Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di era globalisasi sekarang ini, dimana bisnis tidak lagi mengenal batas negara, perusahaan
membutuhkan laporan keuangan yang dapat dipercaya. Auditor eksternal yang independen menjadi
salah satu profesi yang dicari. Profesi auditor diharapkan oleh banyak orang untuk dapat menambah
kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang diberikan. Oleh karena itu, profesionalisme
menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal.

Audit atau pemeriksaan sendiri dapat diartikan dalam arti luas yaitu evaluasi terhadap suatu
organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan
tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari
audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui
dan diterima.

Bagi seorang auditor, penting untuk mengetahui berbagai elemen yang menjadi pengetahuan
dasar saat menjalankan proses audit. Pengetahuan mengenai tujuan audit, asersi, kriteria, dan prosedur
mungkin menjadi hal yang sangat erat. Tanpa pemahaman tentang hal tersebut maka perencanaan
dalam akumulasi bukti audit menjadi tidak relevan. Perlu disadari bahwa seluruh proses audit tentu
memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena itulah dalam pembahasan kali ini, akan ditekankan terkait
hubungan antara tujuan audit, asersi, kriteria, teknik dan prosedur.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun masalah yang akan dibahas adalah bagaimana keterkaitan antara tujuan audit, asersi,
kriteria dan teknik serta prosedur.

1.3 TUJUAN

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui keterkaitan antara tujuan audit, asersi, kriteria
dan teknik serta prosedur.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 TUJUAN AUDIT

Tujuan Pengauditan Laporan Keuangan

Pada PSA 02 (SA 110) dinyatakan bahwa :


Tujuan pengauditan umum atas laporan keuangan oleh auditor independen merupakan pemberian
opini atas kewajarn dimana laporan tersbeut telah disajikan secara wajar, dalam segala hal yang
material, posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas, sesaui dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.
Berdasarkan hal tersbeut maka dapat disimpulkan bahawa PSA 02 menekankan pada opini
atas laporan keuangan. Bahkan di Amerika Serikat, auditor harus menerbitkan laporan atas
pengendalian internal terhadap laporan keuangan seperti yang diwajibkan oleh Seksi 404 Sarbanes-
Oxley Act.

Tujuan Audit Terkait Transaksi

Tujuan audit terkait transaksi ini dimaksudkan dalam upaya memberikan kerangka untuk
membantu auditor dalam mengumpulkan bahan bukti audit yang memadai sesuai standar ketiga
pekerjaan lapangan, untuk selanjutnya memutuskan bukti yang tepat di setiap kelompok transaksi.

Tujuan audit terkait transaksi terdiri atas tujuan umum dan khusus. Pada tujuan umum audit
terkait transaksi dapat diterapkan ke semua kelompok transaksi dan dinyatakan dalam istilah luas,
sedangkan ada tujuan khusus audit terkait transaksi juga dapat diterapkan pada semua kelompok
transaksi tapi dinyatakan dalam istilah yang disesuaikan dengan kelompok transaksi tertentu.
Penentuan tujuan umum audit terkait transaksi akan menjadi dasar dalam penyusunan tujuan
khususnya.

- Tujuan Umum Audit Terkait Transaksi

Terdiri atas :

1) Keterjadian : transaksi yang dicatat benar-benar ada atau terjadi.


2) Kelengkapan : transaksi yang ada telah dicatat.
3) Akurasi : transaksi yang dicatat disajikan dalam jumlah yang benar.
4) Pemindahbukuan dan pengikhtisaran : transaksi yang dicatat telah dimasukkan dalam arsip
utama dengan tepat dan telah diikhtisarkan dengan benar.
5) Klasifikasi : transaksi yang dimasukkan dalam jurnal klien telah diklasifikasikan dengan
tepat.

2
- Tujuan Khusus Audit Terkait Transaksi

Setelah ditentukannya tujuan umum audit atas transaksi, maka selanjutnya penyusunan atas tujuan
khususnya dapat digunakan. Kelompok-kelompok tersebut biasanya termasuk penjualan,
penerimaan kas, pembelian barang dan jasa, gaji.

