Anda di halaman 1dari 16

Tugas Pengantar Geologi Tata Lingkungan

Ringkasan Tentang Bentang Alam

“Patahan & Kars”

Nama Anggota Kelompok:

Meishara Purnama Sari (22115059)

Nurhidayati (22115009)

Mutiarani Prastika (22115061)

Fitriyah Arisah (22115015)

M.Fajar Indra K. (22115065)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN KEWILAYAHAN

INTSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA

2017
Ringkasan Tentang Bentang Alam “ Patahan”
Permukaan bumi dikenal sebagai permukaan yang kasar. Hal ini terjadi karena muka bumi
memiliki relief. Relief- relief ini memiliki bentuk berbeda dengan ukuran yang berbeda pula. Salah
satu penyebab permukaan bumi memiliki bentuk yang berbeda- beda adalah tenaga endogen.
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga endogen, membuat
permukaan bumi menjadi tidak. Sekain itu, tenaga endogen juga menjadi salah satu penyebab
perbedaan tinggi dan rendah permukaan bumi. Tenaga endogen terjadi di darat dan laut, sehingga
menyebabkan keanekaragaman bentuk muka bumi.

Patahan adalah gejala retaknya kulit bumi yang tidak plastis akibat pengaruh tenaga
horizontal dan tenaga vertikal. Daerah retakan seringkali mempunyai bagian-bagian yang
terangkat atau tenggelam. Jadi, selalu mengalami perubahan dari keadaan semula, kadang bergeser
dengan arah mendatar, bahkan mungkin setelah terjadi retakan, bagian-bagiannya tetap berada di
tempatnya.

1. MORFOLOGI PATAHAN

A. Patahan Vertikal

Patahan vertikal adalah patahan yang terjadi akibat tenaga endogen. Patahan ini
menyebabkan sesar bergerak keatas dan ke bawah. Sesar sendiri dibagi menjadi dua, yaitu sesar
naik dan sesar turun. Sesar naik adalah patahan yang bergerak ke atas. Sedangkan sesar turun
adalah patahan yang bergerak ke bawah.

Patahan vertikal adalah salah satu penyebab relief di muka bumi memiliki tinggi yang
berbeda- beda. Patahan vertikal yang terkenal di indonesia adalah patahan semangko. Patahan
semangko berada di sumatra. Patahan ini membagi sumatra menjadi bagian barat dan timur.
Bentuk patahan vertikal dibagi menjadi empat, yaitu Horst, Graben, Fault Scrap, dan Pegunungan
Patahan.

1. Horst

Horst adalah dataran yang mengalami kenaikan akibat adanya tenaga endogen. Kenaikan
dataran ini akibat adanya gerakan tektogenesa vertikal. Gerakan tektogenesa adalah gerakan yang
berasal dari dalam bumi. Gerakan tektogenesa memusat dan mendorong sesar melalui dua titik ke
arah atas. Hal ini menyebabkan sesar terangkat ke atas dan menyebabkan patahan di kanan dan
kiri sesar. Horst berbentuk seperti pematang yang lebih tinggi dari dataran di kanan dan kirinya.
Horst juga bisa disebut pematang atau lurah sesar. Horst adalah puncak dari sesar yang terdorong
ke atas. Contoh horst di indonesia adalah dataran tinggi dieng dan dataran tinggi wonosari di
yogyakarta.

2. Graben

Graben adalah dataran yang mengalami penurunan akibat dari tarikan tenaga endogen.
Penurunan ini terjadi secara cepat. Graben terjadi akibat dari gerakan tektogenesa yang memusat,
dan menarik sesar ke arah bawah melalui dua titik. Graben menyebabkan patahan di kanan dan
kiri sesar. Graben dapat berbentuk lembah. Tekanan tenaga endogen yang berbeda, menyebabkan
bentuk grabien menjadi berbeda juga.

