Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN TUTORIAL

SGD 7 LBM 1

KELENJAR SALIVA

ANGGOTA KELOMPOK :
1. ALPHANIA ESTY LUTHFAIDA
2. ANGGUN AMANDA SAVERIA
3. DITA KURNIATI AZIZAH
4. GHIRAH PRI RADHYA
5. IEDHA RIZKA PUSPITANINGTYAS
6. INTAN PUTRI ASTARI
7. LINTANG ASMARANI
8. RIFQI SHOFA HASANI
9. VIVI ALFIYANI NOOR

FAKULTAS KEDOTERAN GIGI


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

LEMBAR PERSETUJUAN
LAPORAN TUTORIAL
SGD 7 LBM 1

KELENJAR SALIVA

Telah Disetujui oleh :

Tutor Semarang, 04 April 2016

drg. Anang Dwi Pramana

2
DAFTAR ISI

Lembar pengesahan 2
Daftar isi 3
BAB I Pendahuluan 4
A. Latar belakang 4
B. Skenario 4
C. Identifikasi masalah 4
BAB II Tinjauan Pustaka 6
A. Landasan teori 6
1. Kelenjar Saliva 6
a. Kelenjar Saliva Mayor 8
b. Kelenjar Saliva Minor 9
2. Komponen Kelenjar Saliva 10
a. Komponen Anorganik 10
b. Komponen Organik 11
3. Mekanisme Sekresi Saliva 11
4. Faktor yang Menghambat dan Meningkatkan Sekresi Saliva 12
5. Gangguan Kelenjar Saliva 13
6. Menghambat Bau Mulut 15
B. Kerangka Konsep 16
BAB III Kesimpulan 17
Daftar Pustaka 18

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelenjar saliva atau kelenjar saliva merupakan organ yang terbentuk dari sel- sel
khusus yang dapat mensekresi saliva. Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak
berwarna yang terdiri dari campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor
dan minor) yang ada pada mukosa oral.

Saliva sendiri memiliki fungsi yaitu melicinkan dan membasahi rongga mulut
sehingga membantu proses mengunyah dan menelan makanan, membasahi dan
melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair sehingga mudah ditelan
dan dirasakan, membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman,
mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer, membantu proses pencernaan
makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah, berpartisipasi
dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan
darah dan epidermal growth factor pada saliva, jumlah sekresi air ludah dapat dipakai
sebagai ukuran tentang keseimbangan air dalam tubuh, dan membantu dalam berbicara
(pelumasan pada pipi dan lidah).

Atas dasar pentingnya fungsi saliva tersebut, kelenjar saliva merupakan organ yang
penting dalam sekresi saliva. Apabila terjadi kelainan pada kelenjar saliva, akan terjadi
dampak yang dapat mengurangi fungsi saliva sehingga menyebabkan berbagai masalah
pada rongga mulut.

B. Skenario
Pada saat bangun tidur, banyak orang yang mengeluhkan mulut terasa kering dan
bau mulut. Dokter menyatakan hal ini disebabkan oleh sekresi saliva menurun. Didalam
rongga mulut terdapat berbagai macam kelenjar saliva yang memiliki fungsi dan
komposisi yang berbeda-beda.

C. Identifikasi Masalah
1. Apa karakteristik dari saliva?

4
2. Apa saja komponen yang terdapat dalam saliva?

3. Apa fungsi dari saliva?

4. Sebutkan macam-macam kelenjar saliva secara anatomi, fisiologi, innervasi dan


vaskularisasi?
5. Bagaimana mekanisme sekresi saliva?

