Anda di halaman 1dari 8

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Keperawatan Gawat Darurat


Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang
menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang
dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Di UGD dapat ditemukan dokter dari
berbagai spesialisasi bersama sejumlah perawat dan juga asisten dokter.
Keperawatan gawat darurat bersifat cepat dan perlu tindakan yang tepat, serta
memerlukan pemikiran kritis tingkat tinggi. Perawat gawat darurat harus mengkaji
pasien meraka dengan cepat dan merencanakan intervensi sambil berkolaborasi
dengan dokter gawat darurat. Dan harus mengimplementasikan rencana pengobatan,
mengevaluasi efektivitas pengobatan, dan merevisi perencanaan dalam parameter
waktu yang sangat sempit. Hal tersebut merupakan tantangan besar bagi perawat,
yang juga harus membuat catatan perawatan yang akurat melalui pendokumentasian.
Di lingkungan gawat darurat, hidup dan mati seseorang ditentukan dalam
hitungan menit. Sifat gawat darurat kasus memfokuskan kontribusi keperawatan pada
hasil yang dicapai pasien, dan menekankan perlunya perawat mencatat kontribusi
profesional mereka.

B. System Pelayanan Kedaruratan Medic


System Pelayanan Kedaruratan Medic (PKM) merupakan suatu program
kedaruratan masyarakat untuk warga yang cidera atau sakit dan memerlukan
perawatan yang mendesak. System ini meliputi perawatan pra dan intra rumah sakit.
Fase pra rumah sakit dimulai ketika warga memberikan pertolongan pertama atau
memanggil tim medis gawat darurat. Ia dilanjutkan dengan menyelamatan dan
perawatan medis gawat darurat ditempat kejadian dan selama trasportasi kerumah
sakit.

3
Fase intra rumah sakit dibagi dalam perawatan dibagian gawat darurat dan
perawatan definitif. System PKM seharusnya mencangkup hal berikut ini :
- Badan pelanyanan kedaruratan medic local dan regional
- Penerangan dan pendidikan masyarakat mengetahui system apa serta cara dan
kapan ia digunakan (informasi)

C. Standar keperawatan
Standar keperawatan merupakan tingkat pelaksanaan yang perawatnya
memegang tanggung jawab, dan didevinisikan sebagai cara seorang perawat yang
bijaksana akan memberikan peratawan lingkungan yang sama atau serupa. Pada tahun
1983, Emergency Nurses Association (ENA) membuat standar keperawatan untuk
semua perawat profesional yang bekerja di lingkungan gawat darurat. Selanjutnya
standar tersebut berfungsi sebagai rujukan untuk menentukan apakah kelalaian
perawat gawat darurat menyebabkan atau berperan terhadap hasil pasien yang
merugikan.
Tanggung jawab setiap perawat profesional berlisensi adalah mengetahui
kebijakan rumah sakit atau standar internal yang berkaitan dengan perawatan pasien.
Berikut adalah contoh dari standar internal:
1. Deskripsi kerja UGD untuk staf perawat dan memberi perawatan nonlisensi
2. Kebijakan berkaitan dengan pengobatan pasien
3. Deskripsi melakukan prosedur
4. Protocol melakukan pelaksanaan scenario klinis yang spesifik

Mengikiti kebijakan dan prosedur institusi tidak mengurangi tanggung jawab


perawat terdaftar (RN) untuk berfungsi ditingkat yang lebih tinggi dari yang diset
oleh insitusi. Profesional keperawatan bertanggung jawab untuk melaksanakan
standar yang ditetapkan organisasi kekhususan, jurnal periodic, dan penelitian.
Pembahasan tentang kebijakan dan prosedur institusi setidaknya merupakan titik awal
pemahaman tentang dokumentasi yang tepat, karena standar internal merinci harapan
tertentu yang harus dipenuhi oleh RN.

4
Dengan membandingkan kebijakan institusi dengan standar keperawatan
nasional yang berkaitan dengan kekhususan, perawat dapat memperbaiki praktik
keperawatan di institusi mereka melalui kolaborasi professional dan perbaikan atau
pengembangan kebijakan.

D. Rekam Medik
Riwayat kesehatan pasien terdiri dari informasi yang paling penting bagi
pasien dan pemberi pelayanan kesehatan. Data tersebut digunakan untuk menjaga
kesehatan atau meningkatkan kualitas hidup dengan mengevaluasi pasien secara
sistematik dan membandingkan riwayat yang ada dengan temuan yang terbaru, oleh
karena itu keakuratan dan kelengkapan dokumentasi merupakan suatu hal yang
sanyat penting.

Catatan rekam medik memiliki 3 manfaat utama:


1) Rekam medis gawat darurat adalah catatan penting informasi pasien yang
berguna untuk diagnosis dan pengobatan.
2) Rekam medis digunakan untuk mempermudah penggantian biaya untuk
intitusi
3) Rekam medis merupakan catatan legal tentang pasien. Beberapa informasi
mungkin saja diperlukan tidak dalam kaitannya dengan perjalan klinis, seperti
untuk investigasi forensik yang melibatkan pernyataan korban, mekanisme
cedera, pola luka dan sebagainya.

E. Pentingnya Dokumentasi
Melakukan dokumentasi secara akurat dalam rekam medis adalah salah satu
cara terbaik bagi perawat klinis untuk membela diri dari tuntutan hukum karena
kelalaian dalam pemberian perawatan.
Pemahaman perawat dalam tanggung jawab profesionalnya yang dicapai
dengan pembelajaran standar spesialis nasional, akan meningkatkan apresiasi mereka

5
terhadap nilai dokumentasi sebagai alat pembuktian bahwa perawat telah memenuhi
tugas-tugasnya terhadap pasien.

F. Nilai Kemanusiaan Dan Advokasi Perawat Di Unit Gawat Darurat


Nilai kemanusian merupakan ide mendasar di balik peran perawat gawat
darurat sebagai advokat pasien. Penunjukan rasa hormat terhadap martabat manusia,
menghormati nilai kemanusian salah satu aspek dari tugas perawat sebagai advokat
klien. Melindungi kerahasian dan keselamatan pasien dan juga melindungi dari
praktik medik yang tidak aman, seperti intruksi yang membahayakan dan seuatu
respon obat yang tidak tepat.

G. Pengunaan Diagnosis Keperawatan Di Unit Gawat Darurat


Pasien UGD sering mengalami gejala yang dramatis, jumlah pasien
(terkadang mencapai 80 samapi 90 orang dalam 24 jam untuk rumah sakit yang
sibuk), dan kecepatan perubahan kebutuhan fisiologis dan psikososisl selama periode
kritis merupakan tantangan besar untuk menentukan diagnose keperawatan.
Berdasarkan fakta bahwa diagnosis keperawatan adalah komponen dari proses
keperawatan, daftar diagnosis yang disetujui North American Nursing Diagnosis
Association (NANDA) digabung kedalam ENA Care Curriculum pada 1987. Perawat
UGD diwajibkan menyimpan daftar tersebut diunitnya sebagai referensi dan
mengetahui rencana penggunaannya.
Semakin banyak menggunakan dokumentasi keperawatan terkomputerrisasi,
diagnosis NANDA semakin siap pakai, dan konsistensi pemakaian diagnosis
keperawatan tersebut akan meningkat.

6
H. Pengkajian dan komunikasinya
Berdasarkan standar praktik ENA, perawat gawat darurat harus
memberlakukan triase untuk semua pasien yang masuk ke IGD dan menentukan
prioritas perawatan berdasarkan Kebutuhan Dasar Manusia.(ENA 1995b)
a) Proses Triage
Triage sebuah tindakan pengelompokan pasien berdasarkan berat ringannya
kasus, harapan hidup dan tingkat keberhasilan yang akan dicapai sesuai dengan
standar pelayanan UGD yang dimiliki.
Dengan triage tenaga kesehatan akan mampu :

 Melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien


 Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan pengobatan
lanjutan
 Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses
penanggulangan/pengobatan gawat darurat

Sistem Triage dipengaruhi

 Jumlah tenaga profesional dan pola ketenagaan


 Jumlah kunjungan pasien dan pola kunjungan pasien
 Denah bangunan fisik unit gawat darurat
 Terdapatnya klinik rawat jalan dan pelayanan medis

I. Langkah- Langkah Di Unit Gawat Darurat


a. Kesiapan
Elemen penting dari perencanaan adalah kesiapan. Perawat gawat darurat
harus siap diri untuk hal-hal yang tidak diharapkan, yaitu krisis yang pasti akan
terjadi di lingkungan. Perawat harus melakukan hal berikut diawal setaiap jam yaitu
dengan memeriksa brangkar, senter, alat pacu jantung ekternal, peralatan gawat

7
darurat pediatri, dan alat isap, perawat harus memastikan alat-alat berfungsi dengan
baik (hal ini harus di dokumentasikan untuk referensi selanjutnya).
b. Keselamatan
Salah satu standar keperawatan gawat darurat adalah bahwa perawat gawat
darurat harus mempertahankan lingkungan yang aman bagi sesama staf, pasien, diri
sendiri, dan orang lain yang ada di UGD tersebut.

J. Implementasi
Standar praktik ENA yang berkaitan dengan implementasi
menyatakan,perawat gawat darurat harus mengimplementasikan rencana perawatan
berdasarkan data pengkajian, diagnosis keperawatan dan diagnosis medis (ENA
1995).
Berikut ini beberapa contoh tindakan perawat gawat darurat dalam
pendokumentasian:
a. Pemberian obat
Perawat harus mencatat lokasi injeksi (IM), jumlah dan jenis obat.
b. Selang nasogastrik
Harus di dokumentasikan pemasangan dan pemeriksaan termasuk warna dan
jumlah haluaran.
c. Akses IV
Ketika pemasangan IV perawat harus mendokumentasikan bahwa teknik aseptik
sudah di gunakan, darah belum di ambil, tidak ada pembengkakan atau kemerahan
yang terjadi pada daerah penusukan jarum.
d. Catatan perkembangan pasien
Perawat juga bertugas dalam mencatat perkembangan pasien, terhitung dari
tanggal pembuatan perencanaan dan dengan menggunakan data SOAP.

8
K. Evaluasi Dan Komunikasi
Pernyataan standar ENA yang berkaitan dengan evaluasi,perawatgawat
darurat harus mengevaluasi dan memodifikasi rencana perawatan berdasarkan respon
pasien yang dapat diopservasi dan pencapaian tujuan pasien (ENA 1995)

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dokumentasi yang baik mencerminkan tidak hanya kualitas perawatan tetapi
juga membuktikan pertanggunggugatan setiap anggota tim perawatan dalam
memberikan perawatan. Perawat mendokumentasikannya perlu ditekankan pada
penulisannya, untuk menghindari salah persepsi dan kejelasan dalam menyusun
tindakan perawatan lebih lanjut.

B. Saran
1. Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap berbagai cara
pendokumentasian keperawatan sehingga dapat dikembangkan dalam tatanan
layanan keperawatan.
2. Diharapkan agar perawat bisa menindaklanjuti pendokumentasian tersebut
melalui kegiatan asuhan keperawatan sebagai dasar untuk pengembangan
kedisiplinan di Lingkungan Rumah Sakit dalam ruang lingkup keperawatan.

10