Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI INFEKSI TUMOR

TERAPI INFEKSI PNEUMONIA NOSOKOMIAL

FKK 1
KELOMPOK 4

ANGGOTA

1. Ika Fatikhatun Nasikha (20144130A)


2. Nuraini Maudini (20144141A)
3. Miraziza Amanda (20144169A)
4. Widiyasanti (20144191A)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang
disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama
seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama
seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara
umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang
dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien
masuk rumah sakit dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien
berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial ini dapat
berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh
mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke
tempat baru yang disebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi
eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah
sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya (Suwarni, 2006).
Infeksi nosokomial secara logis memang mudah digambarkan. Pasien yang
sedang dirawat di rumah sakit adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan.
Umumnya daya tahan tubuh pasien menurun sehingga sangat rentan terhadap infeksi.
Infeksi nosokomial dimulai dengan penyebab yang ada pada sumber. Kuman keluar
dari sumber melalui tempat tertentu, kemudian dengan cara penularan tertentu misalnya
melalui alat, lalu masuk ke tempat tertentu di pasien lain. Karena banyak pasien di
rumah sakit rentan terhadap infeksi (terutama orang yang mempunyai sistem kekebalan
yang lemah), mereka dapat tertular dan jatuh sakit.
Selanjutnya, kuman penyakit ini keluar dari pasien tersebut dan meneruskan
rantai penularan lagi. Penyebaran infeksi nosokomial pneumonia karena adanya aspirasi
oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah.
Infeksi Saluran Pernafasan Nosokomial atau PNO adalah infeksi pada pasien
rawat inap yang pada saat masuk RS belum terinfeksi atau belum menjalani masa
inkubasi penyakit. PNO biasanya terjadi setelah dirawat lebih dari 72 jam. Penyakit ini
terutama terjadi pada pasien sakit berat yang tidak mampu menceritakan penyakitnya
secara benar dan pada penderita yang penyakit primernya mungkin menutupi atau
menyerupai gambaran pneumonia bakteril. PNO ini dapat terjadi di ruang perawatan
umum atau di ICU.
Faktor resiko terjadinya infeksi nosokomial pneumonia antara lain adalah tipe
dan jenis pernapasan, perokok berat, tidak sterilnya alat-alat bantu, obesitas, kualitas
perawatan, penyakit jantung kronis, penyakit paru kronis, beratnya kondisi pasien dan
kegagalan organ, tingkat penggunaan antibiotika, penggunaan ventilator dan
intubasi serta penurunan kesadaran pasien.
Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan
influenza. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah, pneumonia lebih disebabkan
karena Legionella dan Aspergillus. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita
tuberkulosis yang tinggi,
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan
ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi
dan perawatan untuk dapat sembuh. Tetapi di rumah sakit selain untuk mencari
kesembuhan juga merupakan pondok dan kumpulan bagi berbagai macam penyakit
yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Kuman
penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit. Hal ini dapat
mengakibatkan semakin mudah terjadinya penyebaran infeksi nosokomial. Infeksi
nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian, antara lain: lama hari perawatan
bertambah panjang, penderitaan bertambah dan biaya perawatan meningkat.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana klasifikasi, etiologi, gejala klinis, patofisiologi, diagnosis,
penatalaksanaan untuk pneumonia nosokomial.?
C. Tujuan
Untuk mengetahui klasifikasi, etiologi, gejala klinis, patofisiologi, diagnosis,
penatalaksanaan untuk pneumonia nosokomial.
D. Manfaat
Kita yang nantinya sebagai tenaga kesehatan dapat mengetahui dan faham akan
asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien dengan masalah pneumonia nosokomial,
sehingga di dunia rumah sakit nanti dapat menerapkan asuhan keperawatan ke pasien
dengan masalah pneumonia nosokomial secara tepat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Pneumonia, salah satu bentuk tersering dari Infeksi Saluran Napas Bawah Akut
(ISNBA), adalah suatu peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
Pneumonia dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Klasifikasi Keterangan
Pneumonia Komunitas Sporadis, muda atau tua, didapat sebelum
adanya perawatan dari rumah sakit
Pneumonia Nosokomial Didapat dengan didahului perawatan di rumah
sakit
Pneumonia pada Gangguan Pada pasien keganasan, HIV/AIDS
Imun
Pneumonia Aspirasi Sering pada pasien alkoholik dan lanjut usia

