Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat

disebebkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan,

serangan listrik, atau gigitan hewan.1

Tujuan penjahitan adalah untuk mempertahankan luka dalam posisi stabilguna

perbaikan dan penembukan yang lebih cepat. Idealnya, jahitan tidak boleh menganggu proses

reparasi dan harus dapat mempertahankan fiksasi sementara mengurangi tegangan pada

permukaan luka. Berbagai benang jahitan digolongkan sebagai dapat atau tidaknta diserap,

yaitu berdasarkan derajat kelembamannya. Benang yang diserat yang lazim digunakan

anatara lain catgut dan chromatized catgut, sedangkan tipe tidak bisa diserap terbuat dari silk,

plastik atau baja.2

Teknik menjahit yang sesuai dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang baik dalam

pembedahan kulit. Hasil postoperasi dengan desain tertutup yang cantik dapat

membahayakan jika tehnik jahitan yang dipilih tidak benar atau jika jahitannya terlalu sedikit.

Sebaliknya, jika jahitannya terlalu banyak juga tidak bisa dibenarkan. Selain itu, insisi yang

kurang baik pada kulit dengan tujuan untuk meregangkan garis tegangan kulit dan

pengangkatan jaringan yang terlalu banyak serta perkiraan batas yang tidak adekuat dapat

membatasi tindakan ahli bedah dalam penutupan luka dan penjahitan. Pegang jaringan secara

hati-hati dan lembut karena dapat mengoptimalkan penyembuhan luka.2


BAB II

ANATOMI KULIT

A. ANATOMI KULIT 3,4

Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis, yang merupakan

lapisan terluar, dan aksesori-aksesorinya (rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar

keringat) berasal dari lapisan ektoderm embrio. Epidermis mengandung populasi sel

yang heterogen dalam jenis, fungsi, asal perkembangan yang berbeda. Dermis berasal

dari mesoderm. Dermis merupakan suatu stroma jaringan ikat fibroelastik padat yang

mengandung jaringan saraf dan vaskular yang luas maupun kelenjar khusus dan alat

tambahan yang berasal dari epidermis. Dibawah dermis ada lapisan subkutis dengan

berbagai ketebalan yang terutama terdiri dari lemak.

Gambar 1. Struktur kulit (junquera)

Kulit adalah organ terbesar pada tubuh manusia, dengan berat sekitar 5 kg dan luas

2m2 pada seseorang dengan berat badan 70 kg. Bila diamati lebih teliti, terdapat variasi

kulit sesuai dengan area tubuh. Kulit yang tidak berambut disebut kulit glaburosa,
ditemukan pada telapak tangan, dan telapak kaki. Pada kedua lokasi tersebut, kulit

memiliki relief yang jelas dipermukaannya yang disebut dermatoglyphics.

Gambar 2. Dermatoglyphics

Kulit glabrosa kira-kira 10 kali lebih tebal dibandingkan dengan kulit yang paling

tipis, misalnya didaerah lipatan. Secara histologik, kulit glabrosa kaya akan kelenjar

keringat tetapi miskin akan kelenjar sebasea. Kulit yang berambut selain memiliki

banyak folikel jua memiliki kelenjar sebasea. Kulit kepala memiliki folikel rambut yang

besar dan terletak dalam hingga ke lapisan lemak kulit (sub kutis), sedangkan kulit dahi

memiliki rambut yang halus (velus) tetapi dengan kelenjar sebasea yang berukuran besar.

I. Epidermis

lapisan epidermis adalah lapisan kulit dinamis, senantiasa berdegenerasi,

berenspons terhadap rangsangan diluar maupun dalam tubuh manusia. Tebalnya

bervariasi antara 0,04 1,5 mm. Penyusun terbesar epidermis adalah keratinosit.

Terselip diantara keratinosit adalah sel langerhans dan melanosit, dan kadang-

kadang juga sel merkel dan limfosit.

