Anda di halaman 1dari 5

A.

Mekanisme Kerja Hormon Dalam Metamorfosis


Peranan hormone dalam metamorphosis meliputi proses pengelupasan kulit
(molting/ekdisis), pembentukan pupa, dan pengelupasan kulit nimfa. Ada tiga
hormone yaitu hormone otak atau ecdysiotropin, disimpan dalam cropora
cardiac (satu steroid), hormone molting (ecdyson), juga steroid. Dihasilkan oleh
kelenjar protoraks (terletak pada segmen pasangan kaki) sehingaga disebut juga
protoracic gland hormone (PGH), dan hormone juvenile yang dihasilkan oleh
corpora alata (terletak di dekat otak). Hormone berupa farnesol, sebagai
precursor kolesterrol dan sterol lainnya. Secara berkala, sel neurosekretori
dalam otak mengeluarkan hormone ecdysiotropin. Fungsinya merangsang
kelenjar protoraks menghasilkan ecdyson. Fungsi ecdyson yaitu merangsang
pertumbuhan epidermis menghasilkan perubahan kutikula baru dan
menyebabkan perubahan kulit (molting).
Jika hormone otak dihilangkan ecdyson tidak ada, maka pengelupasan kulit
berhenti. Jika tanpa hormone juvenile, maka akan berdeferensiasi menjadi
bentuk dewasa. Ecdyson dihasilkan terus sampai larva menjadi dewasa. Pada
dewasa tidak dihasilkan lagi, karena kelenjar protoraks telah mengalami
degenerasi. Namun corpora allata masih menghasilkan hormone juvenile
setelah dewasa, berfungsi untuk metabolism protein, lemak dan untuk
membentuk protein vitelogenik. Hormone yang mengendalikan metamorphosis
merupakan kerja dari gen yang secara brgantian mengontrolkerja gen lainnya.
Hal ini dapat dilihat adanya pita-pita tertentu pada kromosom terbentuk “puff”
yaitu: tempat berlangsungnya sintesis protein. Senyawa tertentu seperti
azadiractin, dari ekstrak pohon neem (Azadiracta indica), mampu menghambat
proses pengelupasan kulit. Melalui cara pengeblokan sistem endokrin,
sehingaga menghambat sintesis ecdyson.
Tipe-tipe larva:

1. Campodeiform, yaitu larva yang bentuk tubuh pipih (gepeng), kaki panjang,
biasanya memiliki cerci dan caudal filaments, kepala prognathous, umumnya
sangat aktif dan berperan sebagai predator, misalnya larva pada ordo coleopteran
seperti kumbang koksi

2. Scarabeiform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical dan membentuk huruf
C, kepalanya hypognathous dan terbentuk dengan jelas, memiliki kaki pada toraks
dan pendek, tidak memiliki proleg, misalnya adalah larva kumbang tanah
3. Carabiform, yaitu larva yang bentuknya merupakan modifikasi larva
campodeiform yang mana tubuhnya gepeng tetapi kakinya lebih pendek dan
umumnya tidak memiliki caudal filaments misalnya pada ordo coleopteran seperti
chrysomelidae, lampyridae, carabidae, melyridae

4. Elateriform, yaitu larva yang bentuk tubuhnya cylindrical-memanjang serta dinding


tubuhnya tebal dank eras, setae jauh berkurang, kaki biasanya ada tapi pendek,
kepala prognathous dan umumnya pemakan tumbuhan misalnya tenebrio molitor,
elaterridae, alleculidae, ptilodactylidae, dan eurypogonidae

5. Platyform, yaaitu larva dengan bentuk tubuh pendek, lebar dan gepeng, kakinya
sangat pendek, kepala hypognathous, beberapa spesies mempunyai duri yang
beracun umumnya pemakan tumbuhan misalnya larva limacoid
6. Eruciform, yaitu larva dengan bentuk cylindrical dengan ruas tubuh yang sangat
jelas, memiliki kaki toraks dan proleg, kepala hypognathous dan jelas terbentuk,
kakinya sangat pendek, antena sangat kecil misalnya larva ordo Lepidoptera,
tenthredinidae, dan mecoptera

7. Vermiform, yaitu larva dengan bentuk tubuh yang menyerupai cacing, cylindrical,
memanjang, tanpa lokomotif appendages, apodous sehingga bergerak
menggunakan gerakan peristaltic hidroskeleton tubuhnya, tidak bermata, misalnya
sebagian besar larva ordo diptera (tephritidae), larva woodboring beetles, beberapa
sawflies dan flea beetles genus systena dan epitrix, larva hymenoptera