Pneumonia nosokomial atau hospital acquired pneumonia (HAP) adalah


pneumonia yang didapat di rumah sakit menduduki peringkat ke-2 sebagai infeksi
nosokomial di Amerika Serikat, hal ini berhubungan dengan peningkatan angka
kesakitan, kematian dan biaya perawatan di rumah sakit. Pneumonia nosokomial terjadi
5-10 kasus per 1000 pasien yang masuk ke rumah sakit dan menjadi lebih tinggi 6-20x
pada pasien yang memakai alat bantu napas mekanis. Angka kematian pada pneumonia
nosokomial 20-50%. Angka kematian ini meningkat pada pneumonia yang disebabkan
P.aeruginosa atau yang mengalami bakteremia sekunder. Angka kematian pasien pada
pneumonia yang dirawat di istalansi perawatan intensif (IPI) meningkat 3-10x
dibandingkan dengan pasien tanpa pneumonia. Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa lama perawatan meningkat 2-3x dibandingkan pasien tanpa pneumonia, hal ini
tentu akan meningkatkan biaya perawatan di rumah sakit. Di Amerika Serikat
dilaporkan bahwa lama perawatan bertambah rata-rata 7-9 hari.
B. ETIOLOGI
Pneumonia nosokomial merupakan pneumonia yang didapat selama pasien di
rawat di rumah sakit. Patogen yang umum terlibat adalah bakteri nosokomial yang
resisten terhadap antibiotika yang beredar di rumah sakit. Biasanya adalah bakteri
enterik golongan gram negatif batang seperti E.coli, Klebsiella sp, Proteus sp. Pada
pasien yang sudah lebih dulu mendapat terapi cefalosporin generasi ke-tiga, biasanya
dijumpai bakteri enterik yang lebih bandel seperti Citrobacter sp., Serratia sp.,
Enterobacter sp, Pseudomonas aeruginosa merupakan pathogen yang kurang umum
dijumpai, namun sering dijumpai pada pneumonia yang fulminan. Staphylococcus
aureus khususnya yang resisten terhadap methicilin seringkali dijumpai pada pasien
yang dirawat di ICU.
C. PATOFISIOLOGI
1. Mikroorganisme masuk ke saluran pernafasan bawah melalui tiga rute: dihirup
sebagai partikel sangat kecil, masuk ke paru melalui aliran darah dari situs
infeksi ekstrapulmonal, atau aspirasi kandungan orofaringeal.
2. Infeksi paru dengan virus menekan aktivitas pembersihan bakteri dari paru
dengan mengganggu fungsi makrofag alveolar dan mengganggu pembersihan
oleh mukosiliari, sehingga terjadi pneumonia bakterial sekunder.
3. Mayoritas kasus pneumonia yang didapat di masyarakat oleh dewasa sehat
karena S.pneumoniae (pneumococcus) atau M. pneumoniae (70% dan 10-20%
dari semua pneumonia bakterial akut di AS, berturutan).
4. Basil gram negatif aerobik dan S. aureus juga menjadi penyebab utama pada
pneumonia yang didapat di rumah sakit.
5. Bakteri anaerob adalah agen etiologi paling umum setelah aspirasi kandungan
gastrik atau orofarink.
6. Pada kelompok usia anak, kebanyakan pneumonia terjadi karena virus, terutama
virus syncytial pernafasan, parainfluenza, dan adenovirus. Pneumococcus adalah
bakteri penyebab paling umum.

D. TANDA DAN GEJALA


Tanda serta gejala yang lazim dijumpai pada pneumonia adalah demam,
tachypnea, takikardia, batuk yang produktif, serta perubahan sputum baik dari jumlah
maupun karakteristiknya. Selain itu pasien akan merasa nyeri dada seperti ditusuk
pisau, inspirasi yang tertinggal pada pengamatan naik-turunnya dada sebelah kanan
pada saat bernafas.

