Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusianya.
Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu untuk menggunakan semua
sumber daya yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan untuk meningkatkan pendidikan dari semua sumber daya
manusianya. Tak dapat dielakkan lagi, pendidikan merupakan salah satu aspek
yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Terlebih,
pendidikan merupakan salah satu pilar pernting bagi peradaban sebuah bangsa.
Pendidikan dan kemajuan bangsa bagaikan dua sisi mata uang. Keberadaannya
saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Karena itulah, kemajuan sebuah
bangsa, sejatinya tidak pernah lepas dari peranan pendidikan.
Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai
oleh setiap Negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju
tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh factor pendidikan. Begitu pentingnya
pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau
mundur, karna seperti kita ketahui bahwa suatu pendidikan tentunya akan
mencetak sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi spiritual,
intelegensi dan skill, dan pendidikan merupakan proses mencetak generasi
penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit
dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan. Bagi suatu bangsa yang
ingin maju, pendidikan harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama
halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka tentunya mutu pendidikan
juga berpengaruh tehadap perkembangan suatu bangsa.
Apa yang dibutuhkan warga dari sebuah system pendidikan? Bagi orang
awam sekalipun pasti tahu bahwa yang dibutuhkan adalah setidaknya
kurikulum yang baik, pengajar yang enak, fasilitas memadai, dan biaya murah.

1
jika bisa. Lalu selebihnya mungkin adalah lingkungan yang kondusif, daya
saing yang tinggi, serta segala aspek lain yang ada di luar ruang sekolah.
Untuk itulah diperlukan suatu kajian yang dapat dijadikan sebagai salah
satu gambaran arah konsep dan kebijakan pendidikan yang baik. Salah satu
caranya adalah dengan melihat dan mencontoh penerapan program pendidikan
di negara maju.
Dalam makalah ini penulis memcoba membahas tentang gambaran umum
mengenai penerapan kurikulum pada pendidikan di Negara Selandia Baru.
Penulis tertarik untuk mengkaji Negara tersebut karena memiliki kemampuan
yang begitu pesat dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tentang kurikulum di
negara-negara maju seperti Selandia Baru (New Zealand) perlu dilakukan
sebagai perbandingan dan masukan dalam mewujudkan pendidikan yang
berkualitas di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusun dapat mengambil masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya yaitu :
1. Bagaimana konsep tentang Kurikulum?
2. Apa saja prinsip-prinsip yang berkaitan dengan Pengembangan Kurikulum?
3. Apa saja model-model yang berkaitan dengan pengembangan Kurikulum?
4. Bagaimana keadaan pendidikan yang diterapkan di Selandia Baru (New
Zealand)?
5. Bagaimana cara pemerintahan negara Selandia Baru (New Zealand)
menyusun kurikulum untuk diterapkan di program pendidikan?
6. Bagaimana cara pemerintahan negara Selandia Baru (New Zealand) dalam
menjalankan kurikulum sehingga pendidikan di negara tersebut
dikategorikan sebagai negara maju?
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum

2
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum pada semester
Empat.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk dapat mengetahui konsep tentang Kurikulum
b. Untuk dapat mengetahui prinsip-prinsip yang berkaitan dengan
Pengembangan Kurikulum
c. Untuk dapat mengetahui model-model yang berkaitan dengan
pengembangan Kurikulum
d. Untuk dapat mengetahui keadaan pendidikan yang diterapkan di Selandia
Baru (New Zealand)
e. Untuk dapat mengetahui cara pemerintahan negara Selandia Baru (New
Zealand) menyusun kurikulum untuk diterapkan di program pendidikan
f. Untuk dapat mengetahui cara pemerintahan negara Selandia Baru (New
Zealand) dalam menjalankan kurikulum sehingga pendidikan di negara
tersebut dikategorikan sebagai negara maju

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep tentang Kurikulum


Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan
praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan
yang dianutnya. Fokusan yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori
kurikulum adalah konsep kurikulum. Menurut Sukmadinata (2000: 27), bahwa
terdapat tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai
sistem, dan sebagai bidang studi, dimana penjelasan lengkapnya yaitu sebagai
berikut:
1. Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi. Kurikulum dipandang
sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau
sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga
dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan,
bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu
kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil
persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang
kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat. Suatu kurikulum juga dapat
mencakup lingkup tertentu, suatu sekolah, suatu kabupaten, propinsi,
ataupun seluruh negara.
2. Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu sistem, yaitu sistem
kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan,
sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum
mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun
suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya.
Hasil dari suatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan
fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar
tetap danamis.

