Anda di halaman 1dari 48

BAHAN BELAJAR OSCE

A. Cara Penggunaan Obat Khusus


1. INHALASI merupakan pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas
melalui penghisapan.
Prinsip Terapi inhalasi:
 Obat bekerja langsung pada saluran pernapasan
 Onset (waktu) kerjanya cepat dan dosis obat yang dipakai kecil
 Efek samping obat minimal karena konsentrasi obat dalam darah rendah
Alat inhalasi terbagi menjadi 3, yaitu:
 METERED DOSE INHALER (MDI)
Metered Dose Inhaler KONTRAINDIKASI untuk pasien hipersensitivitas
terhadap PROPELLAN.
Spacer merupakan alat tambahan yang dapat memperpanjang dan memperlambat
kabut aerosol dari MDI, mengubah spray aerosol yang bertekanan tinggi menjadi
kabut yang sangat halus sehingga pasien tidak merasakan apapun ketika
menghirup aerosol MDI. Kabut obat tersebut juga langsung masuk ke dalam paru-
paru dan tidak menabrak pada lidah atau tenggorokan bagian belakang.
Penggunaan spacer biasa digunakan untuk anak-anak.

Keuntungan MDI :
- Mudah dibawa
- Dapat digunakaan pada pemberian multidosis
- Tersedia secara luas untuk hampir semua obat inhalasi
- Resiko rendah kontaminasi bakteri

Kerugian MDI :
- Mengandung propellan yang dapat mengiritasi saluran nafas/tenggrorokan
- Membutuhkan koordinasi antara inhalasi dengan menekan MDI pada waktu
yang bersamaan

CARA PENGGUNAAN
a. Inhaler Dosis Terukur (Metered Dose Inhaler/MDI)
Cara penggunaan :
- Cuci tangan
- Buka penutup inhaler dan posisi mulut inhaler dibawah dan bagian kepala
berada diatas
- Kocok terlebih dahulu wadah inhaler agar obat merata

- Hembuskan nafas melalui mulut secara perlahan-lahan.


- Pegang inhaler sesuai yang tertera pada gambar atau sesuai dengan yang
disarankan oleh dokter.

- Tarik nafas ketika anda menekan inhaler agar obat yang terdapat di inhaler
bisa masuk kedalam.
- Tarik nafas secara perlahan agar obat yang masih tersisa di mulut dapat masuk
kedalam.
- Tahan nafas anda selama 10 detik, agar obat inhaler didalam paru-paru dapat
memberikan efek terapi.

- Ulangi tahap 3 sampe tahap 8 sesuai dengan petunjuk penggunaan yang


diresepkan oleh dokter.
- Masukan air kedalam mulut kemudian kumur-kumur untuk membersihkan sisa
obat yang ada didalam mulut.
- Kemudian buang air kumur-kumur tadi dan jangan diminum.

b. Inhaler dosis terukur dengan spacer (MDI dengan spacer)


Spacer digunakan jika terjadi kesulitan menggunakan MDI, spacer membantu
penghantaran obat ke saluran pernafasan
Penggunaan spacer direkomendasikan untuk anak-anak

Cara Penggunaan :
- Kocok inhaler
- Lepaskan penutup inhaler
- Masukkan inhaler ke dalam spacer
- Keluarkan / buang nafas
- Masukkan spacer ke dalam mulut, letakkan diantara gigi lalu bibir dirapatkan
- Tekan bagian atas dari inhaler
- Lakukan inspirasi perlahan sampai maksimal
- JIKA terdengar bunyi seperti pluit, yang berarti menarik nafas terlalu cepat,
TARIK nafas lebih perlahan

Cara Membersihkan
- Pisahkan inhaler dari spacer.
- Bilas spacer dengan air hangat (seminggu sekali).
- Biarkan mengering dengan sendirinya
- Pastikan saluran tidak terhambat dengan meniup spacer.

 DRY POWDER INHALER (DPI) seperti diskus, turbuhaler, handihaler,


accuhaler, breezhaler
DPI merupakan alat inhalasi yang dapat menghantarkan obat dalam bentuk
partikel yang terkandung dalam kapsul atau blister yang terlubangi saat
penggunaan. Inhaler tipe ini membutuhkan inspiratory flow rate yang cukup,
karena tidak mengandung propelan. Oleh karena itu DPI tidak cocok untuk
pengobatan serangan asma akut.
Tingkatan resistensi inspiratory flow yang dibutuhkan untuk mengubah obat
menjadi bentuk aerosol bervariasi tergantung dari jenis DPI. Untuk Diskus
merupakan alat dengan resistensi yang rendah sehingga cocok untuk digunakan
pada anak dan untuk pasien dengan penurunan fungsi paru-paru (FEV1 < 30%).
Turbuhaler merupakan alat resistensi tinggi yang membutuhkan inspiratory flow
rate yang lebih tinggi untuk mengubah obat menjadi bentuk aerosol.

Keuntungan DPI :
- Tidak mengandung propelan
- Tidak butuh koordinasi antara inhalasi dengan penekanan alat
- Mudah dibawa
- Tidak perlu spacer
Kerugian DPI :
- Membutuhkan inspiratory flow rate yang cukup
- Serbuk partikel obat dapat dipengaruhi kelembaban yang dapat
mengakibatkan partikel obat menggumpal sehingga menjadi butiran kasar

CARA PENGGUNAAN
a. Diskus
Harus diperhatikan :
- SELALU periksa jumlah dosis yang terlihat pada Dose counter
- Jika telah menggeser / mendorong tuas pada Diskus, JANGAN mengarahkan
mouthpiece ke arah bawah karena obat akan terbuang
Cara Penggunaan
- Letakkan Diskus pada telapak tangan (posisi : ibu jari pada Thumb Grip),
dorong ke arah kanan s/d terdengar “Klik”
- Setelah terbuka, maka terlihat Mouthpiece/tempat hisap
- Geser Dose lever, dgn cara mendorong tuas s/d terdengar “Klik”. Maka akan
mengurangi angka pada Dose Counter
- Keluarkan/buang nafas
- Letakkan alat di mulut yaitu diantara bibir
- Hisap obat dengan menarik nafas dalam
- Keluarkan alat dari mulut
- Tahan napas 10 detik, kemudian bernafaslah secara perlahan
- Tutup Diskus dgn mendorong kembali thumb grip ke arah berlawanan

b. Turbuhaler

Cara penggunaan :
- Lepaskan tutup turbuhaler, tarik inhaler ke atas
- Putar turbuhaler ke kanan, selanjutnya ke kiri dengan cepat. Kemudian akan
terdengar “Klik”
- Keluarkan/buang nafas
- Letakkan alat di mulut yaitu pada diantara bibir
- Hisap obat dengan menarik nafas kuat & dalam
- Keluarkan alat dari mulut
- Tahan napas 10 detik, kemudian bernafaslah secara perlahan.
- Tutup kembali turbuhaler

Harus diperhatikan :
Selalu perhatikan jumlah dosis yang tersisa pada window!
c. Handihaler
PERHATIAN UNTUK HANDIHALER:
Selama melakukan inspirasi maksimal, tarikan napas yang benar ditandai oleh
kapsul obat yang bergetar, bila tidak terjadi, maka tarikan napas kurang tepat.

Cara Penggunaan :
- Buka tutup handihaler dengan menekan bagian piercing button sambil menarik
bagian tutup.
- Tarik “mouth piece” hingga tempat kapsul obat terlihat
- Buka bungkus kapsul
- Tempatkan di bagian tengah handihaler
- Tutup kembali bagian “mouth piece” hingga terdengar bunyi klik
- Tekan bagian piercing button untuk melubangi kapsul obat (jangan menekan
lebih dari 1 kali)
- Buang napas untuk mengosongkan udara paru, kemudian lakukan inspirasi
maksimal
- Tahan napas selama beberapa detik, kemudian buang napas seperti biasa
- Ulangi langkah No. 7 dan No.8 untuk kedua kalinya dengan kapsul obat yang
sama (untuk memperoleh dosis penuh).

PERHATIAN UMUM:
Setelah menggunakan alat inhalasi yang mengandung kortikosteroid, seperti: Seretide
Inhaler, Seretide Discus, Symbicort Turbuhaler. Kumur-kumur dengan air bersih
untuk menghindari infeksi jamur

 NEBULIZER
Nebulizer merupakan alat yang dapat mengubah larutan atau suspensi obat
menjadi aerosol yang optimal untuk saluran nafas bawah.
Nebulisasi dapat memberikan penghantaran obat pada pasien yang terlalu sakit
atau terlalu muda untuk menggunakan alat inhalasi lainnya. 2 tipe nebulizer
adalah pneumatic jet nebulizers and ultrasonic nebulizers.

Keuntungan nebulizer :
- Memberikan terapi pada pasien yang tidak dapat menggunakan alat inhalasi
lain
- Dapat digunakan untuk administrasi obat dalam dosis besar
- Tidak membutuhkan koordinasi pasien
- Tidak ada pelepasan CFC
Kerugian nebulizer :
- Sulit untuk dibawa
- Butuh waktu lama untuk pemasangan dan administrasi
- Harganya mahal
- Dapat membutuhkan sumber udara atau oksiden bertekanan (jet nebulizer)

Cara Penggunaan :
- Buka tutup tabung obat nebulizer dan masukkan cairan obat ke dalamnya.
- Letakkan “mouth piece” di antara gigi & bibir (atau dapat juga digunakan
masker uap untuk anak-anak).
- Tekan tombol “On”
- Bernapas dgn normal dan hirup uap obat yang keluar sampai obat habis
- Matikan nebulizer
- Bersihkan wadah obat pada nebulizer menggunakan air hangat, biarkan
mengering.

2. SUPPOSITORIA
a. Suppositoria Rektal
Cara Penggunaan :
- Cuci tangan,
- Buka kemasan suppositoria

- Miringkan tubuh tarik kaki kanan setinggi perut, kaki kiri lurus

- Angkat pantat dengan tangan kanan hingga anus terbuka


- Masukkan suppositoria dengan bagian yang runding terlebih dahulu, sedalam
½-1 inchi untuk anak, dan 1 inchi untuk dewasa.
- Tahan ujung jari yang digunakan untuk memasukan suppositoria.

- Kemudian luruskan kaki dengan posisi berbaring miring selama 5 menit agar
suppositoria tidak keluar kembali

- Cuci tangan untuk membersihkan sisa obat yang menempel.


- Jika suppositoria terlalu lembek untuk dapat dimasukkan, maka sebelum
digunakan sediaan ditempatkan dalam lemari pendingin selama 30 menit
kemudian tempatkan pada air mengalir sebelum kemasan dibuka

b. Vaginal suppositoria
Cara penggunaan :
- Cuci tangan sebelum menggunakan obat dan gunakan aplikator sesuai dengan
petunjuk penggunaan dari industri penghasil sediaan.
- Jika penderita hamil, maka sebelum menggunakan obat sebaiknya
berkonsultasi terlebih dahulu dengan profesional perawatan kesehatan.
- Penderita berbaring dengan kedua kaki direnggangkan dan dengan
menggunakan aplikator obat dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin
tanpa dipaksakan dan biarkan selama beberapa waktu.
- Setelah penggunaan, aplikator dan tangan penderita dicuci bersih dengan
sabun dan air hangat.

3. OBAT MATA
a. Salep Mata
Cara penggunaan :
- Cuci tangan
- Kepala ditengadahkan,
- Tarik ke bawah kelopak mata bagian bawah menggunakan jari telunjuk
tangan.