6. Faktor-faktor yang merangsang dan menghambat sekresi saliva?

7. Perbedaan kadar saliva saat keadaan normal dan puasa?

8. Apa saja enzim yang berperan dalam saliva?

9. Mengapa saat kita tidur sekresi saliva menurun?

10. Apa saja cara untuk mencegah mulut kering?

11. Apa saja penyakit yang dapat timbul jika kelenjar saliva mengalami gangguan?

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Kelenjar Saliva
Glandula saliva atau kelenjar saliva merupakan sekresi eksokrin yang terdiri
dari sekitar 99% air, mengandung berbagai macam elektrolit (Natrium, Kalium,
Kalsium, Klorida, Magnesium, Bikarbonat, Fosfat) dan protein, diperankan oleh
enzim, imunoglobulin, dan faktor lain antimikroba, mukosa glikoprotein, daan
oligopeptida yang sangat penting bagi kesehatan mulut. (Almeida et al. 2008).
Sherwood (2014) menyatakan, protein liur yang terpenting adalah amilase, mukus
dan lisozim. Protein- protein ini berperan dalam fungsi saliva sebagai berikut:
Liur memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase liur. Produk-
produk digesti mencakup maltosa, yaitu suatu disakarida yang terdiri dari dua
molekul glukosa, dan limit dekstrin, yaitu polisakarida rantai cabang sebagain
hasil dari pencernaan amilopektin. (Sherwood, 2014)
Liur mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel makanan
sehingga partikel-partikel tersebut menyatu, serta menghasilkan pelumasan oleh
adanya mukus, yang kental dan licin. (Sherwood, 2014)
Liur memiliki sifat antibakteri melalui efek empat kali lipat-pertama, dengan
lisozim, suatu enzim yang melisiskan, atau menghancurkan bakteri tertentu
dengan merusak dinding sel; kedua, dengan glikoprotein pengikat yang mengikat
antiodi IgA; ketiga, oleh laktoferin, yang mengikat erat besi yang diperlukan
untuk multiplikasi bakteri; dan keempat, dengan membilas bahan yang mungkin
berfungsi sebagai sumber makanan untuk bakteri. (Sherwood, 2014)
Liur berfungsi sebagai bahan pelarut molekul yang merangsang kuntum kecap.
Liur membantu berbicara dengan mempermudah gerakan bibir dan lidah.

6
Liur berperan penting dalam higiene mulut dengan membantu mulut dan gigi
bersih.
Liur kaya akan dapar bikarbonat, yang menetralkan asam dalam makanan serta
asam yang dihasilkan oleh bakteri di mulut sehingga karies dentis dapat dicegah.
(Sherwood, 2014)
Saliva juga mempunyai karakteristik yaitu, memiliki PH basa (dari sel duktus
interkalaris ikut menambahkan sekret ion bikarbonat yang memberi sifat basa pada
PH saliva, karena sifat basanya ion bikarbonat menteralkan makanan yang masuk ke
rongga mulut dengan PH asam sehingga dpat membantu pencegahan karies gigi).
Saliva mengandung enzim ptialin yang dapat menghidrolisis pati menjadi glukosa
sederhana yang optimum pada kondisi netral/ sedikit asam.
Menurut Guyton (1997), Kelenjar saliva yang utama (mayor) adalah kelenjar
parotis, submandibularis, dan sublingualis. Selain itu, juga ada beberapa kelenjar
saliva minor. Sekresi saliva normal sehari-hari berkisar antara 800-1500 ml per hari.
Saliva mengandung dua tipe sekresi protein yang utama: (1) sekresi serus yang
mengandung ptialin (suatu amilase), yang merupakan enzim untuk mencernakan
serat, dan (2) sekresi mukus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan
perlindungan permukaan. Kelenjar parotis seluruhnya menyekresi tipe serus, dan
kelenjar submandibularis dan sublingual menyekresi tipe mukus maupun serus.
Kelenjar saliva minor hanya menyekresi mukus. Saliva mempunyai pH antara 6,0
dan 7,4 suatu kisaran yang menguntungkan untuk kerja pencernan dari ptialin.
(Guyton, 1997)

