Anda di halaman 1dari 23

TUGAS RESUME AKUNTANSI FORENSIK

Dosen Pengampu : Anis Chariri, Ph.D, Ak, CA

Di susun oleh :
HILDA ANGGRAENI
12030117420074
MAGISTER AKUNTANSI
Angkatan 38 Pagi

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
A. RINGKASAN UMUM KASUS HAMBALANG
Pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olah Raga
Nasional (P3SON) di Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat, menuai
kontroversial. Dalam audit BPK, ditulis bahwa proyek bernilai Rp1,2 triliun
ini berawal saat Direktorat Jenderal Olahraga Departemen Pendidikan
Nasional hendak membangun Pusat Pendidikan Pelatihan Olahraga Pelajar
Tingkat Nasional (National Training Camp Sport Center).
Kemudian, pada tahun 2004 dibentuklah tim verifikasi yang bertugas
mencari lahan yang representatif untuk menggolkan rencana tersebut. Hasil
tim verifikasi ini menjadi bahan Rapim Ditjen Olahraga Depdiknas untuk
memilih lokasi yang dianggap paling cocok bagi pembangunan pusat
olahraga tersebut. Tim verifikasi mensurvei lima lokasi yang dinilai layak
untuk membangun pusat olahraga itu. Yakni di Karawang, Hambalang,
Cariu, Cibinong, dan Cikarang. Tim akhirnya memberikan penilaian
tertinggi pada lokasi desa Hambalang, Citeureup, Bogor. Tim melihat, lahan
di Hambalang itu sudah memenuhi semua kriteria penilaian tersebut di atas.
Sehingga lokasi tersebut dipilih untuk dibangun.
Menindaklanjuti pemilihan Hambalang, Dirjen Olahraga Depdiknas
langsung mengajukan permohonan penetapan lokasi Diklat Olahraga
Pelajar Nasional kepada Bupati Bogor. Bupati Bogor menyetujui dengan
mengeluarkan Keputusan Bupati Bogor nomor 591/244/Kpes/Huk/2004
tanggal 19Juli 2004. Sambil menunggu izin penetapan lokasi dari Bupati
Bogor tesebut, pada 14 Mei 2004, Dirjen Olahraga telah menunjuk pihak
ketiga yaitu PT LKJ untuk melaksanakan pematangan lahan dan pembuatan
sertifikat tanah dengan kontrak No.364/KTR/P3oP/2004 dengan jangka
waktu pelaksanaan sampai dengan 9 November 2004 senilai
Rp4.359.521.320.
Namun, ternyata lokasi Hambalang itu masuk zona kerentanan
gerakan tanah menengah tinggi sesuai dengan peta rawan bencana yang
diterbitkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
Kementerian ESDM. Sesuai dengan sifat batuannya, PVMBG menyarankan
untuk tidak mendirikan bangunan di lokasi tersebut karena memiliki risiko
bawaan yang tinggi bagi terjadinya bencana alam berupa gerakan tanah.
Selain itu, status tanah di lokasi dimaksud masih belum jelas,
meskipun telah dikuasai sejak pelepasan/pengoperan hak garapan dari para
penggarap kepada Ditjen Olahraga setelah realisasi pembayaran uang
kerohiman kepada para penggarap sesuai Berita Acara Serah Terima
Pelepasan/Pengoperan Hak Garapan tertanggal 19 September 2004. Sejak
itulah area tanah tersebut diakui sebagai aset Ditjen Olahraga dan kemudian
pada tanggal 18 Oktober 2005 diserahterimakan kepada organisasi baru
yaitu Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) setelah
Ditjen Olahraga berubah menjadi Kemenpora. Menpora saat itu, Adhyaksa
Dault mengakui bahwa untuk membangun pusat olahraga pihaknya
mengajukan anggaran sebesar Rp125 miliar. Karena proyek tersebut
awalnya bukan untuk pembangunan pusat olahraga. Melainkan
hanya pembangunan sekolah olahraga.
Secara kronologis, proyek ini bermula pada bulan Oktober Tahun
2009. Saat itu Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olah Raga) menilai
perlu ada Pusat Pendidikan Latihan dan Sekolah Olah Raga pada tingkat
nasional. Oleh karena itu, Kemenpora memandang perlu melanjutkan dan
menyempurnakan pembangunan proyek pusat pendidikan pelatihan dan
sekolah olahraga nasional di Hambalang, Bogor. Selain itu juga untuk
mengimplementasikan UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem
Keolahragaan Nasional.
Akhirnya pada 30 Desember 2010, terbit Keputusan Bupati Bogor
nomor 641/003.21.00910/BPT 2010 yang berisi Izin Mendirikan Bangunan
untuk Pusat Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional atas
nama Kemenpora di desa Hambalang, Kecamatan Citeureup-Bogor. Atas
keberlanjutan tersebut, maka Pembangunan Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional mulai dilaksanakan tahun 2010
dan direncanakan selesai tahun 2012. Berdasarkan hasil perhitungan
konsultan perencana, untuk membangun semua fasilitas dan prasarana
sesuai dengan master plan yang telah disempurnakan, anggaran mencapai
Rp 1,75 triliun yang sudah termasuk bangunan sport science, asrama atlet
senior, lapangan menembak, extreme sport, panggung terbuka, dan voli
pasir.
Sejak tahun 2009-2010 Kementerian Keuangan dan DPR menyetujui
alokasi anggaran sebagai berikut :
1. APBN murni 2010 sebesar Rp 125 miliar yang telah diajukan pada
tahun

2009

2. APBNP 2010 sebesar Rp 150 miliar

3. Pagu definitif APBN murni 2011 sebesar Rp 400 miliar


Pada 6 Desember 2010 keluar surat persetujuan kontrak tahun jamak
dari Kemenkeu RI nomor S-553/MK.2/2010. Pekerjaan pembangunan
direncanakan selesai 31 Desember 2012. Penerimaan siswa baru
diharapkan akan dilaksanakan tahun 2013-2014.