- Tekan tube salep mata, oleskan salep ± 1 cm hingga salep mata masuk ke
dalam kantung konjungtiva.

- Tutup mata 1-2 menit.


- Gerakan mata ke kiri-kanan, atas-bawah
- Ujung tube salep jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata).

b. Tetes Mata
Cara Penggunaan :
- Cuci tangan
- Kepala ditengadahkan
- Tarik ke bawah kelopak mata bagian bawah menggunakan jari telunjuk
tangan.
- Teteskan obat pada kantung konjungtiva
- Mata ditutup selama 1-2 menit, jangan mengedip.
- Ujung mata dekat hidung ditekan selama 1-2 menit
- Cuci tangan dicuci untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada
tangan

4. OBAT TETES HIDUNG


Cara penggunaan :
- Bersihkan hidung dengan cara mengeluarkan udara (Bersin)

- Cuci tangan
- Pastikan alat tetes hidung anda tidak retak atau rusak.
- Hindari ujung obat tetes hidung anda agar tetap bersih.
- Duduk dan tengadalah atau berbaring dngan menggunakan bantal dibawah
punggung, dengan posisi kepala tegak keatas (sesuai gambar).
- Teteskan obat sesuai dengan yang tertera pada etiket.

- Setelah beberapa saat duduklah agar obat masuk kedalam melalui faring, dan
goyangkan kepala ke atas dan kebawah kemudian ke kanan dan kiri.

- Tahan posisi selama beberapa menit.


- Bersihkan ujung alat tetes hidung dengan air hangat. dan tutup kembali untuk
mencegah kontaminasi.
- Bersihkan tangan dengan mencuci nya untuk membersihkan sisa obat.

5. OBAT TETES TELINGA


Cara Penggunaan :
- Cuci tangan
- Bersihkan bagian luar telinga dengan ”cotton bud”
- Kocok botol obat tetes.
- Jika tetes suspensi berawan, kocok botol dengan baik selama 10 detik.
- Periksa ujung penetes untuk memastikan bahwa itu tidak terkelupas atau retak
(rusak).
- Letakkan obat tetes telinga dengan benar, atau dengan posisi tutup botol obat
yang ada penetes nya berada dibagian atas.
- Miringkan kepala sehingga telinga yang akan diberikan obat menghadap ke
atas.
Untuk dewasa: tarik daun telinga ke atas dan ke belakang untuk meluruskan
saluran telinganya.
Untuk anak <3 tahun: tarik daun telinga ke bawah dan ke belakang untuk
meluruskan saluran telinganya.

- Teteskan obat sesuai dengan dosis pemakaian pada lubang telinga.

- Pertahankan posisi kepala 2-3 menit. Tekan secara lembut kulit penutup kecil
telinga atau gunakan kapas steril untuk menyumbat lubang telinga agar obat
dapat mencapai dasar saluran telinga

- Pasang kembali dan kencangkan tutup segera dengan. jangan menyeka atau
membilas ujung botol tetes.
- Cucilah tangan anda dengan air dan sabun untuk membersihkan sisa obat yang
mungkin menempel.
B. Saran Penggunaan Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas (Swamedikasi)
1. BATUK
a. Membantu mengeluarkan dahak (Ekspektoran)
 Gliseril Guaiakolat (Guaifenesin)
Hati-hati atau minta saran dokter untuk penggunaan bagi anak di bawah 2
tahun dan ibu hamil.
Aturan pemakaian
Dewasa : 1-2 tablet (100 -200 mg), setiap 6 jam atau 8 jam sekali
Anak : 2-6 tahun : ½ tablet (50 mg) setiap 8 jam 6-12 tahun : ½ - 1 tablet
(50-100 mg) setiap 8 jam
 Bromheksin
Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita tukak lambung dan
wanita hamil 3 bulan pertama.
Efek samping : Rasa mual, diare dan perut kembung ringan
Aturan pemakaian
Dewasa : 1 tablet (8 mg) diminum 3 x sehari (setiap 8 jam)
Anak : Di atas 10 tahun: 1 tablet (8 mg) diminum 3 kali sehari (setiap
8jam); 5-10 tahun : 1/2 tablet (4 mg) diminum 2 kali sehari (setiap 8 jam)
 OBH
Dosis :
Dewasa : 1 sendok makan (15 ml) 4 x sehari (setiap 6 jam)
Anak : 1 sendok teh (5 ml) 4 x sehari (setiap 6 jam)

b. Obat Penekan Batuk (Antitusif)


 Dekstrometorfan Hbr
Penekan batuk cukup kuat kecuali untuk batuk akut yang berat
- Hati-hati atau minta saran dokter untuk penderita hepatitis
- Jangan minum obat ini bersamaan obat penekan susunan syaraf pusat
- Tidak digunakan untuk menghambat keluarnya dahak
- Efek samping jarang terjadi. Efek samping yang dialami ringan seperti
mual dan pusing
- Dosis terlalu besar dapat menimbulkan depresi pernapasan
Aturan pemakaian:
Dewasa : 10-20 mg setiap 8 jam
Anak : 5-10 mg setiap 8 jam
Bayi : 2,5-5 mg setiap 8 jam
 Difenhidramin HCl
Penekan batuk dan mempunyai efek antihistamin (antialergi)
- Karena menyebabkan kantuk, jangan mengoperasikan mesin selama
meminum obat ini
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita asma, ibuhamil,
ibu menyusui dan bayi/anak.
Efek Samping:
Pengaruh pada kardiovaskular dan SSP seperti sedasi, sakit kepala,
gangguan psikomotor, gangguan darah, gangguan saluran cerna,
reaksialergi, efek antimuskarinik seperti retensi urin, mulut kering,
pandangankabur dan gangguan saluran cerna, palpitasi dan aritmia,
hipotensi, reaksihipersensitivitas, ruam kulit, reaksi fotosensitivitas, efek
ekstrapiramidal,bingung, depresi, gangguan tidur, tremor, konvulsi,
berkeringat dingin,mialgia, paraestesia, kelainan darah, disfungsi hepar, dan
rambut rontok.
Aturan Pemakaian
• Dewasa : 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam
• Anak : ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam

c. Terapi Non Farmakologi


- Minum banyak cairan (air atau sari buah) akan menolong membersihkan
tenggorokan, jangan minum soda atau kopi.
- Hentikan kebiasaan merokok
- Hindari makanan yang merangsang tenggorokan (makanan dingin atau
berminyak) dan udara malam.
- Madu dan tablet hisap pelega tenggorokan dapat menolong meringankan
iritasi tenggorokan dan dapat membantu mencegah batuk kalau
tenggorokan anda kering atau pedih.
- Hirup uap air panas (dari semangkuk air panas) untuk mencairkan sekresi
hidung yang kental supaya mudah dikeluarkan. Dapat juga ditambahkan
sesendok teh balsam/minyak atsiri untuk membuka sumbatan saluran
pernapasan.
- Minum obat batuk yang sesuai
- Bila batuk lebih dari 3 hari belum sembuh segera ke dokter
- Pada bayi dan balita bila batuk disertai napas cepat atau sesak harus segera
dibawa ke dokter atau pelayanan kesehatan.

2. FLU
a. Antihistamin
Antihistamin dapat menghambat kerja histamin yang menyebabkan terjadinya
reaksi alergi. Obat yang tergolong antihistamin antara lain : Klorfeniramin
maleat/klorfenon/CTM, Difenhidramin HCl.
- Hindari dosis melebihi yang dianjurkan
- Hindari penggunaan bersama minuman beralkohol atau obat tidur
- Hati-hati pada penderita glaukoma dan hipertropi prostat atau minta saran
dokter
- Jangan minum obat ini bila akan mengemudikan kendaraan dan
menjalankan mesin
Efek samping :
- Mengantuk, pusing, gangguan sekresi saluran napas
- Mual dan muntah (jarang)
Aturan pemakaian :
- Klorfenon / klorfeniramin maleat (CTM)
Dewasa : 1 tablet (2 mg) setiap 6-8 jam
Anak : < 12 tahun ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam
- Difenhidramin HCl
Dewasa : 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam
Anak : ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam
b. Oksimetazolin (tetes hidung)
Kegunaan obat :
Mengurangi sekret hidung yang menyumbat
Hal yang harus diperhatikan :
- Hindari dosis melebihi yang dianjurkan
- Hati-hati sewaktu meneteskan ke hidung, dosis tepat dan masuknya ke
lubang hidung harus tepat, jangan mengalir keluar atau tertahan.
- Tidak boleh digunakan lebih dari 7-10 hari
- Segera minum setelah menggunakan obat, karena air dapat mengencerkan
obat yang tertelan.
- Ujung botol obat dibilas dengan air panas setiap kali dipakai.
Efek samping :
- Merusak mukosa hidung karena hidung tersumbat makin parah
- Rasa terbakar, kering, bersin, sakit kepala, sukar tidur, berdebar.
Kontra Indikasi :
Obat tidak boleh digunakan pada:
- Anak berumur di bawah 6 tahun, karena efek samping yang timbul lebih
parah.
- Ibu hamil muda
Aturan pemakaian :
- Dewasa dan anak diatas 6 tahun : 2-3 tetes/semprot oksimetazolin 0,05%
setiap lubang hidung
- Anak : 2-5 tahun : 2-3 tetes/semprot oksimetazolin 0,025% setiap lubang
hidung.
- Obat digunakan pada pagi dan menjelang tidur malam, tidak boleh lebih
dari 2 kali dalam 24 jam.
c. Dekongestan oral
Dekongestan mempunyai efek mengurangi hidung tersumbat. Obat
dekongestan oral antara lain : Fenilpropanolamin, Fenilefrin, Pseudoefedrin
dan Efedrin.
Kegunaan Obat :
Mengurangi hidung tersumbat
Hal yang harus diperhatikan :
- Hati-hati pada penderita diabet juvenil karena dapat meningkatkan kadar
gula darah, penderita tiroid, hipertensi, gangguan jantung dan penderita
yang menggunakan antidepresi. Mintalah saran dokter atau Apoteker.
Kontra Indikasi :
Obat tidak boleh digunakan pada penderita insomnia (sulit tidur), pusing,
tremor, aritmia dan penderita yang menggunakan MAO (mono amin oksidase)
inhibitor.
Efek samping :
- Menaikkan tekanan darah
- Aritmia terutama pada penderita penyakit jantung dan pembuluh darah.
Aturan pemakaian :
- Fenilpropanolamina
Dewasa : maksimal 15 mg per takaran 3-4 kali sehari
Anak-anak 6-12 tahun : maksimal 7,5 mg per takaran 3-4 kali sehari
- Fenilefrin
Dewasa : 10 mg, 3 kali sehari
Anak- anak 6 – 12 tahun : 5 mg, 3 kali sehari
- Pseudoefedrin
Dewasa : 60 mg, 3 – 4 kali sehari
Anak-anak 2-5 tahun : 15 mg, 3 - 4 kali sehari
6-12 tahun : 30 mg, 3 - 4 kali sehari
- Efedrin
Dewasa : 25 – 30 mg, setiap 3 – 4 jam
Anak-anak : sehari 3 mg/kg berat badan, dibagi dalam 4 – 6 dosis yang
sama
d. Antipiretik
e. Ekspektoran/Antitusif
f. Terapi Non Farmakologi
- Istirahat yang cukup
- Meningkatkan gizi makanan dengan protein dan kalori yang tinggi
- Minum air yang banyak dan makan buah segar yang banyak mengandung
vitamin
- Minum obat flu untuk mengurangi gejala/keluhan
- Periksa ke dokter bila gejala menetap sampai lebih dari 3 hari