Tekanan yang memusat, membuat graben memiliki dasar yang lebih lebar dari pada bagian
atasnya. Sedangkan tekanan yang menyebar, membuat graben memiliki permukaan yang lebih
lebar dari pada bagian bawahnya. Graben juga bisa disebut Slenk atau Terban. Graben yang terisi
oleh air dapat menjadi danau. Salah satu contoh graben di indonesia adalah danau toba di sumatra
utara dan danau tempe di sulawesi.

3. Fault Scrap

Fault scarp atau bisa disebut fleksur adalah bentuk patahan yang terjadi akibat dorongan
dari satu sisi saja. Dorongan ini menyebabkan salah satu bagian sesar menjadi naik, sehingga
membentuk dinding terjal yang posisinya lebih tinggi dari pada daerah sekitar. Fault scarp juga
biasa disebut sebagai Cliff atau tebing.

4. Pegunungan Patahan

Pegunungan patahan atau bisa disebut Step Faulting adalah bentuk patahan yang berbentuk
seperti tangga. Hal ini terjadi akibat adanya gerakan penurunan beberapa sesar dengan tempo dan
gerakan yang hampir sama. Sesar bentuk tangga ini, menyebabkan gunung atau pegunungan
memiliki tangga alami untuk dinaiki.

B. Patahan Horizontal

Patahan horizontal adalah bentuk patahan yang diakibatkan dari tekanan tenaga endogen
yang bergerak secara horiontal. Sesar yang patah, bergerak mendatar atau ke kanan dan kekiri.
Sehingga patahan ini tidak menyebabkan perubahan tinggi dari sesar. Patahan ini, biasanya hanya
berbentuk garis- garis atau retakan- retakan besar yang ada di dalam tanah. Garis- garis yang terjadi
akibat patahan disebut kelurusan. Kelurusan akan terlihat seperti garis lurus panjang melalui citra
satelit. Patahan horizontal, biasanya dapat ditemukan pada daerah- daerah yang mengalami lipatan.
Patahan horizontal dipisahkan menjadi dua, yaitu Dekstral dan Sinistral.
 Bentuk Patahan Horizontal

1. Dekstral

Dekstral adalah patahan horizontal yang bergerak ke arah kanan. Dekstral dapat
diketahui dengan cara berdiri di depan potongan sesar yang besar. jika patahan tersebut
adalah dekstral, maka sesar tersebut akan bergerak ke kiri.

2. Sinistral

Sinistral adalah kebalikan dari Dekstral. Jika dekstral adalah patahan horizontal
yang bergerak kearah kanan, maka sinistral adalah patahan horizontal yang bergerak ke
arah kiri. Untuk mengetahu sinistral, caranya sama dengan dekstral. Yaitu berdiri di depan
potongan sesar yang besar. jika sesar tersebut bergerak ke arah kiri, maka patahan tersebut
adalah sinistra

C. Block Mauntain

Block Mauntain adalah kumpulan patahan- patahan yang tidak beraturan. Patahan tersebut
membentuk dataran yang memiliki bentuk yang bermacam- macam. Ada yang naik, turun, maupun
miring. Hal ini terjadi dari akibat adanya beberapa tekanan yang terjadi di satu daerah yang besar.

Tekanan tersebut membuat tarikan dan dorongan, yang menghasilkan bentuk relief yang
tidak beraturan. Kumpulan patahan ini biasanya akan membentuk berbagai pegunungan.
Pegunungan ini biasanya terdiri dari balok- balok lithosfer. Lithosfer adalah lapisan bumi atau
kulit bumi bagian luar.
D. Oblique

Oblique adalah sesar yang mengalami patahan vertikal bersamaan dengan patahan
horizontal. Gerakan ini juga disebut sebagai gerak miring. Gerakan miring terjadi akibat adanya
dua tekanan yang berbeda, terjadi dalam satu waktu dan di satu titik yang sama.

