Anda di halaman 1dari 31

24

BAB II

TUGAS DAN FUNGSI PENGAWAS PERIKANAN SERTA HAK DAN

KEWAJIBAN KAPAL PERIKANAN YANG MELAKUKAN

PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH LAUT INDONESIA

A. Pengawasan Terhadap Perikanan di Wilayah Laut Indonesia

Wilayah Indonesia yang sering disebut dengan kepulauan nusantara

(archipelago; group of many island) merupakan wilayah yang sangat strategis.

Kesatuan wilayah yang terdiri atas daratan, Perairan, dan dirgantara adalah salah

satu kesatuan yang menyatu dalam bangsa Indonesia dalam rangka wawasan

nusantara. Dari tiga matra wilayah Republik Indonesia maka wilayah Perairan

(lautan) merupakan bahagian yang terluas disbanding dengan wilayah daratannya.

Kondisi riel ini yang membuat sejak zaman nenek moyang dahulu Negara dan

bangsa Indonesia dikenal sebagai negara dan bangsa bahari (maritim), dimana

sangat banyak kegiatan yang berhubungan dengan lautan. 24 Keberadaan negara

Indonesia merupakan karunia dari Allah SWT, terutama keberadaan Negara

Indonesia sebagai Negara Kepulauan. 25 Sebagai Negara kepulauan, Indonesia

memiliki luas laut yang lebih luas dari luas daratan Indonesia. Dua Pertiga

wilayah Indonesia diliputi oleh Perairan laut yang terdiri dari laut Pesisir, laut

lepas, teluk, dan selat. Pemerintah tepatnya pada tanggal 13 Desember 1957

dalam Deklarasi Juanda mengumumkan lebar laut wilayah Indonesia menjadi 12

24
Hasim Purba, Hukum Pengangkutan di Laut, Medan : Pustaka Bangsa Press, 2005,
hal. 1
25
Supriadi dan Alimuddin, Hukum Perikanan di Indonesia, Jakrta : Sinar Grafika, 2011,
hal. 3.
25

mil laut dan lebar laut tersebut diukur dari garis dasar yang menghubungkan titik

luar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar dikenal dengan “point to point

theory”. 26 Hal ini kemudian didukung dengan diadakannya Konvensi Hukum

Laut Internasional tahun 1982 atau United Nation on the Law of the Sea 1982,

yang kemudian wilayah laut tersebut dibagi atas :

a. Laut Teritorial

Batas laut teritorial adalah suatu batas laut yang ditarik dari sebuah garis

dasar dengan jarak 12 mil ke arah laut. Garis dasar adalah garis khayal

yang menghubungkan titik-titik dari ujung-ujung terluar pulau di

Indonesia. Laut yang terletak di sebelah dalam garis dasar merupakan laut

Pedalaman. Di dalam batas laut teritorial ini, Indonesia mempunyai hak

kedaulatan sepenuhnya. Negara lain dapat berlayar di wilayah ini atas izin

Pemerintah Indonesia. 27

b. Landas Kontinen

Istilah landas kontinen atau landas benua (continental shelf) pada mulanya

adalah istilah dalam ilmu geologi (geology), khususnya geologi kelautan


28
(marine geology). Undang-undang 1 tahun 1973 tentang Landas

Kontinen Indonesia adalah sebagai tindak lanjut Pengumuman Pemerintah

tentang Landas Kontinen yang dikeluarkan tanggal 17 Februari 1969,

memuat asas-asas dan dasar-dasar pokoknya kebijaksanaan Pemerintah

tentang landas kontinen Indonesia. Yang dimaksud dengan landas

26
H. Djoko Tribawono. Hukum Perikanan Indonesia edisi kedua, Bandung : PT Citra
Aditya Bakti, hal. 48.
27
http://campusnancy.blogspot.com/2013/04/batas-zona-ekonomi-eksklusif-laut.html
diakses tanggal 1 Maret 2015.
28
I wayan parthiana,op.cit., hal. 169.
26

kontinen Indonesia sebagaimana tercantum dalam pasal 1 adalah dasar laut

dan tanah dibawahnya diluar wilayah Perairan sebagaimana yang diatur

dalam UU 4 Prp 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana

masih mungkin diadakan eksplorasi dan ekploitasi nkekayaan alam.

Kekayaan alam meliputi mineral dan sumber tidak bernyawa lainnya di

dasar dan atau didalam lapisan tanah dibawahnya bersam-sama dengan

organisme hidup yang termasuk dalam jenis sedinter. Jenis sedinter ini

adalah organisme yang pada masa Perkembangannya tidak bergerak, baik

diatas maupun di dasar laut. Batas landas kontinen diukur mulai dari garis

pangkal darimana lebar laut teritorial diukur dengan jarak paling jauh

adalah 200 mil. Kalau ada dua negara yang berdampingan mengusai laut

dalam satu landas kontien dan jaraknya kurang dari 400 mil, batas

kontinen masing-masing negara ditarik sama jauh dari garis dasar masing-

masing. Kewajiban negara ini adalah tidak mengganggu lalu lintas

Pelayaran damai di dalam batas landas kontinen.

c. Zona Ekonomi Eksklusif

Secara umum dapat didefenisikan tentang apa yang dimaksud dengan zona

ekonomi eksklusif, yakni bagian Perairan(laut) yang terletak di luar dari

dan berbatasan dengan laut teritorial selebar 200 (dua ratus) mil laut

diukur dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur. Dengan

defenisi umum ini dapat ditarik beberapa prinsip dasar dari zona ekonomi

eksklusif ini, yakni :


27

1. Letak dari zona ekonomi eksklusif ini secara geografis adalah

diluar laut teritorial. Dengan demikian, zona ekonomi eksklusif

bukanlah bagian dari laut teritorial karena letaknya yang diluar laut

terotorial.

2. Letaknya yang secara geografis berada diluar laut teritorial

bukanlah berarti berjauhan dengan laut teritorial, melainkan

berdampingan atau berbatasan langsung dengan laut teritorial. Ini

berarti antara keduanya dibedakan oleh suatu garis batas. Garis

batas ini ditinjau dari laut teritorial adalah merupakan garis atau

batas luar (outer limit) dari laut teritorial itu sendiri.

3. Lebar zona ekonomi eksklusif tersebut adalah 200 mill laut.

Karena itu merupkn hasil kesepakatan negara-negara Peserta dalam

Konferensi Hukum Lau PBB 1973-1982 yang berhasil disepakati

melalui Perundingan-Perundingan yang cukup lama.

