Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

FARMAKOTERAPI II

“ CIRRHOSIS HEPATIS “

Oleh :

Kelompok 1( satu)

Anggun Rivaldo rusli

Dian shaputri Rela sivia

Delima maharani Yoga mardiansyah

Diva sriwahyuni yanti

Nipi puspita sari Septiman zebua

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

(STIFARM)

PADANG

2015
Kata pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia serta
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
cirrhosis hepatis dengan sebaik-baiknya. Makalah ini, kami susun untuk memberikan
informasi kepada pembaca mengenai cirrhosis hepatis. Disamping itu penulisan makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah farmakoterapi II di SekolahTinggiIlmuFarmasi.
Dalam penyusunan makalah ini, kami telah mengalami berbagai hal baik suka
maupun duka. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak akan selesai dengan
lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak.
Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah ini, maka dengan setulusnya kami sampaikan
terimakasih kepada pihak-pihak yang turut membantu yang tidak bisa kami sebutkan satu
persatu.Tidak ada manusia yang sempurna, dalam makalah ini masih banyak kekurangan
yang perlu diperbaiki sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapa tmenambah khasanah keilmuan
dalam bidang kesehatan dan dapat memberi pengetahuan mengenai cirrhosis hepatis.
BAB I

PENDAHULUAN

1. A. Latar Belakang

Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia. Di dalam hati terjadi proses-proses
penting bagi kehidupan kita, yaitu proses penyimpanan energi, pengaturan metabolisme
kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalam tubuh kita, sehingga dapat kita
bayangkan akibat yang akan timbul apabila terjadi kerusakan pada hati.

Sirosis hepatis adalah suatu penyakit di mana sirkulasi mikro, anatomi pembuluh darah
besar dan seluruh system arsitekture hati mengalami perubahan menjadi tidak teratur dan
terjadi penambahan jaringan ikat (firosis) di sekitar paremkin hati yang mengalami
regenerasi. sirosis didefinisikan sebagai proses difus yang di karakteristikan oleh fibrosis dan
perubahan strukture hepar normal menjadi penuh nodule yang tidak normal.

Di negar maju, sirosis hati merupakan penyebab kematian terbesar ke tiga pada pasien
yang berusai 45-46 tahun ( setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker). Diseluruh dunia
sirosis menempati urutan ke tujuh penyebab kematian. Sekitar 25.000 orang meninggal setiap
tahun akibat penyakit ini. Sirosis hati merupakan panyakit hati yang sering ditemukan dalam
ruang perawatan penyakit dalam. Di Indonesia sirosis hati lebih sering di jumpai pada laki –
laki dari pada perempuan. dengan perbandingan 2 – 4 : 1.

1. B. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai penyakit Sirosis Hepatis.

2. Mengetahui tata laksana dan asuhan keperawatan pada klien Sirosis Hepatis.

3. Mendeskripsikan diagnosa keperawatan yang muncul pada asuhan


keperawatan klien dengan penyakit Sirosis Hepatis.

4. Mendeskripsikan rencana keperawatan yang dibuat pada asuhan keperawatan


klien dengan dengan Sirosis Hepatis.

5. Mendeskripsikan tindakan-tindakan yang harus dilakukan pada asuhan


keperawatan klien dengan Sirosis Hepatis.

6. Sistematika Penulisan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. 1. Konsep Dasar

1. Definisi

Sirosis didefinisikan sebagai proses difus yang di karakteristikan oleh fibrosis dan
perubahan struktur hepar normal menjadi penuh nodule yang tidak normal. Sirosis hati adalah
penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai
nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas,
pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Pada sirosis dini biasanya hati
membesar, teraba kenyal, tepi tumpul, dan terasa nyeri bila ditekan.

Sirosis hepatis dapat terdiri atas sirosis hepatis ringan hingga parah. Sirosis hepatis
ringan dapat memperbaiki fungsi hati dengan sendirinya, sehingga hati dapat bekerja secara
normal kembali. Sedangkan pada sirosis hepatis parah, jaringan parut yang terlalu banyak
telah membuat fungsi hati tidak dapat berfungsi dengan normal. Beberapa penyebab sirosis
hepatis adalah virus, obat-obatan tertentu, ataupun penyakit autoimun hati. Cara
penyembuhan terbaik bagi sirosis hepatis adalah dengan melakukan pencangkokan hati.