Dikarenakan gerakannya yang miring, hal ini menyebabkan sesar berbentuk miring dan
memanjang. berbeda dengan Fault scarp yang membentuk tebing, bentuk Oblique lebih dalam dan
panjang. Selain itu, perbedaan tekanan yang didapat, membuat Oblique lebih curam dari Fault
scarp. Oblique adalah penyebab terbentuknya palung di dasar laut, dan ngarai di daratan.

 Tenaga Pembentuk Lipatan dan patahan

 Tenaga Pembentuk Lipatan

Daerah yang berstruktur lipatan, kubah, dan struktur patahan, pada dasarnya disebabkan
oleh tenaga endogen. Hanya saja tenaga endogen pembentuk ketiga daerah struktur lipatan, kubah,
dan patahan tidak sama. Pada daerah berstruktur lipatan, disebabkan oleh tenaga endogen yang
arahnya mendatar berupa tekanan, sehingga batuan sedimen yang letak lapisanlapisannya
mendatar berubah menjadi terlipat atau bergelombang. Daerah yang berstruktur demikian disebut
daerah lipatan, dalam bahasa Inggris disebut folded zone.
Pada gambar di atas, dengan mudah dapat dilihat bahwa suatu lipatan tersebut memilik
beberapa bagian, sebagai akibat dari adanya lipatan tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah
antiklinal, sinklinal, sayap antiklin. Di samping itu juga ada berupa sumbu antiklinal dalam
kaitannya dengan menentukan posisi suatu lipatan yaitu dip (kemiringan) dan strike (jurus), serta
sumbu sinklinal.

Berbicara mengenai lipatan ada beberapa macam sebagai akibat dari kekutan yang
membentuknya, yaitu lipatan tegak, miring, menggantung, isoklin, rebah, kelopak, antiklinoriun,
dan sinklinorium. Di dunia ini banyak terdapat daerah lipatan yang memperlihatkan bentukan
topografi yang jelas, lipatan yang terkenal adalah Sirkum Pasifik dan lipatan Alpina. Kedua lipatan
tersebut mempunyai kelanjutan di Indonesia. Lipatan Alpina di Indonesia berupa sistem
pegunungan Sunda yang terbentang di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Nusra, Maluku, dan
berakhir di P Banda. Lipatan ini merupakan busur dalam yang Indonesia bersifat volkanis dan
busur luar yang non vulkanis. Demikian pula dengan lipatan Sirkum Pasifik dari Pilipina
bercabang ke Kalimantan dan Sulawesi dan seterusnya.

 Tenaga Pembentuk Patahan

Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur patahan, adalah tenaga endogen yang mengakibatkan
kulit bumi bergerak mendatar dengan berlawanan arah atau bergerak ke bawah atau ke atas, yang
sering disebut dengan kekar, rekahan atau retakan yang cukup besar. Kulit bumi mengalami sesar
dimana patahan yang disertai dengan pergeseran kedudukan lapisan yang terputus hubungannya
(fault). Berdasarkan gerakan atau pergeseran kulit bumi terdapat tiga macam sesar.
 Dip slip fault, yaitu sesar yang tergeser arahnya vertikal (sesar vertikal), sehingga salah
satu dari blok terangkat dan membentuk bidang patahan.
 Strike slip fault, yaitu sesar yang pergeserannya ke arah horisontal (sesar mendatar),
sehingga hasil dari aktivitas ini kadangkala dicirikan oleh kenampakan aliran air sungai
yang membelok patah-patah.
 Oblique slip fault, yaitu sesar yang pergeseran vertikal sama dengan pergeseran mendatar,
yang sering disebut sesar miring (oblique). Pergeseran kulit bumi pada tipe ini membentuk
celah yang memanjang, kalau terjadi di dasar laut/samudera terbentuk palung laut, dan bila
di daratan bias berupa ngarai.

2. MORFOLOGI LIPATAN

Terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya lateral/ horizontal dari dua arah yang
berhadapan (saling mendekat), sehingga lapisan-lapisan batuan di daerah tersebut terlipat dan
membentuk puncak lipatan (antiklin) dan lembah lipatan (sinklin).

