Anda di halaman 1dari 49

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT TUTORIAL KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN APRIL 2018


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

KEDOKTERAN PERAWATAN

DEMAM TIFOID

OLEH :

Andi Herawati Magfirah 10542 0265 11


Hajar Astuti Asmaun 10542 0285 11
Sabriadi 10542 0327 11
Fajrin Ashari 10542 0344 11

Pembimbing :
dr. Yuliaty Pongrekun
(Kepala Puskesmas Batua)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :

Nama / NIM : 1. Andi Herawati Magfirah, S.Ked 10542 0265 11

2. Hajar Astuti Asmaun, S.Ked 10542 0285 11

3. Sabriadi, S. Ked 10542 0327 11

4. Fajrin Ashari, S.Ked 10542 0344 11

Judul : Demam Tifoid

Telah menyelesaikan tugas Tutorial Klinik dalam rangka kepaniteraan klinik pada

bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Makassar.

Makassar, April 2018

PEMBIMBING

dr. Yuliaty Pongrekun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
BAB II GAMBARAN UMUM PUSKESMAS ................................................... 3
A. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS BATUA .................................... 3
B. VISI DAN MISI PUSKESMAS BATUA .............................................. 4
C. UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS BATUA .................................. 4
D. DATA STATUS KESEHATAN DI
WILAYAH KERJA PKM BATUA ........................................................ 5
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 8
A. DEMAM TIFOID ................................................................................... 8
B. ETIOLOGI DEMAM TIFOID ................................................................ 9
C. EPIDEMIOLOGI DEMAM TIFOID ................................................... 11
D. MEKANISME PENULARAN DAN PATOGENESIS
DEMAM TIFOID ................................................................................. 12
E. MANIFESTASI KLINIS DEMAM TIFOID ........................................ 15
F. DIAGNOSIS DEMAM TIFOID ........................................................... 16
G. TERAPI DEMAM TIFOID ................................................................... 22
H. PENCEGAHAN DEMAM TIFOID ..................................................... 25
I. KOMPLIKASI DEMAM TIFOID ....................................................... 29
J. PROGNOSIS DEMAM TIFOID .......................................................... 29
BAB IV LAPORAN KASUS .............................................................................. 31
A. IDENTITAS PASIEN ........................................................................... 31
B. ANAMNESIS ....................................................................................... 31
C. PEMERIKSAAN FISIK ....................................................................... 32
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG .......................................................... 34

iii
E. DIAGNOSIS KERJA ............................................................................ 34
F. RENCANA TERAPI ............................................................................ 34
G. PROGNOSIS ........................................................................................ 34
H. KONSELING, INFORMASI, DAN EDUKASI .................................. 34
BAB V PEMBAHASAN ................................................................................... 36
BAB VI PENUTUP ............................................................................................. 42
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 43

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Distribusi Jumlah Penduduk

Tabel 1.2. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Tahun 2015

Tabel 1.3. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap tahun 2016

Tabel 1.4. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Triwulan I 2017

Tabel 1.5. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Triwulan II 2017

Tabel 1.6. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Kunjungan Rawat Jalan Poli

Umum Puskesmas Batua Triwulan IV 2017

Tabel 3.1. Terapi Antibiotik untuk Demam Tifoid

Tabel 3.2. Antibiotik untuk Pengobatan Demam Tifoid Tahun 2010

(KONSENSUS KONAS PETRI - BALI)

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Distribusi Global Daerah Endemik dari Salmonella Enteric serotipe

Typhi, 1990-2002.

Gambar 3.2. Struktur antigenik Salmonellae.

Gambar 3.3. Mekanisme infeksi Salmonella Typhi

Gambar 3.4. Prinsip dari tes Tubex®.

Gambar 3.5. Prinsip dari tes Typhidot®.

vi
BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi tifus abdominalis atau demam tifoid ditularkan melalui


makanan dan minuman yang tercemar kuman S.typhi. Waktu inkubasi berkisar
tiga hari sampai satu bulan. Gejala awal meliputi onset progresif demam, rasa
tidak nyaman pada perut, hilangnya nafsu makan, sembelit yang diikuti diare,
batuk kering, malaise, dan ruam bersama dengan relative bradikardi. Tanpa
pengobatan, demam tifoid merupakan penyakit yang mungkin berkembang
menjadi delirium, perdarahan usus, perforasi usus dan kematian dalam waktu satu
bulan onset. Penderita mungkin mendapatkan komplikasi neuropsikiatrik jangka
panjang atau permanen.1,2,3
Demam tifoid atau tifus abdominalis banyak ditemukan dalam kehidupan
masyarakat kita, baik diperkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan higiene pribadi dan sanitasi lingkungan seperti hygiene
perorangan yang rendah, lingkungan yang kumuh, kebersihan tempat-tempat
umum (rumah makan, restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak
mendukung untuk hidup sehat. Seiring dengan terjadinya krisis ekonomi yang
berkepanjangan akan menimbulkan peningkatan kasus-kasus penyakit menular,
termasuk tifoid ini.4
Penelitian terdahulu yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kejadian
Demam Tifoid berkaitan dengan faktor sanitasi lingkungan dan hygiene
perorangan. Pada penelitian Naelannajah Alladany (2010) mendapatkan hasil
bahwa sanitasi lingkungan dan perilaku kesehatan yang merupakan faktor risiko
kejadian demam tifoid adalah kualitas sumber air bersih, kualitas jamban
keluarga, pengelolaan sampah rumah tangga, praktek kebersihan diri, pengelolaan
makanan dan minuman rumah tangga.5
Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting di berbagai
Negara sedang berkembang. Data World Health Organization (WHO) tahun
2003, memperkirakan angka insidensi di seluruh dunia terdapat sekitar 17 juta per
tahun dengan 600.000 orang meninggal karena penyakit ini. WHO

1
memperkirakan 70% kematian terjadi di Asia. Diperkirakan angka kejadian dari
150/100.000 per tahun di Amerika Selatan dan 900/100.000 per tahun di Asia.6,7
Di Indonesia angka kejadian kasus demam tifoid diperkirakan rata-rata
900.000 kasus pertahun dengan lebih dari 20.000 kematian. Penyakit ini tersebar
di seluruh wilayah dengan insidensi yang tidak berbeda jauh antar daerah.
Serangan penyakit lebih bersifat sporadis bukan epidemik. Dalam suatu daerah
terjadi kasus yang berpencar-pencar dan tidak mengelompok. Sangat jarang
ditemukan kasus pada satu keluarga pada saat bersamaan. Dari telaah kasus
demam tifoid di rumah sakit besar Indonesia, menunjukkan angka kesakitan
cenderung meningkat setiap tahun dengan rata-rata 500 per 100.000 penduduk.
Angka kematian diperkirakan sekitar 6-5% sebagai akibat dari keterlambatan
mendapat pengobatan serta kurang sempurnanya proses pengobatan. Secara
umum insiden demam tifoid dilaporkan 75% didapatkan pada umur kurang dari
30 tahun. Pada anak-anak biasanya diatas 1 tahun dan terbanyak di atas 5 tahun.4,6
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 jumlah kejadian demam
tifoid dan paratifoid di rumah sakit adalah 80.850 kasus pada penderita rawat inap
dan 1.013 diantaranya meninggal dunia. Sedangkan pada tahun 2010 penderita
demam tifoid dan paratifoid sejumlah 41.081 kasus pada penderita rawat inap dan
jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 276 jiwa.8
Berdasarkan profil kesehatan Puskesmas Batua pada tahun 2015, 2016 dan
triwulan III tahun 2017 penyakit tifoid termasuk dalam 10 penyakit terbanyak
rawat inap di Puskesmas Batua.
Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas, maka pembahasan kami tentang
masih tingginya prevalensi demam tifoid baik di dunia, maupun di Indonesia,
terkhusus pada pasien rawat inap di Puskesmas Batua, maka kami mengangkat
topik untuk dilakukan pengkajian penyakit ini sebagai referat kami.