B. PELAKU KASUS HAMBALANG


a) Pelaku Utama
1) Andi Alfian Mallarangeng
Seorang pengamat politik Indonesia yang menjabat sebagai
Menteri Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Indonesia Bersatu
II. Ia juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan bagi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
2) Wafid Muharam
Sebagai Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sekmenpora)
dan sebagai tangan kanan Menpora Andi Alfian Mallarangeng

3) Deddy Kusdinar
Sebagai Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kementerian
Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
4) Lisa Lukitawati
Sebagai Direktur dari CV Rifa Medika
5) Choel Mallarangeng
Sebagai Presiden Direktur PR FOX Indonesia.
6) Anas Urbaningrum
Sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat tahun 2009. Sempat
mempimpin Divisi Otonomi Politik dan Daerah sebelum menjadi
Ketua Umum DPP partai Demokrat. Pada tahun 2001-2005
bergabung menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Pasca mundurnya beliau dari Ketua Umum Partai Demokrat, pada
tahun 2013 ia mendirikan organisasi masyarakat yang bernama
Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI).
7) Muhammad Nazarudin
Muhammad Nazaruddin dipilih sebagai anggota Banggar DPR
periode 2009-2014 dari Fraksi Partai Demokrat dan pada tahun
2010 diangkat Bendahara Umum Partai Demokrat.

b) Pelaku lainnya
No Nama Pelaku Diskripsi
Perusahaan yang bergerak dibidang
PT Metaphora Solusi
1 arsitektur dan memenangkan konsep
Global (PT MSG)
masterplan dari proyek Hambalang.
Menjabat sebagai ketua komisi X DPR
2 Mahyuddin NS
RI
Anggota DPR RI periode 2004-2009 dan
3 Angelina Sondakh 2009-2014 sebagai Badan Anggaran
(Banggar) dari partai Demokrat
Sukses menduduki Anggota DPR untuk
4 Mirwan Amir periode 2009-2014 sebagai anggota
Banggar.
Sebagai anggota komisi X dari Fraksi
5 Wayan Koster Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP).
Anggota DPRD komisi X wilayah
6 Kahar Muzakir
Sumatera Selatan II
Sebagai anggota Komisi X DPR RI dari
7 Juhaeeni Alie
Fraksi Partai Demokrat.
Sebagai anggota komisi X DPR RI dan
8 Mardiyana Indra Wati anggota Kelompok Kerja (Pokja) Proyek
Hambalang.
Seorang pengusaha dalam kasus
hambalang hanya menjadi saksi karena
9 Saul Paulus David Nelwan
meminta uang Rp 600 juta dari PT Adhi
Karya
Anggota dari Fraksi Partai Amanat
10 Ida Bagus Wirahadi
Nasional
11 Poniran -

a. Teuku Bagus Mukhamad Noor


(sebagai Kepala Divisi Konstruksi
Jakarta I)
b. M Arief Taufiqurahman (sebagai
Manajer Pemasaran sekaligus
12 PT Adhi Karya Fasilitator dari Teuku Bagus
Mokhamad Noor)
c. Muhammad Tamzil (Fasilitator dari
Teuku Bagus Mokhamad Noor dan M
Arief Taufiqurahman)
d. Indrajaja Manopol ( Sebagai Direktor
Operasi)
Perusahaan BUMN yang bergerak
13 PT Wijaya Karya dibidang konstruksi yang bekerja sama
(KSO) dengan PT Adhi Karya.
14 Mohammad Fakhruddin Sebagai staf khusus Menpora
15 Mahfud Suroso Direktur PT Dutasari Citralaras
16 PT Grup Permai Perusahaan milik M Nazaruddin
Perusahaan subkontraktor untuk
PT Global Daya Manunggal pekerjaan struktur, arsitektur asrama
17
(GDM) junior putra-putri dan Gedung Olah Raga
(GOR) Serbaguna.
Perusahaan milik Nazaruddin yang
18 PT Duta Graha Indah (DGI)
bergerak dibidang konstruksi
Direktur Marketing PT Anak Negeri
19 Mindo Rosalina Manulang yang kemudian menjadi rekanan PT Duta
Graha Indah (DGI)
Direktur PT MSONS Capital sekaligus
20 Munadi Herlambang Wakil Sekretaris Bidang Pemuda dan
Olahraga DPP Partai Demokrat.
Direktur Operasi PT Pembangunan
21 Ketut Darmawan
Perumahan
Wakil Presiden Komisaris Utama Bank
Mandiri yang pernah menjabat sebagai
22 Muchayat Deputi Kementerian Badan Usaha Milik
Negara (BUMN)

Anggota Fraksi Partai Demokrat yang


menduduki kursi di Komisi II DPR RI.
23 Ignatius Mulyono
Dalam tugasnya, ia membidangi proses
pengaturan kebijakan negara khususnya,
Pemerintahan Dalam Negeri, Aparatur
Negara, Otonomi Daerah, dan Agraria.

