Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN TUGAS AKHIR

MATA KULIAH
TEKNIK REFRIGASI

PERANCANGAN COLD STORAGE


UNTUK BAWANG

disusun oleh :

Alfi Nur Achmad Hasani


1106052511

Depri Yantri
06000376

Lemington
1106052480

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA

2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan bimbingan-Nya. Laporan ini disusun sebagai bentuk dokumentasi dan hasil akhir dari
proses mata kuliah Teknik Refrigasi. Laporan ini juga diajukan sebagai salah satu syarat
kelulusan mata kuliah Teknik Refrigasi dalam kurikulum 2014 program studi Teknik Mesin
Universitas Indonesia.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dan masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang dapat membantu
perkembangan pembahasan terkait topik laporan ini maupun bagi penulis secara pribadi.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak, baik bagi penulis, teman-teman,
dosen, dan lain-lain, juga bagi perkembangan keilmuan Teknik Mesin UI.

Terima kasih.
Jakarta, 11 Juni 2014

Penulis

i
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
I.1. Latar Belakang .............................................................................. 1
I.2. Rumusan Masalah............................................................................ 2
I.3. Batasan Masalah............................................................................. 2
BAB II DASAR TEORI....................................................................................... 3
II.1. Prinsip Dasar Refrijerasi........................................................................ 3
II.2. Komponen Utama Dalam Sistem Refrigerasi........................................ 4
BAB III ANALISA DAN PERHITUNGAN....................................................... 9
III.1. Parameter Cold Storage.......................................................................... 9
III.2. Perhitung Cooling Load................................................................... 11
III.3. Pemilihan Utilitas Cold Storage...................................................... 18
III.4. Siklus Aktual (Akhir)............................................................................. 24
III.5. Gambar Pendesainan.............................................................................. 25
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 27
REFERENSI......................................................................................................... 28

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Seiring berkembangnya jamann maka perkembangan teknologi di bidang teknologi
industri semakin pesat, salah satunya adalah perkembangan di bidang refrigasi atau
pendinginan. Dengan teknologi pada bidang sistem refrigasi dan tata udara yang terdapat
sekarang ini, kita dapat menggunakan teknik pendinginan untuk industri penyimpanan bahan
makanan, shingga bahan makanan dapat tersimpan lebih lama sampai waktunya bahan
makanan tersebut akan dimanfaatkan. Selain itu, dengan semakin berkembangnya teknologi
teknik pendingin juga memungkinkan kita untuk menjaga kualitas serta kesegaran bahan
makanan tersebut. Oleh karena itu, kami mengambil tema tugas akhir yang berhubungan
dengan perencanaan cold storage.
Bawang merupakan salah satu komoditas utama tidak di indonesia tetapi juga
internasional. Sejarah menceritakan bagaimana berbagai bangsa berlomba - lomba
melakukan berbagai ekspedisi hanya untuk mencari bumbu dapur yang salah satunya adalah
bawang. Maka dari itu kami berpendapat bahwa menjaga supply dan kondisi bawang dengan
menggunakan sebuah cold storage memiliki nilai bisnis yang cukup tinggi. Selain itu alat ini
juga dapat digunakan untuk membantu para petani bawang sehingga harga bawang dapat
lebih stabil.
Disini kami melakukan perencanaan cold storage bawang yang digunakan untuk
menyimpan produk bawang dengan tetap mempertahankan kesegarannya. Diharapkan
dengan melakukan perencanaan cold storage ini, dapat menjadi informasi tambahan bagi
masyarakat yang bergerak pada pertanian, penyimpanan, ataupun pendistribusian bawang.
Dalam tugas akhir ini kami akan menghitung beban pendinginan yang dibutuhkan
untuk menyimpan bawang serta spesifikasi cold storage yang dibutuhkan untuk melakukan
kerja tersebut. Perhitungan beban pendinginan ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
mesin refrigasi yang digunakan pada cold storage dalam penyimpanan bawang. Selain itu
kami juga mendesain cold storage tersebut sesuai dengan spesifikasi dan kapasitas yang
diberikan.

