Anda di halaman 1dari 15

2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. VULNERA (LUKA)


2.1.1. Definisi
Vulnera atau luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan
suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan.2
Secara umum luka dapat dibagi dua: (1). Simpleks, bila hanya melibatkan
kulit, (2). Komplikatum, bila melibatkan kulit dan jaringan di bawahnya.3
2.1.2. Etiologi
Luka dapat disebabkan oleh berbagai hal yaitu: (1). Trauma mekanis yang
disebabkan karena tergesek, terpotong, terpukul, tertusuk, terbentur dan terjepit,
(2). Trauma elektris, dengan penyebab cedera karena listrik dan petir, (3). Trauma
termis, disebabkan oleh panas dan dingin, (4). Trauma klinis, disebabkan oleh zat
kimia yang bersifat asam dan basa, serta zat iritatif dan korosif lainnya.2,3
2.1.3. Jenis-jenis Luka
Jenis-jenis luka dibagi atas dua bagian, yaitu luka tertutup (closed wound)
dan luka terbuka (open wound).
Luka tertutup yaitu luka dimana tidak terjadi hubungan antara luka
dengan dunia luar. Contohnya yaitu luka memar (vulnus contusum), vulnus
traumaticum.3
Vulnus contussum (Luka Memar)
Disisi kulit tidak apa-apa, pembuluh darah subkutan dapat rusak, sehingga terjadi
hematom. Bila hematom kecil, maka ia akan diserap oleh jaringan sekitarnya. Bila
hematom besar, maka penyembuhannya berjalan lambat.2,3
Vulnus traumaticum
Terjadi di dalam tubuh, tetapi tidak tampak dari luar. Dapat memberikan tanda-
tanda dari hematom hingga gangguan sistem tubuh. Bila melibatkan organ vital,
maka penderita dapat meninggal mendadak. Contoh luka ini pada benturan di
dada, perut, leher dan kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ-
organ dalam.2,3

Luka terbuka yaitu luka dimana terjadi hubungan antara luka dengan
dunia luar. Contohnya: 1. Vulnus excoriatio (luka lecet), 2. Vulnus
3

sciccum/incisivum (luka sayat), 3. Vulnus laceratum (luka robek), 4. Vulnus


punctum (luka tusuk), 5. Vulnus caesum (luka potong), 6. Vulnus sclopetorum
(luka tembak), 7. Vulnus morsum (luka gigit).2,3

Vulnus Excoriatio (Luka lecet)


Merupakan luka yang paling ringan dan paling mudah sembuh. Terjadi karena
gesekan tubuh dengan benda-benda rata, misalnya aspal, semen atau tanah.3
Vulnus Scisum/Incisivum (Luka Sayat)
Tepi luka tajam dan licin. Bila luka sejajar dengan garis lipatan kulit, maka luka
tidak terlalu terbuka. Bila memotong pembuluh darah, maka darah sukar berhenti
karena sukar terbentuk cincin trombosis (trombosis ring).3
Vulnus Laceratum (Luka Robek)
Biasanya disebakan oleh benda tumpul, tepi luka tidak rata dan perdarahan sedikit
karena mudah terbentuk cincin trombosis akibat pembuluh darah yang hancur dan
memar.3
Vulnus punctum (Luka tusuk)
Luka ini disebabkan oleh benda runcing memanjang. Dari luar luka tampak kecil,
tetapi di dalam mungkin rusak berat. Derajat bahaya tergantung atas benda yang
menusuk (besarnya, kotornya) dan daerah yang tertusuk. Luka tusuk yang
mengenai abdomen atau thorax sering pula disebut vulnus penetrosum (luka
tembus). Terpenting pemeriksaan untuk mencari organ yang terkena dan
menentukan tingkat bahaya kerusakan tersebut. Pada luka ini sebaiknya dilakukan
tindakan ekspolarasi (membuka dan melebarkan luka).2,3
Vulnus Caesum (Luka Potong)
Luka ini disebabkan oleh benda tajam yang besar, misalnya kampak, klewang,
dsb, disertai tekanan. Tepi luka tajam dan rata dan luka sering terkontaminasi,
oleh karena ini kemungkinan infeksi lebih besar.3\
Vulnus Sclopetorum (Luka Tembak)
Terjadi karena tembakan, granat,dsb. Tepi luka dapat tidak teratur. Corpus alienum
(benda asing) dapat dijumpai dalam luka, misalnya pecahan granat, anak peluru,
sobekan baju yang mengikuti peluru ke dalam tubuh. Kemungkinan infeksi
dengan bakteri anaerob dan gangren gas lebih besar.3
Vulkus Morsum (Luka Gigit)
Disebakan oleh gigitan binatang atau manusia. Kemungkinan infeksi lebih besar.
Bentuk luka tergantung bentuk gigi penggigit.3
2.1.4. Tanda-tanda Luka
Tanda-tanda luka terbagi atas:
a. Tanda-tanda Umum
4

