Anda di halaman 1dari 6

Gender dan Pembelajaran

Gender dan Pembelajaran

PENDAHULUAN

Satu pertanyaan penting untuk guru dan masyarakat adalah bagaimana bisa laki-laki dan
perempuan itu berbeda? Sering sekali kita melihat bahwa perempuan lebih ahli dalam
kemampuan berbahasa dan berbicara dari pada laki-laki, dan laki-laki lebih tertarik terhadap
kemampuan logika matematis dari pada perempuan. Mengapa juga perempuan lebih mudah
terikat secara emosi dibandingkan laki-laki. Pertanyaan ini telah diselidiki oleh para ahli
dalam kurun waktu yang cukup lama, namun belum ditemukan sebuah kesepakatan yang
menjawab pertanyaan tersebut. Kebanyakan penelitian tidak menemukan perbedaan yang
besar yang melekat pada anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal kemampuan kognitif
secara umum (Halpern dan LaMay, (2000) dalam Arends, 2007, hal.74).
Kemampuan kognitif merupakan salah satu hal yang penting dalam belajar. Belajar erat
kaitannya dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, baik itu berkaitan
dengan hal positif maupun negatif. Chaplain (1972) dalam Dictionary of Psychology
membatasi belajar dengan dua rumusan, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku
yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Sedangkan rumusan keduanya
adalah belajar merupakan proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan
khusus (Munandar, 2005, hal.64). Dari dua pengertian tersebut dapat disimpulkan setiap
individu dapat memberi perubahan dalam dirinya dengan memberi respons terhadap sesuatu
hal ataupun melakukan sesuatu hal secara berulang.

Dalam proses pembelajaran, perbedaan gender sebenarnya tidak memengaruhi prestasi anak.
Hal ini sebenarnya dapat dipengaruhi oleh perbedaan kemampuan kognitif, fisik, motivasi,
self-esteem, aspirasi karier maupun hubungan interpersonal. Hal-hal yang berbeda inilah
yang menjadi acuan bagi pengajar untuk dapat menciptakan suasana kelas tanpa
memperlihatkan bias gender dan perlakuan diferensial antara laki-laki dan perempuan.

PEMBAHASAN

Perbedaan Gender dan Proses Pembelajaran


Para peneliti mengemukakan tidak terlalu banyak perbedaan kemampuan kognitif laki-laki
dengan kognitif perempuan. Lalu apa yang menjadi penyebab berbedanya laki-laki dan
perempuan? Diene Helpern (1995, 1996) dalam Arends (2007, hal.76) mengatakan bahwa
perbedaan antara laki-laki perempuan memang ada, walaupun proporsinya hanya sedikit.
Perempuan menunjukkan kinerja yang lebih baik di bidang seni bahasa, pemahaman bacaan
dan komunikasi tertulis dan lisan, sementara anak laki-laki tampak sedikit lebih unggul di
bidang matematika dan penalaran matematis. Perbedaan ini erat kaitannya dengan waktu dan
tempat ( bersifat situasional ). Namun penulis Boys and Girls Learn Differently, Michael
Gurian (2002) mengatakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan disebabkan akibat
perbedaan otak mereka.
Perbedaan antara bentuk-bentuk kepribadian dan fisik antara laki-laki dan perempuan lebih
nyata dan lebih konsisten. Laki-laki lebih asertif dan memiliki self-seteem yang lebih tinggi
dibanding perempuan. Seorang anak gadis remaja menjadi kurang percaya diri secara
intelektual maupun sosial. Namun hal ini juga dipengaruhi oleh ras, budaya, kelas dan
lingkungannya. Hal ini tidak terlepas dari perbedaan waktu dan tempat remaja tersebut
bertumbuh. Secara fisik pria dan wanita terlihat jelas berbeda. Anak perempuan mencapai
pubertas lebih cepat dibanding anak laki-laki. Anak laki-laki tumbuh lebih tinggi dan
memiliki jaringan otot yang lebih banyak dibandingkan dengan perempuan.
Ormrod (2000) dalam Arends (2007, hal.76) merangkum penelitiannya selama 30 tahun
terakhir tentang perbedaan gender dan implikasi penelitian tersebut untuk guru, tabel berikut
merangkum persamaan dan perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan serta
implikasi pendidikan dari persamaan dan perbedaan tersebut.
(Tabel 1)
Segi/ciri-ciri Perbedaan atau persamaan Implikasi bagi pendidikan
Kemampuan kognitif Laki-laki dan perempuan terlihat memiliki persamaan kemampuan
kognitif. Perempuan sedikit lebih baik dalam kemampuan verbal; laki-laki lebih baik pada
pengenalan ruang. Perbedaan prestasi dalam bidang yang berbeda sedikit bahkan belum lama
ini perbedaan tersebut tidak tampak lagi.