Beberapa pengertian menurut para ahli:

1. 2. Jenis/Klasifikasi/Stadium

Alkoholisme dan malnutrisi adalah dua faktor pencetus utama untuk sirosis Laennec.
Sisrosis pascanekrotik akibat hepatotoksin adalah sirosis yang paling sering dijumpai. Ada
tiga jenis sirosis hati, yaitu:
1. Sirosis portal Laennec disebabkan oleh alkoholisme dan malnutrisi. Pada tahap awal
sirosis ini, hepar membesar dan mengeras. Namun, pada tahap akhir, hepar mengecil
dan nodular. Pada sirosis tipe ini yang paling sering ditemukan di negara Barat.
2. Sirosis poscanekrotik. Terjadi nekrosis yang berat pada sirosis ini karena hepatotoksin
biasanya berasal dar hepatitis virus akut yang sebelumnya terjadi. Hepar mengecil
dengan banyak nodul dan jaringan fibrosa.

3. Sirosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran
empedu. Tipe ini biasanya terjadi akibat obstruksi empedu yang kronis dan infeksi
(kolangitis), insidensnya lebih rendah dari pada insidens sirosis Laennec dan sirosis
poscanekrotik.

Dan seacara klinis sirosis hati dibagi menjadi:

a. Sirosis hati kompensata, yang berarti belum adanya gejala klinis yang nyata.

b. Sirosis hati dekompensata yang ditandai gejala-gejala dan tanda klinik yang jelas.
Sirosis hati kompensata merupakan kelanjutan dari proses hepatitis kronik dan pada
satu tingkat tidak terlihat perbedaanya secara klinis, hanya dapat dibedakan melalui
biopsi hati.

Secara morfologi Sherrlock membagi Sirosis hati bedasarkan besar kecilnya nodul, yaitu:

a. Makronoduler (Ireguler, multilobuler)

Ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi, dengan besar


nodul lebih dari 3 mm.

b. Mikronoduler (reguler, monolobuler)

Ditandai dengan terbentuknya septa tebal teratur, didalam septa parenkim hati
mengandung nodul halus dan kecil merata diseluruh lobus, besar nodulnya sampai
3 mm. Sirosis mikronodular ada yang berubah menjadi makronodular.

c. Kombinasi antara bentuk makronoduler dan mikronoduler

Umumnya sinosis hepatis adalah jenis campuran ini.

1. 3. Patofisiologi

Meskipun ada beberapa faktor yang terlibat dalam etiologi sirosis, mengonsumsi
minuman beralkohol dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Selain pada peminum
alkohol, penurunan asupan protein juga dapat menimbulkan kerusakan pada hati. Namun
demikian, sirosis juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasaan minum dan
pada individu yang dietnya normal tapi dengan konsumsi alkohol yang tinggi.

Faktor lainnya termasuk pajanan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida, naftalen,
terklorinasi, arsen atau fosfor) atau infeksi skistosomiastis yang menular. Jumlah laki-laki
penderita sirosis adalah dua kali lebih banyak dari pada wanita, dan mayoritas pasien sirosis
berusia 40 hingga 60 tahun.

Sirosis Laennec merupakan penyakit yang ditandai oleh episode nekrosis yang
melibatkan sel-sel hati dan kadang-kadang berulang di sepanjang perjalanan penyakit
tersebut. Sel-sel hati yang dihancurkan itu secara berangsur-angsur digantikan oleh jaringan
parut, akhirnya jumlah jaringan parut melampaui jumlah jaringan hati yang masih berfungsi.
Jaringan-jaringan normal yang masih tersisa dan jaringan hati hasil regenerasi dapat
menonjol dari bagian-bagian yang berkonstriksi sehingga hati yang sirotik memperlihatkan
gambaran mirip paku sol sepatu berkelapa besar dalam (hobnail appearance) yang khas.
Sirosis Hepatis biasanya memiliki awitan yang insidius dan perjalanan penyakit yang sangat
panjang sehingga kadang-kadang melewati rentang waktu 30 tahun atau lebih.