Patahan, adalah retakan sepanjang blok pada kerak bumi yang pada kedua sisinya bergerak
satu dengan yang lainnya dengan arah yang paralel dengan retakan tersebut.

Di bumi ini ada 7 lempeng yang besar yaitu Pacific, North America, South America,
African, Eurasian (lempeng dimana Indonesia berada), Australian, dan Antartica. Di bawah
lempeng-lempeng inilah arus konveksi berada dan astenosphere (lapisan dalam dari lempeng)
menjadi bagian yang terpanaskan oleh peluruhan radioaktif seperti Uranium, Thorium, dan
Potasium. Bagian yang terpanaskan inilah yang menjadi sumber dari lava yang sering kita lihat di
gunung berapi dan juga sumber dari material yang keluar di pematang tengah samudera dan
membentuk lantai samudera yang baru.

Daerah pertemuan lempeng ini umumnya banyak menghasilkan gempa bumi dan kalo
sumber gempa bumi ini ada di samudera maka besar kemungkinan terjadi tsunami. Tsunami itu
apa? Nanti deh disambung di wacana yang lain biar nambah wacana. Pertemuan dari lempeng-
lempeng tersebut adalah zona patahan dan bisa dibagi menjadi 3 kelompok. Mereka adalah patahan
normal (normal fault), patahan naik (thrust fault), dan patahan geser (strike slipe fault). Selain
ketiga kelompok ini ada satu lagi yang biasanya disebut tumbukan atau obduction dimana kedua
Baik berhubungan dengan compressional atau tegasan atau dorongan. Patahan geser banyak
berhubungan dengan gaya transformasi.

Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Gempa bumi
yang hebat umumnya disebabkan oleh proses tektonik, yang terjadi karena pergerakan lempeng
kerak bumi. Para ilmuwan berpendapat bahwa lempeng samudera yang mengapung pada lapisan
yang bersifat padat tetapi sangat panas, mengalir secara perlahan, seperti cairan dengan viskositas
(kekentalan) tinggi. Pada saat lempeng samudera menyusup ke bawah lempeng benua, terjadi
gesekan yang menghambat proses penyusupan. Perlambatan gerak penyusupan menyebakan
adanya akumulasi energi di zona subduksi dan zona patahan, akibatnya akan terjadi tekanan,
tarikan, dan geseran. Apabila batas elastisitas batuan terlampaui akibat tekanan, tarikan, dan
geseran, maka akan terjadi pensesaran batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba
yang menyebar ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi atau gelombang seismik.

Pada zona patahan, getaran gempa bumi dapat terjadi akibat gerak relative naik yang
disebut patahan (sesar) naik, gerak relative turun (patahan/sesar turun) dan gerak relative geser
(patah/sesar geser). Hampir semua batuan penyusun kulit bumi tidak lepas dari pengaruh stress
yang sangat kuat. Batuan yang ‘brittle’ (kaku’) sangat mudah patah dan putus jika dibawah
pengaruh gaya kompressi maupun tarikan, sehingga batuan akan patah membentuk pegunungan
Patahan.

Lapisan batuan penyusun kerak bumi yang mengalami patahan sebagaimana batuan yang
mengalami perlipatan akan berubah menjadi Pegunungan Patahan, jika lapisan batuan mengalami
patahan turun berjenjang maka akan membentuk Pegunungan Blok, atau jika patahan tersebut
bersekala kecil maka kenampakan patahan berjenjang tersebut dapat diamati secara langsung di
singkapan batuan, terutama pada singkapan tebing-tebing jalan yang digali untuk perluasan jalan
atau pada tebing sungai tersingkap karena oleh kikisan arus air pada tebing/dinding batuan sungai,
seperti pada gambar berikut