Tujuan Audit Terkait Saldo

Tujuan audit terkait saldo lebih difokuskan pada saldo akunnya. Karena cara pengauditan
yang dilakukan, tujuan audit terkait saldo hampir selalu diterapkan pada saldo akhir pada akun neraca,
seperti piutang dagang, persediaan, dan wesel bayar. Namun, beberapa tujuan audit terkait saldo juga
diterapkan pada sejumlah akun laba rugi yang melibatkan transaksi yang tidak rutin dan biaya tidak
terduga.

Saat menggunakan tujuan audit terkait saldo terhadap saldo akun, auditor mengumpulkan
bukti audit untuk menguji rincian yang mendukung saldo akun, daripada menguji saldo akun itu
snediri.

- Tujuan Umum Audit Terkait Saldo


1) Keberadaan : jumlah yang dicatat benar-benar ada.
2) Kelengkapan : jumlah yang ada telah dicatat.
3) Akurasi : jumlah yang dimasukkan dinyatakan dalam jumlah yang benar.
4) Klasifikasi : jumlah yang dimasukkan pada daftar milik klien yang telah diklasifikasikan
dengan benar.
5) Pisah batas : transaksi mendekati tanggal neraca dicatat dalam periode yang benar.
6) Keterikatan : perincian saldo akun sesuai dengan jumlah si arsip utama yang terkait, sesuai
dengan jumlah total saldo akun dan sesuai dengan jumlah total di buku besar.
7) Nilai terealisasi : aset dicatat pada estimasi jumlah yang dapt direalisasi.
8) Hak dan kewajiban : hak selalu dihubungkan dengan aset dan kewajiban dengan liabilitas.
- Tujuan Khusus Audit Terkait Saldo

Tujuan khusus audit terkait saldo dari setiap saldo akun pada laporan keuangan dapat
dikembangkan. Ada lebih dari satu tujuan khusus audit terkait slado untuk sebuah tujuan umum
audit terkait saldo.

2.2 KRITERIA AUDIT

Pengertian

Kriteria audit merupakan seperangkat standar, ukuran, harapan, dan praktik terbaik yang
seharusnya dilakukan atau dihasilkan oleh suatu entitas yang diaudit.

3
Pendekatan
Terdapat dua pendekatan dalam menetapkan kriteria audit yang dapat dilakukan oleh seorang
auditor, diantaranya :
1) Kriteria Proses
2) Kriteria Hasil
Penilaian atas kedua pendekatan ini hanya bias dilakukan dengan baik apabila sudah tersedia
standar proses kerja, termasuk standar input dan output. Terdapat cara untuk membedakan
pendekatan ini, diantaranya :
a. Apakah auditee telah bekerja dengan cara yang benar?
Jawaban atas pertanyaan ini mengarah pada penggunaan sumber daya dan proses kerja auditee.
b. Apakah auditee telah mencapai hasil yang benar?
Jawaban atas pertanyaan ini mengarah pada hasil kerja auditee.
Pada kenyataannya penerapan kriteria proses dan kriteria hasil dalam audit dilakukan sesuai
dengan kebutuhan entitas, yakni dapat digunakan salah satu ataupun secara bersamaan.
Penetapan kriteria proses dan kriteria hasil dikaitkan dengan tujuan audit sebagai berikut :
1. Pada audit kinerja : kriteria proses berkaitan dengan cara kerja dan sumber daya yang
seharusnya digunakan dalam proses pekerjaan
2. Pada audit keuangan : kriteria proses berkaitan dengan stadar, cara kerja, dan pengguanaan
sumber daya untuk menghasilkan informasi yang benar dalam rangka pengambilan
keputusan.
3. Pada audit kepatuhan : kriteria proses berkaitan dengan penggunaan cara-cara dan
penggunaan sumber daya yang dapat menjamin terpenuhinya ketaatan atas kriteria hasil.