E. FAKTOR PREDISPOSISI ATAU FAKTOR RISIKO PNEUMONIA


NOSOKOMIAL
Faktor risiko pada pneumonia sangat banyak dibagi menjadi 2 bagian:
1. Faktor yang berhubungan dengan daya tahan tubuh
Penyakit kronik (misalnya penyakit jantung, PPOK, diabetes, alkoholisme,
azotemia), perawatan di rumah sakit yang lama, koma, pemakaian obat tidur,
perokok, intubasi endotrakeal, malnutrisi, umur lanjut, pengobatan steroid,
pengobatan antibiotik, waktu operasi yang lama, sepsis, syok hemoragik, infeksi
berat di luar paru dan cidera paru akut (acute lung injury) serta bronkiektasis
2. Faktor eksogen adalah :
a. Pembedahan :
Besar risiko kejadian pneumonia nosokomial tergantung pada jenis
pembedahan, yaitu torakotomi (40%), operasi abdomen atas (17%) dan
operasi abdomen bawah (5%).
b. Penggunaan antibiotik :
Antibiotik dapat memfasilitasi kejadian kolonisasi, terutama antibiotik yang
aktif terhadap Streptococcus di orofaring dan bakteri anaerob di saluran
pencernaan. Sebagai contoh, pemberian antibiotik golongan penisilin
mempengaruhi flora normal di orofaring dan saluran pencernaan.
Sebagaimana diketahui Streptococcus merupakan flora normal di orofaring
melepaskan bacterocins yang menghambat pertumbuhan bakteri gram
negatif. Pemberian penisilin dosis tinggi akan menurunkan sejumlah bakteri
gram positif dan meningkatkan kolonisasi bakteri gram negatif di orofaring.
c. Peralatan terapi pernapasan
Kontaminasi pada peralatan ini, terutama oleh bakteri Pseudomonas
aeruginosa dan bakteri gram negatif lainnya sering terjadi.
d. Pemasangan pipa/selang nasogastrik, pemberian antasid dan alimentasi
enteral
Pada individu sehat, jarang dijumpai bakteri gram negatif di lambung
karena asam lambung dengan pH < 3 mampu dengan cepat membunuh
bakteri yang tertelan. Pemberian antasid / penyekat H2 yang
mempertahankan pH > 4 menyebabkan peningkatan kolonisasi bakteri gram
negatif aerobik di lambung, sedangkan larutan enteral mempunyai pH netral
6,4 - 7,0.
e. Lingkungan rumah sakit
Petugas rumah sakit yang mencuci tangan tidak sesuai dengan prosedur
Penatalaksanaan dan pemakaiaan alat-alat yang tidak sesuai prosedur,
seperti alat bantu napas, selang makanan, selang infus, kateter dll
Pasien dengan kuman MDR tidak dirawat di ruang isolasi
Faktor risiko kuman MDR penyebab HAP dan VAP (ATS/IDSA 2004)
Pemakaian antibiotik pada 90 hari terakhir
Dirawat di rumah sakit 5 hari
Tingginya frekuensi resisten antibiotik di masyarakat atau di rumah sakit tersebut
Penyakit immunosupresi dan atau pemberian imunoterapi

F. DIAGNOSIS
Menurut kriteria dari The Centers for Disease Control (CDC-Atlanta), diagnosis
pneumonia nosokomial adalah sebagai berikut :
1. Onset pneumonia yang terjadi 48 jam setelah dirawat di rumah sakit dan
menyingkirkan semua infeksi yang inkubasinya terjadi pada waktu masuk rumah
sakit
2. Diagnosis pneumonia nosokomial ditegakkan atas dasar :
Foto toraks : terdapat infiltrat baru atau progresif
Ditambah 2 diantara kriteria berikut: suhu tubuh > 38oC, sekret purulen,
leukositosis
Kriteria pneumonia nosokomial berat menurut ATS
1. Dirawat di ruang rawat intensif
2. Gagal napas yang memerlukan alat bantu napas atau membutuhkan O2 > 35 %
untuk mempertahankan saturasi O2 > 90 %
3. Perubahan radiologik secara progresif berupa pneumonia multilobar atau kaviti dari
infiltrat paru
4. Terdapat bukti-bukti ada sepsis berat yang ditandai dengan hipotensi dan atau
disfungsi organ yaitu :
Syok (tekanan sistolik < 90 mmHg atau diastolik < 60 mmHg)
Memerlukan vasopresor > 4 jam
Jumlah urin < 20 ml/jam atau total jumlah urin 80 ml/4 jam
Gagal ginjal akut yang membutuhkan dialisis

