Anda di halaman 1dari 112

Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

613.2

Ind

Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal

p

Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Pedoman pelayanan gizi di puskesmas. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2014

ISBN 978-602-235-717-9

1. Judul

I. HEALTH CARE FACILITIES, MANPOWER

AND SERVICES II. NUTRITIONAL REQUIREMENTS

ii

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karuniaNya penyusunan Buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas dapat selesai dengan baik. Buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas ini merupakan penyempurnaan Buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas Perawatan yang telah diterbitkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2001.

Pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga pelaksana gizi dan tenaga kesehatan lain termasuk pengelola program kesehatan di Puskesmas dalam melakukan pelayanan gizi yang berkualitas di Puskesmas.

Pedoman ini mencakup Kebijakan Pelayanan Gizi di Puskesmas, Ketenagaan, Sarana dan Prasarana, Manajemen Pelayanan Gizi di Puskesmas baik kegiatan dalam gedung maupun kegiatan luar gedung, Alur Pelayanan, Jenis-jenis Pelayanan Gizi di Dalam Gedung dan Di Luar Gedung, Mekanisme Rujukan, dan Monitoring dan Evaluasi pelayanan gizi di Puskesmas.

Ucapan terimakasih disertai penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan masukan, saran, dan kritik dalam penyusunan pedoman dan penggunaan buku ini.

Wa billahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum wr.wb.

T A A N H E R E S P E U B K L
T
A
A
N
H
E
R
E
S
P
E
U
B
K
L
Jakarta,
Mei 2014
I
DIREKTUR BINA GIZI
N
K
Direktorat Jenderal
Bina Gizi dan Kesehatan
Ibu dan Anak
A
Ir. Doddy Izwardy, MA
I
I
N
R
D
E
O
T
N
N
E
E
M
S
I
E
A
K

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

iii

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA GIZI DAN KIA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah membimbing dan memberi rahmat kepada kita, sehingga buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas bisa diselesaikan dengan baik.

Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat, mengemban misi untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu bagi masyarakat. Salah satu strategi untuk memenuhi harapan tersebut adalah dengan meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan di Puskesmas khususnya tenaga gizi atau tenaga pelaksana gizi di Puskesmas.

Pelayanan gizi di Puskesmas dilakukan dengan pendekatan pelayanan di dalam gedung dan pelayanan diluar gedung. Bentuk pelayanan gizi di dalam gedung antara lain penyelenggaraan makan untuk pasien rawat inap dan konseling gizi. Sedangkan bentuk pelayanan gizi di luar gedung misalnya pemberian vitamin A pada bayi dan balita, pemantauan pertumbuhan di Posyandu, surveilans gizi dll.

Buku pedoman ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk tenaga gizi atau tenaga pelaksana gizi di Puskesmas Rawat Inap maupun Non Rawat Inap dalam memberikan pelayanan gizi pasien rawat jalan maupun rawat inap. Buku ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari buku-buku pedoman teknis lain yang berkenaan dengan pelayanan gizi di Puskesmas. Oleh karena itu kami sampaikan penghargaan dan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan masukan, saran, dan kritik dalam penyusunan dan penggunanaan buku ini.

Jakarta, Mei 2014 DIREKTUR JENDERAL BINA GIZI DAN KIA

T A A N H E R S E P E U K B L
T
A
A
N
H
E
R
S
E
P
E
U
K
B
L
N
I
Direktorat Jenderal
Bina Gizi dan Kesehatan
Ibu dan Anak
K
A
I
I
N
R
E
D
T
O
N
N
E
E
M
S
E
I
K
A
K A I I N R E D T O N N E E M S

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes

iv

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN

Pelayanan gizi di Puskesmas merupakan salah satu Upaya Kesehatan Wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap Puskesmas sesuai Permenkes yang mengatur tentang Kebijakan Dasar Puskesmas yaitu Permenkes Nomor 128 Tahun 2004. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengamanatkan upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.

Saya memandang penting dan menyambut dengan baik terbitnya pedoman ini untuk implementasi di lapangan. Semoga hadirnya buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas dapat digunakan sebagai acuan tenaga kesehatan di Puskesmas khususnya tenaga gizi puskesmas, para pengelola program perbaikan gizi di tingkat Kabupaten/ Kota maupun Propinsi dalam upaya peningkatan kegiatan pelayanan gizi terintegrasi melalui jalinan kemitraan di puskesmas dan jejaringnya. Selain itu, dengan buku pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar advokasi bagi pemegang kebijakan untuk peningkatan mutu pelayanan gizi di Puskesmas.

Saya memberikan apresiasi pada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan buku pedoman ini. Oleh karena itu kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku ini. Semoga pedoman ini dapat bermanfaat untuk perbaikan gizi masyarakat.

Jakarta,

Mei 2014

DIREKTUR JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN

T A A H N E S R E P E U B K L
T
A
A
H
N
E
S
R
E
P
E
U
B
K
L
I
N
K
DIREKTUR JENDERAL
BINA UPAYA KESEHATAN
A
I
I
N
R
D
E
O
T
N
N
E
E
M
S
I
E
A
K
A I I N R D E O T N N E E M S I

Prof. Dr. dr. Akmal Taher, Sp. U (K)

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

v

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Direktur Bina Gizi

iii

Sambutan Dirjen Bina Gizi dan KIA

iv

Sambutan Dirjen Bina Upaya Kesehatan

v

Daftar Isi

vi

Daftar Singkatan

vii

Daftar Gambar

viii

Daftar Lampiran

ix

BAB I. PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Tujuan

2

C. Sasaran

3

D. Landasan Hukum

3

E. Definisi Operasional

4

F. Ruang Lingkup

8

BAB II. KEBIJAKAN PELAYANAN GIZI DI PUSKESMAS

9

A. Kebijakan Dasar Puskesmas

9

B. Pelayanan Gizi di Puskesmas

13

BAB III. PELAYANAN GIZI DI PUSKESMAS

23

A. Pelayanan Gizi di Dalam Gedung

23

1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Dalam Gedung

23

2. Alur Pelayanan Gizi di Dalam Gedung

34

B. Pelayanan Gizi di Luar Gedung

36

1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Luar Gedung

36

2. Alur Pelayanan Gizi di Luar Gedung

46

C. Mekanisme Rujukan

47

BAB IV. PENCATATAN, PELAPORAN, MONITORING DAN EVALUASI

48

A. Pencatatan dan Pelaporan

48

B. Monitoring dan Evaluasi

48

BAB V. PENUTUP

51

DAFTAR PUSTAKA

99

vi

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

DAFTAR SINGKATAN

1.

AGB

: Anemia Gizi Besi

 

2.

BBTT

: Baik, Benar, Terukur dan Teratur

3.

BP

: Balai Pengobatan

4.

GAKI

: Gangguan Akibat Kurang Iodium

5.

HDL

: High Dencity Lipoprotein

6.

KIA

: Kesehatan Ibu Anak

7.

KP-Ibu

: Kelompok Pendamping Ibu

8.

KP-ASI

: Kelompok Pendamping ASI

9.

LDL

: Low Dencity Lipoprotein

10.

Nutrition Related Disease

: penyakit

yang

berhubungan

dengan

 

masalah

gizi

dan

dalam

tindakan

serta

10.

RIFASKES

pengobatannya memerlukan terapi gizi. : Riset Fasilitas Kesehatan Dasar

11.

RISKESDAS

: Riset Kesehatan Dasar

12.

RPJMN

: Rencana

Pembangunan

Jangka

Menengah

13.

UKBM

Nasional : Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat

 

14.

UKK

: Upaya Kesehatan Kerja

15.

PMBA

: Pemberian Makan Bayi dan Anak

16.

PGBM

: Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat

17.

Posyandu

: Pusat Pelayanan Terpadu

18.

Posbindu

: Pusat Pembinaan Terpadu

19.

Poksila

: Posyandu Usia Lanjut

20.

Puskesmas

: Pusat Kesehatan Masyarakat

21.

Poskesdes

: Pos Kesehatan Desa

22.

WUS

: Wanita Usia Subur

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Contoh Layout Ruang Konsultasi Gizi di Puskesmas Gambar 2. Contoh Layout Ruang Produksi Makanan di Puskesmas Gambar 3. Alur Penyelenggaraan Makanan di Puskesmas Rawat Inap Gambar 4. Alur Pelayanana Gizi di Dalam Gedung Gambar 5. Mekanisme Rujukan

viii

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Angka Kecukupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat Serat dan Air Lampiran 2. Angka Kecukupan Vitamin Lampiran 3. Angka Kecukupan Mineral Lampiran 4. Kategori Ambang Batas Status Gizi Anak (0-60) bulan Lampiran 5. Klasifikasi status gizi pada Anak berdasarkan LiLA Lampiran 6. Penilaian IMT Menggunakan Batas Ambang Lampiran 7. Lingkar Perut Lampiran 8. Formulir Skrining dengan Metode MST (Malnutrition Screening Tools) Lampiran 9. Formulir Asuhan Gizi (Anak dan Dewasa) Lampiran 10. Formulir Evaluasi Asuhan Gizi Lampiran 11. Formulir Food Frequency (FFQ) Lampiran 12. Formulir Food Recall 24 jam Lampiran 13. Rekapitulasi pasien yang mendapatkan konseling gizi per hari Lampiran 14. Rekapitulasi pasien yang mendapatkan konseling gizi per bulan Lampiran 15. Langkah-langkah Perencanaan Kebutuhan Bahan Makanan Lampiran 16. Formulir Perencanaan Makan Pasien Rawat Inap Lampiran 17. Formulir Permintaan Makanan Pasien Rawat Inap Lampiran 18. Formulir Stok Bahan Makanan Lampiran 19. Contoh Langkah Penyusunan Anggaran Belanja Lampiran 20. Langkah-langkah dalam perencanaan Menu Lampiran 21. Laporan Harian Penerimaan dan Penggunaan Bahan Makanan Lampiran 22. Laporan Biaya Makan Orang Per Hari Lampiran 23. Contoh Format Buku Register Lampiran 24. Standar Makanan Bagi Pasien Lampiran 25. Contoh Standar Menu Sehari Lampiran 26. Contoh Siklus Menu 7 hari Lampiran 27. Standar Minimal Kebutuhan Peralatan Dapur

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

ix

x

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, besaran masalah gizi pada balita di Indonesia yaitu 19,6% gizi kurang, diantaranya 5,7% gizi buruk; gizi lebih 11,9%, stunting (pendek) 37,2%. Proporsi gemuk menurut kelompok umur, terdapat angka tertinggi baik pada balita perempuan dan laki-laki pada periode umur 0-5 bulan dan 6-11 bulan dibandingkan kelompok umur lain. Hal ini menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak masyarakat khususnya ibu balita yang mempunyai persepsi tidak benar terhadap balita gemuk. Data masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) berdasarkan hasil survei nasional tahun 2003 sebesar 11,1% dan menurut hasil Riskesdas 2013, anemia pada ibu hamil sebesar 37,1%.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan tujuan perbaikan gizi adalah untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat. Mutu gizi akan tercapai antara lain melalui penyediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan profesional di semua institusi pelayanan kesehatan. Salah satu pelayanan kesehatan yang penting adalah pelayanan gizi di Puskesmas, baik pada Puskesmas Rawat Inap maupun pada Puskesmas Non Rawat Inap. Pendekatan pelayanan gizi dilakukan melalui kegiatan spesifik dan sensitif, sehingga peran program dan sektor terkait harus berjalan sinergis. Pembinaan tenaga kesehatan/tenaga gizi puskesmas dalam pemberdayaan masyarakat menjadi hal sangat penting.

Puskesmas merupakan penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan tingkat pertama. Untuk menjangkau seluruh wilayah kerjanya, Puskesmas diperkuat dengan Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan Upaya Kesehatanan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang disebut sebagai Puskesmas dan jejaringnya. Sedangkan untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, didirikan Puskesmas Rawat Inap. Menurut data dari Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan per Desember tahun 2011 jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia adalah 9.321 unit, diantaranya 3.025 unit Puskesmas Rawat Inap, dan selebihnya yaitu 6.296 unit Puskesmas Non Rawat Inap. Puskesmas dan jejaringnya harus membina Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

1

Pelayanan gizi di Puskesmas terdiri dari kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung dan di luar gedung. Pelayanan gizi di dalam gedung umumnya bersifat individual, dapat berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kegiatan di dalam gedung juga meliputi perencanaan program pelayanan gizi yang akan dilakukan di luar gedung. Sedangkan pelayanan gizi di luar gedung umumnya pelayanan gizi pada kelompok dan masyarakat dalam bentuk promotif dan preventif. Dalam pelaksanaan pelayanan gizi di Puskesmas, diperlukan pelayanan yang bermutu, sehingga dapat menghasilkan status gizi yang optimal dan mempercepat proses penyembuhan pasien. Pelayanan gizi yang bermutu dapat diwujudkan apabila tersedia acuan untuk melaksanakan pelayanan gizi yang bermutu sesuai dengan 4 pilar dalam Pedoman Gizi Seimbang (PGS).