4. Pengukuran mengenai lebar 200 mil laut tersebut dilakukan dari

garis pangkal. Garis pangkal yang dimaksud adalah garis pangkal

darimana lebar laut teritorial diukur. Garis pangkal itu bisa berupa

garis pangkal normal, garis pangkal lurus, ataupun garis pangkal

kepulauan.

5. Oleh karena baik laut teritorial maupun zona ekonomi eksklusif

sama-sama diukur dari garis pangkal maka praktis lebar dari zona

ekonomi eksklusif adalah (200-12) mil laut, yakni 188 mil laut. Hal

ini disebabkan karena laut selebar 12 mil laut dari garis pangkal
28

sudah merupakan laut teritorial yang merupakan bagian wilayah

negara pantai dan tunduk pada kedaulatan negara pantai itu sendiri.

6. Zona ekonomi eksklusif dengan demikian bukanlah merupakan

bagian wilayah negara pantai dan oleh karena itu tidak tunduk pada

kedaulatan negara pantai. Negara pantai hanya memiliki hak-hak

berdaulat dan yurisdiksi yang sifatnya eksklusi pada zona ekonomi


29
eksklusifnya

Dengan demikian luasnya laut Indonesia, Indonesia juga memiliki

kekayaan laut yang sangat banyak mulai dari potensi Perikanan tangkap, industri

kelautan, jasa kelautan, transportasi, hingga wisata bahari. Perikanan merupakan

salah satu kekayaan alam laut Indonesia yang patut untuk dibanggakan. Hal ini

dapt dilihat dari potensi Perikanan bidang Penangkapan sebesar 6,4 juta ton/

tahun, potensi Perikanan umum sebedar 305.650 ton/tahun dan pada tahun 2011,

produksi Perikanan tangkap Indonesia sebesar 5.408.900 ton. 30 Pencapaian jumlah

tersebut menunjukkan bahwa Perikanan Indonesia memiliki sumberdaya yang

baik. Dengan jumlah potensi yang demikian besar, tentu Indoneisa harus memiliki

Peraturan yang mengatur tentang Perikanan Indonesia. Sejarah Peraturan

Perikanan dibagi atas tiga bagian masa, yakni :

a. Masa Ordonansi Belanda

Dalam masa Belanda, ada dilekuarkan beberapa ordonansi, siantaranya

ialah :

29
I Wayan Parthiana,op.cit., hal. 105
30
http://simantap.djpt.kkp.go.id/static/uploads/RENSTRA-SDI%202010-2014-BSC.pdf
diakses tanggal 1 Maret 2015
29

Ordonansi Perikanan mutiara dan bunga karang (pada tahun 1916),

ordonansi Perikanan untuk melindungi ikan (pada tahun 1920),

Ordonansi Penangkapan ikan pantai (pada tahun 1927), Ordonansi

Penangkapan ikan pantai (pada tahun 1927), Ordonansi Perburuan ikan

paus (pada tahun 1927), Peraturan Pendaftaran kapal-kapal nelayan

laut Asing (pada tahun 1938), Ordonansi laut teritorial dan lingkungan

maritim (pada tahun 1939)

b. Masa Pasca Kemerdekaan

Adapun aturan-aturan mengenai Perikanan yang dikeluarkan dalam

kurun waktu pasca kemerdekaan sampai keluarnya Undang-Undang

Nomor 9 tahun 1985 tentang Perikanan, beberapa diantaranya ialah:

1. SK Mentan No.327/1972, menetapkan bahwa untuk menjaga

kelestariannya maka Duyung (Dugong-dugong) dinyatakan sebagai

satwa yang dilindungi yang dilindungi.

2. SK Mentan No.214/1973, Tentang larangan ekspor/Perdagangan

ke luar negeri

3. SK Mentan No.40/1974, Mewajibkan kepada setiap usaha

Penangkapan udang untuk memanfaatkan hasil sampingan yang

diPerolehnya.

4. SK Mentan No.01/1975, Dalam mengelola dan melestarikan

sumber Perikanan, Mentan dapat menetapkan Peraturan tentang:

Penutupan daerah/musim tertentu dan Pengendalian kegiatan

Penangkapan
30

5. SK Mentan No.123/1975, Melarang semua kegiatan Penangkapan

kembung layar selar Melarang semua kegiatan Penangkapan

kembung, layar, selar, lemuru, dan ikan-ikan Pelagis sejenisnya

dengan menggunakan purse seine berukuran mata jaring

6. SK Mentan No.35/1975, Menetapkan bahwa lumba-lumba air

tawar (Pesut) dan lumbalumba air laut sebagai satwa liar yang

dilindungi.

c. Masa Undang-Undang Perikanan :

1. UU No.5 thn 1983 tentang ZEE di Indonesia

2. UU No.9 thn 1985 tentang Perikanan

3. UU No.31 thn 2004 tentang Perikanan

4. Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan

Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan

Dengan berlakunya Undang-Undang Perikanan, maka semua ordonansi

yang dikeluarkan pada masa Pemerintahan Belanda yang bertentangan

dengan Undang-Udnang Perikanan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Kemudian dengan dikeluarkannya Udnang-Undang Nomor 31 tahun

2004, maka Undang-Undang Nomor 9 tahun 1985 dinyatakan dicabut

dan tidak berlaku lagi.

Sektor Perikanan yang memiliki potensi yang kaya tersebut, menyebabkan

banyak nelayan asing maupun lokal memiliki kapal besar dengan teknologi tinggi

melakukan kegiatanillegal fishing di Perairan Indonesia. 31 Masalah kelautan dan

31
Syamsumar Dam, Politik Kelautan, Jakarta : Bumi Aksara, 2011, hal. 115.
31

Perikanan merupakan masalah yang sering menajdi bahan pembicaraan

masyarakat ataupun aparat Penegak hukum dalam bidang Perikanan, hal ini baik

dikarenakan potensi Perikanan yang menguntungkan ataupun karena terjadinya

tindak pidana Perikanan yang merugikan sektor Perikanan Indonesia. Oleh karena

itu Perautran mengenai Perikanan yang hanya sekedar saja tidak mampu

mengatasi persoalan yang terjadi pada masa sekarang ini. Selain dengan adanya

Peraturan Perikanan, harus ada upaya Pengawasan terhadap sektor Perikanan

Indonesia. Pengawasan terhadap sektor Perikanan pada masa sekarang ini harus

ditingkatkan dalam hal pengawasan terhadap kegiatan penangkapan ikan. kegiatan

penangkapan ikan tersebut harus dilakukan dengan efisien dan efektif. Efisiensi

dan efektivitas penangkapan ikan ditunjang juga oleh Perkembangan teknologi

Perikanan. Hal tersebut dikarenakan terjadinya gangguan terhadap kelestarian

sumber daya ikan tidak hanya disebabkan tekanan Pemanfaatan lebih (over

fishing), yang juga disebabkan oleh Penggunaan alat tangkap hasil temuan

kemajuan teknologi yang sebenarnya terlarang digunakan. Untuk mencegah dan

mmberantasnya perlu dilakukan Pengawasan yang dikenal dengan monitoring,


32
controlling, surveillance. Pengawasan terhadap pengelolaan perikanan di

wilayah laut Indonesia dilaksanakan oleh Petugas yang disebut Pengawas

Perikanan. Pengawasan Perikanan ini adalah salah satu kegiatan yang dilakukan

untuk Pencegahan terhadap Perbuatan-Perbuatan yang menyimpang maupun

melakukan tindakan yang bersifat represif atas suatu Pelanggaran terhadap

Peraturan Perundang-undangan di bidang Perikanan.

32
H. Djoko tribawono, op.cit. , hal. 7.
32

Peraturan mengenai Pengawasan Perikanan di Indonesia diatur dalam

bebrapa Peraturan baik undang-undang maupun Peraturan menteri, yakni Undang-

Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perubahan Undang-udanng Nomor 31

tahun 2004 tentang Perikanan, Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang

Perikanan, Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor Per. 05/Men/2007

tentang Penyelenggaraan Sistem Pemantauan Kapal Perikanan, Peraturan Menteri

Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 17/PERMEN-KP/2014

tentang Tugas Pengawas Perikanan. Dalam Peraturan Menteri Nomor

17/PERMEN-KP/2014 pasal 1 angka 2 dijelaskan bahwa Pengawasan Perikanan

adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjamin terciptanya tertib

Pelaksanaan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang Perikanan.

Salah satu upaya Pengawasan Perikanan juga dilakukan dengan cara

melaksanakan Pengawasan dan Pemantauan terhadap keberadaan kapal Perikanan

yang melakukan kegiatan oprasional di wilayah Perairan Perikanan di Indonesia.

Pengawasan dan Pemantauan terhadap kapal Perikanan yang melakukan kegiatan

di wilayah laut Indoensia ini harus dilakukan secara sistemtis dan simultan. Dalam

artian bahwa, Pelaksanan Pengawasan kapal Perikanan ini merupakan suatu

kewajiban pokok, sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan Pengawasan kapal

Perikanan ini mampu meningkatkan daya tangkap kapal yang melakukan

Penangkapan ikan, sebab Perikanan tangkap yang pada prinsipnya bahwa kapal

Perikanan tersebut Perlu dipantau kegiatannya. Pengawasan terhadap kapal

Perikanan ini juga diatur dalam sebagaimana yang diatur dalam Permen Kelautan

dan Perikanan Nomor Per.05/Men/2007 tentang Penyelenggaran sistem


33

Pemantauan kapal Perikanan. Dalam rangka mengefektifkan dan efisiensi dari

Pemantauan kapal Perikanan, maka direktorat Jendral Pengawasan dan

Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikananan menerbitkan Surat

Keputusan Nomor Kep19/DJ-P2SDKP/2008 tentang Petunjuk Teknis Oprasional

Pengawasan Kapal Perikanan. Dalam Pasal 2 dikatakan bahwa Petunjuk teknis

dan oprasional Pengawasan kapal Perikanan ditetapkan dengan maksud sebagai

acauan Pengawasan Perikanan dalam melaksanakan tugas Pengawasan sumber

daya Perikanan. Petunjuk oprasional Pengawasan Perikanan ditetapkan dengan

tujuan terciptanya suatu kesan kesepahaman dalam melaksanakan Pengawasan.

Dalam rangka Pelaksanaan Pengawasan kapal Perikanan yang berkaitan

dengan usaha Perikanan tangkap secara terpadu, maka Perlu ditentukan sasaran

yang akan dijadikan dasar untuk melaksakan Pengawasan kapal Perikanan secara

intensif. Dalam Pasal 3 dinyatakan pula bahwa objek Pengawasan kapal Perikanan

meliputi :

a. Dokumen Perizinan kapal Perikanan

b. Fisik kapal Perikanan

c. Alat Penangkapan ikan

d. Alat bantu Penangkapan ikan

e. Ikan hasil tangkapan

f. Ikan yang diangkut

g. Daerah Penangkapan

h. Pelabuhan pangkalan/Pelabuhan muat/singgah


34

Oleh karena itu efektifitas Pengawasan kapal Perikanan harus ditunjang

pula oleh tempat-tempat tertentu untuk melakukan Pengawasan. Hal ini sesuai

ketentuan yang termaktub dalam Pasal 4 SK tersebut, dinyatakan bahwa

Pengawasan kapal Perikanan dilakukan di :

(a) Wilayah Pengelolaan ikan republik Indonesia (WPP RI)

(b) Pelabuhan Perikanan dan/atau Pelabuahn bukan Pelabuhan Perikanan;

(c) Pelabuhan umum yang ditetapkan sebagai Pelabuhan pangkalan

(d) Pangkalan Pendaratan ikan

(e) Sentra-sentra kegiatan nelayan

B. Tugas dan Kewenangan Pengawas Perikanan

Yang dimaksud dengan Perikanan sesuai dengan Undang-Undang Nomor

31 tahun 2004 tentang Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan

dengan Pengelolaan dan Pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai

dari praproduksi, produksi, Pengelolaan, sampai dengan Pemasaran yang

dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis Perikanan. Pengelolaan Perikanan

merupakan bagian dari hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan Perikanan.