4
3. Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi
kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli
pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah
mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka
yang mendalami bidang kurikulum, mempelajari konsep-konsep dasar
tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan
penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal baru yang dapat
memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.
Menurut Ahid (2006: 18),bahwa dalam dunia pendidikan, kurikulum
mempunyai arti sebagai berikut:
1. Kurikulum dalam arti sempit atau tradisional
Dalam arti sempit atau tradisional, kurikulum sebagai a course, as a
specific fixed course of study, as in school or college, as one leading to a
degree. Dalam pengertian ini, kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran di
sekolah atau di perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mendapatkan
ijazah atau naik tingkat.
Carter V. Good mengemukakan pengertian kurikulum adalah a
systematic group of course or subject required for graduation in major field
of study. Kurikulum merupakan sekumpulan mata pelajaran atau sekwens
yang bersifat sistematis yang diperlukan untuk lulus atau mendapatkan
ijazah dalam bidang studi pokok tertentu. Robert Zaiz berpendapat
curriculum is a resources of subject matters to be mastered. Kurikulum
adalah serangkaian mata pelajaran yang harus dikuasai.
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah
sejumlah mata pelajaran yang disajikan guru kepada siswa untuk
mendapatkan ijazah atau naik tingkat. Pengertian kurikulum ini, saat
sekarang, sama dengan “rencana pelajaran di sekolah, yang disajikan guru
kepada murid.” Arieh Levy mengemukakan, kurikulum semacam ini, tidak
lebih dari daftar singkat mengenai sasaran dan isi pendidikan yang diajarkan
di sekolah atau program silabus atau pokok bahasan yang akan diajarkan.

5
2. Kurikulum dalam arti luas atau modern
Kurikulum dalam pengertian ini bukan sekedar sejumlah mata pelajaran,
tetapi mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas. Yakni, sesuatu yang
nyata terjadi dalam proses pendidikan.
Pendapat para ahli di bawah ini mencerminkan pengertian kurikulum di
atas, antara lain:
a. Ronald Doll mengemukakan bahwa kurikulum ... all the experiences
which are offered to learners under the auspices or direction of the
school. Kurikulum meliputi semua pengalaman yang disajikan kepada
murid di bawah bantuan atau bimbingan sekolah.
b. William B. Ragan mengartikan kurikulum ... all the experiences of
children for which the school accepts responsibility. Kurikulum adalah
semua pengalaman murid di bawah tanggung jawab sekolah.
c. Harold B. Alberty dan Elsie J. Alberty mendefinisikan kurikulum all of
the activities that are provided for student by the school constitute, its
curriculum. Kurikulum adalah segala kegiatan yang dilaksanakan
sekolah bagi murid-murid.
Dari sejumlah pendapat di atas dapat disimpulkan, kurikulum adalah
semua pengalaman, kegiatan, dan pengetahuan murid di bawah bimbingan
dan tanggung jawab sekolah atau guru. Pengertian kurikulum ini
memberikan implikasi pada program sekolah bahwa semua kegiatan yang
dilakukan murid dapat memberikan pengalaman belajar. Kegiatan-kegiatan
tersebut dapat meliputi kegiatan di dalam kelas. Misalnya, kegiatan dalam
mengikuti proses belajar mengajar (tatap muka), praktek keterampilan, dan
sejenisnya, atau kegiatan di luar kelas, seperti kegiatan pramuka, wisata
karya, kunjungan ke tempat tempat wisata/sejarah, peringatan hari-hari
besar nasional dan keagamaan, dan sejenisnya. Bahkan, semua kegiatan
yang berhubungan dengan pergaulan antara murid dengan guru, murid
dengan murid, murid dengan petugas sekolah, dan pengalaman hidup murid
sendiri. Tegasnya, pengertian kurikulum ini mengandung cakupan yang
luas, karena meliputi semua kegiatan murid, pengalaman murid, dan semua

6
pengaruh, baik fisik maupun non fisik terhadap pertumbuhan dan
perkembangan murid.

B. Prinsip-Prinsip yang Berkaitan dengan Pengembangan Kurikulum


Menurut Pambudi (2006: 3), bahwa dikutip dari beberapa sumber, dapat
diketahui prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yaitu sebagai berikut:
1. Soetopo dan Soemanto (1993: 48-50) pengembangan kurikulum perlu
memperhatikan prinsip-prinsip relevansi, efektivitas, efisiensi, kontinuitas,
dan fleksibilitas. Prinsip-prinsip tersebut merupakan landasan yang kokoh
untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa, guru,
dan masyarakat.
2. Permen Diknas 22/2006: Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang
pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite
sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta
panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum
dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya
Peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan
kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
b. Beragam dan terpadu
Memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah,
dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku,
budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender.
Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum,
muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam
keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.

