KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, penguasa jagat raya yang tidak ada
kekuasaan dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat
menyusun makalah ini dengan judul Pengujian Hipotesis.
Materi dalam makalah ini bersumber dari buku-buku referensi, dan sumber
yang relevan. Isi makalah yang disajikan dalam makalah ini hanya berupa garis
besarnya saja. Untuk dapat menguraikannya secara lebih rinci, kami berharap kepada
rekan-rekan untuk dapat memberikan saran dan kritik demi perbaikan di masa
mendatang.
Terima kasih kepada yang terhormat, Ibu Noor Ell Goldameir, M.Si, selaku
dosen pengasuh mata kuliah Statistika, yang telah membimbing kami serta pihak-
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Demikianlah kata pengantar ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para
pembaca. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan makalah ini. Kami
menyadari bahwa kami hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Terima
kasih.
Pekanbaru, Oktober 2017
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 3
A. Pengertian Hipotesis .................................................................................................. 3
B. Dua macam kesalahan hipotesis ................................................................................ 4
C. Macam pengujian hipotesis ........................................................................................ 6
D. Kriteria pengujian ...................................................................................................... 7
E. Rumus - rumus perhitungan & langkah- langkah pengujian hipotesis ....................... 9
PENUTUP ...................................................................................................................... 15
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 15
B. Saran ......................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 16
ii
BAB I
PENDAHULUAN
B. Latar belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai banyak hal yang
dapat kita deskripsikan dalam bentuk data. Informasi data yang diperoleh
tentunya harus diolah terlebih dahulu menjadi sebuah data yang mudah dibaca
dan dianalisa. Statistika adalah ilmu yang mempelajari cara-cara pengolahan
data.
Untuk meperoleh data-data tersebut, diperlukan adanya suatu
penelitian. Penelitian ini didapatkan melalui berbagai cara, dan juga berbagai
langka-langkah pengujian dari para pengumpul data. Sebelum melakukan
penelitian, kita akan menduga-duga terlebih dahulu terhadap apa yang kita
ingin teliti. Pernyataan dugaan atau pernyataan sementara kita ini yang
disebut hipotesis. Banyak sekali macam-macam konsep hipotesis ini, salah
satunya jenis hipotesis. Terkadang dalam penelitian pun banyak sekali
permasalahan-permasalahan dan juga kesalahan dalam melakukan penelitian.
Seluruh yang akan dibahas dalam melakukan hipotesis penelitian akan
dibahas dalam makalah ini beserta permasalah-permasalahan yang terjadi.
Hipotesis seperti yang kita ketahui (statistik), yakni dugaan yang
mungkin benar, atau mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah atau
palsu, dan akan diterima jika faktor-faktor membenarkannya. Penolakan dan
penerimaan hipotesis, dengan begitu sangat tergantung kepada hasil-hasil
penyelidikan terhadap faktor-faktor yang dikumpulkan.
Hipotesis dapat juga dipandang sebagai konklusi yang sifatnya sangat
sementara. Sebagai konklusi sudah tentu hipotesis tidak dibuat dengan
semena-mena, melainkan atas dasar pengetahuan-pengetahuan tertentu.
Pengetahuan ini sebagian dapat diambil dari hasil-hasil serta problematika-
1
problematika yang timbul dari penyelidikan-penyelidikan yang mendahului,
dari renungan-renungan atas dasar pertimbangan yang masuk akal, ataupun
dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan sendiri. Jadi dalam taraf ini
mahasiswa cukup membuat konklusi dari persoalan-persoalan yang diajukan
dalam bab sebelumnya dan merumuskannya dalam bentuk statmen
(pernyataan).
C. Rumusan Masalah
A. Apakah pengertian Hipotesis ?
B. Dua macam kesalahan hipotesis ?
C. Macam pengujian hipotesis ?
D. Kriteria pengujian ?
E. Langkah – langkah pengujian ?
F. Contoh soal dua pihak, pihak kiri dan pihak kanan ?
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan dugaan (conjectural) tentang
hubungan antara dua variabel atau lebih. Setiap hipotesis bisa benar atau tidak
benar dan karenanya perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu ditolak
atau tidak ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah
menerima atau menolak hipotesis dinamakan pengujian hipotesis.
Surakhmad (1985) menyatakan bahwa hipotesis berasal dari kata hypo
(kurang dari) dan theses (pendapat). Jadi, hipotesis itu adalah sesuatu yang
masih kurang dari sebuah kesimpulan pendapat. Sebuah kesimpulan, tetapi
kesimpulan itu belum final, masih harus diuji kebenarannya. Suatu jawaban
yang dianggap besar kemungkinannya untuk menjadi jawaban yang benar.