C. MODUS DALAM KASUS HAMBALANG


Kasus proyek Hambalang merupakan kejahatan korupsi
“berjamaah” yang terorganisasi. Tahapan korupsi dilakukan sejak dalam
penganggaran, lelang, hingga pelaksanaan kegiatan pengadaan. Dampak
negatif yang timbul akibat kejahatan ini bagi perekonomian Indonesia
setidaknya berkisar pada dua hal, yaitu : Aspek kerugian keuangan negara
dan buruknya infrastruktur publik yang dihasilkan. Kedua dampak tersebut
harus diterjemahkan sebagai kerugian bagi publik, karena yang dikorupsi
merupakan hasil penerimaan negara dari publik (pajak).
Korupsi proyek Hambalang adalah korupsi terstruktur. Semua pihak
uang disebutkan didalam audit menjalankan peranannya masing-masing.
Dimuali dari penyiapan lahan untuk pembangunan, termasuk perizinan,
persetujuan teknis pengadaan (lelang dan kontrak tahun jamak), pencairan
anggaran, hingga penetapan pemenang lelang yang dilakukan diluar
prosedur baku.
Korupsi secara bersama-sama yang terjadi pada kasus proyek
Hambalang menunjukan tipe korupsi yang terorganisasi. Kelompok
penguasa berkolaborasi dengan kepentingan bisnis melakukan kejahatan.
Modus kejahatan korupsi semacam ini hanyalah modifikasi dan replikasi
kejahatan korupsi Orde Baru. Dari data diketahui tercatat total loss atau
jumlah kerugian negara dalam kasus mega proyek di Bukit Hambalang,
Sentul, Bogor mencapai Rp 463,66 Miliar.
D. ALUR KORUPSI KASUS HAMBALANG

Oktober 2009
Sesmenpora Wafid Muharam menyampaikan
Deddy Kusnidar bersama Wafid bertemu
status tanah bermasalah karena belum ada Selanjutnya, dilakukan pertemuan di ruangan Choel Mallarangeng di Restoran Jepang
sertifikat.” Andi lalu memerintahkan Wafid
Menpora yang dihadiri Wafid, Deddy, Choel, Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Pada pertemuan
agar segera menyelesaikan masalah status
Fachruddin, dan Arief dari PT Adhi Karya. tsb Choel menyampaikan bahwa abangnya
tanah tadi.
Dengan ditetapkannya KSO Adhi-Wika Andi Mallarangeng sudah satu tahun
sebagai pemenang proyek Hambalang. Total menjabat Menpora tapi belum dapat apa-
dana yang diperoleh Andi Rp 4 Miliar dan US$ apa.
550.000
Desember 2009
Wafid menyampaikan perkiraan anggaran proyek
sekitar Rp 2,5 T dana, ada hambatan saat proses
anggaran, namun Andi menanggapi dengan Atas persetujuan DPR tsb, Wafid melalui
mengatakan komisi X merupakan teman- Saul Paulus David Nelwan meminta uang
temannya sebesar Rp 500 juta kepada PT Adhi Karya
melalui Ida Bagus Wirahadi dan Rp 100juta
dari Poniran, sehingga seluruh jumlah Rp
600juta. Uang tersebut diserahkan kepada
Mahyudin saat kongres Partai Demokrat Di
Akhir 2009
Bandung.
Andi memperkenalkan adiknya Andi Zulkarnain
Anwar alias Choel kepada Wafid. Andi
menyatakan adiknya akan banyak membantu
urusan Kemenpora
Persetujuan penambahan
anggaran ditandatangani oleh
Mahyudin selaku pimpinan Komisi
Awal tahun 2010, terkait proses pengajuan bahan anggaran X dan jajarannya, yakni Rully
pembangunan hambalang, Andi diminta wafid untuk berkordinasi dengan Chairul Azwardan dan Abdul
Kemenpora lalu mengajukan usulan penambahan
Komisi Xdan Kementerian PU. Andi dan Wafid selanjutnya mengadakan Hakam Naza. Selain itu,
anggaran proyek Hambalang sebesar Rp 625 M
pertemuan di ruangan Menporan dengan anggota DPR dari Fraksi ditandatangani oleh anggota Pokja
dalam APBN-P 2010. Pokja anggaran Komisi X
Demokrat yang bertugas di Komisi Xdan Badan Anggaran DPR, yaitu seperti Angelina Sondach, Wayan
menyetujui penambahan dana sebesar Rp 150 M
Mahyudin (ketua komisi X), Angelina Sondach, Mirwan Amir dan Koster, Kahar Muzakir, Juhaeni Alie
dalam APBN-P 2010 tanpa melalui proses Rapat
Nazaruddin dan Mardiyana Indra Wati. Dengan
Dengar Pendapat (RDP) antara Pokja dan Kemenpora
demikian anggaran tersedia
menjadi Rp 275 M.
LANJUTAN