Oleh karena permukaan batuan berhubungan langsung dengan faktor luar yang cenderung
mempengaruhi sifat fisik maupun kimiawi batuan sehingga permukaan lapisan batuan yang
terpatahkan, mengalami pelapukan dan terkikis sehingga kenampakan bentuk patahan sebenarnya
berjenjang membentuk undak-undak patahan akan menjadi rata dan permukaan batuannya dilapisi
dengan soil atau tanah penutup.
3. Gambaran Umum Bentang Alam Kars
Batuan karbonat merupakan batuan yang penyusun utamanya mineral karbonat. Secara
umum, batuan karbonat dikenal sebagai batu gamping, walaupun sebenarnya terdapat jenis yang
lain yaitu dolostone. Batuan karbonat dapat terbentuk di berbagai lingkungan
pengendapan.Umumnya batuan ini terbentuk pada lingkungan laut, terutama laut dangkal. Hal
tersebut dikarenakan batuan karbonat dibentuk oleh zat organik yang umumnya subur di daerah
yang masih mendapat sinar matahari, kaya akan nutrisi, dan lain – lain Karena faktor yang
mempengaruhi pembentukan batuan karbonat bermacam-macam menyebabkan bentang alam
yang dibentuk oleh batuan karbonat juga beraneka ragam. Batuan karbonat, khususnya
batugamping, memiliki sifat mudah larut dalam air. Hal ini dapat dijumpai terutama pada
batugamping yang berkadar CO2 tinggi. Pelarutan tersebut akan menghasilkan bentukan-bentukan
yang khas yang tidak dapat dijumpai pada batuan jenis lain. Gejala pelarutan ini merupakan awal
proses karstifikasi. Morfologi yang dihasilkan oleh batuan karbonat yang mengalami karstifikasi
dikenal dengan sebutan bentang alam kars.

Bentuk topografi bentang alam ini khas, seperti doline, sinkhole, karst window, tower karts,
terarosa, pepino hill, uvala, natural bridge, gua, dll.
A. Faktor yang mempengaruhi bentang alam kars

 Faktor Fisik
Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi :

1. Ketebalan batu gamping, yang baik untuk perkembangan karst adalah batu gamping yang tebal,
dapat masif atau yang terdiri dari beberapa lapisan dan membentuk unit batuan yang tebal,
sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum habis terlarutkan. Namun yang paling baik
adalah batuan yang masif, karena pada batu gamping berlapis biasanya terdapat lempung yang
terkonsentrasi pada bidang perlapisan, sehingga mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk
menembus seluruh lapisan.
2. Porositas dan permeabilitas, berpengaruh dalam sirkulari air dalam batuan. Semakin besar
porositas sirkulasi air akan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif.
3. Intensitas struktur (kekar), zona kekar adlah zona lemah yang mudah mengalami pelarutan dan
erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan, proses pelarutan berlangsung intensif. Kekar
yang baik untuk proses karstifikasi adalah kekar berpasangan (kekar gerus), karena kekar tsb
berpasangan sehingga mempertinggi porositas dan permeabilitas. Namun apabila intensitas kekar
sangat tinggi batuan akan mudah tererosi atau hancur sehingga proses karstifikasi terhambat.

 Faktor Kimiawi
1. Kondisi kimia batuan, dalam pembentukan topografi kars diperlukan sedikitnya 60% kalsit
dalam batuan dan yang paling baik diperlukan 90% kalsit.
2. Kondisi kimia media pelarut, dalam proses karstifikasi media pelarutnya adalah air, kondisi
kimia air ini sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi
Kalsit sulit larut dalam air murni, tetapi mudah larut dalam air yang mengandung asam. Air hujan
mengikat CO2 di udara dan dari tanah membentuk larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat
(H2CO3). Larutan inilah yang sangat baik untuk melarutkan batugamping.