2
BAB II

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

A. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS BATUA

1. Keadaan Umum
Geografi
Luas Wilayah kerja Puskesmas Batua adalah 1017,01 km dengan batas-batas
administrasi sebagai berikut.
1. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Panaikang
2. Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Antang
3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Tamalate
4. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Pandang dan Kelurahan
Karapuang
Wilayah kerja Puskesmas Batua terdiri atas 3 kelurahan, yaitu :
1. Kelurahan Batua terdapat 11 RW dan 53 RT
2. Kelurahan Borong terdapat 12 RW dan 58 RT
3. Keluarahan Tello baru terdapat 11 RW dan 48 RT
Luas tanah Puskesmas Batua adalah 4500 m2, terdiri dari 2 gedung dengan
luas bangunan 147 m2 dan 422 m2. Terdapat 3 rumah dinas dan 1 mobil ambulans.
Puskesmas Batua memiliki 30 Posyandu Balita, 9 Posyandu Lansia, 1 Poskesdes
dan 2 Posbindu yang tersebar di 3 kelurahan.
Demografi
Wilayah kerja Puskesmas Batua berpenduduk 54.056 jiwa yang terdiri dari
laki-laki 28.109 jiwa dan 25.947 jiwa perempuan, serta jumlah kepala keluarga
sebanyak 9.941 KK berikut distribusi jumlah penduduk berdasarkan kelurahan.

3
Tabel 1.1. Distribusi Jumlah Penduduk.
No. Kelurahan Jumlah Penduduk Laki – Laki Perempuan
1 Batua 23.392 11.650 11.742
2 Borong 18.451 8.552 9.899
3 Tello Baru 12.213 6.921 5.292
Jumlah 54. 056 27.123 26.933
Sumber Data : Data Penduduk Kelurahan

B. VISI DAN MISI PUSKESMAS BATUA

1. Visi Puskesmas Batua


Menjadi Puskesmas terbaik yang sehat, nyaman, dan mandiri untuk
semua
2. Misi Puskesmas Batua
a. Profesionalisme Sumber Daya Manusia
b. Penyediaan sarana prasarana sesuai standar Puskesmas
c. Penggunaan sistem informasi manajemen berbasis teknologi
d. Penajaman program pelayanan kesehatan dasar, melalui upaya
promotif preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif
e. Pengembangan program inovasi unggulan
f. Peningkatan upaya kemandirian masyarakat
g. Pererat kemitraan lintas sektor

C. UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS BATUA

Dalam upaya pelaksanaan program kesehatan Puskesmas, ada dua upaya


kesehatan Puskesmas, yaitu :
1. Upaya Kesehatan Wajib
a. Promosi Kesehatan
b. Kesehatan Ibu dan Anak
c. Perbaikan Gizi Masyarakat
d. Pemberantasan Penyakit
e. Penyehatan Lingkungan

4
f. Pengobatan
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
a. Upaya Kesehatan Lansia
b. Upaya Kesehatan Jiwa
c. UKS, UKGM
d. Program penyakit tidak menular
e. Kesehatan Olahraga

D. DATA STATUS KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PKM BATUA

Data status kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Batua meliputi data


distribusi 10 penyakit terbanyak pada tahun 2015, 2016, dan 2017.
Tabel 1.2. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Tahun 2015
No Nama Penyakit Jumlah
1 GEA 165
2 Demam Tifoid 146
3 Vomitus 38
4 Dispepsia 31
5 ISPA 31
6 DBD 30
7 Febris 27
8 Suspek Demam Tifoid 23
9 Hipertensi 20
10 Hiperemesis Gravidarum 17

Tabel 1.3. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap tahun 2016

No Nama Penyakit Jumlah


1 Diare dan GEA 98
2 Demam Tifoid 77
3 Dispepsia 38
4 Vomitus 20

5
5 Hipertensi 19
6 Febris 14
7 Vertigo 13
8 Suspek Demam Tifoid 12
9 DBD 11
10 ISPA 11

Tabel 1.4. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Triwulan I 2017


No Nama Penyakit Jumlah
1 Dispepsia 14
2 Diare dan GEA 13
3 Demam Tifoid 8
4 Hipertensi 3
5 Hiperemesis Gravidarum 3
6 Kejang Demam 3
7 Morbili 2
8 Vomitus 2
9 Febris 2
10 ISPA 1

Tabel 1.5. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap Triwulan II 2017


No Nama Penyakit Jumlah
1 GEA 22
2 Dispepsia 8
3 Vomitus 6
4 Kejang Demam 5
5 Demam Tifoid 4
6 Diare 3
7 Hyperemesis 3
8 Vertigo 2

6
9 Enteritis 2
10 Febris 2

Tabel 1.6. Distribusi 10 Penyakit Terbanyak Kunjungan Rawat Jalan Poli


Umum Puskesmas Batua Triwulan IV 2017
No Nama Penyakit Jumlah
1 Infeksi Saluran Pernafasan Atas 1477
2 Hipertensi 656
3 Infeksi Saluran Nafas Atas Akut Lainnya 540
4 Dermatitis dan Eksim 531
5 Reumatoid Arthritis 344
6 Batuk 325
7 Diabetes Mellitus 321
8 Gastritis 271
9 Demam 232
10 Sakit Kepala 165

7
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEMAM TIFOID

Demam tifoid merupakan salah satu penyakit infeksi sistemik yang menjadi
masalah dunia. Tidak hanya di negara-negara tropis, namun di negara-negara
subtropis pun prevalensi demam tifoid cukup tinggi, terlebih di negara
berkembang. World Health Organization (WHO) mencatat pada tahun 2003 lebih
dari 17 juta kasus demam tifoid terjadi di seluruh dunia, dengan angka kematian
mencapai 600.000, dan 90% dari angka kematian tersebut terdapat di negara-
negara Asia.1
Surveilans Departemen Kesehatan RI mencatat frekuensi kejadian demam
tifoid di Indonesia pada tahun 1994 meningkat hingga 15,4 per 10.000 penduduk.
Dari survei berbagai rumah sakit di Indonesia tahun 1981 sampai dengan 1986
memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8%, yaitu dari 19.596
menjadi 26.606 kasus.6
WHO mencatat Indonesia sebagai salah satu negara endemik untuk demam
tifoid. Di Indonesia, terdapat rata-rata 900.000 kasus demam tifoid dengan angka
kematian lebih dari 20.000 setiap tahunnya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, angka prevalensi demam tifoid secara nasional adalah
1,6%.1,3

Gambar 3.1. Distribusi Global Daerah Endemik dari Salmonella Enteric serotipe
Typhi, 1990-2002.5

8
Insidens demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya berhubungan
dengan sanitasi lingkungan; di daerah rural 157 kasus per 10.000 penduduk,
sedangkan di daerah urban ditemukan 760-810 kasus per 10.000 penduduk.
Perbedaan insidens di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air bersih
secara merata yang belum memadai, serta sanitasi lingkungan terutama cara
pembuangan sampah yang kurang memenuhi syarat kesehatan ligkungan.7
Case fatality rate (CFR) demam tifoid di tahun 1996 sebesar 1,08% dari
seluruh kematian di Indonesia. Namun berdasarkan hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga Departemen Kesehatan RI (SKRT Depkes RI) tahun 1995,
demam tifoid tidak termasuk dalam 10 penyakit dengan mortalitas tinggi.8