7
Gambar 1 Anatomi Kelenjar Saliva

Gambar 2 Histologi Kelenjar Saliva

a. Kelenjar Saliva Mayor


1. Kelenjar Parotis

8
Merupakan kelenjar saliva terbesar.Letaknya berpasangan:
Ventrokaudal telinga, di posterior ramus mandibula, di bagian superior
permukaan m. Masseter.Terdiri dari kumpulan lobus berbentuk buah anggur
yang mengeluarkan sekret kedalam rongga mulut. Tertutup oleh fascia
parotidea sebagai lapisan luar fascia coli superfisialis. Pada pinggir ventral
keluar saluran keluar kelenjar yang disebut Duktus Parotidikus Stenonianus
yang menembus fascia parotis masseterica dan menembus m. Buccinatorius,
kemudian bermuara pada papilla saliva buccinatoria setinggi gigi molar dua
maxilla di dalam vestibulum oris. Sejajar dengan duktus, berjalan arteri dan
vena transversa facii. Dari pinggir ventral berjalan N. VII. Dikelilingi jaringan
fibrosa yang keras. Di dalam kelenjar terdapat juga arteri carotis eksterna dan
a. Retro mandibular. Mempunyai tiga permukaan: Superfisial, anteromedial
yang berhubungan dengan mandibula, dan posterolateral yang berhubungan
dengan M. Sternocleido mastoideus. Saliva yang dihasilkan bersifat serosa,
tidak terdapat mucous sama sekali kecuali pada saat lahir.

2. Kelenjar Submandibularis
Kelenjar ini teletak inferior dari radix lingua. Kelenjar ini terdiri dari jaringan
ikat yang padat. Saluran keluar utama yaitu duktus wharton bermuara pada
ujung papila sublingualis pada dasar rongga mulut dekat sekali dengan
frenulum lidah, dibelakang gigi seri bawah.
Kelenjar submandibularis menghasilkan 80% serous (cairan ludah yang
encer) dan 20% mukous (cairan ludah yang pekat). Kelenjar submandibularis
merupakan kelenjar yang memproduksi airliur terbanyak. Saliva pada
manusia terdiri atas 70% sekresi kelenjar submandibularis.

3. Kelenjar Sublingual
Kelenjar ini terletak anterior dari keenjar submandibula, dibawah lidah.
Saluran keluar utama yaitu duktus rivinus. Kelenjar sublingualis
menghasilkan sekret yang mukous dan konsistensinya kental. Saliva pada
manusia terdiri atas 5% sekresi kelenjar sublingualis.