Syok terjadi akibat kegagalan sirkulasi perifer, dengan tanda-tanda sebagai


berikut:
Tekanan darah turun hingga tidak teratur
Nadi kecil hingga tidak teraba
Keringat dingin dan lemah
Kesadaran menurun hingga tak sadar

Syok dapat disebakan rasa nyeri dan perdarahan.3

- Sindroma Remuk terjadi akibat banyaknya darah yang hancur, misalnya


otot-otot pada daerah luka, hingga mioglobin ikut hancur dan menumpuk diginjal
yang mengakibatkan kelainan yang disebut lower nephron nephrosis. Tanda-
tandanya yaitu urin bewarna merah, oliguria hingga anuria, ureum darah
meningkat.3
b. Tanda-tanda Lokal
- Rasa nyeri disebekan oleh lesi sistem saraf. Pada luka-luka besar sering
tidak terasa nyeri karena gangguan sensibilitas akibat syok setempat (lokal) pada
jaringan tersebut.3
- Perdarahan, banyaknya perdarahan tergantung atas vaskularisasi daerah
luka dan banyaknya pembuluh darah yang terpotong/rusak. Perdarahan terhenti
bila terjadi retraksi/kontraksi pembuluh darah dan telah terbentuk cincin
trombosis. Pada vulnus contussum, perdarahan berhenti karena terbentuknya
hematom yang menekan pembulh darah dan cincin trombosis. Jenis perdarahan
ada tiga, yaitu:
Perdarahan parenkimatosa, yaitu peradahan yang berasal dari kapiler, tidak
berbahaya, kecuali bila terjadi pada organ-oegan visera, misalnya limpa, yang
harus menjalani splenoktomi (pengangkatan limpa)
Perdarahan venosa yaitu peradarahan yang berasal dari vena, tidak begitu
berbahaya kecuali pada daerah yang mengandung banyak varises
Perdarahan arterial, yaitu peradarahan yang berasal dari arteri, sifat
perdarahannya memancar dan seirama dengan denyut nadi penderita. Bila tidak
cepat diatasi, ia dapat menyebabkan syok hingga kematian.3
2.1.5. Penatalaksanaan Luka
Pengobatan luka terdiri dari :
a. Pengobatan umum
Dalam melakukan pengobatan umum yang terlebih dahulu dilakukan
adalah mengatasi syok dan mengatasi perdarahan. Mengatasi syok primer dengan
memberikan suntikan morfin, petidin atau narkotika analgetik lainnya untuk
5

mengatasi nyeri. Mengatasi syok sekunder dengan memberikan terapi cairan.


