LAPORAN PRAKTIKUM
BENGKEL TELEKOMUNIKASI III
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
WIRELESS MICROPHONE
NAMA PRAKTIKAN : 1. MELIANA (1316030024)
2. MIDUK IMMANUEL (1316030036)
KELAS / KELOMPOK : TELEKOMUNIKASI-4D / KELOMPOK 7
DOSEN PENGAMPU : PAK RAHMAT
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018
MICROPHONE WIRELESS
1. TUJUAN
A. Mengetahui cara merancang dan membuat rangkaian pada pemancar
FM
B. Mengetahui cara kerja rangkaian transmitter pada Wireless Microphone
2. DASAR TEORI
Radio komunikasi FM merupakan radio broadcast yang banyak digunakan.
Dibandingkan dengan jenis radio komunikasi yang lainnya dikarenakan suara
yang dihasilkan jauh lebih bersih dibandingkan yang lainnya dan gangguan
dari noise terhadap sinyal informasi yang dihasilkan jauh lebih rendah
dibandingkan radio siaran lain. Radio komunikasi FM bekerja pada spektrum
frekuensi VHF 88-108 MHz dengan jenis modulasi frekuensi (FM). Pada
system komunikasi broadcast FM selain suara yang dihasilkan lebih bersih juga
menggunakan system stereo yang akan menghasilkan suara lebih bagus
dibandingkan dengan system mono sesuai dengan format system audio yang
banyak dikembangkan yaitu format audio stereo.
Pemancar radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal
dengan cara modulasi dan gelombang elektromagnetik. Gelombang ini
melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang
angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium
pengangkut. Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik
dan terbentuk ketika obyek bermuatan listrik dimodulasi pada frekuensi yang
terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum
elektromagnetik. Pemancar radio FM digunakan sebagai perangkat yang dapat
mengirim sinyal modulasi yang ditransmisikan melalui media udara. Sinyal
modulasi yang dipancarkan Radio Frequency FM di bagian transmitter ke
udara kemudian diterima oleh Radio Frequency FM di bagian receiver.
Kemudian sinyal modulasi yang sudah diterima Radio Frequency FM di bagian
penerima disalurkan ke input demodulator untuk melalui proses selanjutnya
sampai sinyal termodulasi tersebut menjadi sinyal informasi.
Blok diagram Pemancar FM Stereo. Dalam sebuah pemancar FM
(Frequency Modulation), proses modulasi mengakibatkan perubahan frekuensi
sinyal pembawa berupa deviasi frekuensi yang besarnya sebanding dengan
amplitudo sinyal pemodulasi (pesan). Berbeda dengan pemancar AM pada
umumnya, pemodulasian dilakukan pada tingkat modulator yang merupakan
awal dari tingkat osilator.
2.1 Encoder
Bagian ini merupakan tahap awal masukan yang berasal dari audio-
prosessor dan hanya ada pada sistem pemancar FM stereo. Pada sistem
pemancar mono bagian ini tidak ada. Encoder mengubah sinyal
perbedaan L dan R menjadi sinyal komposit 38 kHz termodulasi
DSBSC. Lebih jelasnya silahkan baca artikel saya mengenai Sistem
Pemancar FM Stereo.
2.2 Modulator FM/PM
Modulator FM (Frequency Modulation) atau dapat juga berupa
modulator PM (Phase Modulation). Prinsip dasarnya adalah sebuah
modulator reaktansi. Pada FM, sinyal audio level daya rendah
mengguncang reaktansi kapasitif dari varaktor deoda untuk
menghasilkan deviasi frekuensi osilator. Amplitudo tertinggi sinyal
audio berakibat pada turunnya nilai kapasitansi (naiknya reaktansi
kapasitif) varaktor sehingga frekuensi osilator berada pada nilai
tertinggi. Sebaliknya, pada level terendah sinyal pemodulasi, berakibat
pada naiknya kapasitansi (turunnya reaktansi kapasitif) varaktor
sehingga frekuensi osilator berada pada nilai terendah. Lebar deviasi
tidak lebih dari 75 kHz untuk setiap sisi atau 150 kHz secara
keseluruhan.
2.3 Osilator
Membangkitkan getaran frekuensi tinggi sesuai dengan frekuensi
lingkar tala dari generator tala yang pada umumnya menggunakan
resonator paralel berupa LC jajar. Nilai C dibangun sebagian atau
keseluruhan menggunakan varaktor deoda yang ada pada bagian
modulator (untuk tipe modulator dengan varaktor). Pada FM komersial,
frekuensi kerja osilator mulai 87,50 MHz s/d 108,50 MHz untuk FM II
dan 75,50 MHz s/d 96,50 MHz untuk FM I.
2.4 Buffer (Penyangga)
Penyangga (buffer) berfungsi menguatkan arus sinyal keluaran dari
osilator. Sebuah penyangga identik dengan rangkaian dengan impedansi
masukan tinggi dan impedansi keluaran rendah sehingga sering
digunakan emitor follower pada tahap ini.
2.5 Driver (Kemudi)
Rangkaian driver berfungsi mengatur penguatan daya (tegangan dan
arus) sinyal FM dari penyangga sebelum menuju ke bagian penguat
akhir. Pada sistem pemancar FM sering digunakan penguat kelas A
untuk menjamin linieritas sinyal keluaran. Mengingat efisiensi penguat
kelas A yang rendah (hanya sekitar 30%), maka perlu beberapa
tingkatan driver sebelum penguat akhir (final amplifier). Pada tahap
driver, penggunaan tapis -lolos-bawah sangat dianjurkan untuk
menekan frekuensi harmonisa.
2.6 Penguat Akhir (Final Amplifier)
Bagian penguat akhir merupakan unit rangkaian penguat daya
RF efisiensi tinggi, untuk itu sering dan hampir selalu digunakan
penguat daya RF tertala kelas C karena menawarkan efisiensi daya
hingga “100%”. Bagian akhir dari penguat akhir mutlak dipasang
filter untuk menekan harmonisa frekuensi.
2.7 Antena
Mengubah getaran listrik frekuensi tinggi menjadi gelombang
elektromagnetik dan meradiasikannya ke ruang bebas. Jenis antena
sangat berpengaruh pada pola radiasi pancaran gelombang
elektromagnetik.
2.8 Catu Daya (Power Supply)
Catu daya harus mempu mensuplay kebutuhan daya listrik mulai
dari tingkat modulator – osilator sampai tingkat penguat akhir daya RF.
Pemasangan shelding pada blok pen-catu daya merupakan hal penting
untuk sistem pemancar FM, selain itu pemakaian filter galvanis sangat
dianjurkan untuk menekan sinyal gangguan pada rangkaian jala-jala dan
sebaliknya.
Dalam sebuah blok diagram pemancar FM stereo seperti gambar di
atas, untuk dapat bekerja dengan baik, diperlukan penalaan rangkaian.
Dalam sistem pemancar FM modern, tingkat encoder sampai dengan
driver telah tersedia dalam bentuk modul yang dikenal dengan istilah
Excitter FM Stereo. Pada modul semacam itu tidak diperlukan penalaan
rangkaian secara manual karena rangkaian tala sudah dirancang
sedemikian rupa untuk dapat bekerja pada bidang yang lebar, sehingga
penalaan hanya dilakukan pada bagian input dan output penguat akhir
daya RF.
3. Tahap- tahap Fabrikasi
Adapun tahap- tahap fabrikasi Wireless Microphonr inni adalah sebagai
berikut:
Membuka software Eagle lalu membuat schematic dan PCB layoutnya
Mencetak PCB Layout dengan kertas transparan setelah PCB layout
dibuat
Menyiapkan PCB yang sudah disediakan setelah PCB layout dicetak.
Mengamplas terlebih dahulu PCB dengan amplas halus dan dengan
sedikit air agar kotoran pada PCB hilang
Setelah PCB sudah bersih, lalu mencetak PCB layout pada PCB yang
sudah dibersihkan dengan cara disetrika/ dipanaskan
Setelah layout sudah menempel pada PCB, jalur jalaur yang tipis atau
tidak terhubung ditebalkan. Lalu melarutkan sisa tembaga yang tersisa
dengan proses etching
Setelah di etching, sisa tinta pada PCB dibersihkan dengan cara di
amplas dengan sedikit air
Setelah bersih, maka proses selanjutnya adalah melubangi kaki- kaki
komponen pada PCB dengan cara di bor, dengan mata bor 0.8 mm untk
resistor, kapasitor, induktor, mic, saklar, input DC, dan transistor.
Sedangkan untuk trimpot gunakan mata bor 1 mm.
Setelah semua kaki komponen di bor, maka proses selanjutnya adalah
menthining jalur PCB dengan menggunakan timah yang dipanaskan.
Melapisi bagian tembaga pada PCB dengan timah yang dipanaskan
dengan solder, tipis dan merata.
Setelah PCB di thining, maka proses selanjutnya ialah memasang
komponen dengan mangacu pada PCB layout atau skematik
microphone wireless, solder kaki komponen dengan baik, tidak
berlebihan timah pada saat menyolder kaki komponennya.
Pasang komponen dengan teliti dan memperhatikan nilai komponen
dan polaritas komponen.
Setelah semua komponen terpasang, memotong sisa kaki komponen
yang telah disolder dengan menggunakan tang potong.
Setelah itu maka proses fabrikasi michrophone wireless selesai, dan
dilanjutkan dengan proses pengujian prototype.
4. Pengujian
4.1 Pengujian rangkaian (Hardware)
Dalam pengujian hardware atau prototype mic wireless ini
menggunakan dua metode yaitu pengukuran tegangan pada masing- masing
kaki transistor dan pengujian dengan radio penerima.
4.1.1 Pengukuran tegangan di masing masing Transistor
Pengujian dengan melakukan pengukuran di masing- masing
kaki transistor dengan melihat tegangan DC pada kaki- kaki transistor
dalam rangkaian microphone wireless ini. Berikut ini adalah tabel
pengukuran tegangan pada masing- masing kaki transistor.
VE VB VC
Transistor 1 0V 2.5 mV 0.55 V
Transistor 2 1.6 V 3.5 V 2V
Transistor 3 0.3 V 2.2 V 0.7 V
4.1.2 Pengujian dengan radio penerima
Metode pengujian kedua adalah dengan menggunakan radio
penerima, pegujian ini dilakukan dengan langkah- langkah sebagai
berikut:
Pasang baterai pada socket baterai sebagai sumber tegangan
pada rangkaian microphone wireless
Setelah itu, posisikan saklar toggle pada posisi on
Setelah menyala, lalu nyalakan radio penerima pada telepon
genggam atau smartphone, lalu pasang earphone sebagai
antena.
Atur frekuensi radio penerima FM pada frekuensi 100 MHz
Lalu uji microphone wireless dengan cara berbicara pada mic
di rangkaian
Maka pada radio penerima akan terdengar suara yang
diucapkan di mic pada rangkaian microphone wireless.
4.2 Pengujian dengan software simulasi multisim
4.2.1 Penguat pada Transistor 1, Transistor 2, dan Transistor 3
pada Rangkaian Wireless Microphone
Function Generator : Frekuensi = 20 KHz ; Vpp = 5 V
Transistor 1
VB : 5.377 uV
VE = -437.24 pV
VC = -32.192 uV
Transistor 2
VB = -92.653 uV
VE = 3.182 uV
VC = -31.604 uV
Transistor 3
VB = -163.459 uV
VE = 0 V
VC = -31.723 uV
Nlai tegangan Transistor 1 Transistor 2 Transistor 3
VB 5.377 uV -92.653 uV -163.459 uV
VE -437.24 pV 3.1824 uV 0V
VC -32.19 uV -31.6044 uV -31.723 V
4.2.2 Penguat pada Transistor pada Rangkaian Modulator dan
Demudulator
Function Generator : Frekuensi = 20 KHz ; Vpp =
10 V
INPUT = 349.358 uV
VB = 2.722 V
VC = 12 V
VE = 2.699 V
Indikator Transistor
Input 349.358 uV
VB 2.722 V
VE 2.6994 V
VC 12 V
5. Penutup
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakaukan maka dapat dimabil kesimpulan
sebagai berikut:
Nilai L menentukan nilai frekuensi output yang dihasilkan oleh
rangkaian microphone wireless