Mengharapkan anak laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan kognitif yang sama.
Fisik Sebelum masa pubertas laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan fisik yang sama.
Setelah pubertas, laki-laki memiliki kelebihan dalam hal tinggi dan kekuatan otot.
Diasumsikan bahwa kedua gender memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai
kemampuan fisik dan motorik, khususnya selama tahun-tahun dasar (saat duduk di bangku
SD).
Motivasi Anak perempuan pada umumnya lebih peduli tentang prestasinya di sekolah.
Mereka cenderung bekerja lebih keras di berbagai tugas tetapi juga kurang berani mengambil
resiko. Anak laki-laki mengerahkan usaha yang lebih besar di subjek-subjek yang
”stereotipikal laki-laki” seperti matematika, sains, dan mekanika. Mendorong anak laki-laki
maupun perempuan untuk unggul di semua subjek; menghindari stereotipe.
Self-Esteem Anak laki-laki memiliki rasa percaya diri tentang kemampuannya untuk
mengendalikan dan mengatasi masalah; anak perempuan lebih cenderung melihat dirinya
sendiri lebih kompeten di bidang hubungan interpersonal. Anka laki-laki cenderung untuk
menilai kinerjanya sendiri secara lebih positif dibanding anak perempuan, meskipun kinerja
aktual mereka sama. Menunujukkan kepada semua siswa bahwa mereka bisa berhasil di
bidang-bidang yang kontrastereotipikal.
Aspirasi karier Anak perempuan cenderung melihat dirinya sendiri lebih college-bound
daripada anak laki-laki. Tetapi anak laki-laki mamiliki ekspektasi jangka panjang yang lebih
tinggi untuk dirinya sendiri, khususnya di bidang-bidang yang stereotipikal ”maskulin” . anak
perempuan cenderung memilih kareir yang tidak akan menggangu peran mereka di masa
depan sebagai pasangan orang tua. Memampari semua siswa dengan model laki-laki dan
perempuan yang sukses di semua bidang. Menunjukkan orang-orang yang sukses di semua
bidang. Menunjukkan orang-orang yang sukses dalam karier dan sekaligus dalam kelurga.
Hubungan interpersonal Anak laki-laki cenderung menunjukkan agresi fisik yang tinggi; anak
perempuan cenderung lebih afiliatif dan lebih banyak membentuk hubungan dekat. Anak
perempuan merasa lebih nyaman dalam situasi yang kompetitif; anak perempuan lebih
menyukai lingkungan yang kooperatif. Mengajari kedua gender cara-cara berinteraksi yang
kurang agresif dan memberikan lingkungan yang kooperatif untuk mengakomodasi
kecenderungan afiliatif anak-anak perempuan

Perbedaan Gender dan Hasil Belajar

Sasaran dalam proses pembelajaran adalah siswa dapat meningkatkan kemampuannya baik
dari segi kognisi, afektif maupun psikomotor. Penggunaan strategi yang baik dan tepat akan
sangat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan mereka. Menurut Sudjana (2005,
hal. 22-33), klasifikasi hasil belajar menurut Benyamin Bloom terbagi menjadi tiga aspek,
yaitu kognitif, afektif, dan psikomotoris. Berikut ini adalah hubungan tiga aspek tersebut
dengan hasil belajar berdasarkan perbedaan gender:
a. Kognitif
Aspek kognitif berkaitan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam hal, yaitu: 1)
pengetahuan atau ingatan; 2) pemahaman, 3) aplikasi, 4) analisis, 5) sintesis, 6) evaluasi.
Berdasarkan tabel 1 di atas, kemampuan kognitif pria dan wanita sedikit berbeda atau tidak
tampak lagi. Walaupun demikian, pria masih lebih unggul dalam subjek matematika terutama
visualspasial. Jadi kemampuan pria dan wanita yang berkaitan dengan enam hal dari aspek
kognitif adalah cenderung sama.
b. Afektif
Aspek afektif adalah sikap yang berkaitan dengan sikap seseorang. Hasil belajar afektif
tampak pada siswa melalui tingkah laku, seperti perhatian terhadap pelajaran, disiplin,
motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
Berdasarkan tabel 1 pria lebih menunjukkan sifat agresi fisik daripada wanita sehingga tidak
begitu baik dalam membangun hubungan sosial sehingga rasa menghargai guru dan teman
sekelas cenderung lebih rendah. Selain itu dalam sebagian besar subjek, motivasi pria lebih
rendah dari wanita dan menurut Mönks dkk. (2002, hal. 196) aktivitas pria lebih tinggi dari
wanita sehingga pria cenderung tidak suka duduk diam dalam waktu yang cukup lama. Hal
ini dapat mengakibatkan perhatian terhadap pelajaran dan disiplin dalam kelas cenderung
rendah. Namun, hal ini belum tentu tidak terjadi pada beberapa subjek yang disukai mereka
seperti matematika, sains, olah raga, dan mekanika sehingga hasil belajar afektif pada subjek
ini cenderung lebih tinggi daripada wanita.
Tabel 1 di atas juga menjelaskan bahwa anak laki-laki memiliki ekspektasi jangka panjang
yang lebih tinggi untuk dirinya sendiri sehingga dapat diasumsikan bahwa ada kemungkinan
motivasinya dapat lebih meningkat daripada wanita jika usia mereka semakin matang.
c. Psikomotoris
Aspek psikomotoris berkaitan dengan keterampilan (skill) dan kemampuan seseorang untuk
bertindak. Ada beberapa tingkatan ketrampilan, antara lain:
1. gerakan refleks
2. kemampuan perseptual, meliputi membedakan visual, motoris, dan lain-lain
3. kemampuan bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan.
4. gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang
kompleks.
5. kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif
dan interpretatif.
Aspek psikomotoris merupakan tahap lanjutan dari aspek afektif. Jika siswa telah menerima
pengalaman belajar (afektif) maka ia memiliki kemampuan untuk bertindak (psikomotoris).
Tetapi jika dilihat berdasarkan tabel 1, pria cenderung memiliki potensi psikomotor lebih
baik daripada wanita. Self esteem dan kondisi fisik khususnya setelah pubertas yang terlihat
berperan lebih dominan dari wanita dalam hal tingkatan ketrampilan.
Menurut Sudjana (2005, hal. 31) ketiga hasil belajar ini tidak berdiri sendiri tetapi
berhubungan satu sama lain. Seseorang dengan tingkat kognisinya yang semakin baik maka
afektif dan psikomotorisnya juga semakin baik. Sebagai contoh, jika seseorang telah
menguasai suatu materi (kognisi), maka ia akan berkeinginan untuk mempelajari dan
memperhatikan guru saat menyampaikan pelajaran (afektif), dengan demikian bertanya
kepada guru tentang masalah yang berkaitan dengan materi tersebut ataupun memberi
penjelasan materi tersebut dalam penerapannya sehari-hari (psikomotoris).
Menangani Perbedaan Gender di Kelas
Anak laki-laki dan anak perempuan belajar menjadi laki-laki dan perempuan di sekolah
dengan cara yang persis sama dengan cara belajar mereka di rumah. Selama ini materi
kurikulum di sekolah mendukung bias gender dan perlakuan diferensial antara laki-laki dan
perempuan. Anak laki-laki lebih diberikan kesempatan untuk berperan aktif dan berperilaku
profesional, sementara perempuan lebih dituntut untuk berperan pasif dan mengurus rumah.
Sehingga sekolah-sekolah tertentu Guru lebih banyak berinteraksi dengan anak laki-laki
dibanding anak perempuan, ataupun sebaliknya. Guru pun sering membedakan perlakuan
dalam kelas antara siswa laki-laki dan perempuan dimana guru cenderung melontarkan
pertanyaan kepada anak laki-laki, ataupun memberi banyak pujian pada perempuan dan
mengijinkan mereka menggunakan peralatan-peralatan laboratorium, hal ini karena
penggunaan kurikulum yang kurang memperhatikan bias gender.
Sampai sekarang perbedaan perlakuan karena gender masih menjadi masalah, karena adanya
perbedaan perlakuan yang sering terjadi dalam lingkungan sosial masyarakat, keluarga dan
sekolah. Karena itu sekolah sudah sepantasnya mencari solusi bagaimanakah seharusnya
sekolah/guru menyikapi hal ini, berikut ini beberapa pedoman untuk guru dalam menangani
perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan (Sukmadinata, 2005, hal. 161):
1. Sadarilah tentang keyakinan dan perilaku Anda sendiri. Yakinkan diri Anda untuk
memberikan perlakuan yang sama dengan setiap anak dalam segala bidang. Baik itu bidang
matematis maupun bidang yang mengandalkan kemampuan verbal dan komunikasi.
2. Pantau frekuensi dan sifat interaksi verbal Anda. Berikan perlakuan yang sama kepada
anak laki-laki dan anak perempuan dalam kaitannya dengan ekspektasi yang Anda tetapkan,
pertanyaan yang Anda ajukan maupun pujian yang Anda berikan.
3. Pastikan bahwa bahasa dan materi kurikulum Anda bebas-gender dan berimbang. Guru
harus memastikan bahwa peran anak laki-laki dan anak perempuan digambarkan dengan
cara-cara yang aktif dan positif yang menunjukkan bahwa peran karier dan pengasuhan kedua
gender ini sama.
4. Berikan tugas-tugas kelas kepada anak-anak dengan cara yang equitable (seimbang, adil
dan fair) dan tentukan cara agar anak laki-laki dan anak perempuan dapat bermain bersama
dengan tenang dan aktif. Tindakan informal ini dapat memberikan model yang dapat diikuti
siswa.
5. Dorong siswa untuk reflektif terhadap hasil kerja dan sikapnya sendiri dan diskusikan
tentang stereotipe peran jenis dengan siswa.
6. Tunjukkan sikap hormat yang sama terhadap seluruh siswa.
Seorang guru yang baik harus mampu melihat sejauh mana perbedaan-perbedaan gender
mempengaruhi proses belajar mengajar di dalam kelas, sehingga hal tersebut menjadi suatu
pertimbangan mengenai strategi apa yang tepat untuk dipakai ketika mengajar. Dengan
demikian maka sasaran pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dapat tercapai.
Untuk itu, maka ada beberapa contoh strategi mengajar yang dapat dilakukan di dalam kelas
antara lain:
1. Demonstration
Ini merupakan salah satu strategi mengajar yang efektif dipergunakan oleh guru, sebab setiap
siswa (baik laki-laki maupun perempuan) dituntut untuk memahami materi yang disampaikan
melalui demonstrasi. Hal ini tentunya akan memunculkan ketertarikan bagi siswa untuk
belajar dan memotivasi siswa untuk menganalisa dan memecahkan masalah.
2. Role play
Dalam role play ini, setiap siswa dituntut untuk dapat memainkan peran yang diberikan dan
harus mampu untuk menampilkannya. Tentu saja ini bukanlah suatu hal yang mudah, sebab
dibutuhkan kerjasama di dalam kelompok. Setiap siswa laki-laki dan perempuan masing-
masing akan mendapat peran dan bertanggungjawab akan peran yang telah diberikan
tersebut. Mereka juga diberi kebebasan untuk menggali potensi/talenta yang dimiliki dan
menunjukkannya pada orang lain, sehingga ini dapat menjadi suatu kebanggaan tersendiri.
3. Structured group discussion
Strategi ini dipakai oleh guru supaya antara siswa laki-laki dan perempuan dapat membaur.
Mereka dapat membentuk kelompok diskusi, saling bertukar pikiran dan saling bekerjasama.
Dalam kelompok diskusi ini, diharapkan nantinya akan timbul sikap toleransi di antara
mereka, sehingga terjalin sikap saling mengerti dan melengkapi akan kekurangan dan
kelebihan masing-masing individu dalam kelompok tersebut.
4. Inquiry learning
Strategi ini menekankan kepada siswa akan terciptanya penemuan-penemuan yang baru. Baik
siswa laki-laki maupun siswa perempuan akan termotivasi untuk belajar, sebab kegiatan
belajar akan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa yang tentunya menuntut
kemandirian, kepercayaan diri dan kebiasaan bertindak sebagai subjek.
5. Cooperative and competitive learning
Strategi ini dipakai oleh guru supaya setiap siswa dapat saling bekerjasama dan berdiskusi
menyampaikan pendapat mereka namun tidak hanya itu, diantara mereka juga ada persaingan
yang sehat untuk mengetahui sejauh mana pemahaman setiap siswa akan materi yang
disampaikan. Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator sangatlah penting, jangan sampai
ada siswa yang merasa tersisih dan kemudian menjadi kurang percaya diri, namun justru
sebaliknya guru harus mampu memotivasi siswa untuk belajar dan dapat ikut serta dalam
setiap kegiatan.
6. Problem solving learning
Dalam kegiatan belajar ini siswa dihadapkan kepada masalah-masalah yang harus
dipecahkannya, baik itu masalah yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari-hari maupun
teoritis dalam suatu bidang ilmu. Strategi ini sangat baik digunakan sebab baik siswa laki-laki
maupun siswa perempuan dituntut untuk mampu berpikir secara sistematis yaitu mulai dari
membatasi masalah, membuat jawaban sementara, mencari data-data, mengadakan
pembuktian hipotesis dan menarik kesimpulan.