Sirosis Pasca Nekrotik (Hepatitis dari Virus tipe B dan C). Infeksi hepatitis virus tipe B
dan C menimbulkan peradangan sel hati. Peradangan ini menyebabkan nekrosis meliputi
daerah yang luas (hepatoseluler), terjadi kolaps lobulus ati dan ini memacu timbulnya
jaringan parut disertai terbentuknya septa fibrosa difus dan nodu sel hati, walaupun
etiologinya berbeda, gambaran histologi sirosis hati sama atau hampir sama, septa bisa
dibentuk dari sel reikulum penyangga yang kolaps dan berubah jadi parut. Jaringan parut ini
dapat meghubungkan daerah porta dan sentra.

Sirosis Billier (Obstruksi Billiaris Pascahepatik). Kerusakan sel hati yang dimulai
sekitar duktus biliaris akan menimbulkan pola sirosis yang dikenal sebagai sirosis biliaris.
Penyebabnya oleh karena obstruksi biliaris pascahepatik. Terjadi stasis empedu menyebabkan
penumpukan empedu di dalam massa hati dan kerusakan sel-sel hati. Hati akan membesar
keras, bergranula halus. Ikterus merupakan bagian awal dari dan utama dari sindrom ini.

4. Tanda dan gejala

Terdapat beberapa gejala pada sirosis hati, seperti :

1. kelelahan .
2. hilang nafsu makan.

3. mual-mual.

4. badan lemah.

5. kehilangan berat badan.

6. nyeri lambung .

7. air kencing berwarna gelap.

8. kadang-kadang hati teraba keras.

9. gangguan pencernaan.

Selain gejala-gejala yang sudah disebutkan terdapat pula beberapa tanda klinis yang terjadi
pada penderita sirosis hepatis, yaitu:

1. Adanya ikterus (penguningan) pada penderita sirosis dan Jaundice (Kuning pada
bagian kulit dan putih mata).
2. Timbulnya asites ( akumulasi air di perut ) pada penderita sirosis.

3. Timbulnya edema ( akumulasi air di kaki ) pada penderita sirosis.

4. Hati yang membesar(disebabkan oleh penumpukkan produk empedu dalam hati)

5. Hipertensi portal

6. Pembentukan batu empedu (karena kurangnya empedu dalam batu empedu.

5. Komplikasi

Pada sirosis hepatis terdapat beberapa komplikas yang akan dialami oleh si penderita,
diantaranya yaitu:

a. Edema dan ascites

Karena efek gaya berat ketika berdiri atau duduk, maka kelebihan garam dan air
berakumulasi dalam jaringan dibawah kulit pergelangan kaki dan kaki. Akumulasi cairan ini
disebut edema atau pitting edema (pitting edema merujuk pada fakta bahwa menekan sebuah
ujung jari dengan kuat pada suatu pergelangan atau kaki yang mengalami edema akan
menyebabkan suatu lekukan pada kulit yang berlangsung untuk beberapa waktu setelah
pelepasan dari tekanan). Ketika sirosis memburuk dan lebih banyak garam dan air yang
tertahan, cairan juga mungkin berakumulasi dalam rongga perut antara dinding perut dan
organ-organ perut. Akumulasi cairan ini disebut ascites yang menyebabkan pembengkakkan
perut, ketidaknyamanan perut, dan berat badan yang meningkat.
Spontaneous bacterial peritonitis (SBP)

Adalah suatu cairan yang mengumpul didalam perut yang tidak mampu untuk melawan
infeksi secara normal. SBP adalah suatu komplikasi yang mengancam nyawa. Pada beberapa
pasien penderita SBP tidak memiliki gejala-gejala, seperti demam, kedinginan, sakit perut
dan kelembutan perut, diare, dan memburuknya ascites.

b.Perdarahan dari Varices-Varices Kerongkongan (esophageal varices)

Adalah suatu keadaan dimana aliran darah meningkat, peningkatan tekanan vena pada
kerongkongan yang lebih bawah, dan mengembangnya lambung bagian atas. Perdarahan dari
varices-varices biasanya adalah parah/berat dan apabila tanpa perawatan segera dapat
menjadi fatal.

