Anda di halaman 1dari 10

TUGAS AGROFORESTRY

Definisi Agroforestry dan Resume Artikel


Judul: “Smallholder Cacao (Theobroma cacao Linn.) Cultivation in
Agroforestry Systems of West and Central Africa: Challenges and
Opportunities”

Disusun Oleh:
Nama : Nadya Awaliah
Kelas :C
NIM : 155040201111216
Dosen Pengampu : Syahrul Kurniawan, SP., MP., Ph. D.

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2018
I. Definisi Agroforestry
Agroforestry memiliki berbagai definisi berbeda yang berasal dari berbagai
sumber, berikut ini adalah definisi agroforestry dari berbagai sumber dan versi.
Agroforestry menurut Hairiah (2003) merupakan sistem penggunaan lahan secara
terpadu yang didalamnya mengombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian
dan/atau ternak (hewan) yang dilakukan baik secara bersama-sama atau bergilir dengan
tujuan untuk menghasilkan dari penggunaan lahan yang optimal dan berkelanjutan.
Agroforestry menurut King dan Chandler (1979) dalam Hairiah (2003), yaitu sistem
penggunaan lahan berkelanjutan yang mampu mengoptimalkan penggunaan lahan
yang dilakukan dengan pengombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian
dan/atau hewan (ternak) dengan menerapkan teknik pengelolaan yang praktis sesuai
dengan budaya setempat pada lahan yang dikelola.
Agroforestry menurut Andayani (2005), diartikan sebagai sebuah nama gabungan
dari hasil sistem nilai masyarakat yang berkaitan dengan model-model penggunaan
hutan secara lestari. Namun, dalam bahasa Indonesia agroforestry dikenal dengan
sebutan wanatani yang artinya melakukan pembudidayaan tanaman kehutanan dengan
tanaman pertanian pada suatu lahan. Menurut Anggraeni (2002), agroforestry
dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestry sederhana dan sistem
agroforestry kompleks. Perbedaan kedua sistem tersebut yaitu:
1. Sistem Agroforestry Sederhana merupakan perpaduan satu jenis tanaman
tahunan dengan satu atau beberapa jenis tanaman semusim. Jenis pohon yang
ditanam pada lahan tersebut merupakan tanaman-tanaman yang bernilai
ekonomi tinggi seperti karet (Havea braziliansis), kelapa (Cocus nucefera),
cengkeh (Syzygium aromaticum), dan jati (Tectona grandis). Ada juga tanaman
yang ditanam merupakan tanaman yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap
(Eruthina sp.), lamtoro (Leucaena leucocephala), kaliandra (Calliandra
haematocephalla). Tanaman semusim yang biasa ditanam yaitu padi, jagung,
palawija, sayur mayur, atau jenis tanaman lain seperti pisang (Musa
paradisiaca), kopi (Coffea sp.), dan kakao (Theoborma cacao).
2. Sistem Agroforestry Kompleks merupakan suatu sistem pertanian menetap
yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan dirawat
oleh penduduk setempat dengan pola tanam dan ekosistem seperti kawasan
hutan. Sistem ini mencakup sejumlah besar komponen pepohonan, perdu,
tanaman semusim dan/atau rumput. Penampakan fisik dan dinamika
didalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam baik primer maupun sekunder.

Beberapa ciri penting agroforestry yang dikemukakan oleh Lundgren dan Raintree
(1982) dalam Hairiah dkk., (2003) adalah:
1. Agroforestry biasanya tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman
dan/atau hewan). Paling tidak satu di antaranya tumbuhan berkayu.
2. Siklus sistem agroforestry selalu lebih dari satu tahun.
3. Ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan tanaman
tidak berkayu.
4. Selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi product), misalnya pakan
ternak, kayu bakar, buah-buahan, obat-obatan.
5. Minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa (service function), misalnya
pelindung angin, penaung, penyubur tanah, peneduh sehingga dijadikan pusat
berkumpulnya keluarga/masyarakat.
6. Untuk sistem pertanian masukan rendah di daerah tropis, agroforestry
tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomasa tanaman terutama dengan
mengoptimalkan penggunaan sisa panen.
7. Sistem agroforestry yang paling sederhana pun secara biologis (struktur dan
fungsi) maupun ekonomis jauh lebih kompleks dibandingkan sistem budidaya
monokultur.