1
I.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka penulisan tugas akhir ini dititik
beratkan pada permasalahan beban pendinginan yang terjadi pada cold storage. Dimana
beban tersebut kami anggap tetap sesuai dengan kondisi yang diberikan, meliputi beban
transmisi yang terjadi pada dinding cold storage, bbeban infiltrasi akibat perembesan udara
luar kedalam ruang pendingin, beban - beban yang timbul dan berasal dari respirasi oleh
bawang, dan juga beban lainnya yang dihasilkan oleh pekerja ataupun utilitasw bangunan
yang terdapat pada cold storage tersebut seperti lampu ataupun defrosting.

I.3. Batasan Masalah


Mengingat betapa kompeks dan luasnya permasalahan yang dapat terjadi pada
perancangan cold storage, maka penulis memberikan batasan permasalahan sebagai
berikut :
1. Temperatur dan kelembaban udara ambien disekitar cold storage kami
asumsikan konstan
2. Tidak membahas instalasi listrik pada cold storage
3. Kondisi udara steady state dan aliran refrigerant steady flow.
1.4. Tujuan Penulisan
Tujuan penulsian Tugas Akhir ini adalah :
a. Memahami prisnsip dasar pada teknik pendinginan dan merealisasikannya
dalam bentuk perancangan cold storage
b. Menghitung beban pendinginan yang tejadi pada cold storage bawang
c. Setelah mendapatkan beban pendinginan tadi maka dapat dirancang sitem
refrigasi yang harus digunakan.
d. Sebagai sarana untuk mengapliaksikan matakuliah Sistem Refrigasi yang didapat
selama kuliah, terutama yang berhubungan dengan gudang pendingin atau cold
storage.

2
BAB II
DASAR TEORI

II.1 Prinsip Dasar Refrijerasi

Proses pendinginan atau refrijerasi pada hakekatnya adalah merupakan proses


memindahkan energi panas dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya dengan cara-cara
tertentu. Terdapat hukum energi yang sangat penting dalam pengoperasian sistem
refrigerasi, hukum tersebut adalah hukum termodinamika yang menyatakan bahwa energi
tak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Panas pada dasarnya merupakan energi dan jika
sesuatu ingin didinginkan, maka panas (energi) harus harus dipindahkan. Sesuai dengan
hukum kekekalan energi maka kita tidak dapat menghilangkan energi tetapi hanya dapat
memindahkannya dari satu substansi ke substansi lainnya.
Untuk proses pendinginan (pemindahan panas), sistem refrijerasi membutuhkan
kemampuan heat transfer dari suatu fluida tertentu. Fluida yang dipergunakan dalam siklus
refrijerasi sebagai penukar kalor disebut dengan refrigeran. Kegunaan refrigerant ini adalah
untuk menyerap panas (heat) pada temperatur yang rendah. Untuk menurunkan dan
menjaga temperatur suatu substansi , sistem refrihjerasi harus mampu secara terus menerus
menyerap panas dan kemudian membuang atau memindahkan panas tersebut dari sistem.
Hal ini dilakukan dengan beberapa langkah berbeda yang disebut sebagai siklus
refrijerasi. Salah satu jenis siklus refrijerasi yang sekarang umum digunakan adalah
dengan siklus kompresi uap. Karena siklus ini berulang, siklus ini merupakan siklus
tertutup dan didesain untuk beroperasi secara continue. Siklus ini menggunakan
refrigerant untuk mentransport panas melalui sistem. Ciri khas siklus kompresi uap ini
memiliki empat proses yaitu :

Gambar I.1. Siklus refrigasi kompresi uap

3
1. Heat absorption
Pada proses ini, refrigerant dalam bentuk liquid menyerap atau mengambil panas
dari sumber panas. Penyerapan panas menyebabkan refrigerant berubah fase dari
liquid (cair) menjadi vapour (uap). Refrigeran dalam bentuk uap ini juga menerima
panas dan temperaturnya akan meningkat. Jadi, di tingkat ini refrigerant berubah fase
dari bentuk liquid dengan temperatur rendah menjadi uap dengan temperatur tinggi.