Ringkasan penatalaksanaan pasien HAP/VAP


G. PROGNOSIS
Prognosis akan lebih buruk jika dijumpai salah satu dari kriteria di bawah ini, yaitu
1. Umur > 60 tahun
2. Koma waktu masuk
3. Perawatan di IPI
4. Syok
5. Pemakaian alat bantu napas yang lama
6. Pada foto toraks terlihat gambaran abnormal bilateral
7. Kreatinin serum > 1,5 mg/dl
8. Penyakit yang mendasarinya berat
9. Pengobatan awal yang tidak tepat
10. Infeksi yang disebabkan bakteri yang resisten (P.aeruginosa, S.malthophilia,
Acinetobacter spp. atau MRSA)
11. Infeksi onset lanjut dengan risiko kuman yang sangat virulen
12. Gagal multiorgan
13. Penggunaan obat penyekat H2 yang dapat meningkatkan pH pada pencegahan
perdarahan usus
H. Resistensi Karbapenem
Carbapenem-Resistant Enterobacteriaceae (CRE)
a. Mekanisme resistensi:
Kombinasi kehilangan ESBL (Extended Spectrum eta-Lactamases) atau
Ampisilin dan siklosporin: Kerugian siklosporin sering tidak stabil dan
mungkin memberlakukan biaya saksi, artinya strain ini jarang menyebar.
Ertapenem sangat terpengaruh.
Mengakuisisi karbapenemase
b. Terapi :
Sebagian besar produsen karbapenemase sangat resistan terhadap obat:
resisten terhadap antibiotik -laktam, aminogikosida, dan kombinasi
inhibitor -laktam dengan laktam.
Polymyxins, tigecycline & fosfomycin adalah agen dengan aktivitas in vitro
yang paling sering, namun semuanya memiliki keterbatasan. Dosis
bervariasi dengan lokasi infeksi pasien, dan harus berdasarkan prinsip
'keamanan yang tertinggi' dan bukan 'efektif borpotensi minimal; jangka
waktu harus sama dengan standar untuk semua tipe infeksi.
Colistin: Kasus laporan keberhasilan penggunaan dalam berbagai infeksi
karena produsen karbapenemase.
Tigecycline: Aktif in-vitro vs paling tahan karbapenem yaitu bakteri E. coli.
Teruji untuk kulit dan jaringan lunak. Laporan kasus keberhasilan berbagai
infeksi produsen karbapenemase. Konsentrasi darah rendah; Penggunaan
off-label harus berhati-hati terhadap infeksi aliran darah, tidak cocok untuk
infeksi saluran kencing karena hanya 22% yang diekskresikan dalam urin.
Banyak terjadi kematian di beberapa percobaan, terutama terkait dengan
ventilator untuk pneumonia.
beberapa isolat rentan terhadap antibiotik lain termasuk mis. kloramfenikol,
ciprofloxacin dan kotrimoksazol Sebagian besar produsen tahan terhadap
obat ini.
c. Langkah-langkah yang disarankan untuk mengendalikan penyebaran organisme
yang resistan terhadap beberapa jenis obat (MDRO):
1. Peningkatan deteksi dan pelaporan laboratorium MDRO
2. Pengawasan dan pengendalian infeksi yang lebih baik di ICU
3. Cegah penyebaran melalui tindakan pencegahan penghalang: Gown dan
sarung tangan
4. Mencuci tangan
5. Penggunaan terbatas sefalosporin generasi ke-3
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
I. STUDY KASUS
Tn. DA (55 th, 60 kg, 158 cm) yang sedang dirawat di bangsal dengan
stroke bleeding, pada hari ke-5 mengeluh nyeri dada sebelah kanan disertai
demam, menggigil, kemudian sesak napas. Setelah dilakukan uji kultur, diketahui
bahwa pasien terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus sehingga di diagnose
menderita Pneumonia Nosokomial. Pasien mendapat terapi dengan meropenem 3x1
g iv, paracetamol 3 x 1 flask iv, Aminofusin 2 flask, Futrolit 2 fl.
Hasil observasi TTV pada hari ke-5:
TD : 140/80 mmHg
HR : 106 x/min (normal = 100)
RR : 32x/min (takipnea >20)
T : 38,2oC (demam)
Hasil lab hari ke-5:
AL : 18.600
PMN : 88% (50% - 65%)
Bands : 10% (0% - 12%)
Limfosit : 2% (15% - 45%)
Pada hari ke-8 sesak pasien semakin meningkat sehingga harus diberikan kanul
oksigen dengan masker oksigen. Kesadaran pasien menurun dan suhu pasien
terukur 37,5oC. Setelah diperiksa lebih detail ternyata pneumonia pasien belum
teratasi.
Pertanyaan:
Sebagai farmasis, bagaimanakah rekomendasi terapi yang tepat untuk
menyelesaikan kasus pneumonia yang dialamipasien di RS tersebut. Sertakan
guideline terapinya.
PENYELESAIAN
Subjektif
Nama : Tn. DA
Umur : 55 th
Riwayat obat : Meropenem 3x1 g iv, paracetamol 3 x 1 flask iv, Aminofusin 2
flask, Futrolit 2 fl.
Keluhan : Pada hari ke-5 mengeluh nyeri dada sebelah kanan
disertai demam, menggigil, kemudian sesak napas.
Objektif
Hasil observasi TTV pada hari ke-5:
BB / TB : 60 kg / 158 cm
TD : 140/80 mmHg
HR : 106 x/min
RR : 32x/min
T : 38,2oC
Hasil lab hari ke-5:
AL : 18.600
PMN : 88%
Bands : 10%
Limfosit : 2%
Uji kultur : bakteri Staphylococcus aureus
Keluhan : Pada hari ke-8 sesak pasien semakin meningkat, Kesadaran
pasien menurun dan suhu pasien terukur 37,5oC
Asessment

Problem Subjek Objek Nama Obat DRP

Pneumonia Nama : Tn. DA Hasil observasi Pct (bila perlu) Parasetamol digunakan
Umur : 55 th TTV pada hari bila panas saja karena
Riwayat obat : ke-5: suhu badan pasien
meropenem 3x1 TD: 140/80 sudah mulai turun
g iv, mmHg
paracetamol 3 x HR: 106 x/min
1 flask iv, RR: 32x/min meropenem Pasien memerlukan
Aminofusin 2 T: 38,2oC 3x1 g iv tambahan terapi obat /
flask, Futrolit 2 Hasil lab hari ke- belum adekuat
fl. 5:
Keluhan : pada AL: 18.600 Aminofusin Tetap diberikan karena
hari ke-5 PMN : 88% untuk menjaga nutrisi
mengeluh nyeri Bands : 10% pasien
dada sebelah Limfosit: 2%
kanan disertai Uji kultur :
Futrolit Tetap diberikan karena
demam, bakteri S. aureus
untuk menjaga
menggigil, Keluhan : Pada
kemudian sesak hari ke-8 sesak kebutuhan elektrolit
pasien semakin pasien
napas.
meningkat,
Kesadaran
pasien menurun
dan suhu pasien
terukur 37,5oC

Pengobatan empirik pneumonia nosokomial menurut the Japanese Respiratory


Society (2004)
Kelompok Antibiotik
I Pneumonia ringan-sedang 1. Sefalosporin 2G,3G tanpa aktiviti
tanpa faktor risiko pseudomonal
2. Fluorokuinolon oral atau iv
3. Klindamisin + monobaktam

II Pneumonia ringan dengan 1. Sefalosporin 3G, 4G dengan aktiviti


faktor risiko pseudomonal
2. Karbapenem untuk pneumonia
aspirasi

III Pneumonia sedang dengan 1. Sefalosporin 4G dengan aktiviti


faktor risiko berat atau antipseudomonal dan karbapenem +
pneumonia fluorokuinolon atau aminoglikosid
2. Fluorokuinolon iv + karbapenem
3. Bila MRSA Vankomisin atau
teikoplanin
Planning
Pada kasus ini pasien memerlukan tambahan terapi obat, karena meropenem
merupakan antibiotik lini terakhir atau obat dengan efektifitas tertinggi dapat
untuk bakteri anaerob dan aerob termasuk bakteri gram positif dan negatif .
Meropenem akan dikombinasi dengan obat antibiotik golongan kuinolon yaitu
levofloxasin dengan dosis 750mg/hari.
Untuk parasetamol digunakan bila panas saja karena suhu badan pasien sudah
mulai turun (37,5oC).
Aminofusin dan futrolit tetap digunakan karena untuk menjaga nutrisi dan
kebutuhan elektrolit pasien.
Pencegahan Pneumonia Nosokomial
1. Pencegahan pada orofaring dan koloni di lambung
Hindari pemakaian antibiotik yang tidak tepat karena dapat menyebabkan
berkembangnya koloni abnormal di orofaring, hal ini akan memudahkan
terjadi multi drug resistant (MDR)
Pemilihan dekontaminan saluran cerna secara selektif termasuk antibiotik
parenteral dan topikal menurut beberapa penelitian sangat efektif untuk
menurunkan infeksi pneumonia nosokomial, tetapi hal ini masih kontroversi.
Mungkin efektif untuk sekelompok pasien misalnya pasien umur muda yang
mengalami trauma, penerima donor organ tetapi hal ini masih membutuhkan
survailans mikrobiologi
Pemakaian sukralfat disamping penyekat H2 direkomendasikan karena sangat
melindungi tukak lambung tanpa mengganggu pH. Penyekat H2 dapat
meningkatkan risiko pneumonia nosokomial tetapi hal ini masih merupakan
perdebatan.
Penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan gerakan duodenum misalnya
metoklopramid dan sisaprid, dapat pula menurunkan bilirubin dan kolonisasi
bakteri di lambung.
Anjuran untuk berhenti merokok
Meningkatkan program vaksinasi S.pneumoniae dan influenza
2. Pencegahan aspirasi saluran napas bawah
Letakkan pasien pada posisi kepala lebih ( 30-45 O ) tinggi untuk mencegah
aspirasi isi lambung
Gunakan selang saluran napas yang ada suction subglotis
Gunakan selang lambung yang kecil untuk menurunkan kejadian refluks
gastro esofagal
Hindari intubasi ulang untuk mencegah peningkatan bakteri yang masuk ke
dalam saluran napas bawah
Pertimbangkan pemberian makanan secara kontinyu dengan jumlah sedikit
melalui selang makanan ke usus halus
3. Pencegahan inokulasi eksogen
Prosedur pencucian tangan harus dijalankan sesuai prosedur yang benar,
untuk menghindari infeksi silang
Penatalaksanaan yang baik dalam pemakaian alat-alat yang digunakan pasien
misalnya alat-alat bantu napas, pipa makanan dll
Disinfeksi adekuat pada waktu pencucian bronkoskop serat lentur
Pasien dengan bakteri MDR harus diisolasi
Alat-alat yang digunakan untuk pasien harus diganti secara berkala misalnya
selang makanan , jarum infus dll
4. Mengoptimalkan pertahanan tubuh pasien
Drainase sekret saluran napas dengan cara fisioterapi
Penggunaan tempat tidur yang dapat diubah-ubah posisinya
Mobilisasi sedini mungkin
BAB IV

KESIMPULAN

Pada tabel Pengobatan empirik pneumonia nosokomial menurut the Japanese


Respiratory Society (2004), Meropenem sudah termasuk dalam kelompok 2
(Pneumonia ringan dengan faktor risiko) Karena tidak adekuat jadi terapi dilanjutkan ke
kelompok 3 (Pneumonia sedang dengan faktor risiko berat atau pneumonia) yaitu
meropenem + fluorokuinolon atau aminoglikosida. Penggunaan golongan
aminoglikosida harus hitung dosis terapi dengan berat badan, selain itu harus
dimonitoring volume urin tiap 24 jam, BUN, dan kreatinin karena memiliki efek
samping nefrotoksik dan ototoksik. Sehingga yang kami sarankan adalah meropenem
3x1 gram + golongan kuinolon yaitu levofloxasin dengan dosis 750mg/hari,
Aminofusin dan futrolit tetap digunakan karena untuk menjaga nutrisi dan kebutuhan
elektrolit pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.P., dan Kusnandar,
2013. ISO Farmakoterapi. ISFI Penerbitan, Jakarta.
Wells, B.G., DiPiro, J.T., Schwinghammer, T.L., dan DiPiro, C.V., 2015.
Pharmacotharapy Handbook, Ninth Edition. ed. Mcgraw Hill Education,
New York.
Directorate General of Health Services Ministry of Health & Family Welfare
Government of India. 2016. National Treatment Guidelines
for Antimicrobial Use in Infectious Disease.