Anda di halaman 1dari 3

Neysa Aprita Kuswara/414061

RANGKUMAN

KASUS MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN PT.KAI TAHUN 2006

A. Pembahasan Kasus

Salah satu badan usaha milik negara, yakni PT Kereta Api Indonesia (PT.KAI) ini terdeteksi adanya kecurangan
dalam penyajian laporan keuangan dan juga terdapat masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi. Kasus ini
memperlihatkan suatu proses tata kelola yang dijalankan dalam perusahaan, dan juga peran dari tiap-tiap organ
pengawas didalam memastikan penyajian laporan keuangan tidak salah saji dan mampu menggambarkan keadaan
keuangan perusahaan yang sebenarnya.

B. Kronologi Kasus

Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengungkapkan ada yang tidak beres pada laporan keuangan itu
telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003
dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk tahun 2004 diaudit oleh
BPK dan akuntan publik. Selanjutnya Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT KAI untuk disetujui
sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan Hekinus Manao (komisaris PT.KAI) itu menolak
menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Diduga, manipulasi
laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, akumulasi
permasalahan terjadi disini.

Dalam laporan kinerja keuangan tahunan yang diterbitkannya pada tahun 2005, PT.KAI dicatat meraih keutungan
sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal kenyataannya apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita
kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Kerugian ini terjadi karena PT Kereta Api Indonesia telah tiga tahun tidak dapat
menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak pihak ketiga dinyatakan sebagai pendapatan.
Padahal, berdasarkan standar akuntansi keuangan, ia tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset.
Dengan demikian, kekeliruan dalam pencatatan transaksi atau perubahan keuangan telah terjadi di sini.
C. Rincian Manipulasi Pada Laporan Keuangan PT.KAI Tahun 2005

1. Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2
Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan
keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak
itu. Manajemen menganggap bahwa pemberian jasa yang dilakukannya tidak kena PPN, namun karena Dirjen
Pajak menagih PPN atas jasa tersebut, PT. KAI menagih PPN tersebut kepada pelanggan.

2. Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat
dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun.
Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6
Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.

3. Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya (BPYDBS) dengan modal total nilai komulatif sebesar Rp
674,5 Miliar dan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam
neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan
penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan.
4. Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban
pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun
1998 sampai 2003.

5. Biaya yang dibayar dimuka sebesar Rp. 28 milyar yang merupakan gaji bulan Januari 2006 dan seharusnya
dibayar tanggal 1 Januari 2006 tetapi telah dibayar per 31 Desember 2005 diperlakukan sebagai uang muka biaya
gaji, yang menurut Komite Audit harus dibebankan pada tahun 2005.

D. Masalah Kode Etik

Akuntan Internal PT KAI dan KAP S Manan belum sepenuhnya menerapkan 8 Prinsip Etika Akuntan:

 Tanggung jawab profesi, Internal Akuntan PT. KAI, kurang bertanggung jawab akan kelalaian tidak
menelusuri kekeliruan dalam pencatatan, sehingga LK yang dilaporan bersifat tidak valid.

 Kepentingan Publik, pihak ketiga seperti kreditor, investor dll merasa dirugikan oleh manipulasi yang
dilakukan PT KAI karena memberikan informasi yang salah mengenai keuntungan BUMN ini.

 Integritas, Akuntan Internal PT. KAI tidak melakukan tanggung jawab profesi yang memadai sehingga
berkurangnya integritas BUMN tersebut.

 Objektifitas, dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena diduga telah memanipulasi
laporan keuangan sehingga dapat menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada di PT. KAI.

 Kerahasiaan, dalam kasus ini akuntan sudah menerapkan prinsip kerahasiaan karena hanya melaporkan
laporan yang dapat dipublikasikan saja.

 Kompetensi dan ke hati-hatian professional, akuntan internal PT KAI tidak melaksanakan hal yang
menyangkut professional seorang akuntan, yang menyebabkan kerugian bagi perusahaan BUMN
tersebut.

 Perilaku Profesional, Akuntan internal PT KAI dan Audit Publik KAP S Manan tidak berperilaku professional
dengan reputasi profesi yang baik dan mencoreng nama instansi diatas mereka.

 Standar Teknis, Akuntan internal PT KAI dan KAP S Manan tidak menjalankan tugas profesinya dengan
mengacu dan memahami standar teknis dan standar professional yang relevan sesuai SAK di Indonesia

Melihat kasus manipulasi Laporan Keuangan PT KAI dan pelaporan tidak sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Maka akuntan perlu menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika
profesi.Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang
sangat menyesatkan. Adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk
penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya.

Referensi

http://m.liputan6.com/news/read/127525/audit-laporan-keuangan-pt-kai-masih-diperdebatkan

https://m.antaranews.com/berita/38743/komisaris-bongkar-dugaan-manipulasi-laporan-keuangan-pt-kereta-api

(Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006).

https://vkrmam.wordpress.com/2015/04/26/pelanggaran-etika-profesi-akuntansi-pada-pt-kai-2006/

http://yogiramdani24.blogspot.co.id/2016/04/bedah-kasus-audit-umum-pt-kai-indonesia.html?m=1

http://yusrinadirayati.blogspot.co.id/2015/11/analisis-kecurangan-dalam-laporan_19.html?m=1
https://onewytria.wordpress.com/2017/10/09/pelanggaran-etika-profesi-akuntansi-pada-pt-kereta-api-
indonesia-tahun-2006/
Di lain pihak, PT Kereta Api Indonesia memandang bahwa kekeliruan pencatatan tersebut hanya terjadi karena
perbedaan persepsi mengenai pencatatan piutang yang tidak tertagih. Terdapat pihak yang menilai bahwa piutang
pada pihak ketiga yang tidak tertagih itu bukan pendapatan. Sehingga, sebagai konsekuensinya PT Kereta Api
Indonesia seharusnya mengakui menderita kerugian sebesar Rp. 63 milyar. Sebaliknya, ada pula pihak lain yang
berpendapat bahwa piutang yang tidak tertagih tetap dapat dimasukkan sebagai pendapatan PT Kereta Api Indonesia
sehingga keuntungan sebesar Rp. 6,90 milyar dapat diraih pada tahun tersebut.