Agustus 2010, proyek Hambalang menjaddi ajang


rebutan antara PT Duta Graha Indah (DGI) yang
dimiliki muhammad Nazaruddin dan Perusahaan
BUMN PT Adhi Karya. Akhirnya, Ignatius berhasil mengurus SK Hak Pakai atas
tanah Kemenpora di Hambalang, kemudian
menyerahkan SK tersebut kepada Anas di ruangan
Ketua Fraksi Partai Demokrat yang disaksikan
Nazaruddin. Salinan SK diberikan ke Nazaruddin.
Mindo Rosalina Manulang (PT DGI) dan Lisa
Lukitawati (staf tim persiapan pembanguna proyek
Hambalang) bertemu Arief Taufiqurrahman
(manajer pemasaran PT Adhi Karya) dan meminta
PT Adhi karya mundur dari ProyekHambalang, Anas membantu untuk mengurus permasalahan
karena dia dan Nazaruddin yang akan tanah Hambalang di Badan Pertanahan Nasional.
mengerjakannya. Anas memerintahkan Ignatius Mulyono selaku
Ketua Komisi II DPR dari Partai Demokrat yang
mempunyai mitra kerjanya BPN, untuk mengurus
permasalahan hak pakai tanah untuk pembangunan
Proyek Hambalang.
Arief selanjutnya melaporkan hal tersebut
pada Kepala Divisi Konstruksi Jakarta 1 PT
Adhi Karya Teuku Bagus Mokhamad Noor.

Jaksa mencatat Anas mendapat Rp 2,21 Miliar untuk membantu


Saat itu Anas menyampaikan pencalonan sebagai ketua umum dalam kongres Partai Demokrat
Terkait masalah ini, Teuku Bagus meminta tolong kepada Nazaruddin agar mundur 2010 yang diberikan secara bertahap pada 19 April hingga 6
Mahfud Suroso dari PT Dutasari Citalaras, yang dekat dan tidak mengambil proyek Desember 2010. Uang diserahkan Teuku Bagus melalui Munadi
dengan istri mantan Anas Urbaningrum Ketua Partai konstruksi pembangunan P3SON Herlambang, Indrajaja Manopol (Direktur Operasi PT Adhi Karya) dan
Demokrat Attiyah Laila, karena Mndo Mengganggu. Hambalang. Ketut Darmawan (Direktur Operasi PT Pembangunan Perumahan)
atas permintaan Muchayat.
E. ANALISIS KASUS HAMBALANG
Berdasarkan uraian kasus hambalang yang telah di uraikan diatas
termasuk kedalam jenis kucurangan korupsi yang dilakukan secara
berjamaah. Fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para pihak
yang bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisma). Termasuk
didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan (conflict
of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal
gratuities), dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion).
Kasus yang melibatkan mantan menpora adalah kasus penyuapan yang
mana penyuapan yang meliputi penyalahgunaan wewenang sebagai akibat
pertimbangan keuntungan pribadi yang bisa berupa uang atau yang lainnya.
Andi dengan sengaja telah menyalahgunakan kewenangannya sebagai
menpora dalam pengurusan proyek Hambalang, dimana sebagai Menpora
Andi adalah pengguna anggaran sekaligus pemegang otoritas kekuasaan
pengelolaan keuangan negara di Kemenpora serta memiliki kewajiban untuk
melakukanpengawasan pelaksanaan anggaran. Ciri yang terkait dengan
kasus ini berbentuk suatu pengkhianatan terhadap kepercayaan.