3. DEMAM
a. Paracetamol/Acetaminofen
- Dosis harus tepat, tidak berlebihan, bila dosis berlebihan dapat
menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal.
- Sebaiknya diminum setelah makan
- Hindari penggunaan campuran obat demam lain karena dapat
menimbulkan overdosis.
- Hindari penggunaan bersama dengan alkohol karena meningkatkan risiko
gangguan fungsi hati.
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita gagal ginjal.
Kontra Indikasi :
Penderita gangguan fungsi hati, penderita yang alergi terhadap obat ini,
pecandu alkohol
Bentuk sediaan: Tablet 100 mg; Tablet 500 mg; Sirup 120 mg/5ml
Aturan pemakaian
Dewasa : 1 tablet (500 mg) 3 – 4 kali sehari, (setiap 4 – 6 jam)
Anak :
- 0 – 1 tahun : ½ - 1 sendok teh sirup, 3–4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)
- 1 – 5 tahun : 1 – 1 ½ sendok teh sirup, 3 – 4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)
- 6-12 tahun : ½ - 1 tablet (250-500 mg), 3 – 4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)

b. Aspirin/Asetosal
- Aturan pemakaian harus tepat, diminum setelah makan atau bersama
makanan untuk mencegah nyeri dan perdarahan lambung.
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita gangguan fungsi
ginjal atau hati, ibu hamil, ibu menyusui dan dehidrasi
- Jangan diminum bersama dengan minuman beralkohol karena dapat
meningkatkan risiko perdarahan lambung.
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita yang menggunakan
obat hipoglikemik, metotreksat, urikosurik, heparin, kumarin,
antikoagulan, kortikosteroid, fluprofen, penisilin dan vitamin C.
Kontraindikasi :
- Penderita alergi termasuk asma
- Tukak lambung (maag) dan sering perdarahan di bawah kulit
- Penderita hemofilia dan trombositopenia
Efek samping :
- Nyeri lambung, mual, muntah
- Pemakaian dalam waktu lama dapat menimbulkan tukak dan perdarahan
lambung
Bentuk Sediaan: Tablet 100 mg; Tablet 500 mg
Aturan pemakaian
Dewasa : 500 mg setiap 4 jam (maksimal selama 4 hari)
Anak :
2 – 3 tahun : ½ - 1 ½ tablet 100 mg, setiap 4 jam
4 – 5 tahun : 1 ½ - 2 tablet 100 mg, setiap 4 jam
6 – 8 tahun : ½ - ¾ tablet 500 mg, setiap 4 jam
9 – 11 tahun : ¾ - 1 tablet 500 mg, setiap 4 jam
> 11 tahun : 1 tablet 500 mg, setiap 4 jam

c. Ibuprofen
Menekan rasa nyeri dan radang, misalnya dismenorea primer (nyeri haid),
sakit gigi, sakit kepala, paska operasi, nyeri tulang, nyeri sendi, pegal linu dan
terkilir.
- Gunakan obat dengan dosis tepat
- Hati-hati untuk penderita gangguan fungsi hati, ginjal, gagal jantung,
asma dan bronkhospasmus atau konsultasikan ke dokter atau Apoteker
- Hati-hati untuk penderita yang menggunakan obat hipoglisemi,
metotreksat, urikosurik, kumarin, antikoagulan, kortiko-steroid, penisilin
dan vitamin C atau minta petunjuk dokter.
- Jangan minum obat ini bersama dengan alkohol karena meningkatkan
risiko perdarahan saluran cerna.
Kontra Indikasi :
- Penderita tukak lambung dan duodenum (ulkus peptikum) aktif
- Penderita alergi terhadap asetosal dan ibuprofen
- Penderita polip hidung (pertumbuhan jaringan epitel berbentuk tonjolan
pada hidung)
- Kehamilan tiga bulan terakhir
Efek Samping :
- Gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, diare, konstipasi
(sembelit/susah buang air besar), nyeri lambung sampai pendarahan.
- Ruam kulit, bronkhospasmus, trombositopenia
- Penurunan ketajaman penglihatan dan sembuh bila obat dihentikan
- Gangguan fungsi hati
- Reaksi alergi dengan atau tanpa syok anafilaksis
- Anemia kekurangan zat besi
Bentuk sediaan : Tablet 200 mg, Tablet 400 mg
Aturan pemakaian
- Dewasa : 1 tablet 200 mg, 2 – 4 kali sehari,. Diminum setelah makan
- Anak :
1 – 2 tahun : ¼ tablet 200 mg, 3 – 4 kali sehari;
3 – 7 tahun : ½ tablet 500 mg, 3 – 4 kali sehari;
8 – 12 tahun : 1 tablet 500 mg, 3 – 4 kali sehari;
Tidak boleh diberikan untuk anak yang beratnya kurang dari 7 kg.

d. Terapi Non Farmakologi


- Istirahat yang cukup.
- Minum air yang banyak.
- Usahakan makan seperti biasa, meskipun nafsu makan berkurang .
- Periksa suhu tubuh setiap 4 jam.
- Kompres dengan air hangat
- Hubungi dokter bila suhu sangat tinggi (diatas 380C), terutama pada anak
- anak.

Hubungi dokter jika :


- Bila seorang bayi menderita panas
- Bila demam lebih dari 39 oC (pada anak-anak 38.5 oC) dan tidak bisa
turun dengan parasetamol atau kompres.
- Bila demam tidak berkurang setelah 2 hari
- Bila demam disertai dengan kaku leher
- Bila disertai gejala-gejala lain yang berkaitan dengan demam seperti :
ruam kulit, sakit tenggorokan berat, batuk dengan dahak berwarna hijau,
sakit telinga, sakit perut, diare, sakit bila buang air kecil atau terlalu sering
buang air kecil, bintik-bintik merah pada kulit, kejang, pingsan
- Bila terjadi demam setelah melahirkan atau keguguran

4. MAAG
a. Senyawa Aluminium hidroksida dan Magnesium hidroksida
Antasida mempunyai fungsi untuk mengurangi gejala yang berhubungan
dengan kelebihan asam lambung, tukak lambung, gastritis, tukak usus dua
belas jari, dengan gejala seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati dan
perasaan penuh pada lambung.
Bentuk sediaan dan aturan pemakaian :
Contoh obat
- Tablet kombinasi yang mengandung:
Aluminium hidroksida 250 mg
Magnesium hidroksida 250 mg
Dimetilpoliksilosan 50 mg
Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, diminum 2 jam setelah makan atau sebelum
tidur, dan saat gejala timbul.
- Tablet kombinasi yang mengandung:
Magnesium trisilikat 250 mg
Aluminium hidroksida 250 mg
Simetikon 50 mg
Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam)
- Tablet kunyah yang mengandung:
Aluminium hidroksida 30 mg
Magnesium hidroksida 300 mg
Simetikon 30 mg
Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam) dan
sebelum tidur.
Perhatian : Tablet harus dikunyah.
- Larutan yang mengandung:
Aluminium hidroksida 30 mg
Magnesium hidroksida 300 mg
Simetikon 30 mg
Dosis : Dewasa : 1 – 2 sendok takar (5 ml), 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8
jam) dan sebelum tidur
- Tablet kunyah yang mengandung:
Aluminium hidroksida 200 mg
Magnesium hidroksida 200 mg
Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam).
Perhatian : Tablet harus dikunyah
PERHATIAN :
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
- Antasida dalam bentuk cairan kental (suspensi) kerjanya lebih cepat
dibandingkan bentuk tablet
- Antasida dalam bentuk tablet harus dikunyah terlebih dahulu sebelum
ditelan
- Jangan digunakan bersama dengan obat lain
- Beri jarak minimal 1 jam untuk minum obat yang lain
- Antasida diminum 1 jam sebelum makan
- Selama menggunakan antasida sebaiknya banyak minum air putih,
tujuannya meminimalkan gangguan pada fungsi saluran pencernaan
- Efek antasida merupakan jumlah efek dari masing-masing obat
- Spesifikasi obat
- Efek yang tidak diinginkan dari obat
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita gangguan ginjal,
tukak lambung, ibu hamil, menyusui dan anak-anak serta lanjut usia
- Tidak dianjurkan bagi penderita yang diet garam natrium
- Tidak dianjurkan bagi penderita alergi terhadap aluminium, kalsium,
magnesium, simetikon, natrium bikarbonat dan bismut
- Tidak dianjurkan pemakaian lebih dari 2 minggu kecuali atas saran
dokter.
- Hanya digunakan apabila telah diketahui bahwa gejala mual, nyeri
lambung, rasa panas di ulu hati dan dada benar-benar sakit maag bukan
penyakit lain.
- Penggunaan terbaik adalah saat gejala timbul sewaktu lambung kosong
dan menjelang tidur malam.
- Antasida mengganggu absorbsi obat-obat tertentu (misal antibiotik), bila
diminum bersama harus diberi waktu 1-2 jam.
- Bila setelah 2 - 3 hari gejala tetap ada, hendaknya segera menghubungi
dokter.
- Jangan digunakan lebih dari 4 gram sehari, karena dapat meningkatkan
produksi asam lambung/efek yang tidak diinginkan
- Bila dosis berlebihan dapat menimbulkan sembelit, wasir, perdarahan
anus, feses padat, mual, muntah, kekurangan fosfat dan osteomalasia.

5. MUNTAH
- Domperidon : Aman, hati2 terhadap drug induced metabolism
(Ketokonazol, Rifam, cimetidin, ARV)
- Loperamid : Ibu menyusui waspada (masul ASI), liver problem, ARV
medication
- Metoklopramid : ES Ekstra Piramidal (Hipertermal,

6. DIARE
Gejala :
- Frekuensi buang air besar melebihi normal
- Kotoran encer / cair
- Sakit / kejang perut, pada beberapa kasus
- Demam dan muntah, pada beberapa kasus
Gejala pada anak :
- Dehidrasi ringan/sedang; gelisah, rewel, mata cekung, mulut kering, sangat
haus, kulit kering
- Dehidrasi berat, lesu, tak sadar, mata sangat cekung, mulut sangat kering,
malas/tidak bisa minum, kulit sangat kering

a. Terapi Non Farmakologi


- Minum banyak cairan (air, sari buah, sup bening). Hindari alkohol,
kopi/teh, susu.
- Hindari makanan padat atau makanlah makanan yang tidak berasa (bubur,
roti, pisang) selama 1 – 2 hari.
- Minum cairan rehidrasi oral-oralit/larutan gula garam
- Cucilah tangan dengan baik setiap habis buang air besar dan sebelum
menyiapkan makanan. ( Diare karena infeksi bakteri/virus bisa menular ).
- Tutuplah makanan untuk mencegah kontaminasi dari lalat, kecoa dan
tikus.
- Simpanlah secara terpisah makanan mentah dan yang matang, simpanlah
sisa makanan di dalam kulkas.
- Gunakan air bersih untuk memasak
- Air minum harus direbus terlebih dahulu
- Buang air besar pada jamban
- Jaga kebersihan lingkungan
- Bila diare berlanjut lebih dari dua hari, bila terjadi dehidrasi, kotoran
berdarah, atau terus-menerus kejang perut periksakan ke dokter (diare pada
anak-anak/bayi sebaiknya segera dibawa ke dokter)
b. Oralit
Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang keluar
bersama tinja. Oralit 200 adalah campuran gula, garam natrium dan kalium.
Oralit mengandung natrium 75 mg/liter, glukosa 75 mg/liter, kalium 20
ml/liter, dan osmolaritas (kekentalan cairan) 245 mg/liter
Aturan Pemakaian :
- Cara pemakaian oralit adalah minum segelas oralit sedikit demi sedikit,
dua sampai tiga teguk, kemudian berhenti selama tiga menit. Hal ini harus
diulang terus menerus sampai satu gelas oralit habis. Minum oralit satu
gelas sekaligus dapat memicu muntah dan buang air besar.
- Berikan dengan sendok (untuk anak < 2 tahun) sedikit-sedikit terus
menerus sampai habis.
- Bila muntah tunggu 10 menit, ulangi tetes demi tetes agar anak tidak
menolak.
- Jika tidak tersedia oralit dapat dibuat larutan sendiri dengan mencampur :