Lain lagi dengan pendapat Kerlinger (1986) yang menyatakan, “A
hypotheses is a conjectural statement of the relation between two or more
variables”. Pendapat ini menegaskan bahwa hipotesis itu pernyataan dugaan
mengenai hubungan dua atau lebih variabel. Pendapat tersebut agak mirip
dengan definisi yang dikemukakan oleh Tuckman (1972), yaitu “An
expectation about event based on generalizations of the assumed relationship
between variables”. Akan tetapi, pendapat ini cenderung menyebutnya
sebagai harapan, sedangkan pendapat yang agak jelas dalam konteks
penelitian dikemukakan oleh Moehnilabib (1985), yaitu sebagai jawaban
sementsrs yang dipilih oleh peneliti untuk masalah yang sedang diteliti dan
kemudian dicek kebenarannya secara empiris melalui penelitian.1
1
Imam Gunawan, Statistika untuk Kependidikan Sekolah Dasar, Yogyakarta : Penerbit
Ombak. Hlm. 81.
3
B. Dua Macam Kesalahan Pengujian Hipotesis
Pengambilan Keputusan dalam uji Hipotesis dihadapi dengan dua
kemungkinan kesalahan yaitu :
a. Kesalahan Tipe I (Type I Error)
Kesalahan yang diperbuat apabila menolak Hipotesis yang
pada hakikatnya adalah benar. Probabilitas Kesalahan Tipe I ini
biasanya disebut dengan Alpha Risk (Resiko Alpha). Alpha Risk
dilambangkan dengan simbol α.
b. Kesalahan Tipe II (Type II Error)
Kesalahan yang diperbuat apabila menerima Hipotesis yang
pada hakikatnya adalah Salah. Probabilitas KesalahanTipe II ini
biasanya disebut dengan Beta Risk (Resiko Beta). Beta Risk
dilambangkan dengan simbol β.2
Berdasarkan hal tersebut, maka hubungan antara keputusan menolak atau
menerima hipotesis dapat digambarkan sebagai berikut:
Keadaan Sebenarnya
Kesimpulan
Ho Benar Ho Salah
Menerima Ho Benar Kesalahan I
Menolak Ho Kesalahan II Benar
Dari tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Keputusan menerima hipotesis nol yang benar, berarti tidak membuat kesalahan.
2. Keputusan menerima hipotesis nol yang salah, berarti terjadi kesalahan tipe II.
3. Keputusan menolak hipotesis nol yang benar, berarti terjadi kesalahan tipe I.
4. Keputusan menolak hipotesis nol yang salah, berarti tidak membuat kesalahan.
2
Dickson Kho, Pengertian Uji Hipotesis dan Jenis-jenisnya , diakses dari
http://teknikelektronika.com/pengertian-uji-hipotesis-jenis-jenisnya/, pada tanggal 03 oktober 2017.
4
Tingkat kesalahan ini kemudian disebut level of significant atau tingkat
signifikansi. Dalam prakteknya tingkat signifikansi telah ditetapkan oleh peneliti
terlebih dahulu sebelum hipotesis diuji. Biasanya tingkat signifikansi (tingkat
kesalahan) yang diambil adalah 1% dan 5%. Suatu hipotesis terbukti dengan
mempunyai kesalahan 1% berarti bila penelitian dilakukan pada 100 sampel yang
diambil dari populasi yang sama, maka akan terdapat satu kesimpulan salah yang
dilakukan untuk populasi.
Dalam pengujian hipotesis kebanyakan digunakan kesalahan tipe I yaitu
berapa persen kesalahan untuk menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (yang
seharusnya diterima). Prinsip pengujian hipotesis yang baik adalah meminimalkan
nilai α dan β. Dalam perhitungan, nilai α dapat dihitung sedangkan nilai β hanya bisa
dihitung jika nilai hipotesis alternatif sangat spesifik. Pada pengujian hipotesis, kita
lebih sering berhubungan dengan nilai α. Dengan asumsi, nilai α yang kecil juga
mencerminkan nilai β yang juga kecil. Menurut Furqon (2004:167), kedua tipe
kekeliruan tersebut berhubungan negatif (berlawanan arah). Para peneliti biasanya,
secara konservatif menetapkan sekecil mungkin (0,05 atau 0,01) sehingga
meminimalkan peluang kekelliruan tipe I. Dalam hal ini, mereka beranggapan bahwa
menolak hipotesis nol yang seharusnya diterima merupakan kekeliruan yang serius
mengingat akibat yang ditimbulkannya. Namun perlu diingat dalam menetapkan taraf
signifikansi kita harus melihat situasi penelitian.
