MAKALAH
FEMINISME DAN ANALISIS KARYA SASTRA
PADA CERPEN “PENGUBURAN KEMBALI SITARESMI”
Disusun dan Diajukan guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Teori Sastra
Dosen pengampu : Mulasih, M.Pd
Disusun Oleh :
Ismi Jabah 40418031
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PERADABAN BUMIAYU
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil kreasi sastrawan melalui kontemplasi dan refleksi setelah
menyaksikan berbagai fenomena kehidupan dalam lingkungan sosialnya. Fenomena
kehidupan itu beraneka ragam, baik yang mengandung aspek sosial, budaya, politik,
ekonomi, kemanusiaan, keagamaan, moral, maupun gender. Dengan daya imajinatifnya,
berbagai realitas kehidupan yang dihadapi sastrawan itu diseleksi, direnungkan, dikaji,
diolah, kemudian diungkapkan dalam karya sastra yang lazim bermediumkan bahasa. (Al-
Ma‟ruf, 2010: 1).
Karya sastra merupakan fenomena sosial budaya yang melibatkan kreativitas manusia.
Karya sastra lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah ada dalam jiwa
pengarang secara mendalam melalui proses imajinasi (Aminudin, 1990: 57).
Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan
perempuan dari segi sosial-budaya (Umar, 1999: 35). Masalah gender erat kaitannya dengan
feminisme. Feminisme adalah upaya untuk meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan
agar sama atau sederajat dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Untuk meningkatkan
kedudukan dan derajat yang sama dengan laki-laki, perempuan harus memperoleh hak dan
peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki.
Salah satu cerpen yang di dalamnya terdapat masalah gender adalah Penguburan
Kembali Sitaresmi karya Triyanto Triwikromo. Cerpen Penguburan Kembali Sitaresmi karya
Triyanto Triwikromo adalah majalah kompas, 1 Februari 2015. Pada cerpen ini tokoh
Sitaresmi yang dianalisis sebagai tokoh utama. Terlihat juga bahwa disini korbannya adalah
wanita karena dianggap lemah dan selalu berada dibawah laki-laki.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul
Penguburan Kembali Sitaresmi dianalisis dengan tinjauan sastra feminis untuk mengatahui
masalah-masalah yang menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender.
B. Perumusan Masalah
Bagaimana struktur feminis pada cerpen Penguburan Kembali Sitaresmi?
C. Tujuan Penelitian
Mendeskripsikan struktur yang membangun cerpen Penguburan Kembali Sitaresmi.
D. Manfaat Penelitian
a.) Manfaat Teoritis
menambah pengetahuan bagi pembaca tentang studi analisis ketidaksetaraan
gender,
menambah pengetahuan bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada
umumnya tentang penelitian karya sastra indonesia dengan tujuan sastra
feminis.
b.) Manfaat Praktis
menambah perbendaharaan kajian tentang sastra secara khusus dalam
permasalahan sastra dan sebagai bahan kajian terhadap masalah ketidaksetaraan
gender perempuan dalam karya sastra indonesia,
meningkatkan kemampuan penulis dalam melakukan penelitian yang berkaitan
dengan ketidaksetaraan gender dalam kajian sastra feminis,
memberikan acuan bagi penelitian yang akan datang yang terkait dengan
ketidaksetaraan gender.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Struktural Feminis
Metode analisis struktural karya sastra bertujuan untuk membongkar dan memaparkan
secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua
unsur karya sastra secara bersama-sama menghasilkan makna menyaluruh (Teeuw dalam
Suryabrata, 2004: 16-17).
Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua
bahan dan bagian yang terjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebukatan yang
indah (Abram dalam Nurgiyantoro, 2009:36). Struktur karya sastra juga menyaran pada
pengertian hubungan antarunsur (intrinsik) yang bersifat tibal balik, saling menentukan, saling
mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh.
B. Teori Feminisme
Feminisme lahir awal abad ke 20, yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya
yang berjudul A Room of One’s Own (1929). Secara etimologis feminis berasal dari kata
famme (woman), berarti perempuan yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaum
perempuan (jamak), sebagai kelas sosial.
