Anda di halaman 1dari 17

INTRUMENTASI KIMIA

IDENTIFIKASI KADAR PARACETAMOL DALAM KASUS


OVERDOSIS

DISUSUN OLEH :
NAMA : 1. GHEA DWI A. (011600438)
2. MUHAMMAD DZUHRI F (011600447)
3. NUR FATONI (011600452)
JURUSAN : D-IV TEKNOKIMIA NUKLIR
KELOMPOK : IV
DOSEN : EDI GIRI RACHMAN PUTRA, P.hD dan
NILATS TSURAYYA,M.Sc

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan izin dan ridhonya
yang telah memberikan berbagai inspirasi dan imajinasi sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Makalah “ Identifikasi Cangkang Kapsul Obat Dari Gelatin Babi Dengan Hplc
” ini dalah rangkaian tugas yang ha
rus diselesaikan dalam memenuhi mata kuliah Kewarganegaraan di Program Studi
Teknokimia Nuklir Jurusan Teknokimia Nuklir, Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir
Yogyakarta.
Melalui makalah ini, penulis berusaha memberikanpembahasan tentang segala
sesuatu mengenai Illegal Fishing yang mencakup penyebab, dampak, studi kasus, dan
terutama akan membahas pada hukum-hukum yang mengatur Illegal Fishing.
Dalam penulisan makalah ini, tentu ada kesalahan yang terjadi baik kesalahan
penulis atau kesalahan sistematika metode penulisan.Oleh karena itu, kritik dan saran
dari pembaca sangat diperlukan dalam rangka penyempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, Desember 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................. 3
2.1 Kasus Kematian karena Overdosis Paracetamol ............................................................. 4
2.2. Penggunaan HPLC untuk Identifikasi Paracetamol ............................................... 7
BAB III PENUTUP ....................................................................................................................... 3
3.1. Kesimpulan .................................................................................................................. 7
Daftar Pustaka........................................................................................................................... 3

iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Panas tinggi atau demam adalah suatu kondisi saat suhu badan lebih tinggi
daripada biasanya atau di atas suhu normal. Umumnya terjadi ketika seseorang
mengalami gangguan kesehatan. Suhu badan normal manusia biasanya berkisar
antara 36-37oC.. Jadi, seseorang yang mengalami demam, suhu badannya di atas
37oC. Sebenarnya, suhu badan yang mencapai 37,5oC masih berada di ambang
batas suhu normal. Tentu saja sepanjang suhu tersebut tidak memiliki
kecendrungan untuk meningkat. Dengan kata lain, ketika kondisi suhu badan
mencapai ambang batas, sudah selayaknya hal tersebut mendapatkan perhatian
yang lebih serius sehingga kemungkinan melampaui batas ambang dapat
dihindarkan.
Demam dapat diderita oleh siapa saja, dari bayi hingga berusia paling lanjut
sekalipun. Demam sesungguhnya merupakan reaksi alamiah dari tubuh manusia
dalam usaha melakukan perlawanan terhadap beragam penyakit yang masuk atau
berada di dalam tubuh. Dengan kata lain, demam adalah bentuk mekanisme
pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit. Apabila ada suatu kuman penyakit
yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan melakukan perlawanan
terhadap kuman penyakit itu dengan mengeluarkan zat antibodi. Pengeluaran zat
antibodi yang lebih banyak daripada biasanya ini diikuti dengan naiknya suhu
badan. Semakin berat penyakit yang menyerang, semakin banyak pula antibodi
yang dikeluarkan, dan akhirnya semakin tinggi pula suhu badan yang terjadi. (
Widjaja, 2001 ) Obat memiliki cakupan makna yang cukup luas, bukan hanya
terbatas pada zat-zat yang digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari sakit.
Zat-zat yang berfungsi untuk menetapkan diagnosis (mengetahui penyakit),
mencegah, mengurangi (meski tidak menyembuhkan), menghilangkan penyakit
atau gejala penyakit, luka atau kelainan, baik jasmaniah maupun rohaniah pada
manusia dan hewan, juga disebut dengan obat. Para peneliti merasa bahwa
penggunaan obat-obat nabati yang berupa rebusan ataupun ekstrak, tidak sebaik
yang diharapkan. Perbedaan asal tanaman dan cara pembuatan ramuan

1
mengakibatkan perbedaan jumlah kandungan zat aktif. Hal ini menyebabkan
efektivitas khasiat ramuan berbeda-beda, maka dilakukanlah isolasi (pemisahan)
zat aktif yang ada dalam ekstrak atau rebusan obat tersebut sehingga didapatkan
zat kimianya. Zat ini harus dapat diketahui rumus kimianya (nama kimianya),
sifat-sifat fisik dan kimianya, termasuk bagaimana obat bisa dibuat dalam bentuk
yang tepat, untuk kemudian dicobakan pada binatang. Percobaan pada binatang
ini dilakukan guna mengetahui cara kerja obat, efek obat, sifat-sifat obat,
kecepatan dan lamanya obat bereaksi di dalam tubuh.
Apabila zat kimia itu berhasil dalam percobaan binatang, maka tahap
selanjutnya adalah percobaan klinis kepada sukarelawan. Apabila percobaan ini
menyimpulkan bahwa obat memiliki khasiat dan keamanan yang baik, maka
barulah zat tersebut dapat didaftarkan kepada Badan Pemerintah yang berwenang
(di Indonesia adalah Badan Pengawasan Obat dan Makanan) untuk mendapatkan
kemudian oleh pengobatan modern dinamakan sebagai obat (zat aktif). Obat
dibuat dalam skala besar di pabrik obat. Dibuat dalam bentuk tablet, kapsul,
sirup, atau bentuk lainnya, bisa pula dibuat dalam berbagai bentuk sekaligus.
Pada proses pembuatannya, zat aktif obat tersebut biasanya akan ditambahkan
bahan-bahan lain yang dimaksudkan agar dapat membantu menjadi bentuk obat
yang baik. Bahan-bahan tambahan juga dimaksudkan untuk membantu agar obat
tersebut mudah masuk dan berkhasiat dalam tubuh sesuai dengan yang
diharapkan. ( Widodo, 2004 )
Parasetamol merupakan obat yang memiliki khasiat meredakan sakit / nyeri
dan menurunkan suhu demam. Parasetamol dimetabolisir oleh hati dan
dikeluarkan melalui ginjal. Parasetamol tidak merangsang selaput lendir lambung
atau menimbulkan perdarahan pada saluran cerna. Diduga mekanisme kerjanya
adalah menghambat pembentukan prostaglandin. ( http://www.actavis.co.id/ )
Obat ini digunakan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri dan
menurunkan suhu badan yang tinggi. Misalnya pada sakit kepala, sakit gigi, nyeri
haid, keseleo, demam imunisasi, demam flu dan lain sebagainya. Obat-obat
golongan ini yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat

2
ringan, sedangkan untuk sakit yang berat (misal: sakit karena batu ginjal, batu
empedu dan kanker) perlu menggunakan jenis obat keras (harus dengan resep
dokter) dan untuk demam yang berlarut-larut membutuhkan pemeriksaan dokter.
( Widodo, 2004 ).

1.2Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa rumusan
masalahsebagai berikut:
1. Cara identifikasi Kandungan zat aktif paracetamol menggunakan HPLC?
2. Mengapa harus menggunakan HPLC?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah mengenai ini adalah:
1. Mengetahui Kadar Paracetamol dalam sebuah Obat?

3
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Identifikasi Kandungan Zat Aktif Paracetamol dengan HPLC


Paracetamol

Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang


digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan
demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu.
Parasetamol aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis
obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi. Berbeda dengan obat
analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tidak memiliki
sifat anti radang.

Struktur Asetaminofen (parasetamol)


N-acetyl-para-aminophenol Berat molekul 151.17 Rumus empiris C8H9NO2

Asetaminofen atau yang biasa disebut Parasetamol, mempunyai daya kerja


analgetik dan antipiretik sama dengan Asetosal, meskipun secara kimia tidak
berkaitan. Tidak seperti Asetosal, Asetaminofen tidak mempunyai daya kerja
antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan pendarahan lambung. Sebagai obat
antipiretika, dapat digunakan baik Asetosal, Salsilamid maupun Asetaminofen.
Diantara ketiga obat tersebut, Asetaminofen mempunyai efek samping yang
paling ringan dan aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua
tahun sebaiknya digunakan Asetaminofen, kecuali ada pertimbangan khusus
lainnnya dari dokter. Dari penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahwa
kombinasi Asetosal dengan Asetaminofen bekerja lebih efektif terhadap demam
daripada jika diberikan sendiri-sendiri. ( Sartono, 1996 )

4
Cara kerja Parasetamol

Analgesik – antipiretik

 Sebagai analgesik, bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa


sakit
 Sebagai antipiretik, diduga bekerja langsung pada pusat pengatur panas di
hipotalamus Indikasi
 Meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi dan
menurunkan demam Kontra indikasi
 Penderita gangguan fungsi hati yang berat
 Penderita hipersensitif terhadap obat ini

Efek samping

 Penggunaan jangka lama dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan


hati
 Reaksi hipersensitivitas

2.1.2. Keracunan Parasetamol


Parasetamol (Asetaminofen) adalah obat yang sangat aman, tetapi bukan berarti
tidak berbahaya. Sejumlah besar asetaminofen akan melebihi kapasitas kerja hati,
sehingga hati tidak lagi dapat menguraikannya menjadi bahan yang tidak
berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu zat racun yang dapat merusak hati.
Keracunan asetaminofen pada anak-anak yang belum mencapai masa puber,
jarang berakibat fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun,
overdosis asetaminofen bisa menyebabkan kerusakan hati. Gejala keracunan
parasetamol terjadi melalui 4 tahapan :

 Stadium I (beberapa jam pertama) : belum tampak gejala


 Stadium II (setelah 24 jam) : mual dan muntah; hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa hati tidak berfungsi secara normal

5
 Stadium III (3-5 hari kemudian) : muntah terus berlanjut; pemeriksaan
menunjukkan bahwa hati hampir tidak berfungsi, muncul gejala kegagalan
hati
 Stadium IV (setelah 5 hari) : penderita membaik atau meninggal akibat gagal
hati Gejalanya lainnya yang mungkin ditemukan ialah :
o berkeringat
o kejang
o nyeri atau pembengkakan di daerah lambung
o nyeri atau pembengkakan di perut bagian atas
o diare
o nafsu makan berkurang
o mual atau muntah
o rewel
o koma

Gejala mungkin baru timbul 12 jam atau lebih setelah mengkonsumsi


parasetamol. Tindakan darurat yang dapat dilakukan di rumah adalah segera
memberikan sirup

6
2.1.1 Kasus kematian akibat overdosis paracetamol

Dalam dunia farmasi, setiap obat yang dibuat harus mempunyai dosis
yang diboleh oleh kementrian kesehatan.. obat – obat yang menimnulkan efek
seperti stimulan, antipretik, anelgersik dan lain – lain merupakan jenis obat
yang digunakan berdasarkan resep dokter.
Seperti yang dilansir dari laman healt.detik.com, diberitakan bahwa kasus
meninggalnya Chintia Shearer merupakan akibat over dosis paracetamol.
Chintia Cynthia Shearer (68 tahun) dirawat karena mengalami patah
tulang pinggul. Ia harus berbaring di rumah sakit dan dokter meyakinkan akan
melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa sakitnya. Keluarga berharap
operasi ringan bisa membuatnya segera pulang ke rumah.
Tapi Cynthia tidak pernah pulang lagi. Setelah 20 hari di rumah sakit,
nenek ini pun harus meninggal dunia di usia 68 tahun. Bukan karena tulang
pinggul yang patah atau operasi yang gagal, Cynthia meninggal karena
diberikan lebih dari 85 persen dosis aman parasetamol selama 48 jam pertama
di rumah sakit. Overdosis obat penghilang rasa sakit itu menyebabkannya
mengalami kegagalan multi organ. Dengan berat badan hanya 34,9 kg,
Cynthia seharusnya hanya diberikan parasetamol dosis anak. Perlu diketahui
bahwa dosis intravena harus didasarkan pada berat badan pasien.

2.1.2 Analis forensik pada kasus overdosis parasetamol


Adapun prinsip dasar dari HPLC (High Performance Liquid
Chromatography) yaitu adanya perbedaan koefisien distribusi antara
komponen fasa gerak dan fasa diam. Analsis ini menggunakan HPLC fasa
terbalik, karena fasa diam yang digunakan bersifat nonpolar yaitu C-18 dan
fasa gerak gerak yang digunakan ( campuran dari KH2PO4 0,01 M, methanol,
asetonitril dan isopropil alkohol) bersifat polar. Mode operasional yang
digunakan dalam analisis adalah mode isokratik dimana komposisi fasa gerak
dan laju kolom dibuat tetap.

7
Tahapan pertama pembuatan larutan induk sampel paracetamol.
Parasetamol berupa yang sudah ditimbang. Untuk melarutkan parasetamol
digunakan pelarut, Pelarut yang digunakan adalah campuran dari KH2PO4
0,01 M, methanol, asetonitril dan isopropil alkohol yang tidak berwarna.
Pelarut yang digunakan dikombinasikan komposisinya bertujuan untuk
memberikan faktor kapasitas yang cocok sehingga faktor human error dapat
dihindarkan. Fase gerak yang digunakan sudah memenuhi persyaratan fasa
gerak HPLC yaitu: jernih, murah, mudah diperoleh, dan tidak kental. Proses
degassing dilakukan untuk menghomogenkan dan menghilangkan gelembung-
gelembung gas pada larutan induk. Karena dengan adanya gas dalam larutan
sampel dapat menghambat pergerakan eluen sehingga terganggunya
pemisahan pada kolom karena larutan sampel tidak merata dan akan
menyebabkan terjadinya pelebaran puncak kromatogram. Selain itu,
penghilangan gas ini juga diperlukan untuk menghindari noise pada detektor
terutama fase organik berair.
Langkah berikutnya yaitu pembuatan larutan standar. Pembuatan
larutan standar dilakukan untuk menentukan kurva kalibrasi parasetamol.
Kurva kalibrasi dibuat sebagai pembanding. Pembuatan larutan standar
tersebut dilakukan secara kuantitatif. Oleh karena itu, penimbangan larutan
baku parasetamol harus tepat, pemipetan larutan induk harus tepat,
pengenceran larutan baku menjadi larutan standar harus pas sampai tanda
batas. Pembuatan masing – masing konsentrasi dan pelabelan harus
dilakukan secara teliti untuk mencegah terjadinya kekeliruan. Larutan standar
diinjeksikan secara berurutan dari konsentrasi terendah sampai konsentrasi
tertinggi.
Pada pembuatan lautan sampel parasetamol, sampel obat yang berupa
tablet ditimbang satu per satu. Hal ini dilakukan karena massa masing-masing
tablet tidak sama, sehingga digunakan massa rata-rata dari kesepuluh tablet.
Pengenceran filtrat dengan aquabides dimaksudkan untuk membuat
konsentrasi lebih kecil lagi dan mudah di analisis karena masih berada di

8
dalam range kurva kalibrasi larutan standar. untuk membebaskan larutan
sampel dari kotoran partikulat maka larutan standar tersebut disaring dengan
selulosa nitrat dan dihomogenkan dengan ultrasonik vibrator. Digunakan
membran selulosa nitrat untuk menyaring karena komponen yang akan
dipisahkan (parasetamol dan ) bersifat polar.
Alat HPLC diset sesuai dengan kebutuhan pengukuran yaitu dengan
panjang gelombang 215 nm, laju alir 1mL/menit.Pada saat memasukan
larutan standar maupun larutan sampel tidak terlalu banyak cukup dengan 20
mikoliter, karena jika terlalu banyak dapat menyebabkan band broadening
(pelebaran peak) dan pada saat memasukan cuplikan pada syringe tidak ada
gelembung udara agar menghasilkan pemisahan yang baik. Sebelum
digunakan, syringe harus dibilas dengan mengunakan metanol agar terbebas
dari kotoran.

Pada proses pemasukan cuplikan kedalam alat HPLC dilakukan


dengan menggunakan alat injeksi syiringe. Syringe disuntikan melaui septum
(seal karet), cuplikan yang masuk kemudian dialirkan oleh fasa gerak dengan
bantuan pompa. Dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen
campuran. Karena perbedaan kekuatan interaksi antara solute-solut terhadap
fasa diam. Solute yang kuat interaksinya dengan dengan fasa diam akan
tertahan. Dalam hal ini parasetamol yang lebih polar dibandingkan tertahan
lebih lama pada fasa diam dalam kolom. Sehingga setelah keluar kolom akan
dideteksi oleh detector yang kemudian direkam dalam bentuk kromatogram
yang menghasilkan puncak

Kolom yang digunakan dalam percobaan ini adalah kolom yang berisi
fasa diam C-18 denagna panjang 15 cm yang bersifat nonpolar dan
merupakan hasil reaksi antara silika dengan alkilklorosilana dimana gugus
alkilnya (R) adalah n-oktadesil. Fasa diam tersebut terikat pada fasa
pendukung yaitu silika. Dalam hal ini, fasa diam lebih nonpolar dari fasa
geraknya sehingga mode yang digunakan adalah mode fasa terbalik. HPLC

9
fasa terbalik ini baik untuk memisahkan campuran komponen-komponen yang
bersifat polar seperti parasetamol. fasa diam yang digunakan dalam HPLC
harus tahan terhadap tekanan tinggi, karena apabila digunakan struktur dengan
pori yang besar akan mudah rusak. Hal ini disebabkan menurunnya
permeabilitas akibat tekanan tinggi. Sementara proses elusi yang digunakan
adalah isocratic. Mode isokratik dilakukan pada temperature tetap dan
komposisi fasa geraknya sama selama pengukuran berlangsung yaitu pada
suhu 27 C dan laju alir nya 1 mL/menit.
Dalam pengelusian, parasetamol terelusi lebih awal dengan waktu
retensi lebih pendek yaitu 2,26 menit. Kepolaran dapat dilihat dari struktur
senyawanya dimana parasetamol hanya memilki satu ikatan CH3 sementara
3 ikatan CH3. Oleh karenanya, senyawa-senyawa akan menghabiskan dalam
kolom lebih lama dan mempunyai waktu retensi yang besar. Sementara,
molekul parasetamol dalam campuran akan menghabiskan waktunya untuk
bergerak bersama dengan pelarut sehingga akan keluar terlebih dahulu dan
mempunyai waktu retensi yang kecil. Detektor yang digunakan pada peralatan
HPLC ini adalah spektrofotometer UV, yaitu karena ada gugus kromofor pada
sampel.
Pelebaran puncak kromatogram dapat terjadi karena Adanya difusi
Eddy zat padat di dalam kolom tidak seragam dan kepadatannya tidak
merata sehingga komponen sampel berjalan tidak mulus, panjang jalan yag
dilalui sampel tidak merata. Selain itu, juga bias terjadi transfer massa
karena pengaturan laju alir yang tidak tepat sehingga ada komponen yang
tertinggal didalam kolom.
Untuk menentukan kadar parsetamol dan dalam sampel obat
diperlukan deret larutan standar parasetamol dan dengan berbagai
konsentrasi untuk membuat kurva kalibrasi. Setelah didapat luas area untuk
masing-masing konsentrasi, dibuat kuva kalibrasi dengan memplotkan
konsentrasi terhadap luas area dan didapat garis lurus.

10
Gb 2. Cromatogram larutan paracetamol standar

2.2. Penggunaan HPLC untuk Identifikasi Paracetamol

a. Hasil Cromatogram Indentifikasi Paracetamol

11
Gambar 3.Puncak 1 = 4-aminofenol, puncak 2 = parasetamol, dan puncak 3 = 4-
kloroasetanilid.

Dari hasil analisis sampel darah puncak paracetamol saat menit 2,26
berdasarkan kalibrasi. Kadar paracetamol dapat dihitung berdasarkan luas persentase
luas puncak parasetamol dibagi persentase luas puncak total dikali 100%. Berdasarkan
dari depkes RI menyatakan bahwa kandungan zat aktif parasetamol tidak melebihi.
Berdasarkan anjuran Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk dosis minum orang dewasa,
Paracetamol 325-650 mg tiap 4-6 jam atau 1000 mg tiap 6-8 jam oral atau suppository
dan tablet Paracetamol 500 mg: 2 tablet 500 mg diminum tiap 4-6 jam. Dan dosis
paracetamol juga disesuaikan berat badan seseorang.

Untuk kasus kematian Chyntia, setelah diidentifikasi bukan karena tulang


pinggul yang patah atau operasi yang gagal, Cynthia meninggal karena diberikan lebih
dari 85 persen dosis aman parasetamol selama 48 jam pertama di rumah sakit.

Berdasarkan Jurnal Penelitian Penggunaan HPLC dalam deteksi ion, memiliki


kelebihan sebagai berikut :

12
 Parasetamol merupakan senyawa yang bersifat termolabil dan HPLC dapat
mendeteksi senyawa tersebut.
 Senyawa paracetamol berupa liquid karena diambil dari sampel darah.
 Mampu memisahkan moleku-molekul dalam suatu campuran
 Mudah dalam pengoperasian Intrumentasinya
 Memiliki kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi
 Dapat dihindari terjadinya dekomposisi atau kerusakan bahan yang dianalisis
 Memiliki Resolusi yang baik
 Dapat menggunakan bermacam-macam detektor
 Kolom dapat digunakan kembali
 Mudah melakukan Sample recovery

Karenaa ini merupakan analisis forensik yang memerlukan ketelitian yang tinngi
digunakan HPLC untuk identifikasi.

BAB III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dengan metode analisis menggunakan HPLC maka sampel mikro dapat dianalisis
dengan dengan akurat. HPLC dapat mendeteksi senyawa paracetamol yang bersifat
termolabil.

Dengan analisis sampel darah didapatkan kandungan paracetamol yang melebihi


dosis. Pada kasus kematian Chintia Cynthia Shearer, disebabkan karena dokter
memberikan dosis paracetamol lebih dari 85% dari batas dosis aman.

13
Daftar Pustaka

Amelian, Yulinda, N , 2009 ,”Penetapan Kadar Zat Aktif Paracetamol pada Sediaan
Oral dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Medan :Universitas
Sumatera Utara.

Anonim, “ Google Image”.


https://www.google.co.id/search?q=kromatogram+hplc+paracetamol&source=l
nms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjWr6H9tvDXAhUC3Y8KHRT1CZgQ
_AUICigB&biw=1366&bih=637#imgrc=EWZGCguDzDaR2M: pada 3
Desember 2017.

Alodokter “Paracetamol” diakses di http://www.alodokter.com/paracetamol pada 3


Desember 2017

S.M.D.K. Senaratha Gamma, 2012 ,” A quick inexpensive laboratory method in


acute paracetamol poisoning could improve risk assessment, management and
resource utilization diakses
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3469948/ pada 3Desember
2017.
Setyawati, Lanny, 2007, “ Analisis Campuran Paracetamol, Salisilamida, dan Kafein
dalam Tablet Secara Kromotografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT): Yogyakarta :
Universitas Sanatha Darma.

14