b. Kelenjar Saliva Minor

9
Kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar lingualis, bukalis, labialis, palatinal,dan
glossopalatinal. Kelenjar-kelenjar ini berada di bawah mukosa dari bibir, lidah,
pipi, serta palatum.
1. Kelenjar Glossopalatinal
Lokasi dari kelenjar ini berada dalam isthimus dari lipatan glossopalatinal dan
dapat meluas ke bagian posterior dari kelenjar sublingual ke kelenjar yang ada
di palatum molle.
2. Kelenjar Labial
Kelenjar ini terletak di submukosa bibir. Banyak ditemui pada midline dan
memiliki banyak duktus.
3. Kelenjar Bukal
Kelenjar ini terdapat pada mukosa pipi, kelenjar ini serupa dengan kelenjar
labial.
4. Kelenjar Palatinal
Kelenjar ini ditemui di sepetiga posterior palatal dan di palatum
molle.Kelenjar ini dapat dilihat secara visual dan dilindungi oleh jaringan
fibrous yang padat.
5. Kelenjar Lingual
Kelenjar ini dikelompokkan dalam beberapa tipe yaitu :
- Kelenjar anterior lingual, lokasi kelenjar ini tepat di ujung lidah.
- Kelenjar lingual Van Ebner, kelenjar ini dapat di temukan di papila
sirkumvalata.
- Kelenjar posterior lingual, dapat ditemukan pada sepertiga posterior lidah
yang berdekatan dengan tonsil.
2. Komponen Kelenjar Saliva
Saliva disekresi sekitar 1 sampai 1,5 liter setiap hari tergantung pada
tingkatperangsangan. Kecepatan aliran saliva bervariasi dari 0,1-4,0 ml/menit. Pada
kecepatan 0,5 ml/menit sekitar 95% saliva disekresi oleh kelenjar parotis dan kelenjar
submandibularis; sisanya disekresi oleh kelenjar sublingual dan kelenjar saliva minor.
Sekresi saliva yang bersifat spontan dan kontinyu disebabkan oleh stimulasi konstan
saraf parasimpatis dan berfungsi menjaga agar mulut serta tenggorokan tetap basah
setiap waktu.
Komponen-komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi olehkelenjar
saliva, dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik. Namun demikian,
10
kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva
bahan utamanya adalah air yaitu sekitar 99.5%.Komponen anorganik saliva antara
lain : Sodium, Kalsium, Kalium,Magnesium, Bikarbonat, Khlorida, Rodanida dan
Thiocynate (CNS), Fosfat, Potassium dan Nitrat. Sedangkan komponen organik pada
saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam
urat, kretinin, musin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa
hormon seperti testosteron dan kortisol.
a. Komponen Anorganik
Dari kation-kation, Sodium (Na+) dan Kalium (K+) mempunyai konsentrasi
tertinggi dalam saliva. Disebabkan perubahan di dalam muara pembuangan, Na+
menjadi jauh lebih rendah di dalam cairan mulut daripada di dalam serum dan K+
jauh lebih tinggi. Ion Chlorida merupakan unsur penting untuk aktifitas enzimatik
amilase. Kadar Kalsium dan Fosfat dalam saliva sangat penting untuk
remineralisasi email dan berperan penting pada pembentukan karang gigi dan
plak bakteri. Kadar Fluorida di dalam saliva sedikit dipengaruhi oleh konsentrasi
fluorida dalam air minum dan makanan. Rodanida dan Thiosianat(CNS-) adalah
penting sebagai agen antibakterial yang bekerja dengan sisitem laktoperosidase.
Bikarbonat adalah ion bufer terpenting dalam saliva yang menghasilkan 85% dari
kapasitas bufer.
b. Komponen Organik
Komponen organik dalam saliva yang utama adalah protein. Protein yang
secara kuantitatif penting adalah -Amilase, protein kaya prolin, musin dan
imunoglobulin. Berikut adalah fungsi protein-protein dalam saliva:
1. -Amilase mengubah tepung kanji dan glikogen menjadi kesatuan karbohidrat
yang kecil. Juga karena pengaruh -Amilase, polisakarida mudah dicernakan.
2. Lisozim mampu membunuh bakteri tertentu sehingga berperan dalam sistem
penolakan bakterial.
3. Kalikren dapat merusak sebagian protein tertentu, di antaranya faktor
pembekuan darah XII, dan dengan demikian berguna bagi proses pembekuan
darah.
4. Laktoperosidase mengkatalisis oksidasi CNS (thiosianat) menjadi OSCN
(hypothio) yang mampu menghambat pertukaran zat bakteri dan
pertumbuhannya.

11
5. Protein kaya prolin membentuk suatu kelas protein dengan berbagai fungsi
penting: membentuk bagian utama pelikel muda pada email gigi.
6. Musin membuat saliva menjadi pekat sehingga tidak mengalir seperti air
disebabkan musin mempunyai selubung air dan terdapat pada semua permukaan
mulut maka dapat melindungi jaringan mulut terhadap kekeringan. Musin juga
untuk membentuk makanan menjadi bolus.