B. ETIOLOGI DEMAM TIFOID

Penyebab demam tifoid adalah bakteri dari Genus Salmonella. Salmonella


memiliki dua spesies yaitu Salmonella enterica dan Salmonella bongori.
Salmonella enterica terbagi dalam enam subspesies, yaitu : I. Salmonella enterica
subsp. enterica; II. Salmonella enterica subsp. salamae; IIIa. Salmonella enterica
subsp. arizonae; IIIb. Salmonella enterica subsp. diarizonae; IV. Salmonella
enterica subsp. hotenae; V. Salmonella enterica subsp. indica. 9
Salmonella enterica subsp. enterica memiliki setidaknya 1454 serotipe,
beberapa diantaranya adalah : Salmonella Choleraesuis, Salmonella Dublin,
Salmonella Enteritis, Salmonella Gallinarum, Salmonella Hadar, Salmonella
Heidelberg, Salmonella Infantis, Salmonella Paratyphi, Salmonella Typhi,
Salmonella Typhimurium, dan Salmonella Genrus.9 Salmonella Typhi dan
Salmonella Paratyphi adalah bakteri penyebab demam tifoid.
Bakteri ini berbentuk batang, Gram-negatif, tidak membentuk spora, motil,
berkapsul dan mempunyai flagela. Bakteri ini dapat hidup sampai beberapa
minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat
mati dengan pemanasan (suhu 66o C) selama 15 – 20 menit, pasteurisasi,
pendidihan dan klorinasi.10

9
Gambar 3.2. Struktur antigenik Salmonellae. 10

Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu : 11


1. Antigen O (antigen somatik), terletak pada lapisan luar tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur lipopolisakarida atau disebut juga
endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan
terhadap formaldehid.
2. Antigen H (antigen flagela), terletak pada flagela, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
3. Antigen Vi, terletak pada kapsul (envelope) kuman yang dapat melindungi
kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan
menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang disebut aglutinin.

10
C. EPIDEMIOLOGI DEMAM TIFOID

1. Distribusi dan Frekuensi


a. Orang
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada
perbedaan yang nyata antara insiden pada laki-laki dan perempuan.
Insiden pasien demam tifoid dengan usia 12 –30 tahun 70 –80 %, usia 31
–40 tahun 10 –20 %, usia > 40 tahun 5 –10 %. Menurut penelitian
Simanjuntak, C.H, dkk (1989) di Paseh, Jawa Barat terdapat 77 %
penderita demam tifoid pada umur 3 –19 tahun dan tertinggi pada umur
10 -15 tahun dengan insiden rate 687,9 per 100.000 penduduk. Insiden
rate pada umur 0 –3 tahun sebesar 263 per 100.000 penduduk.
b. Tempat dan Waktu
Demam tifoid tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000, insiden
rate demam tifoid di Amerika Latin 53 per 100.000 penduduk dan di
Asia Tenggara 110 per 100.000 penduduk. Di Indonesia demam tifoid
dapat ditemukan sepanjang tahun, di Jakarta Utara pada tahun 2001,
insiden rate demam tifoid 680 per 100.000 penduduk dan pada tahun
2002 meningkat menjadi 1.426 per 100.000 penduduk.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Determinan)
a. Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi.
Terjadinya penularan Salmonella thypi sebagian besar melalui
makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari
penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau
urine. Dapat juga terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil
yang berada dalam bakterimia kepada bayinya. Penelitian yang dilakukan
oleh Heru Laksono (2009) dengan desain case control, mengatakan
bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit
demam tifoid pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan
kebiasaan tidak jajan diluar dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak
mencuci tangan sebelum makan beresiko terkena penyakit demam tifoid

11
2,7 lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum
makan.
b. Faktor Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah
kuman yang dapat menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 –109
kuman yang tertelan melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Semakin besar jumlah Salmonella thypi yang tertelan,
maka semakin pendek masa inkubasi penyakit demam tifoid.
c. Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas
di daerah tropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak
memadai dengan standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal
yang mempercepat terjadinya penyebaran demam tifoid adalah
urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air minum dan standart hygiene
industri pengolahan makanan yang masih rendah. Berdasarkan hasil
penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000) dengan desain case
control, mengatakan bahwa higiene perorangan yang kurang, mempunyai
resiko terkena penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar dibandingkan
dengan yang higiene perorangan yang baik dan kualitas air minum yang
tercemar berat coliform beresiko 6,4 kali lebih besar terkena penyakit
demam tifoid dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya tidak
tercemar berat coliform.

D. MEKANISME PENULARAN DAN PATOGENESIS DEMAM TIFOID

Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke manusia


melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses atau urin dari
penderita tifoid. 12
Ada dua sumber penularan Salmonella typhi, yaitu :
1. Penderita Demam Tifoid, yang menjadi sumber utama infeksi adalah
manusia yang selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit,
baik ketika ia sedang menderita sakit maupun yang sedang dalam

12
penyembuhan. Pada masa penyembuhan penderita pada umumnya masih
mengandung bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.
2. Karier Demam Tifoid, penderita tifoid karier adalah seseorang yang
kotorannya (feses atau urin) mengandung Salmonella typhi setelah satu
tahun pasca demam tifoid, tanpa disertai gejala klinis. Pada penderita
demam tifoid yang telah sembuh setelah 2 –3 bulan masih dapat
ditemukan kuman Salmonella typhi di feces atau urin. Penderita ini
disebut karier pasca penyembuhan. Pada demam tifoid sumber infeksi
dari karier kronis adalah kandung empedu dan ginjal (infeksi kronis, batu
atau kelainan anatomi). Oleh karena itu apabila terapi medika-mentosa
dengan obat anti tifoid gagal, harus dilakukan operasi untuk
menghilangkan batu atau memperbaiki kelainan anatominya. Karier dapat
dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :
a. Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya
tidak pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis
akan tetapi mengandung unsur penyebab yang dapat menular pada
orang lain, seperti pada penyakit poliomyelitis, hepatitis B dan
meningococcus.
b. Incubatory carrier (masa tunas) adalah mereka yang masih dalam
masa tunas, tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan
penyakit/ sebagai sumber penularan, seperti pada penyakit cacar air,
campak dan pada virus hepatitis.
c. Convalescent carrier (baru sembuh klinis) adalah mereka yang baru
sembuh dari penyakit menulat tertentu, tetapi masih merupakan
sumber penularan penyakit tersebut untuk masa tertentu, yang masa
penularannya kemungkinan hanya sampai tiga bulan umpamanya
kelompok salmonella, hepatitis B dan pada dipteri.
d. Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup
lama seperti pada penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B.

13
Masuknya kuman Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi ke dalam tubuh
manusia terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman.
Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam
usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa
(IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel usus dan
selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan
difagosit oleh sel-sel fagosit terutama makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plak Peyeri ileum
distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika.11

Gambar 3.3. Mekanisme infeksi Salmonella Typhi .12

14
Selanjutnya melalui duktus torasikus, kuman yang terdapat di dalam makrofag
ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang
asimptomatik) kemudian menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh
terutama hati dan limpa. Dengan periode waktu yang bervariasi antara 1-3
minggu, kuman bermultiplikasi di organ-organ ini kemudian meninggalkan
makrofag dan kemudian berkembang biak di luar makrofag dan selanjutnya
masuk ke dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakteremia yang kedua
kalinya dengan disertai tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.11
Di dalam hati, kuman masuk ke kantung empedu, berkembang biak, dan
bersama cairan empedu diekskresikan kembali ke dalam lumen usus secara
intermiten. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi ke
dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, oleh
karena makrofag telah teraktivasi sebelumnya maka saat fagositosis kuman
Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi (IL-1, IL-6, IL-8, TNF-
β, INF, GM-CSF, dsb.) yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi
inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut,
instabilitas vaskuler, gangguan mental, dan koagulasi.11
Di dalam plak Peyeri, makrofag yang telah hiperaktif menimbulkan reaksi
hiperplasia jaringan dan menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat.
Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah di sekitar plak
Peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia akibat akumulasi sel-sel
mononuklear di dinding usus. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat
berkembang hingga ke lapisan otot, serosa usus dan dapat mengakibatkan
perforasi usus.11

E. MANIFESTASI KLINIS DEMAM TIFOID

Pengetahuan tentang gambaran klinis demam tifoid sangatlah penting untuk


membantu mendeteksi secara dini. Masa tunas demam tifoid berlangsung antara
10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai
berat, dari asimptomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi
hingga kematian.11