Asumsi-asumsi yang diperlukan sebelum melakukan pengujian hipotesis
adalah:
1. Menyatakan dengan tegas bahwa data yang akan diuji tersebut berasal dari
sampel atau populasi. Jika menggunakan data sampel, maka rata-ratanya
adalah μ. Maka rata-ratanya adalah σ.
2. Data yang diuji berdistribusi normal.3
3
Erny Yoenita, Makalah Pengujian Hipotesis, diakses dari
http://ernysubayang.blogspot.co.id/2014/04/makalah-pengujian-hipotesis.html, pada tanggal 03
Oktober 2017.
5
C. Macam Pengujian Hipotesis
Terdapat tiga macam bentuk pengujian hipotesis. Adapun jenis uji
mana yang akan dipakai tergantung pada bunyi kalimat hipotesis. Berikut 3
macam bentuk pengujian hipotesis tersebut:
1. Pengujian hipotesis dua pihak (two tail test)
Pengujian hipotesis dua pihak adalah pengujian hipotesis diaman
hipotesis nol berbunyi “sama dengan” dan hipotesis alternatifnya berbunyi
“tidak sama dengan”.
2. Pengujian hipotesis pihak kiri atau sisi kiri
Pengujian hipotesis pihak kiri adalah pengujian hipotesis dimana
hipotesis nol berbunyi “sama dengan” atau “lebih besar atau sama
dengan” dan hipotesis alternatifnya berbunyi “lebih kecil” atau “lebih
kecil atau sama dengan” .
3. Pengujian hipotesis pihak kanan atau sisi kanan
Pengujian hipotesis pihak kanan adalah pengujian hipotesis nol berbunyi
“sama dengan” atau “lebih kecil atau sama dengan” dan hipotesis
alternatifnya berbunyi “lebih besar” atau “lebih besar atau sama dengan”.4
4
Erny Yoenita, ibid.
6
D. Kriteria Pengujian
1. Kriteria penolakan pengujian dua pihak (ekor).
Jika tandingan H1 mempunyai rumusan tidak sama, maka didapat dua
daerah kritis pada ujung distribusi.
Luas daerah kritis atau daerah penolakan pada tiap ujung adalah 1/2 α
karena ada 2 daerah penolakan maka uji hipotesis dinamakan uji dua
pihak.
Kriteria pengujian: tolak H0 jika statistik yang dihitung berdasarkan
sampel tidak kurang dari daerah penolakan positif dan tidak lebih dari
daerah penolakan negatif.
2. Kriteria penolakan pengujian satu pihak (kanan).
Untuk tandingan H1 yang mempunyai rumusan lebih besar, maka
distribusi yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang letaknya
di ujung sebelah kanan. Luas daerah kritis/penolakan = α.
Kriteria pengujian: tolak H0 jika statistik yang dihitung berdasarkan
sampel tidak kurang dari daerah penolakan.
Pengujian dinamakan uji satu pihak tepatnya pihak kanan.
3. Kriteria penolakan pengujian satu pihak (kiri).
Jika tandingan H1 mengandung pernyataan lebih kecil, maka daerah
kritis ada di ujung kiri distribusi.
Kriteria yang digunakan: terima H0 jika statistik yang dihitung
berdasarkan penelitian lebih besar dari d (batas daerah penolakan),
sedangkan dalam hal lain ditolak
Pengujian dinamakan uji satu pihak tepatnya pihak kiri.
7
E. Rumus-rumus Penghitungan Statistik Uji
1. Uji Hipotesis Satu Rata-rata
Sampel Besar
Pada uji hipoteisis ini menggunakan distribusi uji Z karena sampel lebih
besar dari 30.
Lanhkah-langkah:
1. Formulasi hipotesis
a) H0 : 0
H1 : 0
b) H0 : 0
H1 : 0
c) H0 : 0
H1 : 0
Penentuan nilai taraf nyata dan nilai tabel uji Z
Taraf nyata sesuai soal dan nilai Z sesuai tabel
3. Kriteria pengujian
a) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika z z
H0 ditolak jika z z
b) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika z z
H0 ditolak jika z z
c) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika –z z z
H0 ditolak jika z < - 𝑧𝑎/2 dan z > - 𝑧𝑎/2
8
4. Uji statistik
̅ − 𝝁𝟎
𝒙
𝒛=
𝝈/√𝒏
5. Kesimpulan
Menyimpulkan tentang penerimaan atau penolakan H0
Contoh:
Dari 100 sekolah ternama di negara maju rata-rata menetapkan bayaran SPP $495
per bulan ,dengan simpangan baku = $45. Dengan taraf nyata 1% , ujilah : apakah
rata-rata bayaran SPP sekolah ternama kurang dari $500 per bulan ?
