Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Dualisme Gelombang Partikel


Sejauh ini cahaya dipandang sebagai gejala gelombang yang dapat mengalami
interferensi, difraksi, dan polarisasi. Pandangan ini telah diterima selama berabad abad
lamanya. Efek dan gejala lain yang ditemukan pada akhir abad 19 dan awal abad 20, seperti
hukum pergeseran Wien, efek fotolistrik, dan efek compton, hanya dapat dijelaskan jika
cahaya dipandang sebagai partikel. Efek dualisme dari cahaya yang dapat berperilaku sebagai
gelombang dan juga partikel ini disebut dualisme gelombang-partikel.

2.1 Contoh Penerapan Cahaya yang Bersifat Gelombang dapat Bersifat Partikel
2.1.1 Efek Fotolistrik
Ketika seberkas cahaya dikenakan pada logam, ada elektron yang keluar dari
permukaan logam. Gejala ini disebut efek fotolistrik. Efek fotolistrik diamati melalui
prosedur sebagai berikut. Dua buah pelat logam (lempengan logam tipis) yang terpisah
ditempatkan di dalam tabung hampa udara. Di luar tabung kedua pelat ini dihubungkan satu
sama lain dengan kawat. Mula-mula tidak ada arus yang mengalir karena kedua plat terpisah.
Ketika cahaya yang sesuai dikenakan kepada salah satu pelat, arus listrik terdeteksi pada
kawat. Ini terjadi akibat adanya elektron-elektron yang lepas dari satu pelat dan menuju ke
pelat lain secara bersama-sama membentuk arus listrik. Hasil pengamatan terhadap gejala
efek fotolistrik memunculkan sejumlah fakta yang merupakan karakteristik dari efek
fotolistrik. Karakteristik itu adalah sebagai berikut:
1. Hanya cahaya yang sesuai (yang memiliki frekuensi yang lebih besar dari frekuensi
tertentu saja) yang memungkinkan lepasnya elektron dari pelat logam atau
menyebabkan terjadi efek fotolistrik (yang ditandai dengan terdeteksinya arus listrik
pada kawat). Frekuensi tertentu dari cahaya dimana elektron terlepas dari permukaan
logam disebut frekuensi ambang logam. Frekuensi ini berbeda-beda untuk setiap
logam dan merupakan karakteristik dari logam itu.
2. Ketika cahaya yang digunakan dapat menghasilkan efek fotolistrik, penambahan
intensitas cahaya dibarengi pula dengan pertambahan jumlah elektron yang terlepas
dari pelat logam (yang ditandai dengan arus listrik yang bertambah besar). Tetapi,
Efek fotolistrik tidak terjadi untuk cahaya dengan frekuensi yang lebih kecil dari
frekuensi ambang meskipun intensitas cahaya diperbesar.
3. Ketika terjadi efek fotolistrik, arus listrik terdeteksi pada rangkaian kawat segera
setelah cahaya yang sesuai disinari pada pelat logam. Ini berarti hampir tidak ada
selang waktu elektron terbebas dari permukaan logam setelah logam disinari cahaya.

Karakteristik dari efek fotolistrik di atas tidak dapat dijelaskan menggunakan teori
gelombang cahaya. Diperlukan cara pandang baru dalam mendeskripsikan cahaya dimana
cahaya tidak dipandang sebagai gelombang yang dapat memiliki energi yang kontinu.
Perangkat teori yang menggambarkan cahaya bukan sebagai gelombang tersedia
melalui konsep energi diskrit atau terkuantisasi yang dikembangkan oleh Planck dan terbukti
sesuai untuk menjelaskan spektrum radiasi kalor benda hitam. Konsep energi yang
terkuantisasi ini digunakan oleh Einstein untuk menjelaskan terjadinya efek fotolistrik. Di
sini, cahaya dipandang sebagai kuantum energi yang hanya memiliki energi yang diskrit
bukan kontinu yang dinyatakan sebagai E = hf.

Konsep penting yang dikemukakan Einstein sebagai latar belakang terjadinya efek
fotolistrik adalah bahwa satu elektron menyerap satu kuantum energi. Satu kuantum energi
yang diserapelektron digunakan untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat logam
yang lain. Hal ini dapat dituliskan sebagai :
Energi cahaya = Energi ambang + Energi kinetik maksimum elektron

Persamaan ini disebut persamaan efek fotolistrik Einstein. Perlu diperhatikan bahwa
W0 adalah energi ambang logam atau fungsi kerja logam, f0 adalah frekuensi ambang logam, f
adalah frekuensi cahaya yang digunakan, dan Ekm adalah energi kinetik maksimum elektron
yang lepas dari logam dan bergerak ke pelat logam yang lain. Dalam bentuk lain persamaan
efek fotolistrik dapat ditulis sebagai

Dimana m adalah massa elektron dan Ve adalah dan kecepatan elektron. Satuan energi dalam
SI adalah joule (J) dan frekuensi adalah hertz (Hz). Tetapi, fungsi kerja logam biasanya
dinyatakan dalam satuan elektron volt (eV) sehingga perlu diingat bahwa 1 eV = 1,6 × 10−19
J.

2.1.2 Efek Compton


Pada efek fotolistrik, cahaya dapat dipandang sebagai kuantum energi dengan energi
yang diskrit. Kuantum energi tidak dapat digambarkan sebagai gelombang tetapi lebih
mendekati bentuk partikel. Partikel cahaya dalam bentuk kuantum dikenal dengan sebutan
foton. Pandangan cahaya sebagai foton diperkuat lagi melalui gejala yang dikenal sebagai
efek Compton.
Jika seberkas sinar-X ditembakkan ke sebuah elektron bebas yang diam, sinar-X akan
mengalami perubahan panjang gelombang dimana panjang gelombang sinar-X menjadi lebih
besar. Gejala ini dikenal sebagai efek Compton, sesuai dengan nama penemunya, yaitu
Arthur Holly Compton.
Sinar-X digambarkan sebagai foton yang bertumbukan dengan elektron (seperti
halnya dua bola bilyar yang bertumbukan). Elektron bebas yang diam menyerap sebagian
energi foton sehingga bergerak ke arah membentuk sudut terhadap arah foton mula-mula.
Foton yang menumbuk elektron pun terhambur dengan sudut θ terhadap arah semula dan
panjang gelombangnya menjadi lebih besar.

Perubahan panjang gelombang foton setelah terhambur dinyatakan sebagai



∆𝜆 = 𝜆′ − 𝜆 = (1 − cos 𝜃)
𝑚 .𝑐

Dimana m adalah massa diam elektron, c adalah kecepatan cahaya, dan h adalah konstanta
Planck.

2.2 Sifat Gelombang Dari Partikel


Untuk menjelaskan dan menemukan teori yang sesuai dengan spektrum radiasi kalor
benda hitam, efek fotolistrik, dan efek Compton, maka cahaya yang sebelumnya diyakini
sebagai gejala gelombang dipandang sebagai partikel. Ini menunjukkan cahaya memiliki sifat
dualisme, yaitu dapat dipandang sebagai gelombang dan juga partikel.
Secara umum, sifat gelombang dicirikan dengan frekuensi dan panjang gelombang
sedangkan sifat partikel dicirikan dengan kecepatan gerak. Jika cahaya dapat dipandang
sebagai partikel, maka seharusnya partikel pun (misalnya, elektron) dapat dipandang sebagai
gelombang. Kaidah ini disebut dualisme gelombang-partikel.
Partikel yang dapat dipandang memiliki sifat gelombang dianggap memiliki suatu
panjang gelombang. Panjang gelombang ini disebut panjang gelombang de Broglie, sesuai
dengan nama pencetus gagasan ini, yaitu Louis de Broglie.
Menurut de Broglie, sebuah partikel yang bergerak dapat dianggap memiliki sifat
gelombang yang terkait dengan kecepatan geraknya. Secara matematis dapat dituliskan
bahwa jika sebuah partikel dengan massa m bergerak dengan kecepatan v, panjang
gelombang de Broglie dari partikel itu adalah

𝜆=
𝑚 .𝑣

Teori de Broglie terbukti keabsahannya dengan teramatinya gejala difraksi elektron


pada kisi kristal. Ini membuktikan bahwa elektron dapat juga berperilaku sebagai gelombang
yang dapat mengalami difraksi. Dengan demikian, dualisme gelombang-partikel merupakan
sebuah gejala alam.