15
Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan yang meningkat.
Pada minggu pertama, ditemukan keluhan dan gejala serupa dengan penyakit
infeksi akut umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia,
mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, dan
epistaksis.10 Karakteristik demamnya adalah demam yang meningkat secara
perlahan-lahan berpola seperti anak tangga dengan suhu makin tinggi dari hari ke
hari, lebih rendah pada pagi hari dan tinggi terutama pada sore hingga malam hari.
Pada akhir minggu pertama, demam akan bertahan pada suhu 39-40°C. Pasien
akan menunjukkan gejala rose spots, yang warnanya seperti salmon, pucat,
makulopapul 1-4 cm lebar dan jumlahnya kurang dari 5; dan akan menghilang
dalam 2-5 hari. Hal ini disebabkan karena terjadi emboli oleh bakteri di dermis.11
Pada minggu kedua, gejala klinis menjadi semakin berkembang jelas,
berupa demam, bradikardia relatif dimana setiap peningkatan 1o C tidak diikuti
peningkatan denyut nadi 8 kali per menit, kemudian didapatkan pula lidah yang
berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung lidah merah serta tremor),
hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa somnolen,
stupor, koma, delirium, atau psikosis.11 Beberapa penderita dapat menjadi karier
asimptomatik dan memiliki potensi untuk menyebarkan kuman untuk jangka
waktu yang tidak terbatas.

F. DIAGNOSIS DEMAM TIFOID

Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang


diperkuat oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. Sampai saat ini masih
dilakukan berbagai penelitian yang menggunakan berbagai metode diagnostik
untuk mendapatkan metode terbaik dalam usaha penatalaksanaan penderita
demam tifoid secara menyeluruh. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu
menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok, yaitu : (1)
pemeriksaan darah tepi; (2) pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan
kuman; (3) uji serologis; dan (4) pemeriksaan kuman secara molekuler.12

16
1. Pemeriksaan Darah Tepi
Pada penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit
normal, bisa menurun atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia
dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri, mungkin
didapatkan aneosinofilia dan limfositosis.12 Penelitian oleh beberapa ilmuwan
mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah
tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal yang cukup
tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau
bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis menjadi dugaan kuat
diagnosis demam tifoid.12
2. Pemeriksaan Bakteriologis dengan Isolasi dan Biakan Kuman
Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri
Salmonella Typhi dalam biakan dari darah, urine, feses dan sumsum tulang.
Bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada
awal penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.12
Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif
tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa
faktor, seperti : (1) Telah mendapat terapi antibiotik. Bila pasien sebelum
dilakukan kultur darah telah mendapat antibiotik, pertumbuhan kuman dalam
media biakan terhambat dan hasil mungkin negatif; (2) Jumlah darah yang
diambil terlalu sedikit (diperlukan kurang lebih 10 cc darah). Bila darah yang
dibiak terlalu sedikit hasil biakan bisa negatif; (3) Riwayat vaksinasi.
Vaksinasi di masa lampau menimbulkan antibodi dalam darah pasien.
Antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah dapat negatif;
dan (4) Waktu pengambilan darah yang dilakukan setelah minggu pertama,
pada saat aglutinin semakin meningkat. 10,12
Volume 10-15 mL dianjurkan untuk anak besar, sedangkan pada anak
kecil dibutuhkan 2-4 mL. Sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan
untuk kultur hanya sekitar 0.5-1 mL.18 Bakteri dalam sumsum tulang ini juga
lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah. Hal
ini mendukung teori bahwa kultur sumsum tulang lebih tinggi hasil positifnya

17
bila dibandingkan dengan darah walaupun dengan volume sampel yang lebih
sedikit dan sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya.12 Media
pembiakan yang direkomendasikan untuk Salmonella Typhi adalah media
empedu dari sapi. Media ini dapat meningkatkan positivitas hasil karena
hanya Salmonella Typhi dan Salmonella Paratyphi yang dapat tumbuh pada
media tersebut.12
Biakan darah terhadap Salmonella juga tergantung dari saat pengambilan
pada perjalanan penyakit. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif
70-90% dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada
akhir minggu ketiga.12 Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita
yang telah mendapatkan antibiotika dan meningkat sesuai dengan volume
darah dan rasio darah dengan media kultur yang dipakai.
Bakteri dalam feses ditemukan meningkat dari minggu pertama (10-15%)
hingga minggu ketiga (75%) dan turun secara perlahan. Biakan urine positif
setelah minggu pertama. Biakan sumsum tulang merupakan metode yang
mempunyai sensitivitas paling tinggi dengan hasil positif didapat pada 80-
95% kasus dan sering tetap positif selama perjalanan penyakit dan menghilang
pada fase penyembuhan. Metode ini terutama bermanfaat untuk penderita
yang sudah pernah mendapatkan terapi atau dengan kultur darah negatif
sebelumnya. Namun prosedur ini sangat invasif sehingga tidak dipakai dalam
praktek sehari-hari. Pada keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada
spesimen empedu yang diambil dari duodenum dan memberikan hasil yang
cukup baik akan tetapi tidak digunakan secara luas karena adanya risiko
aspirasi terutama pada anak. 12
3. Uji Serologis
a. Uji Widal
Dasar reaksi uji Widal adalah reaksi aglutinasi antara antigen kuman
Salmonella Typhi dengan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik
terhadap Salmonella Typhi terdapat dalam serum penderita demam
tifoid, orang yang pernah tertular Salmonella Typhi, dan orang yang
pernah mendapatkan vaksin demam tifoid. Antigen yang digunakan pada

18
uji Widal adalah suspensi Salmonella Typhi yang sudah dimatikan dan
diolah di laboratorium. Tujuan uji Widal adalah untuk menentukan
adanya aglutinin dalam serum penderita yang diduga menderita demam
tifoid.11
Dari ketiga aglutinin (aglutinin O, H, dan Vi), hanya aglutinin O dan
H yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Secara umum, aglutinin O
mulai muncul pada hari ke 6-8 dan aglutinin H mulai muncul pada hari
ke 10-12 dihitung sejak hari timbulnya demam. Semakin tinggi titer
aglutininnya, semakin besar pula kemungkinan didiagnosis sebagai
penderita demam tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer aglutinin akan
meningkat pada pemeriksaan ulang yang dilakukan pada selang waktu
minimal 5 hari. Peningkatan titer aglutinin empat kali lipat selama 2
sampai 3 minggu memastikan diagnosis demam tifoid.12
Interpretasi hasil uji Widal adalah sebagai berikut :
Titer aglutinin O yang tinggi ( > 160) menunjukkan adanya
infeksi akut.
Titer aglutinin H yang tinggi ( > 160) menunjukkan sudah
pernah mendapat imunisasi atau pernah menderita infeksi.
Titer aglutinin yang tinggi terhadap antigen Vi terdapat pada
carrier.
b. Test Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Prinsip dasar uji ELISA adalah reaksi antigen-antibodi.13 Uji ini
sering dipakai untuk melacak antibodi IgG, IgM dan IgA terhadap
antigen O9 LPS, antibodi IgG terhadap antigen flagela d (Hd) dan
antibodi terhadap antigen Vi Salmonella Typhi. Chaicumpa dkk
mendapatkan sensitivitas uji ini sebesar 95% pada sampel darah, 73%
pada sampel feses, dan 40% pada sampel sumsum tulang.1
c. Pemeriksaan Dipstik
Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda
dimana dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS
Salmonella Typhi dengan menggunakan membran nitroselulosa yang

19
mengandung antigen Salmonella Typhi sebagai pita pendeteksi dan
antibodi IgM anti-human immobilized sebagai reagen kontrol.
Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan, tidak
memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak
mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap. 4
Penelitian oleh Gasem dkk (2002) mendapatkan sensitivitas uji ini
sebesar 69.8% bila dibandingkan dengan kultur sumsum tulang dan
86.5% bila dibandingkan dengan kultur darah dengan spesifisitas sebesar
88.9% dan nilai prediksi positif sebesar 94.6%. Penelitian lain oleh
Ismail dkk (2002) terhadap 30 penderita demam tifoid mendapatkan
sensitivitas uji ini sebesar 90% dan spesifisitas sebesar 96%.
d. Uji Tubex®
Tubex® merupakan alat diagnostik demam tifoid yang diproduksi oleh
IDL Biotech, Broma, Sweden. Tes ini sangat cepat, hanya membutuhkan
waktu 5-10 menit, sederhana dan akurat. Tes ini mendeteksi serum
antibodi IgM terhadap antigen O9 LPS yang sangat spesifik terhadap
bakteri Salmonella Typhi. Pada orang yang sehat normalnya tidak
memiliki IgM anti-O9 LPS.

