Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

MOLOSKUM KONTAGIOSUM

Oleh:

Merina Selvira Y, S.Ked

H1AP12017

Pembimbing:

dr. Sabrina YST

BAGIAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BENGKULU

RUMAH SAKIT M. YUNUS BENGKULU

2018

1
PENDAHULUAN

Tahun 1817, jauh sebelum terjadi peningkatan kejadian moluskum kontagiosum, Bateman
pertama kali menjelaskan cairan seperti susu yang bisa didapatkan dari lesi karakteristik.
Henderson dan Paterson, 2 peneliti yang mempelajari moluskum kontagiosum selama 25
tahun, menggambarkan cairan seperti susu berasal dari jaringan selular. Baru kemudian kedua
peneliti ini menyadari bahwa mereka telah menemukan tanda badan inklusi intracytoplasmic, yang kemudian
dinamakan badan Henderson-Paterson (Badan moluskum). Sampai dengan awal abad ke-20, komunitas
medis tetap tidak yakin penyebab moluskum kontagiosum. Otoritas tertentu percaya bahwa papula
menyebabkan pembesaaran kelenjar sebasea, sementara yang lain mendalilkan bahwa
infestasi parasit menyebabkan lesi.Sebuah terobosan dalam studi moluskum kontagiosum terjadi pada
tahun 1905 ketika Julius burg menemukan dan mendokumentasikan sifat virus moluskum kantagiosum.

DEFINISI

Moluskum kontangiosum ialah penyakit disebabkan oleh virus pox, klinis berupa
papul – papul, pada permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum.

EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini terutama menyerang anak dan kadang – kadang juga orang dewasa.
Transmisinya melalui kontak kulit langsung dan autoinokulasi. Jika pada orang dewasa
digolongan dalam Penyakit akibat hubungan Hubungan Seksual (P.H.S.) yang ditularkan
melalui kontak membran mukosa. Kejadian moluskum kontangiosum sebagai penyakit yang
ditularkan secara seksual pada orang muda kini meningkat. Hal ini juga terlihat pada
penderita AIDS.

Insiden moluskum kontagiosum naik pada tahun 1960-1980 di Amerika Serikat. Dalam sebuah makalah
yang diterbitkan pada tahun 1984 di Klinik urologi Amerika Utara, Margolis dari Pusat Pengendalian dan
Pencegahan Penyakit melaporkan1 kasus moluskum kontagiosum terjadi untuk setiap 42-60 kasus
infeksi gonore.
.

2
Tingkat prevalensi dalam populasi terinfeksi HIV dilaporkan 5-18%. Pada pasien
yang terinfeksi HIV dan yang memiliki jumlah CD4+ kurang dari 100 sel / uL, prevalensi
moluskum kontagiosum dilaporkan setinggi 33%.

Mortalitas / Morbiditas
Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri pada orang yang imunokompeten,
tanpa ada komplikasi jangka panjang atau sequelae. Sebaliknya, pada pasien yang terinfeksi
HIV, infeksi moluskum kontagiosum dapat mengakibatkan deformitas kosmetik yang mencolok
dan memiliki efek merugikan yang signifikan pada psikologis. Meskipun superinfeksi dan selulitis
telah dilaporkan terjadi pada penderita HIV yang terinfeksi moluskum kontagiosum, tetap
tidak ada kematian yang dapat dikaitkan langsungdengan virus moluskum kontagiosum.

RAS
Tidak ada predileksi rasial.

Jenis kelamin
Insiden pada pria dilaporkan lebih besar dibandingkan dengan wanita, ini mungkin dikaitkan dengan pria yang
memiliki pasangan lebih dari satu .

Umur
Moluskum kontagiosum dapat terjadi pada semua kelompok umur tapi paling umum terjadi
pada anak-anak dan orang dewasa yang aktif secara seksual. Moluskum kontagiosum bisa
terjadi pada setiap usia pada pasien dengan immunocompromised

ETIOLOGI

Penyebab dari moluskum kontangiosum merupakan anggota dari kelompok pox-virus


yang tidak digolongan yaitu Virus Moluskum Kontangiosum. Virus ini belum dapat
ditularkan kepada hewan dan belum dapat ditumbuhkan pada biakan jaringan. Virus ini telah
dipelajari pada manusia dengan mikroskop elektron. Virus murni berbentuk lonjong atau
berbentuk bentuk – bata dan berukuran 230 x 330 nm, virus ini menyerupai vaksinia.
Antibodi terhadap virus ini tidak bereaksi silang dengan pox virus lainnya.