Infus segera dengan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat. Bila perdarahannya banyak,
lakukan transfusi darah dan bila transfusi belum mungkin dilakukan untuk
sementara berikan ekspander plasma, misalnya Dextran L. Mengatasi perdarahan
dilakukan dengan tranfusi secepatnya dan bantuan obat-obat hemostatika seperti
Karbazokram (Adona , Anaroxyl), Transamin, dsb.3
Setelah itu dilakukan tindakan pembersihan luka, luka dan sekitarnya
dilakukan antiseptik, kalau perlu dicuci dengan air sebelumnya. Bahan yang
digunakan adalah larutan yodium 1% dan larutan klorheksidin 0,5%. Larutan
yodium 3% atau alkohol 70% hanya digunakan untuk membersihkan kulit
disekitar luka.3
Kemudian daerah disekitar lapangan kerja ditutup dengan kain steril dan
secara steril dilakukan kembali pembersihan luka secara mekanis dari
kontaminan, yaitu pembuangan jaringan mati dengan gunting atau pisau
(debrideman) dan dibersihkan dengan bilasan, guyuran atau semprotan cairan
NaCl untuk membersihkan luka dari benda-benda asing. Akhirnya dilakukan
penjahitan dengan rapi. Bila diperlukan akan terbentuk atau dikeluarkan cairan
yang berlebihan perlu dibuat penyaliran. Luka ditutup dengan bahan yang dapat
mencegah lengketnya kasa, misalnya kasa yang mengandung vaselin, ditambah
dengan kasa penyerap, dan dibalut dengan pembalut elastic.3

b. Pengobatan lokal
Dilakukan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Mula-mula tutup
luka dengan pembalut steril (dressing). Jangan menaruh antiseptik, salep, obat
tepung, pada luka karena akan memperbesar kemungkinan kontaminasi dan
kerusakan jaringan oleh bahan-bahan kimia. Perdarahan diatasi dengan pembalut
tekan, bila luka terdapat pada ekstremitas maka ekstremitas dielevasi
(ditinggikan). Perdarahan arteri diatasi dengan:
- Kompresi dengan jari, bila peradarahn tidak berhenti, tekan arteri bagian
proksimal dengan jari (bila perlu jari dimasukkan ke dalam luka). Untuk arteri
karotis dilakukan penekanan ke arah kolumna vertebra, arteri subklavia dilakukan
penekanan pada fosa subklavikularis, arteri brakhialis ditekan pada fosa
bisipitalis, arteria iliaka dialkuakan penekan aorta ke arah kolumna vetebra, arteria
femoralis ditekan pada bagian bawah ligamentum Pouparti.3
6

- Kompresi dengan membengkokkan badan/bagian tubuh. Untuk arteri


subklavia yaitu dengan menarik lengan kebawah belakang, untuk arteri brakhialis
lengan ditarik ke belakang dalam keadaan aduksi, untuk arteri radialis/ulnaris
dilakukan fleksi siku maksimum, arteri tibialis dilakukan fleksi lutut maksimum,
untuk arteri femoralis pasien ditidurkan, tungkai ditekankan pada perut.3
- Kompres proksimal arteri yang luka. Dapat digunakan torniket, Knevel
verband. Dengan cara ini luka harus sering dibuka. Biasanya setiap 5-15 menit.
Bila lebih dari dua jam, maka dapat terjadi nekrosis atau iskemia kontraktur.3
c. Pengobatan Defenitif
Luka tertutup, umumnya tidak dilakukan tindakan bedah. Bila terjadi
ruptura (robekan) otot atau ligamentum, maka diperlukan tindakan bedah,
misalnya menyambung otot, tendon atau ligamentum tersebut. Hati-hati bila
mengenai regio thoraks/abdomen. Pemeriksaan fisik sangat penting untuk
mengetahui adanya ruptura organ dalam. Untuk mengetahui adanya perdarah
interna (perdarahan yang tak tampak) dipakai tes Von Slany yang dilakukan
dengan memeriksa hemoglobin, hemtokrit dan lekosit, Bila: 1. Hemoglobin
menurun, 2. Hematokrit menigkat, 3. Lekosit meningkat, maka tes Von Slany
positif artinya terdapat perdarahan interna.3
Luka Terbuka, pada prinsipnya adalah mengubah luka terkontaminasi
menjadi luka bedah yang bersih. Pemeriksaan luka dilakukan dengan menarik tepi
luka dan membukanya lebar-lebar, kemudian dilihat apakah terdapat organ
dibawahnya yang terpotong seperti otot, tendon, pembuluh darah. Periksa juga
keadaan luka tersebut apakah keadaanya bersih, kotor, terkontaminasi, ada benda
asing. Apakah masih terdapat perdarahan. Bila terdapat perdarahan dapat
dihentikan dengan pembalut tekan, tampon dengan obat vasokontriksi, diklem lalu
ligasi atau diathermi/koagulasi (menggunakan alat khusus). Prinsip hemostasis
(penghentian perdarahan) harus baik. Luka berdarah sukar sembuh. Jadi bila
terlihat perdarahan harus sedapat mungkin dihentikan. Luka-luka di kepala tak
usah diklem/diikat, sebab dengan penjahitan yang rapat dan tepat, perdarahan
akan berhenti sendiri.3

2.1.6. Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inflamasi,
proliferasi dan remodelling.2
1. Fase inflamasi
7

Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari


kelima. Pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan,
dan tubuh berusaha menghentikannya dengan vasokontriksi, pengerutan ujung
pembuluh darah yang putus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi
karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melekat, dan bersama
jala fibrin yang terbentu, membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.
Trombosit yang berlekatan akan berdegranulasi, melepas kemoatraktan yang
menarik sel radang, mengaktifkan fibroblast lokal dan sel endotel serta
vasokontriktor. Sementara itu, terjadi reaksi inflamasi.
Setelah hemostasis, proses koagulasi akan mengaktifkan kaskade
komplemen. Dari kaskade ini akan dikeluarkan bradikinin dan anafilatoksin C3a
dan C5a yang menyebabkan vasodilatasi dan permeabilitas vaskular meningkat
sehingga terjadi eksudasi, penyebukan sel radang, disertai vasodilatasi setempat
yang menyebabkan edema dan pembengkakan berupa warna kemerahan karena
kapiler melebar (rubor), rasa hangat (kalor), nyeri (dolor), dan pembengkakan
(tumor).
Aktivitas selular yang terjadi yaitu pergerakan leukosit menembus dinding
pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit
mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran
luka. Monosit dan limfosit ikut memfagositosis bakteri dan kotoran luka. Mobosit
yang berubah menjadi makrofag juga menyekresi sitokin dan growth factor untuk
proses penyembuhan luka.

2. Fase proliferasi
Fase proliferasi juga disebut fase fibroplasia karena yang menonjol adalah
proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai
kira-kira akhir minggu ketiga. Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum
berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asam amino glisin dan prolin
yang merupakan bahan dasar kolagen yang akan mempertautkan tepi luka.
Pada fase fibroplasia ini luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen
serta pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), membentuk jaringan
berwarna kemerahan dan permukaan berbenjol halus yang disebut jaringan
granulasi. Proses migrasi hanya terjadi ke arah yang lebih rendah dan datar. Proses
ini baru berhenti setelah epitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan
8

luka. Dengan tertutupnya permukaan luka, proses fibroplasia dengan


pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses
pematangan dalam fase remodelling
3. Fase remodelling
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari atas penyerapan
kembali jaringan yang berlebih, pengerutan, yang sesuai dengan gaya gravitasi
dan akhirnya penyerupaan ulang jaringan baru. Fase ini dapat berlangsung
berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap.
Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang abnormal karena proses
penyembuhan. Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler
baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih diserap dan sisanya
mengerut sesuai dengan besarnya regangan. Selama proses ini berlangsung,
dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis dan lentur serta muah digerakkan dari
dasar. Terlihat pengkerutan maksimal pada luka. Hal ini tercapai kira-kira 3-6
bulan setelah penyembuhan, namun perupaan luka tulang (patah tulang)
memerlukan waktu satu tahun atau lebih untuk membentuk jaringan yang normal.

Menurut cara penyembuhannya dapat dibagi atas:3


a. Penyembuhan Primer (Sanatio per Primum Intentionum/ Primary
Healing)
Luka-luka yang bersih sembuh dengan cara ini, misalnya luka operasi,
luka kecil yang bersih. Penyembuhannya tanpa komplikasi, penyembuhan dengan
cara ini berjalan cepat dan hasilnya secara kosmetik baik.
Fase-fase penyembuhan luka
- Fase perlekatan Luka, terjadi karena adannya fibrinogen dan limfosit, dan
terjadi dalam waktu 24 jam pertama.
- Fase Aseptik Peradangan, terjadi kalor, dolor, rubor, tumor dan functio
laesa, pembuluh darah melebar dan leukosit serum melebar sehingga terjadi
edema. Terjadi setelah 24 jam. (3) Fase pembersihan (initial phase), karena
edema, lekosit banyak keluar untuk memfagositisis atau membersihkan jaringan
yang telah mati. (4) Fase proliferasi pada hari ke tiga, fibroblas dan kapiler
menutup luka bersama jaringan kolagen dan makrofag. Semua ini membentuk
jaringan granulasi. Terjadi penutupan luka, kemudian terjadi epitelisasi. Pada hari
keteujuh penyembuhan telah bagus. Berdasarkan hal ini pada luka bersih, (kecuali
pada daerah yang banyak bergerak) jahitan dibuka minimal pada hari ke 7.
9

b. Penyembuhan Sekunder (Sanatio per Primum Intentionum/


Secondary Healing)
Penyembuhan pada luka terbuka adalah melalui jaringan granulasi sel
epitel yang bermigrasi. Luka-luka yang lebar dan terinfeksi, luka yang tak dijahit,
luka bakar sembuh dengan cara ini. Setelah luka sembuh akan timbul jaringan
parut.
c. Penyembuhan Tersier (Sanatio per Primum Intentionum/Tertiary
Healing)
Disebut pula delayed primary clousure. Terjadi pada luka yang dibiarkan
terbuka karena adanya kontaminasi, kemudian setelah tidak ada tanda-tanda
infeksi dan granulasi telah baik, baru dilakukan jahitan sekunder (secondary
suture), yang dilakukan setelah hari keempat, bila tanda-tanda infeksi telah
menghilang.

2.2. TETANUS
2.2.1 Definisi

Penyakit infeksi akut yang menunjukkan diri dengan gangguan


neuromuskular akut berupa trismus, kekauan dan kejang otot akibat eksotosin
spesifik kuman anaerob Clostridium tetani.2

Jenis luka yang mengandung tetanus adalah luka-luka seperti vulnus


laceratum (luka robek), vulnus punctum (luka tusuk), combustio (luka bakar),
fraktur terbuka, otitis media, luka terkontaminasi dan luka tali pusat. Masa
inkubasi penyakit ini adalah 1-54 hari, rata-rata 8 hari.3

2.2.2 Etiologi

Tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani yang bersifat anaerob murni.


Spora C.tetani dapat bertahan sampai bertahun-yahun bila tidak kena sinar
matahri. Spora ini terdapat dibawah tanah atau debu, tahan terhadap antiseptik,
pemanasan 100 dan bahkan pada otoklaf 120 selama 15-20 menit. Dari berbagai
studi yang berbeda spora ini tidak jarang ditemukan pada feses manusia, juga pada
feses kuda, anjing, dan kucing. Toksin diproduksi oleh bentuk vegetatifnya.2

2.2.3 Patogenesis
10

Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka. Semua


jenis luka dapat terinfeksi oleh kuman tetanus, seperti luka laserasi, luka tusuk,
luka tembak, luka bakar, luka gigit oleh manusia atau binatang, luka suntikan dan
sebagainya.1,4

Porta de entre pada 60% pasien tetanus terdapat di daerah kaki terutama
pada luka tusuk. Infeksi tetanus dapat juga terjadi melalui uterus pascapersalinan
atau abortus provokatus. Pada bayi baru lahir, C.tetani dapat masuk melalui
umbilicus setelah tali pusat dipotong tanpa memperhatikan kaidah asepsis-
antisepsis. Otitis media atau karies gigi dapat dijadikan porte de entre bila pada
pasien tetanus tidak ditemukan luka yang diperkirakan sebagai tempat masuknya
kuman tetanus.5