3. Mekanisme Sekresi Saliva


Pengeluaran saliva sekitar 0,5 sampai 1,5 liter per hari. Tergantung pada
tingkat perangsangan, kecepatan aliran bervariasi dari 0,1 sampai 4 ml/menit. Pada
kecepatan 0,5 ml/menit sekitar 95% saliva disekresi oleh kelenjar parotis (saliva
encer) dan kelenjar submandibularis (saliva kaya akan musin), sisanya disekresi oleh
kelenjar sublingual dan kelenjar-kelenjar di lapisan mukosa mulut.
Sekresi saliva yang bersifat spontan dan kontinu, bahkan tanpa adanya
rangsangan yang jelas, disebabkan oleh stimulasi konstan tingkat rendah ujung-
ujung saraf parasimpatis yang berakhir di kelenjar saliva. Sekresi basal ini penting
untuk menjaga agar mulut dan tenggorokan tetap basah setiap waktu. Selain sekresi
yang bersifat konstan dan sedikit tersebut, sekresi saliva dapat ditingkatkan melalui
dua jenis refleks saliva yang berbeda:
Refleks saliva sederhana, atau tidak terkondisi.
Refleks saliva didapat, atau terkondisi.
Refleks saliva sederhana (tidak terkondisi) terjadi sewaktu kemoreseptor atau
reseptor tekanan di dalam rongga mulut berespons terhadap adanya makanan.
Sewaktu diaktifkan, reseptor-reseptor tersebut memulai impuls di serat saraf aferen
yang membawa informasi ke pusat saliva di medula batang otak. Pusat saliva
kemudian mengirim impuls melalui saraf otonom ekstrinsik ke kelenjar saliva untuk
meningkatkan sekresi saliva. Tindakan-tindakan gigi mendorong sekresi saliva
walaupun tidak terdapat makanan karena adanya manipulasi terhadap reseptor
tekanan yang terdapat di mulut. Jalur saraf parasimpatis untuk mengatur pengeluaran
saliva terutama dikontrol oleh sinyal saraf parasimpatis sepanjang jalan dari nukleus
salivatorius superior dan inferior batang otak. Obyek-obyek lain dalam mulut dapat
menggerakkan refleks saliva dengan menstimulasi reseptor yang dipantau oleh
nervus trigeminal (V) atau inervasi pada lidah dipantau oleh nervus kranial VII, IX,

12
atau X. Stimulasi parasimpatis akan mempercepat sekresi pada semua kelenjar saliva,
sehingga menghasilkan produksi saliva dalam jumlah banyak.

