Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumor parotis adalah tumor yang menyerang kelenjar liur parotis.
Dari tiap 5 tumor kelenjar liur, 4 terlokalisasi di glandula parotis, 1 berasal dari kelenjar
liur kecil atau submandibularis dan 30 % adalah maligna. Disebutkan bahwa adanya
perbedaan geografik dan suku bangsa: pada orang Eskimo tumor ini lebih sering
ditemukan, penyebabnya tidak diketahui. Sinar yang mengionisasi diduga
sebagai faktor etiologi. (Arief Mansoer, 2000)
Tumor kelenjar liur meliputi timur jinak dan ganas kelenjar liur mayor
dan kelenjar liur minor. Tumor kelenjar liur mayor antara lain kelenjar
parotis, kelenjar submandibula dan kelenjar sublingualis. Kelenjar liur minor
adalah kelenjar yang berada di mukosa dan submukosa rongga mulut.
Insidensi tumor kelenjar liur sangat kecil, di seluruh dunia bervariasi dari 0,4
–13,5 kasus per 100.000 populasi.
Dari seluruh tumor kepala dan leher, tumor kelenjar liur persentasenya
kurang dari 3%. Di Poli Onkologi THT-KL RS Hasan Sadikin Bandung, pada
tahun 2010 dari 732 pasien, persentase tumor kelenjar liur hanya 0,6% Dari
seluruh tumor kelenjar liur, 80% tumor berada di kelenjar parotis, 10-15 %
tumor submandibula, dan sisanya tumor kelenjar sublingual dan kelenjar liur
minor. Semakin kecil ukuran kelenjar, semakin besar kemungkinan tumor
ganas. 80% tumor parotis adalah tumor jinak, 50% tumor kelenjar
submandibula adalah tumor jinak, dan kurang dari 40% tumor kelenjar
sublingual dan kelenjar liur minor adalah tumor jinak.
Tumor kelenjar liur lebih sering terjadi pada orang dewasa, yaitu
sekitar 95%. Wanita lebih sering daripada laki-laki. Tumor jinak kelenjar liur
yang paling sering pada orang dewasa adalah pleomorfik adenoma sedang
tumor jinak pada anak-anak yang paling sering adalah hemangiom.
Kemungkinan tumor ganas pada anak-anak akan meningkat bila ditemukan
tumor solid bukan dari pembuluh darah. Sekitar 85% tumor ganas kelenjar
liur pada anak-anak berasal dari tumor parotis dengan mucoepidermoid

1
carcinoma yang paling sering. Organisasi kesehatan dunia WHO pada tahun
1992 telah menyusun klasifikasi tumor kelenjar liur berdasarkan
histopatologinya dan membagi menjadi tujuh kategori yaitu adenoma,
karsinoma, tumor nonepitel, limfoma maligna, tumor sekunder, tumor tidak
terklasifikasi, dan lesi yang menyerupai tumor.
Mengingat banyaknya masalah yang dialami akibat yang ditimbulkan, maka perlu
adanya perawatan dan support sistem yang intensif, serta tindakan yang
komprehensif melalui proses asuhan keperawatan, sehingga diharapkan masalah
yang ada dapat teratasi dan komplikasi yang mungkin terjadi dapat dihindari secara
dini.
Peran perawat pada kasus tumor parotis meliputi sebagai pemberi
asuhan keperawatan langsung kepada klien yang mengalami tumor parotis,
sebagai pendidik memberikan pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi,
serta sebagai peneliti yaitu dimana perawat berupaya meneliti asuhan keperawatan
kepada klien tumor parotis melalui metode ilmiah.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada pasien
dengan tumor parotis sinistra.
2. Tujuan Khusus
a) Untuk mengetahui definisi dari tumor parotis
b) Untuk mengetahui patofisiologi terjadinya tumor parotis
c) Untuk mengetahui tanda dan gejala dari tumor parotis
d) Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada tumor parotis
e) Untuk mengetahui komplikasi yang terjadi dari tumor parotis
f) Untuk mengetahui diagnosa keperawatan yang muncul pada tumor
parotis
g) Untuk mengetahui tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien
dengan tumor parotis
BAB II
KONSEP DASAR

2
A. Definisi
Tumor parotis adalah pertumbuhan sel ganas yang menyerang kelenjar
liur parotis (kamus kedokteran Dorland edisi 29, 2002). Kelenjar parotis
merupakan kelenjar liur utama yang terbesar dan menempati ruangan di
depan prosesus mastoid dan liang telinga luar. Dari tiap 5 tumor kelenjar liur,
4 terlokalisasi di glandula parotis, 1 berasal dari kelenjar liur kecil atau
submandibularis dan 30 % adalah maligna.

B. Patofisiologi
Kelainan peradangan biasanya muncul sebagai pembesaran kelenjer

difus atau nyeri tekan. Infeksi bakterial adalah akibat obstruksi duktus dan

infeksi retograd oleh bakteri mulut. Parotitis bacterial akut dapat dijumpai

pada penderita pascaoperasi yang sudah tua yang mengalami dehidrasi dan

biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus. Tumor-tumor dari semua

tumor kelenjer saliva, 70% adalah tumor benigna, dan dari tumor benigna

70% adalah adenoma plemorfik. Adenoma plemorfik adalah proliferasi baik

sel epitel dan mioepitel duktus sebagaimana juga disertai penigkatan

komponen stroma. Tumor-tumor ini dapat tumbuh membesar tanpa

menyebabkan gejala nervus vasialis. Adenoma plemorfik biasanya muncul

sebagai masa tunggal yang tak nyeri pada permukaan lobus parotis.

Degenerasi maligna adenoma plemorfik terjadi pada 2% sampai 10%. Tumor-

tumor jinak dari glandula parotis yang terletak di bagian medial n.facialis,

dapat menonjol ke dalam oropharynx, dan mendorong tonsil ke medial.

Tumor-tumor jinak bebatas tegas dan tampak bersimpai baik dengan

konsistensi padat atau kistik.Tumor parotis juga dapat disebabkan oleh infeksi

telinga yang berulang dan juga dapat menyebabkan ganguan pendengaran.

3
Tumor parotis juga dapat disebabkan oleh peradangan tonsil yang berulang.

(Schwartz, 2000)

C. Tanda dan Gejala


Gejala tumor jinak parotis yang sering ditemukan adalah sebagai berikut:
1. Munculnya benjolan pada bagian wajah (di daerah telinga, pipi, rahang,
bibir hingga mulut).
2. Keluarnya cairan dari telinga
3. Nyeri pada bagian wajah (jarang terjadi). Nyeri muncul biasanya lebih
diakibatkan oleh tumor yang pecah atau invasi tumor ganas ke jaringan
lain.
4. Paralisis pada saraf wajah. Paralisis pada saraf wajah utamanya
disebabkan oleh munculnya benjolan pada parotis yang memiliki
kemungkinan ganas.
5. Sulit menelan dan membuka mulut secara bebas.
( Shirley E. Otto, 2003 )

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan fisik pada bagian kepala dan leher. Pemeriksaan fisik dapat
dilakukan melalui perabaan dengan dua tangan (palpasi bimanual) pada
bagian leher untuk memeriksa benjolan pada bagian tersebut serta pada
bagian submandibula dan sublingual.
2. Biopsi parotis. Biopsi dilakukan untuk mengambil sampel jaringan
kelenjar parotis dan diamati melalui mikroskop. Akurasi pemeriksaan
melalui biopsi dapat mencapai 96 persen.
3. Pemindaian. Beberapa langkah pemindaian fisik untuk melakukan
diagnosis terhadap tumor parotis adalah sebagai berikut:

a. Foto Rontgen. Foto Rontgen polos tanpa kontras dapat membantu


untuk mendeteksi adanya kalsifikasi pada kelenjar parotis.

b. Sialografi. Meskipun jarang digunakan, sialografi dapat membantu


untuk mendeteksi kelainan fungsi atau anatomi saluran kelenjar
parotis.

4
c. CT scan. CT scan dapat mendeteksi benjolan pada kelenjar parotis
dengan efektif. Akan tetapi CT scan tidak dapat membedakan
benjolan yang jinak dan ganas.

d. MRI. MRI dapat mendeteksi benjolan pada kelenjar parotis serta dapat
mendeteksi tumor jinak lebih baik dari CT scan dikarenakan memiliki
kontras gambar yang lebih baik.

e. PET scan. PET scan dapat mendeteksi benjolan, terutama benjolan


ganas, serta dapat mengetahui apakah benjolan ganas tersebut sudah
menyebar atau belum.

4. Ultrasonografi. Ultrasonografi dapat membantu dokter untuk mendeteksi


karakteristik tumor Warthin dan adenoma pleomorfis, termasuk deteksi
bentuk tumor, vaskularitas tumor, dan prevalensi kista jika ada.
5. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium dapat membantu
diagnosis tumor melalui pemeriksaan hematologi dan serologi.

E. Komplikasi
Beberapa komplikasi akibat tumor parotis adalah sebagai berikut:
1. Kerusakan saraf wajah yang menimbulkan paralisis temporer maupun
permanen. Kerusakan saraf wajah dapat diakibatkan oleh penekanan oleh
tumor atau cedera pada saat pembedahan parotidektomi. Risiko kerusakan
saraf akan meningkat jika pembedahan dilakukan berulang. Pemantauan
kondisi saraf wajah pra operasi dapat menurunkan risiko kerusakan ini.
2. Rekurensi tumor jinak atau ganas. Adenoma pleomorfis harus dihilangkan
secara maksimal pada pembedahan pertama dikarenakan rekurensi tumor
dapat terjadi secara multifokal dan lebih sulit untuk diobati.

3. Perubahan tumor jinak menjadi ganas. Adenoma pleomorfis yang


merupakan tumor jinak dapat berubah menjadi tumor ganas yang disebut
carcinoma ex-pleomorphic adenoma. Perubahan tersebut ditandai dengan
pertumbuhan tumor secara cepat dan tiba-tiba. Kanker ini sangat agresif
dan memiliki prognosis yang buruk.

5
4. Sindrom Frey. Sindrom Frey merupakan komplikasi yang dapat terjadi
pasca pembedahan kelenjar parotis. Orang yang mengalami sindrom ini,
pipinya akan memerah dan berkeringat ketika dirinya makan, melihat, atau
memikirkan makanan tertentu, terutama makanan yang merangsang
produksi air liur. Komplikasi ini disebabkan oleh gangguan saraf pada
kelenjar air liur.

5. Berkurangnya kepekaan (hipestesia) indera pendengar. Komplikasi ini


dapat muncul jika terdapat kerusakan pada saraf telinga akibat
pembedahan

F. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b/d peradangan pada kelenjar liur parotis.
Tujuan : Pasien dapat menangani rasa nyeri.
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda Vital
Rasional: Memudahkan untuk tindakan selanjutnya
b. Kaji nyeri secara komprehensif
Rasional: Untuk Mengetahui tingkat nyeri
c. Ajarkan klien teknik Relaksasi
Rasional : Untuk Mengurangi ketegangan otot-otot
d. Kolaborasi untuk pemberian obat
Rasional : Untuk Mengurangi rasa nyeri

2. Keruskan integritas kulit b.d faktor mekanisme


Tujuan: integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
Intervensi:
a. Observasi keadaan luka
Rasional: untuk mengetahui karakteristik luka, dan keadaan luka.
b. Lakukan perawatan luka
Rasional:
c. Motivasi untuk menjaga luka tetap kering dan bersih
d. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat

3. Resiko infeksi b/d luka operasi


Tujuan : resiko infeksi terhindari
Intervensi :
a) Bersihkan lingkungan klien
Rasional : untuk memberikan kenyamanan pada klien
b) Pertahankan lingkungan selalu aseptik
Rasional : Agar terhindar dari infeksi

6
c) Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan
Rasional : mencegah penyebaran kuman infeksi

DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W. ANewman, 2002. KAMUS KEDOKTERAN Edisi 29. Alih


Bahasa: Andy Setiawan, et al. Jakarta: EGC, pp: 1565, 1

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 2 Jilid 2. Jakarta:


Media Aesculapicus Penerbit FK UI

Otto, Shirley E. 2003. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jkarta: EGC

Schwartz. 2000. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta: EGC p371-373