Karakteristik Kriteria Audit


Kriteria dikatakan tepat apabila kriteria telah sesuai dengan karakteristik khusus dari auditee.
Auditor harus meyakini bahwa kriteria yang digunakan sesuai untuk menilai dan mengevaluasi
kegiatan yang dilakukan. Karakteristik tersebut diantaranya :
o Dapat dipercaya
o Objektif
o Berguna
o Dapat dimengerti
o Dapat diperbandingkan
o Kelengkapan
o Dapat diterima

Referensi dalam Kriteria Audit

4
Beberapa sumber informasi lainnya yang dapat digunakan sebagai referensi dalam
menentukan kriteria audit, diantaranya :
1. Tim audit lainnya yang pernah memeriksa kegiatan yang sama
2. Produk-produk kerja yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
3. Undang-undang dan kebijakan entitas yang diaudit
4. Pernyataan para ahli atau akademisi
5. Laporan-laporan yang disusun oleh entitas yang diaudit
6. Pendapat dari pimpinan tertinggi dari entitas yang diaudit
7. Kebijakan pemerintah
8. Informasi yang berasal dari auditee

Langkah-Langkah dalam Menentukan Kriteria Audit


Tahapan yang dilakukan dalam menentukan kriteria audit, yaitu :
1. Menilai ketepatan karakteristik kriteria audit
2. Menentukan sumber kriteria audit
3. Mengembangkan kriteria audit
4. Mengomunikasikan kriteria dengan auditee

2.3 ASERSI MANAJEMEN

Asersi manajemen merupakan sebuah pernyataan yang menyiratkan tentang kelompok


transaksi dan akun terkait serta pengungkapannya dalam laporan keuangan.

Keberadaan asersi sangat erat kaitannya dengan pengakuan, pengukuran, penyajian dan
pengungkapan dari berbagai unsur dalam laporan keuangan. Berikut adalah contoh dari asersi,
diantaranya :

- Kebenaran atas keberadaan semua aset dalam laporan keuangan


- Pencatatan atas transaksi dilakukan saat terjadinya
- Nilai persediaan dicantumkan dengan sesuai
- Traksaksi yang dicatat terjadi dalam periode berjalan
- Seluruh jumlah disajikan dan diungkapkan dengan benar dalam laporan keuangan

Berdasarkan PSA 07 (SA 326) dijelaskan bahwa asersi dikategorikan dalam 3 hal,
diantaranya :

Asersi Mengenai Kelompok-Kelompok Transaksi dan Kejadian-Kejadian

Jenis asersi ini menekankan pada :

5
1) Keterjadian : menekankan kesesuaian pencatatan transaksi dengan kejadian yang
sebenarnya pada periode berjalan.
2) Kelengkapan : menekankan kelengkapan pencatatan transaksi sudah sesuai dalam laporan
keuangan.
3) Akurasi : menekankan pada kesesuaian jumlah yang dicatat.
4) Klasifikasi : menekankan pada ketepatan pencatatan akun suatu transaksi.
5) Pisah batas : menekankan pada kebenaran pencatatan yang sesua dengan periode
pembukuan.

Asersi Mengenai Saldo Akun

Jenis asersi ini menekankan pada :


1) Keberadaan : menekankan pada keberadaan aset, liabilitas dan ekuitas dimasukkan dalam
neraca benar-benar ada di tanggal neraca.
2) Kelengkapan : menekankan kelengkapan akun sudah sesuai dalam laporan keuangan.
3) Penilaian dan alokasi : menekankan pada kondisi aset, liabilitas dan ekuitas telah
dimasukkan pada laporan keuangan sesuai dengan jumlah yang tepat.
4) Hak dan kewajiban : menekankan pada kebenaran atas aset dan liabilitas yang dimiliki
perusahaan sesuai dengan suatu tanggap tertentu.

Asersi Mengenai Penyajian dan Pengungkapan

Jenis asersi ini menekankan pada :


1) Keterjadian dan hak & kewajiban : menekankan pada kebenaran kejadian yang diungkapkan
benar terjadi dan merupakan hak dan kewajiban dari entitas tersebut.
2) Kelengkapan : menekankan kelengkapan pengungkapan sudah dimasukkan dalam laporan
keuangan.
3) Akurasi dan penilaian : menekankan pada kewajaran informasi akuntansi keuangan dan
jumlah.
4) Klasifikasi dan pemahaman : menekankan pada ketepatan jumlah dalam laporan keuangan
dan catatan kaki serta kejelasan tentang saldo dan pengungkapannya.

Asersi Gabungan

Pada ISA 315 memperbolehkan auditor menggunakan asersi di atas atau dengan cara yang
berbeda, sepanjang aspek di dalamnya masih tercakup. Dan bahkan pada entitas kecil entitas ini dapat
digabungkan.