(Uji 2 arah, /2 = 0.5%, statistik uji=z)
Diketahui: x = 495
s = 45
n=100
0=500
=1%
1. H0 : = 500
H1 : < 500
2. statistik uji : z karena contoh besar
3. arah pengujian : pihak kiri
4. Taraf Nyata Pengujian = = 1% = 0.01 , z0.01 = 2.33
5. kriteria pengujian H0 diterima jika z 2,33
H0 ditolak jika z < - 2.33
6. Statistik hitung
̅ − 𝝁𝟎
𝒙
𝒛= 𝝈
√𝒏
𝟒𝟗𝟓−𝟓𝟎𝟎 −𝟓
𝒛= = = -1,11
𝟒𝟓/√𝟏𝟎𝟎 𝟒,𝟓
9
7. Kesimpulan : z hitung = -1.11 ada di daerah penerimaan H0
H0 diterima,karena z 2,33yaitu z = -1,11, jadi rata-rata bayaran SPP
sekolah ternama masih = $ 500
sampel Kecil
Pada uji hipotesis ini menggunakan distribusi uji t karena sampel lebih kecil
dari 30.
Lanhkah-langkah:
1. Formulasi hipotesis
a) H0 : 0
H1 : 0
b) H0 : 0
H1 : 0
c) H0 : 0
H1 : 0
2. Penentuan nilai taraf nyata dan nilai tabel uji t
Taraf nyata sesuai soal dan nilai t sesuai tabel, kemudian menentukan derajat
kebebasan yaitu db = n -1
3. Kriteria pengujian
a) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika 𝑡 ≤ 𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
H0 ditolak jika 𝑡 > 𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
b) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika 𝑡 ≥ −𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
H0 ditolak jika 𝑡 < −𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
10
c) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika −𝑡(𝑑𝑏,𝛼) ≤ 𝑡 ≤ 𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
2 2
H0 ditolak jika t 𝑡 < −𝑡(𝑑𝑏,𝛼) dan 𝑡 > −𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
2 2
4. Uji statistik
̅ − 𝝁𝟎
𝒙
𝒛=
𝒔/√𝒏
5. Kesimpulan
Menyimpulkan tentang penerimaan atau penolakan H0
contoh :
Seorang pengawas menguji 25 guru di sebuah SMU negeri dan mendapatkan bahwa
rata-rata penguasaan pekerjaan sebagai guru professional adalah 22 bulan dengan
simpangan baku = 4 bulan. Dengan taraf nyata 5% , ujilah : Apakah rata-rata
penguasaan pekerjaan sebagai guru profesional tidak sama dengan 20 bulan?
Diketahui : x = 22
s=4
n = 25
0 = 20
= 5%
1. H0 : = 20
H1 : ≠ 20
2. statistik uji : t karena contoh kecil
3. arah pengujian : dua pihak
4. Taraf Nyata Pengujian = = 5% = 0.05
/2 = 2.5% = 0.025
db = n-1 = 25-1 = 24
t (24; 2.5%) = 2.064
11
5. kriteria pengujian H0 diterima jika −𝑡(𝑑𝑏,𝛼) ≤ 𝑡 ≤ 𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
2 2
H0 ditolak jika 𝑡 < −𝑡(𝑑𝑏,𝛼) dan 𝑡 > −𝑡(𝑑𝑏,𝛼)
2 2
6. Statistik hitung
̅ − 𝝁𝟎
𝒙
𝒛= 𝒔
√𝒏
𝟐𝟐−𝟐𝟎 𝟐
𝒛= = = 2,5
𝟒/√𝟐𝟓 𝟎,𝟖
7. Kesimpulan : t hitung = 2.5 ada di daerah penolakan H0
H0 ditolak, H1 diterima , rata-rata penguasaan pekerjaan sebagai guru
profesional 20 bulan
2. Uji Hipotesis Beda 2 rata-rata
sampel Besar
Pada uji hipoteisis ini menggunakan distribusi uji Z karena sampel lebih besar
dari 30.
