Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Data konsumsi baja di Kalimantan timur menurut KEKR (Kajian

Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Timur) pada triwulan III

tahun 2015 sebesar 19,30 juta US$. Menurut Kemenperin (2017) harga rata-rata

baja sebesar 325 US$/Ton. Berdasarkan kedua data di atas dapat diketahui

besarnya Jumlah konsumsi baja di Kalimantan Timur sekitar 59.384 ton pada

triwulan III tahun 2015.

Dalam proses pendistribusian minyak mentah (crude oil), sering dijumpai

adanya masalah yang dapat mengganggu aliran fluida yang melewati pipa,

khususnya pipa API 5L X-52 yang digunakan dalam aplikasi tersebut. Salah satu

problematika yang sering terjadi pada proses pendistribusian crude oil adalah

adanya brine water yang mengandung NaCl dan HCO3- yang tinggi serta adanya

gas CO2 yang terlarut. Adanya senyawa-senyawa tersebut pada pipa penyalur

crude oil dapat meningkatkan potensi korosi, ditambah lagi dengan adanya injeksi

gas CO2 pada sumur minyak dapat menyebabkan korosi CO2 pada pipa semakin

meningkat. Sehingga diperlukannya perawatan khusus untuk mencegah

permasalah tersebut guna mengurangi kerugian akibat penggunaan baja.

Proses korosi yang terjadi pada baja tidak dapat dihindari. Untuk

mengatasi korosi internal dari suatu produk, terutama pada industri minyak dan

gas serta industri kimia lainnya dibutuhkan metode yang tepat, salah satu cara

untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan inhibitor. Sejauh ini


penggunaan inhibitor merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk

mencegah korosi, karena biayanya yang relatif murah dan prosesnya yang

sederhana. Salah satunya kandungan estrak dari bahan alam yang dapat digunakan

menjadi inhibitor adalah tanin. Tanin dapat diperoleh dari hampir semua jenis

tumbuhan hijau di seluruh dunia baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tingkat

rendah dengan kadar dan kualitas yang berbeda- beda. Beberapa tumbuhan yang

memiliki kandungan tanin antara lain daun akasia (Malik et al., 2008 dalam

Nurkaromah, 2017), daun jambu biji (Amalia, 2016) dan Daun Sukun (Idris,

2016). Adanya kandungan tanin sekitar 13% hingga 22% (Malik et al., 2008

dalam Nurkaromah, 2017) di dalam daun akasia menjadikan tanaman ini dapat

dimanfaatkan untuk menghambat laju korosi dari baja. Daun akasia merupakan

limbah yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya wilayah Samarinda.

Sehingga dapat dijadikan sebagai inhibitor dengan memanfaatkan kandungan

tanin.

1.2 Rumusan Masalah

Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ahmadi dkk (2016)

menggunakan bahan baku baja API 5L X-52 dengan ekstrak tembakau sebagai

inhibitor dalam media Artificial Braine Water, variabel yang divariasikan adalah

konsentrasi inhibitor, dengan menggunakan metode uji polarisasi Tafel dan EIS,

diperoleh penurunan optimum laju korosi terjadi pada penambahan 60 ppm

ekstrak tembakau pada larutan ABW 1 sebesar 8.95 mpy dan ABW 2 sebesar 9.87

mpy. Dengan peningkatan optimum efisiensi inhibis terjadi pada penambahan 60

ppm ekstrak tembakau, untuk larutan ABW 1 sebesar 79,51% dan ABW 2 sebesar
80,94%. Efisiensi inhibis mulai mengalami penurunan kembali pada penambahan

80 ppm, untuk larutan ABW 1 sebesar 42,32% dan ABW 2 sebesar 68,71%.

Penelitian serupa yang dilakukan oleh Nuraini dkk (2016) menggunakan baja API

5 grade B dengan inhibitor imidazoline salt dalam media brine water, variabel

yang divariasikan adalah konsentrasi inhibitor 3-40 ppm untuk pengujian

polirisasi dan variasi 3-20 ppm untuk pengujian EIS. Metode yang digunakan

adalah pengujian polarisasi Tafel, FTIR (Fourier Transfrom Infrared

Spectroscopy) dan EIS (Electrochemical Impedance Spectroscopy). Penambahan

inhibitor imidazoline salt antara 3 – 20 ppm secara efektif dapat menurunkan nilai

laju korosi dan meningkatkan efisiensi inhibitor hingga 95%.

Dari kedua jurnal penelitian diatas, dapat diketahui penambahan

inhibitor antara 3 – 20 ppm menghasilkan efisiensi sebesar 95% sudah dikatakan

baik, namun inhibitor yang digunakan anorganik imidazoline salt relatif mahal

dalam penggunaan yang banyak. Sementara itu penambahan inhibitor organik

ekstrak tembakau yang digunakan relatif murah dalam penggunaan yang banyak ,

dimana penambahan inhibitor antara 60 - 80 ppm menghasilkan efisiensi sebesar

80,94% - 68,71% bisa dikatakan mengalami penurunan karena variasi yang

digunakan kurang efesien . Secara umum efisiensi inhibisi yang bagus mencapai

90-95 % (Roberge, 1999) dan berdasarkan pengelompokkan laju korosi

dikategorikan sangat bagus yaitu kurang dari 5 mpy (Fontana, 1987).

Berdasarkan kedua referensi maka akan dilakukan penelitian serupa

dengan menggantikan bahan inhibitor yang digunakan yaitu ekstrak daun akasia

serta penambahan variasi konsentrasi inhibitor untuk mengetahui kemampuan


inhibitor tersebut dalam menghabat laju korosi pada baja API 5L X-52 dalam

media Artificial Braine Water.

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi

daun Akasia terhadap penghambatan laju korosi pada baja API 5L X-52 dalam

medium Artificial Brine Water.

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai referensi industri dalam

menangani korosi khususnya industri yang menggunakan sistem perpipaan bawah

laut sehingga dapat mengurangi biaya kerugian akibat korosi dan memanfaatkan

daun Akasia menjadi lebih ekonomis.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Korosi

Korosi adalah proses perusakan material yang disebabkan oleh pengaruh

lingkungan sekitarnya, dimana yang dimakud lingkungan sekitarnya dapat berupa

lingkungan asam, udara, embun, air laut, air danau, air sungai (Murabbi &

Sulistijono, 2012). Adapun proses korosi yang terjadi disamping oleh reaksi kimia

juga diakibatkan oleh proses elektrokimia yang melibatkan perpindahan elektron-

elektron, entah dari reduksi ion logam maupun pengendapan logam dari

lingkungan sekitar. Semua logam menunjukkan kecenderungan untuk mengalami

oksidasi, beberapa logam lebih mudah teroksidasi dari logam lain. (Fontana,

1987).