4. Faktor yang Menghambat dan Menigkatkan Sekresi Saliva


Adapun beberapa faktor dapat mempengaruhi saliva, yaitu:
Tingkat dehidrasi individu. Ketika kadar air tubuh berkurang 8%, Salivary flow
(SF) berkurang ke nol, sedangkan hyperhydration menyebabkan peningkatan SF.
Selama dehidrasi, kelenjar liur berhenti sekresi untuk menghemat air.
Sirkadian dan siklus Sirkanual. Sirkadian, Konsentrasi protein total mencapai
puncaknya pada akhir sore hari, sementara tingkat produksi natrium dan klorida
terjadi pada awal pagi. Siklus sirkanual, ini merupakan siklus tahunan yang
dipengaruhi oleh musim. Pada musim panas sekresi saliva berkurang, yang dapat
mengakibatkan haus atau dehidrasi, sedangkan pada musim dingin kondisi
salivanya meningkat.
Usia, dari kanak kanak sampai dewasa laju aliran saliva naik dan pada lansia
turun. Fungsi kelenjar pada lansia turun karena elemen sekretorik digantikan oleh
jaringan emak dan jaringan fibrosa.
Sekresi masing-masing kelenjar berbeda secara almiah dan kuantitas dari protein
dan elektrolit yang berbeda. Setiap kelenjar memiliki tingkat penerimaan dan
kepekaan yang berbeda-beda, sehingga aliran dari jumlah salivanya pun berbeda-
beda.
Diet, berpengaruh terhadap perbedaan aliran saliva. Aktifitas fungsional kelenjar
saliva dipengaruhi oleh factor mekanis dan pengecapan
Umur, Jenis kelamin, dan fisiologis seseorang. Anak laki-laki diketahui
mempunyai produksi saliva lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Hal ini
dapat terjadi karena pengaruh ukuran kelenjar saliva wanita yang lebih kecil
dibandingkan laki-laki. Laju alir saliva meningkat dari umur anak-anak sampai
remaja dan akan menurun (kira-kira 25%) pada usia tua 10. Kadar hormone dapat
berasal dari aldeosteron, hormone bradikinin, testosterone dan tiroksin.
Obat-obatan ada sebagian obat yang dapat meningkatkan sekresi saliva dan ada
yang menurunkan sekresi saliva. Contohnya : Antane, Librax, dll.
Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa
yang dapat menstimulasi sekresi saliva.
13
5. Gangguan Kelenjar Saliva
a. Xerostomia
Banyak pasien mengeluh mulutnya kering, walaupun kelenjar saliva mereka
berfungsi dengan normal. Xerostomia sejati dapat disebabkan oleh penyakit
kelenjar saliva primer atau manifestasi sekunder dari suatu kelainan sistemik atau
terapi obat. Penyakit kelenjar saliva primer meliputi sindrom Sjorgen, kerusakan
pasca radiasi atau anomali pertumbuhan. Penyebab sistemik sekunder dari
xerostomia meliputi kegelisahan kronis, dehiderasi atau terapi obat.
b. Sialorrhea
Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan menetesnya air
liur atau sekresi saliva yang berlebihan.
c. Ranula
Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major
yang membesar atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar
terhalangnya aliran liur yang sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar
submandibuler (duktus Wharton), sehingga melalui rupture ini air liur keluar
menempati jaringan disekitar saluran tersebut. Selain terhalangnya aliran liur,
ranula bisa juga terjadi karena trauma dan peradangan. Ranula mirip dengan
mukokel tetapi ukurannya lebih besar. Bila letaknya didasar mulut, jenis ranula
ini disebut ranula superfisialis. Bila kista menerobos dibawah otot milohiodeus
dan menimbulkan pembengkakan submandibular, ranula jenis ini disebut ranula
Dissecting atau Plunging.
d. Sialadenitis
Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya
disebabkan oleh batu yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. Proses
inflamasi yang melibatkan kelenjar ludah disebabkan oleh banyak faktor etiologi.
Proses ini dapat bersifat akut dan dapat menyebabkan pembentukan abses
terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Keterlibatannya dapat bersifat unilateral
atau bilateral seperti pada infeksi virus. Sedangkan Sialadenitis kronis
nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus karena sialolithiasis atau
radiasi eksternal atau mungkin spesifik, yang disebabkan dari berbagai agen
menular dan gangguan imunologi.
e. Mukokel
14
Mucocele adalah lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan
oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di
sekitarnya. Mucocele bukan kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Mucocele
dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut.
Mucocele terjadi karena pada saat air liur kita dialirkan dari kelenjar air liur ke
dalam mulut melalui suatu saluran kecil yang disebut duktus. Terkadang bisa
terjadi ujung duktus tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit
secara tidak sengaja, sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir
keluar dan menyebabkan pembengkakan (mucocele). Mucocele juga dapat terjadi
jika kelenjar ludah terluka. Manusia memiliki banyak kelenjar ludah dalam mulut
yang menghasilkan ludah. Ludah tesebut mengandung air, biopsy, dan enzim.
Ludah dikeluarkan dari kelenjar ludah melalui saluran kecil yang disebut duct
(pembuluh). Terkadang salah satu saluran ini terpotong. Ludah kemudian
mengumpul pada titik yang terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan, atau
mucocele. Pada umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir bawah.
Namun dapat juga ditemukan di bagian lain dalam mulut, termasuk langit-langit
dan dasar mulut. Akan tetapi jarang didapati di atas lidah. Pembengkakan dapat
juga terjadi jika saluran ludah (duct) tersumbat dan ludah mengumpul di dalam
saluran.