Langkah-langkah:
1. Formulasi hipotesis
a) H0 : 0
H1 : 0
b) H0 : 0
H1 : 0
c) H0 : 0
H1 : 0
2. Penentuan nilai taraf nyata dan nilai tabel uji Z
Taraf nyata sesuai soal dan nilai Z sesuai tabel
12
3. Kriteria pengujian
a) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika z z
H0 ditolak jika z z
b) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika z z
H0 ditolak jika z z
c) Untuk H0 : 0 dan H1 : 0
H0 diterima jika –z z z
H0 ditolak jika z < - 𝑧𝑎/2 dan z > - 𝑧𝑎/2
4. Uji statistik
̅̅̅𝟏 − ̅̅̅|
|𝒙 𝒙𝟐
𝒛=
𝝈𝟐 𝝈𝟐
√( 𝟏 ) + ( 𝟐 )
𝒏𝟏 𝒏𝟐
5. Kesimpulan
Menyimpulkan tentang penerimaan atau penolakan H0
Jika H0 diterima maka H1ditolak
Jika H0 ditolak maka H1diterima
Contoh:
Berikut adalah data nilai ujian siswa kelas 10 smu yang mengikuti kursus dengan
yang tidak mengikuti kursus.
Dengan kursus Tanpa kursus
Rata-rata nilai prestasi 𝑥̅1 = 300 𝑥̅ 2 = 302
Ragam 𝑠12 = 4 𝑠22 = 4,5
Ukuran sampel 𝑛1 = 40 𝑛2 = 30
13
Dengan taraf nyata 5 % ujilah : Apakah rata-rata nilai ujian siswa kelas 10 smu yang
mengikuti kursus lebih besar dibanding dengan yang tidak mengikuti kursus?
1. H0 : 0
H1 : 0
2. statistik uji : z karena contoh besar
3. arah pengujian : pihak kanan
4. Taraf Nyata Pengujian = = 5% , z5% = 1.645
5. kriteria pengujian : H0 diterima jika z 1,645
H0 ditolak jika z > 1,645
6. Statistik hitung
̅̅̅𝟏 − ̅̅̅̅
|𝒙 𝒙𝟐 |
𝒛=
𝝈𝟐 𝝈𝟐
√( 𝟏 ) + ( 𝟐 )
𝒏𝟏 𝒏𝟐
|𝟑𝟎𝟎−𝟑𝟎𝟐| 𝟐 𝟐 𝟐
𝒛= = = = =𝟒
√(𝟒/𝟒𝟎)+(𝟒,𝟓/𝟑𝟎) √𝟎,𝟏+𝟎,𝟏𝟓 √𝟎,𝟐𝟓 𝟎,𝟓
7. Kesimpulan : z hitung = 4 ada di daerah penolakanH0
H0 ditolak, H1 diterima
Jadi, nilai ujian siswa kelas 10 smu yang mengikuti kursus lebih besar
dibanding dengan yang tidak mengikuti kursus5
5
Yositria, Uji Hipotesis 1 & 2 Rata-rata, diakses dari https://www.slideshare.net/yositria/uji-
hipotesis-1-2-rata-rata, pada tanggal 09 0ktober 2017.
14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Didalam menyusun suatu laporan karya tulis ilmiah terutama
penelitian kualitatif di dalamnya tidak akan terlepas dari yang namanya
merumuskan hipotesis, tujuan, dan kegunnaan penelitian. Hipotesis ilmiah
mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan
diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak
bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis,
peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan/menciptakan suatu gejala.
Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah
teruji kebenarannya disebut teori. Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan
atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan
tertentu Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah
hipotesis di dalam penelitian.
B. Saran
Dengan selesainya makalah ini, kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang ikut andil wawasannya dalam penulisan ini.
Tak lupa kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang membangun selalu kami
tunggu dan kami perhatikan.
Semoga Allah SWT membalas semua jerih payah semua pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini dan semoga bermanfaat bagi kita
semua.
15
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Imam. 2013. Statistika untuk Kependidikan Sekolah Dasar. Yogyakarta :
Penerbit Ombak.
Kho, Dickson. Pengertian Uji Hipotesis dan Jenis – jenisnya (Online).
http://teknikelektronika.com/pengertian-uji-hipotesis-jenis-jenisnya/. 03
oktober 2017.
Yoenita, Erny. 2014. Makalah Pengujian Hipotesis (Online).
http://ernysubayang.blogspot.co.id/2014/04/makalah-pengujian-
hipotesis.html, 03 Oktober 2017.
Yositria. 2012. Uji Hipotesis 1 & 2 Rata-rata (Online). diakses dari
https://www.slideshare.net/yositria/uji-hipotesis-1-2-rata-rata, 09 0ktober
2017.
16