Anda di halaman 1dari 6

FAKTOR RESIKO DARI OTITIS MEDIA EFUSI PADA ANAK

Abstrak
Tujuan : dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi faktor risiko terkait dengan otitis media
dengan efusi (OME) pada anak-anak dengan rentan usia berkisar dari 6 bulan - 2 tahun.

Bahan dan Metode : Metode yang digunakan dengan studi cross-sectional, 500 anak dipilih dari
klinik Assiut University Hospital melalui multistaged randomized sampling. Orangtua dari anak-
anak ini diwawancarai dengan kuesioner secara terstruktur. Pemeriksaan klinis, termasuk
pemeriksaan otoskopik dan timpanometri dilakukan untuk setiap anak.

Hasil: Tidak ada hubungan statistik yang signifikan antara OME dengan jenis kelamin, usia,
pekerjaan ibu. Ada hubungan yang signifikan secara statistik antara OME dengan anak yang
masih ASI, menggunakan dot, pendidikan ibu, saudara kandung anak-anak dan paparan asap
rokok.

Kesimpulan: Ada beberapa faktor risiko yang terkait dengan OME pada anak-anak antara 6
bulan sampai 2 tahun.

Kata kunci : Otitis Media dengan Efusi, Faktor Risiko

1. Pendahuluan

Otitis media dengan efusi (OME) adalah penyakit yang terjadi pada telinga tengah yang
ditandai dengan adanya efusi serosa atau lendir di telinga tengah tanpa tanda-tanda infeksi akut.
Masalah ini terjadi karena disfungsi tuba Eustachian serta penyebab lain di ventilasi telinga
tengah. 20-50% anak-anak berusia 3 – 10 tahun mengalami otitis media dengan efusi (dalam
rentang usia ini).

Presentasi yang belum jelas dari otitis media pada tahap awal, dan terjadi saat
perkembangan bicara pada menyebabkan adanya gangguan bicara pada anak seperti gagap,
keterlambatan berbicara, ketidakpedulian anak-anak disekolah, dan masalah pendidikan.
Berbagai faktor risiko terlibat, seperti jenis kelamin, ras, persalinan prematur, perokok pasif,
alergi, asma, ukuran keluarga, pemberian ASB (air susu botol), status sosial ekonomi, dan
hipertrofi pada langit-langit masih kontroversial. Perokok pasif dapat meningkatkan
perkembangan bakteri pada jaringan epitelium pernapasan, menekan kekebalan local yang
berfungsi menurunkan aksi mukosiliar, dengan demikian dapat menjadi faktor risiko untuk
pengembangan OME.
2. Bahan dan Metode

Dalam penelitian dengan menggunakan metode cross-sectional, dipilih 500 anak yang usianya
berkisar antara 6 bulan hingga 2 tahun dari Aswan Klinik Rumah Sakit Universitas melalui
sampling acak multi-tahap pada periode antara Juni 2013 dan Desember 2014 setelah melalui
persetujuan dari komite etik Aswan Fakultas Kedokteran. Informed consent diperoleh dari orang
tua yang setuju untuk diwawancarai dan diperiksa anak-anaknya. Anak-anak dianggap memiliki
OME dalam hal:

• Kurangnya cerumen di telinga mereka

• Membran timpani utuh

• Tympanogram tipe B.

Retraksi membran timpani / atau hilangnya refleks cahaya / atau adanya tingkat cairan udara
dalam pemeriksaan.

Ada anak-anak sehat yang cocok dengan kelompok kasus sebagai subjek kontrol. Mereka
mengumpulkan informasi tentang perilaku merokok orangtua dan anggota rumah tangga lainnya.
Ibu ditanya: "apakah ayahnya merokok?" apakah ayahnya masih merokok? "dan" Apakah dia
merokok didalam rumah, diluar rumah atau keduanya? Dan kami menanyakan pertanyaan yang
sama pada ayah bayi jika ibunya merokok.

Terakhir, kami bertanya kepada ibu atau walinya apakah ada orang lain yang merokok di
dalam rumah. Jawaban "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan ini diambil untuk menunjukkan
eksposur indikasi ETS. Informasi juga dikumpulkan tentang memberi makan pendamping,
pendidikan orang tua dan pekerjaan, riwayat keluarga alergi atau atopi, usia, dan pengasuhan
anak atau kehadiran anak disekolah. Ditanyakan juga Jumlah orang dewasa dan anak-anak yang
tinggal pada satu rumah serta jumlah kamar pada rumah tersebut. Didokumentasikan untuk
mendapatkan ukuran kerumunan (jumlah orang didalam rumah/kamar). Asisten penelitian
melakukan tindak lanjut rutin pada peserta penelitian yang berusia 6 - 8 minggu, dan 4, 6, 12, 18
dan 24 bulan, dan bertanya kepada orangtua tentang pemberian makanan tambahan dan apakah
bayi dalam pengawasan orangtua atau pengawasan penitipan anak.

Pada kunjungan selanjutnya, kami bertanya apakah ibu atau wali anak mereka merokok,
dan siapa saja yang merokok didalam rumah. Namun, sebagai analis menganalisa wawancara
lanjutan, orangtua menunjukkan sedikit perubahan tanggapan di wawancara pertama. Sehingga
menyebabkan bias potensial terhadap anak-anak yang tersisa dalam penelitian. Tetapi, analisis
pengambilan hasil wawancara didasarkan pada wawancara pertama.
Kami menjadwalkan tiga pemeriksaan klinis rutin oleh spesialis telinga, hidung dan
tenggorokan (THT). Sebelum usia lanjut 6 bulan, pada 6 - 11 bulan dan pada 12 - 24 bulan.
Diagnosis klinis berdasarkan otoscopy, otoscopy pneumatik dan timpanometri pada 6 bulan, 12
bulan dan 24 bulan, dan didasarkan pada pedoman klinis nasional yang disetujui oleh komite
Etika lokal.

Analisis statistik

Data yang dikumpulkan dikomputerisasi dan dianalisis dengan menggunakan program statistik
yang tepat seperti "SPSS" ver. 16". Data dinyatakan sebagai nilai rata-rata, SD dan angka,
persentase. Menggunakan uji t untuk menentukan signifikan pada variabel numeric. Dan
menggunakan Chis-Quere untuk menentukan signifikan untuk variabel non-parametrik.
Perbedaannya dianggap signifikan secara statistik ketika P-value ≤ 0,05%.

3. Hasil

Sebanyak 250 anak diperiksa.

Kelompok yang diperiksa dibandingkan dengan 250 anak kelompok kontrol.

Usia rata-rata pada kasus adalah 18,16 ± 11,9 bulan sementara itu untuk usia kontrol adalah
19,55 ± 9,10 bulan. 61,6% dari kasus dan 66% dari kontrol adalah perempuan, tanpa perbedaan
yang signifikan antara kasus dan kontrol (P> 0,05). 94% kasus dan 92% kontrol adalah anak
yang tinggal didaerah perkotaan tanpa perbedaan yang signifikan (P> 0,05). Disisi lain, untuk
persentase yang lebih tinggi 28% kasus dan 58% kontrol, ibu mereka menyelesaikan pendidikan
S1 dengan perbedaan statistik yang signifikan antara mereka (P = 0,000). 68,8% kasus dan
74,8% kontrol, ibu mereka bekerja dengan tanpa perbedaan statistik yang signifikan antara
mereka (P> 0,05).

Ada perbedaan yang signifikan antara kasus 45,6% dibandingkan 34% kontrol yang memiliki
riwayat keluarga saudara kandung (P = 0,00). Mayoritas 92,4% kasus dibandingkan 83,6% dari
kontrol jumlah anak per kamar adalah 1 - 2 anak dengan perbedaan statistik tinggi yang
signifikan antara mereka (P = 0,02) (Tabel 1). Ada hubungan yang sangat signifikan secara
statistik antara OME dan menyusui, penggunaan dot, asap ayah, paparan asap (Tabel 2).

Tabel 1. Karakteristik Sosial demografik antara partisipan dan control dari Assuit Univercity Hospital, 2014

Variabel Kasus 250 Kontrol 250 Tes Signifikan


No % No %
Usia ‘Bulan’
Rata-rata ± SD 18,16 ± 11, 19 19,55 ± 9,10 T-test = 2,54
P = 0,128
ns
Jenis Kelamin
Laki-laki 96 38,4 85 34,0 X2 = 1,048
Perempuan 154 61,6 165 66,0 P = 0,176
Tempat tinggal
Pedesaan 12 6,0 20 8,0 X2 = 0,768
Perkotaan 235 94,0 230 92,0 P = 0,242

Pendidikan Ibu
Buta Huruf 29 11,6 20 8,4
Baca dan Tulis 38 15,2 22 8,8 X2 = 51,965
Pendidikan Dasar 58 23,2 20 8,0 P = 0,000
Pendidikan Lanjutan 55 22,0 42 16,8
Universitas 70 28,0 145 58,0
Pekerjaan Ibu
Bekerja 172 68,8 187 7,8 X2 = 2,222
Ibu rumah tangga 78 31,2 63 25,2 P = 0,082
Saudara kandung
Pertama 58 23,2 63 25,2 X2 = 32,139
Kedua 114 45,6 85 34,0 P = 0,000
Ketiga 39 15,6 61 24,4
Keempat 20 8,0 40 16,0
Kelima 19 7,6 1 0,4
Ruang tidur / kamar
1-2 kamar 231 92,4 209 83,6 X2 = 9,167
3- 4 kamar 19 7,6 41 16,4 P = 0,002

Gambar 1. Diagram persentase analisis factor resiko antara kasus dengan control dari Assuit Univercity Hospital, 2014

Tabel 2. Faktor risiko antara kasus dengan control dari Assuit Univercity Hospital, 2014

Variabel Kasus 250 Kontrol 250 Tes Signifikan


No % No %
Menyusui
Ya 168 67,2 212 84,8 T-test = 21, 228
Tidak 82 32,8 38 15,2 P = 0,000
Menggunakan botol minum (dot)
Ya 39 15,6 21 8,4 X2 = 6,136
Tidak 211 84,4 228 91,6 P = 0,009
Ayah Perokok
Ya 153 61,2 106 42,4 X2 = 17, 695
Tidak 97 38,8 144 57,6 P = 0,000

Terpapar Asap rokok


Ya 78 31,2 42 16,8
Tidak 172 68,8 208 83,2 X2 = 14,211
P = 0,000
Sumber Asap rokok
Ya 19 7,6 1 0,4 X2 = 16,875
Tidak 231 92,4 249 99,6 P = 0,00

4. Diskusi

Dalam literatur, kisaran prevalensi OME yang luas seperti populasi yang diteliti, negara, factor
lingkungan dan faktor iklim berbeda. Dalam penelitian ini, kami tidak menemukan perbedaan
yang signifikan dalam kejadian OME antara pria dan wanita. Akan tetapi pada penelitian lain
menunjukkan insiden yang lebih tinggi pada laki-laki, karena insidensi penyakit menular yang
lebih tinggi pada pria. Sama halnya dengan hasil pada penelitian ini, Pada penelitian Gultekin et
al. dan Sassen dkk, menunjukkan bahwa jumlah saudara kandung yang lebih tinggi dalam
keluarga meningkatkan risiko OME. Berbagai penelitian dilakukan dimasa lalu mendukung
peran protektif, ada resiko terjadi nya OME dan menyusui tetapi penelitian lain tidak
membangun hubungan yang signifikan antara keduanya. Hinton et al. menunjukkan bahwa
orangtua yang merokok merupakan faktor yang berpengaruh dalam OME pada anak-anak.
Mereka membutuhkan lebih banyak penyisipan tabung ventilasi untuk perawatan OME,
dibandingkan dengan pasien lain dengan usia yang sama. Ini menunjukkan resistensi OME
terhadap modalitas terapi yang sesuai. Green et al. menunjukkan peningkatan risiko OME dalam
kasus orangtua yang merokok terutama ibu yang merokok selama kehamilan. Selain itu, Etzel
dkk. telah menyajikan merokok sebagai faktor efektif dalam perpanjangan periode penyakit dan
meningkatkan frekuensi serangan penyakit pada interval yang lebih pendek. Hasilnya mirip
dengan penelitian ini tentang orangtua yang merokok, karena kedua studi menunjukkan
peningkatan risiko OME pada anak-anak dengan orangtua yang perokok. Selain itu, ada
hubungan langsung antara kebiasaan merokok orang tua dengan kebiasaan merokok selama
bertahun-tahun dan prevalensi penyakit. Blackley et al. menyangkal hubungan antara merokok
pasif dan pengembangan OME. Akhirnya, kami percaya bahwa perokok pasif adalah penyebab
otitis media efusi yang dapat dicegah pada anak-anak. Hal ini menunjukan bahwa orangtua harus
mengawasi dan memberi perhatian lebih.
Keterbatasan penelitian kami adalah jumlah pasien sedikit dan singkatnya waktu mengikuti
perkembangan pasien.