Korosi merupakan proses yang terjadi secara alami dan tidak akan bisa

berhenti selama logam tersebut masih berada di lingkungan yang bersifat korosif.

Proses ini akan merusak logam dengan cara mengikis logam yang kemudian akan

menurunkan sifat – sifat mekanis yang dimiliki oleh logam tersebut. Korosi pada

logam adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi proses tersebut dapat

diminimalisir dengan proses proteksi atau mengendalikan laju korosi (Gumelar,

2011).

Syarat terjadinya korosi adalah adanya bahan yang berperan sebagai anoda

dan katoda sehingga terjadi perbedaan nilai potensial, elektrolit sebagai

penghubung pertukaran elektron dan kontak antar logam. Proses korosi


dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu adanya zat terlarut seperti oksigen dan

karbondioksida, suhu, kelembapan udara, pH, dan jenis logam (Gapsari, 2017).

Secara umum mekanisme korosi yang terjadi di dalam suatu larutan

berawal dari logam yang teroksidasi di dalam larutan dan melepaskan elektron

untuk membentuk ion logam yang bermuatan positif. Larutan akan bertindak

sebagai katoda dengan rekasi yang umum terjadi adalah pelepasan H2 dan reduksi

O2, akibat ion H+ dan H2O yang tereduksi. Reaksi ini terjadi di permukaan logam

yang akan menyebabkan pengelupasan akibat pelarutan logam ke dalam larutan

secara berulang-ulang (Hakim, 2011).

Mekanisme korosi yang terjadi pada logam besi (Fe) sebagaimana

dituliskan dalam Hakim (2011) adalah sebagai berikut :

Fe(s) + H2O(l) + ½ O2(g) → Fe(OH)2(s)......................... (2.1)

Fero hidroksida (Fe(OH)2) yang terjadi merupakan hasil sementara yang dapat

teroksidasi secara alami oleh air dan udara menjadi ferri hidroksida (Fe(OH)3),

sehingga mekanisme reaksi selanjutnya adalah :

4Fe(OH)2(s) + O2(g) + 2H2O(l) → 4Fe(OH)3(s)............... (2.2)

Ferri hidroksida yang terbentuk akan berubah menjadi Fe2O3 yang berwarna

merah kecoklatan yang biasa kita sebut karat. Reaksinya adalah :

2Fe(OH)3 → Fe2O3.xH2O........................................ (2.3)

2.1.1 Faktor-Faktor Penyebab Korosi

Beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses korosi

antara lain, yaitu :


a. Suhu

Kenaikan suhu akan menyebabkan bertambahnya kecepatan

reaksi korosi. Hal ini terjadi karena makin tinggi suhu maka energi kinetik

dari partikel-partikel yang bereaksi akan meningkat sehingga melampaui

besarnya harga energi aktivasi dan akibatnya laju kecepatan reaksi (korosi)

juga akan makin cepat, begitu juga sebaliknya (Fogler, 1992).

b. Kecepatan alir fluida atau kecepatan pengadukan

Laju korosi cenderung bertambah jika laju atau kecepatan aliran

fluida bertambah besar. Hal ini karena kontak antara zat pereaksi dan

logam akan semakin besar sehingga ion-ion logam akan makin banyak

yang lepas sehingga logam akan mengalami korosi (Kirk dan Othmer,

1965).

c. Komponen ion larutan dan konsentrasinya

Konsentrasi larutan menyatakan jumlah zat terlarut dalam setiap

satuan larutan atau pelarut. Dalam sebuah larutan dengan konsentrasi

tertentu, zat penyusun larutan tersebut akan terurai menjadi ion-ion (baik

berupa kation maupun anion) pembentuknya. Ion-ion ini akan menjadikan

larutan mampu menghantarkan muatan listrik yang terdistribusi di dalam

larutan tersebut. Sehingga di dalam larutan tersebut ini akan menghasilkan

nilai konduktivitas dimana nilai konduktivitas ini sebanding dengan

konsentrasi zat yang terlarut didalam larutan. Konduktivitas dari suatu

larutan elektrolit yang menghubungkan antara anoda dan katoda ini akan
menentukan kecepatan dari reaksi elektrokimia tersebut. Larutan dengan

konduktivitas yang baik akan mengakibatkan reaksi korosi berlangsung

dengan cepat sehingga akan meningkatkan laju korosi (Hakim, 2011).

d. Faktor Gas Terlarut

Oksigen (O2)

Adanya oksigen yang terdapat di dalam udara dapat bersentuhan dengan

permukaan logam yang lembab. Sehingga kemungkinan menjadi korosi

lebih besar, di dalam air (lingkungan terbuka), adanya oksigen

menyebabkan korosi (Djaprie, 1995).

Reaksi korosi secara umum pada besi karena adanya kelarutan oksigen

adalah sebagai berikut :

Fe  Fe2+ + 2e- ……….…….............………… (2.4)

O2 + 2H2O + 4e-  4OH-……….……………… (2.5)

Karbondioksida (CO2)

Jika karbondioksida dilarutkan dalam air maka akan terbentuk asam

karbonat yang dapat menurunkan pH air dan meningkatkan korosifitas,

biasanya bentuk korosinya berupa pitting yang secara umum reaksinya

adalah :

CO2 + H2O  H2CO3 ….................………… (2.6)

Fe + H2CO3  FeCO3 + H2 ….........………… (2.7)

e. Waktu kontak

Aksi inhibitor diharapkan dapat membuat ketahanan logam

terhadap korosi lebih besar. Dengan adanya penambahan inhibitor


kedalam larutan, maka akan menyebabkan laju reaksi menjadi lebih

rendah, sehingga waktu kerja inhibitor untuk melindungi logam menjadi

lebih lama. Kemampuan inhibitor untuk melindungi logam dari korosi

akan hilang atau habis pada waktu tertentu, hal itu dikarenakan semakin

lama waktunya maka inhibitor akan semakin habis terserang oleh larutan

(Uhlig, 1958).

