lemah :
100
% terionisasi =
1+10( pH pka )

- Rule of Thumb
Untuk senyawa asam lemah :
pH = pKa Umumnya 50 % fraksi terionisasi
pH = pKa + 1 Umumnya 90 % fraksi terionisasi
pH = pKa + 2 Umumnya 99 % fraksi terionisasi
pH = pKa + 3 Umumnya 99,9 % fraksi terionisasi
pH = pKa + 4 Umumnya 99,99 % fraksi terionisasi

Untuk senyawa basa lemah :


pH = pKa Umumnya 50 % fraksi terionisasi
pH = pKa - 1 Umumnya 90 % fraksi terionisasi
pH = pKa - 2 Umumnya 99 % fraksi terionisasi
pH = pKa - 3 Umumnya 99,9 % fraksi terionisasi
pH = pKa - 4 Umumnya 99,99 % fraksi terionisasi

Contoh :
1. Metrotreksat merupakan obat golongan inhibitor asam folat yang memiliki pKa 5,4 dan bersifat asam
lemah. Dalam terapi, pasien harus mempertahankan pH urin pada nilai sekitar 7 agar metrotreksat
tidak mengendap di ginjal. Berapa % fraksi terionisasi metrotreksat pada pH urin di nilai sekitar 7?
Jawab :
Dengan rule of thumb dapat diramalkan bahwa pH = 7 memiliki selisih 1 2 nilai dengan pKa,
sehingga bisa dikatakan 90 99 % senyawa metrotreksat dalam bentuk terion.

Dengan perhitungan :
100
% terionisasi =
1+10( pKa pH )
100
% terionisasi =
1+10(5,47)
100
% terionisasi =
1+0,025
% terionisasi = 97,5 %
2. Efedrin memiliki pKa 9,4 dan bersifat basa lemah. Apabila efedrin ditambahkan ke dalam larutan
dengan pH 7,4. Berapa % efedrin yang tidak terionisasi?
Jawab :
Dengan rule of thumb dapat diramalkan bahwa pH = 7,4 memiliki selisih 2 nilai dengan pKa,
sehingga bisa dikatakan 99 % efedrin dalam bentuk terion dan 1 % dalam bentuk tidak terion.

Dengan perhitungan :
100
% terionisasi =
1+10( pH pKa )
100
% terionisasi =
1+10(7,49,4 )
100
% terionisasi =
1+0,01
% terionisasi = 99 %
% tidak terionisasi = 100 99 = 1 %
4.1.4. Polaritas
Dalam praktek kefarmasian, polaritas merupakan suatu acuan untuk menentukan partisi obat
berdasarkan sifat kimianya. Misalnya senyawa hormon cenderung lebih bercampur dengan minyak
dibandingkan dengan air. Semakin banyak gugus polar (misalnya : -OH, -COOH, -NH2), senyawa
tersebut memiliki kecendrungan menetap pada fase berair dan polaritasnya akan meningkat.
Dalam menentukan polaritas, digunakan pendekatan koefisien partisi dengan rumus sebagai berikut :
(Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Organik)
P=
( Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Berair)
Koefisien partisi yang sering digunakan dalam farmasi adalah koefisien partisi apparent (Papp).
Dengan rumus sebagai berikut :
Papp = P x fraksi tak terion
atau
( Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Organik)
Papp =
( Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Berair)

Contoh :
Senyawa x merupakan basa lemah yang diberikan secara intravena. Senyawa x memiliki pKa = 9,4
dengan P = 65. Senyawa x kemudian dianalisis dengan cara mengambil 5 mL sampel darah dan
diekstraksi dengan 10 mL oktanol. Berapakah konsentrasi senyawa x dalam plasma. Diasumsikan pH
plasma pasien adalah 7,4 dan dari hasil analisis senyawa x memiliki konsentrasi sebesar 34 ng/mL
dalam oktanol.
Jawab:
Gunakan rumus :
100
% terionisasi = ( pH pKa )
1+10
100
% terionisasi =
1+10(7,49,4 )
100
% terionisasi =
1+0,01
% terionisasi = 99 %
% tidak terionisasi = 100 99 = 1 %
Atau fraksi tak terion = 0,01
Papp = P x fraksi tak terion
Papp = 65 x 0,01 = 0,65
( Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Organik)
Papp =
( Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Berair)
34 ng /mL
Papp =
(Konsentrasi Senyawa Dalam Fase Berair)
34 ng/mL
Konsentrasi dalam Plasma =
0,65
Konsentrasi dalam Plasma = 52,31 ng/mL