Gambar 3.4. Prinsip dari tes Tubex®. Bagian atas, hasil negatif;
bagian bawah, hasil positif.

20
Tes Tubex® merupakan tes yang subjektif dan semi kuantitatif dengan
cara membandingkan warna yang terbentuk pada reaksi dengan Tubex®
color scale yang tersedia. Range dari color scale adalah dari nilai 0
(warna paling merah) hingga nilai 10 (warna paling biru).
Cara membaca hasil tes Tubex® adalah sebagai berikut menurut IDL
Biotech 2008: 11
Nilai < 2 menunjukan nilai negatif (tidak ada indikasi demam
tifoid).
Nilai 3 menunjukkan inconclusive score dan memerlukan
pemeriksaan ulang.
Nilai 4-5 menunjukan positif lemah.
Nilai > 6 menunjukan nilai positif (indikasi kuat demam tifoid).
Nilai Tubex® yang menunjukan nilai positif disertai dengan tanda dan
gejala klinis yang sesuai dengan gejala demam tifoid, merupakan indikasi
demam tifoid yang sangat kuat.
e. Uji Typhidot®
Uji Typhidot® merupakan alat diagnostik demam tifoid yang
diproduksi oleh Biodiagnostic Research, Bangi, Malaysia. Hasil uji
Typhidot® dinilai positif apabila didapatkan reaksi dengan intensitas yang
sama dengan atau lebih besar dari reaksi kontrol, terlihat pada kertas
saring komersial yang telah disiapkan. Tes ini memperingatkan, jika hasil
yang diperoleh tak tentu, tes harus diulang setelah 48 jam.

Gambar 3.5. Prinsip dari tes Typhidot®. Bagian atas, prosedur tes;
bagian bawah, interpretasi hasil tes.

21
4. Identifikasi Kuman secara Molekuler
Metode lain untuk identifikasi bakteri Salmonella Typhi yang akurat
adalah mendeteksi DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri Salmonella
Typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi
DNA.

G. TERAPI DEMAM TIFOID

1. Non-Medikamentosa
a. Tirah baring
Seperti kebanyakan penyakit sistemik, istirahat sangat membantu.
Pasien harus diedukasi untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja sampai
pemulihan.2,3,8,11
b. Nutrisi
Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) rendah
serat adalah yang paling membantu dalam memenuhi nutrisi penderita
namun tidak memperburuk kondisi usus. Sebaiknya rendah selulosa
(rendah serat) untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk
penderita demam tifoid, basanya diklasifikasikan atas diet cair, bubur
lunak, tim, dan nasi biasa.
c. Cairan
Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun
parenteral. Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada
komplikasi, penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus
mengandung elektrolit dan kalori yang optimal. Kebutuhan kalori anak
pada infus setara dengan kebutuhan cairan rumatannya.
d. Kompres air hangat
Mekanisme tubuh terhadap kompres hangat dalam upaya menurunkan
suhu tubuh yaitu dengan pemberian kompres hangat pada daerah tubuh
akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang.
Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang,
sistem efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan

22
vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat
vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh
hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya
vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/ kehilangan energi/ panas
melalui kulit meningkat (berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan
suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali. Hal ini
sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh Aden (2010) bahwa
tubuh memiliki pusat pengaturan suhu (thermoregulator) di hipotalamus.
Jika suhu tubuh meningkat, maka pusat pengaturan suhu berusaha
menurunkannya begitu juga sebaliknya.
2. Medikamentosa
1. Simptomatik
Panas yang merupakan gejala utama pada tifoid dapat diberi
antipiretik. Bila mungkin peroral sebaiknya diberikan yang paling aman
dalam hal ini adalah Paracetamol dengan dosis 10 mg/kg/kali minum,
sedapat mungkin untuk menghindari aspirin dan turunannya karena
mempunyai efek mengiritasi saluran cerna dengan keadaan saluran cerna
yang masih rentan kemungkinan untuk diperberat keadaannya sangatlah
mungkin. Bila tidak mampu intake peroral dapat diberikan via parenteral,
obat yang masih dianjurkan adalah yang mengandung Methamizole Na
yaitu antrain atau Novalgin. 11, 12
2. Antibiotik
Antibiotik yang sering diberikan adalah :
a. Kloramfenikol
Merupakan antibiotik pilihan pertama untuk infeksi demam tifoid
terutama di Indonesia. Dosis yang diberikan untuk anak- anak 50-100
mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis untuk pemberian intravena biasanya
cukup 50 mg/kg/hari. Diberikan selama 10-14 hari atau sampai 7 hari
setelah demam turun. Pemberian Intra Muskuler tidak dianjurkan oleh
karena hidrolisis ester ini tidak dapat diramalkan dan tempat suntikan
terasa nyeri. Pada kasus malnutrisi atau didapatkan infeksi sekunder

23
pengobatan diperpanjang sampai 21 hari. Kelemahan dari antibiotik
jenis ini adalah mudahnya terjadi relaps atau kambuh, dan carier.
b. Cotrimoxazole
Merupakan gabungan dari 2 jenis antibiotika Trimetoprim dan
Sulfametoxazole dengan perbandingan 1:5. Dosis Trimetoprim 10
mg/kg/hari dan Sulfametoxzazole 50 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis.
Untuk pemberian secara syrup dosis yang diberikan untuk anak 4-5
mg/kg/kali minum sehari diberi 2 kali selama 2 minggu. Efek samping
dari pemberian antibiotika golongan ini adalah terjadinya gangguan
sistem hematologi seperti Anemia megaloblastik, Leukopenia, dan
granulositopenia. Dan pada beberapa Negara antibiotika golongan ini
sudah dilaporkan resisten.
c. Ampicillin dan Amoxicillin
Memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan dengan
kloramfenikol dan cotrimoxazole. Namun untuk anak-anak golongan
obat ini cenderung lebih aman dan cukup efektif. Dosis yang diberikan
untuk anak 100-200 mg/kg/hari dibagi menjadi 4 dosis selama 2
minggu. Penurunan demam biasanya lebih lama dibandingkan dengan
terapi kloramfenikol.
d. Sefalosporin Generasi Ketiga (Ceftriaxone, Cefotaxim, Cefixime)
Merupakan pilihan ketiga namun efektifitasnya setara atau bahkan
lebih dari Chloramphenicol dan Cotrimoxazole serta lebih sensitive
terhadap Salmonella typhi. Ceftriaxone merupakan prototipnya dengan
dosis 50-100 mg/kg/hari per IV dibagi dalam 1-2 dosis (maksimal 4
gram/hari) selama 5-7 hari. Atau dapat diberikan cefotaxim 150-200
mg/kg/hari dibagi dalam 3-4 dosis. Bila mampu untuk sediaan Per oral
dapat diberikan Cefixime 10-15 mg/kg/hari selama 10 hari.
Pada demam tifoid berat kasus berat seperti delirium, stupor, koma
sampai syok dapat diberikan kortikosteroid IV (dexametasone) 3
mg/kg dalam 30 menit untuk dosis awal, dilanjutkan 1 mg/kg tiap 6
jam sampai 48 jam.

24
Untuk demam tifoid dengan penyulit perdarahan usus kadang- kadang
diperlukan tranfusi darah. Sedangkan yang sudah terjadi perforasi
harus segera dilakukan laparotomi disertai penambahan antibiotika
metronidazol.

