Analisis Kinerja PLTU Indramayu 2015
Analisis Kinerja PLTU Indramayu 2015
Abstrak
Subsidi listrik yang semakin besar telah memberatkan pengeluaran Anggaran Pendapatan Belanja Negara
(APBN) untuk biaya energi. Salah satu cara untuk mengurangi subsidi tersebut adalah dengan meningkatkan
efisiensi pada pembangkit listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah pembangkit terbesar di
Indonesia yang harus ditingkatkan efisiensinya dengan menurunkan heat rate. Tujuan dari penelitian adalah
untuk menganalisis kinerja PLTU Indramayu (Jawa Barat) yang mempunyai kapasitas 3x330 MW sepanjang
tahun 2015. Metodologi yang digunakan adalah metode heat loss atau metode tidak langsung dan diasumsikan
bahwa nilai heat rate yang rendah akan menghasilkan efisiensi yang maksimum. Hasil menunjukkan bahwa dari
ketiga unit yang ada, Unit 3 memiliki nilai heat rate terendah yaitu 2.765 kcal/kWh dengan kalori batubara 4.690
kcal/kg dan efisiensi termal tertinggi yaitu 31,1%. Dengan data tersebut dapat dikatakan bahwa PLTU
Indramayu tidak efisien yang disebabkan oleh rugi-rugi boiler akibat hilangnya panas pada preheater air. Dua
hal penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan efisiensi PLTU Indramayu adalah kalori batubara dan
kebocoran pada komponen-komponen boiler.
Abstract
The increasing of electricity subsidy – in terms of energy – has resulted a heavy burden on government
spending. One of the key strategies to reduce those burden is generation efficiency. Coal-fired power plant
has currently been the largest generating capacity in Indonesia. This paper examines the generation
performance in Indramayu’s coal-fired power plant (West Java) in year 2015 which has a total capacity
3x330 MW. The methodology used is the heat loss or indirect method and we assume that the lowest heat
rate parameter could produce a maximum efficiency. The results show that among 3 installed units, there
was only one units (3rd unit) that the lowest heat rate (2,765 kcal/kWh), using coal callories (4,690 kcal/kg)
and highest thermal efficiency about 31.1%. These implies that Indramayu’s power plants in inefficient due
to the boiler losses: heat elimination at the water preheater. Two crucial components that are required to
increase the Indramayu’s generation capacity, that are coal callories and leakage on boiler components.
Diterima : 25 Oktober 2016, direvisi : 5 Maret 2018, disetujui terbit : 6 Maret 2018 97
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106
98
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015
860
ℎ=
(2) PLTU Indramayu. Salah satu penentu tingkat
efisiensi adalah heat rate, yang dapat merujuk
dengan:
pada usulan batas heat rate PLTU di Indonesia
ηth = efisiensi termal (%)
yang ditampilkan pada Tabel 1.
NPHR = Net Plant Heat Rate (kcal/kWh).
PLTU Indramayu dengan kapasitas
masing-masing unit 330 MW ada dalam kategori
Mulai
kapasitas 200<MW<500 dengan batas maksimal
heat rate (NPHR) yang diperbolehkan adalah
Studi literatur 2.707 kcal/kWh. Tetapi jika nilai heat rate
dibawah nilai tersebut akan semakin baik atau
efisien.
Pengambilan data
di PLTU Indramayu
99
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106
4.579 kcal/kWh. Hal ini menunjukkan kalori kcal/kg. Rata-rata heat rate Unit 1 dan Unit 2
batubara yang digunakan telah sesuai dengan memiliki nilai yang hampir sama, hanya saja
spesifikasi boiler. kinerja Unit 2 lebih baik jika dilihat dari grafik
Untuk efisiensi boiler, digunakan metode heat rate yang cenderung datar.
perhitungan heat loss dengan basis Low Heating Untuk Unit 3 memiliki heat rate yang
Value (LHV). Hasil perhitungan menunjukkan cenderung tinggi pada awal tahun dan turun pada
efisiensi sebesar 94% dan hal ini sesuai dengan pertengahan sampai akhir tahun. Heat rate rata-
standar. Rugi-rugi terbesar dari boiler ini adalah rata Unit 3 lebih rendah dibanding Unit 1 dan 2
rugi-rugi akibat panas gas kering/dry flue gas yaitu 2.765 kcal/kg. Sedang heat rate rata-rata
yaitu mencapai 4-5%. Adapun perhitungan dari ketiga unit adalah 2.797 kcal/kg. Unit 3
efisiensi termal PLTU hanya dipengaruhi oleh memiliki heat rate yang terendah dikarenakan
NPHR, semakin kecil nilai NPHR maka efisiensi kalori batubara (HHV) yang digunakan lebih
semakin besar dan sebaliknya. tinggi dibandingkan dengan unit lain, sehingga
Gambar 2 menunjukkan kinerja heat rate Unit 3 merupakan unit paling efisien.
masing-masing unit PLTU Indramayu dan heat rate Unit 3 memiliki heat rate terendah karena
rata-ratanya selama 2015 yang berfluktuasi (naik- menggunakan kalori HHV batubara yang lebih
turun). Unit 1 memiliki heat rate yang tinggi pada tinggi dibanding unit-unit lain seperti yang
awal tahun, lalu turun pada pertengahan tahun, dan ditunjukkan pada Gambar 3. Terlihat bahwa
naik lagi pada akhir tahun. Rata-rata heat rate Unit HHV batubara pada Unit 3 sangat tinggi, bahkan
1 adalah 2.814 kcal/kg. beberapa bulan pada akhir tahun, nilai kalori
Sedang Unit 2 memiliki heat rate yang mencapai 5.000 kcal/kg. Sedangkan kalori
cukup konstan dan rendah sampai bulan batubara Unit 1 dan 2 memiliki nilai yang hampir
September, dan pada akhir tahun cenderung naik sama. Secara rata-rata pun kalori batubara Unit 3
lagi. Rata-rata heat rate unit 2 adalah 2.811 lebih tinggi yaitu 4.690 kcal/kg.
3400
3300
3200
3100
Heat rate
(kkal/kg)
3000 Unit 1
2900
2800 Unit 2
2700 Unit 3
2600
2500 Rata-rata
2400
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
2015
100
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015
5200
5000
4800
Unit 1
(kkal/kg)
4600 Unit 2
HHV
4400 Unit 3
Rata2
4200
4000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
2015
Analisis efisiensi termal masing-masing unit Maret) adalah transfer energi listrik ke beban
dapat dilihat pada Gambar 4. Unit 3 memiliki yang sangat rendah. Sebagai informasi, net
efisiensi termal rata-rata sedikit lebih tinggi capacity factor (NCF) masing-masing unit
dibandingkan Unit 1 dan 2, yaitu 31,10% (Unit 1 sepanjang tahun 2015 sebagai berikut: NCF Unit
= 30,56%; Unit 2 = 30,6%). Sesuai dengan 1 = 51,14%, Unit 2 = 70,09%, Unit 3 = 55,97%.
persamaan (2), efisiensi termal sangat dipengaruhi Sedangkan NCF rata-ratanya adalah 59,07%.
oleh heat rate (NPHR), semakin rendah heat rate NCF Unit 2 tertinggi dibandingkan dengan unit
maka efisiensi termal akan naik dan sebaliknya. lainnya, hanya saja efisiensi termalnya rendah.
Alasan Unit 3 memiliki efisiensi termal yang Hal ini disebabkan oleh kalori batubara yang
rendah pada awal tahun (Februari dan digunakan cukup rendah dibanding Unit 3[11].
36
34
32
Efisiensi termis (%)
30
Unit 1
28
Unit 2
26
Unit 3
24
Rata2
22
20 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
2015
101
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106
Parameter perhitungan heat and mass Pressure (HP) sebesar 76,3%, dan efisiensi
balance menggunakan data-data referensi dari hasil Intermediate Pressure (IP) sebesar 86,53%.
perhitungan untuk performa PLTU Indramayu Unit Untuk perhitungan efisiensi boiler PLTU
3 yang dapat dilihat pada Gambar Indramayu Unit 3, digunakan data perhitungan
5. Nilai-nilai yang tertera pada Gambar 5 dapat pada bulan Juni 2015. Pada analisis efisiensi
dilihat pada Tabel 2. Parameter-parameter hasil boiler dengan menggunakan metode heat
hitungan menunjukkan nilai ekspansi dan besaran loss/metode tidak langsung (basis LHV),
pemakaian energi pada titik masuk turbin dan pada mengacu pada persamaan (1). Data yang
titik keluar (exhaust) turbin yang menuju ke diperoleh adalah sebagai berikut:
kondensor. Heat and mass balance untuk performa i. Rugi-rugi panas akibat gas keluar air
PLTU Indramayu Unit 3 diperlihatkan dengan heater (LG) = 4,253%
maksud sebagai satu panduan dalam menganalisis ii. Rugi-rugi panas akibat moisture
distribusi energi dan keseimbangan dalam satu bahan bakar (Lmf+Lh) = 0,546%
siklus pembangkit. Berikut ini adalah hasil iii. Rugi-rugi panas akibat moisture
perhitungan heat and mass balance dengan udara pembakaran (Lma) = 0,1%
menggunakan software Gate Cycle oleh tim teknis iv. Rugi-rugi panas akibat pembakaran
PLTU Indramayu. Perhitungan dibuat pada kondisi tidak sempurna (LUC) = 0,948%
beban 100%. Total uap yang dibutuhkan untuk v. Rugi-rugi panas akibat radiasi (Lr)
menghasilkan daya 277.632 kW (100% beban) = 0,263%
adalah 868.633,33 kg/hari, dengan turbine heat rate vi. Rugi-rugi panas tidak terukur = 0,284%
2.136,62 kcal/kWh, efisiensi High vii. Total rugi-rugi panas boiler = 6,11%
3 5
1
HP Turbine IP Turbine
LP Turbine
Generator
Boiler
4
Kondenser
B E
D G
2
C
16 F
C
22
B 23
A CEP
24 15 13 11 9 8
Steam
Cooler 19 D E F G
B DEA Gland
A
Steam
20
Cond
17
102
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015
Rugi-rugi terbesar pada boiler PLTU sealing dan bucket heater-nya. Dengan
Indramayu adalah rugi-rugi panas akibat gas menggunakan persamaan (1) diperoleh nilai
keluar preheater air akibat kebocoran pada efisiensi boiler sebesar 93,89%.
Tabel 2. Nilai heat and mass balance PLTU Indramayu Unit 3[15]
Flow Tekanan Temperatur Entalpi
Titik
(kg/hr) (barA) (°C) (kJ/kg)
1 868.633,3 172,5 573,1 3.389,7
2 76.087,1 35,9 329 3.050,6
3 791.069,6 34,2 534,6 3.530,8
4 664.747,3 4,4 264 2.992,2
5 593.195,9 0,1 38,4 2.292,7
6 706.166,7 21,7 41,2 174,3
7 21.573 55,4 231,9
8 21.573 0,2 57,4 2.401,7
9 28.371,3 0,5 83,5 2.578,8
10 28.371,3 71,1 297,6
11 21.607,1 1,0 119,3 2.714,8
12 74.823,1 85,1 356,6
13 53.216 4,4 264 2.992,2
14 53.216 113,7 477,4
15 706.166,7 143,1 603,1
16 63.112,1 9,2 345,4 3.150
17 917.107,3 186,4 175,6 753,5
18 86.081,3 181,8 771,4
19 9.994,2 18,5 1.563,8
20 76.087,1 35,9 329 3.050,6
21 76.087,1 212,3 908,8
22 899.600 183,7 248 1.077,2
23 9.994,2 18,5 453,2 18,5
24 76.087,1 37,7 334 3.058,8
103
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106
104
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015
terima kasih kepada Bapak Wawang dan [9] Hilal Hamzah, 2015. “Kajian Efisiensi PLTU.”
[10] A. Arriola-Medellín, E. Manzanares-
Surya (PT. PJB PLTU Indramayu) atas
Papayanopoulos, and C. Romo-Millares, 2014.
kerjasamanya, serta DIPA P3TKEBTKE
“Diagnosis and redesign of power plants using
atas pendanaan kegiatan ini.
combined Pinch and Exergy Analysis,” Energy,
vol. 72, pp. 643–651.
DAFTAR PUSTAKA
[11] C. J. Koroneos, P. a. Fokaides, and E. a.
[1] Kementerian Keuangan, 2014. Nota
Christoforou, 2014. “Exergy analysis of a
Keuangan dan Anggaran Pendapatan
300 MW lignite thermoelectric power plant,”
dan Belanja Negara Tahun Anggaran
Energy, vol. 75, pp. 304–311.
2014, p. Lampiran 1-11.
[12] S. C. Kaushik, V. S. Reddy, and S. K. Tyagi, 2011.
[2] Kementerian Energi dan Sumber Daya
“Energy and exergy analyses of thermal power
Mineral, 2015. Rencana Usaha
plants: A review,” Renew. Sustain. Energy Rev.,
Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)
vol. 15, no. 4, pp. 1857–1872.
2015 - 2024.
[13] T. Sueyoshi, M. Goto, and T. Ueno, 2010.
[3] Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan,
“Performance analysis of US coal-fired power
2013. “Perhitungan Faktor Emisi 2013
plants by measuring three DEA efficiencies,”
Sistem Interkoneksi Jawa-Madura-
Energy Policy, vol. 38, no. 4, pp. 1675–1688.
Bali.”
[14] Maksum Hasan, 2014. Laporan Akhir: Kajian
[4] M. J. Djokosetyardjo, 1999. Ketel Uap.
Skema Subsidi Listrik PLN Berdasarkan Kinerja
Pradnya Paramita.
Pengelolaan Energi Listrik.
[5] Marsudi Djiteng, 2005. Pembangkitan
[15] PT. PJB UBJ O&M PLTU Indramayu, 2015.
Energi Listrik. Penerbit Erlangga.
“Performance Test Indramayu Unit 3, 25 Juni
[6] PT. PLN (Persero), 2014. “Laporan
2015.”.
Pengujian Heat Rate dan Efisiensi
PLTU Indramayu Unit 3 Sebelum
105
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106
106