Jenis asersi ini menekankan pada :

6
1) C-completeness : semua harus dicatat atau diungkapkan dalam laporan keuangan secara
lengkap.
2) E-existance : semua harus dicatat atau diungkapkan dalam laporan keuangan sesuai dnegan
tanggal terjadinya.
3) A-accuracy and cut off : semua harus dicatat atau diungkapkan dalam laporan keuangan sudah
dicatat dalam jumlah dengan benar dan dialokasikan ke periode yang benar.
4) V-valuation : semua harus dicatat atau diungkapkan dalam laporan keuangan dan pada
akhirnya dibutuhkan penyesuaian.
2.4 TEKNIK DAN PROSEDUR AUDIT

Prosedur audit, dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti audit, merupakan tindakan yang
dilakukan atau metode dan teknik yang digunakan auditor untuk memperoleh dan menilai satu jenis
bukti audit. Prosedur audit digunakan untuk mendukung top down dan bottom up approach. Prosedur
audit dibuat dalam bentuk kalimat instruksi.

Pemilihan prosedur dilakukan pada tahap perencanaan audit. Pemilihan prosedur auditing
mempertimbangkan efektivitas potensial prosedur dalam memenuhi tujuan spesifik audit, dan biaya
untuk melaksanakan prosedur tersebut.

Audit Procedures dan Audit Teknik

Standar pekerjaan pertama (IAPI, 2011: 310.1) berbunyi sebagai berikut:

Pekerjaan harus direncanakan sebik-bainya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan
semestinya.

Perencanaan dan supervisi berlangsung terus-menerus selama audit, dan prosedur yang berkaitan
sering kali tumpang tindih (overlap). Auditor sebagai penganggung jawab akhir atas audit dapat
mendelegasikan sebagian fungsi perencanaan dan supervisi auditnya kepada staf lain dala kantor
akuntannya (asisten).

Setelah audit plan disusun, tetapi sebelum pemeriksaan lapangan dimulai, auditor harus menyusun
audit program yang merupakan kumpulan dari prosedur audit yang akan dijalankan dan dibuat secara
tertulis.

Audit procedures adalah langkah-langkah yang harus dijalankan auditor dalam melaksanakan
pemeriksaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan penyimpangan dan dapat
bekerja secara efisien dan efektif.

Audit procedures dilakukan dalam rangka mendapatkan bahan-bahan bukti (audit evidence) yang
cukup untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan.

7
Untuk itu diperlukan audit teknik, yaitu cara-cara untuk memperoleh audit evidence seperti:
konfirmasi, observasi, inspeksi, tanya jawab (inquiry) dan lain-lain.

Prosedur Audit untuk Memperoleh Bukti Audit

Prosedur audit merupakan tindakan spesifik yang dilakukan oleh auditor untuk
mengumpulkan bukti mengenai apakah asersi tertentu telah terpenuhi. Ada tiga kelompok prosedur
audit. Masing-masingnya dilakukan untuk tujuan berikut:

1. Prosedur Penilaian Risiko


Digunakan untuk memperoleh pemahaman atas entitas dan ruang lingkupnya, termasuk
pengendalian internal, untuk menilai risiko salah saji material pada laporan keuangan dan
level asersi yang relevan.
2. Uji Pengendalian
Digunakan untuk menguji keefektifan pengendalian dalam menghindari atau mendeteksi dan
mengoreksi salah saji material pada level asersi yang relevan.
3. Prosedur Substantif
Digunakan untuk mendeteksi salah saji material pada level asersi yang relevan. Prosedur
substantif mencakup uji rincian dan prosedur analitis substantif.

Seperangkat prosedur audit disiapkan untuk menguji asersi suatu komponen laporan
keuangan biasanya disebut sebagai program audit. Tabel berikut mengilustrasikan prosedur audit
untuk tiap asersi terkait audit piutang.

