Anda di halaman 1dari 11

Rochmad Proses Berpikir Induktif

Proses Berpikir Induktif dan Deduktif dalam Mempelajari Matematika

Rochmad
Dosen Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Abstrak
Salah satu ciri utama dalam mempelajari matematika adalah menerapkan penalaran deduktif yaitu
kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran
sebelumnya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan matematika bersifat konsisten. Namun
demikian, pembelajaran matematika dengan fokus pada pemahaman konsep dapat diawali dengan
pendekatan induktif melalui pengalaman khusus yang dialami siswa. Dalam pembelajaran
matematika, pola pikir induktif dapat digunakan untuk memahami definisi, pengertian, dan aturan
matematika. Kegiatan pembelajaran dapat dimulai dengan menyajikan beberapa contoh atau fakta
yang teramati, membuat daftar sifat-sifat yang muncul, memperkirakan hasil yang mungkin, dan
kemudian siswa dengan menggunakan pola pikir induktif diarahkan menyusun suatu generalisasi.
Selanjutnya, jika memungkinkan siswa diminta membuktikan generalisasi yang diperoleh tersebut
secara deduktif.

Kata kunci: Pembelajaran matematika, pola pikir induktif, pola pikir deduktif.

A. Pendahuluan jumlahkan dan hasilnya 45. Jadi tiga bilangan


Dalam pembelajaran matematika asli berututan tersebut adalah 14, 15 dan 16.
seorang guru memberi soal kepada siswanya Jawaban dari beberapa siswa lainnya, mirip
sebagai berikut: "tiga bilangan asli berurutan seperti itu. Karena itu, guru menyimpulkan
jumlahnya 45, berapakah bilangan-bilangan para siswanya menjawab dengan cara
itu?" Ternyata dengan cara mencoba-coba mencoba-coba atau menebak-nebak.
beberapa anak kelas V sekolah dasar Ada siswa yang memecahkan masalah
menemukan bahwa bilangan-bilangan itu 14, dengan menggunakan pendekatan sebagai
15 dan 16; sebab ketiga bilangan tersebut berikut. Misalnya salah satu bilangan asli
adalah bilangan asli berurutan dan jumlahnya tersebut A. Tiga bilangan asli berurutan yang
14 + 15 + 16 = 45. Guru memberi penguatan ditanyakan dapat dinyatakan dengan A, A+1,
dengan melontarkan pujian: Bagus! benar dan A + 2. Diketahui A + (A + 1) + (A + 2) =
jawaban kalian. Guru ingin mengetahui 45, didapat 3A + 3 = 45. Jadi 3A = 42 dan A
bagaimana cara mereka memperoleh ketiga = 14. Kemudian siswa tersebut
bilangan asli tersebut. Kepada beberapa menyimpulkan: Jadi bilangan-bilangan itu
siswa guru mengajukan pertanyaan: 14, 15, dan 16. Pemecahan masalah seperti
Bagaimana anda dapat menemukan jawaban ini menggunakan pendekatan deduktif.
tersebut? Dua pendekatan dalam memecahkan
Berkaitan dengan soal di atas, ada masalah matematika tersebut di atas berkaitan
beberapa siswa menjelaskan sebagai berikut: dengan proses berpikir siswa, apakah
mula-mula saya memilih tiga bilangan asli 6, menggunakan penalaran induktif atau
7, dan 8 lalu dijumlahkan hasilnya 21, deduktif. Pada pendekatan yang pertama,
ternyata kurang dari 45; lalu saya memilih siswa memecahkan masalah dengan cara
20, 21, 22 jumlahnya 63, lebih dari 45. mencoba-coba, trial and error, dan
Kemudian saya berpikir, saya pilih tiga menemukan jawabannya. Pendekatan seperti
bilangan asli 14, 15 dan 16, lalu saya ini termasuk dalam pendekatan induktif. Cara