Keratinosit tersusun dalam beberapa lapisan, lapisan yang paling bawah disebut

stratum basalis di atasnya berturut-turut adalah stratum spinosum dan stratum

granulosum. Ketiga lapisan epidermis ini dikenal sebagai stratum malpighi. Lapisan
teratas adalah stratum korneum yang tersusun dari keratinosit yang telah mati

(korneosit).

a. Stratum basalis

Lapisan ini terletak paling dalam dan terdiri atas satu lapis sel yang tersusun

berderet-deret di atas membran basal dan melekat pada dermis di bawahnya. Sel-

selnya kuboid atau silindris. Intinya besar, jika dibanding ukuran selnya, dan

sitoplasmanya basofilik. Pada lapisan ini biasanya terlihat gambaran mitotik sel,

proliferasi selnya berfungsi untuk regenerasi epitel. Sel-sel pada lapisan ini

bermigrasi ke arah permukaan untuk memasok sel-sel pada lapisan yang lebih

superfisial. Pergerakan ini dipercepat oleh adalah luka, dan regenerasinya dalam

keadaan normal cepat.

b. Stratum spinosum

Keratinosit stratum spinosum memiliki bentuk poligonal, berukuran lebih

besar daripada keratinosit stratum basal. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat

seperti struktur mirip taji (spina) pada permukaan keratinosit yang disebut

desmosom. Desmosom terdiri dari berbagai protein struktural, misalnya

desmoglein dan desmokolin. Struktur ini memberi kekuatan pada epidermis untuk

menahantrauma fisis dipermukaan kulit.

c. Stratum granulosum

Lapisan ini terdiri atas 2-4 lapis sel gepeng yang mengandung banyak granula

basofilik yang disebut granula kerato-hialin, yang dengan mikroskop elektron

ternyata merupakan partikel amorf tanpa membran tetapi dikelilingi ribosom.

Mikro-filamen melekat pada permukaan granula.

d. Stratum korneum
Lapisan ini terdiri atas banyak lapisan sel-sel mati, pipih dan tidak berinti serta

sitoplasmanya digantikan oleh keratin. Sel-sel yang paling permukaan merupa-

kan sisik zat tanduk yang terdehidrasi yang selalu terkelupas. Korneosit lebih

berperan dalam memberi penguatan terhadap trauma mekanis, produksi sitokin

yang memulai proses peradangan serta perlindungan terhadap sinar ultraviolet.

Waktu yang diperlukan bagi korneosit untuk melepaskan diri dari epidermis kira-

kira 14 hari.

II. Dermis

Dermis merupakan jaringan dibawah epidermis yang juga memberi ketahanan

pada kulit, termoregulasi, perlindungan imunologik, dan ekskresi. Fungsi-fungsi

tersebut mampu dilaksanakan dengan baik karena berbagai element yang berada

pada dermis, yakni struktur fibrosa dan filamentosa, ground substanc, dan selular

yang terdiri atas endotel, fibroblas, sel radang, kelenjar, folikel rambut dan saraf.

III. Subkutis

Subkutis yang terdiri atas jaringan lemak mampu mempertahankan suhu tubuh,

dan merupakan cadangan energi, juga menyediakan bantalan yang meredam trauma

melalui permukaan kulit. Deposisi lemak menyebabkan terbentuknya lekuk tubuh

yang memberikan efek kosmetis. Sel-sel lemak terbagi-bagi dalam lobus, satu sama

lain dipisahkan septa.


B. ALAT DAN BAHAN PENJAHITAN

I. ALAT JAHITAN

Instrumen bedah dirancang dan diproduksi dengan tepat. Mereka dapat berupa barang

sekali pakai atau non-pakai (misalnya dapat digunakan kembali, dapat dipulihkan). Alat

non-disposable harus tahan lama, dan mudah dibersihkan dan disterilkan. Mereka harus

tahan terhadap berbagai macam efek fisik dan kimiawi, yaitu cairan tubuh, sekresi, bahan

pembersih, dan metode sterilisasi (suhu tinggi dan kelembaban). Mereka umumnya

terbuat dari stainless steel berkualitas tinggi. Paduan kromium dan vanadium

memastikan daya tahan tepi, kekasaran dan tidak berkarat. (basic surgical teqniue)

Instrumen bedah THT berbeda dengan instrumen umum dengan berbagai cara.

Mereka harus mampu memanipulasi struktur yang tidak terlihat dengan mata telanjang.

Pada saat yang sama, mereka harus menangani cukup besar agar dokter bedah dapat

bertahan dengan nyaman dan aman. Mereka juga harus memperhitungkan getaran alami

tangan dokter bedah. Beberapa dari berbagai instrumen yang digunakan dalam bedah

mikro meliputi: (cis225)

1. Forseps

Banyak tang THT adalah alat genggam, instrumen berengsel yang digunakan untuk

menggenggam dan memegang benda. Ada dua jenis dasar forceps telinga bagian

dalam: cangkir dan buaya. Cup forceps memiliki dua gelas kecil yang berlawanan di

ujung poros, yang dapat menangkap jaringan dan ossicles (tulang kecil) dari telinga

tengah. Kaleng forkep alligator memiliki dua proyeksi logam lurus-datar pada ujung

distal, yang saling melawan dan bisa menangkap jaringan. Jika pegangannya miring,

namanya juga mengandung arah sudut (atas, bawah, kanan atau kiri). Forigep buaya

digunakan untuk memanipulasi dan mengeluarkan jaringan dari telinga dan saluran

hidung, memasukkan tabung aerasi dan menempatkan pengemas Gelfoam saat


dicangkok. THT forceps yang digunakan pada telinga luar dan hidung lebih besar dan

lebih berat, dan mungkin dilengkapi dengan kontrol tangan dan jempol.

2. PICK

Picks digunakan untuk memanipulasi jaringan. Mereka menampilkan dua jenis poros:

lurus dan miring. Picks bisa tajam atau kusam, dan berbagai panjang dan sudut. Jika

poros miring, nama pilih termasuk arah sudut (atas, bawah, kanan atau kiri). Jika pick

ditekuk ke kanan, Sebagai contoh, maka pick adalah pick yang tepat. Sudut umum

adalah 45 dan 90 .

3. Gunting

Gunting bisa jadi besar untuk memotong kulit saluran telinga, nasal cartridge atau oral
faring untuk tonsilektomi, atau mungkin juga Kecil untuk memotong struktur telinga

tengah. Ada dua jenis pegangan yang berbeda tindakan; yang paling umum memiliki

cincin jari bagian atas pegangan yang dipegang di a posisi stasioner untuk mantap

bekerja kepala gunting. Tipe kedua adalah sebuah tindakan terbalik, di mana jari

bagian bawah Cincin dipegang teguh. Ini sangat halus instrumen yang memungkinkan

ahli bedah untuk menstabilkan tangannya sambil memegang instrumen.

4. Elevator

Elevator dirancang khusus untuk telinga digunakan untuk mengangkat ligamentum

annulus (tulang kanalis telinga oleh ligamen kecil). Instrumen ini bisa tunggal

berakhir atau berakhir ganda Ada dua jenis telinga elevator: lurus dan bayonet (anulus

atau gimmick). Gaya bayonet membuat instrumen dari menghalangi ahli bedah garis

pandang saat digunakan.

5. Cermin Laring
Cermin laring digunakan untuk memvisualisasikan dasar lidah dan faring dan daerah

laryngeal dari belakang dari tenggorokan Pegangannya bulat dan cermin tersedia

secara berbeda diameter. Untuk mencegah cermin dari fogging, cermin dicelupkan ke

antifog larutan atau air hangat.

6. CHISELS AND OSTEOTOMES

Baik pahat dan osteotom biasa digunakan memotong atau mencukur tulang, dan

pegangannya mungkin bulat atau datar Ini tidak berengsel, padat Instrumen stainless

memiliki potongan rata tepi.

7. TONSIL SNARE

Tonsil snares digunakan untuk menghapus amandel pada akhir prosedur untuk

meminimalkan perdarahan Kabel snare adalah ditempatkan di sekitar dasar setiap

amandel, pegangannya terjepit dan kawatnya ditarik ke kanula, putus jaringan

amandel melalui guillotine tindakan. Instrumen ini memiliki pegangan pegangan yang

menempel pada kanula logam dan batang geser bagian dalam. Batang dalam memiliki
dua lubang kecil di ujung kabel jerat ditempatkan. Catatan: Kabel snare tidak boleh

diletakkan pada instrumen sebelum sterilisasi.

II. BAHAN JAHITAN

Ada tiga hal yang menentukan pmilihan jenis benang jahit, yaitu jenis bahan,

kemampuan tubuh untuk menyerap, dan susunan filamennya.

Menurut bahan asalnya, dikenal benang alami seperti catgut yang sebenarnya

terbuat dari usus domba. Ada dua macam catgut yaitu catgut murni tanpa campuran

dan catgut kromik yang bahannya bercampur larutan asam kromat. Catgut murni

cepat diserap kira-kira dalam waktu satu minggu, sedangkan cagut kromik diserap

lebih lama, kira-kira 2-3 minggu.

Gambar benang cutgut

Benang alami lainnya terbuat dari sutera atau kapas. Kedua bahan ini dapat

bereaksi dengan jaringan tubuh meskipun minimal karena juga mengandung bahan
kimia alami. Daya tegangannya cukup dan dapat diperkuat bila dibasahi terlebih

dahulu dengan larutan garam sebelum digunakan.1

Gambar benang sutera

Disamping itu, ada benang yang terbuat dari bahan sintetik, seperti misalnya

asam poliglikolat maupun poliglaktin-910 yang inert dan memiliki daya tegang yang

besar. Benang ini dapat dipakai pada semua jaringan, termasuk kulit. Benang sintetik

lain yaitu yang terbuat dari poliester, nilon atau polipropilen pada umumnya dilapisi

oleh bahan pelapis teflon atau dakron. Dengan lapisan ini permukaan lebih mulus

sehingga tidak mudah bergulung atau terurai. Benang ini mempunyai daya tegang

yang kuat dan dipakai untuk jaringan yang memerlukan kekuatan pertautan yang

besar.1

Gambar

Menurut kemampuan tubuh untuk menyerapnya, dikenal benang yang terserap

(absorbel) dan tak terserap (nonabsorbel) bergantung pada berapa lama benang harus

mempertahankan kekuatan pertautan luka. (keterampillan medis infasif). Benang

mampu serap terbuat dari bahan yang pada umumnya tidak menimbulkan reaksi

jaringan karena bukan merupakan bahan biologis.

- Monofilamen atau multifilamen bergantung apakah benang harus menembus

jaringan dengan sangat halus

Ukuran benang

- Kekuatan benang bervariasi bergantung pada bahan dan diameter benang tersebut

- Ukuran benang jahit berkisar dari 12/0 (untuk menjahit mata, yang tidak terlihat oleh

mata telanjang) hingga 5/0 (diameternya 0,1mm digunakan untuk menjahit kulit

wajah) sampai 5 (diameternya 1mm) digunakan sebagai jahitan jangkar salir


Jarum

- Jarum atraumatik, memiliki penampang sirkular dan digunakan untuk menjahit otot,

usus, fasia, dan pembuluh darah.

- Jarum cutting, memiliki badan jarum berbentuk segitiga dengan tepi yajam pada sisi

dalam kelengkungannya yang mengarah ke tepi luka

- Jarum reverse-cutting, memiliki tepi tajam pada sisis luar kelengkungannya yang

menjauh dari tepi luka, menurunkan resiko jahitan tertarik keluar dari jaringan.

Jaringan kulit umumnya menggunakan jarum ini.

- Jarum taper cut memiliki sifat gabungan atara jarum bulat dan jarum cutting

Berbeda dengan bidang bedah lainnya, situasi dalam operasi periodontal ditandai oleh satu ciri khas: karena

panjang ruang interdental, terutama di antara gigi posterior, jarum panjang dan radius besar diperlukan yang

dapat dengan mudah ditangkap lagi setelah menjadi diperkenalkan ke ruang interdental di sisi yang berlawanan.

Pada saat yang sama, penting agar jarum ini tersedia dengan benang berukuran kecil (6/0, 7/0). Jarum yang

menggambarkan tiga per delapan lingkaran sangat sesuai untuk tujuan ini (Gambar 1 dan 2).

(suture material dan suture technique)

Pilihan bahan jahitan adalah salah satu faktor penentu keberhasilan pengobatan keseluruhan

secara keseluruhan. Sebagai prinsip dasar, bahan jahitan atraumatik digunakan untuk operasi
periodontal. Dalam operasi ini, jarum dan benang membentuk satu unit sehingga jaringan

tidak lagi mengalami trauma karena tertusuk dan benang dilewatkan (Gambar 1 dan 5).

Gambar 1. Bahan jahitan Atraumatic Jarum dengan ketebalan delapan kelengkungan lingkaran dan radius

yang relatif besar, dikombinasikan dengan ukuran benang 6/0 atau 7/0, biasanya digunakan dalam operasi

periodontal.

Gambar 5.

Bcdah plaslik ntcrupakatr sualu tcknik bcdah untuk nrcrckonstruksi alau rnenrperbaiki fungsi
dan penampilan bcrbagai bagian tubuh. Prinsip dan tcknik pada pembedahan ini sarna dcngan
berbagai disiplin lainnya. Dalaur lapangan THT yang luas, lerclapal pcuckanan khusus dalanr
penatalaksanaan masalah kosmetik, rckonstruksi dan fungsional pada daerah wajah, leher dan
kepala. (boeis)

Pada waktu menutup luka diusahakan jangan terbentuk dead space yaitu rongga yang terisi
cairan darah atau serum. Darah yang terkumpul (hematoma) atau cairan (seroma) yang
menganggu penyembuhan atau mempermudah terjadinya infeksi. (kumpulan kuliah ilmu
bedah)

Caranya adalag dengan memasang jahitan yang baik atau pemasangan draindan pemakaian
balut tekan dengan verban elastis. Setelah luka ditutup dengan rapi, dipasang bahan yang
mencegah perlengketan tetapi memungkinkan drainase. Kain tule yang mengandung vaselin.
Lebih baik bila mengandung juga bahan antiseptik atau antibiotik. Selanjutnya ditutup
dengan kasayang absorben dan diplester atau balut tekan. (ilmu bedah biru)

Perbedaan dibuat antara bahan yang mudah diserap dan tidak dapat menyerap. Bahan yang

mudah diserap sering merupakan polimer atau kopolimer asam laktat dengan asam glikolat,

yang diproses dalam proporsi yang berbeda dan berbagai bentuk molekul untuk

menghasilkan benang sintetis (Gambar 6a sampai 6i).


6a. Bahan jahitan yang berbeda. Dari kiri ke kanan: Teflon benang (ePTFE), benang polypropylene

monofilamen, polifilamen Jahitan Vicryl, jahitan poliester polifester, catgut, sutra (dikepang)

6b. Pembesaran gambar polypropylene monofilamen.

6c. Memindai citra mikroskopis elektron dari

bahan dari Gambar 6b


6d. Macro-gambar Vicryl dikepang.

6e. Memindai citra mikroskopis elektron dari bahan dari Gambar 6d.

6f. Polyfilament dikepang bahan poliester.


6g.

6h.

Benang teflon
Bahan yang paling terkenal, Vicryl, terbuat dari asam poliglikolat dan polilaktida dalam

perbandingan pencampuran 9: 1, yang juga dikenal sebagai polyglactin 910.

Metode penutupan luka ( menjahit luka )

Tujian penutupan adalah pemulihan integritas fisik dan mengembalikan fungsi jaringan yang

mengalami cedera, dengan deformitas serta jaringan parut jangka panjang yang minimal.

Tepi-tepi luka dapat disatukan kembali dengan benang jahit, staples, klip, atau plester kulit,

tergantung dari letak dan dalamnya luka. Hal itulah yang dimaksudkan sebagai penutupan

primer, sedangkan penyembuhannya dikatakan terjadi dengan intensi primer.

Teknik menjahit yang buruk dapat menyebabkan terjadinya luka dengan kekuatan regangan

yang menurun sehingga lebih cenderung untuk menjadi terbuka. Faktor-faktor yang sangat

penting meliputi :
Kekencangan jahitan : jahitan yang terlalu kencang dapat mengakibatkan nekrosis

jaringan dan luka yang lebih lemah

Ukuran jaringan yang dijepit : pada umumnya, jepitan jaringan yang lebih lebar dalam

jahitan akan menghasilkan luka yang lebih kuat daripada jepitan yang kecil.

Jarak antara jahitan : terdapat jarak optimum antara jahitan untuk tipe luka yang

berbeda dan daerah yang berbeda pula, menguranfi jarak antar jahitan sesungguhnya

dapat melemahkan luka.

Jahitan kontinu versus jahitan terputus : luka yang ditutup dengan jahitan kontinu

secara bermakna lebih lemah daripada luka yang ditutup dengan jahitan terputus.

Pemilihan bahan benag : tersedia berbagai macam bahan benang penjahitan luka dan

sejumlah cara untuk membuat klasifikasinya. Setiap jenis bahan benang tersebut

mempunyai keuntungan dan kerugian. Kecocokan pemilihan untuk area anatomis

spesifik dan keadaan klinis yang spesifik pula, dapat menjadi sangat penting

khususnya untuk menentukan kekuatan regangan luka, resiko terhadap infeksi, resiko

adanya kerusakan, serta hasil-hasil kosmetik jangka panjang. Meskipun demikian,

pemilihan bahan benang secara umum merupakan hal penting kedua setelah teknik

pembedahan. (manajemen luka)

Plester kulit untuk luka superfisial diarea tubuh yang tidak menghasilkan sekresi berlebihan

dan yang tidak berada diatas sendi gerak, penutupan luka dengan plester kulit dapat menjadi

alternatif yang sangat selektif daripada penjahitan, karena resiko infeksi luka yang lebih

rendah. Plester kulit yang digunakan diantara jahitan memberikan tambahan penyangga untuk

luka, kesejajaran tepi kulit yang lebih baik, dan bahkan dapat memberi distribusi regangan

yang lebih baik pula pada luka. Plester tersebut juga dapat digunakan dalam kombinasi

dengan jahitan subkutikuler, baik yang dapat diserap maupun yang tidak dapat diserap, untuk
memastikan bahwa lapisan dermal maupun epidermal ditahan dengan kuat pada posisi yang

tepat, sehingga memberikan hasil kosmetik yang lebih baik.

Klip dan staples. Penutupan kulit dengan klip dan staples merupakan prosedur yang ;ebih

cepat daripada harus menjahit, tetapi telah tampak bahwa prosedur tersebut dapat

menghasilkan luka dengan penurunan kekuatan regangan, yang tentunya menjadi jauh lebuh

rentan terhadap infeksi. ( manajemen luka )

Jahitan (keterampilan medis invasif )

Simple interruptes suter (jahitan satu-satu) cukup kuat dan kurang menyebabkan edema pada

luka. Jahitan ini dapat disesuaikan dengan garis luka yang dijahit, tapi pengerjaannya relatif

lama dan beresiko menimbulkan bekas pasrut berbentuk silang disepanjang garis luka.

Simple running suture ( jahitan jelujur) digunakan pada luka yang panjang yang

ketegangannya telah diminimalkan dengan jahitan subkutan dan aproksimasitepi luka sudah

baik.
Running locked suture ( jahitan jelujur saling mengunci ) baik digunakan pada luka yang

ketegangannya sedang atau luka yang memerlukan hemostasis tambahan karena darah

mengalir keluar dari tepi-tepi luka. Jika terlalu kencang, jahitan ini beresiko menganggu

mikrosirkulasi.

Mattress suture (jahitan matras) (vertikal atau horizontal) berguna untuk memaksimalkan

eversi luka, mengurangi ruangan mati, dan ketegangan luka.

Subcutivular suture ( jahitan subkutikular0 berguna pada luka yang ketegangannya atau ruang

matinya minimal, dan memberikan hasil kosmetik yang paling baik.

Pencabutan jahitan (keterampilan medis)

- Jahitan tidak boleh diangkat terlalu dini untuk mencegah terkuaknya (dehisensi) luka

- Jahitan non-absorbable harus dicabut dalam 1-2 minggu setelah penjahitan,

berhantung lokasi anatomisnya

- Pencabutan jahitan yang tepat tidak terlambat mengurangi resiko terbentuknya parut

bekas jahitan, infeksi dan reaksi jaringa. Rata-rat luka mencapai 8% regang yang

diharapkan dalam 1-2 minggu setelah pembedahan

- Makin besar tegangan luka. Makin lama jahitan harus dipertahankan. Sebagai

panduan, pada wajah jahitan sebaiknya diangkat setelah 5-7 hari, dileher 7 hari, di
kulit kepala 10 hari, di badan dan ekstremitas atas 10-14 hari dan diekstremitas

bawah 14-21 hari

- Untuk mencabut jahitan, angkat benang dengan pngset dan potong pada satu sisi.

Lalu jepit simpul dan tarik perlahan benang ke arah luka atau garis jahitan samapi

seluruh benang tercabut.