H. PENCEGAHAN DEMAM TIFOID

Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang


sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan
primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari
strain Salmonella typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin
tifoid, yaitu :
1. Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang
diminum selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin
ini kontraindikasi pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang
mengkonsumsi antibiotik . Lama proteksi 5 tahun.
2. Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni,
K vaccine (Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol
preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 –12 tahun 0,25 ml dan
anak 1 –5 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu.
Efek samping adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada
tempat suntikan. Kontraindikasi demam,hamil dan riwayat demam pada
pemberian pertama.
3. Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin
diberikan secara intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi
pada hipersensitif, hamil, menyusui, sedang demam dan anak umur 2
tahun. Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi daerah endemik,
orang yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas
laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
Mengkonsumsi makanan sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh,
memberikan pendidikan kesehatan untuk menerapkan prilaku hidup bersih dan
sehat dengan cara budaya cuci tangan yang benar dengan memakai sabun,

25
peningkatan higiene makanan dan minuman berupa menggunakan cara-cara yang
cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian makanan, sejak awal
pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan, dan perbaikan sanitasi
lingkungan.
Pencegahan sekunder dapat berupa :
1. Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha
surveilans demam tifoid.
2. Perawatan umum dan nutrisi
Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinis jelas sebaiknya dirawat di
rumah sakit atau sarana kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan.Penderita
yang dirawat harus tirah baring dengan sempurna untuk mencegah komplikasi,
terutama perdarahan dan perforasi. Bila klinis berat, penderita harus istirahat
total. Bila penyakit membaik, maka dilakukan mobilisasi secara bertahap,
sesuai dengan pulihnya kekuatan penderita.
Nutrisi pada penderita demam tifoid dengan pemberian cairan dan diet.
Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun
parenteral. Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada
komplikasi penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus
mengandung elektrolit dan kalori yang optimal. Sedangkan diet harus
mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya rendah serat untuk
mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita tifoid biasanya
diklasifikasikan atas : diet cair, bubur lunak, tim dan nasi biasa.
3. Pemberian anti mikroba (antibiotik)
Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat.
Kloramfenikol masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga.
Kekurangannya adalah jangka waktu pemberiannya yang lama, serta cukup
sering menimbulkan karier dan relaps. Kloramfenikol tidak boleh diberikan
pada wanita hamil, terutama pada trimester III karena dapat menyebabkan
partus prematur, serta janin mati dalam kandungan. Oleh karena itu obat yang
paling aman diberikan pada wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.

26
Tabel 3.1. Terapi Antibiotik untuk Demam Tifoid

27
Tabel 3.2. Antibiotik untuk Pengobatan Demam Tifoid Tahun 2010
(KONSENSUS KONAS PETRI - BALI)

28
I. KOMPLIKASI DEMAM TIFOID

Demam typhoid dapat menjadi penyakit yang semakin berat dan mengancam
nyawa, terggantung dari faktor inang (terapi imunosupresi, terapi antasida,
riwayat vaksinasi), virulensi dari bakteri dan pemilihan terapi antibiotik.
Pendarahan gastrointestinal (10-20%) dan perforasi intestinal (1-3%), hal ini biasa
terjadi minggu ke-3 dan minggu ke-4. Pendarahan gastrointestinal dan perforasi
intestinal terjadi akibat hiperplasia, ulsersi dan nekrosis dari plak peyeri ileocecal.
Keuda komplikasi ini dapat mengancam nyawa dan membutuhkan resusistasi
cairan segera dan intervensi bedah dengan pemberian antibiotik spektrum luas
untu periotinits polimikrobial. Manifestasi neurologikal dapat ditemukan pada 2 -
40% berupa, meningitis, guillain-barre syndrome, neuritits dan gejala
neuropsikiatrik.
Komplikasi lain yang dapat terjadi berupa disseminated intravascular
coagulation, hematophagotic syndrome, pankreatitis, hepatitis, miokarditis,
orkitis, glomerulonefritis, pieloneftitis, pneumonia berat, arthritis, osteomielitis.
Namun komplikasi ini sudah jarnag terjadi akibat pemberian antibiotik yang tepat.

Gambar 3.7 : Perforasi ileum akibat infeksi S. typhi

J. PROGNOSIS DEMAM TIFOID

Prognosis pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan


kesehatan sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi. Di negara maju, dengan
terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas <1%. Di negara berkembang,
angka mortalitasnya >10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan,

29
dan pengobatan. Munculnya komplikasi, seperti perforasi gastrointestinal atau
perdarahan hebat, meningitis, endokarditis, dan pneumonia, mengakibatkan
morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
Relaps dapat timbul beberapa kali. Ind bulan setelah infeksi umumnya
menjadi karier kronis. Resiko menjadi karier pada anak –anak rendah dan
meningkat sesuai usia. Karier kronik terjadi pada 1-5% dari seluruh pasien demam
tifoid.12

30
BAB IV

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : An. M
Umur : 11 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Status perkawinan : Belum kawin
Alamat : Jalan Sermani No. 33, Kota Makassar
Tanggal Pemeriksaan : 29 Maret 2018

B. ANAMNESIS

Keluhan utama : Demam


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Puskesmas Batua dengan keluhan demam yang dirasakan
sejak 4 hari yang lalu (tanggal 29 Maret 2018). Demam dirasakan sepanjang
hari, demam memberat mulai sore hari dan semakin tinggi pada malam hari,
kemudian demam turun pada pagi hari. Selain itu pasien mengeluhkan nyeri
kepala, dirasakan sepanjang hari, muncul bersamaan dengan demam pasien.
Pasien juga mengeluhkan seluruh tubuh terasa lemah dan pegal-pegal. Nafsu
makan pasien sedikit menurun. Pasien mengeluhkan BAB encer sejak 3 hari
yang lalu, frekuensi 3x sehari, ampas (+), lendir (-). BAK lancar.Riwayat
muntah 1 hari yang lalu dengan frek. 3x, berisi makanan. Pada saat pasien
datang berobat, pasien mengaku pernah muntah dengan frekuensi 1x, berisi
makanan, pada hari tersebut.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya.

31
Riwayat Penyakit Keluarga :
Adik kandung pasien juga mengeluh keluhan yang sama
Riwayat Pengobatan :
Pasien sudah meminum obat Paracetamol yang dibeli sendiri di warung.
Riwayat Pribadi
1. Riwayat Nutrisi : Makanan pasien sehari-hari adalah masakan ibu pasien,
kadang pasien juga membeli jajanan atau makanan di sekitar rumahnya,
pasien dan keluarganya jarang menyimpan atau menyisakan makanan,
biasanya makanan yang ada dihabiskan untuk satu kali waktu makan.
Sebelum disantap biasanya makanan diletakkan di atas kompor dan tidak
ditutup, diletakkan di meja yang ada di dapur.
2. Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
 Pasien memiliki 2 saudara kandung dan bersama kedua orangtuanya
tinggal dirumah permanen.
 Pasien bukan perokok.
 Pasien merupakan keluarga ekonomi menengah ke bawah.
 Untuk keperluan mandi dan keperluan untuk memasak, pasien
menggunakan air sumur timba. Sumur terletak di belakang rumah,
jarak sumur dari tempat pembuangan tinja adalah 1 meter. Sumur
tersebut memiliki mulut sumur dengan tinggi 70 cm dari lantai dan
diameter sumur 60 cm, kedalaman sumur dari permukaan sumur 5
meter.
 Pasien mengaku bahwa ibunya selalu memasak air hingga mendidih
untuk keperluan konsumsi rumah tangga.
 Pasien memiliki fasilitas kamar mandi yang berada di luar rumah
pasien tanpa atap. Di dalam kamar mandi terdapat jamban jongkok.
 Untuk memasak, keluarga pasien menggunakan kompor gas.
 Pasien memiliki tempat pembuangan sampah di halaman depan rumah.