Pada tahun 2001, Departemen Kesehatan RI telah menerbitkan buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas Perawatan, yang membahas kegiatan pokoknya yaitu penyelenggaraan makan untuk pasien rawat inap dan konseling gizi. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang gizi dan kesehatan serta didorong oleh kebutuhan akan acuan pelaksanaan pelayanan gizi yang komprehensif maka diperlukan Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas yang membahas kegiatan pelayanan gizi secara menyeluruh baik di Puskesmas Rawat Inap maupun Puskesmas Non Rawat Inap. Oleh karena itu, maka disusunlah buku Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas. Diharapkan pedoman ini dapat menjadi acuan bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga gizi di Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan pelayanan gizi di Puskesmas dan jejaringnya.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum:

Tersedianya acuan dalam melaksanakan pelayanan gizi di Puskesmas dan jejaringnya.

2. Tujuan Khusus:

a. Tersedianya acuan tentang jenis pelayanan gizi, peran dan fungsi ketenagaan, sarana dan prasarana di Puskesmas dan jejaringnya; b. Tersedianya acuan untuk melaksanakan pelayanan gizi yang bermutu di Puskesmas dan jejaringnya;

2

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

c. Tersedianya acuan bagi tenaga gizi puskesmas untuk bekerja secara profesional memberikan pelayanan gizi yang bermutu kepada pasien/klien di Puskesmas dan jejaringnya; d. Tersedianya acuan monitoring dan evaluasi pelayanan gizi di Puskesmas dan jejaringnya.

C. Sasaran

1. Tenaga Gizi Puskesmas dan Tenaga Kesehatan lainnya di Puskesmas.

2. Pengelola Program Kesehatan dan Lintas Sektor terkait.

3. Pengambil Kebijakan di Provinsi, Kabupaten/Kota.

D. Landasan Hukum

Sebagai

dasar

penyelenggaraan

pelayanan

gizi

di Puskesmas diperlukan

peraturan

perundang-undangan pendukung (legal aspect). Beberapa ketentuan

perundang-undangan yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

2. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

3. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

4. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

6. Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

7. Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang ASI Eksklusif

8. Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi

9. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional

10. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1333 tahun 1999 tentang Standar Pelayanan Puskesmas Perawatan

11. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI No. 894/Menkes/SKB/VIII/2001

dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 35 Tahun 2001 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Angka Kreditnya

12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81 tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan SDM Kesehatan Di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota Serta RS

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

3

13.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat

14. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat

15. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/Menkes/SK/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota

16. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia

17. Peraturan Menteri Kesehatan No 26 Tahun 2013 tentang Praktik Tenaga Gizi

E. Definisi Operasional

Jenis konseling gizi yang dapat dilaksanakan di Puskesmas antara lain konseling gizi terkait penyakit dan faktor risikonya, konseling ASI, konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), konseling faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) dan konseling bagi jemaah haji.

1. Asuhan Gizi adalah serangkaian kegiatan yang terorganisir/terstruktur untuk identifikasi kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

2. Dietetik adalah integrasi, aplikasi, dan komunikasi dari prinsip-prinsip keilmuan makanan, gizi, sosial, bisnis, dan keilmuan dasar untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang optimal secara individual melalui pengembangan, penyediaan dan pengelolaan pelayanan gizi dan makanan di berbagai area/lingkungan/latar belakang praktek pelayanan.

3. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi adalah serangkaian kegiatan penyampaian pesan-pesan gizi dan kesehatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap serta perilaku positif pasien/klien dan lingkungannya terhadap upaya perbaikan gizi dan kesehatan. Penyuluhan gizi ditujukan untuk kelompok atau golongan masyarakat masal dan target yang diharapkan adalah pemahaman perilaku aspek kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Food model adalah bahan makanan atau makanan contoh yang terbuat dari bahan sintetis atau asli yang diawetkan, dengan ukuran dan satuan tertentu sesuai dengan kebutuhan yang digunakan untuk konseling gizi kepada pasien rawat inap maupun pengunjung rawat jalan.

4

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

5.

Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.

6.

Gizi Klinik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara makanan dan kesehatan tubuh manusia termasuk mempelajari zat-zat gizi dan bagaimana dicerna, diserap, digunakan, dimetabolisme, disimpan dan dikeluarkan dari tubuh.

7.

Kegiatan Spesifik adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus untuk kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan seperti imunisasi, PMT Ibu Hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen Tablet Tambah Darah (TTD), promosi ASI Ekslusif, MP-ASI, dsb. Kegiatan spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek (Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka 1000 HPK).

8.

Kegiatan Sensitif adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya dalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK. Namun apabila direncanakan secara khusus dan terpadu dengan kegiatan spesifik dampaknya sensitif terhadap proses keselamatan proses pertumbuhan dan perkembangan 1000 HPK.

9.

Konseling Gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi dua arah yang dilaksanakan oleh tenaga gizi puskesmas untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap, dan perilaku pasien dalam mengenali dan mengatasi masalah gizi sehingga pasien dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya.

10.

Mutu Pelayanan Gizi adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan pelayanan gizi sesuai dengan standar dan memuaskan, baik kualitas dari petugas maupun sarana serta prasarana untuk kepentingan pasien/klien.

11.

Nutrisionis adalah seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik, baik di masyarakat maupun Puskesmas dan unit pelaksana kesehatan lainnya, berpendidikan dasar Akademi Gizi/Diploma III Gizi.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

5

12.

Nutrisionist Registered (NR) adalah tenaga gizi Sarjana Terapan Gizi dan Sarjana Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

13. Pasien/Klien, adalah pengunjung Puskesmas/tenaga kesehatan, baik rawat inap/rawat jalan yang memerlukan pelayanan baik pelayanan kesehatan dan atau gizi.

14. Pasien Berisiko Malnutrisi adalah pasien dengan status gizi gizi buruk, gizi kurang, atau gizi lebih, mengalami penurunan asupan makan, penurunan berat badan, dll.

15. Pasien Kondisi Khusus adalah pasien ibu hamil, ibu menyusui, lansia, pasien dengan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes mellitus, hipertensi, hiperlipidemia, penyakit ginjal, dll.

16. Pelayanan Gizi adalah upaya memperbaiki gizi, makanan, dietetik pada masyarakat, kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan, anjuran, implementasi dan evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit diselenggarakan baik di dalam dan di luar gedung.

17. Pelayanan Gizi Di Puskesmas adalah kegiatan pelayanan gizi mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas.

18. Pelayanan Kesehatan Perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.

19. Pelayanan Kesehatan Masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.

6

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

20. Pelayanan Gizi Rawat Jalan adalah serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang berkesinambungan dimuai dari pengkajian gizi, penentuan diagnosis gizi, intervensi gizi, dan monitoring dan evaluasi kepada pasien/klien rawat jalan. Intervensi gizi rawat jalan pada umumnya berupa kegiatan konseling gizi dan dietetik dan atau penyuluhan gizi.

21. Pelayanan Gizi Rawat Inap adalah serangkaian proses kegiatan asuhan gizi yang berkesinambungan dimulai dari pengkajian gizi, penentuan diagnosis gizi, intervensi gizi, dan monitoring dan evaluasi kepada pasien/klien di rawat inap. Intervensi gizi rawat inap mencakup kegiatan konseling gizi, penyediaan makanan pasien rawat inap, pemantauan asupan makanan dan pergantian jenis diet apabila diperlukan.

22. Preskripsi Diet adalah rekomendasi kebutuhan zat gizi pasien secara individual mulai dari menetapkan kebutuhan energi, komposisi zat gizi yang mencakup zat gizi makro dan mikro, jenis diet, bentuk makanan, frekuensi makan dan rute pemberian makanan. Preskripsi diet dirancang berdasarkan pengkajian gizi, komponen diagnosis gizi, rujukan, rekomendasi, kebijakan dan prosedur, serta kesukaan dan nilai-nilai yang dianut pasien/klien.

23. Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) adalah pendekatan sistematik dalam memberikan pelayanan asuhan gizi yang berkualitas, melalui serangkaian aktivitas yang terorganisir yang meliputi identifikasi kebutuhan gizi sampai pemberian pelayanan gizi untuk memenuhi kebutuhan gizi.

24. Registered Dietisien (RD) adalah tenaga gizi Sarjana Terapan Gizi atau Sarjana Gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi (internship) dan telah lulus uji kompetensi serta teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan berhak mengurus izin memberikan pelayanan gizi, makanan dan dietetik, dan menyelenggarakan praktik gizi mandiri.

25. Rencana Diet adalah kebutuhan zat gizi pasien/klien yang dihitung berdasarkan status gizi, degenerasi penyakit, dan kondisi kesehatannya.

26. Rujukan Gizi adalah sistem dalam pelayanan gizi yang memberikan pelimpahan wewenang yang timbal balik atas pasien dengan masalah gizi baik secara vertikal maupun horisontal.

27. Sarana Kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

7

28.

Skrining Gizi adalah tindakan penapisan untuk mengetahui apakah seorang pasien berisiko malnutrisi, tidak berisiko malnutrisi, atau kondisi khusus.

29. Technikal Registered Dietisien (TRD) adalah seorang yang telah mengikuti dan penyelesaikan pendidikan Diploma III Gizi sesuai aturan yang berlaku atau Ahli Madya Gizi yang telah lulus uji kompetensi dan teregristrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

30. Tenaga Gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai dengan peraturan perundangan. Tenaga gizi meliputi Technical Registered Dietisien (TRD), Nutrisionis Registered (NR), dan Registered Dietisien (RD).

31. Tenaga Gizi Puskesmas adalah tenaga gizi yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas perbaikan gizi di Puskesmas. Apabila tidak tersedia tenaga gizi maka pelaksanaan tugas perbaikan gizi di Puskesmas dapat dilakukan oleh Tenaga Pelaksa Gizi yang berasal dari tenaga kesehatan lain seperti perawat atau bidan.

32. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri di bidang kesehatan serta memiliki kemampuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan formal di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan.

33. Terapi Diet adalah pelayanan dietetik yang merupakan bagian dari terapi gizi.

34. Tim Asuhan Gizi Puskesmas adalah sekelompok tenaga kesehatan di Puskesmas yang terkait dengan pelayanan gizi terdiri dari dokter (umum/ spesialis), tenaga gizi, perawat dan atau bidan dari setiap unit pelayanan yang bertugas menyelenggarakan asuhan gizi (nutrition care) untuk mencapai pelayanan paripurna yang bermutu.

F. Ruang Lingkup

1. Kebijakan Pelayanan Gizi di Puskesmas

2. Pelayanan Gizi di Dalam Gedung

3. Pelayanan Gizi di Luar Gedung

4. Pencatatan dan Pelaporan

5. Monitoring dan evaluasi

8

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

BAB II DASAR KEBIJAKAN PELAYANAN DI PUSKESMAS

A. Kebijakan Dasar Puskesmas

1. Pengertian Puskemas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, yang bertanggung-jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu wilayah kerja.

a. Unit Pelaksana Teknis Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD), Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.

b. Pembangunan Kesehatan Pembangunan Kesehatan adalah penyelenggaraan kesehatan oleh seluruh komponen bangsa secara terpadu dan saling mendukung melalui peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat kesehatan secara adil dan merata guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

c. Pertanggung jawaban Penyelenggaraan Penanggung jawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah Kabupaten/Kota adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Puskesmas hanya bertanggungjawab untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan kemampuannya.

d. Wilayah Kerja Secara nasional, standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan. Tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar Puskesmas, dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/ kelurahan atau RW). Masing-masing Puskesmas secara operasional bertanggungjawab langsung

kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

9

2. Fungsi Puskesmas

a. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu Puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

b. Pusat Pemberdayaan Masyarakat Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuksumberpembiayaannya,sertaikutmenetapkan,menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga, dan masyarakat diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat.

c. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab Puskesmas meliputi:

1) Pelayanan Kesehatan Perorangan Pelayanan Kesehatan perorangan adalah upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. Dalam pelayanan kesehatan perorangan juga termasuk pengobatan tradisional dan alternatif serta pelayanan kebugaran fisik dan kosmetika (SKN, 2009)

10

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

2) Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pelayanan kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Dalam pelayanan kesehatan masyarakat, mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, penyehatan lingkungan, dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, penggunaan zat adiktif (bahan tambahan makanan) dalam makanan dan minuman, penggunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan (SKN, 2009)

3. Upaya Pelayanan dan Azas Penyelenggaraan Puskesmas Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni:

a. Upaya Kesehatan Wajib Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah :

1) Promosi Kesehatan 2) Kesehatan Lingkungan 3) Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana 4) Perbaikan Gizi Masyarakat 5) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular 6) Pengobatan

b. Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

11

serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yakni:

1) Upaya Kesehatan Sekolah 2) Upaya Kesehatan Olahraga 3) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat 4) Upaya Kesehatan Kerja 5) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut 6) Upaya Kesehatan Jiwa 7) Upaya Kesehatan Mata 8) Upaya Kesehatan Usia Lanjut 9) Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

Upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan masyarakat serta upaya pencatatan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya itu merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan Puskesmas.

Perawatan Kesehatan masyarakat merupakan pelayanan penunjang baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Apabila perawatan kesehatan masyarakat menjadi permasalahan spesifik di daerah tersebut maka dapat dijadikan sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan.

Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula bersifat inovasi di luar upaya Puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat tercapainya visi Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib Puskesmas telah terlaksana secara optimal, yakni target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah dicapai.

Dalam keadaan tertentu, upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula ditetapkan sebagai penugasan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Apabila Puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab dan wajib menyelenggarakannya. Sebagai contoh bila masyarakat membutuhkan

12

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

pelayanan rawat inap, maka Puskesmas dapat dikembangkan pelayanan rawat inap, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya, yang dalam pelaksanaannya harus memperhatikan berbagai persyaratan tenaga, sarana dan prasarana sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Di beberapa daerah tertentu telah muncul pula kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan medik spesialistik. Dalam keadaaan ini apabila ada kemampuan, di Puskesmas dapat dikembangkan pelayanan medik spesialistik baik dalam bentuk rawat jalan maupun rawat inap. Status dokter dan atau tenaga spesialis yang bekerja di Puskesmas dapat sebagai tenaga konsulen atau tenaga tetap fungsional Puskesmas yang diatur oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Perlu diingat meskipun Puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan dan fungsi Puskesmas tetap sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

B. Pelayanan Gizi di Puskesmas

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat di Puskesmas merupakan salah satu Upaya Kesehatan Wajib yang harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas.

1. Tujuan Pelayanan Gizi di Puskesmas.

Pelayanan gizi di Puskesmas mempunyai tujuan sebagai berikut:

a. Tujuan umum:

Terciptanya sistem pelayanan gizi yang komprehensif di Puskesmas yang menjadi dasar bagi pelaksanaan pelayanan gizi yang bermutu dalam rangka mengatasi masalah gizi perorangan dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.

b. Tujuan khusus:

1) Terlaksananya pelayanan gizi di dalam gedung yang berkualitas di Puskesmas dan jejaringnya. 2) Terlaksananya pelayanan gizi di luar gedung yang berkualitas di Puskesmas dan jejaringnya.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

13

3) Terlaksananya pencatatan, pelaporan, monitoring dan evaluasi yang baik di Puskesmas dan jejaringnya.

2. Peran dan Fungsi Ketenagaan di Puskesmas dalam Pelaksanaan Pelayanan Gizi

a. Dokter Dokter berperan sebagai penanggung jawab pelayanan kesehatan pasien sekaligus sebagai Koordinator Tim Asuhan Gizi Puskesmas yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta menegakkan

diagnosis medis Menentukan pilihan tindakan, pemeriksaan laboratorium, dan perawatan

2)

3) Menentukan terapi obat dan preskripsi diet awal bekerjasama dengan

tenaga gizi puskesmas 4) Melakukan pemantauan dan evaluasi tindakan 5) Melakukan konseling terkait penyakit 6) Melakukan rujukan

b. Perawat/bidan

Perawat/bidan berperan sebagai penanggung jawab asuhan keperawatan/ kebidanan dan sekaligus sebagai pelaksana asuhan keperawatan yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:

1) Melakukan skrining awal dalam rangka membantu menentukan apakah pasien/klien berisiko masalah gizi atau tidak

2)

Bertanggung jawab pada asuhan keperawatan/kebidanan bagi pasien

3)

Melaksanakan tindakan dan perawatan sesuai instruksi dokter

4)

Memotivasi pasien dan keluarga agar pasien menghabiskan makanannya

5)

Melakukan pemantauan dan evaluasi pemberian makanan kepada pasien

c. Tenaga Gizi Puskesmas Tenaga Gizi Puskesmas diharapkan telah mengikuti pelatihan terkait gizi seperti Pelatihan Tatalaksana Anak Gizi Buruk (TAGB), Pelatihan Konselor ASI, Pelatihan Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA). Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan, dll. Kegiatan dalam rangka perbaikan gizi yang menjadi tanggung jawab puskesmas dilakukan oleh TPG dengan

14

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

latar belakang pendidikan gizi. Apabila belum ada TPG berlatar belakang pendidikan gizi, dapat dikerjakan oleh TPG yang bukan berlatar belakang gizi, seperti sanitarian, perawat, bidan, atau tenaga kesehatan lainnya.

Tenaga Gizi Puskesmas sebagai penanggung jawab asuhan gizi sekaligus sebagai pelaksana asuhan gizi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:

1)

Mengkaji status gizi pasien/klien berdasarkan data rujukan

2)

Melakukan anamnesis riwayat diet pasien/klien

3) Menerjemahkan rencana diet ke dalam bentuk makanan yang disesuaikan dengan kebiasaan makan serta keperluan terapi 4) Memberikan penyuluhan, motivasi, dan konseling gizi pada pasien/ klien dan keluarganya 5) Melakukan kunjungan keliling (visite) baik sendiri maupun bersama

6)

7)

dengan Tim Asuhan Gizi kepada pasien/klien Memantau masalah yang berkaitan dengan asuhan gizi kepada pasien/ klien, bersama dengan perawat Mengevaluasi status gizi pasien/klien secara berkala, asupan makanan, dan bila perlu melakukan perubahan diet pasien berdasarkan hasil diskusi dengan Tim Asuhan Gizi Puskesmas

asupan makanan, dan bila perlu melakukan perubahan diet pasien berdasarkan hasil diskusi dengan Tim Asuhan Gizi

8) Mengkomunikasikan hasil terapi gizi dan memberikan saran kepada anggota Tim Asuhan Gizi Puskesmas.

Tugas perbaikan gizi di Puskesmas merupakan tanggung jawab tenaga gizi. Apabila belum terdapat tenaga gizi maka pemenuhan kebutuhan tenaga gizi di Puskesmas dilakukan secara bertahap dan untuk sementara dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan lain yaitu perawat/bidan, dengan pendidikan/pelatihan khusus yang biasa diikuti.

Sedangkan peran dan fungsi tenaga kesehatan lain berkaitan dengan pelayanan gizi di puskesmas adalah sebagai berikut:

a. Petugas Farmasi 1) Melaksanakan permintaan obat dan cairan parenteral berdasarkan resep dokter. 2) Mendiskusikan keadaan atau hal-hal yang dianggap perlu dengan

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

15

tim, termasuk interaksi obat dan kesehatan.

3)

Membantu mengawasi dan mengevaluasi penggunaan obat dan cairan parenteral oleh pasien/klien bersama perawat.

4)

Jika perlu, menggantikan bentuk obat dari jenis yang sama sesuai dengan persetujuan dokter.

5)

Bersama dengan tenaga gizi melakukan pemantauan interaksi obat dan makanan.

b. Analis Laboratorium dan Penata Rontgen

1)

Melakukan pemeriksaan laborotarium rontgen sesuai permintaan

dokter.

2)

Bekerjasama dengan dokter dan perawat untuk pemeriksaan laborotarium dan rontgen.

3)

Bertanggung jawab pada hasil pemeriksaan laborotarium dan rontgen.

3. Sarana dan Prasarana yang diperlukan untuk menunjang Pelayanan Gizi di Puskesmas

a. Ruang Konsultasi Gizi 1) Letak Letak ruang konsultasi gizi berada pada bagian depan Puskesmas, area publik, berdekatan dengan klinik-klinik lainnya yang mempunyai akses langsung dengan lingkungan luar puskesmas. 2) Persyaratan Ruang Persyaratan yang perlu diperhatikan pada ruang konsultasi gizi adalah sebagai berikut:

a) Luas minimal ruangan konsultasi gizi adalah 3m x 2m.

b) Persyaratan komponen bangunan adalah sebagai berikut:

(1) Atap: Atap harus kuat terhadap kemungkinan bencana (angin puting beliung, gempa, dll), tidak bocor, tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan vektor. (2) Langit-langit: langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan, ketinggian langit-langit dari lantai minimal 2,8 m.

16

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

(3) Dinding: material dinding harus keras, rata, tidak berpori/ tidak berserat, tidak menyebabkan silau, kedap air, mudah dibersihkan, dan tidak ada sambungan agar mudah dibersihkan. (4) Lantai: material lantai harus kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang, mudah dibersihkan. (5) Pintu dan Jendela: lebar bukaan pintu minimal 90 cm, bukaan jendela diupayakan dapat dibuka secara maksimal.

Gambar 1. Contoh Layout Ruang Konsultasi Gizi di Puskesmas

Gambar 1. Contoh Layout Ruang Konsultasi Gizi di Puskesmas 3) Persyaratan Prasarana a) Sanitasi (1) Pada

3) Persyaratan Prasarana a) Sanitasi (1) Pada ruangan konsultasi gizi sebaiknya disediakan ’wastafel’ dengan debit air mengalir yang cukup. (2) Dilengkapi pula dengan tempat sampah yang tertutup.

b) Ventilasi (1) Ventilasi harus cukup agar sirkulasi udara dalam ruangan tetap terjaga. Jumlah bukaan ventilasi sebaiknya 15% terhadap luas

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

17

lantai ruangan. (2) Arah bukaan ventilasi tidak boleh berdekatan dengan tempat pembuangan sampah (TPS), toilet, dan sumber penularan lainnya.

c) Pencahayaaan (1) Pada siang hari sebaiknya menggunakan pencahayaan alami.

Intensitas cahaya cukup agar dapat melakukan pekerjaan dengan baik (200 lux).

d) Listrik (1) Tersedia kotak kontak yang aman untuk peralatan/perlengkapan dengan jumlah + 2 titik.

(2)

4) Persyaratan Peralatan/Perlengkapan

Peralatan/perlengkapan yang disediakan pada ruangan konsultasi gizi antara lain :

a) Meja

b) Kursi

c) Media KIE (poster, brosur makanan sehat sesuai kelompok umur, brosur diet penyakit, dll)

d) Standar Makanan Diet, Standar Pemantauan Pertumbuhan Balita dan Anak, Tabel IMT, dll

e) Food Model

f) Daftar Bahan Penukar Makanan

g) Alat ukur antropometri (timbangan berat badan (beambalance), microtoise, skin fold calliper, pita LiLA, dll)

b. Ruang Produksi Makanan 1) Letak

a) Strategis dan mudah dicapai dari ruang perawatan.

b) Mudah dicapai oleh kendaraan yang membawa bahan makanan.

c) Tidak berdekatan dengan tempat pembuangan sampah (TPS), toilet,

dan sumber penularan lainnya. 2) Persyaratan Ruang Persyaratan yang perlu diperhatikan pada ruang produksi makanan adalah sebagai berikut:

18

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

a) Tata ruang produksi makanan puskesmas rawat inap harus memperhatikan alur (flow) kegiatan mulai dari penerimaan, penyimpanan, persiapan dan pengolahan bahan makanan, penyajian makanan, sampai dengan pencucian alat dan penyimpanan

perlengkapan. b) Luas ruang produksi makanan harus sesuai dengan kebutuhan dan diperhitungkan kemungkinan perluasannya di masa mendatang. Ruang produksi makanan di puskesmas rawat inap minimal mempunyai luas ruangan 3m x 3m yang dapat memfasilitasi beberapa area, yang terdiri dari:

(1) Area penerimaan bahan makanan

(a)

Pada area ini dilaksanakan kegiatan pencatatan dan pengujian kualitas dan kuantitas bahan makanan.

(b)

Area ini dilengkapi dengan meja untuk pencatatan bahan makanan masuk, alat uji kuantitas dan sebaiknya juga dilengkapi dengan alat uji kualitas bahan makanan.

(2) Area penyimpanan bahan makanan

Area penyimpanan bahan makanan dibedakan menjadi 2, yaitu:

(a)

Tempat penyimpanan bahan makanan segar/basah (lemari pendingin dengan suhu antara -5 s/d 100 C).

(b)

Tempat penyimpanan bahan makanan kering (lemari/rak tertutup)

(3) Area persiapan dan pengolahan bahan makanan

(a)

Kegiatan yang dilakukan mulai dari membersihkan dan memotong bahan makanan, mempersiapkan bumbu, sampai dengan pengolahan/ memasak bahan makanan.

(b)

Pada area ini perlu disediakan meja kerja yang dilengkapi bak cuci (sink). Meja kerja harus cukup untuk menyiapkan bahan makanan dan meletakkan kompor, penanak nasi, blender, oven, dll.

(c)

Meja kerja memiliki ketinggian 60 s.d. 80 cm di atas permukaan lantai, terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak mudah berkarat, tidak mudah berjamur

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

19

(contoh: meja stainless steel, meja cor yang dilapis keramik, dll).

(4)

Area penyajian makanan

(5)

Area pencucian dan penyimpanan alat

(a)

Pada area ini harus dilengkapi bak cuci (sink) dengan tempat pengeringnya dan lemari/rak alat.

3) Persyaratan komponen bangunan adalah sebagai berikut:

a) Atap: Atap harus kuat, tidak bocor, material atap tidak mudah terbakar dan tidak menjadi tempat perindukan vektor.

b) Langit-langit: ketinggian plafon sebaiknya dapat membuat kalor panas tersirkulasi dengan baik.

c) Dinding: bahan dinding tahan air, tidak mudah terbakar dan mudah dibersihkan.

d) Lantai: bahan penutup lantai kuat, permukaan rata, tidak licin, tahan terhadap air dan mudah dibersihkan.

e) Pintu dan Jendela: material pintu dan jendela tidak mudah terbakar dan tidak dapat memungkinkan vektor masuk.

Gambar 2. Contoh Layout Ruang Produksi Makanan di Puskesmas

vektor masuk. Gambar 2. Contoh Layout Ruang Produksi Makanan di Puskesmas 20 Pedoman Pelayanan Gizi di

20

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

4) Persyaratan Prasarana

a) Sanitasi (1) Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, harus dilengkapi dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah serta kotoran dan sampah. (2) Di dalam sistem penyaluran/pembuangan air kotor dan/atau air limbah disediakan perangkap lemak untuk memisahkan dan/atau menyaring kotoran/lemak.

b) Ventilasi (1) Ventilasi harus cukup agar sirkulasi udara dalam ruang dapur tetap terjaga dan tidak terlalu panas. Jumlah bukaan ventilasi sebaiknya 15% terhadap luas lantai ruangan. (2) Arah bukaan ventilasi tidak boleh berdekatan dengan tempat pembuangan sampah (TPS), toilet, dan sumber penularan lainnya.

c) Pencahayaaan (1) Pada siang hari sebaiknya menggunakan pencahayaan alami. (2) Intensitas cahaya cukup agar dapat melakukan pekerjaan dengan baik.

d) Listrik Listrik minimal tersedia untuk pencahayaan. Apabila dipasang kotak kontak untuk peralatan, maka jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan dipasang pada ketinggian + 120 cm dari permukaan lantai.

5) Persyaratan Peralatan/Perlengkapan

a) Peralatan besar Yang dimaksud dengan peralatan besar adalah:

(1)

Kompor minyak/gas/listrik

(2)

Dandang/kukusan nasi/penanak nasi otomatis

(3)

Panci Enamel/ Stainless Steel/Aluminium diameter 30 cm

(4)

Wajan Enamel/Stainless Steel diameter 40 cm

(5)

Meja kerja (apabila belum terinstalasi pada ruang)

(6)

Lemari Es/Kulkas 2 pintu

(7)

Meja persiapan dan bak cuci (apabila belum terinstalasi pada ruang)

(8)

Blender

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

21

(9)

(10) Bakul plastik (11) Lemari/rak tertutup untuk penyimpanan bahan makanan (12) Lemari/rak tertutup untuk penyimpanan peralatan (13) Timbangan 2 kg

Trolley makanan susun 3

b) Peralatan kecil (1) Pisau dapur (2) Sendok sayur (3) Parutan (4) Sodet (5) Serokan (6) Cobek + ulekan (7) Talenan (8) Saringan kelapa (9) Pembuka botol/ kaleng

c) Alat-alat makan, antara lain:

(1) Sendok dan garpu (2) Piring makan (3) Gelas minum (4) Mangkuk sayur (5) Piring buah datar (6) Piring kue cekung (7) Cangkir bertutup (8) Tutup dan tatakan gelas

d) Peralatan kebersihan dan pencucian alat (1) Tempat sampah tertutup (2) Perlengkapan kebersihan (sapu, sikat, serokan dan lap pel)

Ketersediaan sarana dan prasarana mengacu pada standar, tetapi dapat disiapkan bertahap sesuai dengan kondisi setempat.

22

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

BAB III PELAYANAN GIZI DI PUSKESMAS

Pelayanan Gizi Di Puskesmas adalah kegiatan pelayanan gizi mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas. Pelayanan gizi di Puskesmas dilakukan di dalam gedung dan di luar gedung, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

A. Pelayanan Gizi di Dalam Gedung

1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Dalam Gedung Kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung terdiri dari upaya promotif, preventif,

dan kuratif serta rehabilitatif baik rawat jalan maupun rawat inap yang dilakukan di dalam puskesmas. Kegiatan pelayanan gizi di dalam gedung terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu pelayanan gizi rawat jalan dan pelayanan gizi rawat inap. Berikut adalah uraian mengenai pelayanan gizi di rawat jalan dan rawat inap.

a) Pelayanan Gizi Rawat Jalan Pelayanan gizi rawat jalan merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi:

1) Pengkajian gizi 2) Penentuan diagnosis gizi 3) Intervensi gizi 4) Monitoring dan evaluasi asuhan gizi Tahapan pelayanan gizi rawat jalan diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh tenaga kesehatan di Puskesmas untuk menetapkan pasien berisiko masalah gizi. Apabila tenaga kesehatan menemukan pasien berisiko masalah gizi maka pasien akan dirujuk untuk memperoleh asuhan gizi, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Pengkajian Gizi Tujuan: mengidentifikasi masalah gizi dan faktor penyebab melalui pengumpulan, verifikasi dan interpretasi data secara sistematis. Kategori data pengkajian gizi meliputi:

(a) Data Antropometri Pengukuran Antropometri dapat dilakukan dengan berbagai cara meliputi pengukuran Tinggi Badan (TB)/Panjang Badan (PB) dan Berat Badan (BB), Lingkar Lengan Atas (LiLA), Lingkar Kepala, Lingkar Perut, Rasio Lingkar Pinggang Pinggul (RLPP), dll.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

23

(b)

Data Pemeriksaan Fisik/Klinis Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berhubungan dengan gangguan gizi. Pemeriksaan fisik meliputi tanda-tanda klinis kekurangan gizi atau kelebihan gizi seperti rambut, otot, kulit, baggy pants, penumpukan lemak dibagian tubuh tertentu, dll.

(c)

Data Riwayat Gizi Ada dua macam pengkajian data riwayat gizi pasien yang umum digunakan yaitu secara pengkajian riwayat gizi kualitatif dan kuantitatif:

(1) Pengkajian riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari berdasarkan frekuensi konsumsi makanan. (2) Pengkajian gizi secara kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran asupan zat gizi sehari, dengan cara recall 24 jam, yang dapat diukur dengan menggunakan bantuan food model.

(d)

Data Hasil Pemeriksaan Laboratorium Data hasil pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan biokimia darah terkait gizi dalam rangka mendukung diagnosis penyakit serta menegakkan diagnosis gizi pasien/klien. Hasil pemeriksaan laboratorium ini dilakukan juga untuk menentukan intervensi gizi dan memonitor/mengevaluasi terapi gizi. Contoh data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi yang dapat digunakan misalnya kadar gula darah, kolesterol, LDL, HDL, trigliserida, ureum, kreatinin, dll.

2) Penentuan Diagnosis Gizi Diagnosis gizi spesifik untuk masalah gizi yang bersifat sementara sesuai dengan respon pasien. Dalam melaksanakan asuhan gizi, tenaga gizi puskesmas seharusnya bisa menegakkan diagnosis gizi secara mandiri tanpa meninggalkan komunikasi dengan profesi lain di puskesmas dalam memberikan layanan. Tujuan diagnosis gizi adalah mengidentifikasi adanya masalah gizi, faktor penyebab, serta tanda dan gejala yang ditimbulkan. Untuk mengetahui ruang

24

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

lingkup diagnosis gizi dapat merujuk pada Buku Pedoman Proses Asuhan Gizi Terstandar, Kementerian Kesehatan RI, 2014 atau di Buku Pedoman Asuhan Gizi di Puskesmas, WHO dan Kementerian Kesehatan RI, 2011.

3) Pelaksanaan Intervensi Gizi Intervensi gizi adalah suatu tindakan yang terencana yang ditujukan untuk mengubah perilaku gizi, kondisi lingkungan, atau aspek status kesehatan individu. Intervensi gizi dalam rangka pelayanan gizi rawat jalan meliputi:

(a)

Penentuan jenis diet sesuai dengan kebutuhan gizi individual. Jenis diet disesuaikan dengan keadaan/penyakit serta kemampuan pasien/ klien untuk menerima makanan dengan memperhatikan pedoman gizi seimbang (energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, air, dan serat), faktor aktifitas, faktor stres serta kebiasaan makan/pola makan. Kebutuhan gizi pasien ditentukan berdasarkan status gizi, pemeriksaan klinis, dan data laboratorium.

(b)

Edukasi Gizi Edukasi gizi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkait perbaikan gizi dan kesehatan.

(c)

Konseling Gizi Konseling yang diberikan sesuai kondisi pasien/klien meliputi konseling gizi terkait penyakit, konseling ASI, konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), konseling aktivitas fisik, dan konseling faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM). Tujuan konseling adalah untuk mengubah perilaku dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai masalah gizi yang dihadapi.

4) Monitoring dan Evaluasi Asuhan Gizi Rawat Jalan Monitoring dan evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan,

keberhasilan pelaksanaan intervensi gizi pada pasien/klien dengan cara:

1) Menilai pemahaman dan kepatuhan pasien/klien terhadap intervensi gizi

Menentukan apakah intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana diet yang telah ditetapkan

3) Mengindektifikasi hasil asuhan gizi yang positif maupun negatif

2)

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

25

4) Menginformasikan yang menyebabkan tujuan intervensi gizi tidak tercapai 5) Menetapkan kesimpulan yang berbasis fakta

Evaluasi hasil:

(a) Membandingkan data hasil monitoring dengan tujuan rencana diet atau standar rujukan untuk mengkaji perkembangan dan menentukan tindakan selanjutnya. (b) Mengevaluasi dampak dari keseluruhan intervensi terhadap hasil kesehatan pasien secara menyeluruh, meliputi perkembangan penyakit, data hasil pemeriksaan laboratorium, dan status gizi.

Hal-hal yang dimonitor dan dievaluasi dalam pelaksanaan asuhan gizi antara lain:

1. Perkembangan data antropometri

2. Perkembangan data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi

3. Perkembangan data fisik/klinis

4. Perkembangan data asupan makan

5. Perkembangan diagnosis gizi

6. Perubahan perilaku dan sikap

b) Pelayanan Gizi Rawat Inap Intervensi gizi pada pelayanan gizi rawat inap mencakup penyelenggaraan pemberian makan pasien, pamantauan asupan makanan, konseling gizi dan pergantian jenis diet apabila diperlukan. Pelayanan gizi rawat inap merupakan serangkaian kegiatan yang meliputi:

1) Pengkajian gizi 2) Penentuan diagnosis gizi 3) Intervensi gizi meliputi pelayanan makanan, pemantauan asupan, perubahan diet dan konseling 4) Monitoring dan Evaluasi asuhan gizi

Tahapan pelayanan gizi rawat inap diawali dengan skrining/penapisan gizi oleh tenaga kesehatan Puskesmas untuk menetapkan pasien berisiko masalah gizi atau tidak. Skrining gizi setidaknya dilakukan pada pasien baru

26

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

1x24 jam setelah pasien masuk rawat inap. Pasien yang berisiko masalah gizi antara lain adalah pasien gizi kurang/buruk dengan komplikasi medis, pasien dengan kondisi khusus seperti Diabetes Melitus, hipertensi, dll.

Anak gizi buruk dengan komplikasi medis dapat dirawat inap di Puskesmas Rawat Inap apabila di Puskesmas sudah ada tenaga atau tim asuhan gizi yang dilatih Tatalaksana Anak Gizi Buruk (TAGB) serta mempunyai sarana dan prasarana perawatan yang memadai untuk anak gizi buruk. Apabila tenaga kesehatan menemukan pasien berisiko masalah gizi maka pasien akan memperoleh asuhan gizi, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Pengkajian Gizi Pengkajian gizi bertujuan untuk mengidentifikasi masalah gizi dan faktor penyebab melalui pengumpulan, verifikasi, dan interpretasi data secara sistematis. Kategori data pengkajian gizi meliputi:

(a)

Data Antropometri Pengukuran antropometri dapat dilakukan dengan berbagai cara meliputi pengukuran Tinggi Badan (TB)/Panjang Badan (PB) dan Berat Badan (BB), Lingkar Lengan Atas (LiLA), Lingkar Kepala, Lingkar Perut, Rasio Lingkar Pinggang Pinggul (RLPP), dll.

(b)

Data Pemeriksaan Fisik/Klinis Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan klinis yang berhubungan dengan gangguan gizi. Pemeriksaan fisik meliputi tanda-tanda klinis gizi kurang atau gizi lebih seperti rambut, otot, kulit, baggy pants, penumpukan lemak dibagian tubuh tertentu, dll.

(c)

Data Riwayat Gizi Ada dua macam cara pengkajian riwayat gizi pasien yaitu secara kualitatif dan kuantitatif:

(1) Pengkajian riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari berdasarkan frekuensi konsumsi makanan. (2) Pengkajian gizi secara kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan gambaran asupan zat gizi sehari, dengan cara recall 24 jam, yang dibantu dengan menggunakan food model.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

27

(d) Data Hasil Pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan biokimia darah terkait gizi dalam rangka mendukung diagnosis penyakit serta menegakkan diagnosis gizi pasien/klien. Data hasil pemeriksaan laboratorium ini dilakukan juga untuk menentukan intervensi gizi dan mengevaluasi terapi gizi. Contoh data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi yang dapat digunakan misalnya kadar gula darah, kolesterol, LDL, HDL, trigliserida, ureum, kreatinin, dll.

2) Penentuan Diagnosis Gizi Diagnosis gizi spesifik untuk masalah gizi yang bersifat sementara sesuai dengan respon pasien. Dalam melaksanakan asuhan gizi, tenaga gizi puskesmas seharusnya bisa menegakkan diagnosis gizi secara mandiri tanpa meninggalkan komunikasi dengan profesi lain di puskesmas dalam memberikan layanan.

Tujuan diagnosis gizi adalah mengidentifikasi adanya masalah gizi, faktor penyebab, tanda dan gejala yang ditimbulkan. Untuk mengetahui ruang lingkup diagnosis gizi dapat merujuk pada Buku Pedoman Proses Asuhan Gizi Terstandar, Kementerian Kesehatan RI 2014, atau di Buku Pedoman Asuhan Gizi di Puskesmas, WHO dan Kementerian Kesehatan.

3) Pelaksanaan Intervensi Gizi Intervensi gizi adalah suatu tindakan yang terencana yang ditujukan untuk mengubah perilaku gizi, kondisi lingkungan, atau aspek status kesehatan individu. Intervensi gizi dalam rangka pelayanan gizi rawat jalan meliputi:

1) Penentuan jenis diet sesuai dengan kebutuhan gizi individual Jenis diet disesuaikan dengan keadaan/penyakit yang diderita serta kemampuan pasien/klien untuk menerima makanan dengan memperhatikan pedoman gizi seimbang (energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, air, dan serat), faktor aktifitas, faktor stres serta kebiasaan makan/pola makan. Kebutuhan gizi pasien ditentukan berdasarkan status gizi, pemeriksaan klinis dan data hasil pemeriksaan laboratorium.

28

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

2) Konseling Gizi Konseling yang diberikan sesuai kondisi pasien/klien. Materi konseling gizi meliputi hubungan gizi terkait penyakit, prinsip gizi seimbang, pemilihan bahan makanan, keamanan pangan, interaksi obat dan makanan, bentuk dan cara pemberian makanan sesuai keluhan dan kondisi klinis pasien, kebutuhan gizi pasien, dan sebagainya. Tujuan konseling adalah untuk mengubah perilaku dengan cara meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai masalah gizi yang dihadapi. 3) Penyelenggaraan Makanan Penyelenggaraan makanan Puskesmas Rawat Inap merupakan rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, perencanaan anggaran belanja, pengadaan bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan, pemasakan bahan makanan, distribusi dan pencatatan pelaporan serta evaluasi. Penyelenggaraan makanan di Puskesmas Rawat Inap dilaksanakan dengan tujuan menyediakan makanan yang berkualitas sesuai kebutuhan gizi, biaya, aman, dan dapat diterima oleh pasien guna mencapai status gizi yang optimal. (1) Alur Penyelenggaraan Makanan di Puskesmas Rawat Inap. Alur penyelenggaraan makanan di Puskesmas sama dengan yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan lain termasuk rumah sakit, tetapi lebih sederhana. Alur penyelenggraan makanan dijabarkan seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3. Alur Penyelenggaraan Makanan di Puskesmas Rawat Inap

7. Pelayanan 1.Perencanaan 2. Pengadaan 3. Penerimaan & Penyimpananan Menu Bahan Makanan makanan Bahan Makanan
7. Pelayanan
1.Perencanaan
2. Pengadaan
3. Penerimaan &
Penyimpananan
Menu
Bahan Makanan
makanan
Bahan Makanan
Pasien
6. Penyajian
Makanan di Ruang
Rawat Inap
4. Persiapan &
Pengolahan
5. Distribusi Makanan
Makanan

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

29

(2) Sasaran Sasaran penyelenggaraan makanan di Puskesmas Rawat Inap adalah pasien rawat inap. (3) Bentuk Penyelenggaraan Makanan di Puskesmas Rawat Inap Kegiatan penyelenggaraan makanan merupakan bagian dari unit produksi makanan di Puskesmas Rawat Inap. Sistem penyelenggaraan makanan di Puskesmas dilakukan secara Sistem Swakelola. Pada sistem penyelenggaraan makanan Swakelola, unit produksi makanan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan penyelenggaraan makanan. Dalam sistem swakelola ini, seluruh sumber daya yang diperlukan (tenaga, dana, metode, sarana, dan prasarana) disediakan oleh pihak Puskesmas Rawat Inap. Pada pelaksanaannya, unit produksi makanan mengelola kegiatan gizi sesuai dengan manajemen dan menerapkan Standar Operasinal Prosedur yang ditetapkan. (4) Mekanisme Penyelenggaraan Makanan ((a)) Perencanaan Anggaran Belanja Makanan Perencanaan anggaran belanja makanan adalah suatu kegiatan penyusunan anggaran biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan bagi pasien/klien yang dilayani, selama jangka waktu tertentu, biasanya 1 (satu) bulan. Tujuannya adalah tersedianya taksiran anggaran belanja makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan macam dan jumlah bahan makanan bagi pasien/klien yang dilayani sesuai dengan standar kecukupan gizi. Besar anggaran belanja makanan dalam satu bulan yang akan datang dihitung berdasarkan gambaran pelaksanaan pada bulan yang sedang berjalan dan kemungkinan prakiraan kenaikan harga dengan melihat data jenis dan jumlah pasien dalam 1 (satu) bulan terakhir. Perencanaan anggaran belanja makanan meliputi beberapa kegiatan antara lain:

((1)) Memperhitungkan anggaran belanja makanan Perhitungan biaya tidak termasuk untuk bahan bakar,

30

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

tenaga, peralatan dan sebagainya di luar bahan makanan. Langkah-langkah perencanaan anggaran belanja dapat dilihat pada lampiran. ((2)) Perencanaan menu Perencanaan menu adalah suatu kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi kebutuhan gizi dan selera pasien/klien dengan memenuhi prinsip gizi seimbang. Tujuan perencanaan menu adalah tersedia siklus menu sesuai klasifikasi pelayanan yang ada di Puskemas perawatan (misalnya siklus menu 10 hari). Langkah-langkah dalam penyusunan menu dapat dilihat pada lampiran.

Perencanaan kebutuhan bahan makanan Perencanaan kebutuhan bahan makanan merupakan suatu proses untuk menentukan jumlah, macam dan kualitas bahan makanan yang diperlukan dalam kurun waktu tertentu. ((b)) Pengadaan bahan makanan Kegiatan pengadaan bahan makanan meliputi penetapan spesifikasi bahan makanan, perhitungan harga, pemesanan dan pembelian bahan makanan dan melakukan survei pasar. Dari survei tersebut akan diperoleh perkiraan harga bahan makanan yang meliputi harga terendah, harga tertinggi, dan harga perkiraan maksimal. ((c)) Penyimpanan bahan makanan dan makanan Penyimpanan bahan makanan adalah suatu tata cara menata, menyimpan, memelihara jumlah, kualitas, dan keamanan bahan makanan kering dan segar di tempat penyimpanan yang aman dan memiliki lingkungan yang sehat. Tujuan penyimpanan bahan makanan adalah tersedianya bahan makanan yang siap digunakan dalam jumlah dan kualitas yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

31

((d)) Pengolahan bahan makanan Proses Pengolahan bahan makanan meliputi proses persiapan bahan makanan, pemasakan makanan, pendistribusian dan penyajian makanan. ((1)) Persiapan bahan makanan Persiapan bahan makanan adalah serangkaian kegiatan dalam mempersiapkan bahan makanan yang siap diolah (mencuci, memotong, menyiangi, meracik, dsb) sesuai dengan menu, standar resep, standar porsi, standar bumbu, dan jumlah klien/pasien yang akan dilayani. ((2)) Pemasakan makanan Pemasakan bahan makanan merupakan suatu kegiatan mengubah (memasak) bahan makanan mentah menjadi

makanan yang siap dimakan, berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Proses pemasakan ini bertujuan untuk:

Mengurangi risiko kehilangan zat-zat gizi bahan makanan

Meningkatkan nilai cerna

Meningkatkan dan mempertahankan warna, rasa, keempukan, dan penampilan makanan.

Bebas dari organisme dan zat yang berbahaya untuk tubuh. ((3)) Pendistribusian dan penyajian makanan

Pendistribusian makanan adalah serangkaian proses kegiatan penyampaian makanan sesuai dengan jenis makanan dan jumlah porsi pasien/konsumen yang dilayani. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian makanan yaitu:

• Kerjasama tim di ruang rawat inap antara dokter, perawat/bidan, tenaga gizi dalam hal penentuan diet, pemesanan makanan, penyajian dan pengawasan makanan.

• Alat penyaji makanan harus sesuai dengan macam

32

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

masakan yang dihidangkan.

• Sebaiknya digunakan alat yang baik, kuat dan menarik

• Ketepatan waktu penyajian makanan pasien

• Kerapian dan kebersihan makanan yang sampai pada pasien.

4) Monitoring dan Evaluasi Asuhan Gizi Rawat Inap Setelah rangkaian proses asuhan gizi yang dimulai dari pengkajian gizi, penentuan diagnosis gizi, dan pelaksanaan intervensi gizi, kegiatan berikutnya adalah monitoring evaluasi asuhan gizi. Kegiatan utama dari monitoring dan evaluasi asuhan gizi adalah memantau pemberian intervensi gizi secara berkesinambungan untuk menilai kemajuan penyembuhan dan status gizi pasien. Hal-hal yang dimonitoring dan evaluasi dalam asuhan gizi rawat inap antara lain:

(1)Perkembangan data antropometri (2) Perkembangan data hasil pemeriksaan laboratorium terkait gizi (3) Perkembangan data pemeriksaan fisik/klinis (4) Perkembangan asupan makan termasuk daya terima makanan (5) Perkembangan diagnosis gizi (6) Perubahan perilaku dan sikap (7) Perubahan diet Pemantauan tersebut mencakup antara lain respon pasien terhadap diet yang diberikan, bentuk makanan, toleransi terhadap makanan yang diberikan, adanya mual, mutah, keadaan klinis, defekasi, perubahan data laboratorium, dll. Tindak lanjut yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan sesuai dengan hasil evaluasi asuhan gizi antara lain perubahan diet, yang dilakukan dengan mengubah preskripsi diet sesuai perkembangan kondisi pasien. Untuk pasien yang dirawat perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi Hospital Malnutrition terutama pada pasien yang mempunyai masalah dalam asupan makanannya seperti adanya mual, muntah, nafsu makan berkurang. Selain itu evaluasi status gizi dan asupan makan juga dilakukan secara rutin. Pada pasien anak, pemantauan berat badan (BB) sebaiknya dilakukan setiap hari.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

33

2.

Alur Pelayanan Gizi di Dalam Gedung

1. Pasien/Klien datang sendiri atau dirujuk dari struktural Puskesmas (Pustu, Polindes, Poskesling) atau UKBM (Posyandu, Posbindu PTM, Poksila, dll) atau sarana kesehatan lain.

2. Pasien/Klien mendaftar ke loket pendaftaran di Puskesmas.

3. Pasien/Klien mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan masalah kesehatannya di Poli Umum/Balai Pengobatan Puskesmas (BP) atau Poli KIA atau Poli gigi oleh petugas medis atau paramedis.

4. Di Poli Umum/Balai Pengobatan atau Poli KIA pasien sekaligus mendapatkan Skrining Gizi oleh tenaga kesehatan serta ditentukan apakah pasien perlu dirawat inap atau cukup rawat jalan. Pasien/Klien akan dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang apabila diperlukan seperti pemeriksaan laboratorium, radiologi, dan lain-lain sesuai kemampuan Puskesmas. Pasien/Klien mendapatkan obat sesuai masalah kesehatannya dari apotek atau bagian farmasi di Puskesmas.

5. Pasien/Klien rawat jalan yang berisiko atau tidak berisiko mengalami masalah gizi bisa mendapatkan konseling gizi atas permintaan pasien.

6. Pasien/Klien rawat inap yang berisiko atau tidak berisiko mengalami masalah gizi mendapat pelayanan gizi sesuai kebutuhan berupa pelayanan makanan pasien rawat inap.

7. Pasien/Klien yang mendapatkan pelayanan gizi oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas. Jika diperlukan akan dilakukan Skrining Gizi Ulang oleh tenaga gizi.

8. Pasien rawat jalan maupun rawat inap yang berisiko atau tidak berisiko mengalami masalah gizi mendapat pelayanan gizi yang sesuai Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) mulai dari pengkajian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, monitoring dan evaluasi.

9. Hasil monitoring dan evaluasi ditindaklanjuti oleh Tim Asuhan Gizi Puskesmas. Tindak lanjut dapat berupa rujukan ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang lebih tinggi apabila masalah gizi dengan penyakit penyerta dan atau komplikasi yang dialami pasien/klien tidak memungkinkan ditangani di Puskesmas atau dapat berupa pengkajian ulang baik masalah medis dan masalah gizinya.

34

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

Gambar 4. Alur Pelayanan Gizi Dalam Gedung

Pasien Loket Pemeriksaan Medis dan Skrining Gizi * Ditemukan Pasien Bermasalah Gizi dan atau Kondisi
Pasien
Loket
Pemeriksaan Medis dan Skrining Gizi *
Ditemukan Pasien Bermasalah Gizi dan atau Kondisi Khusus
Rawat Jalan
Rawat Inap
Rujuk Ke
Fasyankes yang
lebih tinggi
Pengkajian Gizi
Diagnosis Gizi
Rujukan Balik
Intervensi Gizi
Intervensi Gizi
Pasien Rawat Jalan:
Pasien Rawat Inap:
Penyuluhan Gizi Oleh Tenaga
Kesehatan/
Konseling Gizi oleh Tenaga
Gizi, Perencanaan Diet,
Penyediaan makanan
Monitoring Evaluasi
Tindak Lanjut

Sumber: Modifikasi Asuhan Gizi di Puskesmas (Pedoman Pelayanan Gizi bagi Petugas kesehatan) Keterangan :

(*)

Skrining Gizi dapat dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan medis oleh dokter atau perawat dengan metode skrining sederhana yaitu metode MST (Malnutrition Screening Tools). Skrining Gizi Ulang oleh tenaga gizi puskesmas dilakukan apabila diperlukan yaitu

a. Untuk pasien rawat jalan dirujuk Dokter untuk mendapatkan asuhan gizi rawat jalan

b. Untuk pasien rawat inap yang akan mendapatkan asuhan gizi rawat inap.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

35

B. Pelayanan Gizi di Luar Gedung 1. Kegiatan Pelayanan Gizi di Luar Gedung Secara utuh kegiatan pelayanan gizi di luar gedung tidak sepenuhnya dilakukan hanya di luar gedung, melainkan tahap perencanaan dilakukan di dalam gedung. Kegiatan pelayanan gizi di luar gedung ditekankan ke arah promotif dan preventif serta sasarannya adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. Beberapa kegiatan pelayanan gizi di luar gedung dalam rangka upaya perbaikan gizi yang dilaksanakan oleh Puskesmas antara lain:

1. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi

a. Tujuan edukasi gizi adalah untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang (PGS) dan sesuai dengan risiko/masalah gizi.

b. Sasarannya adalah kelompok dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.

c. Lokasi edukasi gizi antara lain: Posyandu, Pusling, Institusi Pendidikan, Kegiatan Keagamaan, Kelas Ibu, Kelas Balita, Upaya Kesehatan Kerja (UKK), dll.

d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam edukasi gizi disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta berkoordinasi dengan tim penyuluh di Puskesmas misalnya tenaga promosi kesehatan, antara lain:

1) Merencanakan kegiatan edukasi di wilayah kerja Puskesmas. 2) Merencanakan materi edukasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. 3) Memberikan pembinaan kepada kader agar mampu melakukan pendidikan gizi di Posyandu dan masyarakat luas. 4) Memberikan pendidikan gizi secara langsung di UKBM, institusi pendidikan, pertemuan keagamaan, dan pertemuan-pertemuan lainnya. 5) Menyusun laporan pelaksanaan pendidikan gizi di wilayah kerja Puskesmas.

2. Konseling ASI Eksklusif dan PMBA

a. Tujuan konseling ASI Ekslusif dan PMBA adalah:

1) Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku keluarga sehingga bayi baru lahir segera diberikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan

36

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

meneruskan ASI Ekslusif sampai bayi berusia 6 bulan. 2) Sejak usia 6 bulan di samping meneruskan ASI mulai diperkenalkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). 3) Meneruskan ASI dan MP-ASI sesuai kelompok umur sampai usia 24 bulan.

b. Sasaran konseling adalah ibu hamil dan atau keluarga dan ibu yang mempuyai anak usia 0-24 bulan.

c. Lokasi konseling antara lain Posyandu, Kelompok Pendukung Ibu (KP-

Ibu), terintegrasi dengan program lain dalam kegiatan kelas balita, kelas Ibu,

d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam konseling ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi antara lain:

1) Merencanakan kegiatan konseling ASI dan PMBA di wilayah kerja Puskesmas 2) Menyiapkan materi dan media konseling yang akan digunakan. 3) Melakukan pembinaan kepada tenaga kesehatan lain atau kader yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas konseling ASI dan PMBA. 4) Memberikan konseling kepada sasaran sesuai permasalahan individualnya. 5) Materi konseling PMBA antara lain:

a) Makanan sehat selama hamil

b) Inisiasi menyusu dini (IMD)

c) ASI Ekslusif

d) Makanan MP-ASI kepada bayi mulai usia 6 bulan dan terus memberikan ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.

e) Makanan sehat Ibu menyusui

6) Membuat laporan bulanan pelaksanaan konseling di wilayah kerja

Puskesmas.

3. Konseling Gizi melalui Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM)

a. Tujuan: mencegah dan mengendalikan faktor risiko PTM berbasis masyarakat sesuai dengan sumber daya dan kebiasaan masyarakat agar masyarakat dapat mawas diri (awareness) terhadap faktor risiko PTM.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

37

b. Sasaran: masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia >15 tahun.

c. Lokasi: Posbindu PTM di integrasikan ke kegiatan masyarakat yang sudah aktif berjalan baik antara lain institusi pndidikan, di tempat kerja maupun di lingkungan tempat tinggal dalam wadah desa, yang dilakukan minimum 1 (satu) kali dalam sebulan.

d. Peran tenaga gizi puskesmas pada Posbindu PTM adalah sebagai konselor gizi terkait faktor risiko PTM yang ditemukan saat pemeriksaan kesehatan oleh tenaga medis.

4. Pengelolaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu

a. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memantau status gizi Balita menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) atau Buku KIA.

b. Sasaran kegiatan ini adalah kader Posyandu

c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Posyandu

d. Fungsi tenaga gizi puskesmas antara lain:

1) Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan di wilayah kerja Puskesmas 2) Memberikan pembinaan kepada kader posyandu agar mampu melakukan pemantauan pertumbuhan di Posyandu. 3) Melakukan penimbangan 4) Membina kader dalam menyiapkan SKDN dan pelaporan 5) Menyusun laporan pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di wilayah kerja Puskesmas 6) Memberikan konfirmasi terhadap hasil pemantauan pertumbuhan.

5. Pengelolaan Pemberian Kapsul Vitamin A

a. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan pemberian vitamin A melalui pembinaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan sehingga kegiatan pencegahan kekurangan vitamin A dapat berjalan dengan baik

b. Sasaran: kegiatan ini antara lain bayi, balita, dan ibu nifas

c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Posyandu

d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian vitamin A antara lain:

38

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

1) Merencanakan kebutuhan vitamin A untuk bayi 6-11bulan, anak usia 12-59 bulan, dan ibu nifas setiap tahun. 2) Memantau kegiatan pemberian vitamin A di wilayah kerja Puskesmas yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain. 3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi vitamin A di wilayah kerja Puskesmas.

e. Ketentuan dalam pemberian vitamin A:

1) Bayi 6-11 bulan diberikan vitamin A 100.000 SI warna biru, diberikan dua kali setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus

Balita 12-59bulan diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI warna merah,

diberikan dua kali setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus 3) Bayi dan Balita Sakit Bayi usia 6-11 bulan dan balita usia 12-59 bulan yang sedang menderita campak, diare, gizi buruk, xeroftalmia, diberikan vitamin A dengan dosis sesuai umur 4) Ibu nifas (0-42 hari) Pada ibu nifas diberikan 2 kapsul merah dosis 200.000 SI, 1 kapsul segera setelah melahirkan dan 1 kapsul lagi 24 jam berikutnya.

2)

6. Pengelolaan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Ibu Hamil dan Ibu Nifas

a. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keberhasilan pemberian TTD untuk kelompok masyarakat yang rawan menderita anemia gizi besi yaitu Ibu Hamil melalui pembinaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan sehingga kegiatan pencegahan anemia gizi besi.

b. Sasaran kegiatan ini adalah Ibu hamil dan ibu nifas

c. Lokasi: di tempat praktek bidan, Posyandu.

d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian TTD antara lain:

1) Merencanakan kebutuhan TTD untuk kelompok sasaran selama satu tahun. 2) Memantau kegiatan pemberian TTD oleh bidan di wilayah kerja puskesmas.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

39

3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi TTD di wilayah kerja Puskesmas. 4) Ketentuan dalam pemberian TTD untuk Ibu hamil dan ibu nifas:

a) Pencegahan : 1 tablet/hari sejak awal kehamilan dan dilanjutkan

sampai masa nifas

b) Pengobatan : 2 tablet/hari sampai kadar Hb Normal

7. Edukasi Dalam Rangka Pencegahan Anemia pada Remaja Putri dan WUS

a. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan keberhasilan program pencegahan anemia gizi besi pada kelompok sasaran

b. Sasaran kegiatan ini adalah Remaja putri, WUS

c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di UKS (Usaha Kesehatan Sekolah).

d. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam pengelolaan manajemen pemberian TTD antara lain:

1) Memberikan pendidikan gizi agar remaja putri dan WUS mengonsumsi TTD secara mandiri. 2) Apabila di suatu daerah prevalensi anemia ibu hamil >20% maka tenaga gizi puskesmas merecncanakan kebutuhan TTD untuk remaja putri dan WUS dan melakukan pemberian TTD kepada kelompok sasaran. 3) Memantau kegiatan pemberian TTD oleh bidan di wilayah kerja Puskesmas. 4) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi TTD di wilayah kerja Puskesmas. 5) Ketentuan dalam pemberian TTD untuk Remaja Putri dan WUS

a) Pencegahan: 1 tablet/hari selama haid dan 1 tablet/minggu

b) Pengobatan: 1 tablet/hari sampai kadar Hb Normal

8. Pengelolaan Pemberian MP-ASI dan PMT-Pemulihan

a. MP-ASI MP-ASI Bufferstock adalah MP-ASI pabrikan yang disiapkan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam rangka pencegahan dan penanggulangan gizi terutama di daerah rawan gizi/keadaan darurat/bencana. MP-ASI Bufferstock didistribusikan secara bertingkat. Tenaga gizi puskesmas akan mendistribusikan kepada masyarakat. Sasaran MP-ASI Buffer Stok: balita

40

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

6-24 bulan yang terkena bencana

MP-ASI Lokal adalah MP-ASI yang dibuat dari makanan lokal setempat dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan tenaga

kesehatan. MP-ASI lokal dapat dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) atau dana lain sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sasaran MP-ASI lokal: balita gizi kurang 6-24 bulan. Tugas tenaga gizi puskesmas dalam hal ini adalah:

1. Merencanakan menu MP-ASI lokal

2. Mengadakan bahan MP-ASI lokal

3. Mengolah MP-ASI lokal dibantu oleh kader

4. Mendistribusikan kepada sasaran dibantu oleh kader

b. PMT Pemulihan

1. Sasaran: balita gizi kurang, balita pasca perawatan gizi buruk, ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronik).

