Anda di halaman 1dari 5

PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA

SECARA KARTOMETRIK

1. Latar Belakang
 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, didefinisikan bahwa
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak
asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 UU nomor 6 tentang Desa disebutkan ada empat indikator untuk dasar
penghitungan dana alokasi desa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
dan pemerataan pembangunan desa. Diantaranya jumlah penduduk, angka
kemiskinan, luas wilayah dan tingkat kesulitan geografis. "Untuk itu
sangatlah penting untuk dilakukan penataan dan penegasan batas wilayah
desa/kelurahan
 Batas Desa adalah pembatas wilayah administrasi pemerintahan antar Desa
yang merupakan rangkaian titik-titik koordinat yang berada pada
permukaan bumi dapat berupa tanda-tanda alam seperti igir/punggung
gunung/pegunungan (watershed), median sungai dan/atau unsur buatan
dilapangan yang dituangkan dalam bentuk peta.
 Belum adanya peta batas wilayah desa yang dimiliki oleh tiap-tiap desa
dalam suatu wilayah administrasi kabupaten/kota. Kalaupun ada, peta desa
yang ada masih bersifat indikatif dan belum dapat di jadikan rujukan resmi
dikarenakan sumber dan proses pembuatan peta yang tidak jelas.
 Batas daerah menjadi penting karena seringkali terjadi ketidakjelasan batas
daerah. Misalnya, tidak ada skala, tidak ada proyeksi peta dan sistem
koordinat, tidak ada datum geodetik, tidak jelasnya delinasi garis batas,
tidak dicantumkannya sumber data, pembuat dan tahun pembuatannya
 Belum terwujudnya batas wilayah yang jelas dan pasti akan menimbulkan
beberapa masalah baik secara administratif maupun fisik, yang selanjutnya
berakibat pada timbulnya konflik serta dampak dari konflik tersebut
 Untuk kepentingan pembebasan lahan atau pembangunan jalan atau
kegiatan pembangunan lainnya menuntut ketersediaan data dan informasi
batas wilayah
 Kegiatan pertambangan memerlukan batas wilayah untuk perijinan serta
kejelasan tentang kemana bagi hasil akan diserahkan dari kegiatan
pertambangan tersebut.
 Urgensi lain dari batas wilayah adalah tentang kependudukan salah satunya
adalah ketika pemilihan umum. Ketidakjelasan batas dapat berimplikasi
pada adanya pemilih ganda bahkan tidak terdaftar sebagai pemilih.

2. Acuan Normatif Pelaksanaan Kegiatan


 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
 Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2016
Tentang Pedoman Penetapan Dan Penegasan Batas Desa
 Lampiran peraturan menteri dalam negeri republik indonesia nomor 45
tahun 2016 Tentang pedoman penetapan dan penegasan batas desa

3. Maksud dan Tujuan Kegiatan


Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan ini adalah menciptakan
tertib administrasi pemerintahan, memberikan kejelasan dan kepastian hukum
terhadap batas wilayah suatu desa yang memenuhi aspek teknis dan yuridis.
Dengan adanya batas wilayah desa yang jelas maka desa dapat
memaksimalkan potensi yang ada di desa terkait perencanaan kedepannya
serta meminimalisir konflik yang mungkin terjadi terkait wilayah.
4. Ruang Lingkup dan Metode

Dalam pelaksanaannya lingkup kegiatan dalam proses penetapan dan


penegasan batas desa meliputi:
 Penetapan batas desa yakni proses penetapan batas desa secara
kartometrik di atas suatu peta dasar yang disepakati. Penetapan batas
desa di darat berpedoman pada dokumen batas desa berupa Peta
Rupabumi, Topografi, Minuteplan, Staatsblad, Kesepakatan dan
dokumen lain yang mempunyai kekuatan hukum. Sedangkan di wilayah
laut berpedoman pada dokumen batas desa berupa undang-undang
Pembentukan Daerah, Peta Laut, Peta Lingkungan Laut Nasional dan
dokumen lain yang mempunyai kekuatan hukum.
 Penegasan batas desa berupa kegiatan penentuan titik-titik koordinat
batas desa yang dapat dilakukan dengan metode kartometrik dan/atau
survey dilapangan, yang dituangkan dalam bentuk peta batas dengan
daftar titik-titik koordinat batas Desa.
 Pengesahan batas desa dilakukan oleh bupati/walikota melalui peraturan
bupati/walikota yang memuat titik koordinat batas Desa yang diuraikan
dalam batang tubuh dan dituangkan di dalam peta batas dan daftar titik
koordinat yang tercantum dalam Lampiran Peraturan Bupati/Walikota.
Metode pendekatan yang dilakukan dalam penetapan dan penegasan batas
wilayah adalah dengan tehnik kartometrik yakni penelusuran/penarikan garis
batas pada peta kerja dan pengukuran/perhitungan posisi titik, garis, jarak dan
luas cakupan wilayah dengan menggunakan peta dasar dan informasi
geospasial lainnya sebagai pendukung.

5. Keluaran
Keluaran yang ingin dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah:
 Peta citra satelit resolusi tinggi yang telah ditegakkan
 Peta Batas Wilayah
 Peta Infrastruktur
 Peta Tutupan Lahan
 Dokumentasi proses kegiatan penetapan dan penegasan batas wilayah
 Peraturan bupati/walikota

6. Tahapan Pelaksanaan
1. Pembentukan Tim Penetapan dan Penegasan Batas
Tim penetapan dan penegasan batas bertugas melaksanakan penetapan dan
penegasan batas desa sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tim ini dibentuk berdasarkan keputusan Bupati/Walikota yang
susunannya adalah:
Ketua : Bupati/Walikota dan/atau Wakil Bupati/Wakil Walikota.
Wakil Ketua : Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota
Anggota :
1) Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota yang membidangi
pemerintahan;
2) Kepala Bagian yang membidangi pemerintahan Desa;
3) Kepala Bagian Hukum;
4) Pejabat dari Satuan Kerja Perangkat Daerah dan/atau instansi
pemerintah terkait lainnya;
5) Camat dan/atau perangkat kecamatan;
6) Kepala Desa/Lurah dan/atau perangkat Desa/kelurahan; dan
7) Tokoh Masyarakat.

2. Penetapan Batas Desa


a) Pengumpulan dan penelitian dokumen
Pengumpulan dokumen meliputi kegiatan pengumpulan dokumen
yuridis pembentukan Desa, dokumen historis dan dokumen terkait
lainnya sedangkan untuk penelitian dokumen adalah menelusuri bukti
batas Desa pada dokumen terkait batas Desa untuk mendapatkan
indikasi awal garis batas
b) Pemilihan peta dasar
Pemilahan peta dasar dengan menggunakan Peta Rupabumi Indonesia
dan/atau Citra Tegak Resolusi Tinggi
c) Pembuatan garis batas di atas peta
Pembuatan garis batas di atas peta dilakukan dengan delineasi garis
batas secara kartometrik yakni pembuatan peta kerja, penarikan garis
batas Desa di atas peta, penentuan titik kartometris, dan penyajian
peta penetapan batas Desa
d) Peta penetapan batas Desa ditandatangani oleh masing-masing Kepala
Desa dan disaksikan oleh Tim PPB Des kabupaten/kota
e) Setiap tahapan penetapan batas Desa yang dilakukan selanjutnya
dituangkan dalam Berita Acara kesepakatan antar Desa yang
berbatasan. Berita Acara tersebut kemudian ditandatangani oleh
Kepala Desa yang berbatasan dan Tim PPB Des kabupaten/kota dan
menjadi dasar pembuatan Berita Acara penetapan batas Desa.

3. Penegasan Batas Desa


Penegasan batas desa dilakukan melalui tahapan penelitian dokumen,
pelacakan dan penentuan posisi batas, pemasangan dan pengukuran pilar
batas dan pembuatan peta batas desa. Setiap tahapan penegasan batas
dituangkan dalam berita acara kesepakatan antar desa yang berbatasan
yang di ditandatangani oleh Kepala Desa yang berbatasan dan Tim
Penetapan dan Penegasan Batas Desa kabupaten/kota.

4. Pengesahan Batas Desa


Pengesahan batas desa dituangkan dalam bentuk Peraturan
Bupati/Walikota yang sebelumnya disusun oleh Tim Penetapan dan
Penegasan Batas Desa kabupaten/kota berdasarkan hasil penetapan batas
desa. Tim Penetapan dan Penegasan Batas Desa kabupaten/kota bertugas
menyampaikan rancangan peraturan bupati/walikota kepada
bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi peraturan bupati/walikota
tentang peta penetapan batas Desa. Rancangan peraturan bupati/walikota
disusun berpedoman pada Peraturan Menteri tentang Pembentukan Produk
Hukum Daerah.

7. Sumber Pendanaan
Berdsarkan Permendagri 45 tahun 2016 bahwa sumber-sumber pendanaan
untuk penetapan dan pengesahan batas desa dapat bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Provinsi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota,
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan Sumber-sumber lainnya yang sah
dan tidak mengikat.

Anda mungkin juga menyukai