32
C. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Sedang Kesadaran : Compos Mentis


GCS : E4V5M6 BB : 35 kg
1. Vital Sign
Nadi : 88 x/menit
Pernapasan : 22 x/menit, teratur tipe torakoabdominal
Temperatur : 38 oC
2. Status General :
Kepala dan Leher :
1. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
2. THT : struktur normal, tidak nampak tanda radang
3. Mulut : Bibir sianosis (-), mulut normal, gigi geligi dalam batas
normal, lidah kotor (+)
4. Leher : Pembesaran KGB (-), kelenjar tiroid tidak membesar, leher
simetris
Thorax :
1. Inspeksi : Retraksi (-), pergerakan dinding dada simetris
2. Palpasi : Gerakan dinding dada simetris, fremitus vokal sama
antara kiri dan kanan
3. Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru. Batas jantung tidak
dievaluasi.
4. Auskultasi :
Pulmo : Vesikuler (+/+) , Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
1. Inspeksi : Massa (-), distensi (-), massa (-), skar (-)
2. Auskultasi : Peristaltik (+)
3. Perkusi : Timpani
4. Palpasi : Nyeri tekan (-) pada regio epigastrik, massa (-), hepar
dan lien tidak teraba
Anggota Gerak: Dalam batas normal

33
Kulit : tidak didapatkan kelainan
Urogenital : tidak didapatkan kelaian.
Vertebrae : nyeri ketok costovertebra (+)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal 29 Maret 2017


 Hasil Pemeriksaan Darah Rutin
Leukosit : 8.450/m3
Hemoglobin : 13,8 gr%
Trombosit : 245.000/m3
 Hasil Pemeriksaan Serologi
Widal Slide : O = 1/160 H = 1/160

E. DIAGNOSIS KERJA

Demam Tifoid

F. RENCANA TERAPI
Tirah baring
Kompres hangat
Diit rendah serat, cukup vitamin dan mineral
Thiamphenicol Tab 500 mg, 4 x 1 Tablet
Paracetamol Tab 500 mg, 3 x 1 Tablet
Vitamin B complex dan vit. C 2x1 Tablet

G. PROGNOSIS

Bonam

H. KONSELING, INFORMASI, DAN EDUKASI (KIE)

1. Mengkonsumsi makanan yang dianjurkan pada pasien ini adalah makanan


yang cukup mengandung cairan, tinggi kalori dan tinggi protein serta
rendah serat.

34
2. Menjaga kebersihan makanan, mengurangi kebiasaan makan dan minum
di luar rumah yang kebersihannya diragukan dan membiasakan mencuci
tangan dengan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan kuku
3. Edukasi kepada keluarga atau orang yang kontak dengan pasien diberikan
penjelasan mengenai rute tranmisi, gejala-gejala, dan cuci tangan yang
efektif, terutama setelah BAB dan BAK, dan sebelum menyiapkan
makanan atau makan.

35
BAB V

PEMBAHASAN

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-


faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma
hidup sehat yang diperkenalkan oleh H. L. Blum mencakup 4 faktor yaitu faktor
genetik (keturunan), perilaku (gaya hidup) individu atau masyarakat, faktor
lingkungan (sosial ekonomi, fisik, politik) dan faktor pelayanan kesehatan (jenis,
cakupan dan kualitasnya). Berikut akan dijelaskan kondisi penyakit yang dialami
pasien berdasarkan paradigma hidup sehat Blum.
1. Faktor Biologis
Keadaan malnutrisi, gizi kurang, atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat
besi dan lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga
rentan terhadap penyakit termasuk Demam tifoid. Daya tahan tubuh pasien
dalam kondisi yang tidak baik karena pasien kelelahan akibat waktu untuk
sekolah dan bermain yang mencapai 8 jam dalam sehari. Asupan nutrisi
pasien cukup, namun pasien lebih senang mengonsumsi jajanan di luar rumah
daripada makan makanan yang dimasak oleh ibunya di rumah. Pasien juga
tidak menyukai memakan sayur-sayuran.
2. Faktor Perilaku
Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Sabun setelah Buang Air Besar dan
sebelum Makan
Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri atau
virus patogen dari tubuh, feses atau sumber lain ke makanan. Oleh karenanya
kebersihan tangan dengan mencuci tangan perlu mendapat prioritas tinggi,
walaupun hal tersebut sering disepelekan. Cuci tangan yang baik adalah
dengan membilas tangan pada air yang mengalir dan menggunakan sabun atau
cairan antiseptik. Pada pasien dan keluarganya, kebiasaan mencuci tangan ini
sudah diterapkan, terutama cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar,
namun biasanya sebelum makan keluarga pasien hanya mencuci tangan
dengan air yang mengalir tanpa menggunakan sabun. Hal ini menjadi salah

36
satu faktor resiko terjadinya penularan infeksi Salmonella thypi, karena
kurangnya higienitas tangan pasien.
Kebiasaan Makan di Luar Rumah
Secara umum, untuk memperkecil kemungkinan tercemar Salmonella
thyphi, maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan
minuman yang mereka konsumsi. Penularan tifus dapat terjadi dimana saja
dan kapan saja, biasanya terjadi melalui konsumsi makanan di luar rumah atau
di tempat-tempat umum, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi
kurang bersih. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh
seorang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan
saat memasak. Pasien sering makan di luar rumah terutama saat pasien berada
di sekolah dan ketika bermain bersama teman-teman, maka kemungkinannya
kebiasaan makan pasien ini menjadi salah satu faktor resiko terjadinya demam
tifoid pada pasien.
Kebiasaan Mencuci Bahan Makanan Mentah yang Akan Dimakan
Langsung
Penularan tifoid dapat terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang
berasal dari air yang tercemar, buah-buahan, sayuran mentah yang dipupuk
dengan kotoran. Bahan mentah yang hendak dimakan tanpa dimasak terlebih
dahulu misalnya sayuran untuk lalapan, hendaknya dicuci bersih dibawah air
mengalir untuk mencegah resiko kontaminasi bahan makanan oleh Salmonella
typhi. Konsumsi makanan mentah ini masih memiliki kemungkinan kecil
untuk menjadi factor resiko kontaminasi makanan oleh Salmonella typhi,
mengingat sumber air bersih pasien belum dapat dikatakan aman dari resiko
pencemaran.
Kebiasaan Membersihkan Peralatan Makan dan Minum pada Rumah
Tangga
Permukaan alat yang digunakan untuk menyimpan makanan harus dijaga
agar selalu bersih untuk menghindari kontaminasi makanan dari Salmonella
typhi, sehingga peralatan makan dan minum harus dicuci dengan sabun agar
menjadi bersih. Pasien selama ini selalu mencuci peralatan makannya dengan

37
sabun, namun terkadang peralatan makan pasien sering dibiarkan bertumpuk
dalam keadaan kotor hingga lebih dari sehari oleh ibunya, dan setelah di cuci
peralatan makan pasien tidak disimpan dalam lemari atau wadah yang bersih.
Hal ini menjadi salah satu faktor resiko penyebab kontaminasi Salmonella
typhi.
Kebiasaan Menyimpan Makanan
Makanan yang telah siap saji namun tidak langsung dimakan seharusnya
disimpan pada tempat penyimpanan makanan terolah yang bersih dan dalam
keadaan tertutup untuk melindung makanan dari serangga (lalat). Pada rumah
pasien, makanan siap saji hanya diletakkan di atas meja makan dengan
ditutup menggunakan tudung saji ataupun penutup lainnya.
Kebiasaan Memasak Air yang Akan Diminum
Salmonella typhi dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan
beku, peka terhadap proses klorinasi dan pasteurisasi pada suhu 63°C.
Organisme ini juga mampu bertahan beberapa minggu di dalam air, es, debu,
sampah kering dan pakaian, mampu bertahan di sampah mentah selama satu
minggu dan dapat bertahan dan berkembang biak dalam susu, daging, telur
atau produknya tanpa merubah warna atau bentuknya. Oleh sebab itu
memasak air yang akan diminum merupakan salah satu upaya penting untuk
mencegah kolonisasi Salmonella typhi pada air yang akan diminum. Ibu
pasien menjelaskan bahwa air yang dikonsumsi berasal dari air galon isi
ulang yang dibeli dan tidak dimasak terlebih dahulu hingga mendidih
sebelum dikonsumsi sebagai air minum.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dianggap cukup berperan dalam proses penyebaran infeksi
Salmonella typhi, terutama hal yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan.
a. Sarana air bersih
Sarana air bersih merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan
dengan kejadian demam tifoid. Prinsip penularan demam tifoid adalah
melalui fekal-oral. Kuman berasal dari tinja atau urin penderita atau
bahkan carrier (pembawa penyakit yang tidak sakit) yang masuk ke dalam