107
Rochmad Proses Berpikir Induktif

memecahkan masalah dengan mencoba-coba B. Pembahasan


atau menebak-nebak sering dilakukan oleh a. Pola Pikir Induktif
siswa. Cara seperti ini kadang memerlukan Menurut Piaget (dalam Copeland,
waktu yang lama untuk menemukan 1974), siswa belajar memahami objek-objek
jawabannya. Siswa kebanyakan kesulitan jika di lingkungan kehidupannya dengan cara
soalnya dikembangkan. mengklasifikasikan menjadi suatu kategori
Misalnya "Tiga bilangan berurutan tertentu yang berbeda dengan objek lainnya,
jumlahnya 69693, berapakah bilangan- berbasis karakteristik tertentu atau sifatnya.
bilangan itu?" Dengan mencoba-coba Misalnya jika disajikan beberapa gambar
memilih tiga bilangan asli yang jumlahnya berbagai binatang, siswa mengklasifikasikan
69693 bukanlah pekerjaan yang mudah bagi gambar-gambar tersebut ke dalam kelompok
siswa, meskipun ia telah memiliki burung, ayam, dan hewan berkaki empat.
pengalaman menjawab soal yang pertama. Dengan cara seperti ini siswa belajar konsep
Karena itu, kemampuan memecahkan himpunan dan keanggotaan suatu himpunan.
masalah dengan menggunakan metode Ide dari klasifikasi, berbasis pada
mencoba-coba kurang dapat diandalkan. relasi. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya
Dalam kasus pemecahana masalah ini, siswa seorang siswa mengatakan: Para siswa
yang menggunakan cara kedua yakni sedang bermain bola milik Anton. Kata
menggunakan pendekatan deduktif, akan milik merupakan relasi, dan karena relasi
lebih mudah dalam memecahkan masalah inilah bola tersebut kemudian dikembalikan
tersebut. kepada Anton. Dengan demikian, dapat
Berkaitan dengan pembelajran, terjadi siswa dalam mengamati objek-objek
kebanyakan guru dalam melaksanakan berupaya mengklasifikasikan atau
pembelajaran matematika dengan pendekatan merelasikan dengan berbagai cara. Misalnya:
induktif, bermula dari contoh-contoh menuju lebih berat, lebih luas, dan memiliki warna
ke generalisasi. Kegiatan belajar ini sangat sama. Dalam geometri, siswa
penting dalam belajar matematika. Namun mengklasifikasikan objek-objek dengan
para guru diharapkan tidak melupakan relasi, misalnya: bangun datar yang memiliki
pentingnya penalaran deduktif dalam belajar tiga sisi; bangun datar yang memiliki
matematika. Guru yang hanya menggunakan empat sisi; dan bangun datar yang
pendekatan induktif membangun kemampuan memiliki empat sisi yang sama panjang.
siswa dalam bernalar induktif, namun jika Selanjutnya, dengan melakukan
kurang memberi tekanan dalam membangun klasifikasi terhadap objek-objek yang ada di
kemampuan bernalar deduktif, maka lingkungan sekitar, siswa diharapkan dapat
dikhawatirkan kemampuan matematika siswa menulis suatu definisi. Sebagaimana yang
kurang berkembang secara optimal. Berikut dikemukakan Copeland (1974: 53):
ini disajikan argumentasi pentingnya
mengkombinasikan penalaran induktif dan From such classification will later
deduktif dalam pembelajaran matematika. come definition such as a triangle
Penulisan artikel ini dimaksudkan agar para is ..., a family is , a mother
guru matematika menyadari pentingnya is , and a river is .
melatih siswa menggunakan penalaran
induktif dan deduktif dalam belajar Artinya, dari klasifikasi seperti itu akhirnya
matematika. menjadi definisi seperti segitiga adalah ,
keluarga adalah , ibu adalah , dan
sungai adalah .