2. PMT Pemulihan untuk balita gizi kurang adalah makanan ringan padat gizi dengan kandungan 350--400 kalori energi dan 10--15 gram protein.

3. PMT bumil KEK Bufferstock diberikan dalam bentuk makanan padat gizi dengan kandungan 500 kalori energi dan 15 gram protein.

4. Lama pemberian PMT Pemulihan untuk balita dan Ibu Hamil KEK adalah 90 hari makan anak (HMA) dan 90 hari makan bumil (HMB).

Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam manajemen pemberian MP-ASI dan PMT-Bumil KEK antara lain:

1) Merencanakan kebutuhan MP-ASI dan PMT Bumil KEK untuk sasaran selama satu tahun. 2) Memantau kegiatan pemberian MP-ASI dan PMT Bumil KEK, di wilayah kerja Puskesmas. 3) Menyusun laporan pelaksanaan distribusi MP-ASI dan PMT Bumil KEK wilayah kerja Puskesmas.

9. Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM) Pemulihan gizi berbasis masyarakat merupakan upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah gizi yang dihadapi dengan dibantu

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

41

oleh tenaga gizi puskesmas dan tenaga kesehatan lainnya. Pendirian PGBM tergantung kepada besaran masalah gizi di daerah. Dalam pelaksanaan PGBM dapat merujuk buku Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk, Kementerian Kesehatan 2011.

a. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatan status gizi balita

b. Sasaran kegiatan ini adalah balita gizi buruk tanpa komplikasi

c. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini di panti/pos pemulihan gizi

d. Fungsi tenaga gizi di PGBM adalah:

1) Melakukan terapi gizi (konseling, pemberian makanan pemulihan gizi, pemantauan status gizi, dll) untuk pemulihan gizi buruk 2) Memberikan bimbingan teknis kepada kader dalam melaksanakan perbaikan gizi di Pos Pemulihan Gizi berbasis masyarakat 3) Menyusun laporan pelaksanaan program perbaikan gizi di Pos Pemulihan Gizi berbasis masyarakat

10. Surveilens gizi Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data yang dilakukan secara terus menenus, penyajian serta diseminasi informasi bagi Kepala Puskesmas serta Lintas Program dan Lintas Sektor terkait di tingkat kecamatan. Informasi dari kegiatan surveilans gizi dimanfaatkan untuk melakukan tindakan segera maupun untuk perencanaan program jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Sebagai acuan bagi petugas gizi puskesmas dalam melakukan surveilans gizi bisa menggunakan buku Surveilans Gizi, Kementerian Kesehatan RI, 2014. a. Tujuan:

1) Tersedianya informasi berkala dan terus menerus tentang besaran masalah gizi dan perkembangan di masyarakat. 2) Tersedianya informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui penyebab masalah gizi dan faktor-faktor terkait 3) Tersedianya informasi kecenderungan masalah gizi di suatu daerah 4) Menyediakan informasi intervensi yang paling tepat untuk dilakukan (bentuk, sasaran, dan tempat)

b. Lingkup data surveilans gizi antara lain:

1) Data status gizi

42

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

2) Data konsumsi makanan 3) Data cakupan program gizi

c. Sasaran: bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, WUS, ibu hamil, ibu menyusui, pekerja serta lansia.

d. Dalam pelaksanaan surveilans gizi, tenaga gizi puskesmas berkoordinasi dengan tenaga surveilans di Puskesmas dengan fungsi antara lain:

1) Merencanakan surveilans mulai dari lokasi, metode/cara melakukan, dan penggunanaan data 2) Melakukan surveilans gizi meliputi mengumpulkan data, mengolah data, menganalisa data, melaksanakan diseminasi informasi 3) Membina kader posyandu dalam pencatatan dan pelaporan kegiatan gizi di posyandu 4) Melaksanakan intervensi gizi yang tepat 5) Membuat laporan surveilans gizi

e. Contoh Kegiatan dalam Survilans Gizi antara lain:

1) Pemantauan Status Gizi (PSG) a) Tujuan : mengetahui status gizi masyarakat sebagai bahan perencanaan b) Sasaran : disesuaikan dengan kebutuhan setempat (bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, WUS, ibu hamil, ibu menyusui, pekerja serta lansia.) 2) Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)

a) Tujuan:

(1)Tersedianya informasi secara terus menerus, cepat, tepat dan akurat sebagai dasar penentuan tindakan dalam upaya untuk pencegahan dan penanggulangan masalah gizi (2)Memantau situasi pangan dan gizi antar desa/kelurahan dalam 1 kecamatan

b) Sasaran: Lintas program dan lintas sektor di tingkat kecamatan di wilayah kerja Puskesmas.

3) Sistem Kewaspadaan Dini - Kejadian Luar Biasa/SKD-KLB Gizi Buruk

a) Tujuan: mengantisipasi kejadian luar biasa gizi bburuk di suatu

wilayah pada kurun waktu tertentu

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

43

b) Sasaran: balita dan keluarganya, posyandu

4) Pemantauan Konsumsi Garam beriodium di rumah tangga

a) Tujuan :

ü memperoleh gambaran berkala tentang cakupan konsumsi garam beriodium yang memenuhi syarat di masyarakat. Dilaksananakan setiap satu tahun sekali.

b) Sasaran : rumah tangga

11. Pembinaan Gizi di Institusi

a. Pembinaan Gizi di Sekolah 1) Tujuan kegiatan ini adalah memperbaiki status gizi anak sekolah 2) Sasaran kegiatan ini adalah peserta didik PAUD, Taman Kanak- kanak/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA Pondok Pesantren, dan sederajat. 3) Bentuk-bentuk kegiatan perbaikan gizi di sekolah

a) Edukasi gizi (penyuluhan)

b) Penjaringan status gizi di sekolah

c) Pemberdayaan peserta didik sebagai dokter kecil/Kader Kesehatan Remaja (KKR)

d) Pengawasan dan pembinaan pengelola kantin sehat

4) Fungsi tenaga gizi puskesmas bersama dengan tim UKS

a) Mengkoordinir dan atau melakukan edukasi gizi di sekolah.

b) Menapis status gizi anak sekolah.

c) Mengkoordinir pemantauan dan intervensi terhadap status gizi anak

di sekolah.

d) Menjalin kerjasama dengan sekolah dalam pemberdayaan peserta didik sebagai dokter kecil/Kader Kesehatan Remaja (KKR).

e) Menjalin kerjasama dengan sekolah dalam membina kantin sekolah.

f) Membuat laporan program perbaikan gizi di sekolah

b. Perbaikan gizi di panti, rumah tahanan/LP, gizi kantin, restoran,

penyelenggaraan makan banyak lainnya 1) Tujuan kegiatan ini adalah memperbaiki status gizi tenaga kerja, warga panti, warga tahanan/LP, pengelola kantin, restoran, pemberian makan banyak

44

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

2) Sasaran adalah tenaga kerja, pengelola pemberian makanan 3) Bentuk-bentuk kegiatan perbaikan gizi

a) Edukasi gizi (penyuluhan, pendidikan gizi, dan pendampingan)

b) Pemantauan status gizi

c) Membina pengelola penyelenggaraan makanan banyak

4) Fungsi tenaga gizi:

a) Mengkoordinir dan atau melakukan edukasi gizi

b) Mengkoordinir pemantauan status gizi terutama pada ibu hamil di

tempat kerja dan rumah tahanan/LP, usia lanjut di panti dan lain-lain.

c) Membina pemberian makanan di tempat kerja, panti, rumah tahanan / LP, dan institusi lainnya.

d) Membuat laporan program perbaikan gizi

c. Perbaikan gizi di tempat kerja 1) Tujuan : memperbaiki status gizi tenaga kerja terutama kelompok rawan misalnya WUS, ibu hamil, ibu menyusui, dll 2) Sasaran adalah tenaga kerja, pengelola penyelenggaraan makan pekerja

3) Bentuk-bentuk kegiatan perbaikan gizi di tempat kerja meliputi:

a) Pemantauan status gizi terutama ibu hamil

b) Edukasi Gizi

c) Membina pengelola penyelenggaraan makan pekerja

4) Fungsi tenaga gizi di tempat kerja adalah:

a) Melaksanakan pemantauan status gizi terutama pada kelompok rawan di tempat kerja

b) Mengkoordinasikan pelaksanaan pendidikan gizi di tempat kerja

c) Bekerjasama dengan tempat kerja membina pengelola penyelenggaraan makan banyak

d) Membuat laporan perbaikan gizi di tempat kerja

12. Kerjasama lintas sektor dan lintas program a. Tujuan: meningkatkan pencapaian indikator perbaikan gizi di tingkat puskesmas melalui kerjasama lintas sektor dan lintas program b. Sasaran: seksi pemberdayaan masyarakat kantor camat, Penyuluh Pertanian Lapangan, juru penerang kecamatan, TP PKK, Dinas

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

45

Pendidikan, Kepala Desa/Kelurahan, program KIA, bidan koordinator, tenaga sanitarian, tenaga promosi kesehatan, perawat, sanitarian, juru

imunisasi, dan lain-lain. c. Fungsi tenaga gizi puskesmas dalam kerjasama lintas sektor dan lintas program adalah:

a. Merencanakan kegiatan sensitif yang memerlukan kerjasama

b. Mengidentifikasi sektor dan program yang perlu kerjasama

c. Melakukan pertemuan untuk menggalang komitmen kerjasama

d. Melakukan koordinasi dalam menentukan indikator-indikator keberhasilan kerjasama

e. Mengkoordinasikan pelaksanaan kerjasama

f. Membuat laporan hasil kerjasama

2. Alur Pelayanan Gizi Di Luar Gedung Penanganan masalah gizi memerlukan pendekatan yang komprehensif (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif). Pelaksanaan pelayanan gizi luar gedung bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor terkait. Alur pelayanan gizi luar gedung disesuaikan dengan jenis kegiatan, sasaran dan keadaan wilayah setempat.

46

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

C. Mekanisme Rujukan Alur mekanisme rujukan di Puskesmas adalah sebagai berikut:

POSYANDU POLINDES PUSTU PUSKESMAS RUMAH SAKIT POKSILA POSBINDU BIDAN SWASTA
POSYANDU
POLINDES
PUSTU
PUSKESMAS
RUMAH SAKIT
POKSILA
POSBINDU
BIDAN SWASTA

Keterangan:

1. Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas Keliling (Pusling), Polindes merupakan unit struktural di bawah Puskesmas Induk.

2. Posyandu, poksila, posbindu adalah Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).

3. Puskesmas dapat menerima pasien rujukan langsung yang datang dari Posyandu, Polindes, Pustu, Poksila, Klinik Swasta.

4. Apabila Puskesmas tidak mampu merawat pasien karena keterbatasan jenis dan fasilitas pelayanan, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi yaitu Rumah Sakit. Pada kondisi Gawat Darurat Puskesmas berfungsi menstabilisasi pasien yang gawat sebelum dirujuk ke Rumah Sakit.

5. Rumah Sakit akan merujuk kembali pasien yang telah selesai mendapatkan perawatan ke Puskesmas. Mekanisme seperti ini disebut rujuk balik. Tujuannya agar pasien dapat dipantau perkembangan kesembuhannya oleh tenaga kesehatan di Puskesmas yang bertanggung jawab di wilayah rumahnya.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

47

BAB IV PENCATATAN, PELAPORAN DAN MONITORING DAN EVALUASI

Pencatatan, pelaporan, monitoring dan evaluasi dilaksanakan di Puskesmas, data dan informasi dari hasil pencatatan diolah dan dianalisa serta dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota.

A. Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan untuk mendokumentasikan pelayanan gizi di dalam dan di luar gedung menggunakan instrumen antara lain:

1. Buku Register Pasien

2. Rekap jumlah pasien yang mendapat konseling

3. Pencatatan bulanan dan penggunaan bahan makanan (untuk Puskesmas Rawat Inap)

4. Daftar harian permintaan makanan (untuk Puskesmas Rawat Inap)

5. Pencatatan data pasien menurut macam dietnya (Puskesmas Rawat Inap)

6. Rekapitulasi Hasil Sistem Informasi Puskesmas (Simpus)

7. Rekapitulasi Hasil Sistem Informasi Posyandu (SIP)

8. Dokumentasi Asuhan Gizi

9. F3/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Puskesmas)

10. F2/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Desa/Kelurahan)

11. F1/Gizi (Rekapitulasi data gizi dari Posyandu)

12. Pelaporan ASI Ekslusif

13. Pelaporan BGM

B. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Kegiatan yang dimonitor adalah kegiatan pelayanan gizi baik di dalam maupun di luar gedung. Cara melakukan monitoring dan evaluasi perlu memperhatikan jenis dan waktu kegiatan yang dilaksanakan. Dari sisi jenis kegiatan, dapat dibedakan antara monitoring di dalam gedung dan luar gedung. 1. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan di Dalam Gedung Kegiatan yang dimonitor dan dievaluasi:

a. Edukasi Gizi/Pendidikan Gizi 1) Frekuensi edukasi yang direncanakan diselenggarakan di Puskesmas per

48

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

bulan, triwulan, semester, tahun. 2) Frekuensi edukasi yang dilaksanakan di Puskesmas per bulan, triwulan, semester, tahun. 3) Jenis Materi Penyuluhan yang diberikan

c. Konseling 1) Data jumlah rujukan permintaan konseling 2) Data jumlah pasien/klien yang mendapatkan konseling 3) Jenis Materi Konseling yang diberikan kepada pasien per bulan, triwulan, semester, tahun.

d. Penyelenggaraan makanan untuk pasien/klien rawat inap 1) Data jumlah pasien rawat inap yang dilayani per bulan, triwulan, semester, tahun. 2) Jenis diet yang diberikan kepada pasien per bulan, triwulan, semester, tahun.

2. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan di Luar Gedung Kegiatan yang dimonitor dan dievaluasi:

a. Penyuluhan Gizi 1) Frekuensi penyuluhan gizi yang direncanakan diselenggarakan di luar Puskesmas per bulan dan per tahun. 2) Frekuensi penyuluhan gizi yang dilaksanakan di luar Puskesmas per bulan dan per tahun. 3) Materi penyuluhan yang diberikan per bulan dan per tahun.

b. Konseling 1) Data jumlah rujukan permintaan konseling per bulan dan per tahun

2) Data jumlah pasien/klien yang mendapatkan konseling gizi per bulan dan per tahun.

c. Pengelolaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu 1) Data SKDN yang meliputi jumlah balita yang ada (S), jumlah balita yang punya KMS (K), jumlah balita yang ditimbang (D), jumlah balita yang naik berat badannya (N) per bulan, triwulan, semester, tahun 2) Persentase D/S dan N/D per bulan, triwulan, semester, tahun 3) Jumlah balita BGM dan 2T per bulan, triwulan, semester, tahun 4) Jumlah balita BGM dan 2T yang dirujuk per bulan, triwulan, semester, tahun

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

49

d.

Pemberian Kapsul Vitamin A 1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat vitamin A 2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan vitamin A

e. Pemberian Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil 1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat TTD 2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan TTD

f. Pengelolaan MP-ASI, PMT-Pemulihan 1) Data jumlah sasaran yang seharusnya mendapat MP-ASI, PMT-Pemulihan 2) Data jumlah sasaran yang telah mendapatkan mendapat MP-ASI, PMT- Pemulihan

g. Pembinaan Gizi Institusi 1) Data jumlah edukasi gizi yang direncanakan per bulan dan per tahun di Institusi diluar Puskesmas 2) Data jumlah edukasi gizi yang dilaksanakan per bulan dan per tahun di Institusi diluar Puskesmas

h. PGBM (Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat) 1) Data jumlah anak gizi buruk tanpa komplikasi yang ada di wilayah kerja Puskesmas per bulan dan per tahun 2) Data jumlah anak gizi buruk tanpa komplikasi yang mendapatkan penanganan di PGBM per bulan dan per tahun

i. Surveilans Gizi 1) Jenis kegiatan surveilans yang perlu dilakukan Puskesmas 2) Jenis kegiatan surveilans yang telah dilakukan Puskesmas

j. Kerjasama Lintas sektor dan Lintas Program 1) Jumlah rencana rapat LP/LS per bulan dan per tahun 2) Jumlah realisasi rapat LP/LS per bulan dan per tahun

50

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

BAB V

PENUTUP

Penyusunan buku Pedoman Pelayanan Gizi Puskesmas telah dilakukan melalui serangkaian kegiatan dan melibatkan lintas sektor dan lintas program terkait. Buku ini akan menjadi pelengkap dari berbagai buku petunjuk teknis sesuai dengan jenis pelayanan gizi yang diberikan. Oleh karena itu dalam penggunaan buku ini diharapkan disertai dengan pemanfaatan buku petunjuk teknis yang relevan.

Buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi tenaga gizi puskesmas dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan gizi di Puskesmas Rawat Inap maupun Puskesmas Non Rawat Inap. Untuk meningkatkan efektifitas pemanfaatan buku Pedoman Pelayanan Gizi Puskesmas ini, hendaknya tenaga gizi puskesmas dapat menjabarkannya dalam Protab (prosedur tetap) yang berisi langkah-langkah dari setiap kegiatan sesuai kondisi masing-masing Puskesmas.

Selain tenaga gizi puskesmas, buku ini juga sangat tepat digunakan pengelola program gizi di Kabupaten/Kota dan Provinsi terutama dalam menyusun perencanaan termasuk alokasi jumlah biaya yang diperlukan, pelaksanaan kegiatan, dan penilaian terhadap hasil kegiatan. Selain itu, dengan buku pedoman ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar advokasi bagi pemegang kebijakan untuk peningkatan mutu pelayanan gizi di Puskesmas.

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

51

52

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

LAMPIRAN

Angka Kecukupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat, Serat dan Air yang Dianjurkan Untuk Orang Indonesia (per orang per hari). Lampiran Permenkes Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi.

Lampiran 1.

(mL)

Air

   

-

800

1200

1500

1900

 

1800

2000

2200

2500

2600

2600

1900

1600

 

1800

2000

2100

2300

2300

2300

1600

1500

Serat (g)

   

0

10

16

22

26

 

30

35

37

38

38

33

27

22

 

28

30

30

32

30

28

22

20

Karbohidrat (g)

   

58

82

155

220

254

 

289

340

368

375

394

349

309

248

 

275

292

292

309

323

285

252

232

 

n-3

 

0,5

0,5

0,7

0,9

0,9

 

1,2

1,6

1,6

1,6

1,6

1,6

1,6

1,6

 

1,0

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

Lemak (g)

n-6

 

4,4

4,4

7,0

10,0

10,0

 

12,0

16,0

16,0

17,0

17,0

14,0

14,0

14,0

 

10,0

11,0

11,0

12,0

12,0

11,0

11,0

11,0

Total

 

34

36

44

62

72

 

70

83

89

91

73

65

53

42

 

67

71

71

75

60

53

43

40

Protein

(g)

 

12

18

26

35

49

 

56

72

66

62

65

65

62

60

 

60

69

59

56

57

57

56

55

Energi

(kkal)

 

550

725

1125

1600

1850

 

2100

2475

2675

2725

2625

2325

1900

1525

 

2000

2125

2125

2250

2150

1900

1550

1425

TB

(cm)

 

61

71

91

112

130

 

142

158

165

168

168

168

168

168

 

145

155

158

159

159

159

159

159

BB

(kg)

 

6

9

13

19

27

 

34

46

56

60

62

62

60

58

 

36

46

50

54

55

55

54

53

Kelompok umur

 

Bayi/Anak

 

– 6 bulan – 11 bulan

1-3 tahun

4-6 tahun

7-9 tahun

Laki-laki

10-12 tahun

13-15 tahun

16-18 tahun

19-29 tahun

30-49 tahun

50-64 tahun

65-80 tahun

80+ tahun

Perempuan

10-12 tahun

13-15 tahun

16-18 tahun

19-29 tahun

30-49 tahun

50-64 tahun

65-80 tahun

80+ tahun

0

7

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

55

*Nilai median berat dan tinggi badan orang Indonesia dengan status gizi normal berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 dan 2010. Angka ini dicantumkan agar AKG dapat disesuaikan dengan kondisi berat dan tinggi badan kelompok yang bersangkutan

(mL)

Air

     

+300

+300

+300

 

+800

+650

Serat (g)

     

+3

+4

+4

 

+5

+6

Karbohidrat (g)

     

+25

+40

+40

 

+45

+55

   

n-3

 

+0,3

+0,3

+0,3

 

+0,2

+0,2

Lemak (g)

 

n-6

 

+2,0

+2,0

+2,0

 

+2,0

+2,0

 

Total

 

+6

+10

+10

 

+11

+13

Protein

(g)

 

+20

+20

+20

 

+20

+20

Energi

(kkal)

 

+180

+300

+300

 

+330

+400

TB

(cm)

             

BB

(kg)

             

Kelompok umur

 

Hamil (+an)

Timester 1

Trimester 2

Trimester 3

Menyusui (an)

bln pertama

bln kedua

6

6

56

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

Indonesia (per orang per hari)

Lampiran Permenkes Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi.

Lampiran. 2. Angka Kecukupan Vitamin yang Dianjurkan untuk Orang

Vitamin

(mg)

C

 

40

50

40

45

45

 

50

75

90

90

90

90

90

90

 

50

65

75

75

75

75

75

 

Kolin

(mg)

 

125

150

200

250

375

 

375

550

550

550

550

550

550

550

 

375

400

425

425

425

425

425

 

Biotin

(mcg)

 

5

6

8

12

12

 

20

25

30

30

30

30

30

30

 

20

25

30

30

30

30

30

Vitamin

(mcg)

B12

 

0,4

0,5

0,9

1,2

1,2

 

1,8

2,4

2,4

2,4

2,4

2,4

2,4

2,4

 

1,8

2,4

2,4

2,4

2,4

2,4

2,4

 

(mcg)

Folat

 

65

80

160

200

300

 

400

400

400

400

400

400

400

400

 

400

400

400

400

400

400

400

Vitamin

(mg)

B6

 

0,1

0,3

0,5

0,6

1,0

 

1,3

1,3

1,3

1,3

1,3

1,7

1,7

1,7

 

1,2

1,2

1,2

1,3

1,3

1,5

1,5

Vitamin B5

(Pantotenat)

(mg)

 

1,7

1,8

2,0

2,0

3,0

 

4,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

 

4,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

5,0

Vitamin

(mg)

B3

 

2

4

6

9

10

 

12

14

15

15

14

13

10

8

 

11

12

12

12

12

10

9

Vitamin

(mg)

B2

 

0,3

0,4

0,7

1,0

1,1

 

1,3

1,5

1,6

1,6

1,6

1,4

1,1

0,9

 

1,2

1,3

1,3

1,4

1,3

1,1

0,9

Vitamin

(mg)

B1

 

0,3

0,4

0,6

0,8

0,9

 

1,1

1,2

1,3

1,4

1,3

1,2

1,0

0.8

 

1,0

1,1

1,1

1,1

1,1

1.0

0,8

Vitamin

(mcg)

K

 

5

10

15

20

25

 

35

55

55

65

65

65

65

65

 

35

55

55

55

55

55

55

Vitamin

(mg)

E

 

4

5

6

7

7

 

11

12

15

15

15

15

15

15

 

11

15

15

15

15

15

15

Vitamin

(mcg)

D

 

5

5

15

15

15

 

15

15

15

15

15

15

20

20

 

15

15

15

15

15

15

20

Vitamin

(mcg) a

A

 

375

400

400

450

500

 

600

600

600

600

600

600

600

600

 

600

600

600

500

500

500

500

 

Kelompok

umur

Bayi/Anak

– 6 bulan

– 11 bulan

1-3 tahun

4-6 tahun

7-9 tahun

Laki-laki

10-12 tahun

13-15 tahun

16-18 tahun

19-29 tahun

30-49 tahun

50-64 tahun

65-80 tahun

80+ tahun

Perempuan

10-12 tahun

13-15 tahun

16-18 tahun

19-29 tahun

30-49 tahun

50-64 tahun

65-80 tahun

 

0

7

Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas

57

Vitamin

(mg)

C

75

 

+10

+10

+10

 

+25

+25

 

Kolin