6. Mengatasi Bau Mulut


a. Sikat gigi tiga kali sehari. Gigi dan gusi yang sehat akan memproduksi air liur
yang tepat, dan membuat mulut tetap lembab dan segar.
b. Minum banyak air sepanjang air untuk membantu menjaga mulut lembab.
Namun, hal itu akan lebih baik membantu jika minum air dengan teguk kecil. Hal
ini karena minum air dalam tegukan besar hanya akan membuat orang buang air
kecil lebih sering, dan semakin memperburuk mulut kering.
c. Menghindari minuman berkafein, seperti teh, kopi dan soda.
d. Untuk mencegah kekeringan, terutama ketika sedang makan, seteguk air di antara
waktu makan akan membuat mengunyah makanan menjadi lebih mudah.
e. Memancing kelenjar ludah untuk lebih mengeluarkan air liur. Hal ini dapat
dilakukan dengan permen karet bebas gula atau permen. Namun, cobalah untuk
tidak berlebihan karena kelebihan gula dalam permen dapat menyebabkan
gangguan dari karies gigi.
15
f. Jangan konsumsi rokok (tembakau) atau alkohol, karena ini cenderung untuk
meningkatkan kekeringan pada mulut.
g. Menghindari makanan yang memperburuk mulut kering, seperti makanan asin
atau makanan pedas yang dapat menyebabkan rasa sakit dan iritasi lidah dan
rongga mulut.
h. Menggunakan pasta gigi fluoride untuk mencegah kemungkinan perkembangan
karies gigi.
i. Jika mulut sakit, gunakan air garam yang hangat dan baking soda bilasan untuk
meredam kekeringan.
j. Penyembuhan sederhana untuk mulut kering adalah dengan mengunyah makanan
berserat di antara waktu makan, seperti wortel dan seledri. Ini membantu untuk
meningkatkan sekresi air liur dan juga tidak menyebabkan karies gigi.
k. Makanlah makanan yang lebih mudah untuk dikunyah dan ditelan.
l. Bernapas melalui hidung, bukan mulut.
m. Konsultasikan dengan dokter jika harus mengonsumsi obat-obatan tertentu yang
dapat menyebabkan mulut kering. (Medicinenet, Senin (22/2/2010)

B. Kerangka Konsep

Kelenjar
Saliva

Innervasi &
Vaskularisasi Anatomi Fisiologi Histologi

Manifestasi
Klinis

Gangguan
Faktor Eksternal
dan Internal

Penurunan
Sekresi Saliva
16
BAB III
KESIMPULAN

Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri dari
campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor) yang ada pada
mukosa oral. Fungsi saliva antara lain untuk pencernaan, proses menelan, efek antibakteri,
pelarut dan merangsang papila lidah, higiene mulut dan gigi. Saliva merupakan sekresi yang
berkaitan dengan mulut, diproduksi oleh tiga pasang kelenjar saliva utama: kelenjar
sublingual, submandibula, dan parotis, yang terletak di luar rongga mulut dan menyalurkan
saliva melalui duktus-duktus pendek ke dalam mulut. Komponen-komponen saliva, yang
dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjar saliva, dapat dibedakan atas komponen organik
dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan
serum karena pada saliva bahan utamanya adalah air yaitu sekitar 99.5%. Faktor produksi
saliva antara lain faktor mekanis, faktor kimiawi, faktorneuronal, dan rangsangan rasa sakit.

17
DAFTAR PUSTAKA

Almeida, Patricia Del Vigna De, et al. (2008). A Saliva Composition and Functions. The
Journal Of Contemporary Dental Practice Volume 9 Number 3.

Despopoulos A. Silbernagl S.(2000). Atlas Berwarna & Teks Fisiologi. 4 ed. Jakarta
:Hipokartes.

Ganong, W F. (1999). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17 ed. Jakarta : EGC.

Humprey SP, Williamson RT. (2001). A Review of Saliva Normal Composition, Flow and
Function. J Prosthet Dent.

Sherwood, Lauralee. (2014).Fisologi Manusia: dari sel ke sistem. 8 ed. Jakarta: EGC.

Snell RS.(2000). Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. 6 ed. Jakarta: EGC.

Soejoto, Soetedjo, Faradz SMH, Witjahyo RB, Susilaningsih N, Purwati RD, et al. (2010).

Lecture Notes Histologi II. Semarang: Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro.

18