108
Rochmad Proses Berpikir Induktif

Dalam geometri jika pembelajaran Artinya model Klauer dikembangkan dalam


dimulai dengan suatu definisi, misalnya domain isi yang terlalu umum dan kurang
segitiga adalah bangun datar yang dibatasi jelas apakah dapat diterapkan dalam
oleh tiga ruas garis. Kemudian menggunakan matematika.
pengertian tersebut untuk mengindentifikasi Christou dan Papageorgiou (2006: 57)
dari berbagai bangun datar sederhana dan memandang penting penalaran induktif dalam
memilih mana yang berupa segitiga, maka matematika dan perlu kerangka proses
pendekatan pembelajarannya disebut kognitif yang dapat digunakan untuk
pendekatan deduktif. Menurut pendapat para mendorong kecakapan penalaran induktif
ahli, pendekatan yang lebih baik bagi anak- siswa dalam belajar matematika. Proses
anak dalam belajar matematika adalah induktif dari kesamaan (similarity),
pendekatan induktif dari pada pendekatan ketidaksamaan (disimilarity), dan integrasi
deduktif. Copeland (1974: 204) menyatakan: (integration).
Contoh kepada siswa diajukan
A better approach (inductive) in pertanyaan: (1) Carilah sifat umum dari
teaching children is to show them sekelompok bilangan 4, 16, 8, 32, 20, 100,
several triangles and ask them 40; (2) Carilah bilangan yang belum ditulis
what the figures have in common dalam 3/6 = 5/? Dalam masalah (1) siswa
and from this experience to form a diminta mencari kesamaan (similarity) dari
definition or generalization. sekelompok bilangan, dengan cara
menemukan satu predikat P(x) yang berarti
Artinya, pendekatan yang lebih baik setiap bilangan (x) memiliki atribut P, yaitu
(induktif) dalam mengajar siswa dengan semua bilangan dalam kelompok bilangan
menunjukkan beberapa segitiga kepada tersebut kelipatan empat. Masalah (2)
mereka dan menanyakan apakah kesamaan merupakan masalah perbandingan sederhana,
dari bangun-bangun tersebut dan kemudian siswa diminta mempertimbangkan dua
dari pengalaman tersebut membangun suatu predikat P(x,y). Dalam kasus ini siswa
definisi atau generalisasi. pertama-tama perlu menyadari bahwa
Model Klauer (Christou dan bilangan x berkaitan dengan y dalam
Papageorgiou, 2006) mengelompokkan tiga perbandingan yang pertama dengan relasi P,
kelas kesamaan (similarity), ketidaksamaan yaitu y dua kali x; dan menerapkan relasi ini
(dissimilarity), dan ketidaksamaan dan dalam rasio yang kedua.
kesamaan (dissimilarity and similarity) dari Contoh ketidaksamaan (dissimilarity),
penalaran induktif meliputi atribut misalnya siswa diminta mencari bilangan
generalisasi (generalization), perbedaan yang tidak cocok dengan bilangan-bilangan
(discrimination), dan klasifikasi silang (cross dari sekelompok bilangan 9, 21, 12, 15, 3, 5
clasification). Model Klauer ini dikritik oleh dan 9 dalam hal ini siswa mencari atribut
Christou dan Papageorgiou (2006: 57), sehingga menemukan bilangan yang
mereka menyatakan: dimaksud misalnya 5, sebab 5 bukan bilangan
kelipatan 3. Berkaitan dengan relasi misalnya
Klauers model has been kepada siswa diberi pertanyaan: Keluarkan
developed in a general content bilangan yang mengganggu dalam barisan
domain, and it is not clear wether bilangan 1 1 2 3 5 8 12, dalam hal ini
it is applicable to mathematics. siswa memperhatikan relasi antara bilangan
dengan bilangan sebelumnya, yaitu bilangan
dalam barisan itu diperoleh dengan cara

109
Rochmad Proses Berpikir Induktif

menjumlahkan dua bilangan sebelumnya. melibatkan sekelompok karakteristik untuk


Bilangan 12 dikeluarkan dari kelompok ditemukan ekuivalensi atau
bilangan karena seharusnya 13. ketidaksamaannya dari relasi-relasi tersebut.
Contoh integrasi, misalnya siswa Minimal terdapat dua relasi sehingga
diminta menempatkan bilangan 24 dari kesamaan atau ketidaksamaan dapat
matriks berikut. diverifikasi.
6, 18, 12 16, 4, 8 Dalam pembelajaran matematika, pola
pikir induktif digunakan oleh guru jika dalam
15, 9, 3 7, 5, 25 menyampaikan materi pembelajaran dimulai
dari hal-hal yang khusus menuju ke hal yang
Atribut dalam tugas di atas adalah tugas lebih umum. Misalnya dalam mengenalkan
mengklasifikasi yang disajikan dengan konsep persegi, guru dapat menunjukkan
matriks 2x2. Contoh integrasi berkaitan berbagai bangun geometri atau gambar
dengan relasi misalnya kepada siswa diberi bangun datar kepada para siswa, dan
soal: Lengkapilah sel dengan bilangan yang mengatakan ini namanya persegi.
cocok, dari matriks 3x3 berikut. Selanjutnya menunjuk bangun lain yang
bukan persegi dengan mengatakan ini bukan
8 4 2 persegi. Dengan demikian siswa dapat
24 12 6 menangkap pengertian secara intuitif
72 36 sehingga siswa dapat membedakan mana
bangun yang berupa persegi dan mana yang
Tiga proses kognitif kesamaan, bukan. Ini merupakan langkah induktif atau
ketidaksamaan dan integrasi pada prinsipnya mengikuti pola pikir induktif (Soedjadi,
mengacu pada operasi-operasi dan 2000).
pemecahan masalah, misalnya berkaitan Dalam pembelajaran matematika,
dengan klasifikasi, barisan, deret, matriks, meskipun pada akhirnya siswa diharapkan
bentuk-bentuk gambar yang dapat digunakan mampu berpikir deduktif, namun dalam
untuk mengantarkan siswa bernalar secara proses pembelajaran matematika dapat
induktif. Kesamaan siswa mengidentifikasi digunakan pola pikir induktif. Pembelajaran
kesamaan-kesamaan atribut-atribut dari matematika terutama di jenjang SD/MI dan
berbagai objek yang berbeda, misalnya SMP/MTs masih sangat diperlukan
bilangan-bilangan atau bangun-bangun, dan penggunaan pola pikir induktif. Ini berarti
pada tingkat relasi dilakukan dengan dalam penyajian matematika di kedua jenjang
mengidentifikasi kesamaan-kesamaan antara pendidikan tersebut perlu dimulai dari hal-hal
bilangan-bilangan atau objek-objek. Pada yang khusus, misalnya contoh-contoh, secara
tingkatan atribut siswa mencatat bertahap menuju suatu simpulan atau sifat
ketidaksamaan antara atribut-atribut; yang umum. Simpulan dapat berupa suatu
kemungkinan kesamaan atau ketidaksamaan definisi atau teorema-teorema yang diangkat
dapat terjadi dalam menyelidiki atribut- dari hal-hal khusus tersebut (Soedjadi, 2000).
atributnya, alternatif solusinya adalah Sampai saat ini teori pembelajaran
menentukan atribut-atribut yang sama atau Bruner masih berpengaruh dalam dunia
berbeda. Pada tingkat relasi siswa menyadari pendidikan. Secara teoritis pembelajaran
adanya perbedaan dalam relasi. Integrasi pada menurut teori Bruner (dalam Materney, 1999)
tingkat atribut melibatkan masalah yang mengikuti langkah: enaktif (enactive)
menuntut siswa mempertimbangkan minimal ikonik (iconic) simbolik (symbolic) yakni
dua objek secara serentak; pada tingkat relasi pembelajaran yang bermula dari hal-hal

110
Rochmad Proses Berpikir Induktif

konkret menuju abstrak. Sebagai ilustrasi cara menunjukkan berbagai gambar bangun
guru matematika dalam menanamkan konsep geometri datar sebagai berikut.
persegi kepada para siswanya (menerapkan
teori Bruner dari ikonik ke simbolik) dengan

A B C
D

G
E F

Gambar 1. Bangun geometri datar

Kemudian guru menjelaskan: Gambar A dan pembelajaran yang lebih penting adalah guru
F adalah gambar persegi. Gambar B adalah memfasilitasi siswa aktif belajar matematika
lingkaran, Gambar C adalah persegi panjang, dengan cara mengkonstruksi matematika,
gambar D dan E adalah segitiga, dan Gambar memberi kesempatan siswa berfikir dan
G adalah segi lima. Selanjutnya, guru membangun generalisasi. Kemungkinan
meminta siswa menulis definisi persegi diperoleh jawaban siswa yang berbeda-beda.
dengan bahasa siswa sendiri: Tulislah Misalnya ada siswa yang menjawab: Persegi
dengan bahasa kalian sendiri definisi adalah bangun datar yang dibatasi empat sisi,
persegi. sisi-sisi yang berhadapan sama panjang,
Untuk dapat menulis definisi persegi siswa lainnya menjawab: Persegi adalah
dengan bahasa sendiri siswa mengamati, segiempat yang keempat sisinya sama
membandingkan, mengenal karakteristik, dan panjang dan salah satu sudutnya siku-siku,
berusaha menyerap berbagai informasi yang dan kemungkinan masih banyak ragam
terkandung dalam kasus-kasus khusus jawaban siswa. Jawaban siswa dapat benar
tersebut untuk digunakan memperoleh dapat pula kurang tepat atau salah. Karena
kesimpulan atau sifat yang umum. Dengan itu guru, misalnya melalui diskusi kelas,
menyerap berbagai informasi pada kasus- membuat kesepakatan mengenai definisi
kasus khusus tersebut, siswa membangun persegi. Definisi inilah yang selanjutnya
suatu generalisasi. Ini merupakan bagian dipakai dalam pembelajaran matematika
kegiatan yang penting dalam mengkonstruksi selanjutnya.
pengetahuan matematika yang melibatkan Pembelajaran dengan melibatkan pola
penggunaan pola pikir induktif. pikir induktif efektif untuk mengajarkan suatu
Dengan menggunakan pola pikir konsep matematika, dan memberi peluang
induktif siswa mengkonstruk konsep persegi kepada siswa untuk memahami konsep atau
berdasar hasil pengamatan pada kasus-kasus memperoleh generalisasi dengan cara yang
khusus yang diberikan. Dalam pelaksanaan lebih bermakna. Siswa memperoleh

