Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


HIPERTENSI DI RUANG ADENIUM
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

disusun guna memenuhi tugas pada Program Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Medikal

oleh
Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep.
NIM 122311101074

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan berikut dibuat oleh:


Nama : Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep
NIM : 122311101074
Judul : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan
Hipertensi Di Ruang Adenium RSD dr. Soebandi Jember
telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:
Hari :
Tanggal: November 2016

Jember, November 2016

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

NIP ................................................ NIP .............................................


LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI
Oleh: Alisa Miradia Puspitasari, S.Kep

A. Konsep Teori tentang Penyakit


1. Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik
dengan konsisten di atas 140/90 mmHg (Baradero, 2008). Hipertensi
adalah peningkatan tekanan sistole, yang tingginya tergantung umur
individu yang terkena (Tambayong, 2007). Hipertensi adalah keadaan
menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik
lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostik ini dapat dipastikan dengan
mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (Dahlan,
2009). Menurut Price (2005) hipertensi adalah peningkatan sistolik
sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg.
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran
menjelaskan hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan
pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer, 2000). Dari
beberapa definisi diatas, dapat diambil kesimpulan yaitu hipertensi dapat
didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.

Gambar 1. Pembuluh darah tidak sehat dan sehat


2. Klasifikasi
Ada banyak sumber referensi yang mengklasifikasikan hipertensi menjadi
beberapa stadium, tetapi secara umum hipertensi dapat dibagi menjadi
beberapa staidum yang didasarkan pada nilai tekanan darah sistolik dan
diastoliknya.

Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik

Hipotensi (darah
Di bawah 90 mmHg Di bawah 60 mmHg
rendah)

Normal 90 – 120 mmHg 60 – 80 mmHg

Pre Hipertensi 120-140 mmHg 80-90 mmHg

Stadium 1
140-159 mmHg 90-99 mmHg
(Hipertensi ringan)

Stadium 2
160-179 mmHg 100-109 mmHg
(Hipertensi sedang)

Stadium 3
180-209 mmHg 110-119 mmHg
(Hipertensi berat)

Stadium 4
(Hipertensi 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih
maligna)

3. Etiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar yaitu (Anies, 2006):
1. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya.
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.
Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi,
sedangkan 10 % sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder (Gunawan, 2010).
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya,
data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan
lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah
penderita hipertensi.
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
a. Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat)
b. Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan)
c. Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih)
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:
1. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi
atautransport Na.
2. Obesitas, terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
3. Stress Lingkungan.
4. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Pada saat bersamaan
dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon
rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan
aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang
menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid
lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah.
Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon
ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus
keadaan hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah
perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada
lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas
jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh
darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam
mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup),
mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer
(Corwin, 2005).
5. Tanda Gejala
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :
1. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
2. Sakit kepala
3. Epistaksis
4. Pusing/migrain
5. Rasa berat ditengkuk
6. Sukar tidur
7. Mata berkunang kunang
8. Lemah dan lelah
9. Muka pucat
10. Suhu tubuh rendah
Menurut Rokhaeni (2009), manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu:
a. mengeluh sakit kepala, pusing;
b. lemas, kelelahan;
c. sesak nafas;
d. gelisah;
e. mual muntah;
f. epistaksis;
g. kesadaran menurun.
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
a. tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur;
b. gejala yang lazim sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis.
Menurut Karyadi (2010), manifestasi klinis beberapa pasien yang
menderita hipertensi yaitu:
a. peningkatan tekanan darah;
b. mengeluh sakit kepala, pusing;
c. lemas, kelelahan;
d. sesak nafas;
e. gelisah, mudah marah;
f. mual muntah;
g. kesadaran menurun.
h. Gejala berat/ kronis yaitu nyeri dada dan pandangan kabur (akibat
kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal).

6. Pemeriksaan Khusus dan Penunjang


Hipertensi seringkali disebut sebagai “silent killer” karena pasien
dengan hipertensi esensial biasanya tidak ada gejala (asimptomatik).
Penemuan fisik yang utama adalah meningkatnya tekanan darah. Pengukuran
rata-rata dua kali atau lebih dalam waktu dua kali kontrol ditentukan untuk
mendiagnosis hipertensi. Tekanan darah ini digunakan untuk mendiagnosis
dan mengklasifikasikan sesuai dengan tingkatnya. Pemeriksaan laboratorium
yang perlu dilakukan adalah:
a. Hemoglobin/hematocrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel–sel terhadap volume cairan
(viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor–faktor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.
b. BUN
memberikan informasi tentang perfusi ginjal

c. Glukosa
Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat
diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi)
d. Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
f. Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk adanya
pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)
g. Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
h. Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab)
i. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
j. Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
k. Steroid urin
Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
l. IVP
Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter
m. Foto dada
Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
n. CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati

o. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini
penyakit jantung hipertensi.

7. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah diatas 140/90 mmHg. Prinsip
pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan
dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi
tanpa obat ini meliputi :
1) Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
a) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
b) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
c) Penurunan berat badan
d) Penurunan asupan etanol
e) Menghentikan merokok
Pada pasien hipertensi juga dialkukan diet pembatasan garan atau
Diet Rendah Garam. Diet rendah garam dibagi menjadi beberapa
tingkatan sesuai dengan keadaan penyakit. Pola ini disarankan oleh
Departemen Kesehatan RI.
a) Diet Rendah Garam Tingkat 1
– Diet Hipertensi Berat
Konsumsi Natrium = 200 mg – 400 mg/hari setara dengan ½ gr – 1
gr garam dapur beryodium/hari.
b) Diet Rendah Garam Tingkat 2 – Diet
Hipertensi Sedang
Konsumsi Natrium = 400 mg – 800 mg/hari setara dengan 1gr – 2
gr garam dapur beryodium/hari.
c) Diet Rendah Garam Tingkat 3 – Diet
Hipertensi Ringan
Konsumsi Natrium = 800 mg – 1200 mg/hari setara dengan 2gr – 3
gr garam dapur beryodium/hari.
2) Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang
mempunyai empat prinsip yaitu :
a) Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain
b) Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas
aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut
zona latihan.
c) Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam
zona latihan
d) Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu
3) Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
a) Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh
yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
b) Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan
untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam
tubuh menjadi rileks

4) Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )


Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya
dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
5) Terapi dengan Obat
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan
darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan
hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli
Hipertensi (Joint National Committee On Detection, Evaluation
And Treatment Of High Blood Pressure, USA: 1988)
menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis
kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat
tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan
penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
a) Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis,
ACE inhibitor
b) Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
1. Dosis obat pertama dinaikkan
2. Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
3. Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika ,
beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin,
reserphin, vasodilator
c) Step 3: Alternatif yang bisa ditempuh
1. Obat ke-2 diganti
2. Ditambah obat ke-3 jenis lain
d) Step 4: Alternatif pemberian obatnya
1. Ditambah obat ke-3 dan ke-4
2. Re-evaluasi dan konsultasi
6. Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan
interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan
( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan
petugas kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran
tekanan darahnya
b. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai
tekanan darahnya
c. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh,
namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan
mortilitas
d. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan
tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan
darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat
tensimeter
e. Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih
dahulu
f. Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup
penderita
g. Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi
h. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita
atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah
i. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal
1 x sehari atau 2 x sehari
j. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek
samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
k. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis
atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan
efektifitas maksimal
l. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
m. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih
sering
n. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang
ditentukan.
Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka
sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang
pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.

8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul pada pasien hipertensi yang tidak
dilakukan penatalaksanaan dengan baik adalah :
a. Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan darah tinggi di otak, atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan
tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri
yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga
aliran darah ke area otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak yag
mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan
kemungkinan terbentuknya aneurisma.
b. Infark miokard dapat terjadi apabila arteri coroner yang arterosklerotik
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila
terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah melewati pembuluh
darah. Pada hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen
miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia
jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi ventrikel
dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel
sehingga terjadi disritmia, hipoksi jantung, dan peningkatan risiki
pembentukan bekuan.
c. Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi
pada kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah
ke unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut
menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membrane glomerulus,
protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan osmotik koloid plasma
berkurang dan menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi
kronis.
d. Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada hipertensi
maligna (hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan yang
sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler
dan mendorong cairan ke ruang interstisial di sleuruh susunan saraf pusat.
Neoron-neoron disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
e. Kejang dapat terjadi pada wanita pre eklamasi. Bayi yang lahir mungkin
memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi plasenta yang
tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu
mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan

9. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan dalam upaya mencegah hipertensi
adalah sebagai berikut (Soenanto, 2009):
a. Menerapkan gaya hidup sehat, mengurangi atau membatasi makanan yang
mengandung lemak kolesterol tinggi, makanan berminyak, santan, goreng-
gorengan. Mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti buah-buahan dan
sayur-sayuran.
b. Ciptakan suasana damai, santai, rileks di dalam hati, pikiran dalam setiap
keadaan dan tindakan
c. Mengendalikan stress, emosi, ketegangan saraf, tergesa-gesa dalam
berpikir dan bertindak
d. Menghindari produk tembakau (rokok), alkohol
e. Membatasi konsumsi kafein
f. Rajin melakukan olahraga secara teratur, sesuai dengan kemampuan tubuh,
meningkatkan aktivitas fisik
g. Mengukur tekanan darah secara rutin
h. Diet rendah garam
i. Menurunkan berat badan klien jika terjadi kegemukan.
B. Clinical Pathways

umur Jenis kelamin Gaya hidup obesitas

Elastisitas , arteriosklerosis

hipertensi
Kurangnya
Kerusakan vaskuler pembuluh darah Perubahan status paparan
kesehatan informasi
Perubahan struktur

Ansietas Kurang
Penyumbatan pembuluh darah pengetahuan

vasokonstriksi

Gangguan sirkulasi

otak ginjal Pembuluh darah Retina

Resistensi Suplai O2 otak Vasokonstriksi sistemik koroner Spasme


menurun pembuluh darah arteriole
pembuluh
darah otak ginjal
vasokonstriksi Iskemi
diplopia
Blood flow aliran miocard
sinkop darah menurun Afterload
Nyeri meningkat Nyeri akut Gangguan
akut persepsi
Ketidakefektifan sensori
Respon RAA Penurunan Fatique
perfusi jaringan
curah
perifer
jantung
Rangsang Intoleransi
aldosteron aktifitas

Retensi Na Perubahan suplai Dipsnea,ortopnea


darah ke paru ,takikardi

edema

Ketidakefektifan
pola nafas
Kelebihan
volume cairan
C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas pasien, meliputi nama pasien, umur (usia lebih dari 50 tahun
lebih beresiko), jenis kelamin (prevalensi pada wanita lebih besar),
agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, alamat.
b. Keluhan utama
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit
degeneratif dan penyakit lainnya yang bisa menyebabkan hipertensi
seperti ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis, nekrosis tubular akut,
tumor), penyakit vascular (aterosklerosis, hyperplasia, trombosis,
aneurisma, emboli kolestrol, vaskulitis), kelainan endokrin (DM,
hipertiroidisme, hipotiroidisme), penyakit saraf (stroke, ensepalitis,
SGB), dan obat – obatan (kontrasepsi oral, kortikosteroid)
d. Pengkajian fokus
Beberapa hal yang perlu dikaji pada klien dengan hipertensi, antara
lain:
1) Aktivitas / istirahat
Gejala: kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2) Sirkulasi
Gejala: riwayat hipertensi; aterosklerosis, penyakit jantung
koroner/katup, penyakit serebrovaskuler
Tanda : kenaikan td, nadi: denyutan jelas, frekuensi/irama: takikardia,
disritmia, bunyi jantung: murmur, distensi vena jugularis
3) Ekstermitas
Perubahan warna kulit, suhu dingin (vasokontriksi perifer), pengisian
kapiler mungkin lambat, edema ekstremitas.
4) Integritas Ego
Gejala, meliputi: Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi,
euphoria, marah, faktor stress multiple (hubungan, keuangan,
pekerjaan)
Tanda: letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,
tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata).
5) Nutrisi dan Eliminasi
Gejala, meliputi: gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi,
obstruksi, riwayat penyakit ginjal ), makanan / cairan, makanan yang
disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan
kolesterol, mual, muntah, riwayat penggunaan diuretik, obesitas.
6) Neurosensori
Gejala, meliputi: keluhan pusing/pening, sakit kepala, kebas,
kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (penglihatan
kabur, diplopia), epistaksis.
Tanda: Perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir
atau memori (ingatan), Respon motorik: penurunan kekuatan
genggaman, Perubahan retinal optik
7) Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala, meliputi: nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala
oksipital berat, nyeri abdomen.
8) Pernapasan
Gejala, meliputi: Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, Takipnea,
Ortopnea, dispnea nokturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa
sputum, riwayat merokok.
Tanda: Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan,
Bunyi napas tambahan (krekles, mengi), Sianosis.
9) Keamanan
Gejala , meliputi: Gangguan koordinasi, cara jalan
2. Diagnosa Keperawatan
a) Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular
b) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
c) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan adanya
tahanan pembuluh darah akibat hipertensi
d) Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan kardiak output
e) Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan menurunnya suplai O2 ke
jaringan
f) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi natrium berlebih
dalam tubuh
g) Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan spasmus
arteriol mata
h) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
i) Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi
terkait penyakit
3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Intervensi keperawatan Rasional


No
keperawatan
1. Penurunan curah Tidak terjadi NOC : NIC :
jantung penurunan curah Circulation status Circulatory Care: Arterial
berhubungan jantung setelah Indikator: Insufficiency
dengan dilakukan 1. Berpartisipasi 1. Pantau TD dan catat 1. Mengetahui status sirkulasi
peningkatan tindakan dalam aktivitas keberadaan, kualitas dan adanya kemungkinan
afterload, keperawatan yang denyutan sentral dan perifer terjadinya keabnormalan
vasokonstriksi, selama 3 x 24 jam menurunkan TD 2. Amati warna kulit, 2. Mengetahui perubahan
iskemia 2. Mempertahankan kelembaban, suhu dan masa akibat keabnormalan
miokard, TD dalam pengisian kapiler sirkulasi
3. Pembatasan cairan untuk
hipertropi rentang normal 3. Berikan pembatasan cairan
mengurangi kelebihan cairan
ventrikular 3. Memperlihatkan dan natrium sesuai indikasi
tubuh
irama dan
4. Teknik relaksasi untuk
frekuensi jantung 4. Anjurkan tehnik relaksasi,
mengurangi vasokonstriksi
stabil panduan imajinasi, aktivitas
vaskuler
pengalihan 5. Pembatasan aktivitas untuk
5. Pertahankan pembatasan mengurangi kerja jantung
aktivitas seperti istirahat
ditempat tidur/kursi 6. Obat-obatan untuk
6. Kolaborasi untuk pemberian mengurangi vasokonstriksi
obat-obatan sesuai indikasi
2. Nyeri akut Nyeri hilang atau NOC : Pain Control NIC: Pain Management
berhubungan berkurang setelah 1. Pasien 1. Kaji karakteristik nyeri yang 1. Mengetahui skala nyeri
dengan dilakukan mengungkapkan dialami klien secara untuk menentukan intervansi
peningkatan tindakan nyeri berkurang komprehensif bagi klien
tekanan vaskuler keperawatan 2. Pasien tampak 2. Minimalkan gangguan 2. Nikotin memperberat nyeri
serebral selama 2 x 24 jam nyaman lingkungan dan rangsangan: kepala yang dialami klien
merokok atau menggunakan
penggunaan nikotin
3. Tindakan nonfarmakologis
3. Berikan tindakan
untuk menghilangkan nyeri
nonfarmakologi untuk
dengan sedikit efek samping
menghilangkan sakit kepala:
tehnik relaksasi, bimbingan
imajinasi dan distraksi 4. Mengurangi faktor
4. Hilangkan/minimalkan presipitasi terjadinya nyeri
vasokonstriksi yang dapat kepala
meningkatkan sakit kepala
5. Pertahankan tirah baring, 5. Lingkungan nyaman
lingkungan yang tenang dan mengurangi nyeri yang
nyaman dirasakan klien
6. Kolaborasi pemberian obat 6. Pemberian obat untuk
sesuai indikasi mengurangi nyeri klien