Teori feminis sebagai alat kaum wanita untuk memperjuangkan hak-haknya, erat
berkaitan dengan konflik kelas ras, khususnya konflik gender. Dalam teori sastra kontemporer,
feminis merupakan gerakan perempuan yang terjadi hampir diseluruh dunia. Gerakan ini dipicu
oleh adanya kesadaran bahwa hak-hak kaum perempuan sama dengan kaum laki-laki.
Keberagaman dan perbedaan objek dengan teori dan metodenya merupakan ciri khas studi
feminis. Dalam kaitannya dengan sastra, bidang studi yang relevan, diantaranya : tradisi literer
perempuan, pengarang perempuan, pembaca perempuan, ciri-ciri khas bahasa perempuan,
tokoh-tokoh perempuan, dan sebagainya.
C. Aspek Feminis
Dalam pendidikan feminis dapat dikatakan berhasil jika aspek-aspek penting dalam
individu berubah. Aspek-aspek ini meliputi (1) Aspek kesadaran, (2) Aspek komitmen, (3)
Aspek politis dan (4) Aspek budaya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah variabel yang diteliti baik berupa peristiwa, tingkah laku,
aktivitas, atau gejala-gejala sosial lainnya (Maryadi,dkk. 2010: 13). Objek yang akan diteliti
dalam penelitian ini adalah ketidaksetaraan gender dalam cerpen Penguburan Kembali
Sitaresmi dengan tinjauan sastra feminis.
B. Data dan Sumber Data
1. Data
Data adalah sumber informasi yang akan diteliti sebagai bahan analisis (Siswantoro,
2010: 70). Menurut Moleong (2002: 6) dalam analisis deskriptif data yang dikumpulkan
berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Wujud data dalam penelitian ini adalah
wacana yang menujukkan aspek gender dalam cerpen Penguburan Kembali Sitaresmi karya
Triyanto Triwikromo.
2. Sumber Data
a.) Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data utama penelitian yang diperoleh tanpa lewat
perantara (Siswantoro, 2010: 54). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah cerpen
Penguburan Kembali Sitaresmi karya Triyanto Triwikromo yang diterbitkan dimajalah kompas
pada 1 Februari 2015.
b.) Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data yang lebih dahulu dikumpulkan orang di luar
penyidik, walaupun dikumpulkan itu adalah data asli (Surahmad dalam Siswantoro,2010: 54).
Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah cerpen Penguburan Kembali Sitaresmi karya
Triyanto Triwikromo.
C. Metode Penelitian (Kualitatif)
Ciri-ciri terpenting metode kualitatif:
1) Memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek,
yaitusebagai studi kultural.
2) Lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna
selalu berubah.
3) Tidak ada jarak antara subjek penelitian dengan objek penelitian, subjek penelitiian
sebagai instrument utama, sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya.
4) Desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.
5) Penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing.
D. Pendekatan Penelitian
Pendekatan adalah landasan atau prinsip dasar yang digunakan seseorang dalam
mengapresiasi sebuah karya sastra. Dalam mengapresiasi karya sastra seseorang memiliki
perbedaan dalam menggunakan prinsip atau dasar. Hal tersebut menciptakan pendekatan yang
berbeda. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengapresiasi tokoh dalam sebuah
karya sastra adalah pendekatan feminis pendekatan feminis adalah pendekatan yang mengkaji
tokoh wanita dan perannya dalam sebuah karya sastra terutama prosa fiksi. Pendekatan ini juga
menganalisis peran tokoh laki-laki terhadap wanita. Sementara itu, feminisme adalah suatu
gerakan wanita yang menuntut persamaan derajat antara pria dan wanita. Pendekatan feminis
berawal dari suatu paham feminisme.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengertian Feminisme
Feminis berasal dari kata ”Femme” (woman), berarti perempuan (tunggal) yang
berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial
(Ratna,2004: 184). Tujuan feminis menurut Ratna (2004: 184) adalah keseimbangan
interelasigender. Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak
segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan
yang dominan, baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya.