3
Meskipun virus moluskum kontangiosum belum dapat dibiakkan secara berturut –
turut dalam biakan sel, virus ini dapat menginfeksi sel manusia dan primata yang akan
mengakibatkan suatu infeksi yang abortif.

Terjadi pelepasan selubung dan dihasilkan inti, yang diikuti efek sitopatik sementara
yang khas. Perubahan seluler yang terjadi dapat disangka ditimbulkan oleh HSV (herpes
simpleks virus), karena itu bahan isolat yang dicurigai mengandung HSV harus diidentifikasi
secara khusus dengan metode imunologi. Pada tahun 1985, pada penelitian terhadap 137
bahan yang dibiakkan untuk HSV dengan menggunakan sel fibroblas manusia, 49
mengandung HSV, 6 lainnya menunjukkan efek sitopatik tetapi negatif untuk antigen HSV.
Mikroskop elektron memastikan adanya virus moluskum kontangiosum pada bahan yang
bersifat HSV – negatif tetapi berefek sitopatik positif tersebut.

4
Pox virus penyebab penyakit pada manusia

Genus Virus Inang primer Penyakit


Orthopoxvirus Variola Manusia Cacar (punah)
Vaksinia Manusia Untuk vaksinasi cacar
Cacar monyet Monyet Infeksi pada manusia jarang, penyakit
umum
Cacar sapi Sapi Infeksi pada manusia jarang, lesi borok
terlokaslisasi
Parapoxvirus Orf Biri – biri Infeksi pada manusia jarang, lesi
Nodus pemerah susu Sapi terlokalisasi
Tidak Moluskum Manusia Nodul kulit jinak yang banyak
digolongkan kontangiosum
Tanapox Monyet Infeksi pada manusia jarang, lesi
terlokalisasi
Yabapox Monyet Infeksi pada manusia amat jarang,
tumor kulit terlokalisasi

Sifat – sifat penting pox virus :

a. Virion : struktur kompleks, oval atau bentuk bata, permukaan luar memperlihatkan
lekukan, mempunyai inti dan badan lateral.
b. Komposisi : DNA (3%), protein (90%), lemak (5%)
c. Genom : DNA untai – ganda, linear dengan BM 85 – 150 juta, mempunyai lenkung
terminal, mempunyai kandungan guaninplus – sitosin (30-40%) keculai parapoxvirus
(63%)
d. Protein : virion mengandung lebih dari 100 polipeptida pada inti terdapat banyak
enzim, termasuk sistem transkripsi.
e. Selubung : selaput luar virion disintesis oleh virus, beberapa partikel mendapatkan
selubung tambahan dari sel (tidak diperlukan untuk menginfeksi)
f. Replikasi : “Pabrik Sitoplasma”
g. Karakter yang menonjol : virus terbesar dan paling kompleks, sangat resisten terhadap
inaktivasi. Cacar merupakan penyakit virus pertama yang dibasmi dari muka bumi

5
GEJALA KLINIS

Kelainan kulit yang sering dijumpai berupa papul miliar, kadang – kadang lentikular
dan berwarna putih seperti lilin, berbentuk kubah yang kemudian ditengahnya terdapat
lekukan (delle). Jika dipijat akan tampak ke luar massa yang berwarna putih seperti nasi.
Masa inkubasi penyakit ini 2 sampai 7 minggu. Pasien dengan moluskum kontagiosum
kebanyakan asimtomatis, beberapa mengeluh gatal, dan sakit. Beberapa berkembang eksema
disekitar lesi. Lokalisasi penyakit ini di daerah muka, badan dan ekstrimitas, sedangkan pada
orang dewasa di daerah pubis dan genitalia eksterna. Meskipun lesi khasnya berupa suatu
papul berbentuk kawah (delle), lesi pada daerah genital yang lembab dapat meradang akan
memborok dan dapat terkacaukan dengan lesi yang ditimbulkan oleh HSV.

6
7
PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI

Partikel virus mengadakan kontak ke permukaan sel kulit

Difagosit oleh sel Langerhans (makrofag)

Pelepasan inti virus ke sitoplasma

Pelepasan DNA dari inti virus

Replikasi DNA (2-5 jam) pabrik sitoplasma / badan inklusi

Hipertrofi sel
Morfogenesis virus (4-20jam)

Terbentuklah partikel virus yang baru (multiplikasi) keluar sel dan menginfeksi sel lain

Sel terinfeksi virus


Sel NK membunuh sel yang terinfeksi fagositosis oleh makrofag

CD4+ CD8+

Makrofag Penghancuran peptida virus

IL - 1 ↑↑ fagositosis

↑↑ proliferasi keratinosit granulomatosis

Hiperplasia keratinosit

papul – papul berbentuk kubah (delle)


(sifat poxvirus dengan virion bentuk – bata
dimana permukaan luar memperlihatkan
lekukan)

8
PENEGAKAN DIAGNOSIS

Anamnesis

Jika pasiennya anak - anak biasanya orang tua menjelaskan adanya eksposur dengan
anak-anak lain yang terinfeksi moluskum kontagiosum di sekolah, asrama, atau fasilitas rekreasi publik
(misalnya,tempat olahraga, kolam renang).

Dewasa yang imunokompeten, orang dewasa yang biasanya aktif secara seksual dan tidak
mengetahui bahwa pasangan mereka terinfeksi. Pada orang dewasa juga sering terjadi pada
orang yang memiliki banyak pasangan seksual dengan frekuensi hubungan seksual yang
meningkat.

Pemeriksaan fisk

Ditemukan ruam berupa papul millier, kadang- kadang lentikular dan berwarna putih
seperti lilin, berbentuk kubah yang kemudian direngahnya terdapat lekukan (delle). Jika
dipijat akan tampak massa yang berwarna putih seperti nasi. Biasanya dijumpai didaerah
muka, badan dan ekstrimitas, sedangkan pada orang dewasa di daerah pubis dan genitalia
eksterna. Kadang – kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga timbul supurasi.

Pemeriksaan penunjang

 Test Tzank
Pada pemeriksaan histopatologi di daerah epidermis dapat ditemukan badan moluskum
yang mengandung partikel virus diatas stratum basal.
Selain itu pada pemeriksaan histopatologik dijumpai hipertrofi dan hiperplasia dari
epidermis.

9
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

 Veruka

a. Veruka vulgaris : Terutama terdapat pada anak, tetapi juga terdapat pada dewasa dan
orang tua. Tempat predileksinya terutama di ektremitas bagian ekstensor, tetapi dapat
juga dibagian lain tubuh termasuk mukosa mulut dan hidung. Bentuknya bulat berwarna
abu-abu, besarnya lentikular atau kalau berkonfluensi berbentuk plakat, permukaan kasar
( verukosa ). Dengan goresan dapat timbul autoinokulasi sepanjang goresan.
b. Veruka plana juvenil : Besarnya milier, atau lentikuler, permukaan licin dan rata,
berwarna sama dengan warna kulit atau agak kecoklatan. Terutama dijumpai didaerah
muka dan leher, dorsum manus dan pedis, pergelangan tangan serta lutut, paling banyak
terdapat pada anak dan usia muda, walaupun dapat juga pada orang tua.
c. Veruka plantaris : Terdapat ditelapak kaki terutama di daerah yang mengalami tekanan.
Bentuknya berupa cincin yang keras dengan ditengah agak lunak dan berwarna
kekuning-kuningan. Permukaannya licin karena gesekan dan memberi rasa nyeri waktu
berjalan yang disebabkan oleh penekanan massa yang terdapat di daerah tengah cincin.

 Granuloma Piogenik

Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan
karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya solitair,
dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh
yang mengalami trauma. Mula – mula lesi berbentuk papul eritematosa dengan pembesaran
yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai ukuran 1 cm dan dapat bertangkai serta lesi mudah
berdarah

 Basal Cell Carsinoma BCC

Tumor ini umumnya ditemukan di daerah berambut, bersifat invasif ada yang bentuk
nodulus ( ulkus rodens). Bentuk ini pada tahap permulaan sangat sulit ditentukan malah dapat
berwarna seperti kutil, gambaran yang khas : tidak berambut, berwarna coklat (hitam), tidak
berkilat atau keruh, bila sudah berdiameter 0,5 cm sering ditemukan pada bagian pinggir

10
berbentuk papular, meninggi, anular, dibagian tengah cekung yang dapat berkembang
menjadi ulkus (ulcus rodent), pada perabaan terasa keras dan berbatas tegas

PENATALAKSANAAN

Prinsip pengobatan adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum.


Dapat dipakai alat seperti ekstraktor komedo, jarum suntik atau kuret. Cara lain dapat
digunakan elektrokauterisasi atau bedah beku dengan CO2, N2 dan sebagainya.

Pada orang dewasa harus juga dilakukan terapi terhadap pasangan seksualnya. Pada individu
yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang normal, moluskum kontagiosum akan sembuh
sendiri tanpa pengobatan dalam waktu beberapa bulan sampai tahun. Setiap satu lesi muncul
sampai 2 bulan tetapi untuk mencegah autoinokulasi atau kontak langsung, pengobatan dapat
berguna. Tujuan dari pengobatan adalah menghilangkan lesi. Obat-obatan topikal yang dapat
diberikan adalah anti virus, tretinoin krim 0,1% untuk menghambat pembentukan
mikrokomedo dan menghilangkan lesi, asam trikloroasetat untuk kauterisasi kulit, keratin dan
jaringan lainnya. Terapi sistemik dapat berupa pemberian antagonis histamine H2 untuk
mengatasi rasa gatal jika ada rasa gatal.

Edukasi Pasien

Menerangkan kepada pasien tentang sifat infeksi dan penularan penyakit untuk mengurangi transmisi
moluskum kontagiosum kepada orang lain, serta untuk menghindari infeksi ulang dimasa depan dan
meminimalkan autoinokulasi. Menyuruh pasien untuk menghindari menyentuh atau
menggaruk lesi karena bisa menimbulkan infeksi sekunder, tidak pinjam – meminjam barang
yang dapat terkontaminasi seperti handuk, baju dan sisir.

PENCEGAHAN

Pencegahan penyakit ini sulit karena banyaknya jalan untuk terjadinya infeksi
(pakaian, kolam renang, handuk, kontak seks, dll). Sekali sudah terdiagnosa penting sekali
bagi keluarga pasien untuk melakukan pemisahan pakaian penderita yang harus dicuci
dengan air mendidih hingga penyakit sembuh. Sudah tentu harus diperhatikan juga untuk
menghindari kontak dengan kelainan kulit ini dan bagi penderita orang dewasa untuk
menghindarkan terjadinya penularan seksual dengan melakukan upaya pencegahan.

11
KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS

Komplikasi yang sering terjadi pada penyakit ini yaitu terkena infeksi sekunder.

Dengan menghilangkan semua lesi yang ada, penyakit ini tidak atau jarang residif.
Biasanya prognosis penyakit ini baik karena merupakan penyakit “self limited”.
Penyembuhan spontan bisa terjadi pada orang – orang imunokompeten selama 18 bulan.

KESIMPULAN

Moluskum kontangiosum adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kelompok pox
virus yang tidak digolongkan, ditandai dengan adanya kelainan kulit berupa papul miliar,
kadang – kadang lentikular dan berwarna putih seperti lilin, berbentuk kubah yang kemudian
ditengahnya terdapat lekukan (delle). Jika dipijat akan tampak ke luar massa yang berwarna
putih seperti nasi. Masa inkubasi penyakit ini 2 sampai 7 minggu. Penyakit ini sering
asimtomatis walaupun pada beberapa orang mengeluh gatal dan sakit, umumnya sering
terjadi pada anak – anak kadang – kadang orang dewasa. Lokalisasi penyakit ini di daerah
muka, badan dan ekstrimitas, sedangkan pada orang dewasa di daerah pubis dan genitalia
eksterna. Penyakit ini bisa ditularkan melalui kontak kulit langsung, autoinokulasi dan kontak
membran mukosa.

Prinsip pengobatan pada moluskum kontangiosum adalah mengeluarkan massa yang


mengandung badan moluskum, ini bisa dilakukan dengan memakai alat ekstraktor komedo,
jarum suntik atau kuret, bisa juga dilakukan elektrokauterisasi dan bedah beku.

Prognosis pada penyakit ini umumnya baik pada pasien yang imunokompeten karena
penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya (spontan) walaupun membutuhkan waktu
beberapan bulan sampai bertahun – tahun.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi keempat. Jakarta : FK
UI

2. Siregar RS, Wijaya. 1996. Saripati Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : EGC
3. Wolff, Klaus. 2008. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine Seventh edition.
New York : Mc Graw Hill Medical
4. Jawetz, Ernest. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
5. Gawkrodger, David J. 2001. An illustrated Dermatology. China : RDC Gorup Limited

13