ORALIT HOMEMADE :
Gula 40 g (1 sendok makan) + garam 3,5 g (1 sendok teh) dilarutkan
dalam 1 liter (5 gelas) air mendidih yang telah didinginkan.
c. Adsorban dan Obat Pembentuk Massa
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Norit (karbo adsorben), kombinasi
Kaolin-Pektin dan attapulgit.
Kegunaan Obat :
- Mengurangi frekuensi buang air besar
- Memadatkan tinja
- Menyerap racun pada penderita diare
Hal yang harus diperhatikan
- Obat bukan sebagai pengganti oralit
- Penderita harus minum oralit
- Tidak boleh diberikan pada anak di bawah 5 tahun
Bentuk sediaan
- Tablet Norit 250 mg
- Kombinasi kaolin – Pektin dan Attapulgit
Aturan pakai
- Tablet Norit 250 mg
Dewasa : 3 – 4 tablet (750 – 1000 mg), 3 kali sehari (setiap 8 jam)
- Kombinasi kaolin – Pektin dan Attapulgit
(Setiap tablet mengandung 600 mg atapulgit)
Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 tablet setiap habis buang air besar,
maksimal 12 tablet selama 24 jam.
Anak-anak 6 - 12 tahun : 1 tablet setiap habis buang air besar, maksimal 6
tablet selama 24 jam.
d. Diare pada Anak / Bayi
- Teruskan pemberian air susu ibu pada bayi, tetapi pada pemberian susu
pengganti ASI encerkan sampai dua kali.
- Diare pada bayi sebaiknya segera periksakan ke dokter (resiko dehidrasi
tinggi)
- Segera periksakan anak ke dokter bila diare lebih dari 12 jam atau bila
bayi anda tidak mengompol dalam waktu 8 jam, suhu badan lebih dari
39°C, terdapat darah dalam tinjanya, mulutnya kering atau menangis tanpa
air mata, dan luar biasa mengantuk atau tidak ada respon gejala
dehidrasi.
- Jika di rumah hanya ada oralit, maka bubuk oralit dewasa diencerkan 2
kali lipatnya. Jadi, yang seharusnya 250 cc dapat diencerkan menjadi 500
cc. Cairan khusus anak (cth pedialite, renalite), tidak perlu diencerkan lagi
tapi langsung diminum dari botol dan dapat diperoleh di apotek. Setelah
segel botol dibuka, maka dalam 24 jam cairan tersebut harus dihabiskan.
- Jangan diberikan obat-obatan lainnya. Karena di sisi lain, diare merupakan
mekanisme mengeluarkan toksi, racun, kuman, dan virus. Tetapi yang
terpenting adalah berikan makanan ke anak seperti biasa, rehidrasi (cairan
pengganti),
- Pengobatan :
Suplemen zinc :
Aturan pakai :
Anak < 6 bulan sehari 1x 10 mg
Anak ≥ 6 bulan sehari 1x 20 mg
Pemberian selama 10-14 hari
Probiotik
Probiotik adalah suplemen makanan mikroba hidup yang umum
digunakan dalam pengobatan dan pencegahan diare akut.
Kemungkinan mekanisme aksi termasuk sintesis zat antimikroba,
persaingan dengan patogen untuk nutrisi, modifikasi racun, dan stimulasi
respon imun nonspesifik terhadap patogen.
Efektif dalam mengurangi durasi diare pada anak-anak yang mengalami
gastroenteritis akut.

7. CACINGAN
Gejala :
- Mengeluarkan cacing pada saat buang air besar atau muntah
- Badan kurus dan perut buncit
- Kehilangan nafsu makan, lemas, lelah, pusing, nyeri kepala, gelisah dan
sukar tidur
- Gatal-gatal disekitar dubur terutama malam hari (cacing kremi)
- Pada jenis cacing yang menghisap darah (cacing pita, cacing tambang,
cacing cambuk) dapat terjadi anemia
Pengobatan :
a. Pirantel Pamoat
Kontra Indikasi :
- Penderita gangguan fungsi hati
- Anak di bawah umur 2 tahun
- Ibu hamil
Efek Samping :
Nafsu makan hilang (anoreksia), mual, muntah, diare, kram lambung,
meningkatkan SGOT, sakit kepala, pusing, mengantuk, ruam kulit
Bentuk sediaan : Tablet 125 mg, tablet 250 mg
Aturan pemakaian :
1 – 5 tahun : 125 mg
5 – 9 tahun : 250 mg
10 – 15 tahun : 375 mg
diatas 15 tahun dan dewasa : 500 mg

b. Mebendazol
- Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita diabetes dan ibu
menyusui.
- Penggunaan jangka panjang dengan dosis besar dapat menimbulkan
penurunan sel darah putih (neutropenia) kembali normal bila obat
dihentikan.
Kontra Indikasi :
Anak balita dan ibu hamil akan mengakibatkan pembentukan sel yang tidak
normal (teratogenik)
Efek Samping :
Nyeri pada lambung, diare
Bentuk Sediaan : Tablet 100 mg
Aturan pemakaian :
- Untuk cacing kremi, 1 tablet sehari
- Untuk cacing cambuk, 1 tablet setiap pagi dan 1 tablet setiap malam
selama 3 hari berturut-turut.
- Untuk cacing gelang, 1 tablet setiap pagi dan 1 tablet setiap malam selama
3 hari berturut-turut.

c. Piperazin
Kontraindikasi :
- Penderita epilepsi
- Alergi terhadap piperasin
- Gangguan fungsi hati atau ginjal
Efek Samping :
Mual, muntah, gangguan pada fokus mata, dermatitis, diare dan reaksi alergi.
Bentuk Sediaan :
- Sirup piperazin sitrat 1 g/5 ml (kemasan sirup 15 ml)
- Sirup piperazin heksahidrat 1 g/5 ml (kemasan sirup 15 ml)
Aturan pemakaian untuk :
- Askariasis (cacing gelang)
Dosis tunggal :
Bayi : 2,5 ml
1 – 2 tahun : 5 ml
3 – 5 tahun : 10 ml
diatas 6 tahun dan dewasa : 15 ml
Diminum selama 2 hari berturut-turut.
- Oksiurasis (cacing kremi)
Diminum setelah makan, selama 4 hari berturut-turut.
Bayi : 1 kali sehari, 2,5 ml
1 – 2 tahun : 2 kali sehari, 2 – 5 ml
3 – 5 tahun : 2 kali sehari, 5 ml
Diatas 6 tahun dan dewasa : 3 kali sehari, 5 ml
8. INFEKSI JAMUR PADA KULIT (Kadas/ Kurap/ Panu)
Pengobatan :
a. Obat yang mengandung Klotrimazol 1 %
Pemakaian :
- Cairan : beberapa tetes cairan dioleskan pada daerah yang terkena infeksi
jamur, gunakan 2-3 kali sehari, sampai infeksi hilang
- Krim : Oleskan secara tipis pada daerah yang terkena infeksi jamur,
gunakan 2-3 kali sehari, sampai infeksi hilang
Instruksi khusus :
Panu dapat disembuhkan dalam 3-4 minggu, sedangkan jamur pada daerah
kemaluan disembuhkan dalam 1-2 minggu. Khusus untuk jamur pada kaki,
pegobatan harus terus dilanjutkan selama 2 minggu setelah tanda-tanda infeksi
hilang untuk menghindari kambuhnya penyakit. Setelah dicuci, kaki harus
dikeringkan dengan sebaik-baiknya, terutama daerah lipatan antara jari
b. Obat yang mengandung Mikonasola nitrat 2 %
Pemakaian :
Oleskan krim atau serbuk sehari sekali sambil digosokkan perlahan. Biasanya
sembuh setelah 2-5 minggu, tetap perpanjang pengobatan selama 10 hari,
untuk mencegah kambuh.
c. Obat yang mengandung Asam undesilenat, Seng undesilenat, kalsium
propionat, natrium propionat
Cara pemakaian :
Cuci dan keringkan sela-sela jari kaki, lalu gunakan obat 2-3 kali sehari

9. LUKA BAKAR
Gejala :
a. Luka bakar permukaan :
- Kemerahan
- Sangat kesakitan
b. Luka bakar sedang :
- Kulit melepuh, terkelupas
- Bengkak
- Sangat kesakitan
c. Luka bakar dalam :
- Kulit warna putih dan seperti lilin /hitam dan hangus
- Tidak terasa sakit
Penanganan luka :
- Singkirkan penyebab luka bakar
- Buka pakaian (kecuali bila pakaian melekat di tempat luka bakar ) dan
benda-benda yang melekat erat seperti cincin, jam tangan dan ikat
pinggang.
- Segera celupkan dalam air dingin /letakkan luka bakar di bawah aliran air
selama kurang lebih 15 menit atau sampai luka berkurang. Ulangi sesering
mungkin
- Jangan diolesi dengan segala macam salep/krem ataupun
mentega/margarin. Tidak perlu di balut
- Jangan pecahkan kulit yang melepuh. Bila lepuhan pecah sendiri, biarkan
kulit seperti semula untuk mencegah infeksi. Mungkin perlu balutan ringan
- Periksa dokter bila terjadi infeksi bakteri (demam, peradangan, dan
pembentukan nanah).
- Segera pergi ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat, bila terjadi hal -
hal seperti dibawah ini:
 Luka bakar pada muka, jari, sendi atau alat kelamin
 Luka bakar sedang yang luasnya lebih besar dari telapak tangan
penderita .
 Semua jenis luka bakar dalam
 Renjatan/shock (pucat, keringat dingin, kulit lembab, napas dan
nadi cepat, mengantuk, pingsan).
 Menghisap asap
 Luka bakar karena senyawa kimia, aliran listrik atau radiasi
Obat yang dapat digunakan :
a. Salep Antibiotik
Beberapa luka, misalnya luka bakar, paling baik diberikan salep antibiotik
topikal. Salep dapat membuat luka tetap lembab dan mengurangi nyeri yang
berkaitan dengan luka yang telah mengering. Salep antibiotik dapat menembus
luka dan mencegah infeksi.
Pemakaian :
Oleskan 2-4 mm krim/salep pada permukaan luka. Untuk luka yang agak luas,
oleskan dengan menggunakan spatula atau sarung tangan. Gunakan 2 kali
sehari, atau sesering mungkin bila diperlukan. Lalu tutup dengan perban dan
plester. Setiap akan menggunakan krim/salep, permukaan luka harus bersih.
Untuk melepaskan perban akan lebih mudah sambil disiram air secara
perlahan-lahan atau membasuhnya dengan larutan antiseptik.
Sofratulle kassa dengan antibiotik framycetin dalam lanolin