Bentuk spora akan berubah menjadi bentuk vegetative bila lingkungannya


memungkinkan untuk perubahan bentuk tersebut kemudian mengeluarkan
eksotoksin. Kuman tetanusnya sendiri yang tinggal didaerah luka dan tidak
menyebar. Kuman itu membentuk dua macam eksotoksin, yaitu tetanolisin dan
tetanospasmin.2

Tetanolisin dalam percobaan dapat menghancurkan sel darah merah tapi


tidak menyebabkan tetanus secara langsung, melainkan menambah optimal
kondisi lokal untuk berkembangnya bakteri. Tetanospasme terdiri dari toksin yang
bersifat toksik terhadap sel saraf. Toksin ini diserap oleh saraf end organ di ujung
saraf motorik dan diteruskan melalui saraf sampai ke sel ganglion dan susunan
saraf pusat dan terikat pada sel saraf, toksin tersebut tidak dapat dinetralkan lagi.
Saraf yang terpotong atau berdegenerasi lambat menyerap toksin sedangkan saraf
sensorik sama sekali tidak menyerap.2

2.2.4 Manifestasi Klinis

Masa inkubasi berkisar antara tiga hari sampai empat minggu, kadang
lebih lama rata-rata delapan hari. Barat penyakit berhubungan dengan masa
inkubasi, makin pendek inkubasi makin buruk prognosis penyakit. Angka
kematian pada pasien yang masa ikubasinya kurang dari satu minggu umumnya
11

tinggi. Masa inkubasi rata-rata pada pasien yang akhirnya meninggal adalah tujuh
hari, sedangkan pada pasien yang sembuh sekitar sebelas hari.2

Tetanus dapat timbul sebagai tetanus local terutama pada orang yang telah
mendapatkan imunisasi. Gejalanya berupa kaki persisten pada otot di dekat luka
yang terkontaminasi basil tetanus. Kadang pada trauma kepala, timbul tetanus
local tipe sefalik. Dalam hal itu terjadi fenomena motorik sesuai dengan serabut
saraf kepala yang terkena (NIII,IV,V,VI,VII,IX,X,XI,XII).penting diperhatikan
bahwa kaku otot disekitar luka mungkin merupakan gejala tetanus.2

Yang paling sering terjadi adalah tetanus umum. Gejala pertama yang
terlihat adalah kaku otot masseter yang mengakibatkan gangguan membuka mulut
(Trismus), kemudian epistotonus yang disebabkan oleh kaku kuduk, kaku leher
dan kaku punggung, selain dinding perut yang menjadi keras seperti papan,
tampak risus sardonikus karna kaku otot wajah dan keadaan kekakuan
ekstremitas. Penderita sangat terganggu oleh gangguan menelan.2

Keluhan konstipasi, nyeri kepala, berdebar dan berkeringat sering


dijumpai. Pada umumnya ditemukan demam serta penigkatan frekwensi nafas.
kejang otot yang merupakan kekakuan karna hipertonus dan tidak bersifat klonus,
dapat timbul hanya karena rangsangan yang lemah, seperti bunyi-bunyian dan
cahaya. Selama sakit sensorium tidak terganggu sehingga hal ini menimbulkan
penderitaan pada pasien karena merasa nyeri karena kaku otot. Selanjutnya dapat
timbul gangguan pernapasan yang mengakibatkan anoksia dan kematian.
Penyebab kematian adalah kombinasi dari berbagai keadaan seperti kelemahan
otot nafas, infeksi sekunder di paru yang menyebabkan kegagalan pernapasan
serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.2

2.2.5 Diagnosis

Diagnosis cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis karena pemeriksaan


kuman C.tetani belum tentu berhasil. Anamnesis tetntang adanya kelainan yang
dapat menjadi tempat masuknya kuman tetanus, trismus, risus sardonikus, kaku
kuduk, epistotonus, perut keras seperti papan atau kejang tanpa gangguan
kesadaran, cukup untuk menegakkan diagnosis tetanus.2
12

2.2.6 Diagnosis Banding


Pada fase awal kadang keraguan dapat timbul. Infeksi lokal daerah mulut
juga sering disertai trismus. Kemungkinan lainnya adalah meningitis atau
ensefalitis.2 Diagnosa banding dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Diagnosa banding


Penyakit Gambaran diferensial
INFEKSI
Meningoensefalitis Demam, trismus ridak ada, penurunan kesadaran, cairan
serebrospinal abnormal.
Polio
Trismus tidak ada, paralisis tipe flasid, cairan
Rabies serebrospinal abnormal.
Gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya spasme
Lesi orofaring
orofaring.
Bersifat lokal, rigiditas atau spasme seluruh tubuh tidak
Peritonitis
KELAINAN METABOLIK ada.
Tetani Trismus dan spasme seluruh tubuh tidak ada.
Keracunan striknin
Reaksi fenotiazin Hanya spasme karpo-pedal dan laringeal, hipokalsemia.
PENYAKIT SISTEM SARAF PUSAT Relaksasi komplit diantara spasme.
Status epileptikus Distonia, menunjukkan respon dengan difenhidramin.
Perdarahan atau tumor (SOL)
KELAINAN PSIKIATRIK Penurunan kesadaran.
Histeria Trismus tidak ada, penurunan kesadaran.
KELAINAN MUSKULOSKELETAL
Trauma Trismus inkonstan, relaksasi komplit antara spasme.

Hanya lokal.

2.2.7 Pengobatan

Prinsip pengobatan tetanus terdiri dari tiga upaya, yaitu mengatasi akibat
eksotosin yang sudah terikat pada susunan saraf pusat, menetralisasi toksin yang
masih beredar di dalam darah dan menghilangkan kuman penyebab. 2 Pada
penatalaksanaan penyakit tetanus perlu ditentukan terlebih dahulu derajat
13

keparahan penyakit dalam bagan tolak ukur dan besarnya nilai (Philips) pada tabel
2.2.

Tabel 2.2 Bagan Keempat tolak ukur dan besarnya nilai (Philips)

Tolak Ukur Nilai


Masa Inkubasi < 48 jam 5
2-5 hari 4
6-10 hari 3
11-14 hari 2
>14 hari 1
Lokasi Infeksi Internal/umbilical 5
Leher,kepala,dinding tubuh 4
Ekstremitas proksimal 3
Ekstremitas distal 2
Tidak diketahui 1
Imunisasi Tidak ada 10
Mungkin ada/ibu mendapat 8
> 10 tahun yang lalu 4
< 10 tahun yang lau 2
Proteksi lengkap 0
Faktor yang Penyakit trauma yang membahayakan jiwa 10
memperberat Keadaan yang tidak langsung membahayakan jiwa 8
Keadaan yang tidak membahayakan jiwa 4
Trauma atau penyakit ringan 2
A.S.A derajat 1
*sistem penilaian untuk menilai risiko penyulit. (American Society of Anesthesiologist)

Progresivitas penyakit dan reaksi terhadap pengobatan dapat diukur


dengan memberikan angka pada empat gejala klinis yang timbul. Faktor yang
dinilai adalah beratnya kekakuan, frekuensi kejang, suhu badan dan status
pernapasan. Penilaian dilakukan setiap 12 jam.2

Pengukuran berbagai faktor kolateral untuk menentukan nilai indeks pada


cara Philips secara bermakna dapat menentukan prognosis. Makin besar
angkanya, makin tinggi angka kematiannya.2
14

Mengatasi kaku otot dan kejang, gangguan pernapasan, pengendalian


keseimbangan cairan dan elektrolit, serta perbaikan nutrisi adalah tindakan yang
harus dilakukan. Untuk mengatasi kaku otot, berikan obat yang bersifat
melemaskan otot dan untuk sedasi, gunakan fenobarbital, clorpromazin atau
diazepam. Pada tetanus berat kadang diperlukan paralisi totak otot (kurarisasi) dan
pemakaian respirator untuk mengambil alih pernapasan. Pasien dengan kaku
laring biasanya memerlukan trakeostomi untuk mengatasi gangguan pernapasan.2

Pada perawatan, harus dilakukan observasi ketat, terutama pada jalan


nafas, perubahan posisi dan perawatan kulit untuk mencagah dekubitus, serta
pengosongan buli-buli. Fisioterapi paru dan anggota gerak serta perawatan mata
juga merupakan bagian dari perawatan baku. Berikan nutrisi parenteral dan enteral
yang adekuat. Selama pasase usus baik, nutrisi enteral merupakan pilihan, tetapi
bila perlu, berikan makanan lewat pipa lambung atau gastrektomi.2

Toksin yang masih beredar dinetralkan melaui pemberian serum


antitetanus (ATS) atau immunoglobulin tetanus manusia. ATS diberikan 20.000
IU/hari selama lima hari berturut-turut. Pada pemberian ATS harus diingatkan
kemungkinan timbulnya reaksi alergi. Pemberian imunolobulin tetatnus manusia
cukup dengan dosis tunggal 3000-6000 unit; pemberian tidak perlu diulang karena
waktu paruh antibody 3-4 minggu.2

Kuman penyebab dapat dihilangkan dengan perawatan luka yang dicurigai


sebagai sumber infeksi dengan cara mencuci luka mengguanakan larutan
antiseptic, eksisi luka bahkan histerektomi bila uterus diperkirakan sebagai
sumber tetanus.2

Bila tidak ditemukan sumber infeksi yang jelas, antimikroba merupakan


satu-satunya usaha untuk meghilangkan kuman penyebab. Dasar pemikirannya
adalah perkiraan bahwa kuman penyebab terus-menerus memproduksi eksotoksin,
yang hanya dapat dihentikan dengan membasmi kuman tersebut.2

Antibiotik yang banyak dianjurkan dan efektif membunuh C.tetani adalah


penisilin. Metronidazol lebih efektif menurunkan mortalitas dan morbilitas
15

dibandingan metronidazol. Dosis penisilin yang dianjurkan adalah 3 x 1,5 juta


unit/hari dan metronidazol 3x 1 gr/hari.2

2.2.8 Pencegahan
Ada dua pencegahan tetanus yaitu perawatan luka yang adkuat dan
imunisasi aktif serta pasif. Imunisasi aktif didapat dari penyuntikan toksoid
tetanus untuk merangsang tubuh membentuk antibodi. Manfaan imunisasi aktif ini
sudah banyak dibuktikan. Imunisasi pasif diperoleh dari pemberian serum yang
mengandung antitoksin heterolog (ATS) atau antitoksin homolog (imunoglobulin
antitetanus). Berdasarkan riwayat imunitas dan jenis luka, baru ditentukan
pemberian antitetanus serum atau toksoid. Ada keraguan untuk memberikan
serum antitetanus bersamaan dengan toksoid karena ditakutkan terjadi netralisasi
toksoid oleh ATS. Hal ini dapat dicegah dengan memberikannya secara terpisah
pada tempat penyuntikan yang berjauhan, misalnya lengan kanan dan paha kiri.2
2.2.9 Prognosis

Faktor yang mempengaruhi mortalitas pasien tetanus adalh masa inkubasi,


periode awal pengobatan, imunisasi, local focus infeksi, penyakit lain yang
menyertai beratnya penyakit, dan penyulit yang timbul.

Masa inkubasi dan periode awitan merupakan faktor yang menetukan


prognosis dalam klasifikasi cole dan spooner yang dapat dilihat pada tabel 2.3

Tabel 2.3 Klasifikasi prognostik menurut cole-spooner


Kelompok prognostik Periode awal
I <36 Jam
II >36 Jam

III Tidak diketahui

Angka kematian pasien yang termasuk kedalam kelompok prognostic I lebih


tinggi daripada kelompok II dan III. Perawatan intensif menurunkan angka
16

kematian akibat gagal nafas dan kelelahan akibat kejang. Selain itu, pemberian
nutrisi yang cukup ternyata juga menurunkan angka kematian.2