Gejala-gejala dari perdarahan varices-varices adalah muntah darah (muntahan dapat


berupa darah merah bercampur dengan gumpalan-gumpalan atau “coffee grounds”, yang
belakangan disebabkan oleh efek dari asam pada darah), mengeluarkan tinja/feces yang
hitam, disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam darah ketika melewati usus (melena),
dan kepeningan orthostatic (orthostatic dizziness) atau pingsan,disebabkan oleh suatu
kemerosotan dalam tekanan darah terutama ketika berdiri dari suatu posisi berbaring).

Hepatic encephalopathy

Adalah suatu keadaan dimana unsure-unsur racun berakumulasi secara cukup dalam
darah sehingga fungsi dari otak menjadi terganggu. Tidur pada siang hari daripada pada
malam hari (berbanding terbalik dengan pola tidur yang normal) merupakan gejala yang
paling dini dari hepatic encephalopathy. Gejala-gejala lainnya adalah cepat marah,
ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau melakukan perhitungan, kehilangan memori,
kebingungan atau tingkat kesadaran yang tertekan (dapat mengakibatkan keparahan pada
penyakit ini bahkan dapat menimbulkan kematian).

Hepatorenal syndrome

Adalah suatu komplikasi yang serius dimana fungsi dari ginjal-ginjal berkurang.
Fungsi yang berkurang disebabkan oleh perubahan-perubahan cara darah mengalir melalui
ginjal. Hepatorenal syndrome didefinisikan sebagai kegagalan yang progresif dari ginjal-
ginjal untuk membersihkan unsur-unsur dari darah dan menghasilkan jumlah-jumlah urine
yang memadai. Ada dua tipe dari hepatorenal syndrome, yaitu yang terjadi secara berangsur-
angsur melalui waktu berbulan-bulan dan yang terjadi secara cepat melalui waktu dari satu
atau dua minggu.
Hepatopulmonary syndrome

Pasien dapat mengalami kesulitan bernapas karena hormon-hormon tertentu yang dilepas
pada sirosis telah berlanjut dan menyebabkan paru-paru berfungsi secara abnormal. Darah
yang mengalir melalui paru-paru dilangsir sekitar alveoli dan tidak dapat mengambil cukup
oksigen dari udara didalam alveoli. Akibatnya pasien mengalami sesak napas, terutama
dengan pengerahan tenaga.

Hypersplenism

Adalah istilah yang berhubungan dengan suatu jumlah sel darah merah yang rendah
(anemia), jumlah sel darah putih yang rendah (leucopenia), dan/atau suatu jumlah platelet
yang rendah (thrombocytopenia). Anemia dapat menyebabkan kelemahan, leucopenia dapat
menjurus pada infeksi-infeksi, dan thrombocytopenia dapat mengganggu pembekuan darah
dan berakibat pada perdarahan yang berkepanjangan (lama).

Kanker Hati (hepatocellular carcinoma)

Sirosis yang disebabkan oleh penyebab apa saja dapat meningkatkan risiko kanker
hati utama/primer (hepatocellular carcinoma). Utama (primer) merujuk pada fakta bahwa
tumor berasal dari hati. Suatu kanker hati sekunder adalah satu yang berasal dari mana saja
didalam tubuh dan menyebar (metastasis) ke hati.

6. Pemeriksaan Diagnostik

1. Imaging examination: USG hati, kantung empedu, dan limpa. USG hati dapat
menggambarkan seberapa jauh kerusakannya.
2. Pemeriksaan patologis: Pemeriksaan patologis untuk tanda-tanda virus hepatitis

3. Tes fungsi hati: Dengan tes fungsi hati, kita dapat memahami seberapa jauh
keparahan sirosis hatinya.

4. Four indicators of hepatic fibrosis: Fibrosis liver adalah penyakit yang kronik.
Pemeriksaan dini menggunakan four indicator of hepatic fibrosis dapat membantu
mendiagnosa lebih cepat ada tidaknya fibrosis liver.

5. Biopsi liver: Biopsi dapat menunjukan ada tidaknya sirosis pada hati.

6. Laparoscopy: Pemeriksaan langsung yang dapat dilakukan di organ hati, limpa, organ
pencernaan.
7. Penatalaksanaan

1) Penatalaksanaan Medik

a. Pencegahan Pendarahan

Pendarahan dapat terjadi akibat diperlukan produksi protrombin dan kemampuan


hati untuk mengsintesis zat-zat yang diperlukan bagi pembekuan darah.

Tindakan Penjagaan

Perlindungan pasien dengan memasang penghalang sampai tempat tidur, menekan setiap
lokasi persuntiakn dan menghinadari cedera dari benda-benda tajam. Perawat harus
memahami kemungkinan melena dan memerikasa feses untuk mengetahui jika terdapat darah
yang merupakan tanda pendarahan internal. Modifikasi diet dan penggunaan preparat pelunak
feses yang dapat membantu pasien. Pasien harus dipantau dengan ketat untuk mendeteksi
pendarahan gastrointestinal, peralatan, tanda-tanda vital, cairan intravena dan obat-obatan.

Jika terjadi Hemoragi

Perawat membantu dokter dengan melakukan tindakan untuk menghentikan


pendarahan, memberikan terapi cairan serta komponen darah dan obat-obatan. Hemoragi
masih akibat pendarahan dari varises esophagus atau lambung di pindahkan di unit intensif.
Penderita sirosis memerlukan penjelasan tentang kejadian yang telah dialami.

Ensefalopati hepatic

Merupakan komplikasi neurology yang mungkin terjadi dan mencakup kemunduran


status mental serta dimensi di samping adanya tanda-tanda fisik seperti gerakan volunteer dan
involunteer yang abnormal. Yang disebabkan oleh penumpukan amonia dalam darah dan
ditimbulkan pada metabolisme otak.

Terapi

Mencakup penggunaan laktulosa serta antibiotic saluran cerna yang tidak dapat
diserap untuk melakukan kadar anomia.

2) Penatalaksanaan Keperawatan

Pemantauan :
Pekerjaan keperawatan yang esensian untuk mengenali kemunduran diri pada status
mental. Karena gangguan elektrolit dapat timbul ensefalomati, kadar elektrolit serum harus
dipantau dengan cermat jika abnormal. Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan
dirumah.

Selama dirawat di rumah sakit, pasien harus sudah dipersiapkan untuk perawatan di
rumah oleh perawatan melalui intruksi diet. Instruksi yang paling penting adalah
menghilangkan alkohol dari diet.

Kebersihan terapi tergantung pada upaya untuk meyakinkan pasien tentang perlunya
kepatuhan secara total pada rencana terapinya. Yang mencakup istirahat, kemungkinan
perubahan gaya hidup, diet yang memadai dan pantang alkohol.

B. Asuhan Keperawatan

1.1 Pengkajian

Pengkajian keperawatan berfokuskan pada gejala dan riwayat faktor-faktor pencetus,


khususnya penyalahgunaan alkohol dalam jangka waktu yang lama di samping asupan
makanan dan perubahan dalam status jasmani serta rohani penderita.Pengkajian pada klien
sirosis hepatis menurut Engram (1998) dan Tucker (1998) diperoleh data sebagai berikut :

Riwayat atau adanya faktor-faktor risiko :

– Alkoholisme

– Hepatitis viral

– Obstruksi kronis dari duktus koledukus dan infeksi (kolangitis)

– Gagal jantung kanan berat kronis berkenaan dengan korpulmona.

1.2

1.Pemeriksaan fisik berdasarkan survei umum (Apendiks F) dapat menunjukkan :

Gangguan GI, mual, anoreksia, flatulens, dispepsia, muntah, perubahan kebiasaan usus
(disebabkan oleh perubahan metabolisme nutrien).