Dari defenisi diatas jelas bahwa Perikanan memiliki banyak aspek kajian, salah

satunya ialah Pengelolaan ikan. Pengelolaan Perikanan adalah semua upaya,

termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis dan

perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan,

penangkapan ikan dan implementasi serta penegakan hukum dari Peraturan

Perundang-undangan di bidang Perikanan, yang dilakukan oleh Pemerintah atau


35

otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber

daya hayati Perairan dan tujuan yang telah disepakati. Karena aspek kajian dari

perikanan tersebut merupakan hal-hal yang penting dan tidak sembarang maka

melakukan Pengawasan terhadap sektor Perikanan di Wilayah laut Indonesia

merupakan hal yang wajib. Karena Pengawasan ini juga merupakan upaya untuk

menanggulangi tindak pidana Perikanan. Upaya monitoring, controlling dan

surveilling adalah serangkaian dari Pengawasan yang dilakukan untuk mencegah

segala tindakan yang bertentangan dengan aturan Perundang-undangan di bidan

Perikanan. Yang melakukan Pengawasan terhadap Perikanan ialah Pengawas

Perikanan. Dalam kaitan ini, Petugas diberi kewenangan Penuh melakukan

Penyidikan membantu Pejabat Penyidik umum untuk berwenang. Kewenangan

seperti ini sebelumnya tidak terdapat dalam ordonansi Perikanan yang dulu yakni

aturan mengenai Perikanan sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Perikanan

yang sekarang. Menurut Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang

Perubahan Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 66

ayat 2, Pengawas Perikanan bertugas untuk mengawasi tertib Pelaksanaan

ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang Perikanan.

Sejalan dengan Pengawas Perikanan yang diatur dalam Undang-Undang

Perikanan, Pemerintah membuat suatu lembaga yang memiliki tugas mengawasi

kelautan dan Perikanan di Indonesia, lembaga tersebut adalah Direktorat Jenderal

Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP). Ditjen

PSDKP adalah lembaga Pemerintah yang berada di bawah Pengelolaan

Kementerian Kelautan dan Perikanan yang secara resmi dibentuk pada 23


36

November 2000 sesuai Kepres Nomor 165 Tahun 2000, Ditjen PSDKP

merupakan Direktorat Jenderal yang bertanggung jawab untuk melakukan

Pengawasan di bidang sumberdaya kelautan dan Perikanan. Dalam melakukan

Pengawasan Ditjen PSDKP berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut,

Bakorkamla dan Polair. 33 Adapun struktur Organisasi yang ada dalam Direktorat

Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) ialah

Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Pengawasan Sumber Daya Perikanan,

Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Direktorat Pengawasan Sumber

Daya Kelautan, Direktorat Pemantau Sumber Daya KP Dan Pengembangan

Infrastruktur Pengawasan, Direktorat Penanganan Pelanggaran.

Adapun yang termasuk Pengawas Perikanan ialah :

1. Direkrut dari PNS di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan

Personel Pengawas Perikanan direkrut dari PNS (Pegawai Negeri Sipil) di

lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pasal 66 A ayat 1

Undang-Undang Perikanan), dengan dasar Pemikiran selaku Pegawai di

lembaga tersebut mempunyai latar belakang Pengetahuan Perikanan.

Dalam Pasal 66 ayat 3, Petugas Peikanan dapat ditetapkan sebagai Pejabat

fungsional. Pengawas Perikanan memang merupakan jabatan fungsional

sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 1994 jo Surat Edaran

MENPAN Nomor SE/07/M.PAN/2004. Jabatan fungsional adalah jabatan

yang menunjukkan tugas dan tanggungjawab, wewenang dan hak seorang

Pegawai engeri sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam

33
Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan http:// kkp.go.id/ diakses tanggal 5
Maret 2015
37

Pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau keterampilan

tertentu serta bersifat mandiri. Pada hakikatnya, jabatan fungsional sebagai

jabatan teknis yang tidak tercantum dalam struktur organisasi, namun

sangat diPerlukan dalam tugas-tugas pokok dalam organisasi Pemerintah.

Jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil terdiri atas jabatan fungsional

keahlian dan jabatan fungsional keterampilan. Penetapan jabatan

fungsional keahlian dan jabatan fungsional keterampilan ditetapkan

dengan kriteria sebagai berikut :

a. Mempunyai metodologi, teknik analisis, teknik dan prosedur kerja

yang didasarkan atas disiplin ilmu Pengertahuan dan atau Pelatihan

teknis tertentu serta sertifikasi

b. Memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi

c. Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan :

(1) Tingkat keahlian, bagi jabatan fungsional keahlian,

(2) Tingkat keterampilan, bagi jabatan fungsional keterampilan

d. Pelaksanaantugas bersifat mandiri

e. Jabatan fungsioanl tersebut diPerlukan dalam Pelaksanaan tugas

pokok dan fungsi organisasi 34

2. Diarahkan sebagai Penyidik

Sebagai Pengawas Perikanan yang melakukan tugas mengawasi

Pelaksanaan Pengelolaan Perikanan di lapangan sesuai dengan Peraturan

Perundang-undangan di bidang Perikanan. Dulunya, Pengawas Perikanan

34
Bkd.bantulkn.go.id
38

terdiri atas Penyidik PNS Perikanan dan non Penyidik (Pasal 66 ayat 3 UU

no. 2004). Dengan diubahnya UU Perikanan, Pengawas Perikanan

sekarang hanyalah Pejabat PN non Penyidik saja (Pasal 66 A ayat 1 UU

No. 45 tahun 2009). Dengan menjalankan tugas sebagai Pengawas

Perikanan dan memiliki Pengalaman dan kemampuan serta keterampilan

yang cukup dalam Pengawasan di lapangan. Dengan bekal demikian

tersebut diarahkan Personel Pengawas Perikanan untuk dapat dididik dan

diangkat menjadi Penyidik PNS Perikanan. Pengawas Perikanan yang

awalnya melakukan Pengawasan di bidang teknis dan administratif di

bidang Perikanan, ketika diangkat menjadi Penyidik PNS Perikanan harus

sudah siap menjalankan tugas Pengawasan di bidan gteknis yuridis untuk

memproses suatu kejadian atau Peristiwa pidana di bidang Perikanan

menjadi suatu Perkara utnuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu kegiatan, salah satu tolak

ukurnya adalah kemampuan Pengawasan dan Pemantauan yans sangat

efektif. Dengan melakukan Pengawasan yang baik dan meamnfaatkan

sarana dengan efektif serta ditopang oleh maanusia yang handal

diharapkan akan memberikan hasil yang maksimal pula, hal ini berlaku

pula pada Pengawasan kapal Perikanan. Dalam Pasal 5 Kepdirjeb

Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

Nomor 19/DJ-P2SDKP/2008 dinyatakan bahwa Pengawas Perikanan

bertugas untuk mengawasi tertib Pelaksanaan Peraturan Perundang-


39

undangan di bidangPerikanan. Pengawas Perikanan sebagaimana

dimaksud dalam ayat 1, dalam melaksakan tugasnya memiliki wewenang:

(a) Memasuki tempat-tempat yang akan dilakukan Pemeriksaan

(b) Meminta dokumen untuk diPeriksa

(c) Mengambil contoh ikan atau bahan yang diPerlukan untuk Pengujian

laboratorium

(d) Memeriksa kapal Perikanan

(e) Memeriksa dokumen Perizinan dan dokumen kapal Pendukung lainnya

(f) Memeriksa alat tangkap dan alat bantu Penangkapan

(g) Menyetujuo/membongkar muat hasil tangkapan

(h) Menunda keberangkatan kapal Perikanan dalam hal tidak terPenuhi

Persyaratan administrasi Perizinan dan teknis kelaikan oprasional

(i) Menurunkan alat tangkap yang tidak sesuai dengan ukuran yang telah

ditentukan

(j) Menerbitkan surat layak oprasi kapal Perikanan

(k) Merekomendasikan sanksi administrasi bagi kapal Perikanan yang

melakukan Pelanggaran kepada Direktur Jendral

Mengenai wewenang Pengawas Perikanan dalam melaksanakan tugas juga

terdapat dalam Pasal 66 C Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang

Perubahan Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, yakni :

a. memasuki dan memeriksa tempat kegiatan usaha Perikanan;

b. memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen usaha Perikanan;

c. memeriksa kegiatan usaha Perikanan;


40

d. memeriksa sarana dan prasarana yang digunakan untuk kegiatan

Perikanan;

e. memverifikasi kelengkapan dan keabsahan SIPI dan SIKPI;

f. mendokumentasikan hasil Pemeriksaan;

g. mengambil contoh ikan dan/atau bahan yang diPerlukan untuk

keperluan Pengujian laboratorium;

h. memeriksa Peralatan dan keaktifan sistem Pemantauan kapal

Perikanan;

i. menghentikan, memeriksa, membawa,menahan, dan menangkap kapal

dan/atau orang yang diduga atau patut diduga melakukan tindak pidana

Perikanan di wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik

Indonesia sampai dengan diserahkannya kapal dan/atau orang tersebut

di Pelabuhan tempat Perkara tersebut dapat diproses lebih lanjut oleh

Penyidik;

j. menyampaikan rekomendasi kepada Pemberi izin untuk memberikan

sanksi sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;

k. melakukan tindakan khusus terhadap kapal Perikanan yang berusaha

melarikan diri dan/atau melawan dan/atau membahayakan keselamatan

kapal Pengawas Perikanan dan/atau awak kapal Perikanan; dan/atau

l. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

Pengawas Perikanan dalam melaksanakan tugasnya dapat dilengkapi

dengan beberapa hal, ini terdapat dalam Pasal 66Cayat 2 UU Perikanan, yakni

dapat dilengkapi dengan kapal Pengawas Perikanan, senjata api dan/atau alat
41

Pengaman diri. Pengawas Perikanan yakni PNS dari Menteri Kelautan dan

Perikanan, daalam menajalnkan tugasnya di lapangan juga dapat dilengkapi

dengan senjata api. Ketentuan mengenai Perlengkapan senjata api dalam

ketentuan tersebut sifatnya hanyalah “dapat”, bukan suatu keharussan, karena

Petugas Pengawas Perikanan adalah orang sipil dan Pengawasannya lebih bersifat

teknis dan administratif di bidang Perikanan. Oleh karena itu tidak semua bidang

Pengawasan Perikanan selalu dibekali dengan senjata api. Senjata api

dipertimbangkan sebagai alat Pengawasan Perlengkapan apabila tempat atau

sasaran Pengawasan merupakan daerah rawan keributan atau sering terjadi

kejahatan. Senjata api tersebut diperlukan hanya untuk menjaga diri atau membela

diri. Penguasaan senjata api untuk kepentingan Pengawasan Perikanan juga harus

sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-undang

Nomor 8 tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian izin Kepemilikian

Senjata Api. Setiap orang yang bukan anggota tentara atau polisi yang memakai

dan memiliki senjata api harus mempunyai izin Pemakaian senjata api menurut

contoh yang ditetapkan oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia

(Kapolri). Ketentuan dapat dibekali dengan senjata api juga diberikan kepada

kapal Pengawas Perikanan. Perlengkapan senjata api yang dimaksud ialah

Perlengkapan senjata api yang lebih melekat kepada kapalnya daripada pada

Petugasnya karena kepentingan keamanan di Perairan wilayah Pengelolaan

Perikanan Indonesia. Pemasangan kelengkapan senjata api pada kapal Perikanan

harus mengikuti Peraturan tentang kepemilikan senjata api yang berlaku.


42

Selain dilengkapi dengan senjata api, pengawas perikanan juga dilengkapi

dengan Kapal Pengawas Perikanan dalam melaksanakan tugasnya. Kapal

Pengawas Perikanan adalah kapal yang digunakan untuk melindungi sumber daya

kelautan dan Perikanan. Dalam Peraturan Mentreri Kelautan dan Perikanan

Nomor PER. 05/MEN/2007 yang dimaksud dengan Kapal Pengawas Perikanan

adalah kapal Pemerintah yang diberi tanda-tanda tertentu untuk melaksanakan

Pengawasan dan Penegakan hukum di bidang Perikanan. Dalam melakukan

Pengawasan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut, Polair dan

Bakorkamla..Kapal Pengawas Perikanan merupakan Satuan Unit Kerja di bawah

Direktorat Kapal Pengawas Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan

Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kapal Pengawas

Perikanan diawaki oleh beberapa awak kapal Pengawas Perikanan. Kapal

Pengawas Perikanan mempunyai tugas dan fungsi untuk melaksanakan gelar

oPerasi Pengawasan Perikanan di laut. 35 Kapal Pengawas Perikanan (fishery

patrol ship) dalam dunia Pelayaran sering disebut "Kapal Putih", Hal ini karena

kapal Pengawas Perikanan berwarna dominan putih mengingat warna abu-abu

maupun kamuflase hanya boleh untuk kapal militer. 36 Dalam Pasal 69 UU

Perikanan Nomor 45 tahun 2009 juga dijelaskan bahwa fungsi dari kapal

Perikanan adalah untuk melaksanakan Pengawasan dan Penegakan hukum di

bidang Perikanan dalam wilayah Pengelolaan Perikanan negara Republik

Indonesia. Kapal Pengawas Perikanan dapat menghentikan, memeriksa,

35
Heru Triharyanto, 2014. “Pengaruh Pelatihan dan Motivasi Kerja Terhadap
Pengembangan Karir Awak Kapal Pengawas Perikanan pada Ditjen Pengawasan Sumber Daya
Kelautan dan Perikanan (PSDKP)”. Universitas Terbuka, Vol. 1 No. 1 2014.
36
http://id.wikiPedia.org/wiki/Kapal_Pengawas_Perikanan diakses tanggal 7 Maret 2014
43

membawa, dan menahan kapal yang diduga atau patut diduga melakukan

Pelanggaran di wilayah Pengelolan Perikanan negara Republik Indonesia ke

Pelabuhan terdekat untuk Pemrosesan lebih lanjut. Penahanan kapal ini dapat

dilakukan dalam rangka tindakan membawa kapal ke Pelabuhan terdekat dan/atau

menunggu proses selanjutnya yang bersifat sementara. Dalam melaksanakan

fungsinya, kapal Perikanan juga dapat melakukan tindakan khusus berupa

Pemabakaran dan atau Penenggelaman kapal Perikanan yang berbendera asing

berdasarkan bukti Permulaan yang cukup.

Untuk kepentingan Pengawasan Perikanan, Kementerian Kelautan dan

Perikanan sekarang ini telah memiliki kapal Pengawas Perikanan sebanyak 40

unit. Dari jumlah tersebut sebanyak 17 unit yang dilengkapi senajta api. Dengan

data itu tampak bahwa tidak semua kapal Perikanan dilengkapi dengan senjata

api, hanya sekitar 40% kapal yang dilengkapi dan pihak kementerian kelautan dan

Perikanan juga sudah memPertimbangkan daerah-daerah Pengawasan mana yang

rawan dan memerlukan senjata api. 37

C. HAK DAN KEWAJIBAN KAPAL PERIKANAN DALAM

MELAKUKAN PENANGKAPAN IKAN

Kapal Perikanan adalah kapal atau Perahu atau alat apung lainnya yang

digunakan untuk melakukan kegiatan Penangkapan ikan termasuk melakukan

survei atau eksplorasi Perikanan atau Pengertian sempit yang menyatakan bahwa

kapal Perikanan adalah kapal yang secara khusus diPergunakan untuk menangkap

37
Gatot supramono.op.cit., hal 59-60.
44

ikan termasuk menampung, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.

Berdasarkan beberapa defeinisi yang telah disebutkan diatas, maka dapat

diketahui bahwa kapal ikan sangat beragam dari kekhususan Penggunaannya

hingga ukurannya. Kapal-kapal ikan tersebut dapat terdiri dari Perahu berukuran

kecil berupa Perahu sampan (Perahu tanpa motor) yang digerakkan dengan tenaga

dayung atau layar, perahu motor tempel yang terbuat dari kayu hingga pada kapal

ikan berukuran besar yang terbuat dari kayu, fibre glass maupun besi baja dengan

tenaga Penggerak mesin diesel. Jenis dan bentuk kapal ikan ini berbeda sesuai

dengan tujuan usaha, keadaan Perairan, daerah Penangkapan ikan (fishing ground)

dan lain-lain, sehingga menyebabkan ukuran kapal yang berbeda pula. 38

Menurut Setianto, Kapal Perikanan sebagaimana layaknya kapal

Penumpang dan kapal niaga lainnya maupun kapal barang, harus memenuhi syarat

umum sebagai kapal. Berkaiatan dengan fungsinya yang sebagian besar untuk

kegiatan Penangkapan ikan, maka harus juga memenuhi syarat khusus untuk

mendukung keberhasilan kegiatan tersebut yang meliputi: kecepatan, olah

gerak/mneuver, ketahanan stabilitas, kemamapuan jelajah, konstruksi, mesin

Penggerak, fasilitas Pengawetan dan prosesing serta Peralatan Penangkapan.

1. Kecepatan

Kapal Penangkap ikan biasanya membutuhkan kecepatan yang tinggi,

karena untuk mencari dan mengejar gerombolan ikan. Disamping iitu juga

38
Purbayanto et al. 2004. Kajian Teknis Kemungkinan Pengalihan Pengaturan Perijinan
dari GT menjadi Volume Palka pada Kapal Ikan. Makalah tentang “Paradigma baru Pengelolaan
Perikanan yang bertanggungjawab dalam rangka mewujudkan kelestarian sumberdaya dan
manfaat ekonomi maksimal” 10-11 Mei 2004 lihat pula
http://muliana567.blogspot.com/2012/06/kapal-Perikanan.html
45

untuk mengangkut hasil tangkapan dalam keadaan segar sehingga

dibutuhkan waktu relatif singkat.

2. Olah Gerak

Kapal Perikanan memerlukan olah gerak/manuver kapal yang baik

terutama pada waktu operasi Penangkapan dilakukan. Misalnya pada

waktu mencari, mengejar gerombolan ikan, Pengoperasian alat tangkap

dan sebagainya.

3. Ketahanan Stabilitas

Kapal Perikanan harus mempunyai ketahanan stabilitas yang baik terutama

pada waktu operasi Penangkapan ikan dilakukan. Ketahanan terhadap

hempasan angin, gelombang dan sebagainya. Dalam hal ini kapal

Perikanan sering mengalami oleng yang cukup tinggi.

4. Jarak Pelayaran/Kemampuan jelajah

Kapal Perikanan harus mempunyai kemampuan jelajah, untuk menempuh

jarak yang sangat tergantung pada kondisi lingkungan Perikanan, seperti:

Pergerakan gerombolan ikan, fishing ground dan musim ikan. Sehingga

jarak Pelayaran bisa jauh, sebagai contoh Tuna Long Line.

5. Konstruksi

Konstruksi kapal Perikanan harus kuat terhadap getaran mesin utama yang

biasanya mempunyai ukuran PK lebih besar dibanding kapal niaga lainnya

yang seukuran, benturan gelombang dan angin akan lebih besar karena

kapal Perikanan sering memotong gelombang pada saat mengejar

gerombolan ikan.
46

6. Mesin Penggerak

Mesin Penggerak utama kapal (mesin engine) kapal Perikanan, ukurannya

harus kecil tetapi mempunyai kekuatan yang besar dan ketahanan harus

tetap hidup dalam kondisi olengan maupun trim dalam waktu yang lama,

mudah dioPerasikan maju dan mundur dimatikan maupun dihidupkan.

7. Fasilitas Pengawetan dan Pengolahan

Kapal Perikanan biasanya digunakan juga untuk mengangkut hasil

tangkapan sampai ke Pelabuhan. Dalam Pengangkutan diharapkan hasil

tangkapan tetap dalam keadaan segar, untuk itu kapal Perikanan harus

dilengkapi dengan tempat Penyimpanan ikan/palka yang berinsulasi dan

biasanya untuk menyimpan es tetapi ada yang dilengkapi dengan mesin

Pendingin tempat Pembekuan ikan, bahkan ada juga yang dilengkapi

dengan sarana Pengolahan.

8. Perlengkapan Penangkapan

Kapal Perikanan biasanya membutuhkan Perlengkapan Penangkapan,

seperti: Line hauler, net hauler, trawl winch, purse winch, power block dan

sebagainya.Perlengkapan Penangkapan, tergantung pada alattangkap yang

digunakan dalam operasional 39

Klasifikasi kapal Perikanan baik ukuran, bentuk, kecepatan maupun

konstruksinya sangat ditentukan oleh Peruntukkan kapal Perikanan tersebut.

Demikian pula dengan kapal Penangkap, masing-masing memiliki ciri khas,

39
http://muliana567.blogspot.com/2012/06/kapal-Perikanan.html diakses pada tanggal 10
Maret 2014
47

ukuran, bentuk, kecepatan dan perlengkapan yang berbeda. Kapal Perikanan

secara umum terdiri dari:

1) Kapal Penangkap ikan

Kapal Penangkap Ikan adalah kapal yang dikonstruksi dan digunakan

khusus untuk menangkap ikan sesuai dengan alat Penangkap dan teknik

Penangkapan ikan yang digunakan termasuk manampung, menyimpan dan

mengawetkan.

2) Kapal Pengangkut hasil tangkapan

Kapal Pengangkut hasil tangkapan adalah kapal yang dikonstruksi khusus

dan dilengkapi dengan palka khusus yang digunakan untuk menampung,

menyimpan, mengawetkan dan mengangkut ikan hasil tangkapan.

3) Kapal survey

Kapal survey adalah kapal yang dikonstruksi khusus untuk melakukan

kegiatan survey Perikanan dan Kelautan.

4) Kapal latih

Kapal latih adalah kapal yang dikonstruksi untuk Pelatihan Penangkapan

ikan.

5) Kapal Pengawas Perikanan

Kapal Pengawas Perikanan adalah Kegiatan-kegiatan Pengawasan kapal-

kapal Perikanan. 40

Dalam Undang-Undang Perikanan juga disebutkan fungsi daripada kapal

perikanan yakni terdapat dalam Pasal 34 :

40
Ardidja, Supardi. 2007. Kapal Penangkap Ikan. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta.
http://www.scribd.com/doc/19583983/Kapal-Penangkap-Ikan. diaskes tanggal 10 Maret 2015
48

(1) Kapal Perikanan berdasarkan fungsinya meliputi:

a. kapal Penangkap ikan;

b. kapal Pengangkut ikan;

c. kapal Pengolah ikan;

d. kapal latih Perikanan;

e. kapal Penelitian/eksplorasi Perikanan; dan

f. kapal Pendukung operasi Penangkapan ikan dan/atau

Pembudidayaan ikan.

Secara spesifik lagi dijelaskan defenisi Kapal Perikanan Menurut Undang-

Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan adalah kapal, Perahu, atau alat

apung lain yang digunakan untuk melakukan Penangkapan ikan, mendukung

oPerasi Penangkapan ikan, Pembudidayaan ikan, Pengangkutan ikan, Pengolahan

ikan, Pelatihan Perikanan, dan Penelitian/eksplorasi Perikanan. Dari defenisi

diatas memang terlihat bahwa kapal Perikanan memang selalu identik dengan

Penangkapan ikan. selain mengatur tentang defenisi dari kapal perikanan itu

sendiri, Undang-Undang Perikanan juga mengatur mengenai apa yang wajib

dilakukan oleh kapal Perikanan baik nasional maupun asing terutama dalam hal

Penangkapan ikan. Adapun yang menjadi kewajiban orang atau pihak dan kapal

negara Republik Indonesia maupun asing dalam melakukan pengelolaan dan

penangkapan perikan adalah :

1. Wajib memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat menyangkut

pemberian izin usaha perikanan, Departemen Eksplorasi Laut dan


49

Perikanan melakukan perbaikan dan penyempurnaan atas peraturan

perizinan di bidang perikanan. Untuk itu Departemen Eksplorasi Laut dan

Perikanan mengawali dengan Kepmen Eksplorasi Laut dan Perikanan

Nomor 45 tahun 2000 tentang Perizinan Usaha Perikanan yang terdiri dari

32 pasal. Untuk melakukan usaha penangkapan ikan di wilayah

pengelolaan perikanan (WPP), setiap perusahaan perikanan wajib

memiliki izin usaha perikanan (IUP). WPP meliputi Sembilan wilayah

perairan seperti tercantum dalam Pasal 3, yakni :

a. Perairan Selat Malaka

b. Perairan Laut Natuna dan Laut Cinta Selatan

c. Perairan Laut Jawa dan Selat Sunda

d. Perairan Laut Flores dan Selat Makassar

e. Perairan Laut Banda

f. Laut Mluku, perairan Teluk Tomini, dan Selat Seram

g. Perairan Laut Sulawesi dan Samudra Pasifik

h. Perairan Laut Arafura

i. Perairan Samudra Hindia

SIUP berlaku selama perusahaan perikanan masih melakukan usahanya

dan dilakukan evakuasi pelaksanaan usaha setiap tiga tahun. Apabila

perusahaan perikanan melakukan perubahan rencana usaha, wajib

mengajukan perubahan SIUP kepada direktur Jendral Perikanan.


50

2. Wajib memiliki persetujuan penggunaan kapal asing (PPKA)

Perusahaan perikanan yang memperoleh Surat Izin Usaha Perikanan

(SIUP) kemudian akan menggunakan kapal berbendera asing untuk

mengangkut ikan, wajib memiliki persetujuan penggunaan kapal asing.