b. Salep minyak ikan


Untuk membantu penyembuhan luka bakar
Pemakaian :
2-3 kali sehari, dioleskan
Jangan digunakan bila luka sudah terinfeksi
10. LUKA IRIS/SOBEK
Penanganan luka :
Bila mempunyai luka iris :
 Cuci luka di air yang mengalir (di bawah kran air) dan keringkan dengan
kertas tisu yang bersih, (untuk luka sobek yang dalam  luka harus
diirigasi)
 Ambil kotoran, gelas/beling atau partikel lain di dalam luka dengan
pengait yang bersih (Pengait ini harus dicuci dengan air sabun terlebih
dahulu atau dilewatkan di atas api kecil dan biarkan dingin)
 Hentikan perdarahan dengan cara menekan di atas luka dengan kasa
selama beberapa menit
 Oleskan cairan antiseptik. Pembekuan darah yang terbentuk di permukaan
luka jangan di bersihkan karena akan menyebabkan pendarahan kembali
 Bila luka kecil, biarkan terbuka supaya cepat pulih. Bila luka besar, tutup
dengan kasa pembalut.
 Periksa dokter bila terdapat komplikasi. Pergi ke unit gawat darurat
dirumah sakit terdekat bila terdapat perdarahan hebat misal : darah
memancar dari luka, perdarahan tidak berhenti dengan tekanan, atau sudah
kehilangan sekitar 1-2 cangkir darah
 Perhatikan untuk selalu mencuci tangan sebelum merawat luka.
Bila terdapat luka memar:
 Dengan mendinginkan luka memar akan memperlambat pendarahan di
bawah kulit dan mengurangi nyeri dan pembengkakan
 Memar pada lengan atau kaki bisa didinginkan dengan meletakkan badan
tersebut dibawah kran air.
 Memar pada kepala dan dada atau daerah yang memerlukan pendingin
yang lama bisa dirawat dengan kompres dingin/es
Obat yang dapat digunakan :
a. Povidon Iodin
Cara pemakaian
- Dioleskan pada luka dengan kapas yang dibasahi obat
- Sebagai pencuci diencerkan dengan 40 bagian air. Dipakai beberapa kali
sehari
- Hentikan pemakaian bila terjadi kemerahan, pembengkakan. Dapat timbul
iritasi pada kulit
b. Larutan Salin (NaCl steril)/ air steril  untuk irigasi luka terbuka/sobek
c. Salep Antibiotik, Sofratulle
Antibiotik biasanya tidak diperlukan jika luka dibersihkan dengan hati-hati.
Namun demikian, beberapa luka tetap harus diobati dengan antibiotik, yaitu:
- Luka yang lebih dari 12 jam (luka ini biasanya telah terinfeksi).
- Luka tembus ke dalam jaringan (vulnus pungtum), harus
disayat/dilebarkan untuk membunuh bakteri anaerob.
Tidak dibenarkan mengobati luka menggunakan :
- Obat merah karena mengandung merkurokrom (Hg) dan merkurokrom
bersifat toksis terhadap otak;
- Boorwater karena mengandung Garam borium yang bersifat toksis
terhadap saraf;
- Bubuk sulfa karena dapat menyebabkan hipersensitivitas kulit
Infeksi luka
Tanda klinis:
Nyeri, bengkak, berwarna kemerahan, terasa panas dan mengeluarkan nanah.
Tatalaksana
 Buka luka jika dicurigai terdapat nanah
 Bersihkan luka dengan cairan desinfektan
 Tutup ringan luka dengan kasa lembap. Ganti balutan setiap hari, lebih sering
bila perlu
 Berikan antibiotik sampai selulitis sekitar luka sembuh (biasanya dalam
waktu 5 hari).
- Berikan kloksasilin oral (25–50 mg/kgBB/dosis 4 kali sehari) karena
sebagian besar luka biasanya mengandung Staphylococus.
- Berikan ampisilin oral (25–50 mg/kgBB/dosis 4 kali sehari), gentamisin
(7.5 mg/kgBB IV/IM sekali sehari) dan metronidazol (7.5 mg/kgBB/dosis
3 kali sehari) jika dicurigai terjadi pertumbuhan bakteri saluran cerna.
Irigasi luka
Alkes yang dibutuhkan :
- Waterproof trash bag
- Linen-saver pad
- Emesis basin
- Clean gloves
- Sterile gloves
- Goggles
- Gown, if indicated
- Prescribed irrigan  larutan saline/povidon iodin/wound cleanser
- Sterile water or normal saline solution
- Soft rubber or plastic catheter
- Sterile container
- Materials as needed for wound care
- Sterile irrigation and dressing set
- 35-mL piston syringe with 19-gauge needle or catheter
- Skin protectant wipe

C. DOSIS ANAK
Cara menghitung dosis untuk anak-anak :
1. Berdasarkan umur
a. Rumus YOUNG (untuk anak < 8 tahun )

b. Rumus DILLING (untuk anak > 8 tahun)

c. Rumus FRIED (untuk bayi ≤ 24 bulan/2 tahun)

2. Berdasarkan Berat Badan


Rumus THERMICH

3. Rumus untuk menentukan persentase DM obat


Persentase DM sekali :

Persentase DM sehari :

Contoh Soal:
R/ Efedrin HCl 10 mg
Mf pulv dtd no. X
Stdd pulv I
pro: Frimi (7 tahun)

 Efedrin HCl dengan dosis 10 mg, diberikan tiga kali sehari, untuk anak usia 7 tahun

Jawab:
di FI III, dosis maksimum untuk Efedrin HCl adalah 50 mg – 150 mg
artinya, dosis maksimum untuk sekali pemakaian adalah 50 mg, dan untuk sehari
pemakaian adalah 150 mg
dosis maksimum anak untuk sekali pemakaian:

dosis maksimum anak untuk sehari pemakaian:

Pemakaian 1x= 1 bungkus


ada dtd, artinya efedrin HCl 10 mg untuk tiap bungkus serbuk

% dosis untuk sekali pemakaian = 10 mg (tertera di resep) / 18,42 mg x 100% = 54,28%


% dosis untuk sehari pemakaian = 10 mg x 3 (karena 3 kali sehari) / 55,26 mg x 100%
= 54,28%
maka, dosis tidak melewati dosis maksimum

R/ Aminophyllin 150 mg
Mf pulv dtd no. X
Sbdd pulv I
pro: Aira (10 tahun)

 Aminophyllin dengan dosis 150 mg, diberikan dua kali sehari, untuk anak usia 10
tahun

Jawab:
di FI III, dosis maksimum untuk Aminophyllin adalah 500 mg – 1,5 g
artinya, dosis maksimum untuk sekali pemakaian adalah 500 mg, dan untuk sehari
pemakaian adalah 1500 mg
dosis maksimum anak untuk sekali pemakaian:

dosis maksimum anak untuk sehari pemakaian:

Pemakaian 1 x = 1 bungkus
ada dtd, berarti aminofilin 150 mg untuk setiap bungkus

% dosis untuk sekali pemakaian = 150 mg (tertera di resep) / 250 mg x 100% = 60%
% dosis untuk sehari pemakaian = 150 mg x 2 (karena 2 kali sehari) / 750 mg x 100%
= 40%
maka, dosis tidak melewati dosis maksimum
R/ Eritromisin 150 mg
Mf pulv dtd no. X
Stdd pulv I
pro: Fajar (25 kg)

 Eritromisin dengan dosis 150mg, diberikan tiga kali sehari, untuk anak dengan berat
badan 25kg

Jawab:
di FI III, dosis maksimum untuk Eritromisin adalah 500 mg – 4 g
artinya, dosis maksikum untuk sekali pemakaian adalah 500 mg, dan untuk sehari
pemakaian adalah 4000 mg
dosis maksimum anak untuk sekali pemakaian:

dosis maksimum anak untuk sehari pemakaian:

Pemakaian 1x = 1 bungkus
ada dtd, artinya eritromisin 150 mg untuk tiap bungkus serbuk
% dosis untuk sekali pemakaian = 150 mg (tertera di resep) / 178,5 mg x 100% = 84%
% dosis untuk sehari pemakaian = 150mg x 3 (karena 3 kali sehari) / 1.428,5 mg x
100% = 31,5%
maka, dosis tidak melewati dosis maksimum

R/ Hidrokortison 180 mg
Mf pulv no XII
Sbdd pulv I
pro: Daehan (4 tahun)

Jawab:
di FI III, dosis maksimum untuk Hidrokortison adalah 100 mg – 200 mg. artinya, dosis
maksimum untuk sekali pemakaian adalah 100 mg, dan untuk sehari pemakaian adalah
200 mg
dosis maksimum anak untuk sekali pemakaian:

dosis maksimum anak untuk sehari pemakaian:

Pemakaian 1x = 1 bungkus
Tidak ada dtd, berarti hidrokortison 150 mg untuk 12 bungkus serbuk,
maka 1 bungkus mengandung hidrokortison 15 mg (180 mg/12 bungkus = 15
mg/bungkus).
% dosis untuk sekali pemakaian = 15 mg / 25 mg x 100% = 60%
% dosis untuk sehari pemakaian = 15 mg x 2 (karena 2 kali sehari) / 50 mg x 100% =
60%
maka, dosis tidak melewati dosis maksimum

D. COPY RESEP
Bagian-bagian salinan resep:
 Nama dan alamat apotek
 Nama dan APA dan nomor SIA
 Nama, umur, pasien
 Nama dokter penulis resep
 Tanggal penulisan resep
 Tanggal dan nomor urut pembuatan
 Tanda R/
 Tanda “det” atau “deteur” untuk obat yang sudah diserahkan “ne det” atau “ne
deteur” untuk obat yang belum diserahkan
 Tuliskan p.c.c (pro copy conform) menandakan bahwa salinan resep telah
ditulis sesuai dengan aslinya.
Contoh Copy Resep lain :
E. KERACUNAN
1. Keracunan Parasetamol
Keracunan parasetamol disebabkan karena akumulasi dari salah satu metabolitnya
yaitu N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI), yang dapat terjadi karena
overdosis, pada pasien malnutrisi, atau pada peminum alkohol kronik.
Keracunan parasetamol biasanya terbagi dalam 4 fase, yaitu:
- Fase 1 :
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, perasaan tak menentu pada tubuh
yang tak nyaman (malaise) dan banyak mengeluarkan keringat.
- Fase 2 :
Pembesaran liver, peningkatan bilirubin dan konsentrasi enzim hepatik,
waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan darah menjadi bertambah lama
dan kadang-kadang terjadi penurunan volume urin.
- Fase 3 :
Berulangnya kejadian pada fase 1 (biasanya 3-5 hari setelah munculnya
gejala awal) serta terlihat gejala awal gagal hati seperti pasien tampak
kuning karena terjadinya penumpukan pigmen empedu di kulit, membran
mukosa dan sklera (jaundice), hipoglikemia, kelainan pembekuan darah,
dan penyakit degeneratif pada otak (encephalopathy). Pada fase ini juga
mungkin terjadi gagal ginjal dan berkembangnya penyakit yang terjadi
pada jantung (cardiomyopathy)
- Fase 4 :
Penyembuhan atau berkembang menuju gagal hati yang fatal.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama saat


menemukan korban yang dicurigai keracunan parasetamol adalah sebagai berikut :
- Rangsang muntah (tindakan ini hanya efektif bila parasetamol baru ditelan
atau peristiwa tersebut terjadi kurang dari 1 jam sebelum diketahui)
- Berikan arang aktif dengan dosis 100 gram dalam 200 ml air untuk orang
dewasa dan larutan 1 g/kg bb untuk anak-anak.
- Bila kadar serum parasetamol di atas garis toksik maka N-asetilsistein
dapat mulai diberikan dengan loading dose 140mg/kg BB secara oral, lalu
dosis berikutnya 40 mg/kg BB diberikan setiap 4 jam. Larutkan
asetilsistein ke dalam air, jus atau larutan soda.
- Bila terjadi muntah spontan, maka pemberian asetilsistein dapat dilakukan
melalui sonde lambung (nasogastric tube) atau berikan metoklopramid
pada pasien untuk mengatasi kondisi muntah tersebut.
- Terapi asetilsistein paling efektif bila diberikan dalam waktu 8-10 jam
pasca penelanan parasetamol.
- N-asetilsistein harus diberikan secara hati-hati dengan memperhatikan
kontraindikasi dan riwayat alergi pada korban, terutama riwayat asthma
bronkiale.