2. Nyeri abdomen kuadran kanan atas (disebabkan oleh pembesaran hepar).


3. Pembesaran, hepar dapat diraba (pada tahap lanjut penyakit, peningkatan pembentukan
jaringan parut yang menyebabkan kontraksi jaringan hepar karenanya mengisutkan hepar.

4. Demam ringan (disebabkan oleh penurunan produksi antibodi).

1. 3. Pemeriksaan diagnostik:

a. Imaging examination: USG hati, kantung empedu, dan limpa. USG hati dapat
menggambarkan seberapa jauh kerusakannya.

b.Pemeriksaan patologis: Pemeriksaan patologis untuk tanda-tanda virus hepatitis.

c.Tes fungsi hati: Dengan tes fungsi hati, kita dapat memahami seberapa jauh keparahan
sirosis hatinya.

d.Four indicators of hepatic fibrosis: Fibrosis liver adalah penyakit yang kronik.
Pemeriksaan dini menggunakan four indicator of hepatic fibrosis dapat membantu
mendiagnosa lebih cepat ada tidaknya fibrosis liver.

e.Biopsi liver: Biopsi dapat menunjukan ada tidaknya sirosis pada hati.

f.Laparoscopy: Pemeriksaan langsung yang dapat dilakukan di organ hati, limpa, organ
pencernaan.

g. Scan CT, atau MRI : di lakukan untuk mengkaji ukuran hepar, derajat obstruksi dan
aliran darah hepatik.d. Elektrolit serum menunjukkan hipokalemia, alkalosis, dan
hiponatremia (disebabkan oleh peningkatan sekresi aldosteron pada respons terhadap
kekurangan volume cairan ekstraseluler sekunder terhadap asites).

1.4. Pemeriksaan psikososial

a. Riwayat Sosial

Keadaan sosial dan ekonomi berpengaruh, apakah pasien suka berkumpul dengan orang-
orang sekitar yang pernah mengalami penyakit hepatitis, berkumpul dengan orang-orang
yang dampaknya mempengaruhi prilaku pasien yaitu peminum alcohol, karena keadaan
lingkungan sekitar yang tidak sehat.

1.Riwayat Psikologi

Bagaimana pasien menghadapi penyakitnya saat ini apakah pasien dapat menerima,
ada tekanan psikologis berhubungan dengan sakitnya. Kita kaji tingkah laku dan kepribadian,
karena pada pasien dengan sirosis hati dimungkinkan terjadi perubahan tingkah laku dan
kepribadian, emosi labil, menarik diri, dan depresi. Fatique dan letargi dapat muncul akibat
perasaan pasien akan sakitnya. Dapat juga terjadi gangguan body image akibat dari edema,
gangguan integument, dan terpasangnya alat-alat invasive (seperti infuse, kateter). Terjadinya
perubahan gaya hidup, perubaha peran dan tanggungjawab keluarga, dan perubahan status
financial (Lewis, Heitkemper, & Dirksen, 2000).

2 Diagnosa Keperawatan.

1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, dan gangguan rasa nyaman.

2. Perubahan status nutrisi berhubungan dengan anoreksia.

3. Gangguan itegritas kulit edema dan dekubitus.

3.Perencanaan dan implementasi

1. Istirahat.

Penderita penyakit hati yang aktif memerlukan istirahat dan berbagai tindakan
pendukung lainnya yang memberikan kesempatan kepada hati untuk membangun kembali
kemampuan fungsionalnya. Berat badan, asupan serat dan cairan yang keluar harus di ukur
dan di catat setiap hari. Pengaturan posisi pasien di tempat tidur agar mencapai status
pernapasan yang efisien. Diperlukan terapi oksigen pada penderita gagal hati untuk
oksigenasi sel-sel yang rusak dan untuk mencegah destruksi sel lebih lanjut. Pada penderita
sirosis diperlukan istirahat yang cukup, karena istirahat yang cukup akan mengurangi
kebutuhan hati dan meningkatkan suplai darh hati.