Permohonan PPKA ini disampaikan kepada Direktur Jendral Perikanan

menggunakan formulir model Phn-1 yang dilengkapi dengan persyaratan :

a. Salinan SIUP yang dilegalisasi

b. Rencana usaha pengoprasian kapal asing

c. Kontrak perjanjian kerjasama/sewa ;

3. Wajib memiliki Surat Penangkapan Ikan (SPI)

Sebelum melakukan usaha penangkapan ikan, perusahaan perikanan yang

telah memiliki IUP wajib memiliki SPI bagi setiap kapal perikanan yang

dipergunakan. Dalam SPI yang diberikan tercantum didalamnya beberapa

ketetapan yang meliputi :

a. Koordinat daerah penangkapan

b. Alat penangkapan

c. Pelabuhan pangkalan

d. Jalur penangkapan ikan yang terlarang

e. Identitas kapal

f. Jumlah dan daftar penempatan ABK (Indonesia dan asing)

g. Identitas kapal perikanan yang menjadi anggota satuan armada

penangkapan ikan

h. Kewajiban pemegang SPI


51

SPI yang telah diberikan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang

sama dengan bagi jenis-jenis ikan pelagis besar/kecil dan demersal

apabila memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemberi

izin. Perubahan SPI dapat dilakukan oleh perusahaan perikanan

dengan mengajukan kepada Direktur Jendral Perikanan dan perubahan

ini dapat dilakukan sekurang-kurangnya dalam jangka waktu enam

bulan sejak SPI diperoleh dan/atau sejak perubahan SPI diberikan oleh

yang berwenang.

4. Wajib memiliki Surat izin Kapal Penangkapan dan pengangkutan ikan

(SIKPPI)

Perusahaan perikanan yang telah memiliki IUP dan akan melakukanusaha

penangkapan dan pengangkutan ikan, wajib memiliki SIKPPI bagisetiap

kapal yang dipergunakan apabila operasinya dalam satuan armada

penangkapan ikan. permohonan SIKPPI dapat diajukan kepada Direktur

Jendral Perikanan menggunakan formulir yang telah ditentukan. Masa

berlaku SIKPPI beragam, tergantung pada jenis ikan yang akan ditangkap,

yaitu untuk jenis ikan pelagis bersar selama 3 tahun, sedangkan jenis

pelagis kecil 2 tahun. SIKPPI ini bias diperpanjang untuk jangka waktu

yang sama apabila memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan

memberikan laporan kegiatan penangkapan dan pengangkutan. Apabila

perusahaanyang telah memiliki SIKPPI tersebut akaan mengadakan

perubahan, dapat mengajukan kepada Direktur Jendral Perikanan dan

dilakukan sekurang-kurangnya dalam jangka waktu enam bulan sejak


52

SIKPPI diperoleh atau sejak perubahan SIKPPI diberikan oleh yang

berwenang. Untuk kapal pengangkut ikan asing, perusahaan perikanan

yang telah memiliki SIUP dan PPKA, kemudian aan mengoprasikan kapal

pengangkut ikan asing yang disewa, wajib memiliki Surat izin SIKPPI

juga bagi seiap kapal yang digunakan. Sama dengan kapal Indonesia,

permohonan ini juga dimohonkan kepad Direktur Jendral Perikanan.

SIKPPI untuk kapal asing diberikan untuk jangka waktu 1 tahun dan dapat

diperpanjang selama jangka waktu yang sama jika memenuhi syarat.

5. Setiap kapal perikanan dan pihak-pihak yang berada dalam kapal tersebut

wajib melestarikan plasma nutfah demi keberlangsungan sumberdaya ikan

dan wajib menaati aturan konservasi sumberdaya perikanan sebagai

bentuk kepedulian dan tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya

ikan di Wilayah laut Indonesia.

6. Setiap kapal perikanan asing juga wajib menyimpan alat tangkap

perikanannya di dalam tempat penyimpanan yakni palka. Hal ini dilakukan

agar mencegahnya pencemaran dan penangkapan ikan di wilayah-wilayah

laut yang tidak boleh dilakukan penangkapan ikan.

7. Kapal perikaanan yang ingin berlayar wajib mendapatkan izin terlebih

dahulu dari Pemerintah Republik Indonesia sebelum memulai melakukan

pelayarannya.

8. Kapal perikanan juga wajib memiliki surat layak oprasi perikanan dalam

melakukan kegiataannya, baik sebgai kapal penangkapan ikan ataupun

kapal pengawas perikanan


53

Selain memiliki kewajiban, kapal perikanan juga memiliki beberapa hak

atau hal yang boleh dilakukan oleh kapal perikanan setelah memenuhi kewajiban

yang tertulis diatas. Adapun beberapa yang menjadi haknya ialah :

1. Kapal perikanan Indonesia atau kapal perikanan asing memiliki hak untuk

melakukan penangkapan ikan di wilayah laut Indonesia yang

diperbolehkan setelah mendapat izin dari pemerintah Indonesia dan setelah

memenuhi kewajiban mengurus segala surat izin yang diwajibkan kepada

kapal perikanan

2. Hak lintas damai dalam perairan Indonesia.

Dalam UU Prp. Tahun 1960 menyatakan bahwa lalu lintas laut damai

dalam perairan Indonesia terbuka bagi kapal asing. Lalu lintas laut damai

bagi kapal asing di perairan pedalaman merupakan suatu kelonggaran yang

dengan sengaja diberikan oleh Indonesia, sedangkan di laut wilayah

merupakan hak yang diakui oleh hukum internasional. Akibat dari

beberapa perbedaan tersebut maka Indonesia dapat mencabut kembali

kelonggaran-kelonggaran yang diberikan, sedangkan lalu lintas laut damai

di laut wilayah pada dasarnya tidak boleh diganggu gugat oleh Negara

pantai, termasuk Indonesia. Oleh karena itu dikeluarkanlah PP No. 8 tahun

1960 tentang Lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing dalam

Perairan Indonesia. Yang dimaksud dengan lalu lintas laut damai

kendaraana air asing dalam peraturan pemerintah tersebut adalah

pelayaran untuk maksud damai yang melintas di wilayah laut dan perairan

pedalaman Indonesia. Nelayan-nelayan asing dilarang untuk melakukan


54

tindakan yang mencurigakan, mereka boleh melintasi tetapi tidak boleh

mengambil sumber-sumber kekayaan (ikan) perairan Indonesia. Untuk

menjaga mereka menaati ketentuan ini maka selama mereka melintas

diharuskan menyimpan alat-alat penangkapan ikan dalam kedaan

terbungkus. Apabila kendaraan air penangkap ikan asing tersebut

melakukan tindakan yang mencurigakan dapat dianggap tidak

melaksanakan perdamaian dan bias ditindak berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. 41

41
H. Djoko Tribawono. Hukum Perikanan Indonesia (Edisi Kedua), Bandung : PT Citra
Aditya Bakti, 2013, hal 50.