7
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni
Atas dasar kesadaran bahwa ipteks berkembang secara dinamis, dan
oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik
untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilpteks.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin
relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di
dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh
karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir,
keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan
vokasional merupakan keniscayaan.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,
bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
f. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan
nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan
kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan
dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

8
Menurut Lanberta (2015: 1), bahwa Prinsip adalah suatu hal yang sifatnya
sangat penting dan mendasar, terlahir dari dan menjadi suatu kepercayaan.
Prinsip pengembangan kurikulum dapat dibedakkan menjadi 2, yaitu;
1. Prinsip Umum
a. Prinsip Relevansi, artinya kesesuaian. Terbagi atas dua jenis, yaitu;
relevansi eksternal dan internal. Eksternal artinya kurikukum harus sesuai
dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan internal, yaitu
kesesuaian antarkomponen kurikulum itu sendiri.
b. Prinsip Fleksibilitas, berarti suatu kurikulum harus lentur (tidak kaku),
terutama dalam hal pelaksanaannya.
c. Prinsip Kontinuitas, artinya kurikulum dikembangkan secara
berkesinambungan, yang meliputi sinambung antarkelas dan antarjenjang
pendidikan.ditujukkan agar proses pendidikan dapat maju secara
berkesinambungan.
d. Prinsip Praktis atau Efisiensi, kurikulum harus mudah atau praktis
diterapkan di lapangan.
e. Prinsip Efektivitas, kurikulum harus berorientasi pada satu tujuan
tertentu yang ingin dicapai. Karena tujuan akan mengarahkan dan
memudahkan dalam implementasi kurikulum itu sendiri.
2. Prinsip Khusus
a. Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan,
1) Ketentuan dan kebijakan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam
dokumen lembaga negera mengenai tujuan strategi pembangunan
pendidikan.
2) Survei tentang mapower(sumberdaya manusia/tenaga kerja)
3) Penelitian, dll
b. Prinsip yang berkenaan dengan isi pendidikan,
1) Isi bahan pelajaran harus meliputi pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
2) Perlu penjabaran tujuan pendidikan, kurikulum dan pembelajaran
kedalam perbuatan hasil belajar.

9
3) Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutaj yang logis dan
sistematis.
c. Prinsip berkenaan dengan proses pembelajaran
Menentukan pendekatan, strategi yang digunakan dalam proses
pembelajaran, apakah strategi yang digunakan cocok untuk mengajarkan
bahan pelajaran?, hal yang perlu diperhatikan salah satunya menurut
Jeffrey G. Wong, MD : “What strategy/activity will best help the learner
attain the goals and objectives?”
d. Prinsip berkenaan dengan media dan alat bantu pembelajaran
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien perlu
didukung oleh penggunaan media dan alat bantu pembelajaran yang
tepat.
e. Prinsip yang berkenaan dengan evaluasi
Prinsip evaluasi, yaitu objektivitas, komprehensif, kooperatif,
mendidik, akuntabilitas, dan praktis. Dalam praktiknya, ada 5 fase
pengembang kurikulum dalam kegiatan evaluasi yaitu perencanaan
evaluasi, pengembangan alat evaluasi, pengumpulan data, pengolahan
hasil evaluasi, laporan dan pemanfaatan hasil evaluasi.

C. Model-Model yang Berkaitan dengan Pengembangan Kurikulum


Model pengembangan kurikulum adalah model yang digunakan untuk
mengembangkan suatu kurikulum, dimana pengembangan kurikulum
dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat
untuk dikembangkan sendiri baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah
atau sekolah. Menurut Prawijaya (2015: 1), bahwa macam-macam model
pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:
1. Model Tyler
Model Tyler adalah model yang paling dikenal bagi perkembangan
kurikulum dengan perhatian khusus pada fase perencanaan, dalam bukunya
Basic Principles of Curriculum and Instruction. The Tyler Rationale, suatu

10
proses pemilihan tujuan pendidikan, dikenal luas dan dipraktekkan dalam
lingkungan kurikulum.

Gambar 1. Model Pengembangan Kurikulum Tyler


Tyler menyarankan perencana kurikulum (1) mengidentifikasi tujuan
umum dengan mengumpulkan data dari tige sumber, yaitu pelajar,
kehidupan diluar sekolah dan mata pelajaran. Setelah mengidentifikasi
beberapa tujuan umum, perencana (2) memperbaiki tujuan-tujuan ini dengan
menyaring melalui dua saringan, yaitu filsalat pendidikan dan filsafat sosial
di sekolah, dan pembelajaran psikologis. (3) tujuan umum yang lolos
saringan menjadi tujuan-tujuan pengajaran.
2. Model Taba (Converter Model)
Taba menggunakan pendekatan akar rumput (grass-roots approach) bagi
perkembangan kurikulum. Taba percaya kurikulum harus dirancang oleh
guru dan bukan diberikan oleh pihak berwenang. Menurut Taba guru harus
memulai proses dengan menciptakan suatu unit belajar mengajar khusus
bagi murid-murid mereka disekolah dan bukan terlibat dalam rancangan
suatu kurikulum umum. Karena itu Taba menganut pendekatan induktif
yang dimulai dengan hal khusus dan dibangun menjadi suatu rancangan
umum.