Menurut Sardjono (2003), ada beberapa klasifikasi agroforestry antara lain adalah
klasifikasi berdasarkan komponen penyusunnya yang terbagi menjadi:
a. Agrisilvikultur (Agrisilvicultural Systems) merupakan sistem agroforestry yang
mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan
komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan
yang berdaur panjang dan tanaman non-kayu dari jenis tanaman semusim
(annual crops). Dalam agrisilvikultur, ditanam pohon serbaguna atau pohon
dalam rangka fungsi lindung pada lahan-lahan pertanian. Tanaman serbaguna
diantaranya adalah tanaman yang bermanfaat sebagai tanaman pagar,
penghalang angina maupun sebagai konservasi tanah.
b. Silvopastura (Silvopastural Systems) merupakan system agroforestry yang
meliputi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan komponen
peternakan disebut sebagai sistem silvopastura. Beberapa contoh silvopastura
antara lain: pohon atau perdu pada padang penggembalaan atau produksi
terpadu antara ternak dan produk kayu.
c. Agrosilvopastura (Agrosilvopastural Systems) pengkombinasian komponen
berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus
peternakan/binatang pada unit manajemen lahan yang sama. Pengkombinasian
dalam agrosilvopastura dilakukan secara terencana untuk mengoptimalkan
fungsi produksi dan jasa (khususnya komponen berkayu/kehutanan) kepada
masyarakat. Tidak tertutup kemungkinan bahwa kombinasi dimaksud juga
didukung oleh satwa liar.
II. Resume Artikel
Judul: “Smallholder Cacao (Theobroma cacao Linn.) Cultivation in Agroforestry
Systems of West and Central Africa: Challenges and Opportunities”