F. TRANSDERMAL
Transdermal merupakan salah satu alternatif rute pemberian obat berupa krim, gel
atau patch yang digunakan pada permukaan kulit, yang mampu menghantarkan obat
masuk ke dalam tubuh melalui kulit untuk memberikan efek sistemik.
Keuntungan Sediaan Transdermal
 Tidak mengalami First Pass Effect
 Kontrol penghantaran Obat
 Dapat digunakan pada penderita tertentu
 Absorpsi tidak melalui Gastro intestinal
 Efek cepat
 Frekuensi penggunaan lebih sedikit
 Non Invasif
Supaya zat aktif bisa masuk ke dalam kulit bisa ditambah enhancer (peningkat
penetrasi), contoh : dimetilsulfoksida (DMSO), asam oleat, propilenglikol, urea,
fosfolipid, menthol, tween, sodium lauril sulfat (SLS), limonene.

Syarat zat aktif untuk dibuat sediaan transdermal :


 Ukuran partikel < 600 Da
 Koefisien partisi Log P 1-4
 Titik Lebur < 200 oC
 Waktu paruh pendek ≤ 10 jam
Cara penggunaan Transdermal :
 Untuk letak penempelan patch lihat instruksi yang terdapat pada kemasan obat
atau konsultasikan dengan apoteker.
 Jangan ditempelkan pada kulit yang memar atau luka.
 Jangan ditempelkan dalam lipatan kulit atau di bawah pakaian ketat.
Pindahkan tempat patch setiap periode tertentu.
 Pasang patch dengan tangan yang bersih dan kering.
 Bersihkan dan keringkan tempat pemasangan patch.
 Ambil patch dari wadah, jangan sentuh bagian obatnya.
 Tempelkan pada kulit dan tekan kuat. Gosok bagian tepi agar menempel.
 Lepaskan dan ganti sesuai petunjuk.

G. KURVA SUSTAINED VS IMMEDIATE RELEASE

H. OBAT HERBAL
1. Pengobatan Herbal/Tradisional :
Penggunaan Obat tradisional anjurkan pasien untuk menggunakan Fitofarmaka/Obat
herbal terstandar terlebih dulu, jamu kurang dianjurkan respon terhadap orang
berbeda-beda.
 Hipertensi :cinnamon, Garlic, Ginger, Celery seed
Fitofarmaka : Tensigard (ekstrak apii, ekstrak ortosiphon/kumis kucing);
Levitens
 DM : Okra., Aloe vera, Bilberry extract, Bitter melon, Cinnamon,
Fenugreek,Ginger.
Fitofarmaka : Diabmeneer (ekstrak mengkudu) ; Inlacin (fraksi aktif
Lagerstroemia speciosa & Cinnamomum burmannii) ; Resindex
 Jantung :
Fitofarmaka : Levitens; Disolf (ekstrak Lumbricus rubellus  meningkatkan
sirkulasi darah)
 Cholesterol :Oats, Salmon, sarden (fishy oil), kacang-kacangan, teh, coklat,
garlic, olive oil, spinach, Alpukat.
 Anuria/udem :gingko biloba, Horsetail, Peterseli, Yarrow, Jelatang, Selada
air, Daun dandelion, Daun pohon birch.Ekstrak bilberry (Gunakan ekstrak ini
dengan hati-hati jika Anda menggunakan obat pengencer darah.)
Ekstrak biji anggur (Herba yang bersifat diuretik berikut ini bisa dibuat teh
dengan memasukkannya ke dalam secangkir air mendidih.)
 Asam Urat :Daun Sirsak, Jahe, Rosela, Seledri
- Bunga Rosela :Siapkan 5 kelopak bunga Rosella kering dan sudah dicuci
bersih, kemudian seduh menggunakan air panas sebanyak 200cc.
Tambahkan madu sebagai pemanis. Rutinlah meminum ramuan
tradisional tersebut lebih kurang selama 1 bulan agar khasiatnya cepat
terasa.
- Daun Seledri : Siapkan biji seledri sebanyak 2 gram yang sudah dicuci
bersih, kemudian rebus dengan 110 ml air bersih hingga mendidih atau
selama 15 menit. Saring ramuan tersebut, lalu minum airnya sebagai obat
tradisional. Minum ramuan tersebut sebanyak 1 kali dalam sehari.
 Batuk : Uap air hangat, madu, the hijau, nanas, peppermint/mentol, jahe,
kunyit, Adas, Kencur (Ekspektoran)
Obat Herbal Terstandar : OB Herbal
 Diare : Nodiar (attapulgite, pektin, ekstrak apel, rimpang kurkuma)
 Rematik : Rheumaneer (ekstrak Cucurmae Rhizoma
 Impoten : X-gra (ekstrak ginseng, royal jelly, ekstrak ganoderma)

2. Bahan Kimia Obat dalam Obat Herbal/Tradisional


Contoh BKO :
 Sibutramin  pelangsing
 Paracetamol
 Prednison
 Metampiron/antalgin pegal linu/encok/rematik
 Deksametason
 Fenilbutazon
 Sildenafil Sitratobat kuat pria
Bahaya BKO dalam jamu (pemakaian jangka panjang) :
 Sildenafil Sitrat: dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mual, nyeri perut,
gangguan penglihatan, rinitis (radang hidung), dan kematian.
 Fenilbutason : dapat menyebabkan mual, muntah, ruam kulit, oedema,
pendarahan lambung, nyeri lambung, reaksi hipersensitivitas, hepatitis, gagal
ginjal.
 Asam Mefenamat: dapat menyebabkan mengantuk, diare, ruam kulit,dan
kejang, serta dikontraindikasikan bagi penderita tukak lambung/usus, asma,
dan ginjal.
 Prednison: dapat menyebabkan moon face (=wajah bulat seperti bulan,
tembem); gangguan saluran cerna seperti mual dan tukak lambung; tulang
keropos, dll.
 Metampiron : dapat menyebabkan gangguan saluran cerna seperti mual,
pendarahan lambung, rasa terbakar, serta gangguan sistem saraf seperti tinitus
(telinga berdenging) dll.
 Parasetamol : dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan
gangguan kerusakan hati.
Cara analisis BKO :
 Preparasi Sampel :
Sampel jamu diekstraksi terlebih dulu, Diekstraksi sampel dengan cara
maserasi menggunakan pelarut etanol. Dikocok atau disonikasi. Disaring
dengan kertas saring dan diuapkan pada suhu 70 oC di atas penangas air
hingga kering dan tambahkan etanol kembali sebanyak 10 ml. Disaring
kembali dengan kertas saring dan diperoleh hasil ekstraksi. (Bisa juga dengan
menggunakan pelarut lain, sesuaikan dengan jenis bahan kimia obat yg
diperiksa)
 Uji Warna  membandingkan hasil reaksi warna antara pereaksi dengan
sampel dan kontrol (sampel+ BKO, baku BKO)
Parasetamol :
- Dengan menggunakan Reaksi Azo
Diambil sebanyak 2 tetes sampel sampel jamu yang telah diekstraksi
sebelumnya dengan cara maserasi ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 1
tetes pereaks i Diazo A dan 1 tetes Diazo B. Ditambahkan 2 tetes larutan
NaOH 2 N sampai berekasi basa, kocok, panaskan di atas penangas air
akan terbentuk warna merah.
- Dengan menggunakan Reaksi besi (III) klorida 10% :
Diambil sebanyak 2 tetes sampel jamu yang telah diekstraksi sebelumnya
dengan cara maserasi. Ditambahkan 2 tetes Ferri Klorida 10 % yang
masih segar, maka akan terbentuk warna biru ungu-hijau.
- Dengan menggunakan Reaksi Kalium dikromat (K2Cr2O7) :
Reaksi : 5 tetes zat + parasetamol 100 mg lalu ditambahkan dengan 1ml
HCl (p), didihkan 3 menit + 2 ml air, dinginkan → (tidak terbentuk
endapan) + 1 tetes K2Cr2O7 0,1 N, ungu yang tidak berubah menjadi
merah (beda dengan phenacetin).
Dilakukan juga terhadap Sampel jamu, Sampel jamu + Parasetamol, dan
Sampel Pa rasetamol.
 KLT bandingin bercak KLT baku BKO dengan bercak sampel, lihat di
bawah UV (Fasa gerak bisa disesuaikan dengan sifat BKO yang akan
diperiksa).
Pada Plat KLT (fase diam silica gel F254) dengan tebal 0,25 mm, diberi tanda
batas penotolan 1 cm pada batas bawah plat KLT dan 1 cm dari batas atas plat
KLT dengan ukuran 8x10 cm. Diberi jarak 2 cm t iap penotolan pada plat
KLT untuk sampel jamu, dan baku parasetamol dengan jarak pengembangan 8
cm. Dilakukan penotolan dengan alat pipa kapiler untuk proses penotolannya.
Dibiarkan totolan mengering, elusi dengan fase gerak campuran yaitu
Kloroform:
Metanol (9:1) pada chamber, hingga elusi merambat naik pada batas atas plat
KLT yang telah diberi tanda. Angkat lempeng, dan biarkan fase gerak
menguap terlebih dahulu. Setelah itu diamat i bercak noda pada masing-
masing lempeng dengan menggunakan lampu sinar ultra violet (UV) 254 nm
dan hitung nilai Rf (Retardation factor). Nilai Rf disesuaikan dengan larutan
baku parasetamol pada saat pengerjaan Kromatografi Lapis Tipis.
I. PENGENCERAN
a. Perhitungan pengenceran :
V1 x M1 = V2 x M2

V2  volume akhir setelah pengenceran (V1 + air/pelarut)

Perhatikan satuan:
ppm = mg/L atau µg/mL
%b/v = g/100mL
%b/b = g/100g

b. Kurva Baku
Kurva standar merupakan standar dari sampel tertentu yang dapat digunakan
sebagai pedoman ataupun acuan untuk sampel tersebut pada percobaan.
Pembuatan kurva standar bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
konsentrasi larutan dengan nilai absorbansinya sehingga konsentrasi sampel dapat
diketahui.
Cara pembuatan kurva baku :
Buat larutan standar dengan berbagai konsentrasi (misal 5 variasi konsentrasi,
variasi konsentrasi sesuaikan dengan konsentrasi perkiraan sampel), ukur di
instrumen.
Plotkan ke kurva baku konsentrasi dan absorbansinya.

