Anda di halaman 1dari 22

 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

 
BAB II
  DASAR TEORI
 

  2.1 Keseimbangan Air.


Keseimbangan air adalah gambaran yang merupakan informasi mengenai
 
ketersediaan dan kebutuhan air pada satu kawasan atau lokasi yang selanjutnya
 
berguna untuk mengalokasikan dan mengoptimalkan sumber daya air agar dapat
dimanfaatkan
  secara maksimal tanpa merusak lingkungan. Secara skematik
  perhitungan untuk mendapatkan keseimbangan air dapat dilihat pada Gambar 2.1

Debit Pengamatan
2002 - 2011
Th.Th

Kalibrasi Model Debit Ketersediaan Air


Andalan

Debit Simulasi

Keseimbangan Air
( Surplus /minus)

Kebutuhan Air
Baku
Kebutuhan Air

Kebutuhan
Penggelontoran
Gambar 2.1. Skema Keseimbangan Air

Untuk menentukan keseimbangan air dapat dilakukan dengan menghitung


perbandingan antara ketersediaan air dengan kebutuhan air, atau dengan
persamaan:
Qtersedia
Na 
Qbutuh

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 1
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Dimana :

  Na = Keseimbangan air
Qtersedia = Ketersediaan air
 
Qbutuh = Kebutuhan air.
 

  2.2 Ketersediaan Air


  Ketersediaan air diasumsikan dengan tersedianya air di sungai, dengan
beberapa pertimbangan termasuk curah hujan (PSA 03, 1983).
 
Untuk menghitung besarnya potensi debit sungai digunakan metode
 
“Analisis Lengkung Kekerapan” yang mana lengkung kekerapan menunjukkan
hubungan antara kumulatif frekuensi atau persen waktu dan debit. Rumus yang
digunakan dalam metode ini (SK. SNI, 1993) adalah :
1. Menghitung besarnya kala ulang terhadap besarnya peluang dari suatu seri
kejadian terhadap debit tertentu yang tidak dilampui, dengan rumus :
1
Tr =
(1 – Pr)

Dimana : Tr = Kala ulang

Pr = Peluang

2. Besarnya peluang (Pr) atau frekuensi kala ulang (Tr) dari suatu seri urutan
kajian debit tertentu yang tidak melampaui dapat dihitung berdasarkan dari
urutan besar ke kecil dengan menggunakan persamaan Weibull :
m
Pr =
(N + 1)
Dimana :
m = Nomor urut dari besar ke kecil
N = Jumlah data
Pr = Peluang terjadinya kejadian, hubungannya dengan kala ulang.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 2
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  2.3 Siklus Hidrologi

  Siklus hidrologi adalah bagian inti dari hidrologi yang tidak mempunyai
awal dan akhir, siklus hidrologi merupakan gerakan air permukaan bumi. Selama
 
berlangsungnya siklus hidrologi , yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke
 
atmosfir kemudian ke permukaan tanah dan kembali ke laut dan tidak pernah
  habis, air tersebut akan tertahan sementara di sungai, danau atau waduk, dalam
tanah
  sehingga dapat di manfaatkan oleh manusia dan mahluk hidup lainnya.
Siklus hidrologi merupakan sistem tertutup dengan pengertian bahwa air
 
berputar dalam suatu sistem alami. Siklus tersebut secara keseluruhan
 
dikemudikan oleh kelebihan dari radiasi matahari yang masuk atau menuju
permukaan bumi, terhadap radiasi yang keluar atau meninggalkan permukaan
bumi.
Kejadian hujan yang jatuh kepermukaan bumi ini adalah merupakan proses
dari faktor-faktor meteorologi. Air laut dan air yang ada didaratan sepanjang saat
menguap ke udara. Di udara uap air tersebut akan mengalami kondensasi,
membentuk awan dan butiran-butiran air, bilamana butiran-butiran air tersebut
cukup besar dan tidak terbawa tiupan angin akan jatuh sebagai hujan. Sebelum
hujan itu mencapai permukaan bumi sebagian telah menguap di udara dan oleh
tumbuh-tumbuhan.
Air hujan yang mencapai permukaan bumi akan menimbulkan beberapa
proses, yaitu sebagian akan meresap kedalam tanah (infiltrasi). Peresapan ini akan
keluar lagi melalui pori-pori dan retakan tanah yang kemudian timbul sebagai
mata air. Sebagian lagi dari air hujan itu tertahan pada lekukan-lekukan tanah
(retensi), menjadi es. Sebagian lagi mengalir kepermukaan tanah (run off),
menuju rawa-rawa, danau, sungai dan pada akhirnya terus ke laut, yang
selanjutnya air tersebut akan menguap kembali ke udara.
Evaporasi (penguapan) adalah proses pertukaran molekul air di permukaan
menjadi melekul uap air (gas) di atmosfer melalui kekuatan panas (heat energy).
Evaporasi dapat terjadi pada sungai, danau, laut dan reservoir (permukaan air
bebas ), permukaan tanah.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 3
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Transpirasi adalah proses penguapan pada tumbuh-tumbuhan, lewat sel-sel


stomata.
  Dan perkolasi adalah pergerakan air secara vertikal di dalam tanah
melalui Soil Moisture Zone (lingkungan sejumlah kecil air diantara sela-sela tanah
 
yang menyebabkan kebasahan tanah), pada unsaturated zone, sampai mencapai
 
mencapai muka air tanah pada saturated zone dan perembesan air melalui tanggul
  sawah secara horizontal. Proses yang terus menerus ini dinamakan siklus
hidrologi
  seperti yang terlihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Siklus Hidrologi

2.4. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah peristiwa berubahnya air menjadi uap dan bergerak
dari permukaan tanah, permukaan air serta tanaman menguap ke udara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Evapotranspirasi adalah suhu air, suhu
udara, kelembaban, kecepatan angin, tekanan udara, sinar matahari dan lain-lain
yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Metode yang akan digunakan adalah metode Penman Modifikasi karena
metode ini menggunakan parameter iklim yang paling lengkap dibanding dengan
metode yang lainnya.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 4
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Parameter iklim yang dipakai pada metode ini antara lain adalah:

   Temperatur udara bulanan (Ta)


 Kelembaban udara bulanan (h)
 
 Penyinaran matahari bulanan (z)
 
 Kecepatan angin bulanan (u)
 
 Posisi lokasi lintang (LS/LU)
   Elevasi atau ketinggian lokasi (y)

   Radiasi (Ra)
Dasar pemikiran yang digunakan oleh Penman adalah panas radiasi yang
 
diberikan matahari ke permukaan bumi, panas tersebut ada yang dipantulkan
dengan gelombang pendek dan ada yang dipantulkan dengan gelombang panjang.
Energi panas sinar matahari ini akan mengubah air menjadi uap air.
Adapun metode Penman tersebut adalah sebagai berikut:
Eto = B (Hi-Ho) + (1-B) × Ea
Dimana :
Eto = Evapotranspirasi potensial (mm/hari)
Hi = faktor radiasi yang datang (mm/hari)
Hi = (1 - r) × Ra (a1 + a2 × z)
Ho = faktor radiasi yang keluar (mm/hari)
Ho = Sta4 (a3 - a4 × ed0,5) (a5 + a6 × z)
Ea = Faktor Aerodinamik (mm/hari)
Ea = a7 (ea – ed) (a8 - a9 × U)
B = perbandingan dari perhitungan Evaporasi dengan Energi
Budget.
B = D/(D + G )
D = kemiringan dari kurva tekanan uap udara jenuh pada
temperatur
ea = tekanan uap udara jenuh pada temperatur Ta (mb)

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 5
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  ed = tekanan uap udara jenuh yang terjadi dihitung dari ed = h × ea

  h = kelembaban udara relatif (mb)


G = konstanta Psychometrik (mb / 0C), di mana G tergantung dari
 
tekanan udara Atmosfir, G = 0,00066 × P
 
P = rata-rata tekanan atmosfir pada lokasi.
  P = 1013 – 0,115 × Y
  Y = Elevasi (m)
r = koefisien Albedo = Koefisien pada permukaan = 0,25
 
Ra = Radiasi gelombang pendek berdasarkan teori yang diterima
 
permukaan bumi apabila tidak ada atmosfir (mm/hari) besarnya
tergantung dari lokasi lintang dan waktu dalam bulan.
Sta 4 = Radiasi gelombang panjang dari permukaan Ta dalam
(mm/hari)
Ta = Temperatur udara (0C)
U = kecepatan angin rata-rata dengan ketinggian standar 2 m di atas
permukaan tanah (km/hari)
al s/d a9 = adalah konstanta Penman hasil penelitian yang telah
disesuaikan dengan iklim.
Dimana koefisien penman a1 s/d a9 = diberikan angka untuk di Indonesia
(hasil penelitian) seperti pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Koefisien Penman

Koefisien Penman a1 a2 a3 a4 a5 a6 a7 a8 a9

0,24 0,41 0,56 0,08 0,28 0,55 0,26 1,00 0,0063


Nilai Koefisien
Sumber : Diktat Dasar-dasar Hidrologi Teknik ( Bambang Soenarto)

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 6
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

 
2.5. Kebutuhan Air di Sawah (NFR)
 
Net Field Requirement (NFR) adalah kebutuhan air bersih di sawah,
 
merupakan jumlah air irigasi yang diperlukan tanaman di sawah untuk padi
ditentukan
  oleh faktor-faktor sebagai berikut :

   Penyiapan lahan
 Evapotranspirasi Tanaman
 
 Perkolasi dan Rembesan
 
 Pengantian dan Lapisan
 
 Curah hujan efektif.
  Rumus NFR untuk masing-masing keperluan :
Padi : NFR = P + WLR + Etc – Re (80%)
Palawija : NFR = Etc – Re (50%)
Penyiapan lahan : NFR = LP – Re (80%)
Dimana :
NFR = Kebutuhan air bersih di sawah
P = Perkolasi
WLR = Penggantian lapisan air
Etc = Evapotranspirasi
LP = Penyiapan lahan
Re (80%) = Curah hujan efektif diambil 80% dari curah hujan nyata
yang jatuh pada suatu daerah periode tertentu.
Re (50%) = Curah hujan efektif diambil 50% dari curah hujan nyata
yang jatuh pada suatu daerah periode tertentu.

2.5.1. Penyiapan Lahan Untuk Padi (LP)


Kebutuhan air untuk penyiapan lahan umumnya menentukan kebutuhan
maksimum air irigasi pada suatu jaringan irigasi. Faktor-faktor penting yang
menentukan besarnya kebutuhan air untuk penyiapan lahan adalah sebagai
berikut :

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 7
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  a) Jangka Waktu Penyiapan Lahan

  Faktor-faktor penting yang menentukan lamanya jangka waktu


penyiapan lahan adalah:
 
 Tersedianya tenaga kerja dan peralatan untuk menggarap lahan.
 
 Diusahakan jangka waktu semaksimal mungkin untuk menanam padi.
 

  Faktor-faktor tersebut saling berkaitan. Kondisi sosial budaya yang ada di


daerah penanaman padi akan mempengaruhi lamanya waktu yang diperlukan
 
untuk penyiapan lahan. Untuk daerah jaringan irigasi baru jangka waktu
 
penyiapan yang berlaku menurut daerah yang berlaku di sekitarnya. Sebagai
pedoman diambil jangka waktu 1,5 bulan untuk menyelesaikan penyiapan lahan di
seluruh petak tersier.
Bilamana untuk penyiapan lahan diperkirakan akan dipakai peralatan
mesin secara luas, maka jangka waktu penyiapan lahan akan diambil satu bulan.
Perlu diingatkan bahwa Transpalantasi (pemindahan bibit ke sawah)
mungkin sudah dimulai setelah 3 - 4 minggu di beberapa bagian petak tersier di
mana pengolahan lahan sudah selesai. Nilai koefisien tanaman untuk padi dan
palawija dapat dilihat pada tabel 2.2. dan tabel 2.3.
Tabel 2.2 Harga Koefisien Tanaman Padi.
Nederco/Prosida FAO
Pertumbuhan
( Bulan ) Varitas Varitas Varitas Varitas
Biasa Unggul Biasa Unggul
0.50 1.20 1.20 1.10 1.10
1.00 1.20 1.27 1.10 1.10
1.50 1.32 1.33 1.10 1.05
2.00 1.40 1.30 1.10 1.05
2.50 1.35 1.30 1.10 0.95
3.00 1.24 0.00 1.05 0.00
3.50 1.12 0.95
4.00 0.00 0.00
Sumber : Standar Perencanaan irigasi, KP-01, Dirjen Pengairan, DPU 1986

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 8
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

 
Tabel 2.3 Harga Koefisien Tanaman Palawija.
 
Jangka Bulan
  Tumbuh
Tanaman (hari) 1 2 3 4 5 6

  Kedelai 85 0.50 0.75 1.00 1.00 0.82 0.45


Jagung 80 0.50 0.59 0.96 1.05 1.02 0.95
 
Kacang tanah 130 0.50 0.51 0.66 0.85 0.95 0.95

  Bawang 70 0.50 0.51 0.69 0.90 0.95 0.95


Umbi 75 0.50 0.64 0.89 0.95 0.88 0.88
 
Kapas 195 0.50 0.50 0.58 0.75 0.91 0.91

  Sumber : Standar Perencanaan irigasi, KP-01, Dirjen Pengairan, DPU 1986

 
b) Kebutuhan untuk air selama penyiapan lahan
Untuk menghitung besarnya kebutuhan air selama penyiapan lahan,
menggunakan rumus :
LP = M . ek / (ek-1),
Dimana :
LP = kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
M = kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang dan
jenuh
M = Eo + P (mm/hari)
Eo = Evaporasi air terbuka selama penyiapan lahan
= 1,1 × Eto (mm/hari)
P = Perkolasi
K = M × T/S
T = jangka waktu penyiapan lahan (hari), diambil 30 atau
45 hari.
S = kebutuhan air untuk menjenuhkan ditambah dengan
lapisan air 50 mm, yakni 200 + 50 = 250 mm

Pada umumnya jumlah air yang dibutuhkan untuk penyiapan lahan


dapat ditentukan berdasarkan kedalaman serta porositas tanah di sawah.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 9
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Untuk tanah bertekstur berat tanpa retak-retak kebutuhan air untuk


  penyiapan lahan diambil 200 mm ini termasuk air untuk penjenuhan dan

  pengolahan tanah. Kebutuhan air selama penyiapan lahan dapat di lihat


pada tabel 2.4.
 

  Tabel 2.4 Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan (LP)

  T (HARI) 30 45

  M S (mm) S (mm)

m/hari 150 200 250 300 350 150 200 250 300 350
 
3.00 5.60 8.30 9.90 11.60 13.20 5.10 6.10 7.20 8.30 9.10
  3.50 7.00 8.60 10.20 11.90 13.50 5.40 6.40 7.50 8.60 9.70
4.00 7.30 8.90 10.50 12.10 13.80 5.70 6.70 7.80 8.90 9.90
4.50 7.60 9.20 10.80 12.40 14.10 6.10 7.10 8.10 9.20 10.20
5.00 7.90 9.50 11.10 12.70 14.30 6.40 7.40 8.40 9.50 10.50
5.50 8.20 9.80 11.40 13.00 14.60 6.80 7.70 8.80 9.80 10.80
6.00 8.60 10.10 11.70 13.30 14.90 7.20 8.10 9.10 10.10 11.20
6.50 8.90 10.40 12.00 13.60 15.20 7.60 8.50 9.40 10.40 11.50
7.00 9.30 10.80 12.30 13.90 15.50 8.00 8.80 9.80 10.80 11.80
7.50 9.70 11.10 12.60 14.20 15.80 8.40 9.20 10.10 11.10 12.10
8.00 10.00 11.40 13.00 14.50 16.10 8.80 9.60 10.50 11.40 12.50
8.50 10.40 11.80 13.30 14.80 16.40 9.20 10.00 10.80 11.80 12.80
9.00 10.80 12.10 13.60 15.20 16.70 9.60 10.40 11.20 12.10 13.10
9.50 11.20 12.50 14.00 15.50 17.10 10.10 10.80 11.60 12.50 13.50
10.00 11.60 12.90 14.30 15.80 17.40 10.50 11.20 12.00 12.90 13.80
10.50 12.00 13.20 14.70 16.20 17.70 11.00 11.60 12.40 13.20 14.20
11.00 12.40 13.60 15.00 16.50 18.00 11.40 12.00 12.80 13.60 14.50
11.50 12.80 14.00 15.40 16.80 18.30 11.90 12.40 13.20 14.00 14.90
12.00 13.20 14.40 15.70 17.20 18.70 12.30 12.90 13.60 14.40 15.30
12.50 13.60 14.80 16.10 17.50 19.00 12.80 13.30 14.00 14.80 15.60
13.00 14.00 15.20 16.50 17.90 19.30 13.30 13.70 14.40 15.20 16.00
13.50 14.50 15.60 16.80 18.20 19.70 13.70 14.20 14.80 15.60 16.40
Sumber Perencanaan Jaringan Irigasi (KP – 01)

2.5.2. Evapotranspirasi Tanaman (Etc)


Evapotranspirasi dihitung dengan memakai rumus sebagai berikut:
Etc = Kc × Eto,
Dimana :
Etc = Evapotranspirasi tanaman (mm/hari)
Eto = Evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari )
Kc = Koefisien tanaman

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 10
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  2.5.3. Perkolasi (P)

  Perkolasi didefinisikan sebagai gerakan air dalam tanah dengan arah


vertikal ke bawah. Laju perkolasi sangat tergantung kepada sifat-sifat tanah. Pada
 
tanah lempung berat pengolahan tanah yang baik mencapai 1 - 3 mm sedangkan
 
pada tanah-tanah lebih ringan laju perkolasi bisa lebih tinggi (KP.01- 1986).
  Kehilangan air karena perkolasi ke bawah dan rembesan ke samping dari
saluran
  primer, sekunder, tersier sampai petak tersier dipengaruhi oleh tekstur
tanah, permeabilitas tanah, pengendapan, panjang saluran dan kedalaman
 
permukaan tanah.
 
Pada tanah yang lebih ringan, laju perkolasi bisa mencapai nilai yang lebih
tinggi (Departemen P.U., KP-01, 1986). Laju perkolasi untuk berbagai jenis tanah
dapat dilihat pada tabel 2.5.

Tabel 2.5 Laju Perkolasi dari Berbagai Tekstur Tanah.

No. Tekstur Tanah Perkolasi (mm/hari)

1. Lempung berpasir (sandy loam) 3,0 – 6,0


2. Lempung (loam) 2,0 – 3,0
3. Lempung liat berdebu (silty clay loam) 1,5 – 2,0
4. Lempung liat (clay loam) 1,0 – 1,5
Sumber Perencanaan Jaringan Irigasi (KP – 01)

2.5.4. Pengantian Lapisan Air (WLR)


Pengantian lapisan air (WLR) dilakukan sesuai jadwal dan kebutuhan. Bila
tidak ada penjadwalan, penggantian air dilakukan sebesar 3 mm/hari selama
setengah bulanan (KP.01-1986). Untuk tanaman palawija biasanya tidak diadakan
penggantian lapisan air sebab kebutuhan air disuplai dari tanah tersedia.

2.5.5. Curah Hujan Efektif


Curah hujan efektif merupakan bagian dari curah hujan yang efektif dalam
suatu proses hidrologi yang bisa untuk dimanfaatkan misalnya pemakaian oleh
tanaman (KP.01-1986).

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 11
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Menurut Departemen PU KP.01–1986, untuk irigasi padi, curah hujan


efektif
  bulanan diambil dari periode ulang 70% dari curah hujan minimum tengah
bulanan dengan periode ulang lima tahunan. Untuk menghitung curah hujan
 
efektif dapat digunakan rumus sebagai berikut :
 

  Untuk padi : Re = 0.70 x R 80 % (mm/hari)


10
  Untuk palawija :
  Re = (0,80 × R50% - 25), jika R50% > 40 mm/hari)

  10

Re = (0,60 × R50% -10) jika R50% < 40 mm/hari)


10

Penyiapan lahan : Re = R80% (mm/hari)


10
Dimana :
Re = Curah Hujan Efektif (mm/hari)
R = Curah Hujan Minimum tengah bulanan dengan periode
ulang lima tahunan (mm/hari)

2.6. Kebutuhan Air Irigasi


Kebutuhan air irigasi dapat dibedakan menjadi dua:
 Net Field Requiment (NFR) yaitu : kebutuhan air bersih irigasi di
sawah, yaitu kebutuhan air irigasi yang diperlukan oleh tanaman dengan
memperhitungkan adanya curah hujan effektif.

Kebutuhan air Air hujan yang Kebutuhan Air dari


untuk tanaman jatuh
= irigasi

 Padi NFR = P + WLR + Etc – Re (80%)


 Palawijaya NFR = Etc + Re (50%)
 Penyiapan lahan NFR = LP – Re (80%)

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 12
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

   Irrigation Requiment (IR) yaitu, kebutuhan air irigasi di Intake, yaitu

  air irigasi yang dibutuhkan untuk dapat mengairi seluruh areal suatu
jaringan irigasi dengan memperhitungkan adanya kehilangan air di
 
sepanjang saluran primer, sekunder dan tersier.
 

  IR = NFR
e
 

  Dimana, e adalah effisiensi saluran, yaitu tingkat efisiensi yang dapat


dicapai di saluran karena adanya kehilangan air akibat rembesan atau
 
kebocoran sepanjang saluran.

2.7. Efisiensi Irigasi


Efisiensi irigasi adalah perbandingan antara jumlah air yang digunakan
dengan jumlah air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman dengan jumlah air
yang dikeluarkan dari pintu pengambilan yang dinyatakan dalam (%). Supaya air
yang sampai pada tanaman tepat pada jumlahnya, maka air yang dikeluarkan dari
pintu pengambilan harus lebih besar dari kebutuhan, untuk itu diperlukan factor
efisiensi irigasi.
Besarnya efisiensi irigasi dipengaruhi oleh jumlah air yang hilang selama
diperjalanan. Kehilangan air yang dimaksud adalah :
1. Kehilangan air ditingkat primer yaitu meliputi kehilangan air di saluran primer
dan bangunan – bangunannya.
2. Kehilangan air ditingkat sekunder yaitu meliputi kehilangan air di saluran
sekunder dan bangunan – bangunannya.
3. Kehilangan air ditingkat tersier yaitu meliputi kehilangan air di sawah, di
saluran kuarter dan saluran tersier serta di bangunan – bangunannya.
Adapun kehilangan air di saluran dibedakan menjadi tiga :
 Efisiensi disaluran Tersier = 80 % = 0,80
 Efisiensi disaluran Sekunder = 80 % × 90 % = 0,72
 Efisiensi disaluran Primer = 80 % × 80 % × 90 % = 0,65

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 13
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Diagram alir dari perhitungan kebutuhan air untuk irigasi dapat dilihat
pada  Gambar 2.3.

  Mulai

 
Input data:
Hujan Bulanan, Evapotranspirasi tanaman acuan (Eto), Curah
  Hujan Efektif, Perlokasi, Debit Pengamatan, Catcment Area
Curah hujan efektif, Perkolasi
 
Awal Masa Tanam
  Luas Areal Terairi

 
Perhitungan
Kebutuhan Air Irigasi

Debit Andal
Irigasi dengan sistem
golongan

Keseimbangan Air Antara Ketersediaan dengan Kebutuhan


(Neraca air)

Kebutuhan Air
Terpenuhi
Tidak
Ya

Selesai

Gambar 2.3. Diagram Alir Perhitungan Kebutuhan Air

2.8. Debit Andalan


Debit Andalan adalah debit air sungai yang dapat diandalkan untuk mengairi
areal sawah sepanjang tahun. Perhitungan debit andalan (ketersediaan air)
dilakukan terhadap data curah hujan rata-rata bulanan dari stasiun hujan yang ada
di Daerah Irigasi Namu Sira - sira.
Pada penulisan ini dipakai debit rata – rata bulanan Sungai Bingei sebagai
debit andalan.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 14
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Metode Mock

  Model Mock merupakan salah satu dari banyak model “Rainfall-Runoff”


yang menghitung nilai limpasan dari hujan bulanan, Evapotranspirasi
 
kelembaban tanah simpanan air tanah.(SK, SNI, 1993)
 
Dalam SK, SNI (1993), input model Mock terdiri dari hujan rata-rata
  Evapotranspirasi potensial. Hujan rata-rata dihitung dari data hujan pos - pos
  di dalam dan di sekitar DAS, sedangkan Evapotranspirasi potensial
hujan
dihitung dengan persamaan Penman. Model Mock menghasilkan keluaran baru
 
mengeluarkan nilai rata-rata run off bulanan dari input data hujan untuk
 
memperkirakan nila rata-rata run off dan aliran yang dihasilkan. Pada akhirnya
model ini harus dikalibrasikan dengan memperkirakan parameter DAS sampai
perhitungan run off yang berhubungan dengan periode yang berbeda dari data
aliran.
Model Mock mempunyai lima aliran yaitu :
1. ISM (Initial Soil Moisture) adalah kelembaban tanah awal.
2. SMC (Soil Moisture Capacity) adalah kapasitas kelembaban tanah atau
kandungan air dalam butir tanah.
3. IF (Infiltration Factor) adalah bagian dari kelebihan hujan yang
terinfiltrasi masuk ke air tanah.
4. PF (Percentage Factor) adalah bagian dari distribusi hujan bulanan
pada musim kemarau yang menjadi aliran, dinyatakan dalam %.
5. RC (Mounthly Flow Recession Constant) adalah konstanta resesi
bulanan dari aliran bulanan.

Program Mock
Operasi dari program Mock dapat diikuti berdasarkan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Hujan yang jatuh ke tampungan dalam tanah, didapat besarnya jumlah
air pada daerah perkiraan disebut Soil Moisture Storage (SMS) atau
tampungan kelembaban tanah dan didefinisikan :

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 15
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  SMS = ISM + R - E

  Dimana :
SMS = tampungan kelembaban tanah (mm)
 
ISM = awal tampungan kelembaban tanah (mm),
 
R = besarnya hujan (mm) dan jika hujan terjadi pada musim
  kering dimana WS = 0, maka hujan yang dipakai R (1-PF).
  E = Evapotranposrtasi Aktual (mm).

 
Persamaan Penman dapat memberikan hasil maksimum Evapotranspirasi
 
potensial. Evapotranspirasi aktual akan berkurang dari Evapotranspirasi
potensial, karena air kelembaan tanah tidak selalu tersedia.
Pada musim kering kelembaban tanah selalu rendah sehingga sering terjadi
tanaman mengalami kekurangan air serta menyebabkan tanaman “stress” dan
“layu”. Model Mock merumuskan besarnya perbedaan antara Evapotranspirasi
potensial yaitu :
 E = Ep (m/20) (18-n)
Dimana :
E = Perbedaan Evapotranspirasi potensial dan aktual (mm/bln)
Ep = Evapotranspirasi potensial (mm/bln)
m = Proporsi dari permukaan tanah yang ditutupi oleh vegetasi
setiap bulannya (%)
n = Jumlah hari hujan per tahun.
2. Water surplus yaitu kelebihan air dihitung dari persamaan :
WS = ISM + R – E – SMC
Dimana :
WS = kelebihan air bila melampaui SMC (mm)
ISM = kelembaban tanah awal (mm)
R = besarnya hujan (mm)
E = Evapotranspirasi aktual (mm)

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 16
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  SMC = kapasitas kelembaban tanah


  Apabila WS = 0, maka infiltrasi dan Qdirect = 0 dan hujan pada musim

  kering dipakai R (1 – PF) pada perhitungan SMS (kelembaban tanah).


3. Infiltrasi (INFIL dalam mm) tergantung dari faktor IF dan sebanding
 
dengan jumlah air yang masuk ke dalam tampungan air tanah (WS
 
dalam mm) dihitung dengan persamaan :
  INFIL = WS × IF
  4. Tampungan air tanah pada akhir bulan, dihitung berdasarkan
persamaan :
 
G.Stor(t) = G.Stor(t-1) × RC + ((1 + RC)/2 × INFIL
 
Dimana :
RC = konstanta resesi aliran bulanan
G.Stor(t) = tampungan air tanah pada akhir bulan (mm)
G.Stor(t+1) = tampungan air tanah pada awal bulan (mm)
INFIL = infiltrasi (mm)
5. Aliran dasar (Q baseflow dalam mm) dihitung dari persamaan :
(Q baseflow) = INFIL - G.Stor(t) + G.Stor(t-1)
6. Aliran limpasan (direct run off dalam mm), dihitung dengan rumus :
Q Storm = WS × (1- IF)
7. Aliran limpasan hujan pada musim kering, dimana WS = 0, besarnya
dihitung dengan persamaan :
Q Storm = R × PF
Dimana :
PF = persentase faktor sesuai dengan jumlah hujan bulanan yang
terdistribusi menjadi aliran (%)
8. Total aliran (Q total dalam mm) dihitung dengan persamaan :
Qtotal = Qbaseflow + Qdirect + QStorm
QStorm hanya ada pada bulan kering dimana WS = 0 ) dan hujan
melebihi kapasitas infiltrasi sedangkan pada musim hujan apabila air
berlebih (WS > 0), aliran storm run off tidak dihitung karena sudah
dimasukkan dalam komponen Qdirect dan tidak dipisahkan.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 17
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  9. Model Mock dikalibrasikan dengan cara konvensial Trial and Error dan

  apabila koefisien determinasi (R²) setidak-tidaknya mendekati nilai


0,7 – 0,85, maka model tersebut layak untuk dipakai.
 
Kalibrasi model Mock didekati dengan cara coba-coba (trial and error)
 
yaitu :
  1) Langkah pertama memilih nilai awal (initial condition dan
  parameter model. Perbangkitan hidrograf debit hasil simulasi
(Q hitung) kemudian dibandingkan dengan debit hasil pengamatan
 
(Qobs) dalam bentuk grafik hubungan antara watu (T) dengan Q
 
hitung dan Qobs.
2) Bandingkan kedua grafik secara visualiasi.
3) Hitung indeks koefisien deterministik dari tampilan grafik tersebut
dengan mengitung :
F² =  (Qobs  Qh)²
F0² =  (Qobs  Qavg)²
Dimana :
Qavg = debit hasil pengamatan rata-rata (m3/det)
Qobs = debit hasil pengamatan (m3/det)
QH = debit hasil simulasi (m3/det)
4) Harga F² dan F0² didapat besarnya indeks R² (koefisien determinasi)
yaitu :
a. Jika modelnya sempurna, maka nilai F² mendekati 0, dengan
demikian nilai R² mendekati 1.
b. Jika R² < 0 (negatif), model menghasilkan simulasi yang kurang
baik dan jauh berbeda dari nilai-nilai rata-rata debit (Qavg).
5) Dengan cara trial and error dilakukan dengan cara mengubah
parameter-parameter model agar perbedan antara Qh dan Qobs
mendekati satu sama lain.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 18
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

 
Hujan (R)
 
Q stor = R x PF
 
E
  WS = ISM + R - E - SMC

 
SMC SMS = ISM + R# - E Qdirect = WS x (1-1F)
  Q total

 
Qbaseflow
G stor(t) = Gstor(t-1) x RX + INFIL - Gstor(t) +
(1 + RC/2) x INFIL Gstor (t-1)

Gambar 2.4. Skema Model Mock (Departemen PU, SK SNI, 1993)


Keterangan :
R = besarnya hujan (mm)
SMS = tampungan kelembaban tanah (mm)
SMC = kapasitas kelembaban tanah (mm)
E = Evapotranspirasi (mm)
ISM = kelembaban tanah awal (mm)
WS = kelebihan air apabila melampaui SMC (mm)
IF = sesuai dengan kelebihan hujan yang terinfiltrasi masuk ke air
tanah (%)
Gstor (t-1) = tampungan air tanah pada awal bulan (mm)
Gstor (1) = tampungan air tanah pada akhir bulan (mm)
RC = konstanta resesi dari aliran bulanan
PF = persen faktor dari distribusi hujan bulanan yang menjadi
aliran (%)

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 19
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Perubahan tampungan kelengasan ditentukan oleh curah hujan dan

  evapotranspirasi aktual. Secara skematis diagram dari model hujan limpasan


FJ.Mock
  dapat dilihat pada Gambar 2.5.

 
Mulai
 
Input Data Pengamatan:
  - Hujan Bulanan
- Evapotranspirasi Bulanan
  - Debit Sungai Bulanan

  Parameter Model :
ISM, SMC, PF dan RC

Kalibrasi Model FJ.MOCK

Tidak
Koef.
Deterministik
>0,7- 0.85
Ya

Perpanjangan Data Debit

Debit Perhitungan

Penentuan Debit Andal

Ketersediaan Air Sungai

Selesai

Gambar 2.5 Diagram Alir Model FJ.Mock

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 20
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  2.9. Pola Tanam

  Dengan keterbatasan persediaan air, maka pengaturan pola tanam dan jadwal
tanam perlu dilaksanakan untuk mengurangi banyaknya air yang diperlukan.
 
Pola tanam adalah suatu system dalam menentukan jenis-jenis tanaman atau
 
penggiliran tanaman pada suatu daerah tertentu yang disesuaikan dengan
  persediaa air yang ada dan dilaksanakan sesuai jadwal penanaman yang
ditetapkan.
  Altenatif pola tanam disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
 
1. Dengan membagi areal irigasi dalam beberapa golongan berdasarkan
 
pertimbangan pemasokan air dan tenaga kerja yang tersedia.
2. Jenis tanaman

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2

PALWIJA PADI PADI


85 Hari 90 Hari setelah 90 Hari
transpilasi setelah
transpilasi

Sumber : Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi (1986)


Gambar 2.6. Pola Tanam

Untuk mempermudah perhitungan, pola tanam dibuat dalam bentuk


skema, masa tanam tidak serentak berpriode tengah bulanan dengan waktu bebas
satu setengah bulan, diandaikan mencakup 3 bulan yang disediakan untuk
pengiapan lahan (45 hari).
Lapisan air setinggi 50 mm diberikan dengan jangka waktu satu setengah
bulan, jadi kebutuhan air tambahan adalah 3,3 mm/hari . Berdasarkan data-data
yang diketahui dan skema pola tanam dengan koefesien tanaman, kebutuhan air
untuk pola tanam yang diterapkan dapat dihitung.

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 21
 
 

  Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira

  Selama jangka waktu penyiapan lahan (45 hari), air irigasi diberikan
secara
  terus menerus dan merata untuk seluruh areal. Tidak dibedakan antara areal
yang sudah ditanami atau areal yang masih dalam tahap penyiapan. Skema pola
 
tanam dengan koefesien tanaman dan Penggantian lapisan air dapat dilihat pada
 
tabel 2.6 dan tabel 2.7.
 

  Tabel 2.6. Skema Pola Tanam Dengan Koefesien Tanaman

Jan  Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II
 
1.05
0.95

1.10
1.10
1.05

1.05

0.95

0.50

0.75

1.00

1.00
0.82

0.45

1.10
1.10

1.05
C1

LP

LP
1.05
1.05

0.95

1.10
1.10

1.05

1.05

0.95

0.50

0.75

1.00
1.00

0.82
0.45

1.10

1.10
C2

LP

LP

LP

LP
0.45
1.10
1.05

1.05

0.95

1.10

1.10

1.05

1.05

0.95

0.50

0.75
1.00

1.00
0.82

1.10
C3

LP

LP
LP
1.07
1.02

0.67

0.32

0.00

1.07

1.02

0.67

0.48

0.42

0.42

0.75

0.92
0.94

0.76
0.42

0.15

1.08
LP

LP
LP

LP

LP
LP
C

Sumber : Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi (1986)

Tabel 2.7. Penggantian Lapisan Air

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II I II
WLR1

3.3

3.3

3.3

3.3
WLR 2

3.3

3.3

3.3

3.3
WLR 3

3.3

3.3

3.3

3.3
WLR

1.10
2.20

1.10

1.10

1.10

1.10

2.20

1.10

1.10

1.10

Sumber : Buku Petunjuk Perencanaan Irigasi (1986)

TUGAS AKHIR DIPLOMA III TEKNIK SIPIL UMUM


IKHWAN EFFENDI LUBIS (101123003) & NURRAHMAN H (101123006)
II – 22