3. Ketidakefektifan Ketidakefektifan NOC: Tissue NIC:


perfusi jaringan perfusi jaringan Perfusion: Circulatory Precaution
perifer perifer dapat Peripheral 1. Kaji sirkulasi perifer secara 1. Mengetahui status sirkulasi
berhubungan diminimalkan Indikator: komprehensif (nadi perifer, perifer dan adanya kondisi
dengan adanya Setelah dilakukan 1. menunjukkan edema, CRT, warna, dan abnormal pada tubuh
tahanan tindakan perfusi jaringan suhu ekstremitas)
pembuluh darah keperawatan 2x24 membaik TD 2. Kaji kondisi ekstremitas 2. Mengetahui adanya
akibat hipertensi jam dalam batas meliputi kemerahan, nyeri, perubahan akibat gangguan
normal, tidak ada atau pembengkakan sirkulasi perifer
3. Menghindari cedera untuk
keluhan sakit 3. Hindarkan cedera pada area
meminimalkan luka
kepala. dengan perfusi yang minimal
4. Perawatan kaki dan kuku
2. Haluaran urin 30 4. Anjurkan klien mengikuti
untuk mengurangi
ml/ menit perawatan kaki dan kuku
kemungkinan terjadinya luka
3. Tanda-tanda vital 5. Mengurangi penekanan agar
stabil 5. Hindarkan adanya perfusi tidak terganggu
penekanan maupun
pemasangan torniket 6. Obat-obatan untuk
6. Pertahankan cairan dan obat- meningkatkan sattus perfusi
obatan sesuai program
4. Intoleransi Tidak terjadi NOC: Activity NIC:
aktifitas intoleransi Tolerance Activity Therapy
berhubungan aktifitas setelah Indikator: 1. Observasi TTV klien 1. Mengetahui kondisi umum
penurunan dilakukan 1. Meningkatkan klien
kardiak output tindakan energi untuk 2. Kaji respon pasien terhadap 2. Mengetahui toleransi klien
keperawatan melakukan aktifitas terhadap aktifitas
selama 2 x 24 jam aktifitas sehari– 3. Instruksikan pasien tentang 3. Penghematan energi untuk
hari penghematan energi mengurangi intoleransi
4. Berikan dorongan klien 4. Membantu klien beraktifitas
2. Menunjukkan
penurunan gejala– untuk melakukan aktifitas sesuai kemampuan sehingga
gejala intoleransi bertahap sesuai kemampuan tidak membahayakan klien
aktifitas 5. Monitor adanya diaphoresis 5. Mendeteksi adanya
atau pusing gangguan akibat aktifitas
6. Kolaborasikan pemberian yang berlebihan
obat-obatan sesuai indikasi 6. Pemberian obat untuk
meminimalkan kekurangan
energi yang dialami klien
D. Discharge Planning
Selama dirawat di Rumah Sakit, pasien sudah dipersiapkan untuk perawatan
dirumah. Beberapa informasi penyuluhan pendidikan yang harus sudah
dipersiapkan/diberikan pada pasien ini adalah:
a. Pengertian dari penyakit hipertensi.
b. Penjelasan tentang penyebab penyakit.
c. Memanifestasi klinik yang dapat ditanggulangi/diketahui oleh klien dan
keluarga.
d. Penjelasan tentang penatalaksanaan yang dapat klien dan keluarga lakukan.
e. Klien dan keluarga dapat pergi ke Rumah Sakit/Puskesmas terdekat apabila
ada gejala yang memberatkan penyakitnya.
f. Keluarga harus mendorong/memberikan dukungan pada pasien dalam
menaati program pemulihan kesehatan.(Doenges, 2000).

DAFTAR PUSTAKA

Baradero, M. 2008. Klien Gangguan Kardiovaskular: Seri Asuhan Keperawatan.


Jakarta: EGC.

Bulechek, G. M., dkk. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). Sixth


Edition. United States of America: Elsevier Mosby.
Corwin, E. 2005. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Dahlan, Z. 2009. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Gunawan, L. 2010. Hipertensi Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta: Kanisius.

Herdman, T. H. 2014. Nanda International Nursing Diagnoses: Definition &


Classification, 2015-2017. Oxford: Wiley-Blackwell.

Karyadi. 2010. Hidup Bersama Penyakit Hipertensi, Asam Urat, Jantung Koroner.
Jakarta: PT Intisari Mediatama.

Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media


Aesculapius.

Moorhead, S., dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). Fourth


Edition. United States of America: Mosby Elsevier.

Price, Sylvia A. & Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: EGC.

Rokhaeni H. 2009. Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Bidang


Diklat RS.

Soenanto, Hardi. 2009. 100 Resep Sembuhkan Hipertensi, Asam Urat, dan
Obesitas. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Tambayong, J. 2007. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Utami, M.S. 2007. Efektivitas Relaksasi dan Terapi Kognitif untuk Mengurangi
Kecemasan Berbicara di Muka Umum. Tesis. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi UGM.