Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi saat ini,
diharapkan dapat menuwujudkan pembangunan kesehatan dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi penduduk agar terwujud kesehatan
masyarakat yang optimal. Upaya pelayanan kesehatan masyarkat semula hanya berupa
penyembuhan saja, secara berangsurangsur berkembang sehingga mencakup upaya
peningkatan (promotif), upaya pencegahan (preventif), upaya penyembuhan (kuratif) dan
upaya pemulihan (rehabilitatif), yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan
dengan melibatkan peran serta masyarakat (Paradigma Sehat, 2000).

Menyikapi tentang hal ini pemerintah membuat program yang bertujuan meningkatkan
pelayanan prima guna menyongsong Indonesia Sehat 2010. Untuk menindak lanjuti hal
tersebut, perlu adanya perhatian yang serius mengenai empat aspek dalam meningkatkan
kesehatan yaitu : promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Keempat aspek tersebut
merupakan tanggung jawab dan tugas dari para pelayan kesehatan yang salah satunya
keperawatan.

1. LATAR BELAKANG

Bell’s palsy merupakan lesi pada nervus VII (n.fasialis) perifer, yang mengakibatkan
kelumpuhan otot-otot wajah, bersifat akut, dimana penyebabnya tidak diketahui dengan pasti
(idiopatik) (Thamrinsyam,1991).
Bell’s palsy sering terjadi dibandingkan dengan kelumpuhan saraf kranialis yang lain.
Kelumpuhan ini ditandai dengan mulut tertarik pada salah satu sisi. Penderita tidak dapat
mengangkat alis atau mengkerutkan dahi. Pada saat menutup mata, mengangkat sudut mulut,
menggembungkan pipi, bersiul dan mencibirkan bibir akan terjadi deviasi kearah yang sehat.
Sehingga menimbulkan kelainan bentuk-bentuk wajah yang menyebabkan penderita sangat
terganggu baik fungsional, kosmetik maupun psikologis (Widowati, 1993). Keadaan ini tidak
memiliki penyebab yang jelas, tapi dapat disebabkan oleh karena kedinginan pada muka,
infeksi telinga tengah, tumor pada intrakranial, fraktur pada os temporal, meningitis,
hemorhage, penyakit-penyakit infeksi dan gangguan lainnya yang jarang dijumpai. Bell’s palsy
biasa terjadi pada segala usia, sering dijumpai pada usia 20 – 50 tahun, dan angka kejadian
meningkat dengan bertambahnya usia setelah 60 tahun. Biasanya mengenai salah satu sisi saja
(unilateral), jarang bilateral dan dapat berulang. Angka kejadian Bell’s palsy 20 – 25 per
100.000 populasi. Lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki, terutama pada wanita
hamil dan penderita diabetes
(Widowati,1993).
Permasalahan yang ditimbulkan Bell’s palsy cukup kompleks, diantaranya masalah
fungsional, kosmetika dan psikologis sehingga dapat merugikan tugas profesi penderita,
permasalahan kapasitas fisik (impairment) antara lain berupa asimetris wajah, rasa kaku dan
tebal pada wajah sisi lesi, penurunan kekuatan otot wajah pada sisi lesi, potensial terjadi
kontraktur dan perlengketan jaringan. Sedangkan permasahan fungsional (fungsional
limitation) berupa gangguan fungsi yang melibatkan otot-otot wajah, seperti makan dan
minum, berkumur, gangguan menutup mata, gangguan bicara dan gangguan ekspresi wajah.
Serta participation restriction yang berupa kurang percaya diri. Untuk dapat menyelesaikan
berbagai macam problematik yang muncul pada kondisi Bell’s palsy.
Usaha yang dilakukan untuk penyembuhan Bell’s Palsy selain oleh dokter dengan
pemberian medikamentosa, dapat pula ditambah dengan pemberian terapi oleh Fisioterapis.
Fisioterapis memiliki peran dalam memperbaiki bentuk wajah yang mengalami kelemahan
dengan meningkatkan kemampuan kontraksi otot wajah, mencegah atropi dan kontraktur pada
otot wajah sehingga aktifitas fungsional pasien dapat kembali normal.

2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian dari Bell’s Palsy ?
b. menjelaskan Epideminologi dari Bell’s Palsy ?
c. menjelaskan Etiologi dari Bell’s Palsy ?
d. jelaskan Antaomi dari Bell’s Palsy ?
e. menperjelaskan patofisiologi dari Bell’s Palsy ?
f. sebutkan Gejala klinik dari Bell’s Palsy ?
g. menyebutkan dari Pemeriksaan penunjang Bell’s Palsy ?
h. diagnosis dari Bell’s Palsy ?
i. memperjelaskan pengobatan dari Bell’s palsy ?
j. penatalaksanaan dari Bell’s Palsy ?