Asersi Manajemen, Salah Saji yang Mungkin Terjadi, dan Ilustrasikan Prosedur Audit

Asersi Manajemen mengenai Salah Saji yang Mungkin Contoh Prosedur Audit untuk
Komponen Piutang pada Terjadi Akun Piutang
Laporan Keuangan
Keberadaan Pelanggan fiktif. Konfirmasi piutang.
Hak dan kewajiban Piutang yang telah dijual atau Bertanyalah kepada manajemen
difaktorkan. apakah piutang telah terjual.
Kelengkapan Akun pelanggan tidak dicatat. Pastikan jumlah total buku
besar pembantu piutang sama
dengan akun pengendali
piutang.
Penilaian atau alokasi Piutang terlambat bayar dinilai Uji kelayakan cadangan untuk
pada keseluruhan jumlah. piutang tak tertagih.
(Messier, Glover, Prawitt, 2014)

8
Sebaiknya memperhatikan bahwa tidak ada hubungan one-to-one antara asersi dengan
prosedur audit. Dalam beberapa contoh, lebih dari satu prosedur audit diperlukan untuk menguji
sebuah asersi. Sebaliknya, dalam sejumlah kasus suatu prosedur audit menyediakan bukti untuk lebih
dari satu asersi. Perhatikan bahwa asersi tidak berubah terlepas apakah suatu informasi diproses
secara manual atau elektronik. Namun demikian, metode aplikasi prosedur audit mungkin dipengaruhi
oleh metode pemrosesan informasi.

Prosedur audit (audit procedures) adalah metode atau teknik yang digunakan oleh oleh para
auditor untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti yang mncukupi dan kompeten.
Pembahasan berikut ini berfokus pada review beberapa jenis prosedur yang digunakan oleh para
auditor. Prosedur ini dapat digunakan untuk mendukung pendekatan audit top-bottom ataupun
pendekatan audit bottom-up. Auditor akan mempertimbangkan bagaimana setiap prosedur ini akan
digunakan ketika merencanakan audit dan mengembangkan program audit.

Audit procedures adalah langkah-langkah yang harus dijalankan auditor dalam melaksanakan
pemeriksaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan penyimpangan dan dapat
bekerja secara efisien dan efektif.

Audit procedures dilakukan dalam rangka mendapatkan bahan-bahan bukti (audit evidence) yang
cukup untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan.

Untuk itu diperlukan audit teknik, yaitu cara-cara untuk memperoleh audit evidence seperti:
konfirmasi, observasi, inspeksi, tanya jawab (inquiry) dan lain-lain.

Berikut ini adalah sepuluh jenis prosedur audit yang akan dibahas kemudian:

1. Prosedur analitis
2. Inspeksi
3. Konfirmasi
4. Permintaan keterangan (inquiring)
5. Penghitungan
6. Penelusuran (tracing)
7. Pemeriksaan bukti pendukung (vouching)
8. Pengamatan
9. Pelaksanaan ulang
10. Teknik audit berbantuan komputer (computer assisted audit techniques)

Pemilihan prosedur yang akan digunakan untuk menyelesaikan suatu tujuan audit tertentu
terjadi dalam tahap perencanaan audit. Efektivitas prosedur dalam memenuhi tujuan audit dan biaya
pelaksanaan prosedur tersebut harus dipertimbangkan dalam pemilihan prosedur yang akan
digunakan.