Kakao (Theobroma cacao Linn.) adalah salah satu tanaman budidaya yang
memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan oleh petani skala kecil pada
Afrika bagian Barat dan Tengah. Pada tahun 1996, total produksi dari empat negara
penghasil terbesar di Afrika yaitu Côte d’Ivoire, Ghana, Nigeria, Cameroon, dan Togo
yang menyumbang 65% dari output global (ICCO 1997). Dibandingkan dengan
kegiatan pertanian lainnya, kakao telah menjadi sub sektor unggulan dalam
pertumbuhan ekonomi dan perkembangan negara-negara ini.
Pada akhir tahun1980-an, sektor kakao telah mengalami beberapa guncangan
ekonomi. Hal ini terutama terjadi di negara-negara seperti Kamerun dan Pantai Gading
yang ekonominya sangat bergantung pada sektor kakao. Penurunan drastis harga dunia
kakao dan komoditas lainnya pada saat itu menyebabkan masalah ekonomi domestik
yang substansial di kedua negara. Petani kakao dan banyak pegawai negeri yang
kehilangan pekerjaan atau dihadapkan pada pemotongan gaji menanggapi krisis
tersebut dengan meningkatkan aktivitas produksi pangan untuk mengkompensasi
hilangnya pendapatan. Hal ini diperburuk dengan adanya peningkatan pembukaan
hutan yang sangat signifikan dengan konsekuensi negatif lingkungan, ekonomi dan
juga politik. Terlepas dari masalah ini, produksi kakao pada tahun 1996 dari Côte
d’Ivoire, Ghana, Nigeria, Cameroon, dan Togo masih menyumbang 65% dari output
global (ICCO 1997).
Secara teknis terdapat beberapa faktor yang dapat menunjukkan bahwa
penanaman kakao dalam sistem agroforestri di Afrika Barat dan Tengah berdampak
baik pada lingkungan. Pada tahun 1997, anggaran perusahaan menunjukkan bahwa
sistem ini memberikan keuntungan secara ekonomi tidak seperti tahun-tahun
belakangan ini. Untuk mempertahankan kepentingan petani dan mempromosikan
praktik agroforest kakao yang berkelanjutan, harmonisasi kebijakan ekonomi yang
sistematis yang mempengaruhi sistem manajemen yang lebih baik melalui penerapan
pengetahuan dan prinsip tradisional secara partisipatif sangat penting. Jurnal ini
membahas faktor yang berperan penting bagi sistem agroforestri kakao yang ada,
peluang dan tantangan ekonomi dan ekologi serta strategi pengelolaan untuk
meningkatkan produksi kakao yang berkelanjutan di wilayah ini.
Praktek Budidaya dan Penanaman Tumpangsari
Praktek budidaya kakao yang dominan di daerah barat dan tengah Afrika
melibatkan penanaman pohon kakao di hutan sekunder atau hutan bera, diseleksi secara
selektif dan ditanam ke berbagai jenis tanaman pangan untuk satu atau dua musim
(Duguma et al 1990; Duguma dan Franzel 1996). Saat lahan dibersihkan, tanaman
buah, obat-obatan, dan jenis pohon kayu sengaja dipertahankan baik untuk nilai
ekonominya dan berperan sebagai tanaman peneduh bagi tanaman kakao.
Mempertimbangkan kepadatan spesies pohon alami dan tingkat kematian bibit
kakao yang tersisa, sistem budidaya ini dikembangkan dengan menanam tanaman
pohon tambahan, seperti mangga (Mangifera indica), plum Afrika (Dacryodes edulis),
alpukat (Persea americanum), jambu biji (Psidium guajava), jeruk (Citrus sinensis),
dan mandarin (Citrus reticula). Karena pohon kakao dan komponen lainnya dapat
tumbuh hingga dewasa, agroforest menjadi sistem multi-strata tertutup yang lebih
beragam dan struktural yang menyerupai hutan alam. Beberapa ahli telah
menyampaikan bahwa ada potensi besar untuk melakukan diversifikasi lebih lanjut dan
meningkatkan produktivitas dan ketahanan lingkungan dari sistem tanam berbasis
pohon ini, termasuk agroforest kakao di wilayah Afrika (Duguma et al 1990; Leakey
1998).
Faktor Biofisik dan Lingkungan
Produksi tanaman pangan berdasarkan praktik tebang-dan-bakar atau
perladangan berpindah dan penanaman pohon atau agroforest adalah dua sistem
penggunaan lahan dominan di Afrika Barat dan Tengah (Duguma et al 1990; Duguma
dan Franzel, 1996). Praktek pertanian tebang-dan-bakar untuk membuka lahan bagi
penanaman tanaman pangan berdampak pada vegetasi alami dan menghadapkan tanah
ke faktor iklim yang keras seperti radiasi matahari yang intens dan hujan lebat,
sehingga menyebabkan terganggunya siklus hara tertutup. Membakar vegetasi setelah
penebangan jelas meningkatkan suhu tanah dan udara sehingga terjadi perubahan
signifikan dalam aktivitas biologis tanah (Nair 1984). Dampak selanjutnya adalah hasil
panen menurun secara drastis akibat penipisan kesuburan tanah, peningkatan infestasi
gulma, kemerosotan sifat fisik tanah dan peningkatan serangan serangga dan penyakit
(Nair, 1984). Inilah alasan utama mengapa petani menanam area hutan yang baru
dibuka hanya dalam dua atau tiga musim sebelum mengembalikannya ke lahan bera
selama berkisar antara tiga sampai 20 tahun.
Diskusi dan Kesimpulan
Jika memandang dari perspektif lingkungan, tinjauan di atas menunjukkan
bahwa agroforest kakao adalah sistem penggunaan lahan yang lebih baik dibandingkan
dengan sistem tebang dan bakar pada budidaya musiman atau tahunan. Pembukaan dan
persiapan lahan awal menyebabkan kerusakan sumber daya tanah minimal. Ini juga
menawarkan kesempatan untuk mengintegrasikan beberapa jenis tanaman kayu dan
non kayu, dan memiliki potensi konservasi keanekaragaman hayati tanaman in-situ
yang lebih besar. Produksi tanaman pangan pokok melibatkan rotasi lahan tanam
sehingga membutuhkan lahan pertanian yang luas, dengan mengorbankan hutan.
Agroforest kakao, di sisi lain, bersifat semi permanen atau permanen namun ekonomis
berkelanjutan dan menguntungkan. Keberlanjutan ini dapat berlangsung tanpa batas
waktu, sebagai akibat dari pembaharuan periodik komponen sistem, dengan
perlindungan, dan perbaikan yang lebih baik dalam, organisme tanah atau di bawah
keanekaragaman hayati bawah dari waktu ke waktu.
Analisis profitabilitas ekonomi menggambarkan bahwa agroforest kakao
menguntungkan. Salah satu kesimpulan paling penting dari analisis profitabilitas
ekonomi adalah bahwa peran produksi pohon buah di perkebunan kakao ini sangat
penting bagi keberlanjutan dan stabilitas ekonomi pada wilayah tersebut.
Selain itu ada potensi untuk memperkaya system agroforest ini lebih lanjut dan
untuk meningkatkan profitabilitas dan potensi mereka untuk mengurangi kemiskinan.
Untuk mengintensifkan produksi dan meningkatkan profitabilitas sistem dan dengan
meningkatkan keseluruhan produksi berkelanjutan, ada kebutuhan untuk penelitian
peningkatan genetik pada hampir semua produk dari berbagai spesies pohon terkait.
Mungkin ada peluang untuk melakukan diversifikasi ekosistem agro dengan masuknya
ternak. dan juga dapat dipertimbangkan untuk mengintensifkan agroforest kakao lebih
lanjut. Namun, ini harus diimplementasikan dengan mempertimbangkan cara yang
dapat mencegah degradasi sumber daya alam.
Mengenai pohon kakao itu sendiriperlunya untuk mengembangkan program
pengembangbiakan untuk pengembangan varietas tahan penyakit dan tahan naungan.
Hal tersebu diperlukan untuk mengurangi biaya pengelolaan dan perawatan sistem
lebih lanjut sehingga lebih ekonomis bagi petani. Sebagai alternatif, ada kemungkinan
diversifikasi sistem produksi dan fungsi ekologi yang disempurnakan lebih tepat
karena agroforest merupakan bentuk pengelolaan hama terpadu. Akan lebih baik jika
petani dapat mengadopsi dan mengembangkan sistem agroforestry kakao sendiri
dengan sedikit masukan dari lembaga penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani W. 2005. Ekonomi Agroforestry. Yogyakarta: Debut Press.
Anggraeni, T. E. 2002. Kajian Pengaruh Faktor Sosial-Ekonomi Rumah Tangga Petani
terhadap Pola Agroforestry pada Hutan Rakyat di Pakuan Ratu Kabupaten Way
Kanan. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. Tidak dipublikasikan.
Hairiah K, Sardjono MA, Sabarnurdin S. 2003. Pengantar agroforestry. Bahan ajaran
agroforestry 1. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia. Bogor.
Sardjono, M. A. 2003. Klasifikasi Agroforestry. World. Agroforestry Centre (ICRAF),
Southeast Asia Regional Office. Bogor.