2. Perbaikan status nutrisi.

Penderita sirosis yang tidak mengalami asites dan edema harus mendapatkan diet
yang bergizi dan tinggi-protein dengan penambahan vitamin B kompleks serta vitamin
lainnya menurut kebutuhan ( termasuk vitamin A, C, K dan asam fosfat ). Asupan makan
pada penderita SH sedikit tapi sering dan mempertimbangkan makanan kesukaan pasien.
Dilakukan pemasangan NGT pada pasien yang mengalami anoreksia berat atau lama, pasien
yang muntah atau tidak dapat makan dengan alasan apapun. Harus mempertahankan asupan
kalori yang tinggi.
3.Perawatan Kulit

Perlu ketelitian dalam melakukan perawatan kulit karena dengan sehubungan edema
subkutan, ikterus dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi serta luka pada kulit.
Diperlukan perubahan posisi untuk mencegah dekubitus. Menggunakan lition diperlukan
karena dapat memperlancar sirkulasi agar ketika dilakukan massase, mencegah dekubitus dan
dan. mendinginkan kulit yang iritasi.

4. Discharge Planning

1. Hindari minuman beralkohol

2.Berikan penyuluhan pada pasien untuk membatasi aktivitas

3. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang terapi yang diberikan, dosis
serta efek samping

4. Tekankan pada pasien untuk control sesuai dengan waktu yang ditentukan.

5. Evaluasi

A. Memperlihatkan kemampuan untuk turut serta dalam aktivitas:

1. Merencanakan aktivitas dan latihan serta periode istirahat secara bergantian


2. Melaporkan peningkatan kekuatan dan kesehatan pasien

3. Memperlihatkan peningkatan berat badan tanpa pertambahan edema dan


pembentukan asites

4. Turut serta dalam asuhan higienik

B. Meningkatkan asupan nutrisi

a. Memperlihatkan asupan nutrien yang tepat dan pantang alkohol yang dicerminkan oleh
cacatan diet

b. Menaikkan berat badan tanpa pertambahan edema dan pembentukan asites

c. Melaporkan perbedaan gangguan anreksia

d. Mengenali makanan dan cairan yang bergizi yang diperbolehkan atau harus dibatasi

dalam dietnya
1.5 Mengikuti terapi vitamin

1. Menjelaskan dasar pemikiran mengapa pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering.

2. Memperlihatkan Perbaikan Integritas Kulit

1.Memperlihatkan kulit yang utuh tanpa bukti adanya luka, infeksi atau trauma

2.Menunjukkan turgor kulit yang normal pada ekstremitas dan batang tubuh tanpa
edema

3.Mengubah posisi dengan sering dan menginspeksi prominensia ( tonjolan ) tulang


setiap hari

4.Menggunakan losion untuk meredakan pruritus


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Istilah Sirosis hati diberikan oleh Laence tahun 1819, yang berasal dari kata Khirros
yang berarti kuning orange (orange yellow), karena perubahan warna pada nodulnodul yang
terbentuk. Pengertian sirosis hati dapat dikatakan sebagai berikut yaitu suatu keadaan
disorganisassi yang difuse dari struktur hati yang normal akibat nodul regeneratif yang
dikelilingi jaringan mengalami fibrosis. Sirosis didefinisikan sebagai proses difus yang di
karakteristikan oleh fibrosis dan perubahan struktur hepar normal menjadi penuh nodule yang
tidak normal. Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya
pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses
peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi
nodul. Pada sirosis dini biasanya hati membesar, teraba kenyal, tepi tumpul, dan terasa nyeri
bila ditekan.
DAFTAR PUSTAKA

Rahmad Juwono, 1996, Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3, FKUI, Jakarta.

Brunner & Suddarths. (2000) Textbook of Medical


Nuhttp://makalahkeperawatan.wordpress.com/2012/07/24/makalah-sirosis-hepatis/.

http://www.dexa-medica.com/images/publish_upload080711257643001215763044FA
%20MEDICINUS%208%20MEI%202008%20rev.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31644/4/Chapter%20II.pdf

rsing. 4thed Philadelphia: Lipponcot

Baradero, Mary. 2008. Klien Gangguan Hati: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai