Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
LAPORAN KASUS

I.1 Identitas
Nama : Tn. Yanto
Umur : 41 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Alamat : Ds. Kurup
Pekerjaan : Swasta
MRS : 11 Desember 2013

I.2 Anamnesis
Keluhan Utama:
Sulit memulai Buang air kecil dan pancaran lemah (BAK)
Riwayat Perjalanan Penyakit:
1 minggu SMRS penderita mengeluh sulit memulai BAK, pancaran/ aliran
BAK lemah dan kadang bercabang (+), BAK menetes netes (+), nyeri (+),
demam (-), kencing berpasir (-), BAK keluar batu (-), BAK berdarah (-),
BAK mengedan (+), BAK sering pada malam hari (-).

Riwayat Penyakit Dahulu:


- Riwayat sakit kencing manis (-)
- Riwayat hipertensi (-)
- Riwayat trauma tidak ada
- Riwayat sering dipasang kateter dari kemaluan (-)

1
- Riwayat infeksi pada kemaluan berulang.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga:


Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama disangkal

I.3 Pemeriksaan Fisik


A. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Pernafasan : 20x/ menit
Nadi : 82x/menit
Suhu : 36,8 0C
Kepala : konjungtiva pucat (-), sclera ikterik (-/-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-), JVP
5-2 cmH20
Thorak
Pulmo
Inspeksi : statis paru kanan-paru kiri simetris, dinamis paru kanan-paru
kiri simetris, retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus paru kanan = paru kiri
Perkusi : sonor di kedua lapangan paru, batas paru hati ICS V linea
midklavikularis dekstra, peranjakan hati 1 sela iga
Auskultasi: vesikuler (+) normal, wheezing (-), ekspirasi memanjang (-),
rhonki(-)

Cor
Inspeksi : iktus kordis tak terlihat

2
Palpasi : iktus kordis tak teraba
Perkusi : batas atas jantung ICS II linea midklavikularis sinistra
batas kanan jantung ICS IV linea parasternalis sinistra
batas kiri jantung ICS IV linea midklavikularis sinistra
Auskultasi : HR 102x/menit, bunyi jantung I-II normal, reguler, pulsus
defisit (-), murmur (-), gallop (-)

Abdomen (lihat status urologikus)


Inspeksi : datar
Palpasi : lemas, nyeri tekan epigastrium (+), hati dan limpa tidak
teraba
Perkusi : timpani di seluruh kuadaran abdomen
Auskultasi : bising usus (+) normal
Genitalia Eksterna : Lihat status urologikus
Ektremitas atas dan bawah : akral hangat, pucat (-), capillary refill time
kurang dari 2 detik, sianosis(-).

B. Status Urologikus
Regio Costo Vertebrae Angle (CVA) dextra et sinistra:
Inspeksi : Bulging (-)
Palpasi : Ballotement (-)
Palpasi, Nyeri ketok -/-
Regio Suprapubik:
Inspeksi : Bulging (-), terpasang kateter cystostomi, urine lancar dan
jernih.
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Regio Genitalia Eksterna :

3
Inspeksi : bloody discharge (-),tampak lubang uretra sedikit menyempit
(fibrosisi).
Rectal Toucher (RT):
TSA baik, BCR (+), mukosa recti licn, teraba prostat tidak membesar,
konsistensi kenyal.

I.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Darah Rutin (12 Desember 2013)
Hb : 12,2 g/dl (L: 14-18 g/dl)
Ht : 36 vol% (L: 40-48 vol%)
Leukosit : 10.900/mm3 (L: 5000-10.000/mm3)
Trombosit : 308.000/mm3 (200.000-500.000/mm3)
Hitung Jenis : 0/8/0/68/20/4

Kimia Klinik (12 desember 2013)


BSS : 97 mg/dl
Ureum : 35 mg/dl (15-39 mg/dl)
Creatinin : 1,2 mg/dl (L: 0,9-1,3 mg/dl P: 0,6-1,0 mg/dl)

Natrium : 136 mmol/l (135-155)


Kalium : 3,6 mmol/l (3,5-5,5)

Urinalisa (12 Desember 2013):


Sel epitil : Positif (+)
Leukosit : 4-6/ LPB
Eritrosit : 8-10/ LPB
Silinder bakteri : ++

4
Radiologi Foto polos Pelvis dan USG (12 Desember 2013)
Foto polos AP pelvis dan uretra: tampak penyempitan di saluran uretra
bagian distal.
USG TUG : Buli-buli : chronic cystitis (+), Kesan: Cystitis.

I.5 Diagnosis Banding


Hiperplasia prostat

I.6 Diagnosis Kerja


Retensio urin et causa striktur uretra

I.7 Penatalaksanaan
Uretroplastri pada striktur uretra distal, kateterisasi dengan lokal insisi.

I.8 Prognosis
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pendahuluan
Uretra merupakan bagian terpenting dari saluran kemih. Pada pria dan wanita,
uretra mempunyai fungsi utama untuk mengalirkan urin keluar dari tubuh. Saluran
uretra juga penting dalam proses ejakulasi semen dari saluran reproduksi pria. Uretra
pria berbentuk pipa yang menyerupai alat penyiram bunga.
Pada striktur uretra terjadi penyempitan dari lumen uretra akibat terbentuknya
jaringan fibrotik pada dinding uretra. Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam
berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai sama sekali tidak dapat
mengalirkan urin keluar dari tubuh. Urin yang tidak dapat keluar dari tubuh dapat
menyebabkan banyak komplikasi, dengan komplikasi terberat adalah gagal ginjal.
Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian dunia
tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, karena uretra
pada wanita lebih pendek dan jarang terkena infeksi. Segala sesuatu yang melukai
uretra dapat menyebabkan striktur. Orang dapat terlahir dengan striktur uretra,
meskipun hal itu jarang terjadi.

II.2 Anatomi Uretra

Gambar 1. Anatomi Uretra

6
Uretra adalah saluran yang dimulai dari orifisium uretra interna dibagian buli-
buli sampai orifisium uretra eksterna glands penis, dengan panjang yang bervariasi.
Uretra pria dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian anterior dan bagian posterior.
Uretra posterior dibagi menjadi uretra pars prostatika dan uretra pars membranasea.
Uretra anterior dibagi menjadi meatus uretra, pendulare uretra dan bulbus uretra. Dalam
keadaan normal lumen uretra laki-laki 24 ch, dan wanita 30 ch. Kalau 1 ch = 0,3 mm
maka lumen uretra laki-laki 7,2 mm dan wanita 9 mm.

1. Uretra bagian anterior


Uretra anterior memiliki panjang 18-25 cm (9-10 inchi). Saluran ini
dimulai dari meatus uretra, pendulans uretra dan bulbus uretra. Uretra anterior
ini berupa tabung yang lurus, terletak bebas diluar tubuh, sehingga kalau
memerlukan operasi atau reparasi relatif mudah.
2. Uretra bagian posterior
Uretra posterior memiliki panjang 3-6 cm (1-2 inchi). Uretra yang
dikelilingi kelenjar prostat dinamakan uretra prostatika. Bagian selanjutnya
adalah uretra membranasea, yang memiliki panjang terpendek dari semua bagian
uretra, sukar untuk dilatasi dan pada bagian ini terdapat otot yang membentuk
sfingter. Sfingter ini bersifat volunter sehingga kita dapat menahan kemih dan
berhenti pada waku berkemih. Uretra membranacea terdapat dibawah dan
dibelakang simpisis pubis, sehingga trauma pada simpisis pubis dapat
mencederai uretra membranasea.

II.3 Etiologi
Striktur uretra dapat terjadi pada:
1. Kelainan Kongenital, misalnya kongenital meatus stenosis, klep uretra
posterior
2. Operasi rekonstruksi dari kelainan kongenital seperti hipospadia, epispadia

7
3. Trauma, misalnya fraktur tulang pelvis yang mengenai uretra pars
membranasea; trauma tumpul pada selangkangan (straddle injuries) yang
mengenai uretra pars bulbosa, dapat terjadi pada anak yang naik sepeda dan
kakinya terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada
bingkai sepeda pria; trauma langsung pada penis; instrumentasi transuretra
yang kurang hati-hati (iatrogenik) seperti pemasangan kateter yang kasar,
fiksasi kateter yang salah.
4. Post operasi, beberapa operasi pada saluran kemih dapat menimbulkan
striktur uretra, seperti operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi.
5. Infeksi, merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur uretra,
seperti infeksi oleh kuman gonokokus yang menyebabkan uretritis
gonorrhoika atau non gonorrhoika telah menginfeksi uretra beberapa tahun
sebelumnya namun sekarang sudah jarang akibat pemakaian antibiotik,
kebanyakan striktur ini terletak di pars membranasea, walaupun juga
terdapat pada tempat lain; infeksi chlamidia sekarang merupakan penyebab
utama tapi dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan individu yang
terinfeksi atau menggunakan kondom.

II.4 Patofisiologi
Struktur uretra terdiri dari lapisan mukosa dan lapisan submukosa. Lapisan
mukosa pada uretra merupakan lanjutan dari mukosa buli-buli, ureter dan ginjal.
Mukosanya terdiri dari epitel kolumnar, kecuali pada daerah dekat orifisium eksterna
epitelnya skuamosa dan berlapis. Submukosanya terdiri dari lapisan erektil vaskular.
Apabila terjadi perlukaan pada uretra, maka akan terjadi penyembuhan cara
epimorfosis, artinya jaringan yang rusak diganti oleh jaringan lain (jaringan ikat) yang
tidak sama dengan semula. Jaringan ikat ini menyebabkan hilangnya elastisitas dan
memperkecil lumen uretra, sehinggaterjadi striktur uretra.

8
Gambar 2. Patofisiologi Striktur Uretra

II.5 Derajat Penyempitan


Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi menjadi
tiga tingkatan, yaitu derajat:
1. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen uretra
3. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra
Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus
spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.

9
II.6 Gambaran Klinis
Gejala dari striktur uretra yang khas adalah pancaran buang air seni kecil dan
bercabang. Gejala yang lain adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi, urgensi, disuria,
inkontinensia, urin yang menetes, kadang-kadang dengan penis yang membengkak,
infiltrat, abses dan fistel. Gejala lebih lanjutnya adalah retensi urin.
1. Pemeriksaan Fisik
Anamnesa:
Untuk mencari gejala dan tanda adanya striktur uretra dan juga mencari penyebab
striktur uretra.
Pemeriksaan fisik dan lokal:
Untuk mengetahui keadaan penderita dan juga untuk meraba fibrosis di uretra,
infiltrat, abses atau fistula.
2. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Urin dan kultur urin untuk mengetahui adanya infeksi
Ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan pancaran urin.
Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi dengan lamanya proses
miksi. Kecepatan pancaran urin normal pada pria adalah 20 ml/detik dan pada
wanita 25 ml/detik. Bila kecepatan pancaran kurang dari harga normal
menandakan ada obstruksi.
Radiologi
Diagnosa pasti dibuat dengan uretrografi, untuk melihat letak penyempitan dan
besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai panjang
striktur adalah dengan membuat foto bipolar sistouretrografi dengan cara
memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-buli dan secara retrograd dari
uretra. Dengan pemeriksaan ini panjang striktur dapat diketahui sehingga penting
untuk perencanaan terapi atau operasi.

10
Instrumentasi
Pada pasien dengan striktur uretra dilakukan percobaan dengan memasukkan
kateter Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba dengan kateter dengan
ukuran yang lebih kecil sampai dapat masuk ke buli-buli. Apabila dengan kateter
ukuran kecil dapat masuk menandakan adanya penyempitan lumen uretra.
Uretroskopi
Untuk melihat secara langsung adanya striktur di uretra. Jika diketemukan adanya
striktur langsung diikuti dengan uretrotomi interna (sachse) yaitu memotong
jaringan fibrotik dengan memakai pisau sachse.

II.7 Diagnosis
Diagnosis striktur uretra dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik. Diagnosis
pasti striktur uretra didapat dari pemeriksaan radiologi, tentukan lokasi dan panjang
striktur serta derajat penyempitan dari lumen uretra.

II.8 Penatalaksanaan
Striktur uretra tidak dapat dihilangkan dengan jenis obat-obatan apapun. Pasien
yang datang dengan retensi urin, secepatnya dilakukan sistostomi suprapubik untuk
mengeluarkan urin, jika dijumpai abses periuretra dilakukan insisi dan pemberian
antibiotika. Pengobatan striktur uretra banyak pilihan dan bervariasi tergantung
panjang dan lokasi dari striktur, serta derajat penyempitan lumen uretra. Tindakan
khusus yang dilakukan terhadap striktur uretra adalah:
1. Bougie (Dilatasi)
Sebelum melakukan dilatasi, periksalah kadar hemoglobin pasien dan periksa adanya
glukosa dan protein dalam urin. Tersedia beberapa jenis bougie. Bougie bengkok
merupakan satu batang logam yang ditekuk sesuai dengan kelengkungan uretra pria;
bougie lurus, yang juga terbuat dari logam, mempunyai ujung yang tumpul dan
umumnya hanya sedikit melengkung; bougie filiformis mempunyai diameter yang
lebih kecil dan terbuat dari bahan yang lebih lunak. Berikan sedatif ringan sebelum

11
memulai prosedur dan mulailah pengobatan dengan antibiotik, yang diteruskan selama
3 hari. Bersihkan glans penis dan meatus uretra dengan cermat dan persiapkan kulit
dengan antiseptik yang lembut. Masukkan gel lidokain ke dalam uretra dan
dipertahankan selama 5 menit. Tutupi pasien dengan sebuah duk lubang untuk
mengisolasi penis. Apabila striktur sangat tidak teratur, mulailah dengan memasukkan
sebuah bougie filiformis; biarkan bougie di dalam uretra dan teruskan memasukkan
bougie filiformis lain sampai bougie dapat melewati striktur tersebut. Kemudian
lanjutkan dengan dilatasi menggunakan bougie lurus. Apabila striktur sedikit tidak
teratur, mulailah dengan bougie bengkok atau lurus ukuran sedang dan secara bertahap
dinaikkan ukurannya.
Dilatasi dengan bougie logam yang dilakukan secara hati-hati. Tindakan yang
kasar tambah akan merusak uretra sehingga menimbulkan luka baru yang pada
akhirnya menimbulkan striktur lagi yang lebih berat. Karena itu, setiap dokter yang
bertugas di pusat kesehatan yang terpencil harus dilatih dengan baik untuk
memasukkan bougie. Penyulit dapat mencakup trauma dengan perdarahan dan bahkan
dengan pembentukan jalan yang salah (false passage). Perkecil kemungkinan
terjadinya bakteremi, septikemi, dan syok septic dengan tindakan asepsis dan dengan
penggunaan antibiotik.

2. Uretrotomi interna
Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat endoskopi yang memotong
jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau Sachse, laser atau
elektrokoter. Otis uretrotomi dikerjakan pada striktur uretra anterior terutama bagian
distal dari pendulans uretra dan fossa navicularis, otis uretrotomi juga dilakukan pada
wanita dengan striktur uretra. Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat
Sachse adalah striktur uretra anterior atau posterior masih ada lumen walaupun kecil
dan panjang tidak lebih dari 2 cm serta tidak ada fistel, kateter dipasang selama 2-3 hari
pasca tindakan. Setelah pasien dipulangkan, pasien harus kontrol tiap minggu selama
1 bulan kemudian 2 minggu sekali selama 6 bulan dan tiap 6 bulan sekali seumur hidup.

12
Pada waktu kontrol dilakukan pemeriksaan uroflowmetri, bila pancaran urinnya < 10
ml/det dilakukan bouginasi.

3. Uretrotomi eksterna
Tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis kemudian
dilakukan anastomosis end-to-end di antara jaringan uretra yang masih sehat, cara ini
tidak dapat dilakukan bila daerah strikur lebih dari 1 cm. Cara Johansson; dilakukan
bila daerah striktur panjang dan banyak jaringan fibrotik. Stadium I, daerah striktur
disayat longitudinal dengan menyertakan sedikit jaringan sehat di proksimal dan
distalnya, lalu jaringan fibrotik dieksisi. Mukosa uretra dijahit ke penis pendulans dan
dipasang kateter selama 5-7 hari. Stadium II, beberapa bulan kemudian bila daerah
striktur telah melunak, dilakukan pembuatan uretra baru.

4. Uretroplasti
Dilakukan pada penderita dengan panjang striktur uretra lebih dari 2 cm atau
dengan fistel uretro-kutan atau penderita residif striktur pasca Uretrotomi Sachse.
Operasi uretroplasty ini bermacam-macam, pada umumnya setelah daerah striktur di
eksisi, uretra diganti dengan kulit preputium atau kulit penis dan dengan free graft atau
pedikel graft yaitu dibuat tabung uretra baru dari kulit preputium/kulit penis dengan
menyertakan pembuluh darahnya.

II.9 Komplikasi
1. Trabekulasi, sakulasi dan divertikel
Pada striktur uretra kandung kencing harus berkontraksi lebih kuat, maka otot
kalau diberi beban akan berkontraksi lebih kuat sampai pada suatu saat kemudian
akan melemah. Jadi pada striktur uretra otot buli-buli mula-mula akan menebal
terjadi trabekulasi pada fase kompensasi, setelah itu pada fase dekompensasi
timbul sakulasi dan divertikel. Perbedaan antara sakulasi dan divertikel adalah
penonjolan mukosa buli pada sakulasi masih di dalam otot buli sedangkan

13
divertikel menonjol di luar buli-buli, jadi divertikel buli-buli adalah tonjolan
mukosa keluar bulibuli tanpa dinding otot.
2. Residu urin
Pada fase kompensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin kuat tidak timbul
residu. Pada fase dekompensasi maka akan timbul residu. Residu adalah keadaan
dimana setelah kencing masih ada urine dalam kandung kencing. Dalam keadaan
normal residu ini tidak ada.
3. Refluks vesiko ureteral
Dalam keadaan normal pada waktu buang air kecil urine dikeluarkan buli-buli
melalui uretra. Pada striktur uretra dimana terdapat tekanan intravesika yang
meninggi maka akan terjadi refluks, yaitu keadaan dimana urine dari buli-buli akan
masuk kembali ke ureter bahkan sampai ginjal.
4. Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal
Dalam keadaan normal, buli-buli dalam keadaan steril. Salah satu cara tubuh
mempertahankan buli-buli dalam keadaan steril adalah dengan jalan setiap saat
mengosongkan buli-buli waktu buang air kecil. Dalam keadaan dekompensasi
maka akan timbul residu, akibatnya maka bulibuli mudah terkena infeksi. Adanya
kuman yang berkembang biak di buli-buli dan timbul refluks, maka akan timbul
pyelonefritis akut maupun kronik yang akhirnya timbul gagal ginjal dengan segala
akibatnya.
5. Infiltrat urine, abses dan fistulasi
Adanya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika yang meninggi maka bisa
timbul inhibisi urine keluar buli-buli atau uretra proksimal dari striktur. Urine yang
terinfeksi keluar dari buli buli atau uretra menyebabkan timbulnya infiltrat urine,
kalau tidak diobati infiltrat urine akan timbul abses, abses pecah timbul fistula di
supra pubis atau uretra proksimal dari striktur.

14
II.13 Prognosis
Striktur uretra kerap kali kambuh, sehingga pasien harus sering menjalani
pemeriksaan yang teratur oleh dokter. Penyakit ini dikatakan sembuh jika setelah
dilakukan observasi selama satu tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kekambuhan.

15
BAB III
ANALISIS KASUS

Dari kasus di atas, Tn. Y usia 41 tahun tinggal di Desa Kurup datang dengan
keluhan sulit memulai bisa buang air kecil (miksi) dengan pancaran / aliran lemah sejak
1 minggu yang lalu. Keadaan ini disebabkan oleh adanya sumbatan mekanis pada uretra
bagian distal atau gangguan fungsional kandung kemih dan sfingternya yang lama
kelamaan dapat menimbulkan kondisi retensio urin. Retensio urin yaitu suatu keadaan
dimana penderita tidak dapat kencing padahal kandung kemih penuh.
Dari anamnesa didapatkan keluhan berupa sulit BAK, BAK mengejan,
setelah BAK penderita merasa tidak puas dan diikuti oleh pancaran urine yang lemah,
dipertengahan miksi seringkali miksi berhenti kemudian memancar lagi (intermitensi),
dan kadang kala pancarannya bercabang. Keluhan ini merupakan gejala obstruktif
saluran kemih. Jadi kesimpulan yang diambil bahwa penderita mengalami suatu gejala
obstruktif saluran kemih. Dan juga ditemukan adanya keluhan sering berkemih
(frequency) terutama pada malam hari (nocturia), sehingga pasien ini disimpulkan
mengalami gejala iritatif dari saluran kemih. Berdasarkan kondisi faktual diatas pasien
ini mengalami gejala obstruktif dan gejala iritatif saluran kemih yang dikenal dengan
LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms).
LUTS merupakan suatu gejala yang menunjukkan adanya gangguan pada
saluran kemih bagian bawah yang meliputi gejala obstruktif dan iritatif pada saluran
kemih. Gejala obstruktif pada saluran kemih yaitu mengedan ketika miksi (straining),
menunggu pada awal miksi (hesitancy), pancaran melemah (weakness), miksi terputus
(intermitten), dan tidak lampias setelah miksi. Sedangkan gejala iritatif meliputi rasa
ingin miksi yang tidak bisa ditahan (urgency), sering miksi (frequency), sering miksi
pada malam hari (nocturia), dan nyeri ketika miksi (dysuria). Dari keluhan utama dan
anamnesis pada pasien ini terjadi suatu retentio urine yang disebabkan adanya
sumbatan pada saluran kemih bagian bawah yang bisa disebabkan oleh gangguan pada
vesika urinaria atau infravesika. Gangguan pada vesika urinaria bisa berupa batu vesika

16
atau gangguan neurogenic pada vesika. Sedangkan gangguan infravesika berupa
pembesaran prostat dan striktur uretra.
Kemudian pada riwayat penyakit dahulu, riwayat kencing manis dan riwayat
pernah trauma disangkal.
Berdasarkan pemeriksaan fisik pada status generalis didapatkan vital sign
dalam batas normal, konjungtiva tidak pucat dan sklera tidak ikterik. Pada inspeksi
regio CVA dan regio supra pubik didapatkan dalam keadaan normal, regio genitalia
externa tidak ditemukan bloody discharge, dan ditemukannya adanya fibrosis pada
bagian distal uretra. Pada pemeriksaan Digital Rectal Examination (Rectal Toucher)
didapatkan tonus spingter ani dalam keadaan baik sehingga hal ini dapat
menyingkirkan diagnosis bahwa retensio urine yang terjadi diakibatkan oleh
neurogenic bladder. Selain itu juga prostat dalam keadaan normal, sehingga diagnosis
retensio urine akibat hiperplasia prostat dapat disingkirkan.
Pada pemeriksaan darah rutin yang dilakukan didapatkan kadar Hb sedikit
menurun dan leukosit sedikit meningkat. Pemeriksaan kimia klinik dalam batas normal.
Dari pemeriksaan penunjang bipolar urethocystogram didapatkan chronic
cystitis dan striktur multiple pada uretra pars posterior. Sedangkan dari hasil USG TUG
didapatkan kesan cystitis.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka pasien
ini didiagnosa dengan Striktur Uretra.
Pada pasien ini memiliki akan ditatalaksana dengan pemberian antibiotik dan
analgetik untuk pengobatan secara simtomatik, kemudian rencana untuk dilakukan
uretroplasti pada bagian distal uretra dengan pisau sachse.
Prognosis pada pasien ini secara vitam dan fungsionam dubia ad bonam.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. 2004. Striktur Uretra. Dalam: Saluran Kemih
Dan Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal.752. EGC. Jakarta.
2. Purnomo Basuki B. Striktura uretra. 2003. dalam: Dasar-dasar Urologi. Ed 2. CV.
Sagung, Jakarta, Hal; 153-156.

3. Urethral Stricture Disease. http://www.urologyhealth.org/, diakses tanggal 13 Juli


2011.
4. Gousse, Angelo. Urethral Stricture, Male Workup.
http://www.emedicine.medscape.com , diakses tanggal 13 Desember 2013.

18