FRAUD TRIANGLE
Dalam kasus hambalang dapat dilihat fraud triangle yang melatarbelakangi
terjadinya fraud, yaitu:
1. Presure (dorongan)
Kedudukannya di kursi DPR pun membuat gaya hidupnya tinggi demi
gengsi. Anas Urbaningrum pun menggunakan dana tersebut untuk
berbagai kepentingan hiburan kongres demokrat 2010, jamuan para tamu
dll. Angelina pun mengaku mendapat tekanan dari beberapa pihak, untuk
membuat pengakuan yang memberatkan mantan Ketua Umum Anas
Urbaningrum tersebut, atau dirinya yang akan dijerat hukuman yang
lebih berat.
2. Opportunity (kesempatan)
Andi dengan sengaja telah menyalahgunakan kewenangannya sebagai
Menpora dalam pengurusan proyek Hambalang. Dimana sebagai
Menpora, Andi adalah pengguna anggaran sekaligus pemegang otoritas
kekuasaan pengelolaan keuangan negara di Kemenpora serta memiliki
kewajiban untuk melakukan pengawasan pelaksanaan anggaran
(kekuasaan/kewenangan/dan pengawasan terpusat pada satu orang).
Tender untuk menggarap proyek hambalang ini pun dimenangkan oleh
PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya yang sudah diatur oleh Andi
Malarangeng, Nazaruddin, dan Angelina Sondakh.
Selain itu PT Dutasari Citralaras menjadi subkontraktor proyek
hambalang, dan mendapat jatah senilai Rp 63 Miliyar, perusahaan yang
dipimpin oleh Mahmud Djokosantoso dan istri Anas yaitu Athiyyah
Laila , selain itu PT Adhi Karya juga melontarkan dana terima kasih
sebesar Rp 100 Milyar. Aliran dana itu digunakan setengahnya untuk
memenangkan Anas sebagai Ketua Partai Demokrat dan sisanya
dibagikan oleh Mahfud kepada anggota DPR RI, termasuk anggota
Menpora, Andi Malarangeng, selain itu ia pun mendapat ratifikasi berupa
mobil Toyota Harrier dari Nazaruddin.
3. Rasionalisasi
Andi Malarangen selaku Menpora merasa memiliki kewenangan dalam
proyek Hambalang, sehingga dalam pelaksanaannya, Andi Malarangen
merasa benar dan wajar dalam melakukan perombakan atau pembaruan
dari rencana awal proyek Hambalang tersebut. Akibatnya, anggaran
proyek Hambalang yang semula Rp 125 miliar terus bertambah. Hingga
tahun 2010, anggaran tersebut meningkat mencapai Rp 275 miliar.
Akhirnya anggaran tersebut membengkakdrastis menjadi total Rp 2,5
triliun, sehingga negara mendapat kerugian keuangan negara senilai Rp
464,391 miliar. Pembengkakan yang terus terjadi ini karna rasa
pembenaran atas keputusan yang diambil Andi Malarangeng selaku
Menpora sudah tepat. Andi Malarangeng merasa bahwa perbuatan fraud-
nya tidak dilakukan sendirian atau bersamasama bahkan pihak-pihak
elite politik pun terlibat, seperti Anas Urbaningrum, Ibas Yudhoyono,
Angelina Sondakh,dll.
RED FLAGS
Red flags adalah sidik jari atau jejak atau indikasi atau tanda-tanda yang dapat
memberikan petunjuk apakah ada atau terjadinya fraud. Dalam kasus
hambalang, red flag yang terjadi yaitu common red flags dan spesifik red
flags.
1. Common Red Flags
Tergolong dalam Skema Korupsi. Common red flags yang berkaitan
dengan korupsi adalah:
a. Anomali dalam menyetujui vendor
Pemilihan PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya tidak sesuai prosedur
yang ada yaitu meliputi:
1. Menggunakan standar penilaian yang berbeda dalam
mengevaluasi
pra kualifikasi antara PT Adhi Karya/PT Wijaya Karya dengan
rekanan lain
2. Standar untuk PT Adhi Karya/PT Wijaya menggunakan nilai
untuk
pekerjaan sebesar Rp 1,2 triliun sedangkan rekanan lain senilai Rp
262 miliar.
3. Pengumuman lelang dengan informasi yang tidak benar dan tidak
lengkap. Penyimpangan dalam penetapan pemenang lelang
konstruksi yaitu SesKemenpora telah melampaui wewenangnya
dengan menetapkan pemenang lelang untu kpekerjaan bernilai
diatas Rp 50 miliar tanpa memperoleh pelimpahan wewenang dari
Menpora sebagai pejabat yang berwenang menetapkan.
b. Kelemahan Pengecekan Ulang Persetujuan
1. Membiarkan Sekretaris Menpora pada saat itu yaitu Wafid
Muharam melampaui wewenang dalam menandatangani surat
permohonan kontrak tahun jamak (multiyears) terkait proyek
hambalang tanpa memmperoleh pendelegasian dari Menpora.
2. Pencairan dana proyek Hambalang yang menjadi
wewenang Agus selaku Menteri Keuangan dan Anny Ratnawaty
selaku Dirjen Keuangan dianggap menyalahi aturan karena
pengajuan anggaran hanya ditanda tangani Sekretaris Menpora
yang mana seharusnya ditanda tangani oleh 2 pihak yaitu Menteri
pengguna anggaran dalam hal ini Menpora dan Menteri Pekerjaan
Umum.
c. Hubungan antara karyawan kunci dan vendor resmi
Adanya sejumlah pertemuan antara peserta lelang dengan panitia
pengadaan untuk menentukan pemenang lelang.

