Anda di halaman 1dari 10

Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan P-ISSN 1978 - 2365

Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 – 106 E-ISSN 2528 - 1917

ANALISIS KINERJA PLTU INDRAMAYU SEPANJANG TAHUN 2015

PERFORMANCE ANALYSIS OF INDRAMAYU’S COAL-FIRED


POWER PLANTS IN YEAR 2015

Widhiatmaka, Yohanes Gunawan, Charles Lambok F. Simorangkir, Mohamad Aman Puslitbangtek


Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Jl. Ciledug Raya kav.109-Cipulir,
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Indonesia widhi_wise@yahoo.com

Abstrak
Subsidi listrik yang semakin besar telah memberatkan pengeluaran Anggaran Pendapatan Belanja Negara
(APBN) untuk biaya energi. Salah satu cara untuk mengurangi subsidi tersebut adalah dengan meningkatkan
efisiensi pada pembangkit listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah pembangkit terbesar di
Indonesia yang harus ditingkatkan efisiensinya dengan menurunkan heat rate. Tujuan dari penelitian adalah
untuk menganalisis kinerja PLTU Indramayu (Jawa Barat) yang mempunyai kapasitas 3x330 MW sepanjang
tahun 2015. Metodologi yang digunakan adalah metode heat loss atau metode tidak langsung dan diasumsikan
bahwa nilai heat rate yang rendah akan menghasilkan efisiensi yang maksimum. Hasil menunjukkan bahwa dari
ketiga unit yang ada, Unit 3 memiliki nilai heat rate terendah yaitu 2.765 kcal/kWh dengan kalori batubara 4.690
kcal/kg dan efisiensi termal tertinggi yaitu 31,1%. Dengan data tersebut dapat dikatakan bahwa PLTU
Indramayu tidak efisien yang disebabkan oleh rugi-rugi boiler akibat hilangnya panas pada preheater air. Dua
hal penting yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan efisiensi PLTU Indramayu adalah kalori batubara dan
kebocoran pada komponen-komponen boiler.

Kata kunci: heat rate; efisiensi termal; PLTU;

Abstract
The increasing of electricity subsidy – in terms of energy – has resulted a heavy burden on government
spending. One of the key strategies to reduce those burden is generation efficiency. Coal-fired power plant
has currently been the largest generating capacity in Indonesia. This paper examines the generation
performance in Indramayu’s coal-fired power plant (West Java) in year 2015 which has a total capacity
3x330 MW. The methodology used is the heat loss or indirect method and we assume that the lowest heat
rate parameter could produce a maximum efficiency. The results show that among 3 installed units, there
was only one units (3rd unit) that the lowest heat rate (2,765 kcal/kWh), using coal callories (4,690 kcal/kg)
and highest thermal efficiency about 31.1%. These implies that Indramayu’s power plants in inefficient due
to the boiler losses: heat elimination at the water preheater. Two crucial components that are required to
increase the Indramayu’s generation capacity, that are coal callories and leakage on boiler components.

Keywords: heat rate; thermal efficiency; coal- fired power plan;

Diterima : 25 Oktober 2016, direvisi : 5 Maret 2018, disetujui terbit : 6 Maret 2018 97
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106

PENDAHULUAN 1 dan Unit 3, hanya saja tidak menghitung heat


Membengkaknya subsidi listrik beberapa rate, namun menghitung efisiensi termal dengan
tahun terakhir dapat dikaitkan dengan pembangkit metode langsung yang terhubung ke grid/jaringan
yang tidak efisien dan mencapai puncaknya pada dan diperoleh hasil 35%. PT. PLN (Persero)
tahun 2012. Pada tahun tersebut, subsidi listrik Puslitbang Ketenagalistrikan melakukan
mencapai 94,583 trilyun rupiah[1], meskipun di perhitungan heat rate PLTU Indramayu Unit 3
tahun-tahun berikutnya subsidi cenderung turun pada tahun 2014 dengan membandingkan kondisi
karena adanya berbagai kebijakan. Seperti saat commisioning dan diperoleh Net Plant Heat
diketahui, PLTU adalah pembangkit terbesar yang Rate (NPHR) dengan peningkatan yang cukup
menyokong sistem ketenagalistrikan di Indonesia tajam dari 2.277,95 menjadi 2.612,35 kcal/kWh.
yaitu 58,3% dari total kapasitas pembangkit, Hal ini menunjukkan terjadi rugi-rugi yang
khususnya di Pulau Jawa dan Bali[2]. cukup besar pada sistem PLTU[7]. Berdasarkan
PLTU Indramayu merupakan salah satu penelitian di atas, akan dilakukan analisis kinerja
pembangkit yang dibangun pada Program dan efisiensi PLTU Indramayu sepanjang tahun
Percepatan 10.000 MW Tahap 1 (Fast Track 2015 dengan menggunakan parameter-parameter
Program 1) dengan kapasitas 3x330 MW. heat rate, efisiensi termal, dan efisiensi boiler.
Adapun komisioning / Commercial Operating
Date (COD) PLTU Indramayu dilakukan pada METODOLOGI
[3]
tahun 2011 . PLTU Indramayu merupakan jenis Penelitian ini dilakukan di PLTU
PLTU subcritical yang berarti masih terdapat 2 Indramayu, Jawa Barat. Waktu penelitian
fasa air (uap dan cair) pada hasil pemanasan di dilakukan pada Juli sampai November 2015.
dalam boiler, sehingga dibutuhkan steam drum Tahapan metodologi yang terpenting adalah
untuk memisahkan kedua fasa tersebut[4][5]. pengambilan data, perhitungan serta analisis
Batubara yang digunakan ada 2 jenis, yaitu efisiensi boiler dengan metode heat loss atau
medium dan low rank coal dari PT. Bukit Asam, metode tidak langsung seperti tertera pada
masing-masing memiliki nilai kalori High Gambar 1. Data yang dianalisis adalah data
Heating Value (HHV) sebesar 4.884 kcal/kg dan sekunder dari PT. PJB UBJ O&M PLTU
4.312 kcal/kg. Kedua jenis batubara tersebut Indramayu.
dicampur (mixing) dengan perbandingan 80% Persamaan untuk menghitung efisiensi boiler
low rank coal-20% medium rank coal, lalu di-
dengan metode tidak langsung, adalah[8][9]:
crushing menjadi serbuk dengan ukuran 200
η = 100 - (i + ii + iii + iv +….) (1)
mesh[3][6]. dengan:
Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, η = efisiensi boiler (%)
dan Konservasi Energi (Kementerian Energi dan i, ii, iii, .... = rugi-rugi pada boiler.
Sumber Daya Mineral, 2013) telah melakukan audit Persamaan untuk menghitung efisiensi termal,
energi di PLTU Indramayu Unit adalah [8]:

98
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015

860
ℎ=
(2) PLTU Indramayu. Salah satu penentu tingkat
efisiensi adalah heat rate, yang dapat merujuk
dengan:
pada usulan batas heat rate PLTU di Indonesia
ηth = efisiensi termal (%)
yang ditampilkan pada Tabel 1.
NPHR = Net Plant Heat Rate (kcal/kWh).
PLTU Indramayu dengan kapasitas
masing-masing unit 330 MW ada dalam kategori
Mulai
kapasitas 200<MW<500 dengan batas maksimal
heat rate (NPHR) yang diperbolehkan adalah
Studi literatur 2.707 kcal/kWh. Tetapi jika nilai heat rate
dibawah nilai tersebut akan semakin baik atau
efisien.
Pengambilan data
di PLTU Indramayu

Tabel 1. Usulan Batas Heat Rate PLTU


Tidak di Indonesia[14]
Mengolah Data
No. Kapasitas PLTU Batas Maksimal
Heat Rate (kcal/kWh)
1 < 100 MW 3.632
Data mencukupi? 2 100 < MW < 200 3.339
3 200 < MW < 500 2.707
4 >500 MW 2.495
Ya

Analisis dan Pembuatan Dasar analisis efisiensi PLTU Indramayu


Laporan
ini adalah kinerja operasi selama tahun 2015.
Berdasarkan hasil perhitungan NPHR, didapat
Selesai
rata-rata 2.560 kcal/kWh dari 3 unit pembangkit.
Gambar 1. Diagram Alir Penelitian Hal ini masih dalam rentang batas maksimal heat
rate yang diusulkan oleh PLN yaitu 2.707
HASIL DAN PEMBAHASAN kcal/kWh untuk PLTU dengan kapasitas
Kinerja sebuah PLTU dikatakan efisien 200<MW<500. Jika dibandingkan saat
dapat dianalisis dari 3 parameter utama, commissioning, maka heat rate tahun 2015 masih
yaitu[10][11][12][13]: berada jauh di atas 2.277 kcal/kWh.
1. Efisiensi boiler (basis LHV) Heat rate tersebut erat kaitannya dengan
2. Heat rate (basis HHV) HHV dari batubara yang digunakan. Semakin
3. Efisiensi termal tinggi HHV batubara, maka heat rate akan turun.
Pembahasan analisis efisiensi PLTU HHV batubara PLTU Indramayu menggunakan 2
Indramayu mengacu pada data operasional selama sumber, yaitu medium rank coal (4.884 kcal/kg)
tahun 2015. Dengan data tersebut diharapkan dapat dan low rank coal (4.312 kcal/kg). Selama tahun
menggambarkan tingkat efisiensi dari 2015, HHV batubara yang digunakan rata-rata