9
1. Prosedur analitis
Terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan diantara data. Prosedur ini meliputi
perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analisis vertikal atau laporan persentase,
perbandingan jumlah yang sebenarnya dengan data historis atau anggaran, serta penggunaan
model matematis dan statistik, seperti analisis regresi.
2. Inspeksi
Meliputi pemeriksaan rinci terhadap dokumen dan catatan, serta pemeriksaan sumber daya
berwujud. Prosedur ini digunakan secara luas dalam auditing.
3. Konfirmasi
Bentuk permintaan keterangan yang memungkinkan auditor memperoleh informasi secara
langsung dari sumber independen di luar organisasi klien. Dalam kasus yang lazim, klien
membuat permintaan kepada pihak luar secara tertulis, namun auditor yang mengendalikan
pengiriman permintaan keterangan tersebut.
4. Permintaan keterangan (inquiring)
Permintaan keterangan meliputi permintaan keterangan secara lisan atau tertulis oleh auditor.
Permintaan keterangan tersebut biasanya ditujukan kepada manajemen atau karyawan,
umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang timbul setelah dilaksanakannya prosedur
analitis atau permintaan keterangan yang berkaitan dengan keusangan persediaan atas piutang
yang dapat ditagih.
5. Penghitungan
Dua aplikasi yang paling umum dari perhitungan adalah (1) perhitungan fisik sumber daya
berwujud seperti jumlah kas dan persediaan yang ada, dan (2) akuntansi seluruh dokumen
nomor yang telah dicetak. Yang pertama menyediakan cara untuk mengevaluasi bukti fisik
tentang jumlah yang ada, sementara yang kedua dapat dipandang sebagai penyediaan cara
untuk mengevaluasi pengendalian internal perusahaan melalui bukti yang objektif tentang
kelengkapan catatan akuntansi.
6. Penelusuran (tracing)
Dalam penelusuran yang seringkali disebut sebagai penelusuran ulang, auditor (1) memilih
dokumen yang dibuat pada saat transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa informasi
yang diberikan oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi
(jurnal dan buku besar). Arah pengujian prosedur ini berawal dari dokumen menuju catatan
akuntansi; sehingga menelusuri kembali asal-usul aliran data melalui sistem akuntansi.
7. Pemeriksaan bukti pendukung (vouching)
Pemeriksaan bukti pendukung meliputi (1) pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi, dan
(2) mendapatkan serta memeriksa dokumentasi yang digunakan sebagai dasar ayat jurnal
tersebut untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi. Dalam melakukan
vouching, arah pengujian berlawanan dengan yang digunakan dalam tracking.

10
8. Pengamatan
Pengamatan berkaitan dengan memperhatikan dan menyaksikan pelaksanaan beberapa
kegiatan atau proses. Kegiatan dapat berupa pemrosesan rutin jenis transaksi tertentu seperti
penerimaan kas, untuk melihat apakah para pekerja sedang melaksanakan tugas yang
diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur perusahaan.
9. Pelaksanaan ulang
Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang perhitungan dan rekonsiliasi
yang dibuat oleh klien. Misal menghitung ulang total jurnal, beban penyusutan, bunga akrual
dan diskon atau premi obligasi, perhitungan kuantitas dikalikan harga per unit pada lembar
ikhtisar persediaan, serta total pada skedul pendukung dan rekonsiliasi.
10. Teknik audit berbantuan komputer (computer assisted audit techniques)
Apabila catatan akuntansi klien dilaksanakan melalui media elektronik, maka auditor dapat
menggunakan teknik audit berbantuan komputer (CAAT) untuk membantu melaksanakan
beberapa prosedur yang telah diuraikan sebelumnya. Sebagai contoh, auditor dapat
menggunakan perangkat lunak komputer untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
Melaksanakan penghitungan dan perbandingan yang digunakan dalam prosedur
analitis.
Memilih sampel piutang usaha untuk konfirmasi.
Mencari sebuah file dalam komputer untuk menentukan bahwa semua dokumen yang
berurutan telah dipertanggungjawabkan.
Membandingkan elemen data dalam file-file yang berbeda untuk disesuaikan (seperti
harga yang tercantum dalam faktur dengan master file yang memuat harga-harga
yang telah disahkan)
Memasukkan data uji dalam program klien untuk menentukan apakah aspek
komputer dari pengendalian intern telah berfungsi.
Melaksanakan ulang berbagai perhitungan seperti penjumlahan buku besar pembantu
piutang usaha atau file persediaan.

2.5 HUBUNGAN TUJUAN AUDIT, KRITERIA, ASERSI, SERTA TEKNIK DAN


PROSEDUR AUDIT

Hubungan Tujuan Audit dengan Asersi Manajemen

Tujuan audit terkait transaksi mengikuti dan terkait erat dengan asersi manajemen. Hal ini
tentu sejalan dengan tugas utama seorang auditor yaitu untuk menentukan asersi manajemen terhadap
laporan keuangan dapat dibenarkan.

Tabel 2.1 Hubungan Asersi Manajemen dengan Tujuan Umum dan Khusus

11
Asersi Manajemen
tentang Kelompok- Tujuan Audit
Kelompok Umum Terkait
Transaksi dan Transaksi Tujuan Audit Khusus Terkait Transaksi
Kejadian-Kejadian Penjualan
Keterjadian Keterjadian Penjualan yang dicatat adalah untuk pengiriman
kepada konsumen yang tidak fiktif.
Kelengkapan Kelengkapan Transaksi penjualan yang ada telah dicatat.
Akurasi Akurasi Penjualan yang dicatat adalah untuk sejumlah barang
yang dikirim dan telah dicatat dan ditagih dengan
benar.