2 Spesific Red Flags


Dalam kasus hambalang secara spesifik masuk ke skema korupsi, yaitu:
a. Pemisahan tugas yang lemah dalam menentukan kontrak dan
menyetujui faktur.
Tidak terlaksananya fungsi control yang baik terhadap staf, bawahan
dan fungsi pengawasan. Andi terbukti menyalahgunakan kewenangan
karena lalai mengontrol dan mengawasi adiknya Andi Zulkarnaen
Anwar alias Choel Mallarangeng dan stafnya yaitu mantan Sekretaris
Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharram dan mantan Kepala
Biro Keuangan dan Rumah tangga Kemenpora Deddy Kusdinar.
b. Transaksi dalam jumlah besar dengan vendor.
Membayarkan dana kepada PT Yodya Karya selaku konsultan
Perencana (Rp12,58 miliar), PT Ciriajasa Cipta Mandiri selaku
konsultan manajemen konstruksi (Rp5,85 miliar), KSO Adhi Karya dan
Wijaya Karta sebagai pelaksana jasa kontruksi (Rp453,27 miliar).
c. Penemuan hubungan antara karyawan dan pihak ketiga yang
tidak diketahui.
Terdakwa tidak mengontrol dan mengawasi adiknya Choel
Mallarangeng untuk berhubungan dengan pejabat Kemenpora dan
memberikan sarana untuk memudahkan jalan sehingga Choel meminta
'fee' kepada Wafid Muharam dan Deddy Kusdinar yang dari fakta
persidangan meminta 550 ribu dolar AS sebagai imbalan diloloskannya
PT Adhi Karya dan Rp2 miliar dari PT Global Daya Manunggal (GDM)
yang diserahkan Herman Prananto dan karena bisa memenangkan PT
GDM sebagai subkontraktor PT Adhi Karya adalah perbuatan persifat
koruptif.
3 Fraud Detection Model
Fraud Detection Model ini diterapkan hanya dalam kasus mendeteksi fraud
yang belum terjadi (prefentive action), bukan dalam penanganan fraud yang
sudah terjadi (repressive action), yaitu :
1. Mendeteksi fraud terjadi saat Anas Urbaningrum mendapatkan
gratifikasi berupa mobil mewah Toyota Harrier dari Nazaruddin dan PT
Dutasari Citralaras yang pada saat itu dikomisarisi oleh Athiyyah Laila
(Istri Anas) menjadi subkontraktor proyek Hambalang (ikut
berkecimpung di dalam proyek).
2. Mengembangkan profil kecurangan dengan cara mencari tahu latar
belakang pemberian mobil tersebut dan apa kaitannya dengan PT.
Dutasari Citralaras yang menjadi subkontraktor proyek, padahal tender
sudah diambil alih oleh PT. Adikarya dan PT. Waskita Karya.
3. Melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait yang memiliki
hubungan baik dan tidak baik, dengan Anas Urbaningrum dan beberapa
kader partai demokrat lainnya dalam menemukan informasi terkait.
4. Kemudian BPK dapat menganalisis bagaimana kesadaraan pihak
pihak yang terlibat dalam proses pelaksaan proyek. Apakah ada di
dalamnya terdapat kejanggalan tertentu seperti misalnya proyek
tersendat, urusan pembebasan lahan yang tiba-tiba selesai padahal
sebelumnya sulit, dan material proyek yang dibeli tidak sesuai dengan
anggaran yang dibuat, dsb.
5. Setelah semua proses selesai maka dapat ditarik kesimpulan
apakah Anas Urbaningrum melakukan fraud atau tidak.

FRAUD TREE
 Jenis kecurangan
Korupsi Konflik kepentingan, Andi Malarangeng selaku Menpora
menyalahgunakan kewenangan, dan kedudukanya dlm menjalankan proyek
hambalang (penggunaan dana proyek untuk kepentingan memperkaya diri
dan kegiatan politik pribadi, member akses istimewa kepada keluarganya
yaitu istri dan adiknya dalam keterlibatan kasus hambalang).
Penggunaan dana proyek untuk kepentingan kemenangan Anas
Urbaningrum dalam kongres partai demokrat.
Gratifikasi, dilakukan oleh PT Adhi Karya dengan memberikan
uang terima kasih atas kemenangan tender yaitu sebesar Rp 100M kepada
Andi Malarangeng. Pemenangan dua perusahaan BUMN (PT Adhi Karya
dan PT Wijaya Karya) itu ternyata tidak gratis. PT Dutasari Citralaras
menjadi subkontraktor proyek Hambalang dan mendapat jatah senilai Rp 63
miliar. Perusahaan yang dipimpin Mahfud itu dikomisarisi oleh Athiyyah
Laila, istri Anas. Andi Malarangeng mendapatkan gratifikasi berupa mobil
Toyota Harrier dari Nazarudin
 Pelaku Kecurangan
Pihak petinggi negara dan pihak eksternal yang terlibat dalam hal ini
pihak eksternal yang terlibat adalah adik dan istri Andi Malarangeng, PT
Adhi Karya dan pihak dari pemerintahan yaitu Andi Malarangeng,
Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Mirwan Amir, Jafar Hafsah, pimpinan
Banggar Melchias Markus Mekeng, Tamsil Linrung dan Olly
Dondokambey dll.
 Motivasi
Untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya, adanya tekanan
gaya hidup anggota DPR yang tinggi, tekanan dalam upaya pencalonan
ketua democrat (memerlukan modal biaya besar)
 Pihak Yang Di Untungkan
Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh,
Nazaruddin.
 Besarnya Kecurangan
Membengkaknya dana realisasi proyek hambalang yang semula
diperkirakan Rp 125M menjadi Rp 2,5T
 Materialitas
Kecurangan korupsi pada kasus Hambalang termasuk material
dikarenakan mencapai Rp. 463,67 miliar atau sekitar $ 35 juta.

Berkaitan kasus hambalang, adapun skema korupsi dan skema laporan


keuangan meliputi :
1. Skema Korupsi
Kasus hambalang diidentifikasi sebagai kasus korupsi dan kegiatan
yang dilakukan adalah :
a. Konflik Kepentingan
Mengarahkan secara terus-menerus terkait keputusan
(kebijakan/aturan, pembelian barang/jasa)
 Pengurusan hak lahan,site plan, dan IMB
1. Anas membantu untuk mengurus permasalahan tanah
Hambalang di Badan Pertanahan Nasional.
2. Selanjutnya Anas memerintahkan Ignatius Mulyono selaku
anggota Komisi II DPR dari Partai Demokrat yang
mempunyai mitra kerjanya BPN, untuk mengurus
permasalah hak pakai tanah untuk pembangunan proyek
Hambalang.
3. Akhirnya, Ignatius berhasil mengurus SK Hak Pakai atas
tanah Kemenpora di Hambalang, kemudian menyerahkan
SK tersebut ke Anas di ruangan Ketua Fraksi Partai
Demokrat yang disaksikan Nazaruddin. Salinan SK
diberikan ke Nazaruddin.
4. Rahmat Yasin Selaku Bupati Bogor yang menerbitkan Site
Plan atas rencana pembangunan P3SON berlokasi di Desa
Hambalang Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor.

