Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA CEDERA KEPALA

A. PENGERTIAN
Cedera Kepala merupakan cedera yang meliputi trauma kulit kepala,
tengkorak, dan otak (Marton, 2012). Menurut Mutaqin (2008) cedera kepala
adalah suatu gangguan traumatic dari fungsi otak yang disertai atau tanpa
disertai perdarahan intersisial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas otak. Cedera kepala menurut (Price, 2006) adalah kerusakan
neurologis yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi
secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi.
Cedera kepala ringan adalah cedera karena tekanan atau kejatuhan
benda tumpul yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi neurologi sementara
atau menurunnya kesadaran sementara,mengeluh pusing nyeri kepala tanpa
adaya kerusakan lain (Smeltzer, 2002). Sedangkan menurut Mansjoer (2000)
cedera kepala ringan trauma kepala dengan GCS : 15 ( sadar penuh ) tidak ada
kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala,hematoma, abrasi,
laserasi.

Klasifikasi cedera kepala


1. Berdasarkan patologi
a. Cedera kepala primer
Merupakan akibat cedera awal. Cedera awal mneyebabkan
gangguan integritas fisik,kimia, dan listrik dari sel diarea tersebut, yang
menyebabkan kematian sel.
b. Cedera kepala sekunder
Cedera ini merupakan cedera yang menyebabkan kerusakan
otak lebih lanjut yang terjadi setelah trauma sehingga meningkatkan
TIK yang tak terkendali, meliputi respon fisiologis cedera fisik,
termasuk edema serebral, perubahan biokimia, dan perubahan
hemodinamik serebral, iskemia serebral, hipotensi sistemik, dan infeksi
local atau sistemik.

2. Menurut jenis cedera


a. Cedera kepala terbuka dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan
laserasi duameter. Trauma yang menembus tengkorak dan jaringan
otak.
b. Cedera kepala tertutup dapat disamakan pada pasien dengan gegar otak
ringan dengan cedera serebral yang luas.
3. Menurut berat ringannya berdasarkan GCS (Gasglown Coma Scale)
a. Cedera kepala ringan/minor
- GCS 14-15
- Dapat terjadi kehilangan kesadaran, amnesia, tetapi kurang dari 30
menit
- Tidak ada fraktur tengkorak
- Tidak ada kontusia serebral, hematoma
b. Cedera kepala sedang
- GCS 9-13
- Kehilangan kesadaran dan amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang
dari 24 jam
- Dapat mengalami fraktur tengkorak
- Diikuti kontusia srebral, laserasi dan hematoma intracranial
c. Cedera kepala berat
- GCS 3-8
- Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 24 jam
- Juga meliputi kontusia serebral, laserasi atau hematoma intracranial
(Marton , 2012)
B. ETIOLOGI
Adapun penyebab dari cedera kepala yakni :
1. Kecelakaan lalu lintas
2. Cedera saat olahraga
3. Jatuh
4. Pukulan
5. Penganiayaan
6. Tertembak
7. Trauma akibat persalinan : sewaktu lahir dibantu dengan forcep atau
vakum.
( Mansjoer, 2000)

C. TANDA DAN GEJALA


Pada kasus cedera kepala, tanda dan gejalayang muncul adalah :
1. Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
2. Kebingungan
3. Iritabel
4. Pucat
5. Mual dan muntah
6. Pusing kepala
7. Terdapat hematoma
8. Kecemasan
9. Sukar untuk dibangunkan
10. Bila fraktur, mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung
(rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.
( Mansjoer, 2000)

D. POHON MASALAH
(terlampir)
E. MEKANISME CEDERA KEPALA
Mekanisme pada cedera kepala adalah sebagai berikut:
1. Cedera Akselerasi
Terjadi jika objek bergerak menghantam kepala yang tidak bergerak
(misalnya, alat pemukul menghantam kepala atau peluru yang ditembakkan
ke kepala).
2. Cedera Deselerasi
Terjadi jika kepala yang bergerak membentur objek diam, seperti pada
kasus jatuh atau tabrakan mobil ketika kepala membentur kaca depan mobil.
3. Cedera akselerasi-deselerasi
Sering terjadi dalam kasus kecelakaan kendaraan bermotor dan episode
kekerasan fisik.
4. Cedera Coup-countre coup
Terjadi jika kepala terbentur yang menyebabkan otak bergerak dalam
ruang kranial dan dengan kuat mengenai area tulang yang berlawanan serta
area kepala yang pertama kali terbentur. Sebagai contoh pasien dipukul
dibagian belakang kepala.
5. Cedera rotasional
Terjadi jika pukulan/benturan menyebabkan otak berputar dalam
rongga tengkorak, yang mengakibatkan peregangan atau robeknya neuron
dalam substansia alba serta robeknya pembuluh darah yang memfiksasi
otak dengan bagian dalam rongga tengkorak.
( Smeltzer, 2002 ).

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pada kasus cedera kepala dilakukan pemeriksaan diganostik
diantaranya:
1. Scan CT (tanpa/dengan kontras)
Mengidentifikasi adanya sol, hemoragik, menentukan ukuran
ventrikuler, pergeseran jaringan otak.

2. MRI
Sama dengan scan CT dengan atau tanpa kontras.
3. Angiografi serebral
Menunjukan kelainan sirkulasi serebral, seperti pengeseran jaringan
otak akibat edema, perdarahan, trauma
4. EEG
Memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya gelombang
patologis.
5. Sinar X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran
struktur dari garis tengah (karena perdarahan, edema), adanya fragmen
tulang.
6. BAER (Brain Auditory Evoked Respons)
Menentukan fungsi korteks dan batang otak.
7. PET (Positron Emission Tomography)
Menunjukan perubahan aktifitas metabolisme pada otak.
8. Fungsi lumbal, CSS
Dapat menduka kemungkinan adanya perdarahan subarachnoid.
9. GDA (Gas Darah Artery)
Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat
meningkatkan TIK.
10. Kimia /elektrolit darah
Mengetahui ketidak seimbangan yang berperan dalam peningkatan
TIK/perubahan mental.
11. Pemeriksaan toksikologi
Mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan
kesadaran.
12. Kadar antikonvulsan darah
Dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup fektif
untuk mengatasi kejang.( Mutaqin (2008).

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada kasus cedera kepala
adalah :
1. Stabilisasi kardiopulmoner mencakup prinsip-prinsip ABC ( Airway-
Breathing-Circulation ). Keadaan hipoksemia, hipotensi, anemia akan
cenderung memperhebat peninggian TIK dan menghasilkan prognosis yang
lebih buruk.
2. Pemeriksaan umum untuk mendeteksi berbagai macam cedera atau
gangguan-gangguan di bagian tubuh lainnya.
3. Pemeriksaan neurologis mencakup respon mata, motoric, verbal,
pemeriksaan pupil, reflek okulosefalik dan reflek okuloves tubuler.
Penilaian neurologis kurang bermanfaat bila tekanan darah penderita
rendah (syok).
4. Penanganan cedera-cedera dibagian lainnya.
5. Pemberian pengobatan seperti : anti edemaserebri, anti kejang, dan natrium
bikarbonat.
6. Tindakan pemeriksaan diagnostic seperti : sken tomografi computer otak,
angiografi serebral, dan lainnya.
( Smeltzer, 2002 ).

H. MANIFESTASI KLINIS
Kondisi cedera kepala yang dapat terjadi antara lain :
1. Komosio serebri
Tidak ada jaringan otak yang rusak, tetapi hanya kehilangan fungsi otak
sesaat (pingsan < 10 menit) atau amnesia pasca cedera kepala.
2. Kontusio serebri
Adanya kerusakan jaringan otak dan fungsi otak (pingsan > 10 menit )
atau terdapat lesi neurologic yang jelas. Kontusio serebri sering terjadi dan
sebagian besar terjadi di lobus frontal dan lobus temporal, walaupun dapat
juga terjadi pada setiap bagian dari otak. Kontusio serebri dalam waktu
beberapa jam atau hari dapat berubah menjadi perdarahan intraserebral
yang membutuhkan tindakan operasi.
3. Laserasi serebri
Kerusakan otak yang luas disertai robekan duramater serta fraktur
terbuka pada cranium
4. Epidural Hematom (EDH)
Hematom antara durameter dan tulang, biasanya sumber perdarahannya
adalah robekanya arteri meningea media. Ditandai dengan penurunan
lesadaran dengan ketidaksamaan neurologis sisi kiri dan kanan
(hemiparese/ plegi, pupil anisokor, reflek patologis satu sisi)
5. Subdural hematom (SDH)
Hematom di bawah lapisan durameter dengan sumber perdarahan dapat
berasal dari bridging vein a/v cortical, sinus venous. Subdural hematom
adalah terkumpulnya darah antara durameter dan jaringan otak, dapat
terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena,
perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam – 2
hari, 2 minggu atau beberapa bulan. Gejala-gejalanya adalah nyeri kepala,
bingung, mengantuk, berpikir lambat, kejang da udem pupil, dan secara
klinis ditandai dengan penurunan kesadaran, disertai adanya lateralisasi
yang paling sering berupa hemiparese/plegi.
6 SAH ( Subarachnoid Hematom )
Merupakan perdarahan fokal di daerah subarachnoid. Gejala klinisnya
menyerupai kontusio serebri. Pada pemeriksaanCT Scan didapatkan lesi
hiperdens yng mengikuti arah girus-girus serebri di daerah yang berdekatan
dengan hematom. Hanya diberikan terapi konservatif.
7. ICH ( Intracerebral Hematom)
Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan
otak biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan
otak. Pada pemeriksaan CT Scan didapatkan lesi perdarahan diantara
neuron otak yang relative normal. Indikasi dilakukan operasi adanya daerah
hiperdens, diameter > 3cm, perifer, adanya pergeseran garis tengah.
8. Fraktur basis kranii
Fraktur dari dasar tengkorak, biasanya melibatkan tulang temporal,
oksipital, sphenoid dan etmoid. Terbagi menjadi fraktur basis kranii anterior
dan posterior. Pada fraktur anterior melibatkan tulang etmoid dan sphenoid,
sedangkan pada frakturposterior melibatkan tulang temporal, oksipital, dan
beberapa bagian tulang sphenoid. Tanda terdapat fraktur basis kranii antara
lain :
a. Ekimosis periorbital ( racoon’s eyes)
b. Ekimosis mastoid ( battle’s sign )
c. Keluar darah beserta cairan serebrospinal dari hidung atau telinga (
rinore atau otore )
d. Kelumpuhan nervus cranial.
( Smeltzer, 2002 ).

I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Identitas pasien
Kaji pasien mengenai nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat,
diagnosamedik, tanggalmasuk, dan tanggalpengkajian.
2. Keluhan Utama
Keluhan apa yang dirasakan pasien pada saat dating kerumah sakit
3. Alasan di rawat
Berisi alasan klien masuk rumah sakit . Kaji pasien mengenai waktu
kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat
kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
4. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan dahulu
- Riwayat kesehatan sekarang
- Riwayat alergi
5. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah dalam keluarga terdapat anggota keluarga yang mempunyai
penyakit keturunan atau menular.
6. Pola Fungsi Kesehatan

a) Pola Persepsi Dan Pemeliharaan Kesehatan


Pasien yang memiliki penyakit CKR pada umunya menyadari
tentang keadaanya setelah penyakit/masalah yang dideritanya sudah
cukup berat.
b) Pola Nutrisi
Pasien yang memiliki penyakit / masalah CKR pada umunya
memiliki pola nutrisi yang kurang baik karena terjadi penurunan nafsu
makan.
c) Pola Eliminasi
Pola eliminasi pada pasien yang menderita penyakit CKR
tergantung pada pola nutrisinya.
d) Aktivitas dan Latihan
Pasien yang memiliki masalah/ penyakit CKR pada umunya
aktivitasnya akan terganggu karena penyakit yang dideritanya.
e) Tidur dan Istirahat
Pasien yang memiliki masalah/ penyakit CKR umunya memiliki
kebiasaan tidur yang kurang baik (susah tidur)
f) Sensori, Presepsi dan Kognitif
Pasien yang memiliki masalah/ penyakit CKR pada umunya
merasa kurang nyaman dengan keadaan yang dialaminya.
g) Konsep diri
Pasien yang memiliki masalah/ penyakit CKR pada umunya
memiliki masalah pada keadaan fisik , ancaman konsep diri.

h) Seksual dan Repruduksi


Pasien yang menderita penyakit CKR pada umumnya tidak
memiliki masalah pada seksual dan reproduksinya.
i) Pola Peran Hubungan :
Pasien yang memiliki masalah/ penyakit CKR tidak memiliki
masalah tentang peran berkaitan dengan keluarga, teman, dan
lingkungan kerja.
j) Manajemen Koping Setress
Pasien yang memiliki masalah/ penyakit CKR pada umunya
tidakmemiliki masalah dalam manajemen koping stress.
k) Sistem Nilai Dan Keyakinan
Latar belakang agama , budaya / etnik, satatus ekonomi, prilaku
kesehtan yang berkaitan dengan kelompok budaya/etnik.
7. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum

2. Kesadaran : GCS

3. Persyarafan/Neurosensori
 Pusing, kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian.
 Perubahan pada penglihatan.
 Gangguan pengecapan dan juga penciuman.
 Kesadaran menurun bisa sampai coma, perubahan status mental.
4. Tanda – tanda Vital

 Tekanan Darah
 Nadi
 Suhu
 Pernapasan

5. Antropometri
 Berat Badan
 Tinggi Badan
 IMT
6.Head To Toe
A. Kepala : bentuk, ada lesi/luka
B. Rambut : warna , distribusi rambut, kelainan
C. Mata :Penglihatan, Sklera, konjungtiva, pupil, kelaianan
D. Hidung :keadaan / bentuk, mukosa hidung, fungsi penciumannya
E. Telinga : bentuk, fungsi pendengaran, ada kelainan atau tidak
F. Gigi dan Mulut: bentuk, mukosa bibir, ada perdarahan atau luka
G. Leher : pembesaran tyroid, lesi, pembesaran limfoid
H. Thorax : pergerakan dada, frekuensi pernapasan, suara napas.
I. Abdomen : nyeri tekan, bising usus
J. Genetalia : ada kelainan/tidak
K. Kulit : warna kulit, turgor kulit
L. Ekstremitas : kekuatan otot, edema, kalainan bentuk

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosakeperawatan yang muncul pada cedera kepala adalah :
1. Resikoketidakefektifan perfusi jaringan otak b.d penurunan ruangan untuk
perfusi serebral, sumbatan aliran darah serebral.
2. Nyeri akut b.d agen cedera biologis kontraktur (terputusnya jaringan
tulang).
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan makan.
4. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas, ditandai
dengan dengan dyspnea.
5. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan persepsi/kognitif , terapi
pembatasan/kewaspadaan keamanan, mis tirah baring, imobilisasi.
6. Kerusakan memori b.dhipoksia, gangguan neurologis.

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
(terlampir)

L. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi

M. EVALUASI
1. Evaluasi Formatif adalah evaluasi yang segera dilaksanakan setiap kali
selesai melakukan tindakan keperawatan.
2. Evaluasi Sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan setelah melakukan
tindakan keperawatan selama yang ditetapkan pada criteria hasil untuk
mengetahui keberhasilan suatu tindakan yang kita lakukan.
REFERENSI

Arief, Mutaqin. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC). USA:


ELSEVIER.
Mansjoer, Arif M. 2000. Kapita Selekta kedokteran edisi 3. Jakarta: Media
Aeusculapius.

Marton, Gallo, Hudak. 2012. Keperawatan Kritis volume 1&2 edisi 8. Jakarta : EGC.

Moorhead, Sue. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA: ELSEVIER.

NANDA Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015 -


2017. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses Proses Penyakit edisi 6 volume 1&2. Jakarta : EGC.

Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G. 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Burner dan Suddarth edisi 8 volume1&2 alih Bahasa oleh agung waluyo
dkk. Jakarta: EGC.
Klungkung, 2017

Clinical Instructure / CI, Mahasiswa,

………………………………………. Putu Susmitha Devy Larasati


NIP. NIM. P07120215061

Clinical Teacher/CT

…………………………………….
NIP