4.2. Kimia Analisis Konvensional


Analisis kimia konvensional menggunakan alat analisis sederhana seperti volumetri dan gravimetri.
Berikut adalah beberapa metode yang sering digunakan :
Metode Prinsip Keterangan
Gravimetri Perbedaan bobot tetap saat Umumnya pada analisis kadar
ditimbang abu dan susut pengeringan
Titrasi Bebas Air Reaksi asam basa yang dapat Analisis asam dan basa lemah
diganggu oleh adanya air
Nitrimetri Reaksi diazotasi menimbulkan Analisis nitrit dan senyawa
perubahan warna turunan sulfanilamid
Kompleksometri Reaksi kompleks antara EDTA Analisis logam valensi 2 dan 3
sehingga menimbulkan warna
Titrasi Redoks Reaksi redoks dalam larutan Analisis serimetri (Ce),
permanganometri, iodo-
iodimetri
Titrasi Pengendapan Kelarutan senyawa hasil reaksi Analisis argentometri untuk
yang mudah mengendap kadar NaCl
Asidi-alkalimetri Reaksi asam basa yang tidak Analisis basa dan asam kuat
diganggu air

4.3. Kimia Analisis Instrumental


Analisis kimia instrumental menggunakan alat analisis berupa instrumen seperti spektrofotometri,
kromatografi, dan elektroforesis. Berikut adalah beberapa metode yang sering digunakan :
Metode Prinsip Keterangan
Spektrofotometri Penyerapan spektrum Spektrofotometri UV-Visibel,
gelombang cahaya oleh Spektrofotometri Infrared
senyawa dalam larutan
Kromatografi Lapis Tipis Pemisahan berdasarkan Dapat digunakan fase normal
polaritas senyawa dan (fase gerak nonpolar dan fase
ikatan pada fase gerak diam polar) atau fase terbalik
(fase gerak polar dan fase diam
nonpolar)
Kromatografi Gas Pemisahan berdasarkan Apabila senyawa yang akan
perbedaan titik didih dan dianalisis susah menguap
volatilitas senyawa dilakukan derivatisasi
menggunakan senyawa tertentu
agar mudah menguap
KCKT (HPLC) Pemisahan berdasarkan Dapat digunakan fase normal
polaritas senyawa dan (fase gerak nonpolar dan fase
ikatan pada fase gerak diam polar) atau fase terbalik
(fase gerak polar dan fase diam
nonpolar)
Elektroforesis Pemisahan berdasarkan Biasanya digunakan pada analisis
muatan listrik senyawa asam amino dan protein
dan ukuran molekul

BAGIAN 5 FARMASI SOSIAL DAN ADMINISTRATIF


5.1. Memulai Praktek Apoteker
Setelah menyelesaikan pendidikan Apoteker, apoteker baru akan mendapatkan STRA, sumpah
Apoteker, sertifikat kompetensi Apoteker, dan ijazah. Apabila apoteker baru akan praktek di luar kota
kelulusan harus mengurus surat lolos butuh. Apoteker yang akan berpraktek di pelayanan harus
mengurus SIPA dan Apoteker yang akan bekerja di fasilitas produksi dan distribusi harus mengurus
SIKA. Apoteker mengajukan pembuatan SIPA dan SIKA kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan Provinsi. Syarat pembuatan SIPA adalah melampirkan
legalisir STRA dan rekomendasi Organisasi Profesi setempat.

5.2. Pricing
Penetapan harga merupakan hal yang penting di dalam praktek keseharian farmasis. Mulai dari
pembuatan obat sampai menjual obat. Berikut adalah contoh penentuan harga pada praktek farmasis.
a. Pembuatan obat
Industri farmasi Y ingin membuat sirup parasetamol dengan dosis 250 mg/5 mL. Setiap kali produksi
membutuhkan biaya total Rp 10.000.000 untuk 2000 botol. Berapakah harga satu botol sirup
parasetamol dosis 250 mg/5 mL?
Pada kasus di atas, dalam menentukan harga per botol dapat ditentukan sebagai berikut :
Biaya Produksi Total
Harga per botol = + pajak pertambahan nilai
Jumlah Produksi
Rp 10.000 .000 Rp 10.000 .000
Harga per botol = + (10 % x )
2000 2000
Harga per botol = Rp 5.000 + Rp 500 = Rp 5.500

b. Penjualan obat di Apotek


Pada penjualan obat di Apotek, umumnya menggunakan HJA dengan rumus :
HJA = Harga jual + (% kenaikan x Harga jual)
Berapakah harga Allopurinol 100 mg apabila satu tablet berharga Rp 500 dan persen kenaikan
allopurinol 100 mg adalah 25 %?
HJA = Rp 500 + (0,25 x Rp 500)
HJA = 1,25 x Rp 500
HJA = Rp 625
5.3. Manajemen Farmasi
Manajemen farmasi berfokus pada Drug Management Cycle seperti pada gambar di bawah ini :
Pada Drug Management Cycle, peran manajerial harus diterapkan. Peran manajerial tersebut adalah
perencanaan, penyusunan, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan.