Anda di halaman 1dari 1

Analisis etika “Do Not Resuscitation” dari sudut pandang pasien

Sebagian pasien yang ada di rumah sakit yang mengalami gejala henti jantung memerlukan
tindakan resusitasi untuk mempertahankan kehidupannya. Meskipun dalam tiap kali tindakan
resusitasi tidak selalu mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, akan tetapi sebagai manusia
wajib untuk berusaha. Dalam sudut pandang pasien maupun keluarga pasien, resusitasi tidak
selalu harus dilakukan untuk mempertahankan kehidupan mereka atau keluarga mereka.
Terkadang pasien atau keluarga lebih memilih untuk tidak dilakukan resusitasi supaya segalanya
berjalan secara alami. Berdasarkan penelitian kualitatif yang dilakukan Downar et al (2011),
sebanyak 76,2% memilih untuk tidak dilakukan resusitasi dengan berbagai alasan. Salah satu
faktor yang membuat mereka menolak dilakukan resusitasi yaitu faktor personal. Pasien maupun
keluarga terkadang merasa tidak puas dengan status kesehatannya selama ini. Mereka sudah lelah
dengan berbagai upaya dalam masalah kesehatannya, sehingga ketika terjadi saat-saat harus
dilakukam resusitasi mereka lebih memilih pasrah kepada keadaan. Selain itu adapula yang
memang sudah ikhlas dengan takdir, dan merasa sudah banyak menikmati kehidupan ini,
sehingga sudah cukup usaha untuk dilakukan pertolongan terakhir. Terkadang juga ada beberapa
orang yang memang tidak ingin dilakukan resusitasi akibat nyeri atau cedera yang bisa didapat
dengan resusitasi.

Faktor hubungan interpersonal juga berpengaruh terhadap keputusan “do not rescusitate”. Pada
anggota keluarga yang melarang dilakukannya resusitasi bisa dikarenakan tidak ingin menyakiti
anggota keluarganya, ingin keluarganya “pergi” dengan tenang tanpa harus dilukai dan terkadang
lebih memilih biaya yang harus dikeluarkan lebih baik digunakan untuk yang masih hidup
daripada digunakan untuk biaya pengobatan yang kemungkinan hidup sedikit. Faktor lain yang
juga berpengaruh adalah faktor filosofi dari “do not rescusitate” itu sendiri. Mereka tidak setuju
dengan system resusitasi itu sendiri, karena mungkin resusitasi itu melawan takdir Tuhan dan
sebagainya. Faktor-faktor tersebut diatas yang sebagian besar membuat pasien maupun keluarga
lebih memilih untuk tidak dilakukan resusitasi.

Menurut Downar et al (2011), pasien atau keluarga pasien yang memilih untuk tidak dilakukan
resusitasi, bukan tidak mengerti tentang resusitasi. Berdasarkan penelitian tersebut mereka
sebenarnya paham akan maksud dan tujuan resusitasi. Selain itu mereka juga memahami efek-
efek yang ditimbulkan oleh resusitasi seperti cedera dibagian dada atau rasa sakit yang timbul
jika mereka tetap hidup. Dalam pandangan etik bisa dibenarkan, karena memiliki alasan yang
jelas dan logis, serta mereka juga mengetahui akibat yang ditimbulkan jika mengambil keputusan
tersebut.

Referensi
Downar, J., Luk, T., Sibbald, R.W., … and Hawryluck, L. (2011). Why do patients agree to a
“Do Not Resuscitate” or “full code” order? Perspectives of Medical Inpatients. J Gen Intern Med
26(6):582-7