b. Skema Suap
Kecurangan lelang (bid rigging) kecurangan yang dilakukan
dengan berbagai cara untuk memenangkan penyedia barang/jasa
tertentu yang dilatarbelakangi akan adanya pemberian sesuatu
yang bernilai dari penyedia yang dimenangkan.
1. Deddy Kusdinar bersama Wafid bertemu Choel
Mallarangeng di Restoran Jepang Hotel Grand Hyatt, Jakarta.
Pada pertemuan itu Choel menyampaikan bahwa abangnya
Andi Mallarangeng, sudah satu tahun menjabat Menpora tapi
belum dapat apa-apa.
2. Maksud ucapan Choel diperjelas oleh Mohammad Fakhruddin
staf khusus
Menpora yang menanyakan ke Wafid tentang kesiapan
memberi fee sebesar 18% kepada Choel untuk pekerjaan
pembangunan proyek Hambalang,"
3. Selanjutnya, dilakukan pertemuan di ruangan Menpora yang
dihadiri
Wafid, Deddy, Choel, Fakhruddin dan Arief dari PT Adhi
Karya.
c. Pemberian Tidak Sah
Dengan ditetapkannya KSO Adhi-Wika sebagai pemenang proyek
Hambalang, total dana yang diperoleh Andi Rp4 miliar dan
US$550.000.

2. Skema laporan keuangan

1. Kewajiban Tersembunyi
DK-1 Adhi Karya menerima dana sebesar Rp82,39 miliar dari KSO
AW (Kerjasama Operasi Adhikarya dan Wijayakarya). Atas
transaksi tersebut, KSO AW mencatat piutang ke Adhi Karya
sebesar Rp82,39 miliar. Namun, di sisi lain, DK-1 Adhi Karya tidak
mencatat transaksi tersebut sebagai utang ke KSO AW, melainkan
sebagai: (i) akun pendapatan diterima dimuka sebesar Rp70 miliar
2. Pengungkapan yang tidak benar
KSO telah mengalirkan dana yang diterima dari Kemenpora kepada
pihak-pihak tertentu, di antaranya untuk berbagai pengeluaran yang
telah dilakukan sebelum proyek diperoleh, yaitu, dana Rp12,3 miliar
untuk mengganti pengeluaran yang telah dilakukan Adhi Karya
sebelum proyek dimulai. Ada juga dana sebesar Rp6,92 miliar untuk
mengganti pengeluaran yang telah dilakukan Wijaya Karya sebelum
proyek dimulai, dan kas operasional KSO sebesar Rp13,22 miliar
yang di antaranya untuk mengganti berbagai pengeluaran seperti
upah, insentif, dan lain-lain.

PENILAIAN RISIKO KECURANGAN


Penilaian resiko kecurangan dimaksudkan untuk dapat mengetahui
besarnya dampak yang akan diterima ketika suatu fraud terjadi dalam
organisasi, sehingga organisasi tersebut dapat mengantisipasi besar dampak
yang akan diterima dari efek fraud tersebut.
Pada kasus Hambalang terjadi karena adanya kegagalan dalam
melaksanakan solusi untuk mencegah terjadinya resiko fraud. Solusi untuk
mencegah terjadinya resiko fraud:
- Tingkatkan pengendalian intern yang ada dalam organisasi
(pemerintah Indonesia).
- Tingkatkan keandalan internal audit
- Adanya imbalan yang memadai bagi seluruh pegawai dan adanya
pembinaan rohani
- Berikan sanksi yang tegas kepada mereka yang melakukan
kecurangan, dan berikan penghargaan bagi mereka yang berprestasi
Dalam pelaksanaan proyek Hambalang ada kegagalan yang terjadi
karena tidak adanya kebijakan tertulis tentang fair dealing sehingga proyek
Hambalang terkesan jalan sesuai kepentingan pihak tertentu yang
diuntungkan, Kementrian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan bahwa PU tak
dilibatkan dalam proyek pembangunan kompleks olahraga terpadu
Hambalang sejak perencanaan. Kepala Pusat Komunikasi Publik
Kementerian PU, Waskito Pandu menegaskan, sebenarnya tidak ada aturan
yang mewajibkan proyek strategis di Indonesia harus melibatkan PU sejak
awal, hanya saja, kebiasaan selama ini untuk proyek APBN strategis, PU yang
dianggap punya banyak ahli teknis, sering dimintai rekomendasi dan untuk
proyek Hambalang, memang tidak dilibatkan.

RISK ASSESSMENT FACTORS


 Pengendalian manajemen dalam menilai faktor resiko kecurangan kasus
proyek Hambalang tidak memadai sehingga mengakibatkan terjadinya
kecurangan, korupsi dan penggelapan dana.
 Faktor lingkungan perusahaan yang selalu berorientasi untuk mendapatkan
keuntungan pribadi dan pihak politik, faktor internal yang terjadi kegagalan
dalam lemahnya pembagian tugas dan pengawasan terhadap pihak yang
bertanggung jawab dalam proyek Hambalang, yaitu Menpora Andi
Malarangeng. Kecurangan yang berjalan dalam proyek Hambalang
diketahui dan dilaksanakan oleh berbagai elite politik dan pemerintahan
yang seharusnya mengedepankan kepentingan rakyat diatas kepentingan
pribadi/kelompok.