Pemindahbukuan Transaksi penjualan telah dimasukkan ke dalam


arsip utama dengan benar dan telah diikhtisarkan
dengan benar.
Klasifikasi Klasifikasi Transaksi penjualan telah diklasifikasikan dengan
benar.
Pisah Batas Penetapan waktu Transaksi penjualan dicatat pada tanggal yang benar.

Tabel 2.2 Hubungan Asersi Manajemen, Tujuan Audit Khusus dan Pengujian Substantif

Asersi Tujuan Audit Khusus Contoh Pengujian Substantif


Keberadaan atau Keterjadian Persediaan yang ada dalam Mengobservasi perhitungan
neraca secara fisik ada persediaan secara fisik
Kelengkapan Kuantitas persediaan meliputi Mengobservasi perhitungan
seluruh peroduk, bahan baku, fisik persediaan dan
dan persediaan di tangan. menghitung seluruh kartu
persediaan dan lembar yang
digunakan.
Hak dan Kewajiban Perusahaan mempunyai Mengobservasi perhitungan
kepemilikan legal atau hak persediaan, memperoleh
sejenis terhadap persediaan konfirmasi persediaan pada
lokasi di luar perusahan.
Penilaian atau Alokasi Catatan persediaan dikompilasi Mereview aktivitas dalam
secara akurat dan jumlah akun-akun buku besar untuk
totalnya telah memasukkan persediaan dalam

12
dalam akun persediaan secara menginvestigasikan item-item
benar. yang tidak biasa terjadi.
Penyajian dan Pengungkapan Persediaan diklasifikasikan di Mereview rancangan laporan
dalam neraca sebagai aktiva keuangan.
lancar dengan benar.

Hubungan Kriteria Audit dengan Asersi Manajemen

Seperti pengertian yang sudah dijelaskan sebelumnya terkait kriteria audit maka jelas
hubungan keduanya terletak pada kriteria audit yang sengaja disusun untuk menghasikan hasil terbaik
dan hal tersebut dijelaskan melalui asersi manajemen sendiri.

Hubungan Prosedur Audit dengan Asersi Manajemen

Dalam memenuhi sejumlah tujuan audit spesifik yang diangkat dari asersi laporan keuangan
manajemen, auditor akan menggunakan sejumlah atau seluruh prosedur audit dan bukti audit.

Gambar 2.1 Hubungan Prosedur Audit, Jenis Bukti Audit dan Asersi

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tujuan audit secara menyeluruh adalah memberikan pendapat atas laporan keuangan yang
dicapai melalui pengumpulan dan pendapat atas laporan keuangan yag dicapai melalui pengumpulan
dan mengevaluasi bukti audit. Keputusan-keputusan penting yang harus dibuat oleh auditor berkenaan
dengan sifat, saat, serta luasnya prosedur audit maupun penetapan staf audit. Selain itu, auditor harus
dapat menetapkan tuuan audit spesifik dari asersi laporan keuangan manajemen, karena setiap tujuan
audit biasanya memerlukan bukti dan prosedur audit yang berbeda pula. Auditor menerapkan
pertimbangan profesional melalui pemilihan prosedut audit.

14
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2014. Auditing: Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan Publik. Edisi
4 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

Arens, Alvin A., Rendal J. Elder, Mark S., Jusuf, Amir Abadi. 2013. Jasa Audit dan Assurance
(Pendekatan terpadu versi Indonesia). Jakarta: Salemba Empat

Boynton, William C and Walter G. Kell. 2003. Modern Auditing 8th edition. Jakarta : Erlangga

Messier, W. F., Glover, S. M., Prawitt, D. F. 2014. Jasa Audit dan Assurance: Pendekatan Sistematis.
Edisi 8 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

Johnstone, K. M., Gramling, A. A., Rittenberg, L. E. 2014. Auditing: A Risk-Based Approach to


Conducting a Quality Audit. 9th Edition. South-Western: Cengage Learning.

Tuanakotta, Theodorus M. 2012. Audit Berbasis ISA (International Standards on Auditing). Jakarta
Salemba Empat

15