3. TUJUAN
a. mengetahui pengertian dari Bell’s Palsy
b. mengetahui tentang Epideminologi dari Bell’s Palsy
c. mengerti tentang bahasan Etiologi dari Bell’s Palsy
d. dapat mengetahui anatomi dari Bell’s Palsy
e. untuk mengetahui patofisiologi dari Bell’s Palsy
f. mempelajari gejala klinis dari Bell’s Palsy
g. mempelajari pemeriksaan penunjang dari Bell’s Palsy
h. mengertahui diagnosis dari Bell’s Palsy
i. mengerti tentang pengobatan dari Bell’s Palsy
j. mempelajari penatalaksanaan dari Bell’s Palsy
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 DEFINISI

Bell’s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor neuron akibat
paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit neurologis lainnya.
Paralisis fasial idiopatik atau Bell’s palsy, ditemukan oleh Sir Charles Bell, dokter dari
Skotlandia. Bell’s palsy sering terjadi setelah infeksi virus atau setelah imunisasi, lebih sering
terjadi pada wanita hamil dan penderita diabetes serta penderita hipertensi. Bukti-bukti dewasa
ini menunjukkan bahwa Herpes simplex tipe 1 berperan pada kebanyakan kasus. Berdasarkan
temuan ini, paralisis fasial idiopatik sebagai nama lain dari Bell’s palsy tidak tepat lagi dan
mungkin lebih baik menggantinya dengan istilah paralisis fasial herpes simpleks atau paralisis
fasial herpetik.
Lokasi cedera nervus fasialis pada Bell’s palsy adalah di bagian perifer nukleus nervus
VII. Cedera tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Salah satu gejala Bell’s palsy
adalah kelopak mata sulit menutup dan saat penderita berusaha menutup kelopak matanya,
matanya terputar ke atas dan matanya tetap kelihatan. Gejala ini disebut juga fenomena Bell.
Pada observasi dapat dilihat juga bahwa gerakan kelopak mata yang tidak sehat lebih lambat
jika dibandingkan dengan gerakan bola mata yang sehat (lagoftalmos).

2.2 EPIDEMIOLOGI

Bell’s palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut.
Di dunia, insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden terendah
ditemikan di Swedia tahun 1997. Di Amerika Serikat, insiden Bell’s palsy setiap tahun sekitar
23 kasus per 100.000 orang, 63% mengenai wajah sisi kanan. Insiden Bell’s palsy rata-rata 15-
30 kasus per 100.000 populasi. Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi,
dibanding non-diabetes. Bell’s palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang
sama. Akan tetapi, wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada laki-
laki pada kelompok umur yang sama. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun lebih
sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Pada kehamilan trisemester ketiga dan 2 minggu pasca
persalinan kemungkinan timbulnya Bell’s palsy lebih tinggi daripada wanita tidak hamil,
bahkan bisa mencapai 10 kali lipat

2.3 ETIOLOGI

Diperkirakan, penyebab Bell’s palsy adalah virus. Akan tetapi, baru beberapa tahun
terakhir ini dapat dibuktikan etiologi ini secara logis karena pada umumnya kasus Bell’s palsy
sekian lama dianggap idiopatik. Telah diidentifikasi gen Herpes Simpleks Virus (HSV) dalam
ganglion genikulatum penderita Bell’s palsy. Dulu, masuk angin (misalnya hawa dingin, AC,
atau menyetir mobil dengan jendela terbuka) dianggap sebagai satu-satunya pemicu Bell’s
palsy. Akan tetapi, sekarang mulai diyakini HSV sebagai penyebab Bell’s palsy. Tahun 1972,
McCormick pertama kali mengusulkan HSV sebagai penyebab paralisis fasial idiopatik.
Dengan analaogi bahwa HSV ditemukan pada keadaan masuk angin (panas dalam/cold sore),
dan beliau memberikan hipotesis bahwa HSV bisa tetap laten dalam ganglion genikulatum.
Sejak saat itu, penelitian biopsi memperlihatkan adanya HSV dalam ganglion genikulatum
pasien Bell’s palsy. Murakami at.all melakukan tes PCR (Polymerase-Chain Reaction) pada
cairan endoneural N.VII penderita Bell’s palsy berat yang menjalani pembedahan dan
menemukan HSV dalam cairan endoneural. Apabila HSV diinokulasi pada telinga dan lidah
tikus, maka akan ditemukan antigen virus dalam nervus fasialis dan ganglion genikulatum.
Varicella Zooster Virus (VZV) tidak ditemukan pada penderita Bell’s palsy tetapi ditemukan
pada penderita Ramsay Hunt syndrome.
2.4 ANATOMI BELL’S PALSY

Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :


a) Serabut somato motorik, yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. levator palpebrae
(n.II), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga
tengah.
b) Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior.
Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung, sinus
paranasal, dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.
c) Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga
bagian depan lidah.
d) Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus.