2.1.2 Jenis-Jenis Korosi

Tipe-tipe korosi di lapangan pada umumnya diklasifikasikan sebagai

berikut:

a. Korosi Galvanik (Galvanic corrosion), yaitu korosi yang terjadi karena

terdapat hubungan antara dua logam yang disambung dan terdapat

perbedaan potensial antara keduanya.

b. Korosi Batar Butir (intergranular corrosion), merupakan jenis korosi yang

sangat merugikan, karena bentuk dari jenis korosi tidak dapat dilihat

secara langsung. Korosi ini hanya dapat dilihat melalui uji lab.

Intergranular corrosion disebabkan karena susunan kristal pada suatu

atom material mengalami kekosongan maka akan berakibat mudahnya

material mengalami korosi, hal ini disebabkan adanya difusi media korosi

logam yang meningkat sehingga media korosif dapat masuk ke dalam

grain boundary.

c. Korosi Sumuran (pitting corrosion), yaitu korosi yang berbentuk lubang-

lubang pada permukaan logam karena hancurnya film dari proteksi logam

yang disebabkan oleh chloride atau ion yang mengandung chlorine. Korosi
ini dapat dicegah dengan pemilihan material yang sesuai dan memiliki

ketahanan tinggi terhadap korosi.

d. Korosi Kavitasi, terjadi karena tingginya kecepatan cairan menciptakan

daerah-daerah bertekanan tinggi dan rendah secara berulang-ulang pada

permukaan peralatan dimana cairan tersebut mengalir. Maka terjadilah

gelembung-gelembung uap air pada permukaan tersebut yang apabila

pecah kembali menjadi cairan akan menimbulkan pukulan pada

permukaan yang cukup besar untuk memecahkan film oksida pelindung

permukaan akibtnya bagian permukaan yang tidak terlindungi terserang

korosi ( Gumelar, 2011).

e. Korosi Tegang (Stress corrosion cracking), yaitu korosi berbentuk retak-

retak yang tidak mudah terlihat, terbentuk di permukaan logam dan

berusaha merembet ke dalam. Ini banyak terjadi pada logam-logam yang

mendapat tekanan. Hal ini disebabkan kombinasi dari tegangan tarik dan

lingkungan yang korosif sehingga struktur melemah.

f. Korosi Erosi (Errosion corrosion), yaitu korosi yang terjadi karena

tercegahnya pembentukan film pelindung yang disebabkan oleh kecepatan

alir fluida yang tinggi, misalnya abrasi pasir.

g. Korosi Celah (Creive corrosion), yaitu korosi yang terjadi di sela-sela

gasket, sambungan bertindih, sekrup-sekrup atau kelingan yang terbentuk

oleh kotoran-kotoran endapan atau timbul dari produk-produk karat

(Halimatuddahliana, 2003).
2.1.3 Penghambatan Korosi

Penghambatan korosi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu

(Gumelar, 2011) :

a. Metode Design

Prinsip dasar metode pemilihan material atau biasa disebut

metode design adalah memilih material sesuai dengan kondisi

lingkungan dimana material tersebut akan diaplikasikan. Metode ini

erat kaitannya dengan potensial galvanik dari logam yang digunakan.

b. Coating

Coating adalah proses pelapisan permukaan logam dengan

cairan atau serbuk, yang akan melekat secara kontinyu pada logam yang

akan dilindungi, setelah melalui proses solidifikasi memberikan lapisan

pelindung sehingga logam terisolasi dari lingkungannya yang korosif.

Coating biasa diberikan pada seluruh permukaan logam sehingga reaksi

antara permukaan logam dengan lingkungan mengalami penghambatan.

Pelapisan yang paling umum digunakan adalah dengan cat. Cat yang

digunakan biasanya merupakan bahan organik yang tidak dapat larut

yang disebut pigmen dengan partikel pengangkut cair. Pigmen biasanya

terdiri dari logam oksida TiO2, PbO3, Fe2O3, dan lainnya. Sementara zat

pengangkutnya berupa minyak nabati yang jika mengalami kontak

dengan udara akan teroksidasi dan terpolimerisasi menjadi zat padat.


c. Proteksi katodik

Proteksi katodik adalah teknik yang digunakan untuk

mengendalikan korosi pada permukaan logam dengan menjadikan

permukaan logam tersebut sebagai katoda dari sel elektrokimia.

Proteksi katodik meliputi aplikasi pemberian arus searah (DC) dari

sumber eksternal untuk melindungi logam terhadap serangan korosi,

dengan memberikan elektron untuk mencegah ionisasi logam menjadi

elektro bebas yang menyebabkan logam tersebut mudah beraksi.

d. Inhibitor

Inhibitor adalah zat kimia yang jika ditambahkan dalam

konsentrasi kecil pada suatu lingkungan, secara efektif dapat

menurunkan laju korosi. Mekanisme kerja inhibitor dapat dibedakan

menjadi 4 sebagai berikut :

i. Inhibitor teradsorbsi pada permukaan logam, dan membentuk

suatu lapisan tipis dengan ketebalan beberapa molekul inhibitor.

Lapisan ini tidak dapat dilihat oleh mata biasa, namun dapat

menghambat penyerangan lingkungan terhadap logamnya.

ii. Melalui pengaruh lingkungan (misal pH) menyebabkan inhibitor

dapat mengendap dan selanjutnya teradsorbsi pada permukaan

logam serta melindunginya terhadap korosi. Endapan yang terjadi

cukup banyak, sehingga lapisan yang terjadi dapat teramati oleh

mata.
iii. Inhibitor lebih dulu mengkorosi logamnya dan menghasilkan

suatu zat kimia yang kemudian melalui peristiwa adsorbsi dari

produk korosi tersebut membentuk suatu lapisan pasif pada

permukaan logam.

iv. Inhibitor menghilangkan kontituen yang agresif dari

lingkungannya.

2.1.4 Zat Inhibitor Korosi

Korosi dapat dikurangi dengan berbagai macam cara, cara yang paling

mudah dan paling murah adalah dengan menambahkan inhibitor ke dalam media.

Inhibitor adalah senyawa kimia yang bila ditambahkan dengan konsentrasi yang

kecil ke dalam lingkungan elektrolit, akan menurunkan laju korosi. Inhibitor dapat

dianggap merupakan katalisator yang memperlambat (retarding catalyst).

Pemakaian inhibitor dalam suatu sistem tertutup atau sistem resirkulasi, pada

umumnya hanya dipakai sebanyak 0,1 % berat (Haryono, dkk., 2010).

Secara garis besar inhibitor berperan sebagai pengkondisi lingkungan

(environmental conditioner) atau sebagai inhibitor antarmuka (interface

inhibitor). Inhibitor yang berperan sebagai environmental conditioner akan

mengendalikan spesies aktif korosi dalam sebuah media. Interface inhibitor

mengendalikan korosi dengan membentuk lapisan (film) pada antarmuka logam

dengan lingkungannya. Ada dua jenis interface inhibitor yang berfasa cair dan

fasa uap. Inhibitor berfasa cair dapat berperan sebagai inhibitor anodik, katodik,

maupun gabungan (Gapsari, 2017).


Inhibitor korosi dapat bekerja mengurangi laju korosi dengan berbagai

cara. Salah satunya adalah melalui proses adsorpsi pada permukaan logam. Proses

tersebut dapat mengurangi laju korosi dengan cara menaikkan atau menurunkan

reaksi anodik/katodik, menurunkan laju difusi reaktan ke permukaan logam dan

menurunkan resistensi elektrik dari permukaan logam. Proses adsorpsi senyawa

organik pada permukaan logam dapat dijelaskan dengan 2 tipe interaksi, yaitu

adsorpsi fisika (fisisorpsi) dan adsorpsi kimia (kemisorpsi).

Adsorpsi fisika terjadi karena adanya perbedaan energi atau gaya tarik

bermuatan listrik (gaya Van der Waals). Terjadi ikatan secara fisik antara molekul

adsorbat dengan molekul adsorbent. Pada fisisorpsi akan menjadi multilayer,

karena masing-masing molekul membentuk lapisan diatas lapisan sebelumnya,

sesuai dengan konsentrasi yang digunakan. Fisisorpsi tidak spesifik, molekul yang

terserap bebas menutupi seluruh permukaan, dan menyerupai proses kondensasi,

terjadi pada suhu rendah dengan adsorpsi yang relatif rendah dibandingkan

kemisorpsi, dan bersifat reversible Adsorpsi kimia biasanya terjadi karena ikatan

kimia antara adsorben dengan zat yang teradsorpsi (adsorbat) dan bersifat

spesifik, molekul hanya terserap pada tempat-tempat tertentu saja. Adsorpsi ini

terjadi lebih besar dan lebih panas dibandingkan dengan fisisorpsi. Biasanya

adsorpsi pada suhu tinggi. Adanya ikatan kimia menyebabkan terbentuk lapisan

pada permukaan adsorbent. Jika semakin bertambah ikatan kimia maka adsorben

akan jenuh dan tidak dapat menyerap zat lainnya, dan bersifat irreversible

(McCafferty, 2009 dalam Gapsari, 2017).


Inhibitor dalam bagaimana mekanisme inhibitor tersebut bekerja dapat

dibedakan menjadi 5 jenis yaitu (Roberge, 1999) :

a. Inhibitor Anodik

Inhibitor anodik membuat logam menjadi terpolarisasi ke arah anodik

sehingga berada pada daerah pasif yang membuat suatu lapisan pasif di

permukaan logam sehingga laju korosi dapat menurun. Terdapat dua tipe

inhibitor anodik, yakni :

i. Oxidizing anions, seperti kromat, nitrat, dan nitrit yang dapat

membuat lapisan pasif di permukaan baja.

ii. Non-oxidizing ions, seperti fosfat, tungsten, dan molybdate yang

membutuhkan keberadaan oksigen agar dapat membuat lapisan pasif

di permukaan baja.

b. Inhibitor Katodik

Inhibitor jenis ini bekerja dengan menghambat reaksi katodik suatu logam

akibat pembentukan suatu persipitat di wilayah katoda yang dapat

meningkatkan impedansi permukaan sekaligus membatasi reaksi reduksi

untuk melindungi logam tersebut. Perlindungan terjadi akibat penghambatan

reaksi reduksi yang terjadi di katoda sehingga otomatis reaksi di anoda juga

berkurang atau terhambat karena reaksi yang terjadi di anoda dan katoda

berjalan setimbang dan spontan.

Inhibitor katodik adalah senyawa kimia yang mengendalikan korosi dengan

cara menghambat salah satu tahap dari proses katodik , misalnya

penangkapan gas oksigen (oxygen scavenger) atau pengikatan ion-ion


hidrogen. Contoh inhibitor katodik adalah hidrazin, tannin, dan garam sulfit

(Sunarya dan Setiabudi, 2007).

Dari inhibitor katodik ini terbagi menjadi tiga jenis yaitu :

i. Racun katoda, jenis yang menghambat reaksi evolusi hidrogen.

ii. Persipitat katoda, jenis yang dapat mengendap membentuk oksida sebagai

lapisan pelindung pada logam.

iii. Oxygen scavenger, jenis yang dapat mengikat oksigen terlarut sehingga

mencegah reaksi reduksi oksigen pada katoda.

c. Inhibitor Presipitasi

Inhibitor jenis ini bekerja dengan membentuk persipitat yang relatif porous,

tebal dan kurang kuat melekat pada logam. Lapisan ini terbentuk di seluruh

permukaan logam yang berperan sebagai lapisan pelindung untuk

menghambat reaksi anodik dan katodik logam tersebut secara tidak langsung.

d. Inhibitor Organik

Inhibitor organik, biasanya dirancang sebagai pembentuk lapisan/film,

melindungi logam dengan membentuk suatu lapisan/film hidrofobik pada

permukaan logam. Keefektifannya bergantung pada susunan kimia, struktur

molekul dan afinitasnya terhadap permukaan logam. Karena pembentukan

lapisan/film adalah suatu proses adsorpsi, suhu dan tekanan merupakan faktor

yang penting. Inhibitor organik akan diadsorpsi berdasarkan muatan ion

inhibitor tersebut dan muatan pada permukaan logam. Inhibitor kationik,

seperti amina – amina, atau inhibitor anionik, seperti sulfonat – sulfonat akan

diadsorpsi lebih dahulu bergantung apakah logam bermuatan negatif atau


positif. Kekuatan ikatan adsorpsi adalah faktor yang dominan untuk inhibitor

organik yang larut dalam air.

Inhibitor organik membentuk suatu lapisan/film protektif molekul – molekul

teradsorpsi pada permukaan logam, yang menjadi suatu penghalang pada

pelarutan logam di dalam larutan elektrolit. Karena permukaan logam yang

tertutupi sebanding dengan konsentrasi inhibitor, konsentrasi inhibitor di

dalam larutan/medium adalah kritis.

Inhibitor organik yang efektif yang banyak digunakan adalah senyawa–

senyawa organik yang mengandung heteroatom seperti oksigen (O), nitrogen

(N), belerang (S), dan ikatan rangkap di dalam molekul–molekulnya yang

memfasilitasi adsorpsi pada permukaan logam. Pada umumnya inhibitor

organik dapat menginhibisi seluruh permukaan logam yang terpapar dalam

lingkungan korosif bila konsentrasinya memadai.

Efisiensi inhibisi senyawa–senyawa organik adalah berkaitan dengan sifat –

sifat adsorpsinya. Senyawa–senyawa yang mengandung nitrogen (N) dan

belerang (S) adalah penting karena senyawa–senyawa ini sering memberikan

inhibisi yang sangat baik dibandingkan dengan senyawa–senyawa yang hanya

mengandung nitrogen atau belerang saja.

e. Volatile Corrosion Inhibitor

Inhibitor jenis ini bekerja dengan menurunkan tingkat korosifitas lingkungan

dari suatu logam yang ingin dilindungi berada sebagai senyawa yang

dialirkan melalui lingkungan tertutup menuju lingkungan korosif tersebut


dengan cara penguapan dari sumbernya. Inhibitor jenis ini yang sering

digunakan morpholine, hydrazine pada boiler.

Senyawa tersebut dialirkan sebagai uap untuk mencegah korosi pada bagian

condenser tubes untuk menetralkan suasana asam dan menggeser pH

kesuasana yang tidak terlalu asam. Pemakaian yang efisien dari inhibitor dari

jenis ini dapat menghasilkan proses inhibisi secara cepat dan dapat digunakan

untuk jangka waktu yang lama.

2.1.5 Mekanisme Kerja Inhibitor

Mekanisme Inhibitor korosi baja adalah penurunan kualitas baja karena

terjadinya reaksi kimia atau elektrokimia, antara baja dengan lingkungannya, sebagai

contoh; apabila baja dicelupkan dalam air akan terlihat bagian baja yang terkorosi

(berkarat). Bagian baja yang terkorosi disebut anodik dan bagian baja yang tidak

terkorosi disebut katodik. Proses terbentuknya korosi dapat dijelaskan dalam gambar

1 dan reaksi kimia dibawah ini:

Sumber: Nugroho Fajar, 2015

Gambar 2.1 Korosi dari baja


Reaksi-reaksi elektrokimiawi terjadi dalam lingkungan netral

Pada anoda : Fe Fe2+ + 2e- (reaksi oksidasi)

Pada katoda : H2O + ½ O2+ 2e- 2OH- (reaksi reduksi)

Reaksi total : Fe + ½ O2+ H2O Fe2++ 2OH

Fe2++ 4OH- 2Fe(OH)

2Fe(OH) + ½ O2 2FeO (OH) H2O (2H2O+Fe3O4)

Dimana senyawa Fe3O4 merupakan produk karat. Sejumlah inhibitor

menghambat korosi melalui cara adsorpsi untuk membentuk suatu lapisan tipis

yang tidak nampak dengan ketebalan beberapa molekul saja, ada pula yang karena

pengaruh lingkungan membentuk endapan yang nampak dan melindungi logam

dari serangan yang mengkorosi logamnya dan menghasilkan produk yang

membentuk lapisan pasif, dan ada pula yang menghilangkan konstituen yang

agresif. Sementara itu mekanisme inhibitor anodik dalam mempertahankan

lapisan pasif dapat dilihat pada Gambar 2.2 Pada Gambar 2.2 (a) terlihat korosi

terjadi pada bagian selaput oksida yang terkelupas. Selaput pelindung kemudian

akan bertindak sebagai katoda, sedangkan logam yang tersingkap sebagai anoda.

Kemudian anion dalam inhibitor anodik bereaksi dengan ion logam dalam larutan

dan menutup bagian yang bersifat anodik, sehingga laju korosi menjadi terhenti

kembali ditunjukkan pada Gambar 2.2 (b).


Sumber : (Trethewey, 1991 dalam Nugroho Fajar, 2015 )

Gambar 2.2 Efek konsentrasi terhadap inhibitor anodik pada laju korosi

2.1.6 Daun Akasia

Tumbuhan akasia adalah jenis tumbuhan yang sering dikenal dan di sebut

dengan pohon berduri, karena memiliki duri yang banyak dan berjarak di bagian

batangnya. Kemudian daun akasia berbentuk majemuk, saling berhadap lonjong,

pertulangan menyirip, bagian tepi merata, berwarna hijau hingga tua. Daun juga

memiliki getah yang kental berwana keputihan hingga kecoklatan, getah memiliki

kandungan tannin yang dapat dimanfaatkan dibidang kesehatan dan industri. Daun

aksia sebagian besar spesiesnya mengandung senyawa Alkanoid, Flavonoid,

Steroid, Saponin dan Fenolik (Setyningrum et al., 2017)

Gambar 1. Daun Akasia


Taksonomi Tanaman Akasia

Klasifikasi taksonomi tumbuhan akasia menurut Natural Resources and

Conservation Service, USDA (2017) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (tumbuh- tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivision : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Division : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Subclass : Rosidae

Order : Fabales

Family : Fabaceae

Genus : Acacia

Spesies : Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Benth

2.1.7 Metode Pengukuran Laju Korosi

Metode kehilangan berat adalah metode pengukuran korosi yang paling

banyak digunakan. Kupon merupakan lempengan logam yang ditempatkan di

dalam sistem dan dibiarkan untuk terkorosi. Lempengan logam digunakan untuk

mengetahui laju korosi melalui metode kehilangan berat. Corrosion coupons

kemungkinan paling banyak digunakan untuk material konstruksi untuk

mendeteksi serangan permanen dari perubahan korosifitas. Lempengan logam

menggambarkan kerusakan korosi selama periode waktu dan hanya digunakan

pada kondisi dimana peningkatan laju korosi dapat diukur. Bentuk dan dimensi

lempengan logam dapat bervariasi sesuai persyaratan pengujian. Sebelum


lempengan logam diletakkan pada lingkungan pengujian selama periode tertentu,

maka produk korosi yang terbentuk sebelumnya harus dihilangkan. Metode

penghilangan produk korosi dapat dilakukan tanpa menyebabkan korosi lebih

lanjut (Pansori, 2015). Berdasarkan ASTM G31-72, persamaan untuk menghitung

laju korosi adalah sebagai berikut:

𝐾.𝑊
Laju korosi (CR) = 𝐷.𝐴.𝑇 ……….……………… (2.8)

Dimana:

K = konstanta (mpy = 534)

W = kehilangan berat (mg)

D = densitas (g/cm3)

A = luas permukaan yang terendam(in2)

T = waktu (jam)

Pembuktian rumus memperoleh nilai konversi satuan 534 dari persamaan laju

korosi adalah sebagai berikut:


mg
Laju korosi = g hari thn cm2 cm mg
x in2 x jam x x x x in x 1000 x 0,001 in/mil
cm3 24jam 365hari 0,155 in2 0,39370 g

1
thn mil mil
1
Laju korosi = 534,565 mil thn = 534,565 thn

Semakin tinggi nilai laju korosi menunjukkan cepat suatu logam terkorosi.

Satuan mpy paling umum digunakan untuk menghitung laju korosi, karena

menggunakan bilangan bulat kecil. Berikut beberapa penetrasi metrik yang setara:

𝑚𝑚 𝜇𝑚 𝑛𝑚 𝑝𝑚
1𝑚𝑝𝑦 = 0,0254 = 25,4 = 2,90 = 0,805
𝑦𝑟 𝑦𝑟 ℎ𝑟 𝑠𝑒𝑐
dimana milimeter (mm) adalah 10-3 meter ; mikrometer atau mikron (μm) adalah

10-6 meter ; nanometer (nm) adalah 10-9 meter dan pikometer (pm) adalah 10-12

meter. Laju korosi pada material umumnya berkisar antara 1 sampai 200 mpy.

Tabel 2.1 memperlihatkan perbandingan satuan mpy dengan satuan lain. Dari

hasil perhitungan laju korosi, maka dapat diketahui ketahanan laju korosi relatif

sesuai dengan kriteria pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1 Comparison of MPY with equivalent metric-rate expressions


Relative Approximate metric equivalent
Corrosion Mpy
mm/yr μm/yr mm/h pm/s
Resistance

Outstanding <1 < 0,02 < 25 <2 <1

Excellent 1-5 0,02-0,1 25-100 2-10 1-5

Good 5-20 0,1-0,5 100-500 10-50 5-20

Fair 20-50 0,5-1 500-1000 50-150 20-50

1000-
Poor 50-200 1-5 150-500 50-200
5000

Unacceptable 200+ 5+ 5000+ 500+ 200+

Sumber : Fontana, 1987

Pengurangan berat sampel kupon besi dan laju korosi pada perendaman

kupon besi tanpa inhibitor jauh lebih besar dibandingkan pada kupon besi yang

menggunakan larutan inhibitor. Semakin besar konsentrasi larutan inhibitor yang

ditambahkan dalam media korosif. Mekanisme pembentukan kondisi optimal

terjadi ketika konsentrasi inhibitor yang larut didalam larutan semakin besar,
sehingga larutan menjadi jenuh, dan seluruh permukaan material pun telah

dilekati oleh molekul inhibitor (Samosir, 2011).

Sedangkan efisiensi inhibisi pada metode ini dapat ditentukan dengan

persamaan:

𝑅0 −𝑅
%𝐼𝐸 = × 100%....................................... (2.9)
𝑅0

Dimana: IE = Effisiensi Inhibitor (%)

R0 = Laju korosi blanko (mpy)

R = Laju korosi dengan tambahan inhibitor (mpy)

Secara umum, efisiensi inhibitor meningkat seiring dengan meningkatnya

konsentrasi inhibitor (misalnya, penghambat yang biasanya baik akan memberi

hambatan 95% pada konsentrasi 0,008% dan 90% pada konsentrasi dari 0,004%)

(Roberge, 1999). Efisiensi kinerja inhibitor terbesar terjadi saat permukaan

material sudah seluruhnya menyerap inhibitor yang terlarut (Samosir, 2011).

2.1.8 Baja Karbon API 5L Grade X52

Baja dapat didefinisikan sebagai paduan (alloy) yang mengandung besi

dan karbon dengan presentase perbandingan sebesar 0,02% dan 1,7%. Disamping

itu, baja juga mengandung unsur campuran lainnya seperti sulfur (S), fosfor (F),

silikon (Si), dan mangan (Mn) yang jumlahnya dibatasi (Munasir, 2009).

Baja secara umum diklasifikasikan menjadi 2 yaitu baja karbon dan baja

paduan, baja karbon dapat diklasifikasikan menjadi : (a) Baja karbon rendah (Low

Carbon Steel), (b) Baja karbon sedang (Medium Carbon Steel), (c) Baja karbon

tinggi (High Carbon Steel). Sedangkan baja paduan dapat didefinisikan sebagai
suatu baja yang dicampur dengan satu atau lebih campuran seperti nikel,

kromium, molibden, vanadium, mangan, dan wolfram yang berguna untuk

memperoleh sifat-sifat baja yang dikehendaki (keras, kuat dan liat) tetapi unsur

karbon tidak dianggap sebagai salah satu unsur campuran. Baja paduan terdiri dari

: (1) Low Alloy Steel dan (2) High Alloy Steel (Munasir, 2009).

Pipa API 5 L banyak digunakan dalam industri minyak dan gas baik onshore

maupun offshore. Maksud dari API 5 L X52 adalah

 API : American Petroleum Institute

 5 : Seri yang digunakan untuk Tubular Goods (ex: Casing, Tubing,

Pipeline)

 L : Line Pipe

 X52 : Salah satu grade yang berhubungan dengan sifat mekanik material

dan komposisi kimianya.

Tabel 2.2 Komposisi kimia baja API 5L X52

Kandungan
Kadar(%) Kandungan unsur kimia Kadar (%)
unsur kimia
C 0,1506 W 0,0013
Si 0,2368 Ti 0,0013
S 0,0028 Sn 0,0083
P 0,0156 Al 0,0402
Mn 0,6744 Pb -0,0004
Ni 0,0037 Nb 0,0015
Cr 0,0098 Zr -0,0001
Mo -0,0018 Zn 0,1816
V 0,0020 Fe 98,676
Cu 0,0055
Sumber: Ahmadi dkk, 2016
Baja API spesifikasi 5L grade X52 termasuk jenis baja karbon rendah

karena memiliki kandungan karbon sebesar 0,28% massa. Baja ini memiliki

komposisi kimia berupa C (0,28%), Mn (1,4%), T(0,04%). Baja API 5L grade

X52 termasuk kelompok baja karbon yang mengandung unsur mekanis dan

ketahanan terhadap korosi lebih baik dibanding baja konvensional lain.

2.1.9 Scanning Electron Microscope (SEM)

Scanning Electron Miscroscope adalah salah satu jenis mikroskop elektron

yang menggunakan berkas elektron untuk menggambarkan bentuk permukaan

dari material yang di analisa (Anggaretno, dkk, 2012).

Scanning Electron Miscroscope merupakan salah satu tipe mikroskop

elektron yang mampu menghasilkan resolusi tinggi dari gambaran suatu

permukaan sampel. Oleh karena itu gambar yang dihasilkan oleh Scanning

Electron Miscroscope mempunyai karakteristik secara kualitatif dalam dua

dimensi karena menggunakan elektron sebagai pengganti gelombang cahaya serta

berguna untuk menentukan struktur permukaan sampel. Scanning Electron

Miscroscope sangat cocok digunakan dalam situasi yang membutuhkan

pengamatan permukaan dengan pembesaran berkisar antara 20 kali sampai

500.000 kali (Anggraeni, 2008).

Scanning Electron Miscroscope atau mikroskop elektron ini memfokuskan sinar

elektron (electron beam) di permukaan objek dan mengambil gambar dengan

mendeteksi elektron yang muncul pada permukaan objek. Perbedaan tipe yang

berbeda dari Scanning Electron Miscroscope memungkinkan penggunaan yang

berbeda-beda antara lain untuk studi morfologi, analisis komposisi dengan


kecepatan tinggi, kekasaran permukaan, porositas, distribusi ukuran partikel,

homogenitas material atau untuk studi lingkungan tentang masalah sensitifitas

material (Cahyana, dkk, 2014)


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dimulai dari bulan Oktober sampai dengan bulan Desember

2018. Mengacu pada standar ASTM G31-72. Lokasi preparasi plat baja API 5L

X-52, analisa laju korosi dilakukan di Laboratorium Kimia Dasar Jurusan Teknik

Kimia Politeknik Negeri Samarinda dan analisa SEM dilakukan di gedung ADB

Politeknik Negeri Samarinda.

3.2 Rancangan Penelitian

A. Variabel Berubah

1. Konsentrasi daun Akasia : 0, 20, 40, 60, 100,150,200 ppm

B. Variabel Tetap

1. Jenis kupon baja = API 5L X-52

2. Volume media perendaman (ABW+ Inhibitor) = 1000 mL

3. Media perendaman = Artificial Brine Water

4. Waktu Perendaman = 14 hari

5. Dimensi uji = (7,6 x 1,9 x 0,03) cm

C. Variabel Respon

1. Laju Korosi (ASTM G31-72)

2. Foto Makro

3. Foto Mikro menggunakan SEM

4. XRD ( X-Ray Diffraction)

5. Uji Tarik
3.3 Alat dan Bahan

A. Alat

1. Blender

2. Corong plastik

3. Gelas Ukur 1000 ml

4. Gelas Kimia 2000 ml

5. Labu ukur 1000 ml

6. Neraca Digital

7. Oven

8. Pipet Tetes

9. Wadah sampel

10. Lidi

11. Benang Godam

12. Neraca analitik

13. Amplas 1000 mesh

14. Satu set Alat Destilasi

15. Kaca Arloji

16. Spatula

B. Bahan

1. Plat baja API 5L X-52

2. NaCl

3. NaHCO3
4. Aquadest

5. Daun Akasia

6. Ethanol

7. Amplas

8. Aseton

9. HCL

10. FeCl3
3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Diagram Alir Penelitian


Plat Baja API 5L X-52

Preparasi sampel

Blanko
Penimbangan massa awal

Persiapan media uji

inhibitor konsentrasi daun


Akasia 0, 20, 40, 60, 100,
150 dan 200 ppm

Perendaman selama 14 hari

Uji

Foto Makro Laju Korosi Analisa SEM Analisa XRD Uji Tarik

Hasil

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian


3.4.2 Prosedur Penelitian

3.4.2.1 Persiapan Plat Uji (ASTM G1-72, 2014)

1. Menyiapkan plat yang akan digunakan

2. Meratakan plat uji dengan menggunakan kertas amplas dengan ukuran

1000 mesh hingga permukaan plat benar-benar bersih dan halus

3. Memasukan plat ke dalam wadah berisi oli untuk menghindari kontak

langsung dengan udara yang dapat menyebabkan korosi

4. Mengambil plat yang ada dalam wadah berisi oli kemudian mencuci

bersih dan dilap hingga kering

5. Membersihkan plat dari kotoran yang menempel menggunakan HCl

pekat hingga beberapa detik, membilas plat menggunakan air mengalir

dan aseton lalu mengeringkan dengan oven selama 15 menit

6. Memberi penomoran pada masing-masing plat baik pada blanko

maupun sampel uji

7. Menimbang massa awal dari masing-masing plat menggunakan neraca

digital

3.4.2.2 Persiapan Inhibitor Ekstrak Daun Akasia

1. Menimbang serbuk daun akasia sebanyak 200 gram ke dalam gelas

kimia

2. Menambahkan 600 ml Etanol 96% dan aquadest 400 ml ke dalam

wadah kemudian mengaduk hingga homogen

3. Melakukan ekstraksi maserasi selama 2 x 24 jam


4. Menyaring hasil ekstraksi dengan menggunakan kertas saring untuk

memisahkan filtrat dan residu

5. Mendestilasi filtrat dengan menggunakan destilasi sederhana hingga

diperoleh ekstrak kental daun akasia

6. Menimbang massa ekstrak daun akasia yang diperoleh dengan

menggunakan neraca digital

7. Menyimpan ekstrak daun akasia yang diperoleh dalam gelas kimia

kemudian ditutup dengan alumunium foil.

3.4.2.3 Uji Kualitatif Kandungan Tanin Ekstrak Daun Akasia

1. Membuat larutan FeCl3 1% dengan cara menimbang padatan FeCl3

sebanyak 1 gram kemudian diecerkan dengan aqudes kedalam labu

ukur 100 ml hingga tanda batas.

2. Memipet ekstrak kental daun akasia kedalam gelas kimia 100 ml dan

direaksikan dengan larutan FeCl3 sebanyak 2-3 tetes.

3. Mengamati perubahan warna pada larutan.

3.4.2.4 Prosedur Pembuatan Larutan Artificial Brine Water

1. Menimbang sebanyak 10 gram padatan natrium klorida

2. Larutkan dalam 1 L Aquadest

3. Menambahkan 0,1 gram NaHCO3

4. Menghomogenkan larutan

3.4.2.5 Prosedur Uji Rendam Tanpa Inhibitor (Blanko)

1. Menyiapkan larutan Artificial Brine Water (NaCl 2% dan NaHCO3 0,2

gram) sebagai medium uji rendam dengan cara menimbang masing-


masing NaCl 2 gram dan NaHCO3 0,2 gram kemudian melarutkannya

dengan 1000 ml aquades ke dalam wadah yang telah di siapkan

2. Menyiapkan plat uji yang sudah dipreparasi

3. Mengaitkan benang yang telah terkait dengan plat uji di tengah-tengah

lidi

4. Memberikan nomor pada wadah untuk memudahkan pengamatan

5. Memasukkan 1000 mL larutan Artificial Brine Water menggunakan

gelas beker ke dalam wadah yang sudah disiapkan dan diberi kode

nomor

6. Merendam plat uji yang telah dikaitkan dengan benang dan lidi didalam

wadah medium korosi tanpa inhibitor sesuai dengan kode penomoran

7. Memasukkan lidi ke bagian sisi kanan dan kiri wadah yang telah

dilubangin agar plat uji tergantung dengan baik

8. Melakukan perendaman plat uji selama 14 hari

9. Mengeluarkan plat uji yang telah mengalami korosi dari medium

setelah waktu perendaman berakhir

10. Mencuci plat uji dengan air mengalir, mengeringkan, dan

membersihkan karat dengan amplas 1000 mesh hingga semua karat

hilang tanpa mengikis logam

11. Membersihkan plat uji dengan aseton dan aquades kemudian

mengeringkan plat uji menggunakan tisue

12. Menimbang massa akhir plat menggunakan neraca digital

13. Menghitung massa plat yang hilang (weight loss)


14. Menghitung laju korosi yang terjadi dengan standar ASTM G31-72

15. Menghitung efisiensi inhibisi dari inhibitor (Roberge, 1999)

3.4.2.6 Prosedur Uji Rendam Dengan Inhibitor Organik Ekstrak Daun

Akasia

1. Menyiapkan larutan Artificial Brine Water (NaCl 2% dan NaHCO3 0,2

gram) sebagai medium uji rendam dengan cara menimbang masing-

masing NaCl 2 gram dan NaHCO3 0,2 gram kemudian melarutkannya

dengan 1000 ml aquades ke dalam wadah yang telah di siapkan

2. Menyiapkan plat uji yang sudah dipreparasi

3. Mengaitkan benang yang telah terkait dengan plat uji di tengah-tengah

lidi

4. Memberikan nomor pada wadah untuk memudahkan pengamatan

5. Menambahkan ekstrak daun akasia sebanyak 0 mg ; 20 mg ; 40 mg ; 60

mg ; 100 mg ; 150 mg ; 200 mg ke dalam masing-masing wadah yang

sudah disiapkan dan sudah diisi dengan 1000 mL larutan Artificial

Brine Water, untuk konsentrasi 0 ; 20 ; 40 ; 60 ; 100 ; 150 ; 200 ppm

mengaduk larutan hingga homogen.

6. Merendam plat uji yang telah dikaitkan dengan benang dan lidi didalam

masing- masing wadah medium korosi sesuai dengan kode penomoran

7. Memasukkan lidi ke bagian sisi kanan dan kiri wadah yang telah

dilubangin agar plat uji tergantung dengan baik

8. Melakukan perendaman plat uji selama 14 hari


9. Mengeluarkan plat uji yang telah mengalami korosi dari medium

setelah waktu perendaman berakhir

10. Mencuci plat uji dengan air mengalir, mengeringkan, dan

membersihkan karat dengan amplas 1000 mesh hingga semua karat

hilang tanpa mengikis logam

11. Membersihkan plat uji dengan aseton dan aquades kemudian

mengeringkan plat uji menggunakan tisue

12. Menimbang massa akhir setiap plat menggunakan neraca digital

13. Menghitung massa plat uji yang hilang (weight loss)

14. Menghitung laju korosi yang terjadi dengan standar ASTM G31-72

15. Menghitung efisiensi inhibisi dari inhibitor (Roberge, 1999)


DAFTAR RUJUKAN

Arianti, D, C. 2011. Pengaruh Jenis Dan Kadar Ekstender Kulit Akasia (Acacia

mangium Willd) Terhadap Kualitas Papan Partikel Yang Dihasilkannya.

Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Djaprie, S. (1995). Ilmu dan Teknologi Bahan,ed.5,hal. 483-510. Erlangga:


Jakarta.

Fogler, (1992). Elements of Chemical ReactionEngginering , 2nd ed, Prentice –


Hall International. Inc, USA

Gapsari, Femiana. (2017). Pengantar Korosi. Malang: UB Press.

Gumelar, Agung Akhmad. (2011). Studi Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Teh


Rosella (Hibiscus Sabdariffa) sebagai Green Corrosion Inhibitor untuk
Material Baja Karbon Rendah Di Lingkungan NaCl 3,5 % pada
temperatur 50 Derajat Celcius. Depok: Teknik Metalurgi dan Material,
Fakultas Teknik Universitas IndonesiaFontana, Mars G. (1987).
Corrosion Engineering (3rd ed). New York: McGraw-Hill International
Editions.

Hakim, Alfin Al. (2011). Pengaruh Inhibitor Korosi Berbasiskan Senyawa


Fenolik untuk Proteksi Pipa Baja Karbon Pada Lingkungan 0.5, 1.5, 2.5,
3.5 % NaCl yang Mengandung Gas CO2. Depok: Teknik Metalurgi dan
Material, Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Halimatuddahliana. (2003). Pencegahan Korosi dan Scale pada Proses Produksi


Minyak Bumi. Sumatera: Universitas Sumatera Utara

Kirk and Othmer. (1965). Encyclopedia of Chemical Technology, 2nd ed., Vol.6,
p. 320, John Willey and Sons, New York,.
Mandang, Y dkk. 1997. Pedoman Identifikasi Daun di Lapangan. Yayasan Prosea.

Bogor.

Roberge, Pierre R. (1999). Handbook of Corrosion Engineering. New York: Mc


Graw-Hill Book Company.

Sunarya, Yayan, & Setiabudi, Agus. (2007). Mudah dan Aktif Belajar Kimia
untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan Alam. Bandung: PT Setia Purna Inves.

Uhlig, H. H., (1961). Corrosion Handbook, John Willey& Sons Inc., London.