38
tubuh melalui air dan makanan. Pemakaian air minum yang tercemar
kuman secara massal sering bertanggung jawab terhadap terjadinya
Kejadian Luar Biasa (KLB). Di daerah endemik, air yang tercemar
merupakan penyebab utama penularan penyakit demam tifoid.
Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber
air bersih bagi penghuni rumah yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, sehingga perlu diperhatikan dalam pendirian
sarana air bersih. Apabila sarana air bersih dibuat memenuhi syarat teknis
kesehatan diharapkan tidak ada lagi pencemaran terhadap air bersih, maka
kualitas air yang diperoleh menjadi baik. Keluarga pasien menggunakan
sarana air bersih berupa sumur gali.
Persyaratan kesehatan sarana air bersih untuk sumur gali adalah jarak
sumur gali dari sumber pencemar minimal 11 meter, lantai harus kedap
air, tidak retak atau bocor, mudah dibersihkan, tidak tergenang air, tinggi
bibir sumur minimal 80 cm dari lantai, dibuat dari bahan yang kuat dan
kedap air, dibuat tutup yang mudah dibuat. Sumur gali yang terdapat di
rumah pasien merupakan sumur gali yang belum memenuhi persyaratan
kesehatan sarana air bersih, karena sumur gali yang terdapat pada rumah
pasien memiliki tinggi bibir sumur kurang dari 80 cm (tinggi bibir sumur
gali 70 cm), jarak sumur gali dari sumber pencemar kurang dari 11 meter
(jarak ke sumber pencemar 7 meter), dan sumur gali pasien tidak
memiliki penutup. Pada daerah di sekitar sumber air bersih pasien tidak
ada sumber pencemar lain seperti tempat pembuangan sampah dan limbah
yang memungkinkan pencemaran air sumur di rumah pasien.
b. Jamban
Jamban sehat adalah jamban yang memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1) Tidak mencemari sumber air bersih (jarak antara sumber air bersih
dengan lubang penampungan minimal 10 meter).
2) Tidak berbau.
3) Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.

39
4) Tidak mencemari tanah disekitarnya.
5) Mudah dibersihkan dan aman digunakan.
6) Dilengkapi dinding dan atap pelindung.
7) Penerangan dan ventilasi yang cukup.
8) Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
9) Tersedia air, sabun dan alat pembersih.
Pada rumah pasien terdapat jamban model leher angsa yang terdapat di
dalam rumah serta tidak tertutup atap. Jamban di rumah pasien belum
memenuhi persyaratan diatas, dalam hal mencemari sumber air bersih,
karena tempat penampungan jamban pasien berjarak 7 meter dari sumur
gali yang ada di rumah pasien. Kemungkinan proses penyebaran fekal-oral
penyakit tifoid di rumah pasien yang diperantarai oleh lalat sangat kecil,
dan jamban pasien kotor dan tidak rutin dibersihkan setiap seminggu
sekali.
c. Hewan penyebar infeksi (Vektor infeksi)
Berbagai hama dan hewan peliharaan dapat menjadi vektor pembawa
penyakit tifoid, lalat, semut, kecoa, dan hama serangga lain dapat
memindahkan organisme dari sumber yang tercemar organisme patogen
ke dalam makanan. Penularan penyakit tifoid adalah melalui tinja
penderita. Tinja penderita yang dihinggapi kecoak, lalat atau semut, siap
disebarkan ke mana saja kecoak, lalat atau semut itu pergi. Kalau
merayap di piring, pada makanan, kue, sayuran dan lain-lain, bisa
menular kepada orang lain, yang menggunakan piring atau memakan
makanan-makanan tersebut.
d. Faktor Pelayanan Kesehatan
Sepengetahuan kelompok kami tidak ada program promotif dan
preventif untuk kasus tifoid, walaupun penyakit ini merupakan salah satu
penyakit dari 10 penyakit yang angka kejadian rawat inapnya cukup
tinggi. Sehingga proses penyampaian informasi mengenai demam Tifoid
jarang diterima oleh masyarakat umum. Hal ini merupakan salah satu
permasalahan yang menyebabkan kurangnya pengetahuan pasien

40
mengenai demam tifoid dan mempengaruhi keputusan pasien dalam
mencari upaya kesehatan bagi diri pasien.

41
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Tidak terdapat program terkait promotif dan preventif demam Tifoid di
Puskesmas Batua.
2. Permasalahan yang ada pada pasien adalah pada faktor biologis:
imunitas; faktor perilaku: kebiasaan mencuci tangan dengan sabun
setelah buang air besar dan sebelum makan (pasien mencuci tangan tanpa
menggunakan sabun), kebiasaan membersihkan peralatan makan dan
minum pada rumah tangga (ibu pasien sering menumpuk peralatan makan
yang kotor hingga lebih dari sehari), kebiasaan memasak air yang akan
diminum (ibu pasien menjelaskan bahwa air yang dikonsumsi berasal dari
air galon isi ulang yang dibeli dan tidak dimasak terlebih dahulu hingga
mendidih sebelum dikonsumsi sebagai air minum), dan pada faktor
lingkungan: sarana air bersih (sarana air bersih mungkin saja
terkontaminasi pencemar).

B. SARAN

Perlu dibuat program khusus untuk demam Tifoid di Puskesmas Batua, yang
terutama fokus pada aspek promotif (misalnya: penyuluhan tentang PHBS) dan
preventif (misalnya: program perbaikan sanitasi atau upaya imunisasi Tifoid).
Pemantauan penggunaan air bersih di masyarakat. Serta, penyuluhan tentang
STOP buang air besar sembarangan.

42
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization [internet]. 2014. Available from :


www.who.int/immunization/topics/typhoid/en/index.html. Diakses tanggal 21
Maret 2018.
2. American Public Health Association. Typhoid fever in: Control of
Communicable Diseases, An official report of the American public health
association, 17th edition. Washington DC: American Public Health
Association; 2000.
3. Ashkenazy S, Cleary TG. Infeksi Salmonella dalam Buku Ilmu Kesehatan
Anak Nelson. Vol. II. 15th ed. Jakarta: EGC; 2000.
4. Depkes RI. Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Jakarta: Direktorat Jendral
PP & PL; 2006.
5. Alladany N. Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Kesehatan terhadap
kejadian Demam Tifoid di kota Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas
Diponegoro; 2010.
6. World Health Organitation. Background Document : The Diagnosis, Treatment
An Prevention Of Typhoid Fever, WHO/V&B/03.07. Geneva : World Health
Organization; 2003.
7. Sumarmo, dkk. Infeksi & Penyakit Tropis. Jakarta: FKUI; 2002.
8. Tim Penyusun. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia; 2010.
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Riset Kesehatan
Dasar 2007 Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia; 2008.
10. Tumbelaka AR. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics
Update, Edisi 1. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2003.
11. Soedarmo SS et al. Demam tifoid dalam Buku ajar infeksi & pediatri tropis,
Ed. 2. Jakarta : Badan Penerbit IDAI; 2008.
12. Vollaard AM et al. Risk factors for typhoid and paratyphoid fever in Jakarta,
Indonesia. JAMA. 2004; 291: 2607-15.

43