Nervus VII terutama terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot
mimik wajah. Komponen sensorisnya kecil, yaitu nervus intermedius Wrisberg yang
mengantarkan rasa kecap dari dua pertiga bagian lidah dan sensasi kulit dari dinding anterior
kanalis auditorius eksterna. Serabut-serabut kecap pertama-tama melintasi nervus lingual, yaitu
cabang dari nervus mandibularis lalu masuk ke korda timpani dimana ia membawa sensasi
kecap melalui nervus fasialis ke nukleus traktus solitarius. Serabut-serabut sekretomotor
menginnervasi kelenjar lakrimal melalui nervus petrosus superfisial major dan kelenjar
sublingual serta kelenjar submaksilar melalui korda tympani.
Nukleus (inti) motorik nervus VII terletak di ventrolateral nukleus abdusens, dan
serabut nervus fasialis dalam pons sebagian melingkari dan melewati bagian ventrolateral
nukleus abdusens sebelum keluar dari pons di bagian lateral traktus kortikospinal. Karena
posisinya yang berdekatan (jukstaposisi) pada lantai ventrikel IV, maka nervus VI dan VII
dapat terkena bersama-sama oleh lesi vaskuler atau lesi infiltratif. Nervus fasialis masuk ke
meatus akustikus internus bersama dengan nervus akustikus lalu membelok tajam ke depan
dan ke bawah di dekat batas anterior vestibulum telinga dalam. Pada sudut ini (genu) terletak
ganglion sensoris yang disebut genikulatum karena sangat dekat dengan genu. Nervus fasialis
terus berjalan melalui kanalis fasialis tepat di bawah ganglion genikulatum untuk memberikan
percabangan ke ganglion pterygopalatina, yaitu nervus petrosus superfisial major, dan di
sebelah yang lebih distal memberi persarafan ke m. stapedius yang dihubungkan oleh korda
timpani. Lalu n. fasialis keluar dari kranium melalui foramen stylomastoideus kemudian
melintasi kelenjar parotis dan terbagi menjadi lima cabang yang melayani otot-otot wajah, m.
stilomastoideus, platisma dan m. digastrikus venter posterior.
Lokasi cedera nervus fasialis pada Bell’s palsy adalah di bagian perifer nukleus nervus
VII. Cedera tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Jika lesinya berlokasi di bagian
proksimal ganglion genikulatum, maka paralisis motorik akan disertai gangguan fungsi
pengecapan dan gangguan fungsi otonom. Lesi yang terletak antara ganglion genikulatum dan
pangkal korda timpani akan mengakibatkan hal serupa tetapi tidak mengakibatkan gangguan
lakrimasi. Jika lesinya berlokasi di foramen stilomastoideus maka yang terjadi hanya paralisis
fasial (wajah).

2.5 PATOFISIOLOGI

Para ahli menyebutkan bahwa pada Bell’s palsy terjadi proses inflamasi akut pada
nervus fasialis di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Bell’s palsy
hampir selalu terjadi secara unilateral. Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau
lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh.
Patofisiologinya belum jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi
pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi
kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. Perjalanan nervus fasialis keluar
dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang
menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. Dengan bentukan kanalis yang unik
tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan gangguan dari
konduksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di
lintasan supranuklear, nuklear dan infranuklear. Lesi supranuklear bisa terletak di daerah wajah
korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang
berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer. Karena adanya
suatu proses yang dikenal awam sebagai “masuk angin” atau dalam bahasa inggris “cold”.
Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi dengan kaca jendela yang
terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bell’s palsy. Karena itu nervus fasialis
bisa sembab, ia terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan
fasialis LMN. Pada lesi LMN bias terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os petrosum
atau kavum timpani, di foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis.
Lesi di pons yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis
medialis. Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus
lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN akan timbul
bergandengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3
bagian depan lidah). Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bell’s palsy
adalah reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf
kranialis. Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit.
Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga
menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN.
Kelumpuhan pada Bell’s palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot wajah
seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak dapat ditutup dan pada
usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut mulut tidak bisa
diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak bisa digerakkan. Karena lagoftalmos,
maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun disitu.
PATOFLOW

2.6 GEJALA KLINIK

Pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur,
menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Setelah merasakan adanya kelainan di
daerah mulut maka penderita biasanya memperhatikannya lebih cermat dengan menggunakan
cermin.
Mulut tampak moncong terlebih pada saat meringis, kelopak mata tidak dapat
dipejamkan (lagoftalmos), waktu penderita disuruh menutup kelopak matanya maka bola mata
tampak berputar ke atas.(tanda Bell). Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, apabila
berkumur atau minum maka air keluar melalui sisi mulut yang lumpuh. Selanjutnya gejala dan
tanda klinik lainnya berhubungan dengan tempat/lokasi lesi.
Lesi di luar foramen stilomastoideusMulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat,
makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah
menghilang. Lipatan kulit dahi menghilang. Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak
dilindungi maka aur mata akan keluar terus menerus. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda
timpani)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (1), ditambah dengan hilangnya ketajaman
pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena berkurang. Hilangnya
daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus intermedius, sekaligus
menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan
nervus fasialis di kanalis fasialis. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus
stapedius) Gejala dan tanda klinik seperti pada (1), (2), ditambah dengan adanya hiperakusis.
Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum) Gejala dan tanda klinik
seperti (1), (2), (3) disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga. Kasus seperti
ini dapat terjadi pasca herpes di membran timpani dan konka. Ramsay Hunt adalah paralisis
fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum. Lesi herpetik
terlibat di membran timpani, kanalis auditorius eksterna dan pina.
Lesi di daerah meatus akustikus interna Gejala dan tanda klinik seperti (1), (2), (3), (4),
ditambah dengan tuli sebagi akibat dari terlibatnya nervus akustikus. Lesi di tempat keluarnya
nervus fasialis dari pons.Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas, disertai gejala dan tanda
terlibatnya nervus trigeminus, nervus akustikus, dan kadang-kadang juga nervus abdusens,
nervus aksesorius, dan nervus hipoglosus.
Sindrom air mata buaya (crocodile tears syndrome) merupakan gejala sisa Bell’s
palsy, beberapa bulan pasca awitan, dengan manifestasi klinik: air mata bercucuran dari mata
yang terkena pada saat penderita makan. Nervus fasilais menginervasi glandula lakrimalis dan
glandula salivatorius submandibularis. Diperkirakan terjadi regenerasi saraf salivatorius tetapi
dalam perkembangannya terjadi ‘salah jurusan’ menuju ke glandula lakrimalis.

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Pemeriksaan Fisis
Kelumpuhan nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan pemeriksaan fisik tetapi yang
harus diteliti lebih lanjut adalah apakah ada penyebab lain yang menyebabkan
kelumpuhan nervus fasialis. Pada lesi supranuklear, dimana lokasi lesi di atas nukleus
fasialis di pons, maka lesinya bersifat UMN. Pada kelainan tersebut, sepertiga atas
nervus fasialis normal, sedangkan dua pertiga di bawahnya mengalami paralisis.
Pemeriksaan nervus kranialis yang lain dalam batas normal.
 Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis Bell’s
palsy.
 Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bell’s palsy. Pemeriksaan CT-Scan
dilakukan jika dicurigai adanya fraktur atau metastasis neoplasma ke tulang, stroke,
sklerosis multipel dan AIDS pada CNS. Pemeriksaan MRI pada pasien Bell’s palsy
akan menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis, atau pada
telinga, ganglion genikulatum.

2.8 DIAGNOSIS

Diagnosis Bell’s palsy dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan


pemeriksaan fisis. Pada pemeriksaan nervus kranialis akan didapatkan adanya parese dari
nervus fasialis yang menyebabkan bibir mencong, tidak dapat memejamkan mata dan rasa
nyeri pada telinga. Hiperakusis dan augesia juga dapat ditemukan. Harus dibedakan antara lesi
UMN dan LMN. Pada Bell’s palsy lesinya bersifat LMN.

 Komplikasi

Kira-ki ra 30% pasien Bell’s palsy yang sembuh dengan gejala sisa seperti fungsi
motorik dan sensorik yang tidak sempurna, serta kelemahan saraf parasimpatik.
Komplikasi yang paling banyak terjadi yaitu disgeusia atau ageusia, spasme nervus
fasialis yang kronik dan kelemahan saraf parasimpatik yang menyebabkan kelenjar lakrimalis
tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi infeksi pada kornea

 Prognosis

Walaupun tanpa diberikan terapi, pasien Bell’s palsy cenderung memiliki prognosis
yang baik.Dalam sebuah penelitian pada 1.011 penderita Bell’s palsy, 85% memperlihatkan
tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. 15% kesembuhan terjadi
pada 3-6 bulan kemudian.
Sepertiga dari penderita Bell’s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa.
1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik.
Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata.4 Penderita Bell’s palsy dapat sembuh
total atau meninggalkan gejala sisa.. Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bell’s palsy
adalah:
(1) Usia di atas 60 tahun
(2) Paralisis komplit
(3) Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh,
(4) Nyeri pada bagian belakang telinga dan
(5) Berkurangnya air mata.

Pada penderita kelumpuhan nervus fasialis perifer tidak boleh dilupakan untuk
mengadakan pemeriksaan neurologis dengan teliti untuk mencari gejala neurologis lain.
Pada umumnya prognosis Bell’s palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam
waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita yang berumur 60 tahun atau
lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa.
Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang, hanya punya perbedaan peluang 10-15 persen
antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan,
maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile tears dan
kadang spasme hemifasial.
Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita
nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Hanya 23 %
kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bell’s palsy kambuh pada 10-15 %
penderita. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII atau tumor
kelenjar parotis

2.9 PENCEGAHAN

Seperti disarankan oleh Dokter Syaraf agar Bell’s Palsy tidak mengenai Anda, cara-
cara yang bisa ditempuh adalah:

1. Jika berkendaraan motor, gunakan helm penutup wajah full untuk mencegah angin
mengenai wajah.
2. Jika tidur menggunakan kipas angin, jangan biarkan kipas angin menerpa wajah
langsung. Arahkan kipas angin itu ke arah lain. Jika kipas angin terpasang di langit-
langit, jangan tidur tepat di bawahnya. Dan selalu gunakan kecepatan rendah saat
pengoperasian kipas.
3. Kalau sering lembur hingga malam, jangan mandi air dingin di malam hari. Selain tidak
bagus untuk jantung, juga tidak baik untuk kulit dan syaraf.
4. Bagi penggemar naik gunung, gunakan penutup wajah/masker dan pelindung mata.
Suhu rendah, angin kencang, dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi tinggi
menyebabkan Anda menderita Bell’s Palsy.
5. Setelah berolah raga berat, JANGAN LANGSUNG mandi atau mencuci wajah dengan
air dingin.
6. Saat menjalankan pengobatan, jangan membiarkan wajah terkena angin langsung.
Tutupi wajah dengan kain atau penutup. Takut dibilang “orang aneh”? Pertimbangkan
dengan biaya yang Anda keluarkan untuk pengobatan.

Sebagai catatan:

1. Wanita hamil berpotensi 3X lebih mudah terkena Bell’s Palsy daripada wanita yang
tidak hamil.
2. Penderita diabetes, perokok, dan pengguna obat-obatan sejenis steroid berpotensi 4X
lebih mudah terserang Bell’s Palsy daripada orang lain.
3. Rata-rata 40.000 orang Amerika setiap tahun menderita Bell’s Palsy.

Terakhir, ini adalah catatan beberapa orang terkenal yang pernah menderita Bell’s
Palsy. Beberapa di antaranya sembuh total, namun tidak sedikit yang tidak sembuh sehingga
hingga kini, wajah mereka masih tampak mencong akibat penyakit itu.

Pengobatan yang disarankan dokter adalah fisiotherapy, di mana wajah penderita akan
dikompres dengan lampu sinar dan diberi kejutan listrik di sekitar wajah. Namun Anda bisa
juga menggunakan alternatif pengobatan lain, seperti akupuntur. Jangan mencampur
pengobatan fisioterapi dan akupuntur di waktu bersamaan.

2.9.1 PENGOBATAN

Melindungi mata pada saat tidur dan pemberian tetes mata metilselulosa, memijat otot-
otot yang lemah dan mencegah kendornya otot-otot di bagian bawah wajah merupakan kondisi
yang dapat dikelola secara umum Belum ada bukti yang mendukung bahwa tindakan
pembedahan efektif terhadap nervus fasialis, bahkan kemungkinan besar dapat
membahayakan.
Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40 -60 mg/hari per oral atau 1
mg/kgBB/hari selama 3 hari, diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian), dimana
pemberiannya dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit, gunanya untuk meningkatkan
peluang kesembuhan pasien.
Dasar dari pengobatan ini adalah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya
kelumpuhan yang sifatnya permanen yang disebabkan oleh pembengkakan nervus fasialis di
dalam kanal fasialis yang sempit.
Penemuan genom virus disekitar nervus fasialis memungkinkan digunakannya agen-
agen antivirus pada penatalaksanaan Bell’s palsy. Acyclovir (400 mg selama 10 hari) dapat
digunakan dalam penatalaksanaan Bell’s palsy yang dikombinasikan dengan prednison atau
dapat juga diberikan sebagai dosis tunggal untuk penderita yang tidak dapat mengkonsumsi
prednison. Penggunaan Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset
penyakit untuk mencegah replikasi virus.

2.9.2 PENATALAKSANAAN
Kortikosteroid. Prednison, dimulai dengan 60mg/hari, diturunkan dosisnya (tappering)
dalam 10 hari.
Antivirus. Asiklovir 400mg lima kali sehari selama 7 hari atau valasiklovir 1 g/hari
selama 7 hari. Tetapi, terapi ini tidak berguna jika diberikan setelah onset penyakit lebih dari 4
har
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan klien dengan Belll’s palsy meliputi anamnesis riwayat


penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pengkajian psikososial.

 Anamnesis

Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolongan kesehatan dalah
berhubungan dengan kelumpuhan otot wajah terjadi pada satu sisi.

 Riwayat penyakit saat ini

Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk menunjang keluhan
utama klien. Disini harus ditanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai
serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Pada pengkajian klien Bell;s palsy biasanya
didapatkan keluhan kelumpuhan otot wajah pada satu sisi.
Kelumpuhan fasialis ini melibatkan semua otot wajah sesisi. Bila dahi dikerutkan,
lipatan kulit dahinya hanya tampak pada sisi yang sehat saja. Bila klien disuruh memejamkan
kedua matanya, maka pada sisi yang tidak sehat, kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata
dan berputarnya bola mata keatas dapat disaksikan. Fenomena tersebut dikenal sebagai tanda
bell.

 Riwayat penyakti dahulu

Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan
atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami penyakit
iskemia vaskuler, otitis media, tumor intrakranial, truma kapitis, penyakit virus (herpes
simplek, herpes zoster), penyakit autoimun, atau kombinasi semua faktor ini. Pengkajian
pemakaian obat-obatan yang sering digunakan klien, pengkajian kemana klien sudah meminta
pertolongan dapat mendukung pengkajian dari riwayat penyakit sekarang dan merupakan data
dasar untuk mengkaji lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
 Pengkajian psiko-sosio-spiritual

Pengkajian psikologis klien Bell’s palsy meliputi beberapa penilaian yang


memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kogniti
dan perilaku klien. Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk
menilai respons emosi klien terhadap kelumpuhan otot wajah sesisi dan perubahan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari
baik dalam keluarga atau masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu timbul
ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Pengkajian
mengenai mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien selama masa stress
meliputi kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang telah
diketahui dan perubahan perilaku akibat stres.
Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini memberi dampak
pada status ekonomi klien, karena biaya perawatan dan pengobatan memerlukan dana yang
tidak sedikit. Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan
dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Perspektif
keperawatan dalam mengkaji terdiri dari dua masalah, yaitu keterbatasan yang diakibatkan oleh
deficit neurologis dalam hubungannya dengan peran sosial klien dan rencana pelayanan yang
akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis didalam sistem dukungan individu.

b. Pemeriksaan fisik

Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien,


pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis.
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan fisik
pada pemeriksaan B3 (brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari
klien. Pada klien Bell’s palsy biasanya didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal.

 B1 (breathing)

Bila tidak ada penyakit lain yang menyertai pemeriksaan inspeksi didapatkan klien
tidak batuk, tidak sesak napas, tidak ada penggunaan otot bantu napas dan frekuensi pernapasan
dalam batas normal. Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Perkusi
didapatkan resonan pada seluruh lapangan paru. Auskultasi tidak didengar bunyi napas
tambahan.
 B2 (Blood)

Bila tidak ada penyakit lain yang menyertai pemeriksaan nadi dengan frekuensi dan
irama yang normal. TD dalam batas normal dan tidak terdengar bunyi jantung tambahan.

 B3 (Brain)

Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan


pengkajian pada sistem lainnya. Tingkat kesadaran Pada Bell’s palsy biasanya kesadaran klien
compos mentis.
Fungsi serebri
Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya bicara klien,
observasi ekspresi wajah dan aktivitas motorik yang pada klien Bell’s palsy biasanya statul
mental klien mengalami perubahan.

 Pemeriksaan saraf kranial


1) Saraf I : biasanya pada klien bell’s palsy tidak ada kelainan dan fungsi
penciuman tidak ada kelainan.
2) Saraf II : tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal
3) Saraf III, IV, VI : penurunan gerakan kelopak mata pada sisi yang sakit
(lagoftalmos).
4) Saraf V : kelumpuhan seluruh otot wajah sesisi, lipatan nasolabial
pada sisi kelumpuhan mendatar, adanya gerakan sinkinetik.
5) Saraf VII : berkurangnya ketajaman pengecapan, mungkin sekali edema
nervus fasialis ditingkat foramen stilomastoideus meluas sampai bagian nervus
fasialis, dimana khorda timpani menggabungkan diri padanya.
6) Saraf VIII : tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli
persepsi
7) Saraf IX & X : paralisis otot orofaring, kesukaran berbicara, menguyah dan
menelan. Kemampuan menelan kurang baik, sehingga mengganggu pemenuhan
nutrisi via oral.
8) Saraf XI : tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Kemampuan mobilisasi leher baik.
9) Saraf XII : lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
fasikulasi. Indra pengecapan mengalami kelumpuhan dan pengecapan pada 2/3
lidah sisi kelumpuhan kurang tajam.
Sistem motorik

Bila tidak melibatkan disfungsi neurologis lain, kekuatan otot normal, kontrol
keseimbangan dan koordinasi pada Bell’s palsy tidak ada kelainan.

 Pemeriksaan refleks

Pemeriksaan refleks dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum


derajat refleks pada respons normal.
Gerakan involunter
Tidak ditemukan adanya tremor, kejang dan distonia. Pada beberapa keadaan sering ditemukan
Tic fasialis.
Sistem sensorik
Kemampuan penilaian sensorik raba, nyeri dan suhu tidak ada kelainan.

 B4 (Blader)

Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume


haluaran urine, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke
ginjal.

 B5 (bowel)

Mulai sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung.


Pemenuhan nutrisi pada klien bell’s palsy menurun karena anoreksia dan kelemahan otot-otot
pengunyah serta gangguan proses menelan menyebabkan pemenuhan via oral menjadi
berkurang.

 B6 (Bone)

Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien
secara umum. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien lebih banyak dibantu oleh orang
lain.

c. Penatalaksaan medis
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan tonus otot wajah dan untuk
mencegah atau meminimalkan denervasi. Klien harus diyakinkan bahwa keadaan yang tejadi
bukan stroke dan pulih dengan spontan dalam 3-5 minggu pada kebanyakan klien.
Terapi kortikosteroid (prednison) dapat diberikan untuk menurunkan radang dan
edema, yang pada gilirannya mengurangi kompresi vaskuler dan memungkinkan perbaikan
sirkulasi darah ke saraf tersebut. Pemberian awal terapi kortikosteroid ditujukan untuk
mengurangi penyakit semain berat, mengurangi nyeri dan membantu mencegah atau
meminimalkan denervasi.
Nyeri wajah dikontrol dengan analgesik. Kompres panas pada sisi wajah yang sakit
dapat diberikan untuk meningkatkan kenyamanan dan aliran darah sampai ke otot tersebut.
Stimulasi listrik dapat diberikan untuk mencegah otot wajah menjadi atrofi. Walaupun
banyak klien pulih dengan pengobatan konservatif, namun eksplorasi pembedahan pada saraf
wajah dapat dilakukan pada klien yang cenderung mempunyai tumor atau untuk dekompresi
saraf wajah melalui pembedahan untuk merehabilitasi keadaan paralisis wajah.
Pendidikan klien, Mata harus dilindungi karena paralisis lanjut dapat menyerang mata.
Sering kali, mata klien tidak dapat menutup dengan sempurna dan refleks berkedip terbatas
sehingga mata mudah diserang binatang kecil dan benda-benda asing. Iritasi kornea dan luka
adalah komplikasi potensial pada klien ini. Kadang-kadang keadaan ini mengakibatkan
keluarnya air mata yang berlebihan (epifora) karena karatitis yang disebabkan oleh kornea
kering dan tidak adanya refleks berkedip. Penutup mata bagian bawah menjadi lemah akibat
pengeluaran air mata. Untuk menangani masalah ini, mata harus ditutup dengan melindunginya
dari cahaya silau pada malam hari. Potongan mata dapat merusak kornea, meskipun hal ini juga
disebabkan beberapa kerusakan dalam memperthankan mata tertutup akibat paralisis parsial.
Benda-benda yang dapat digunbakan pada mata pada saat tidur dapat diletakkan diatas mata
agar kelopak mata menempel satu dengan yang lainnya dan tetap menutup selama tidur.
Klien diajarkan untuk menutup kelopak mata yang mengalami paralisis secara manual
sebelum tidur. Gunakan penutup mata dengan kacamata hitam untuk menurunkan penguapan
normal dari mata. Jika saraf tidak terlalu sensitf, wajah dapat di masase beberapa kali sehari
untuk mempertahankaan tonus otot.tekhnikj untuk masae wajah adalah dengan gerakan lembut
keatas. Latihan wajah seperti mengherutkan dahi, mengembungkan pipi keluar, dan bersiul
dapat dilakukan dengan menggunakan cermin dan dilakukan teratur untuk mencegah atropi
otot. Hindari wajah terkena udara dingin.

d. Diagnosa keperawatan
Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan perubahan bentuk wajah
karena kelumpuhan satu sisi pada wajah.
Cemas yang berhubungan dengan prognosis penyakit dan perubahan kesehatan.
Kurangnya pengetahuan perawatan diri sendiri yang berhubungan dengan informasi yang tidak
edekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.

e. Intervensi dan rasional

1.gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan bentuk wajah karena kelumpuhan satu
sisi pada wajah.
Data penunjang ;
- Ds: merasa malu karena adanya kelumpuhan otot wajah terjadi pada satu sisi lain

-Do: dahi di kerutkan,lipatan kulit dahi hanya tampak pada sisi yang sehat saja.

Tujuan : konsep diri klein meningkat

kriteria hasil : klien mampu menggunakan koping yang positif

Intervensi : Kaji dan jelaskan kepada klien tentang keadaan paralisis wajahnya.

Rasional : intervensi awal bisa mencegah disstres psikologi pada klien

i. Bantu klien menggunakan mekanisme koping yang positif.

Rasional : mekanisme koping yang positif dapat membantu klien lebih percaya diri,
lebih kooperatif terhadap tindakan yang akan dilakukan dan mencegah tetjadinya kecemasan
tambahan.

ii. Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.

Rasional : orientasi dapat menurunkan kecemasan.

iii. libatkan system pendukung dalam perawatan klien

Rasional : kehadiran system pendukung meningkatkan citra diri klien.


2.cemas yang berhubungan dengan prognosis penyakit dan perubahan kesehatan.
Tujuan : kecemasan hilang atau berkurang
kriteria hasil : mengenal perasaannnya, dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang
mempengaruhinya dan menyatakan ansietas berkurang/hilang.
ntervensi :

i. kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, dampingin klien dan lakukan tindakan
bila menunjukkan perilaku merusak.
Rasional : reaksi verbal/non verbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah dan
gelisah.
ii. Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang
tenang dan suasana penuh istirahat.
Rasional : mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
iii. Tingkatkan control sensasi klien
Rasional : kontrol sensasi klien (dan dalam menurunkan ketakutan) dengan cara
memberikan informasi tentang keadaan klien, menekankan pada penghargaan
terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri), yang positif, membantu latihan
relaksasi dan teknik-teknik pengalihan dan memberikan respons balik yang
positif.
iv. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya.
Rasional : dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak
dieksperesikan.
v. Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat
Rasional : memberi waktu untuk mengeksperesikan perasaan, menghilangkan
cemas dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan tewman-teman yang dipilih
klien yang melayani aktivitas dan pengalihan (misalnya membaca) akan
menurunkan perasaan terisolasi.
3.Kurangnya pengetahuan perawatan diri sendiri yang berhubungan dengan informasi yasng
tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.
Tujuan : dalam jangka waktu 1x30 menit klien akan memperlihatkan kemampuan pemahaman
yang adekuat tentang penyakit dan pengobatannya.
kriteria hasil : klien mampu secara subjektif menjelaskan ulang secara sederhana terhadap apa
yang telah didiskusikan.
Intervensi :
i. Kaji kemampuan belajar, tingkatkan kecemasan, partisipasi, media yang sesuai
untuk belajar.
Rasional : indikasi progresif atau reaktivasi penyakit atau efek samping pengobatan
serta untuk evaluasi lebih lanjut.
ii. Identifikasi tanda dan gejala yang perlu dilaporkan keperawat
Rasional : meningkatkan kesadaran kebutuhan tentang perawatan diri untuk
meminimalkan kelemahan.
iii. Jelaskan instruksi dan informasi misalnya penjadwalan pengobatan.
Rasional : meningkatkan kerja sama/ partisipasi terapeutik dan mencegah putus
obat.
iv. Kaji ulang resiko efek samping pengobatan
Rasional : dapat mengurangi rasa kurang nyaman dari pengobatan untuk perbaikan
kondisi klien.
v. Dorong klien mengeksperesikan ketidaktahuan/kecemasan dan beri informasi yang
dibutuhkan.
Rasional : memberikan kesempatan untuk mengoreksi persepsi yang salah dan
mengurangi kecemasan.
f. Implementasi
1) Melakukan komunikasi verbal untuk mengingatkan bahwa pasien
tidak sendiri
2) Mengkaji tingkat cemesan
3) Menberikan pengetahuan tentang penyakit
g. Evaluasi
Hilangnya gangguan konsep diri.