Menurut Djajanegara (2000: 27) kritik sastra feminis berawal dari hasrat para feminis
untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita pada masa silam dan untuk menunjukkan citra
wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang
berbagai cara ditekan, disalah tafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan.
Sholwalter (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005: 18) menyatakan bahwa dalam ilmu
sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang
mengarahkan fokus analisisnya pada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya
bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra Barat ialah laki-laki, kritik sastra
feminis menunjukkan bahwa perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman
sastranya.
Feminisme bukan merupakan upaya pemberontakan terhadap laki-laki, bukan upaya
melawan pranata sosial, budaya seperti perkawinan, rumah tangga, maupun bidang publik.
Kaum perempuan pada intinya tidak mau dinomorduakan, tidak mau dimarginalkan.
Analisis cerpen dengan kritik sastra feminis berhubungan dengan konsep membaca
sebagai perempuan, karena selama ini seolah-olah karya sastra ditujukan kepada pembaca laki-
laki, dengan kritik ini muncullah pembaharuan adanya pengakuan akan adanya pembaca
perempuan. Hal ini dapat dikatakan untuk mengurangi prasangka gender dalam sastra.
Dalam arti leksikal, feminisme ialah gerakaan wanita yang menuntut persamaan hak
sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-
laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial; atau kegiataan terorganisasi yang
memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita. Dalam pandangan studi kultural, ada lima
politik budaya feminis, yaitu :
feminis liberal, memberikan intensitas pada persamaan hak, baik dalam pekerjaan
maupun pendidikan,
feminis radikal, berpusat pada akar permasalahan yang menyebabkan kaum perempuan
tertindas, yaitu seks dan gender,
feminis sosialis dan Marxis, yang pertama memberikan intensitas pada
gender,sedangkan yang kedua pada kelas,
feminis postmodernis, gender dan ras tidak memiliki makna yang tetap, sehingga
seolah-olah secara alamiah tidak ada laki-laki danperempuan, dan
feminis kulit hitam dan non Barat dengan intensitas pada ras dankolonialisme (Ratna,
2005:228).
Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis,
yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Kritik sastra feminis bukan
berarti pengeritik wanita, atau kritik tentang wanita, atau kritik tentang pengarang wanita. Arti
sederhana yang dikandung adalah pengeritik memandang sastra dengan kesadaran khusus;
kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan
kehidupan. Membaca sebagai wanita berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga
dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patrialkal, yang sampai sekarang masih
menguasai penulisan dan pembacaan sastra. Perbedaan jenis kelamin pada diri penyair,
pembaca, unsur karya dan faktor luar itulah yang mempengaruhi situasi sistem komunikasi
sastra.
Endraswara (2003: 146) mengungkapkan bahwa dalam menganalisis karya sastra
dalam kajian feminisme yang difokuskan adalah:
a. Kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra,
b. Ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan
dan aktivitas kemasyarakatan,
c. Memperhatikan faktor pembaca sastra, bagaimana tanggapan pembaca terhadap
emansipasi wanita dalam sastra.
Kolodny dalam Djajanegara (2000: 20-30) menjelaskan beberapa tujuan dari kritik
sastra feminis yaitu:
1) Dengan kritik sastra feminis kita mampu menafsirkan kembali serta menilai kembali seluruh
karya sastra yang dihasilkan di abad silam;
2) Membantu kita memahami, menafsirkan serta menilai cerita-cerita rekaan penulis
perempuan.
Kuiper (Sugihastuti dan Suharto, 2002:68) juga mengungkapkan tujuan penelitian
feminissastra sebagai berikut:
1) Untuk mengkritik karya sastra kanon dan untuk menyoroti hal-hal yang bersifat standar yang
didasarkan pada patriakhar;
2) Untuk menampilkan teks-teks yang diremehkan yang dibuat perempuan;
3) Untuk mengokohkan gynocritic, yaitu studi teks-teks yang dipusatkan pada perempuan, dan
untuk mengokohkan kanon perempuan;
4) Untuk mengeksplorasi konstruksi kultural dari gender dan identitas.
Sasaran penting dalam analisis feminis sastra sedapat mungkin berhubungan dengan
hal-hal sebagai berikut:
a. Mengungkap karya-karya penulis wanita masa lalu dan masa kini agar jelas citra wanita yang
merasa tertekan oleh tradisi. Dominasi budaya partikal harus terungkap secara jelas dalam
analisis.
b. Mengungkap tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria.
c. Mengungkapkan ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri
sendiri dalam kehidupan nyata..
d. Mengkaji dari aspek ginokritik, yakni memahami bagaimana proses kreatif kaum feminis.
Apakah penulis wanita akan memiliki kekhasan dalam gaya dan ekspresi atau tidak.
e. Mengungkap aspek psikoanalisa feminis, yaitu mengapa wanita, baik tokoh maupun
pengarang, lebih suka pada hal-hal yang halus, emosional, penuh kasih sayang dan sebagainya.
Selden (Pradopo, 1991:137) menggolongkan lima fokus sasaran pengkajian sastra
feminis:
1) Biologi, yang sering menempatkan perempuan lebih inferior, lembut, lemah, dan rendah;
2) Pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah
menstruasi, melahirkan, menyusui dan seterusnya;
3) Wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa sedangkan laki-lakimemilki
“tuntutan kuat”. Akibat dari semua ini akan menimbulkan stereotip yangnegatif pada diri
wanita, wanita sekedar kanca wingking.
4) Proses ketidaksadaran, secara diam-diam penulis feminis telah meruntuhkan otoritas laki-
laki. Seksualitas wanita besifat revolusioner, subversif, beragam, dan terbuka. Namun
demikian, hal ini masih kurang disadari oleh laki-laki.
5) Pengarang feminis biasanya sering menghadirkan tuntutan sosial dan ekonomi yang berbeda
dengan laki-laki.
B. Analisis Cerpen Pengburan Kembali Sitaresmi
Karakter (Penokohan) Stanton (2007:33) menyatakan bahwa karakter adalah biasanya
dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter menunjuk pada individu-individu yang
muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada pencampuran dari berbagai
kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip umum dari individu-individu. Nurgiyantoro
(2009:176-183) tokoh utama cerita dalam fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, antara
lain:
a. Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan
- Aku sebagai pencerita kejadian, perempuan itu adalah seorang yang terpaksa
membisu. Selama 50 tahun ia pun membisu dan sudah dianggap warga kampung
sebagai batu berlumut.
- Tokoh Aku sebagai perempuan yang peduli dan bijak.
- Sitaresmi adalah perempuan yang kuat, terbukti karena ia tidak mudah terbunuh pada
saat itu.
- 23 perempuan yang dibunuh.
b. Tokoh Antagonis
Regu Tembak dan serdadu yang kejih
c. Latar Waktu : 50 tahun silam lalu
d. Alur
Dua puluh empat perempuan yang dibunuh karena alasan yang tidak mendukung,
perempuan-perempuan tangguh pada masa itu yang dianggap lemah dengan mudahnya
dibunuh begitu saja. Yang mana 1 orang itu Sitaresmi sebagai dalang dan 23 perempuan
lainnya sebagai sinden. Sitaresmi perempuan yang rela berkorban, ketika melihat 3
teman sindennya tertembak. Pembunuhan tersebut dilakukan oleh Regu Tembak dan
serdadu yang melakukannya dengan kejih.perempuan sebagai tokoh aku yang peduli
dan bijak sudah menutupi kejadian selama 50 tahun dan dianggap sebagai batu
berlumut.
e. Tema
Pembantaian, prmbunuhan dan pengkuburan 24 perempuan.
f. Ketidakadilan Gender
Berdasarkan pendekatan feminisme dapat dianalisis bahwa konsep perempuan
dengan hubungan antar gender. Dimulai dari pembunuhan terhadap perempuan pada
masa itu. Dikarenakan 24 perempuan dianggap menghina Gusti Alloh terdapat pada
kutipan :
“Penabuh gamelan dan sinden selalu memainkan lakon Dewa Sampun Pejah,
mereka dikejar-kejar serdadu. Mereka dianggap antek Gerwani. Mereka dianggap
telah menghina Gusti Alloh”.