2. Energy addition
Pada proses ini, energi di ditambahkan ke refrigerant supaya refrigerant dapat
melangkah menuju ke tingkat selanjutnya pada siklus refrigerasi. Dalam proses ini
yang juga disebut sebagai langkah kompresi, refrigerant dalam bentuk uap
dikompresi. Hal ini menyebabkan meningkatnya tekanan dan temperatur refrigerant.

3. Heat rejection
Dalam proses ini uap dengan tekanan dan temperatur yang tinggi
kemudian dibuang atau dipindahkan. Di tingkat ini refrigerant membuang
panas yang telah diserap pada tingkat heat absorption. Selama proses ini,
refrigerant berubah fase dari uap dengan temperatur tinggi menjadi fase cair
dengan temperatur rendah kembali.

4. Ekspansi
Dalam proses ini, refrigerant berbentuk liquid diekspansi yang menyebabkan
tekanan liquid menurun. Ketika terjadi penurunan tekanan, temperaturnya juga
turun. Setelah proses ekspansi , refrigerant dengan fase liquid berada dalam
kondisi tekanan dan temperatur rendah, sehingga liquid sekarang dapat memulai
siklus kembali.

II.2. Komponen Utama Dalam Sistem Refrigerasi

1. Evaporator
Evaporator adalah jenis dari penukar panas (heat exchanger) sebagai media
pemindahan energi panas melalui permukaan agar refrijeran cair menguap dan
menyerap panas dari udara dan produk yang ada di dalam ruang. Refrijeren yang

4
berada pada keadaan campuran cair jenuh & uap menyerap kalor sehingga berubah
menjadi uap. Heat transfer dapat terjadi karena temperatur refrigerant yang lebih
rendah daripada temperatur disekitar evaporator.
Kapasitas evaporator biasanya dinyatakan dalam Watt. Agar dapat memindahkan
energi panas sesuai denga keinginan, maka permukaan perpindahan panas evaporator
harus mempunyai kapasitas perpindahan panas yang cukup, agar semua refrijeran
yang akan diuapkan di dalam evaporator dapat berlangsung dengan optimal dan
menghasilkan pendinginan yang maksimum pula.
Pemindahan panas yang berlangsung di evaporator dapat terjadi dalam dua
cara,yaitu konveksi, dan konduksi. Besarnya kapasitas perpindahan panas pada
evaporator tergantung pada lima variable sebagai berikut:
(1)Luas area permukaan
(2)Beda suhu
(3)Faktor konduktivitas panas
(4)Ketebalam material yang digunakan
(5)Waktu
Secara matematika, jumlah panas yang dipindahkan dapat dihitung denga formula
sebagai berikut:
Q = A x U x D
Di mana:
Q = jumlah panas yang dipindahkan (Watt) A =
Permukaan luar evaporator(m2)
U = Faktor konduktansi panas(W/m2.K)
D = Beda suhu refrijeran dan udara luar (K)

2. Kompresor
Kompresor merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk memberikan kompresi
atau tekanan pada refrigerant yang berasal dari section line sehingga temperatur dan
tekanannya naik dan selanjutnya dialirkan ke discharge line untuk menaikkan
tekanan dan temperatur refrijeren dari tekanan dan temperatur rendah menjadi
tekanan dan temperatur tinggi. Disini kompresor memastikan bahwa suhu gas
refrigeran yang disalurkan ke kondenser harus lebih tinggi dari suhu condensing
medium. Bila suhu gas refrigeran lebih tinggi dari suhu condensing medium
(udara atau air) maka energi panas yang dikandung refrigeran dapat dipindahkan ke
5
condensing medium. Akibatnya suhu refrigerant dapat diturunkan walaupun
tekanannya tetap.

Gambar I.2. Kompresor

yang meliputi kalor yang diserap oleh evaporator untuk penguapan liquid
refrigeran, kalor yang diserap untuk menurunkan suhu liquid refrigeran dari suhu
kondensing ke suhu evaporating, kalor yang dihisap oleh silinder chamber dan
kalor yang dipakai untuk mengkompresi gas dari evaporator. Kondenser harus
mampu membuang kalor tersebut ke cooling medium yang digunakan oleh
kondensernya.

3. Kondenser
Kondenser merupakan sebuah alat penukar kalor dimana refrijeren melepas
kalor ke medium pendingin seperti air atau udara. Jadi, di kondenser Refrijeren yang
berada pada keadaan uap superpanas melepas kalor sehingga berubah menjadi cair
(liquid refrigerant). Pada saat gas bergerak dari sisi discharge kompresor masuk ke
dalam condenser, ia mengandung beban kalor yang meliputi kalor yang diserap
oleh evaporator untuk penguapan liquid refrigeran, kalor yang diserap untuk
menurunkan suhu liquid refrigeran dari suhu kondensing ke suhu evaporating,
kalor yang dihisap oleh silinder chamber dan kalor yang dipakai untuk
mengkompresi gas dari evaporator. Kondenser harus mampu membuang kalor
tersebut ke cooling medium yang digunakan oleh kondensernya.

6
4. Expantion valve

Gambar 2.3 Salah satu mekanisme pipa kapiler

Refrijeran cair dari kondenser yang akan diuapkan di evaporator dikontrol oleh
katub ekspansi. Refrigerant berbentuk liquid diekspansi yang menyebabkan
fasenya berubah menjadi campuran cair jenuh & uap (a saturated liquid-vapor
mixture) dan tekanannya turun. Ketika terjadi penurunan tekanan, temperaturnya juga
turun. Fungsi Expansion valve adalah:

a) Untuk menakar refrijeran cair dari saluran liquid line ke evaporator pada
jumlah yang tepat sesuai kapasitas evaporator.
b) Untuk menjaga perbedaan tekanan antara tekanan kondensasi dan tekanan
evaporasi tetap konstan, agar supaya refrijeran cair yang diuapkan di
evaporator selalu berada pada tekanan rendah sesuai yang diinginkan dan
sekaligus menjaga tekanan tinggi di sisi kondenser.

5. Refrigeran
Refrigeran merupakan suatu media pendingin yang dapat berfungsi untuk
menyerap kalor dari lingkungan atau untuk melepaskan kalor ke lingkungan. Sifat-
sifat fisik termodinamika refrigerant yang digunakan dalam sistem refrigerasi perlu
diperhaatikan agar sistem dapat bekerja dengan aman dan ekonomis, adapun sifat
refrigerant yang baik adalah :
1. Tekanan penguapannya harus cukup tinggi, untuk menghindari
kemungkinan terjadinya vakum pada evaporator dan turunya efisiensi
volumetrik karena naiknya perbandingan kompresi.

7
2. Tekanan pengembunan yang rendah sehingga perbandingan kompresinya
rendah dan penurunan prestasi kompresor dapat dihindari.
3. Kalor laten penguapan harus tinggi agar panas yang diserap oleh
evaporator lebih besar jumlahnya, sehingga untuk kapasitas yang sama, jumlah
refrigerant yang dibutuhkan semakin sedikit.
4. Koefisien prestasi harus tinggi, ini merupakan parameter yang penting
untuk menentukan biaya operasi.
5. Konduktifitas thermal yang tinggi untuk menentukan karakteristik perpindahan
panas.
6. Viskositas yang rendah dalam fasa cair atau gas. Dengan turunnya tahanan
aliran refrigerant dalam pipa kerugian tekanannya akan berkurang.
7. Konstata dielektrik yang kecil, tahanan listrik yang besar serta tidak
menyebabkan korosi pada material isolasi listrik.
8. Refrigeran hendaknya stabil dan tidak bereaksi dengan material yang digunakan
sehingga tidak menyebabkan korosi.
9. Refrigeran tidak boleh beracun dan berbau.
10. Refrigeran tidak boleh mudah terbakar dan meledak.
11. Dapat bercampur dengan minyak pelumas tetapi tidak merusak dan
mempengaruhinya.
12. Harganya murah dan mudah dideteksi jika terjadi kebocoran.

Table III.1 Perbandingan Refrigerant

8
BAB III
ANALISA DAN PERHITUNGAN

III.1. Parameter Cold Storage


Ukuran Cold Storage

t = 2.7 m

L = 4m
P = 10m
Gambar 3.1. Ukuran Cold Storage

Volume cold storage = 10 m x 4 m x 2,7 m = 108 m3

Properti dari bawang

Table 3.1. Properti dari bawang

o Densitas bawang : 466,63 kg/m3


o Kapasitas yang dapat digunakan = 1/3 x volume = 36 m3
o Berat Bawang = Densitas x Kapasitas
= 466,63 x 36 = 16800 kg
o Beban respirasi bawang = 0,012 W / kg
o Spesific heat bawang = 3,77 kJ/kgK

9
Kondisi udara ambien Jakarta

Gambar 3.2. Grafik Psikometrik

Menentukam Selisih Evaporator dengan Suhu Ambien :

Table 3.2. Selisih suhu evaporator dan ruangan

Dari tabel diatas terlihat untuk mendapatkan kelembapan sebesar 70% RH dibutuhkan
perbedaan temperatur sebesar 10oC. Karena bawang akan disimpan pada 0oC maka
temperatur evaporasi sebesar -10oC.

10
Kerja Cold Storage
o Temperatur kondensasi : 40oC
o Jumlah pekerja : 2 orang
o Daily Load : 50% x kapasitas = 8.400 kg
o Cooling Time : 6 jam
o Defrost dinyalakan setiap selama : 6 jam
o Waktu Operasi = 24 jam waktu defrost : 23 jam

III.2. Perhitung Cooling Load


Material Insulasi

Table 3.3. Konduktivitas thermal isolasi cold storage

Bedasarkan tabel diatas kami memilih Polyurethane board (R-11 expanded) sebagai
material insulasi dengan Konduktifitas Thermal terkecil yaitu 0,023 - 0,026 (W/mK).

11
Menghitung Ketebalan Insulasi

Table 3.4. Rekomendasi hambatan thermal

Tipe Cold Storage adalah Chill Cooler dan dengan rekomendasi kebutuhan hambatan
thermal seperti tabel diatas.

Ketebalan insulasi Lantai = 0,023 x 3,5 = 0,0805 m


Ketebalan insulasi tembok = 0,023 x 5,6 = 0,1288 m
Ketebalan insulasi atap = 0,023 x 7 = 0,161 =

12
Menghitung hambatan thermal cold storage :

Table 3.5. Nilai hambatan thermal dari material dan struktur bangunan

Tabil disaamping menampilkan hambatan thermal yang dimiliki oleh berbagai


material yang biasa digunakan untuk cold storage

Hambatan Thermal :
o Wall:

, , , ,
= 0,029 Btu/ = 0,165 W/

o Roof :

, , ,
= 0,024 Btu/ = 0,136 W/

o Floor :

, , ,
= 0,046 Btu/ = 0,26 W/

13
Pengaruh matahari terhadap cooling load

Table 3.6. Pendekatan pengaruh matahari terhadap beban pendinginan

Berdasarkan tabel diatas kami dapat dihitung pengaruh matahari terhadap perubahan
suhu pada cold storage yaitu antara lain :

Wall:

- East : 37,9 K

- West : 37,9 K

- South : 36,8 K

- North : 34 K

- Roof : 42,9 K

Pengaruh pencahayaan terhadap cooling load

Di satuan SI, C = 1. Fu didefinisikan sebagai rasio dari penggunaan watt dengan total

14
watt yang diinstalasikan. FS merupakan faktor toleransi spesial yang tergantung dari
tipe lampu. Kebanyakan praktisi menggunakan 0,1 untuk Fu dan Fs, kecuali
pencahayaan merupakan bagian substantial dari beban total.

Asumsi: menggunakan lampu 20 Watt sebanyak 4 buah


Q = 20/40 = 0,5 W/ dinyalakan selama 4 jam per hari
Q = 0,5 *(4/24) = 0,083 W/

Perhitungan Beban Produk:

Berdasarkan spesific heat= (M*Cp*dT)/t

(8400*3,77*10)/(6*3600) = 14,66 kW

Berdasarkan beban respirasi= 0,012 * 16800 = 201,6 W

Table 3.7. Nilai pertukaran udara yang dibutuhkan berdasarkan volume ruangan

15
Table 3.8. Rekomendasi pemilihan pintu

Dari Tabel 6 didapatkan bahwa pemilihan pintu


yang sesuai dengan kebutuhan cold Storage
yaitu Power Operated Sliding

16
Beban Defrost dan Total Load:

Beban defrost diasumsikan sebesar 3 % dari total Load.

Beban fan:

Gambar 3.2. Cooling demand (CoolPack)

Asumsi 5% dari total load

Yang dimaksud dengan other Equipment disini adalah beban defrost dan beban
infiltrasi pada pintu.

Perhitungan Manual Produk mendapatkan beban sebesar: 14,66 kW (mendekati


Qavg).

Ditambah Cooling Load Factor :

Total Load = 20,471 + (10%*20,471)

= 22,2871 kW

17
III.3. Pemilihan Utilitas Cold Storage
Pemilihan Refrigerant

Gambar 3.3. Perbandingan Refrigerant (CoolPack)

Dari perbandingan refrigerant pada coolpack, didapatkan bahwa refrigerant R22


merupakan refrigerant yang sangat sesuai dengan desain cold storage bawang ini.
COP dari R22 bernilai 4.10 lebih besar dari R134a. Walaupun nilai COP dari R717
paling besar yaitu 4.27 tetapi R717 harus didukung oleh kompressor yang memiliki
daya sangat tinggi. Oleh karena itu, pada desain cold storage bawang ini dipilih
refrigerant dengan tipe R22.

Siklus Ideal yang dihasilkan

Gambar 3.4. Grafik Siklus Ideal

18
Gambar 3.5. Info Siklus Ideal

Dari siklus ideal, didapatkan Qevaporator sebesar 151.891 kJ/kg dan Qcondenser
sebesar 188.886 kJ/kg.

Pemilihan Kompressor

Gambar 3.6. Sepesifikasi Kompresor

19
Dengan menggunakan software, dapat ditentukan kompressor mana yang bisa
digunakan sesuai dengan ketentuan. Pemilihan kompressor ini disesuaikan dengan
jenis refrigerant yang dipilih yaitu R22 dan nilai Total load yang telah dihitung yaitu
sebesar 22.3 kW. Power supply yaitu 50 Hz. Selain itu dimasukkan nilai suhu
evaporator -10 0C dan suhu kondenser 40 0C. Dari data-data yang ditentukan tersebut
maka jenis kompressor yang sesuai adalah kompresor 4MHD-25X dengan COP 2.81,
Isentoropic Efficiency 67.21 % dan Kapasitas 22.3 kW

Pemilihan Evaporator

Gambar 3.7. Spesifikasi evaporator

Pemilihan Evaporator menggunakan software dengan menentukan nilai Temprature


evaporator, temprature condensing dan tentunya jenis refrigerant yang sesuai yaitu
R22 maka evaporator yang sesuai dengan cold storage bawang ini yaitu Evaporator
GHF 045.2F/24-ANW50.E. evaporator ini memiliki 2 fans 230 V 50 Hz., Air throw
yang ada di evaporator ini yaitu 36 m. material Tubes Copper dan Material Fins
Aluminimum. Capacity dari evaporator ini yaitu sebesar 22.6 kW

20
Pemilihan Kondenser

Gambar 3.8. Spesifikasi kondenser

Dengan menggunakan software, dapat ditentukan kondenser apa yang sesuai dengan
desain cold storage bawang ini. Pada tabel software dengan menentukan nilai
refrigerant R22, Temprature kondensasi 40 0C maka didapatkan kondenser dengan
tipe GVHX 080.1A/1-MD.E. kondenser ini, memiliki kapasitas 30.2 kW Air flow
17366 m3/h. kondenser ini memiliki satu fan 400V 50Hz. Material heat excanger yaitu
Alumium dan Fins connection per unit yaitu Cooper.

21
Piping

Table 3.9. Ukuran pipa untuk R-22

Dari tabel 12 didapatkan ukuran line. Pada line di liquid ukuran pipa yaitu 5/8 in,
pada discharge yaitu 1 1/8 in dan pada Suction yaitu 1 3/8 in. Nilai ukuran ini
didapatkan sesuai dengan nilai temprature yang ada di bagian-bagian tersebut.

Table 3.10. Standard sambungan

22
Table 3.11. BEsar losses pada pipa

Asumsi liquid line terdapat globe valve, 2 elbow, dengan panjang lurus 2 m Maka,
Equivalent length liquid line 2+5,5+0,5+0,5= 8,5 m

Gambar 3.9. Perhitungan pipa liquid (CoolPack)

23
Dari tabel coolpack didapatkan dimensi pipa yaitu 5/8 cooper dengan diameter
15.88. Tekanan pada inlet yaitu 380 kPa dan pada Outlet yaitu 376.2 kPa. Rataan
kecepatan yaitu 0.69 m/s, volume flow 0.3858 m3/h dan mass flow 0.1412 kg/s.

IV.4. Siklus Aktual (Akhir)

Gambar 3.10. Siklus Aktual

Grafik diatas menunjukan siklus aktual akhir dari cold storage yang kami rancang
dengan mempertimbangkan berbagai kondisi, pressure drop, serta losses yang
memungkinkan. Sedangkan info dari siklus refrigasi lebih lanjut dapat dilihat sesuai
dengan gambar dari perhitungan dengan menggunakan coolpack di bawah ini.

Gambar 3.11. Info siklus aktual

24
III.5. Gambar Pendesainan

Gambar 3.12. Tampak belakang-samping desain

Gambar 3.13. Tampak depan-samping desain

25
Gambar 3.14. Tampak prespective desain

26
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Dari perancangan dan perhitungan cold storage bawang dengan ukuran : 10 m x 4 m x 2,7 m,
didapatkan:

Total Cooling load yaitu sebesar 22,2871 kW


Jenis Refrigerant yang tepat untuk cold storage ini yaitu refrigerant R22 dengan nilai
COP 4.10
Kompressor yang dipilih yaitu kompressor tipe COPELAN semi Hermetic 4 MHD-
25X dengan capacity 22.3 kW
Evaporator yang dipilih yaitu Evaporator GHF 045.2F/24-ANW50.E dengan 2 fans,
air Throw 36 m dan capacity 22.6 KW
Kondenser yang dipilih yaitu kondenser GVHX080.1A/1-MD.E dengan capacity 30.2
KW

B. Saran

Kapasitas penyimpanan dapat ditinjau kembali 1/3 Volume merupakan kapasitas ideal
atau tidak
Perhitungan cooling Load juga harus memperhatikan aspek buka tutup pintu setiap
harinya
Cold Storage bawang ini diinovasi untuk penyimpanan buah-buahan yang lainnya.

27
REFERENSI

Kavanaugh, Stephen P. 2005. HVAC Simplified. Atlanta: ASHRAE

Bryan R. Becker and Brian A. Fricke. 2005. Design Essentials for Refrigerated Storage
Facilities. Atlanta: ASHRAE

ASHRAE Handbook 2002 : Refrigeration

Slide Refrigerant Piping. DTM-FTUI

Rijail Fajri. 2014. Basic Design and Parameter for Agricultural Cold Storage. Workshop
ASHRAE Indonesia Chapter

Software CoolPack
Software Guntner Selection

Software Emerson Selection

28