LINGKUNGAN PENCEGAHAN
1 Tone at the Top
Dari kasus hambalang diketahui bahwa para pihak eksekutif yang
berperan aktif dalam proses keberlangsungan fraud korupsi. Dimana
berbagai pihak yang memiliki kewenangan, kedudukan dan uang turut
aktif melancarkan kecurangan proyek hambalang. Ketua umum partai
demokrat yang saat itu dijabat oleh Anas Urbaningrum turut terlibat,
Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin terlibat, Menpora saat itu
Andi Malarangeng terlibat, bahkan putra SBY juga terlibat namun tidak
diusut lebih dalam, hal ini lah yang memungkinkan semakin lancarnya
kecurangan proyek hambalang terjadi, bahkan pihak atas pun yang
seharusnya mampu amanah dan mengemban jabatan dengan baik malah
asik menjalankan aksinya dalam upaya memperkaya dan
menguntungkan kepentingan pridadi, dan kelompok. Suara atas pun
sudah menjalankan yang salah, apalagi dibawah yang hanya menjalankan
perintah.
Dilakukan pemilihan pemimpin dengan lebih difilter lagi, seperti
(kejujuran, tanggungjawab, dan sikap yang baik) agar setelah menjabat
tidak melakukan praktik praktik melanggar hukum seperti korupsi dan
tindakan lainnya yang merugikan negara.
Diminimalisir adanya sistem kerja yang melibatkan orang orang yang
memiliki hubungan terkait agar tindak kerjasama atau persekongkolan
dalam melakukan tindak korupsi tidak terjadi.
Sikap pemimpin harus mempunyai integritas yang tinggi untuk tidak
terlibat dan membudayakan tindakan anti fraud.
2 Corporate Gorvernence Structure
Meningkatkan kultur perusahaan dapat dilakukan dengan
mengimplementasikan prinsip-prinsip Good Corporate Governance
(GCG) yang saling terkait satu sama lain agar dapat mendorong kinerja
sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasikan nilai
ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang
saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Tercapainya GCG dalam sebuah organisasi, maka perlu menjunjung
nilai-nilai transparansi, fairness, independensi, responsibility,
akuntabilitas. Kegagalan mengimplementasikan GCG dalam proyek
Hambalang dapat dilihat dari ketidak transparansian, fairness proses
pelaksanaan proyek hambalang, dimana dalam urusan pemenangan
tender proyek hambalang diketahui bahwa pihak-pihak dari Menpora
yang memberikan perlakuan khusus terhadap PT Adhi Karya dan PT
Wijaya Karya dengan memberitahukan nilai anggaran yang dicanangkan
untuk melaksanakan proyek hambalang, adanya multiyears kontrak
sebelum adanya penandatanganan dari Menkeu. Juga tidak adanya
keindependensian dalam pelaksanaan proyek, dapat dilihat ketika pihak-
pihak yang telibat dalam pelaksanaan proyek memiliki hubungan-
hubungan khusus dengan pejabat Menpora dan Pemerintahan.
3 Membangun struktur pengendalian intern yang baik
Dengan semakin berkembangnya suatu perusahaan, maka tugas manajemen
untuk mengendalikan jalannya perusahaan menjadi semakin berat. Agar
tujuan yang telah ditetapkan top manajemen dapat dicapai, keamanan harta
perusahaan terjamin dan kegiatan operasi bisa dijalankan secara efektif dan
efisien, manajemen perlu mengadakan struktur pengendalian intern yang
baik dan efektif mencegah kecurangan.
4 Mengefektifkan fungsi internal audit
Internal auditor tidak dapat menjamin bahwa kecurangan tidak akan terjadi,
namun ia harus menggunakan kemahiran jabatannya dengan saksama
sehingga diharapkan mampu mendeteksi terjadinya kecurangan dan dapat
memberikan saran-saran yang bermafaat kepada manajemen untuk
mencegah terjadinya kecurangan.resiko yang dihadapi perusahaan
diantaranya adalah Integrity risk, yaitu resiko adanya kecurangan oleh
manajemen atau pegawai perusahaan, tindakan illegal, atau tindak
penyimpangan lainnya yang dapat mengurangi nama baik /reputasi
perusahaan di dunia usaha, atau dapat mengurangi kemampuan perusahaan
dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adanya resiko tersebut
mengharuskan internal auditor untuk menyusun tindakan
pencegahan/prevention untuk menangkal terjadinya kecurangan
sebagaimana diuraikan dalam bagian sebelumnya.
Dengan mengoptimalkan sistem pengendalian intern yang ada di
kementrian terkait yang erat hubungannya dengan proyek proyek pemerintah
sehingga proyek apapun yang dilakukan dapat termonitor dengan baik, mulai dari
penganggaran, tander, hingga pelaksanaan di lapangan. Nuansa politik yang kental
dengan kepentingan bisa dikurangi selagi ada pembahasan atau rencana sebuah
pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah. Adanya sebuah hukuman
yang berat bagi pelaku kecurangan sehingga menimbulkan efek jera, serta adanya
contoh yang baik dari pimpinan yang diharapkan bawahan dapat meniru contoh
baik tersebut.