11
Gambar 2. Model Pengembangan Kurikulum Taba (Converter Model)
3. Model Wheeler

Gambar 3. Model Pengembangan Kurikulum Wheeler


Dalam bukunya yang cukup berpengaruh, Curriculum Process, Wheeler
(1967) mempunyai argumen tersendiri pengembangan kurikulum
(curriculum developers) dapat menggunakan suatu proses melingkar (a
cycle process), yang namanya setiap elemen saling berhubungan dan
bergantungan.
Pendakatan yang digunakan Wheeler dalam pengembangan kurikulum
pada dasarnya memiliki bentuk rasional. Setiap langkah kurikulum pada
dasarnya memiliki bentuk rasional. Setiap langkah (phase)nya merupakan
pengembangan secara logis terhadap model sebelumnya, di mana secara

12
umum langkah tidak dapat dilakukan sebelum langkah-langkah sebelumnya
telah diselesaikan.
Dari lima langkahnya ini, sangat tampak bahwa Wheeler
mengembangkan lebih lanjut apa yang telah dilakukan Tyler dan Taba
meski hanya dipresentasikan agak berbeda.
4. Model Nicholis

Gambar 4. Model Pengembangan Kurikulum Nicholis


Dalam bukunya, developing curriculum: A Participial Guide (1978),
Audrey dan Howard Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang
cukup tegas mencakip elemen-elemen kurikulum dengan jelas dan ringkas.
Buku tersebut sangat popular di kalangan pendidik, khususnya di Inggirs, di
mana pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah sudah lama ada.
Audrey dan Nichllos mendifisikan kembali metodenya Tyler, Taba,
Wheeller dengan menekan pada kurikulum proses yang bersiklus atau
bentuk lingkaran, dan ini dilakuakan demi langkah awal, yaitu analisis
situasi (situasional analysis). Kedua penulis ini mengukapkan bahwa
sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau dilakukan dengan lebih jelas,
konteks dan situasi di mana keputusan kurikulum itu harus dibuat harus
diperrtimbangkan dengan secara mendetail dan serius. Dengan demikian,
analisis situasi menjadi langkah pertama (preliminary stage) yang membuat

13
para pengembang kurikulum memahami faktor-faktor yang akan mereka
kembangkan.
5. Model Skillbek

Gambar 5. Model Pengembangan Kurikulum Skillbek


Malkom Skilback, direktur Pusat Pengembangan Kurikulum Austalia
(Australia’s Curriculum Development Center), mengembangkan suatu interaksi
altertnatif atau model dinamis bagi model proses kurikulum.
Model dinamis atau interaktif (dyanamic or interactive models)
menetapakan pengembangan kurikulum harus mendahulukan suatu elemen
kurikulum dan memulainya dengan suatu dari urutan yang telah ditetntukan
dan diajurkan oleh model rasional. Skilbeck mendukung petunjuk tersebut,
menambahkan sangat penting bagi developers untuk menyadari sumber-
sumber tujuan mereka. Untuk mengetahui sumber-sumber tersebut, Skilbeck
berpendapat bahwa “a situasional analysis” harus dilakukan.
6. Model Saylor

Gambar 6. Model Pengembangan Kurikulum Saylor

14
Model ini membentuk curriculum planning process (proses perencanaan
kurikulum).Untuk mengerti model ini, kita harus menganalisa konsep
kurikulum dan konsep rencana kurikulum mereka. Kurikulum menurut
mereka adalah "a plan for providing sets of learning opportunities for
persons to be educated" ; sebuah rencana yang menyediakan kesempatan
belajar bagi orang yang akan dididik.
Model ini menunjukkan bahwa perencana kurikulum mulai dengan
menentukan atau menetapkan tujuan sasaran pendidikan yang khusus dan
utama yang akan mereka capai. Saylor, Alexander dan Lewis,
mengklasifikasi serangkaian tujuan ke dalam empat (4) bidang kegiatan
dimana pembelajaran terjadi, yaitu : perkembangan pribadi, kompetensi
social, ketrampilan yang berkelanjutan dan spesialisasi. Setelah tujuan dan
sasarn serta bidang kegiatan ditetapkan, perencana memulai proses
merancang kurikulum. Diputuskan kesempatan belajar yang tepat bagi
masing-masing bidang kegiatan dan bagaimana serta kapan kesempatan ini
akan disediakan. Akhirnya perencana kurikulum dan guru terlibat dalam
evaluasi.

15