Kesesuaian Dengan Firman Tuhan (Perspektif kristen) :


 Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang sama.
Kej 1:27-28
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah
diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati
mereka, lalu berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah
bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan
taklukanklah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas
segala binatang yang merayap di bumi.”

 Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling menolong dan saling melengkapi.
Kej 2:18
”TUHAN Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan
menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.”

Kesimpulan

1. Kebanyakan penelitian tidak menemukan perbedaan yang besar yang melekat pada anak
laki-laki dan anak perempuan dalam hal kemampuan kognitif secara umum.
2. Perbedaan kemampuan berbahasa dan logika matematis antara lelaki dan perempuam
tergantung waktu dan tempat (bersifat situasional), sedangkan perbedaan bentuk kepribadian
dan fisik antara laki-laki dan perempuan tergantung pada ras, budaya, kelas, dan
lingkungannya.
3. Hasil belajar tidak dipengaruhi oleh gender, dimana tingkat kognisi laki-laki maupun
perempuan yang semakin baik maka afektif dan psikomotorisnya juga semakin baik.
4. Solusi sekolah/guru untuk menangani perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan
tanpa membedakan gender akan membantu siswa untuk belajar.
5. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan setara, sehingga memiliki tugas yang sama
dan merupakan partner dalam bekerja.

REFERENSI

Arends, I.R. (2007). Learning to teach, seventh edition. New York: McGraw-Hill.

Mönks, F. J, A.M.P. Knoers, S. R. Haditono. (2002). Psikologi Perkembangan: Pengantar


dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Munandar. (2005). Psikologi Belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudjana, N. (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sukmadinata, N. S. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja


Rosdakarya