J. UJI PEWARNA MAKANAN BERBAHAYA


Pengujian Makanan sederhana:
Mengandung formalin atau boraks (basa)
Kunyit adalah salah satu indikator yang dapat menunjukkan sifat asam dan basa suatu
larutan.Serbuk akar kunyit memberikan zat warna yang berwarna kuning jika
dilarutkan dalam air.Akar kunyit berisi kira- kira 5% bahan pewarna diaryl heptanoid,
lebih dikenal sebagai curcuminoids. Akar kunyit mengandung beberapa senyawa
pewarna, terutama curcumin (diferulaylmethane).Kemampuan suatu pewarna untuk
merubah jaringan spesifik ditentukan oleh faktor- faktor tertentu, salah satunya adalah
keasaman zat warna. Struktur asam akan terwarnai oleh pewarna basa, sementara
struktur basa akan terwarnai oleh pewarna asam. Jika kunyit dicelupkan ke dalam
larutan asam, maka warna kunyit tetap tidak berubah.Namun, jika kunyit dicelupkan
ke dalam larutan yang bersifat basa, maka warna kunyit berubah menjadi merah.
Kertas saring dicelupkan k larutan kunyit kemudian dikeringkan. Bahan makanan
mengandung formalin atau borak akan menghasilkan warna merah.

Mengandung pewarna sintetik/tekstil (Rhodamin B, Methanil Yelow, Malchite


Green)
Warnanya hijau dan sifatnya tidak mudah larut dalam air.
Kromatografi kertas / KLT: Prinsip kerjanya adalah kapilaritas kertas saring dengan
pelarut air (PAM, destilata, atau air sumur) . Setelah zat pewarna diteteskan di ujung
kertas saring, air dari bawah akan mampu menyeret zat-zat pewarna keatas. Apabila
bahan pewarna tersebut merupakan bahan yang aman dikonsumsi, maka akan terseret
jauh (lebih dari 5 cm) oleh air dari gelas secara kapilaritas. Sedangkan jika bahan
pewarna tersebut merupakan zat pewarna yang berbahaya seperti bahan pewarna
tekstil maka tidak akan terseret jauh oleh air (kurang dari 3 cm) melalui kapilaritas
pada kertas saring. Bahkan terkadang tetap diam ditempat, hal ini menunjukan bahwa
sifat zat pewarna tekstil tidak mudah larut dalam air.
Pewarna sintesis yg boleh misalnya FD&C Red No. 2 (Amaranth) No Indeks 16185,
FD&C Yellow No 5 (Tartrazine) No Indeks 19140, FD&C Yellow No 5 (Sunset
Yellow) No Indeks 150985, FD&C Red No 3 (Erytrosine) No Indeks 45430, FD&C
Blue No 2 (Indigotin/Indigo Carmine) No Indeks 73015.

K. ALAT KESEHATAN
1. Alkes yang digunakan untuk infus intravena
 Sterile disposable gloves (Handscoen)
 IV catheter (Abbocath)
Terdapat berbagai jenis ukuran dan kegunaan. Semakin besar angka semakin
kecil ukuran dari IV catheter.

Ukuran yg umum digunakan :


- 16 (warna orange)  infus saat operasi resiko tinggi, untuk vena yg besar
- 18 (warna hijau)  transfusi darah, operasi
- 20 (warna pink)  paling sering digunakan, untuk infus cairan dewasa
- 22 (warna biru)  infus lambat, pada vena kecil dan rapuh, geriatri, anak
- 24 (warna kuning)  infus lambat, pada pediatri dan geriatri

 Bag of IV fluid
 Non-latex tourniquet

 Sterile bandage or dressing/Gauze (perban steril)


 Alcohol wipes / alcohol swab
 Medical tape / tegaderm
 Infusion Set

L. PENYIMPANAN, KESTABILAN OBAT


1. Penyimpanan
 Suhu dingin (2-8 oC) di kulkas (bukan freezer) :
- Asam klavulanat  kalau disimpan di suhu ruang asam klavulanat
terdegradasi kadar menurun
- Suppositoria  terutama yg terbuat dari oleum cacao  resiko meleleh
pada suhu ruang.
- Insulin  tahan hanya 30 hari kalau di suhu ruang
 Secara umum obat disimpan di tempat sejuk dan kering, seperti pada lemari
atau kotak penyimpanan pada meja rias, di dapur jauh dari kompor.
 Jangan simpan kotak obat di kamar mandi  lembab
 Jauhkan dari panas, cahaya, dan lembab
 Jauhkan dari jangkauan anak kecil kotak obat diletakkan di tempat agak
tinggi sulit dijangkau anak dan dikunci
2. Ketidakstabilan Obat
a. Aspirin berbau cuka
Aspirin mengalami hidrolisis  asam asetat  berbau cuka  rusak
Pasien diberitahukan untuk membuang obat tersebut, tidak digunakan lagi
karena obatnya rusak.
Penyebab : penyimpanan obat yang tidak benar seperti penyimpanan di tempat
panas dan lembab  pasien diberitahukan menyimpan obat di tempat yang
kering dan sejuk.
b. Obat yang berubah warna, bau, tekstur walaupun belum expired
c. Tablet dan kapsul yg jadi lembek, menempel, pecah.
d. Obat yang jadi mengeras, mengendap yang kalau dikocok tidak bisa tersebar
kembali
e. Obat yg sudah lewat expired date

Obat yang sudah rusak harus dibuang, tidak boleh digunakan lagi. Obat yang dibuang
jangan disiram ke dalam toilet mencemari air.
Obat yang rentan terhadap panas dan lembab :
 acetylsalicylic acid/aspirin tablet
 amoxicillin tablet
 sirup paracetamol
 injeksi ergometrine
 injeksi methylergometrine
 injeksi adrenaline
 antibiotik rekonstitusi (dry sirup)
M. PENGGUNAAN OBAT
1. Diabetes
a. Insulin
Dosis :

Penggunaan :
Pada tahap awal diberikan sediaan insulin dengan kerja sedang, kemudian
ditambahkan insulin dengan kerja singkat untuk mengatasi hiperglikemia
setelah makan.
Insulin kerja singkat diberikan sebelum makan, sedangkan Insulin kerja
sedang umumnya diberikan satu atau dua kali sehari dalam bentuk suntikan
subkutan.

- Insulin rapid acting (lispro, aspart, gluisine/ Indonesia : Actrapid)


 5-10 menit sebelum makan
- Insulin short acting (reguler, humulin R, novolin R/ Indonesia : Insulatard)
 15 menit sebelum makan atau segera setelah makan
- Insulin Intermediate acting (NPH/ Indonesia : Monotard)
 15 menit sebelum makan atau segera setelah makan
- Insulin long acting (lantus, levemir/ Indonesia : Protamin)
 1x sehari (diberikan kapan saja tapi harus pada waktu yang sama setiap
harinya)
b. Sulfonilurea menstimulasi pan kreas memproduksi insulin
- Glimepirid (Amaryl)
 1x 1mg dapat ditingkatkan hingga 8 mg, diminum sebelum makan
utama pertama pada hari itu
- Gliclazid (Diamicron MR 60)
 1x30 mg dapat ditingkat hingga 120 mg, diminum sebelum makan
- Glibenclamid
 2,5 – 5 mg sehari sebelum makan

c. Biguanid menghambat hati memproduksi glukosa, meningkatkan


sensitivitas insulin
- Metformin
 500 mg sehari 2-3 x (immediate release) kalau yg sustained release 1x
sehari, diminum saat makan (setelah suapan pertama)
d. Alfa glucosidase inhibitor memperlambat absorpsi karbohidrat
- Acarbose
Awal : 1x50 mg ditingkatkan hingga 3x50 mg maks 3x 200 mg,
diminum saat makan setelah suapan pertama
e. Meglitinida  meningkatkan sekresi insulin
- Repaglinid
0,5 mg, diminnum 30 menit sebelum makan
f. Tiazolidindion meningkatkan sensitivitas insulin
- Pioglitazon
 1x 15-30 mg, diminum sebelum atau sesudah makan (bisa dalam
keadaan perut kosong atau terisi)
g. DPP-4 inhibitor  menghambat DPP-4 sehingga incretin >> sehingga
produksi glukosa di hati berkurang, meningkatkan produksi insulin
- Vildagliptin 2x50 mg, diminum sebelum atau sesudah makan
- Linagliptin 1x 5 mg, diminum sebelum atau sesudah makan
h. GLP-1 analog  meningkatkan incretin sehingga produksi glukosa di hati
berkurang, meningkatkan produksi insulin
- Exenatide injeksi subkutan 2x 5 mcg 1 jam sebelum makan pagi dan
makan malam
i. SGLT-2 inhibitor  mengurangi serapan glukosa dalam ginjal dan dibuang
ke urin
- Dapagliflozin  sehari 1 x 10 mg sebelum atau sesudah makan

2. Hipertensi
a. Diuretik beritahu pasien kalau minum diuretik bakal meningkatkan
frekuensi buang air kecil
- HCT 1x 12,5 mg dapat ditingkatkan hingga 25 – 50 mg pada pagi hari,
sebaiknya pada perut kosong
ES : hipokalemia
- Furosemid 1x 40 mg pada pagi hari diminum sebelum atau sesudah
makan,untuk absorpsi lebih baik pada sebelum makan, tapi untuk
menghindari gangguan pencernaan sesudah makan
- Spironolakton 1x 50mg, diminum saat makan (absorpsi meningkat
dengan adanya makanan)
b. ACE inhibitor  pilihan utk hipertensi dengan komplikasi diabetes/ gagal
ginjal
ES : batuk kering, hiperkalemia, BUN >>
- Captopril sehari 2x 12,5 mg diminum 1 jam sebelum makan atau 2
jam sesudah makan (perut kosong)
- Enalapril  untuk pasien dgn komplikasi DM tipe 1
 1 x 5 mg pada saat sebelum tidur
- Lisinopril 1 x 10 mg pada saat sebelum tidur
c. Angiotensin Receptor Blocker pilihan utk hipertensi dengan komplikasi
diabetes/ gagal ginjal
- Valsartan  1 x 80 mg diminum bisa sebelum atau sesudah makan, lebih
baik perut kosong
- Losartan  1 x 50 mg diminum bisa sebelum atau sesudah makan, lebih
baik perut kosong
- Candesartan pilihan hipertensi dengan komplikasi DM tipe 2
1 x 8 mg bisa sebelum atau sesudah makan
- Irbesartan 1x150 mg
d. CCB  ada 2 jenis DHP (amlodipin, nifedipin) dan Non-DHP (verapamil,
diltiazem)
- Amlodipin  1 x 5 mg-10 mg, diminum bisa sebelum atau sesudah
makan diminum pada waktu yang sama setiap harinya.
- Nifedipin 3 x 5 mg, diminum sebelum atau sesudah makan, hindari jus
anggur. Adalat OROS modified release sehari 1 x
- Verapamil3x80 mg diminum dalam keadaan perut terisi
- Diltiazem 2 x 90-120 mg diminum bisa sebelum atau sesudah makan
e. Beta blocker
- Propranolol 2 x 40 mg diminum saat perut kosong sebelum makan
- Bisoprolol 1x 5-10 mg diminum sebelum atau sesudah makan
f. Alfa blocker
- Terazosin 1 x 1 mg pada saat sebelum tidur tidak boleh saat
berkendara atau saat mengoperasikan mesin
g. Alfa agonis
- Clonidin 3 x 50-100 mcg dapat diminum sebelum atau sesudah makan
3. Jantung
a. Golongan Nitrat
- Isosorbid Dinitrat
Oral (maintenance) 20-120 mg diminum 30 menit sebelum makan
Sublingual 5-15 mg setiap 2- 3 jam ditaruh di bawah lidah (saat
serangan)
b. Antikoagulan
- Warfarin
Oral : dosis awal 5 mg setiap hari, maintenance 3-9 mg setiap hari
diminum pada jam yang sama setiap harinya
 tidak mengonsumsi sayuran hijau, buah anggur, alpukat
kalau terjadi memar dan pendarahan hubungi dokter
hindari penggunaan NSAID, terutama aspirin ganti PCT
hindari olahraga yang kontak dengan kepala yang beresiko
terjadinya luka pada kepala
pastikan pasien tidak hamil (wanita usia produktif) atau pasien
usia >65 tahun atau pasien dengan anemia berat
c. Antiplatelet
- Aspilet 1 x 80 mg diminum sesudah makan (perut terisi)
- Clopidogrel1x 75 mg diminum sebelum atau sesudah makan