111
Rochmad Proses Berpikir Induktif

pengalaman ketika melakukan pengamatan hukum tertentu yang segera dapat


secara cermat pada kasus-kasus khusus yang dipergunakan untuk menemukan jawaban
diberikan guru. Dalam mengkonstruk pertanyaan tersebut. Pertanyaan itu dapat juga
matematika ini siswa terlibat dengan proses terselinap dalam suatu situasi sehingga situasi
adaptasi dan organisasi, sehingga itu sendiri perlu mendapat penyelesaian.
mempelajari konsep matematika dengan cara Masalah dapat dipecahkan dengan
seperti ini dipandang lebih bermakna dari menggunakan pola pikir induktif atau
sekedar menghapalkannya (Marpaung, 2003). deduktif.
Polya (1973) menyatakan pemecahan Contoh pemecahan suatu masalah
masalah sebagai usaha jalan keluar dari suatu dengan menggunakan pola pikir induktif
kesulitan, mencapai suatu tujuan yang tidak sebagai berikut. Di bawah ini terdapat tiga
segera dapat dicapai. Terdiri dari masalah gambar, Gambar 1, 2, dan 3. Gambar 4 belum
untuk menemukan (problem to find) dan diketahui dan siswa diminta melengkapi
masalah untuk membuktikan (problem to Gambar 4 dengan cara memilih salah satu
prove). Hudojo (2003: 148) menyatakan suatu gambar A, B, C atau D yang disajikan di
pertanyaan akan merupakan masalah hanya bawahnya.
jika siswa tidak mempunyai aturan atau

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4

A B C D

Untuk menyelesaikan masalah di atas Gambar 3 titik hitam muncul lagi, dan muncul
siswa terlibat belajar memecahkan masalah gambar persegi di dalam persegi kecil.
dengan menggunakan pola pikir induktif, Siswa dalam memilih jawaban A, B,
ilustrasinya sebagai berikut. Suatu C atau D melakukan pengamatan dan analisis
pendekatan untuk memecahkan masalah pada serangkaian gambar yang diberikan.
secara sistematik adalah dengan melihat Misalnya pilihan untuk Gambar 4 adalah A,
bentuk-bentuk gambar yang diberikan dan pilihan ini tidak benar sebab titik hitam
perubahan bentuk dari gambar yang satu ke mestinya tidak ada dalam gambar. Melalui
lainnya. Pada Gambar 1 suatu persegi analogi, disimpulkan pilihan C juga salah.
diberikan, dengan titik hitam di tengahnya. Pilihan jawaban tinggal B dan D. Pilihan
Pada Gambar 2 persegi masih di tempat yang jawaban bukan B, sebab persegi kecilnya
sama, tetapi titik hitam lenyap, dan muncul tidak ada. Jadi jawabannya adalah D.
persegi kecil di dalam persegi mula-mula. Pada

112
Rochmad Proses Berpikir Induktif

Contoh lainnya, misalnya seorang Misalnya dalam memecahkan masalah yang


guru meminta siswa mencari rumus suku ke-n dihadapinya, siswa tersebut membuat daftar
suatu barisan bilangan genap sebagai berikut.
2, 4, 6, 8, ...

Suku ke Bilangan Pola


1 2 2=1x2
2 4 4=2x2
3 6 6=3x2

M M M

n 2n nx2

Kemudian siswa membuat kesimpulan logika (logical reasoning). Penalaran logika


sebagai berikut: Rumus suku ke-n barisan merupakan aspek dasar dalam mempelajari
bilangan 2, 4, 6, 8, adalah 2n untuk n matematika. Bila kemampuan bernalar tidak
bilangan asli. Melalui pemecahan masalah dikembangkan pada diri siswa, maka bagi
ini, siswa mengkonstruksi pengetahuan siswa matematika hanya akan menjadi
matematika: Barisan bilangan genap jika materi yang mengikuti serangkaian prosedur
dan hanya jika rumus suku ke-n adalah 2n dan siswa hanya meniru contoh-contoh tanpa
untuk n bilangan asli mengetahui maknanya. NCTM (2000)
Dalam memecahkan masalah menyatakan bahwa program pembelajaran
tersebut siswa menggunakan pola pikir matematika dari prasekolah (pre-
induktif sebagai berikut. Mula-mula ia kindergarten) sampai grade-12 harus
menyusun daftar suku ke-1 adalah 2, suku memberi kesempatan kepada semua siswa:
ke-2 adalah 4, suku ke-3 adalah 6, suku ke-4 mengenal penalaran dan pembuktian sebagai
adalah 8, . Selanjutnya siswa tersebut aspek dasar matematika; menggali dan
melihat hubungan 2 = 2 x 1, 4 = 2 x 2, 6 = 3 membuat konjektur-konjektur matematika;
x 2, 8 = 4 x 2, dan melakukan mengembangkan dan menilai argumen-
generalisasi bahwa suku ke-n adalah n x 2, argumen matematika; dan memilih serta
dan n x 2 = 2n. Dalam hal ini proses berpikir menggunakan berbagai tipe penalaran dan
siswa mulai dengan mengamati kasus-kasus metode pembuktian. NCTM (2000)
khusus menuju ke umum, yaitu adanya suatu menyatakan bahwa pada semua tingkatan
proses penarikan kesimpulan dari hal-hal pendidikan siswa bernalar secara induktif
khusus dan diperoleh suatu generalisasi, berdasar pola-pola dan kasus-kasus khusus,
rumus suku ke-n barisan 2, 4, 6, 8, meningkat sesuai tingkatannya, mereka juga
adalah 2n. harus belajar membuat argumen-argumen
deduktif yang efektif berdasar kebenaran
b. Pola Pikir Deduktif matematika yang ditetapkan di kelas.
Ross (dalam Lithner, 2000)
menyatakan bahwa salah satu tujuan At all levels, students will reason
terpenting dari pembelajaran matematika inductively from patterns and
adalah mengajarkan kepada siswa penalaran spesific cases. Increasingly over

113
Rochmad Proses Berpikir Induktif

the grades, they should also learn Jika guru memulai pembelajaran
to make effective deductive dengan menyampaikan generalisasi atau
arguments based on the definisi, misalnya untuk setiap bilangan
mathematical truths they are bulat a dan b berlaku a + b = b + a,
establishing in class (NCTM, kemudian baru memberi contoh, maka guru
2000: 59). tersebut menggunakan pendekatan pola pikir
deduktif. Dalam pembelajaran geometri,
Ciri utama matematika adalah jika guru memulai pembelajaran dengan
penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu menyampaikan definisi, misalnya segitiga
konsep atau pernyataan diperoleh sebagai adalah bangun datar bersisi tiga, kemudian
akibat logis dari kebenaran sebelumnya dilanjutkan dengan memberi contoh-contoh
sehingga kaitan antar konsep atau maka guru tersebut menggunakan
pernyataan matematika bersifat konsisten. pendekatan pola pikir deduktif. Menurut
Namun demikian, pembelajaran dengan Copeland (1974) pendekatan pembelajaran
fokus pada pemahaman konsep dapat yang lebih baik bagi siswa (setingkat SD
diawali secara induktif melalui pengalaman atau SMP) adalah dengan pendekatan pola
peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif- pikir induktif. Misalnya dalam
deduktif dapat digunakan untuk mempelajari menyampaikan konsep segitiga, guru
konsep matematika. Kegiatan dapat dimulai seyogyanya memulai pembelajaran dengan
dengan beberapa contoh atau fakta yang menyajikan contoh-contoh segitiga, siswa
teramati, membuat daftar sifat-sifat yang mencoba mencari sifat-sifat sekutu apa yang
muncul (sebagai gejala), memperkirakan ditemukan, dan kemudian siswa mencoba
hasil baru yang diharapkan, yang kemudian menyusun definisi atau generalisasinya.
dibuktikan secara deduktif. Dengan Para siswa dalam belajar matematika
demikian, cara belajar induktif dan deduktif akan lebih bermakna jika mereka berdasar
dapat digunakan dan sama-sama berperan pengalamannya mengkonstruk sendiri
penting dalam mempelajari matematika konsep-konsep dan struktur-struktur
(Depdiknas, 2004). matematika yang sedang dipelajarinya.
Pola pikir deduktif secara sederhana Dalam kegiatan mempelajari matematika,
dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal siswa diharapkan tidak sekedar menghafal
dari hal yang bersifat umum diterapkan atau aturan-aturan matematika tetapi siswa
diarahkan kepada hal yang bersifat khusus. berupaya memahaminya. Dalam kurikulum
Pola pikir deduktif merupakan salah satu 2004 mata pelajaran matematika, salah satu
tujuan yang bersifat formal dan memberi hal yang perlu diperhatikan dalam
tekanan pada penataan nalar. Meskipun pola melaksanakan pembelajaran matematika
pikir deduktif amat penting, namun dalam adalah mengkondisikan siswa untuk
pembelajaran matematika terutama di menemukan kembali rumus, konsep atau
sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat prinsip dalam matematika melalui
pertama masih diperlukan pola pikir bimbingan guru agar siswa terbiasa
induktif. Ini berarti pembelajaran melakukan penyelidikan dan menemukan
matematika pada kedua jenjang pendidikan sesuatu (Depdiknas, 2004). Visi matematika
tersebut perlu dimulai dengan contoh- sekolah dalam NCTM (2000) berbasis pada
contoh, yaitu hal-hal yang khusus, pembelajaran matematika dengan
selanjutnya secara bertahap menuju kepada pemahaman (understanding) dan pada abad-
suatu simpulan atau sifat yang umum. 21 semua siswa diharapkan memahami dan
Simpulan itu dapat saja berupa suatu definisi dapat menerapkan matematika.
atau teorema yang diangkat dari contoh- Karena pentingnya pola pikir
contoh tersebut (Soedjadi, 2000) deduktif dalam belajar matematika, maka

114
Rochmad Proses Berpikir Induktif

dalam rangka merancang pembelajaran guru dalam pembuktian dengan penalaran


perlu memikirkan kegiatan yang melibatkan deduktif (deductive reasoning) dan
siswa aktif belajar menggunakan pola pikir representasinya menggunakan bahasa
deduktif. Tetapi yang perlu dipertimbangkan fungsional demontrasi (functional language
adalah banyak siswa SMP/MTs yang of demonstration).
kesulitan dalam memecahkan masalah Secara umum dalam pemecahan
pembuktian (problem to prove). Karena itu, masalah siswa terlibat bukan hanya sekedar
untuk membiasakan siswa belajar mengaplikasikan pengertian, konsep, rumus
matematika dengan menggunakan pola pikir dan aturan-aturan matematika, tetapi juga
deduktif dapat melalui masalah untuk mengandung pengertian tentang abtraksi dan
menemukan (problem to find), misalnya generalisasi matematika. Di samping itu,
menggunakan rumus atau teorema. Hal ini kadang siswa dalam memecahkan masalah
sebagaimana yang dikemukakan Soedjadi berpikir menggunakan pola pikir induktif
(2000, 46) bahwa pola pikir deduktif dapat dan deduktif secara bergantian (Hudojo,
diperkenalkan melalui penggunaan definisi 2003).
atau teorema dalam pemecahan masalah. Contoh lain pengunaan pola pikir
Dalam menyelesaikan masalah di deduktif dalam pemecahan masalah untuk
atas, kebanyakan para siswa SMP/MTs menemukan, misalnya penggunaan rumus
menggunakan pola pikir induktif bukan pola Pythagoras untuk mencari panjang sisi suatu
pikir deduktif. Dengan demikian dapat segitiga siku-siku jika panjang dua sisi
disimpulkan bahwa bagi siswa SMP/MTs lainnya diketahui. Misalnya panjang sisi
penggunaan pola pikir deduktif tergolong miringnya (sisi dihadapan sudut siku-siku)
sulit. Kesulitan dalam menggunakan pola adalah c, dan panjang kedua sisi lainnya
pikir deduktif ini juga dialami oleh berturut-turut a dan b. Maka berlaku rumus
mahasiswa di perguruan tinggi. Menurut Pythagoras c2 = a2 + b2. Dalam hal ini, jika
penelitian yang dilakukan Recio dan Godino siswa dalam mencari panjang salah satu sisi
(2002) dapat disinyalir bahwa masih banyak yang ditanyakan tersebut dengan
mahasiswa di tingkat pertama perguruan menggunakan rumus Pythagoras, maka ia
tinggi yang berpikir sebagaimana pada tahap memecahkan masalah dengan menggunakan
operasi konkret dengan penalaran induktif. pola pikir deduktif, yakni siswa menerapkan
Masih banyak mahasiswa yang kurang rumus Pythagoras c2 = a2 + b2 untuk
mampu belajar matematika dengan memecahkan suatu masalah yang
menggunakan pola pikir deduktif. dihadapinya.
Contoh siswa yang menyelesaikan Kadang siswa dalam memecahkan
masalah di atas dengan menggunakan pola masalah menggunakan pola pikir induktif
pikir deduktif sebagai berikut. Misalkan dan dilanjutkan dengan menggunakan pola
ketiga bilangan asli berurutan tersebut pikir deduktif. Sebagai contoh diberikan
adalah n, n + 1 dan n + 2 untuk n bilangan ilustrasi berikut. Misalnya masalah diberikan
asli. Jumlah ketiga bilangan tersebut adalah kepada siswa: buktikan bahwa rumus
n + (n + 1) + (n + 2) = n + n + 1 + n + 2 = umum suku ke-n barisan bilangan asli ganjil
3n + 3 = 3(n + 1) untuk n bilangan asli. adalah 2n 1. Misalnya siswa menjawab
Dengan demikian disimpulkan bahwa dengan menggunakan proses berpikir
jumlah tiga bilangan asli berurutan adalah sebagai berikut. Barisan bilangan tersebut
tiga kali bilangan tengahnya. Miyazaki adalah 1, 3, 5, 7, ...; dan kemudian
(2000) mengklasifikasikan pembuktian ini menyusun tabel sebagaimana di bawah ini.

Suku ke Bilangan ganjil Pola


1 1 2x1-1

115
Rochmad Proses Berpikir Induktif

Suku ke Bilangan ganjil Pola


2 3 2x2-1
3 5 2x3-1
M M M
n 2n - 1 2xn-1

Kemudian siswa menyimpulkan: jadi proses kognitif yang dapat digunakan untuk
rumus umum suku ke-n barisan bilangan asli mendorong kecakapan penalaran induktif
ganjil adalah 2n-1. Dalam memecahkan siswa dalam belajar matematika adalah
masalah ini, proses berpikir yang digunakan kesamaan (similarity), ketidaksamaan
siswa adalah dengan pola pikir induktif. (disimilarity), dan integrasi (integration).
Selanjutnya, misalnya siswa diminta Ciri utama matematika adalah penalaran
menentukan suku ke-200 dari barisan deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau
bilangan tersebut dan siswa mengerjakan pernyataan diperoleh sebagai akibat logis
dengan cara sebagai berikut: untuk suku ke- dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan
200, berarti n = 200. Jadi suku ke-200 adalah antar konsep atau pernyataan matematika
2n 1 = 2.200 1 = 399; maka dalam bersifat konsisten. Namun demikian,
memecahkan masalah ini proses berpikir pembelajaran dengan fokus pada
yang digunakan siswa adalah dengan pola pemahaman konsep dapat diawali secara
pikir deduktif. induktif melalui pengalaman peristiwa nyata
Atau sebaliknya, misalnya siswa atau intuisi.
diminta menentukan n jika diketahui suku
ke-n barisan bilangan tersebut adalah 2001. b. Saran
Misalnya siswa menyelesaikan masalah ini Guru matematika yang hanya
sebagai berikut: rumus barisan bilangan mengandalkan penalaran induktif atau
tersebut 2n-1, sehingga 2n 1 = 2001. Oleh menggunakan pendekatan induktif saja
karena itu 2n = 2002. Jadi n = 1001; maka menjadikan siswanya kurang memahami
dalam memecahkan masalah ini proses pendekatan deduktif dalam belajar
berpikir yang digunakan siswa adalah matematika. Dikhawatirkan guru yang
dengan pola pikir deduktif. mengajar dengan pendekatan induktif saja
tidak begitu mengenal pendekatan deduktif.
C. Penutup Oleh karen itu disarankan dalam
a. Simpulan pembelajaran matematika guru diharpkan
Penalaran induktif dalam belajar mendesain pembelajaran yang melibatkan
matematika sangat diperlukan. Kerangka penggunaan pola pikir induktif dan deduktif.

DAFTAR PUSTAKA

Copeland, R.W. 1974. How Children Learn Mathematics: Teaching Implications of Piagets
Theory. New York: Macmillan Publishing Co. Inc.
Cristou, C dan Papageorgiou, E. 2007. A Frame Work of Mathematics Inductive Reasoning.
Learning and Instruction 17 (2007) 55-56. University of Cypurs, Cyprus. www.
Elsevier.com.
Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Depdiknas.

116
Rochmad Proses Berpikir Induktif

Hudojo, H. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA. Jakarta:


IMSTEP.
Hudojo, H. 2003. Guru Matematika Kontruktivis (Contructivist Mathematics Teacher). Makalah
disajikan pada Seminar Nasional, 27-23 Maret 2003 di Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Hudojo, H. 2005. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Malang: Penerbit Universitas
Negeri Malang (UM Press).
Lithner, K. 2000. Mathematical Reasoning in Task Solving. Educational Studies in Mathematics
41: 165 190, 2000. Netherlands: Kluwer Academic Publisher.
Matherne, B. 1999. The Process of Education. Reader Journal. Book Review by Bobby Matherne.
Cambrige: Havard University Press.
Marpaung, Y. 2003. Perubahan Paradigma Pembelajaran Matematika di Sekolah. Makalah
disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika di Universitas Sanata
Darma. Tanggal 27-28 Maret 2003. Yogyakarta: Universitas Sanata Darma.
Matlin, M.W. 1998. Cognition. New York: Harcout Brace College Publishers.
Miyazaki, M. 2000. Levels of Proof in Lower Secondary School Mathematics. Educational
Studies in Mathematics 41: 47 - 68, 2000. Netherlands: Kluwer Academic Publisher.
NCTM. 2000. Principle and Standard for School Mathematics. Reston: The National Council of
Teacher Mathematics, Inc.
NCTM. 1998. Qualitative Research Methods in Mathematics Education. Anne R. Teppo (Ed.).
Reston: The National Council of Teacher Mathematics, Inc.
Polya, G. 1973. How To Solve It. Princeton: Princeton University Press.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Allyn & Bacon.
Soedjadi, R. 2003. Pemanfaatan Realitas dan Lingkungan dalam Pembelajaran Matematika.
Soedjadi, R. 2000a. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstatasi Keadaan Masa Kini
Menuju Harapan Masa Depan. Jakarta: Depdiknas.
Soedjadi, R. 2000b. Rancangan Pembelajaran Nilai dalam Matematika Sekolah. Makalah
Disajikan dalam Seminar Nasional Matematika, Pengajaran dan Problematikanya
Memasuki Milenium III, di FMIPA UNNES Semarang, 12 Agustus 2000.
Recio, A.M dan Godino, J.D. 2002. Institutional and Personal Meanings of Mathematical Proof.
Educational Studies Mathematics 48: 83 99. Netherlands: Kluwer Academic
Publisher.

117