Pada tokoh perempuan disini dapat dilihat ironisnya perempuan itu, karena hal
itu mereka harus dibantai, dibunuh dan di kubur secara paksa. Disini terlihat jelas
bahwa lakon tersebut tidak ada hubungan dengan pembantaian terhadap 24 perempuan
tersebut. Terlihat juga pada masa itu alasan apapun bisa digunakan untuk membunuh
siapa pun. Terdapat pada kutipan :
“Tentu saja tidak ada. Akan tetapi pada Desember 1965 setiap alasan bisa
digunakan untuk membunuh siapa pun yang dianggap musuh. Kau bisa membunuh
orang-orang yang kau benci hanya dengan menuduh mereka sebagai tukang santet.
Kau bisa membunuh perempuan paling cantik dengan hanya menuduh dia sebagai
penyebar agama sesat”.
Terlihat bahwa pada masa itu ketidakadilan tidak diterapkan, orang yang
bersalah pun juga dapat ikutan terlibat seperti pada kasus cerpen tersebut. Hanya karena
membenci orang tersebut dan menuduhnya dengan alasan-alasan yang membuatnya
bersalah ia pun dapat dibunuh pada saat itu.
Bersyukurnya di hidup pada zaman sekarang keadilan dijunjung tinggi dengan
bukti yang kuat, serta setiap manusia memiliki hak atas dirinya, hak dimana ia terancam
ia dapat ditolong. Tidak seperti zaman 50 tahun silam lalu.
Tokoh aku yang membisu selama 50 tahun itu tidak bisa memberikan kebenaran
akan kasus yang sudah lama itu, dan pada akhirnya ia mengungkapkan semuanya,
karena diancam untuk meminum racun. Ia takut untuk mengatakan kebenaran yang
sebenarnya dan mencari aman untuk keselamatannya. Tetapi sangatlah sulit dipercaya
karena cerita dari tokoh aku sangat mustahil terjadi, orang yang tak terbunuh oleh
tembakan, walau akhirnya terbunuh juga. Untung saja ada orang yang mau
mempercayai akan cerita pada 50 tahun silam tersebut.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Feminis berasal dari kata feme (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang
untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. Dalam
hubungan ini perlu dibedakan antara male dan female (sebagai aspek perbedaan biologis,
sebagai hakikat alamiah), masculine dan feminine (sebagai aspek perbedaan psikologis dan
kultural). Dengan kata lain male-female mengacu pada seks, sedangkan masculine-feminine
mengacu pada jenis kelamin atau gender, sebagai he dan she ( Seldon, 1986:132).
Tujuan feminis menurut Ratna (2004: 184) adalah keseimbangan interelasigender.
Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak segala sesuatu
yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan,
baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya.
Dalam menilai karya sastra, cara yang sering dipakai adalah analisa secara tekstual.
Salah satu bentuk yang lain yang juga digunakan dalam memahami karya sastra adalah analisis
tekstual feminis. Analisis tekstual feminis mengandung dua hal yang penting yaitu analisis
tekstual dan analisis feminis.
B. Saran
Dengan adanya pembahasan-pembahasan diatas, semoga dapat menambah
pengetahuan tentang Ilmu Teori Sastra khususnya dalam kajian Feminisme. Pada akhirnya
apabila dalam pembahasan tersebut masih ada kekurangan, pemulis harapkan adanya kritik
yang sifatnya membangun, guna memperbaiki pembahasan-pembahasan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ratna, Nyoman Khuta. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.
Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Triwikromo, Triyanto. 2015. Penguburan Kembali Sitaresmi. Cerpen Kompas.