 Faktor Biologis
Aktivitas tumbuhan dan mikrobiologi dapat menghasilkan humus yang menutup batuan
dasar, mengakibatkan kondisi anaerobic sehingga air permukaan masuk ke zona anaerobic,
tekanan parsial CO2 akan meninggkat sehingga kemampuan melarutkannya juga meningkat.

 Faktor Iklim dan Lingkungan


Kondisi lingkungan yang mendukung adalah adanya lembah besar yang mengelilingi
tempat yang tinggi yang terdiri dari batuan yang mudah larut (batugamping) yang terkekarkan
intensif. Kondisi lingkungan di sekitar batugamping harus lebih rendah sehingga sirkulasi air
berjalan dengan baik, sehingga proses karstifikasi berjalan dengan intensif.
Sebagian besar kawasan kars di Indonesia tersusun oleh batuan karbonat, dan hampir tidak
ada yang tersusun oleh batuan lain seperti gipsum, batu garam, maupun batuan evaporit. Hampir
di setiap pulau di Indonesia memiliki batuan karbonat, tapi tidak semuanya terkartsifikasi menjadi
kawasan kars. Kars di indonesia tersebar di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, namun
demikian tidak semuanya berkembang dengan baik. Balazs (1968) selanjutnya mengidentifikasi
terdapat tujuh belas kawasan kars mayor di Indonesia. Diantara kawasan kars tersebut, terdapat
dua kawasan kars yang paling baik dan dianggap sebagai prototipe dari kars daerah tropis, yaitu
kars Maros dan Gunung Sewu.

B. Proses Pembentukan Topografi Kars


Kondisi batuan yang menunjang terbentuknya topografi karst ada 4, yaitu:
1. Mudah larut dan berada di atau dekat permukaan.
1. Masif, tebal dan terkekarkan.
3. Berada pada daerah dengan curah hujan yang tinggi.
4. Dikelilingi lembah

Proses pelarutan pada batugamping, meninggalkan morfologi sisa pelarutan, perkembangan


morfologi sisa ini dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu :
1. Terjadi pelarutan pada batuan terkekarkan sehingga membentuk lembah yang kemudian
merupakan zona yang lebih cepat mengalami pelarutan (zona A) dibandingkan dengan zona B
yang tidak mengalami pengkekara.

2. Karena zona A lebih cepat mengalami pelarutan, maka zona ini segera terbentuk lembah yang
dalam, sementara pada zona B masih berupa dataran tinggi dengan gejala pelarutan di beberapa
tempat.
3. Pelarutan pada kedua zona terus berjalan sehingga pada fase ini mulai terbentuk kerucut-kerucut
karst pada zona B. Pada kerucut karst ini tingkat pelarutan/erosi vertikalnya lebih kecil
dibandingkan lembah di sekitarnya.

4. Karena adanya erosi lateral oleh sungai maka zone A berada pada batas permukaan erosi dan
pada zona B erosi vertikal telah berjalan lebih lanjut sehingga hanya tinggal beberapa morfologi
sisa saja, morfologi sisa ini disebut menara karst.

C. Bentang Alam Hasil Proses Karstifikasi


Bentuk morfologi yang menyusun suatu bentang alam karst dapat dibedakan menjadi 2,
yaitu bentuk-bentuk konstruksional dan bentuk-bentuk sisa pelarutan
1. Bentuk Konstruksional
Bentuk-bentuk konstriksional adalah topografi yang dibentuk oleh proses pelarutan batugamping
atau pengendapan mineral karbonat yang dibawa oleh air.
Berdasarkan ukurannya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Bentuk-bentuk minor
Bentang alam karst minor adalah bentang alam yang tidak dapat diamati pada peta
topografi atau foto udara.
Bentuk-bentuk bentang alam minor antara lain:
1. Lapies, yaitu bentuk yang tidak rata pada batugamping akibat adanya proses pelarutan dan
penggerusan.
2. Karst split, adalah celah pelarutan yang terbentuk di permukaan.
3. Parit karst, yaitu alur pada permukaan yang memanjang membentuk parit, yang juga sering
dianggap karst split yang memanjang sehingga membentuk parit.
4. Palung karst, adalah alur pada permukaan batuan yang besar dan lebar, terbentuk karena proses
pelarutan, kedalaman lebih dari 50 cm. biasanya pada permukaan batuan yang datar atau miring
rendah dan dikontrol oleh struktur yang memanjang.
5. Speleotherms, adalah hiasan pada gua yang merupakan endapan CaCO3 yang mengalami
presipitasi pada air tanah yang membawanya masuk ke dalam gua. (Stalaktit, stalakmit)
6. Fitokarst, adalah permukaan yang berlekuk-lekuk dengan lubang-lubang yang saling
berhubungan, terbentuk karena adanya pengaruh aktivitas biologis yaitu algae yang tumbuh di
dalam batugamping. Algae menutup di permukaan dan masuk sedalam 0,1 – 0,2 mm dan
menghasilkan larutan asam sehingga melarutkan batugamping.

2. Bentuk-bentuk mayor
Bentang alam mayor adalah yang dapat diamati dari peta topografi atau foto udara.
Bentuk-bentuk topografi karst mayor antara lain :
1. Surupan (doline), yaitu depresi tertutup hasil pelarutan dengan diameter mulai dari beberapa
meter sampai beberapa kilometer, kedalaman bisa sampai ratusan meter dan mempunyai bentuk
bundar atau lonjong.
2. Uvala, adalah gabungan dari beberapa doline.
3. Polje, adalah depresisi tertutup yang besar dengan lantai datar dan dinding curam, bentuknya
tidak teratur dan biasanya memanjang searah jurus perlapisan, pembentukannya dikontrol oleh
litologi dan struktur, dan mengalami pelebaran saat terisi oleh air.
4. Jendela karst, adalah lubang pada atap gua yang menghubungkan dengan udara luar, terbentuk
karena atap gua runtuh.
5. Lembah karst, adalah lembah atau alur yang besar, terbentuk oleh aliran permukaan yang
mengerosi batuan yang dilaluinya. Ada 4 macam lembah karst, yaitu :
1. Allogenic valley, lembah karst dengan hulu pada batuan kedap air (bukan batugamping) yang
kemudian masuk ke dalam daerah karst.
2. Blind valley, lembah karst yang alirannya tiba-tiba hilang karena masuk ke dalam batuan.
3. Pocket valley, yaitu lembah yang berasosiasi dengan mata air yang besar dan keluar dari batuan
kedap air (bukan batugamping) yang berada di bawah lapisan batugamping.
4. Dry valley, lembah yang mirip dengan lembah fluviatil tetapi bukan sebagai penyaluran air
permukaan karena air yang masuk langsung meresap ke batuan dasarnya (karena banyak rekahan)
5. Gua, adalah ruang bawah tanah yang dapat dicapai dari permukaan dan cukup besar bila dilalui
oleh manusia.
6. Terowongan dan jembatan alam, adalah lorong di bawah permukaan yang terbentuk oleh
pelarutan dan penggerusan air tanah.
Referensi

https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/geomorfologi/bentuk-bentuk-patahan diakses pada


tanggal 15 September 2017, pukul 16.00 WIB.

https://geograph88.blogspot.co.id/2013/06/bentangalam-struktural-struktural.html diakses
pada tanggal 15 September 2017, pukul 16.30 WIB.

http://smamuhammadiyahtasikmalayageo.blogspot.co.id/2011/04/patahan-san-
andreas.html

Purwantara, Suhadi dan Shina. 2004. Panduan Pembelajaran Geografi SMA/MA Kelas.
Surakarta: Mediatama

Herlambang, Sudarno. 2004. Dasar-dasar Geomorfologi. Malang: Universitas Negeri


Malang

Herlambang, Sudarno dan M. Yusuf Idris. 1990. Proses Geomorfologi. Malang: IKIP
Malang