4. Hiperlipidemia
a. HMG CoA inhibitor untuk LDL ↑, TG ↑, HDLnya ↓
KI ibu hamil, gangguan hati, hindari minum/makan jus dan buah anggur
berlebihan
- Simvastatin 1 x 10-20 mg diminum pada malam hari
- Lovastatin 1x 10-20 mg diminum malam hari
- Pravastatin 1 x 10-40 mg diminum malam hari
- Atorvastatin 1 x 10-20 mg diminum pada sore hari jam yang sama
setiap harinya
b. Golongan Fibrat untuk TG ↑, HDL↓
KI pasien dengan gangguan hati dan ginjal
- Gemfibrozil  2 x 600 mg, diminum 30 menit sebelum makan (perut
kosong)
- Fenofibrat  3 x 67 mg, diminum bersama dengan makanan
c. Resin penukar empedu  untuk LDL ↑
Dapat meningkatkan TG, kalau TG>200 mg/dl HATI-HATI
KI pasien dengan obstruksi bilier/obstruksi saluran cerna
- Cholestipol 2 x 4 g diminum dengan air, sebelum makan
- Cholesteramin 2 x 2 g dicampurkan dengan 100 ml air, diminum
sebelum makan
d. Niasin untuk LDL ↑, TG ↑, HDLnya ↓
KI pasien dengan ulkus peptik berat, penyakit hati kronis, dan asam urat berat
Meningkatkan asam urat dan glukosa darah
1-2 x 250 mg diminum malam hari sebelum tidur setelah makan snack
dengan kadar rendah lemak (low-fat snack)
e. Ezetimibe  untuk LDL↑
Kalau dikombinasi dengan statin KI untuk pasien dengan gangguan hati
kronis, menyebabkan athralgia/myalgia
1 x 10 mg diminum sebelum atau sesudah makan
f. Omega-3 Untuk TG ↑, HDLnya ↓
Dosis sehari 1-2 x 1 kapsul
5. Asma (pilihan obat lihat catetan bu dika yg asma)
a. Short acting β2-agonis
- Salbutamol
Oral : sehari 3-4 x 2-4 mg, diminum 1-2 jam sebelum makan (perut
kosong)
Inhalasi :
Bronkospasma akut sehari 4 x 1-2 inhalasi @100mcg
Asma berat Awal: 4 inhalasi, lalu 2 inhalasi per 2 menit tergantung
respon
b. Long acting β2-agonis
- Salmeterol
Inhalasi : 2 x 50 mcg inhalasi sampai 100 mg
c. Kortikosteroid
- Flutikason
Inhalasi : ringan 2x100 mcg, berat hingga 2x 500-1000mcg
- Budesonide
Inhalasi : ringan 2 x 200 mcg, berat hingga 2 x 800 mcg
- Methylprednisolon (tappering off), diminum sesudah makan
Hari pertama : 24 mg
(pagi 8 mg, siang 4 mg, sore 4 mg, malam sebelum tidur 8 mg)
Hari kedua : 20 mg (pagi 4mg, siang 4mg, sore 4mg, malam 8mg)
Hari ketiga : 16 mg (pagi 4mg, siang 4 mg, sore 4 mg, malam 4 mg)
Hari keempat : 12 mg (pagi 4mg, siang 4 mg, malam 4 mg)
Hari kelima : 8 mg (pagi 4mg, malam 4 mg)
Hari keempat : 4 mg (pagi 4 mg)
d. Leukotrien modifier
- Montelukast  1 x 10 mg pada malam hari
e. Teofilin
Dosis : 5 mg/kg BB terbagi dalam 3 dosis perharinya, bisa sebelum atau
sesudah makan
6. Alergi, kalau alerginya jadi terganggu pernafasan asma/rhinitis alergi
a. Antihistamin
- CTM OTC product, kalau alergi makanan dan memungkinkan,
rekomendasi dulu ini ES : mengantuk
Sehari 3-4 x 4 mg, diminum sebelum atau sesudah makan
- Cetirizin 1 x 10 mg bisa sebelum/sesudah makan, tidak menyebabkan
kantuk
- Loratadin 1 x 10 mg bisa sebelum/sesudah makan, tidak menyebabkan
kantuk
b. Kortikosteroid topikal mengurangi gatal dan kemerahan
c. Kortikosteroid oral mengurangi bengkak dan mengatasi alergi berat,
penggunaan lebih dari 3 hari harus di tappering off
d. Epinefrin injeksi kalau shock anaphylactic IGD
7. Ibu hamil
a. Hipertensi
Metildopasehari 2- 3 x 250 mg diminum sebelum atau sesudah makan,
kurangi makan tinggi garam
b. Diabetes, usahakan dulu diet makanan. Kalau masih tinggi baru pake insulin
Insulin
- Saran : pakai insulin lispro (yg rapid acting) untuk mengontrol glukosa
setelah makan, aspart kategori C  kurang direkomendasikan.
- Kalau dari awal si ibu hamil sudah kena diabetes tipe 1 atau 2 sebelum
hamil tidak boleh pakai insulin glargine kategori C tidak
direkomendasikan untuk ibu hamil. Insulin glargine sebaiknya diganti
pakai insulin NPH
N. SIGNA RESEP d.in.dim (da in dimio) = berikan
separonya
A d.in.2plo (da in duplo) = berikan 2
a, aa = masing-masing kalinya
accur. = seksama d.in.3plo (da in triplo) = berikan 3
add. = tambahkan kalinya
ad. us. ext. (ad usum externum) = dalam d.d (de die) = sehari
pemakaian luar d.s. (da signa) = berikan dan tulis
ad.us int. (ad usum internum) = dalam d.s.s.ven (de sub signo veneni) =
pemakaian dalam berikan tanda racun
ad. us prop. (ad usum propium) = untuk det (detur) = diberikan
dipakai sendiri dim (dimidio) = separuhnya
adh. (adhibere) = gunakan dtd (da tales doses) = berikan sekian
applic. (applicatur) = digunakan takaran
alt.hor. (alternis horis) = tiap jam dext. (dexter) = kanan
apt. (aptus) = cocok dil (dilutus) = diencerkan
a.c. (ante coenam) = sebelum makan dim. (dimidius) = separuhnya
aur.dext. (a.d.) (auri dextrae) = telinga div.in.p.aeq (divide in partes aequales) =
kanan bagilah dalam bagian yang sama
aur.lev. (a.l.) (aur laevae) = telinga kiri E
aut (aut) = atau E.D. (expiration date) = tanggal
aq bidest (aqua bidestilata) = air suling 2 kadaluarsa
kali e.d (eyes drops) = obat tetes mata
aq comm (aqua communis) = air biasa emuls =emulsi
B e.m.p = sesuai dengan yang tertulis
bid. (biduum) = waktu 2 hari ext.ut (externum utendum) = untuk
b.in.d (bis in die). = 2 kali sehari dipakai diluar
C F
cito : segera f (fac, fiat, fiant) = buat. dibuat
c. (cochlear) = sendok makan (15 ml) filtr. (filtra) = saring
c.th (cochlear thea) = sendok teh (5 ml) f.l (flores) = bunga
c.p (cochlear parfum/pulvis) = sendok fol (folia) = daun
bubur (8 ml) G
cochleat (cochleatin) = sendok demi g (gramma) = gram
sendok gtt. (guttae) = tetes
cc = cc / centimeter kubik gutt.ad.aur. (guttae ad aures) = tetes
c.l.q.s. = jumlah secukupnya telinga
caps.gel.el. = kapsul gelatin dengan gutta. (guttatim) = tetes demi tetes
tutup H
cav = awas h. (hora) = jam
caut (caute) = hati hati h.v (hora vespertina) = malam
cer (cera) = malam, lilin h.m (hora matutina) = pagi pagi
col (cola) = menyari haust (haustus) = diminum sekaligus
conc (concentratus) = pekat h.s (hora somni) = pada waktu mau
consp. (consperge) = taburkan pergi tidur
clysm. (clysma) = enema, lavemen I
cois.comm. (communis) = biasa i.c. (inter cibus) = diantara waktu makan
D i.d. (idem) = sama
d (dosi/dies/dexter) = takaran/hari/kanan I.A. (intra arterium) = suntikkan melalui
d.c. (durante coenam) = pada waktu pembuluh darah arteri
makan
I.C (intra cutan) = suntikkan melalui R., Rp.,Rcp., (recipe) = ambillah
lapisan kulit luar rec. (recens) = baru
I.M. (intra muscular) = suntikkan reiter = dibuat ulangan baru
melalui bagian punggung (lumbal) S
I.V. (intra venous) = suntikkan melalui s. (signa) = tanda
pem.darah vena ss. (semis) = separuh
in. = dalam sol.,solut (solutio) = larutan
in.d. = dari hari ke hari solv. (solve) = larut
inj.subc. = injeksi dibawah statim : penting
kulit/subkutan sum. (sume) = untuk diminum
instill (instilla) = teteskan sup (super) = atas
iter (iteratio/iteretur) = diulang T
L ter in d. (ter in die) = 3 kali sehari
liq. (liquid) = cair ter. (tere) = gosok
lot. (lotus) = dicuci tct., tinct., tra., () tinctura = tingtur
M trit (tritus) = gerus
m (mane, misce) = pagi, campur U
m.f (misce fac) = campur buat urgent : penting
mixt. (mixtura) = campuran u.c (usus cognitus) = pemakaian
N diketahui
ne iter (N.I) (ne iteretur) = jangan u.e (usus externus) = dipakai untuk luar
diulang u.i (usus internus) = dipakai untuk
nedet (n.dt.) (ne detur) = tidak diberikan dalam
O u.v (usus veterinarius) = pemakaian
o.u = kedua mata untuk hewan
o.s. = mata kiri V
o.d = mata kanan vesp. (vaspere) = malam
o.h (omni hora) = tiap jam vit.ov. (vittelum ovi) = kuning telur
o.1/4.h (omni quarta hora) = tiap 1/4
jam
o.m. (omni mane) = tiap pagi
o.n (omni nocte) = tiap malam
opt. (optimus) = sangat baik
P
p.d.sing. (pro dosi singulari) = untuk
dosis tunggal
P.I.M (periculum in mora) = berbahaya
bila ditunda
part.dol (parte dolente) = pada bagian
yang sakit
p.r.n. (pro re nata) = kadang kadang jika
perlu
p.o. (per os) = secara oral
pil (pilula) = pil
pot. (potio) = minuman/larutan
p.c. (post coenam = stelah makan
pulv. (pulvis/pulveratus) = serbuk
Q
q. (quantitas) = banyaknya
q.s. (quantum satis) = secukupnya
R