99
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106

4.579 kcal/kWh. Hal ini menunjukkan kalori kcal/kg. Rata-rata heat rate Unit 1 dan Unit 2
batubara yang digunakan telah sesuai dengan memiliki nilai yang hampir sama, hanya saja
spesifikasi boiler. kinerja Unit 2 lebih baik jika dilihat dari grafik
Untuk efisiensi boiler, digunakan metode heat rate yang cenderung datar.
perhitungan heat loss dengan basis Low Heating Untuk Unit 3 memiliki heat rate yang
Value (LHV). Hasil perhitungan menunjukkan cenderung tinggi pada awal tahun dan turun pada
efisiensi sebesar 94% dan hal ini sesuai dengan pertengahan sampai akhir tahun. Heat rate rata-
standar. Rugi-rugi terbesar dari boiler ini adalah rata Unit 3 lebih rendah dibanding Unit 1 dan 2
rugi-rugi akibat panas gas kering/dry flue gas yaitu 2.765 kcal/kg. Sedang heat rate rata-rata
yaitu mencapai 4-5%. Adapun perhitungan dari ketiga unit adalah 2.797 kcal/kg. Unit 3
efisiensi termal PLTU hanya dipengaruhi oleh memiliki heat rate yang terendah dikarenakan
NPHR, semakin kecil nilai NPHR maka efisiensi kalori batubara (HHV) yang digunakan lebih
semakin besar dan sebaliknya. tinggi dibandingkan dengan unit lain, sehingga
Gambar 2 menunjukkan kinerja heat rate Unit 3 merupakan unit paling efisien.
masing-masing unit PLTU Indramayu dan heat rate Unit 3 memiliki heat rate terendah karena
rata-ratanya selama 2015 yang berfluktuasi (naik- menggunakan kalori HHV batubara yang lebih
turun). Unit 1 memiliki heat rate yang tinggi pada tinggi dibanding unit-unit lain seperti yang
awal tahun, lalu turun pada pertengahan tahun, dan ditunjukkan pada Gambar 3. Terlihat bahwa
naik lagi pada akhir tahun. Rata-rata heat rate Unit HHV batubara pada Unit 3 sangat tinggi, bahkan
1 adalah 2.814 kcal/kg. beberapa bulan pada akhir tahun, nilai kalori
Sedang Unit 2 memiliki heat rate yang mencapai 5.000 kcal/kg. Sedangkan kalori
cukup konstan dan rendah sampai bulan batubara Unit 1 dan 2 memiliki nilai yang hampir
September, dan pada akhir tahun cenderung naik sama. Secara rata-rata pun kalori batubara Unit 3
lagi. Rata-rata heat rate unit 2 adalah 2.811 lebih tinggi yaitu 4.690 kcal/kg.

3400
3300
3200
3100
Heat rate
(kkal/kg)

3000 Unit 1
2900
2800 Unit 2
2700 Unit 3
2600
2500 Rata-rata
2400
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des
2015

Gambar 2. Grafik kinerja heat rate masing-masing unit selama 2015

100
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015

5200

5000

4800
Unit 1
(kkal/kg)

4600 Unit 2
HHV

4400 Unit 3
Rata2
4200

4000 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des

2015

Gambar 3. Grafik penggunaan kalori batubara masing-masing unit selama 2015

Analisis efisiensi termal masing-masing unit Maret) adalah transfer energi listrik ke beban
dapat dilihat pada Gambar 4. Unit 3 memiliki yang sangat rendah. Sebagai informasi, net
efisiensi termal rata-rata sedikit lebih tinggi capacity factor (NCF) masing-masing unit
dibandingkan Unit 1 dan 2, yaitu 31,10% (Unit 1 sepanjang tahun 2015 sebagai berikut: NCF Unit
= 30,56%; Unit 2 = 30,6%). Sesuai dengan 1 = 51,14%, Unit 2 = 70,09%, Unit 3 = 55,97%.
persamaan (2), efisiensi termal sangat dipengaruhi Sedangkan NCF rata-ratanya adalah 59,07%.
oleh heat rate (NPHR), semakin rendah heat rate NCF Unit 2 tertinggi dibandingkan dengan unit
maka efisiensi termal akan naik dan sebaliknya. lainnya, hanya saja efisiensi termalnya rendah.
Alasan Unit 3 memiliki efisiensi termal yang Hal ini disebabkan oleh kalori batubara yang
rendah pada awal tahun (Februari dan digunakan cukup rendah dibanding Unit 3[11].

36
34
32
Efisiensi termis (%)

30
Unit 1
28
Unit 2
26
Unit 3
24
Rata2
22

20 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des

2015

Gambar 4. Grafik efisiensi termal masing-masing unit selama 2015

101
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106

Parameter perhitungan heat and mass Pressure (HP) sebesar 76,3%, dan efisiensi
balance menggunakan data-data referensi dari hasil Intermediate Pressure (IP) sebesar 86,53%.
perhitungan untuk performa PLTU Indramayu Unit Untuk perhitungan efisiensi boiler PLTU
3 yang dapat dilihat pada Gambar Indramayu Unit 3, digunakan data perhitungan
5. Nilai-nilai yang tertera pada Gambar 5 dapat pada bulan Juni 2015. Pada analisis efisiensi
dilihat pada Tabel 2. Parameter-parameter hasil boiler dengan menggunakan metode heat
hitungan menunjukkan nilai ekspansi dan besaran loss/metode tidak langsung (basis LHV),
pemakaian energi pada titik masuk turbin dan pada mengacu pada persamaan (1). Data yang
titik keluar (exhaust) turbin yang menuju ke diperoleh adalah sebagai berikut:
kondensor. Heat and mass balance untuk performa i. Rugi-rugi panas akibat gas keluar air
PLTU Indramayu Unit 3 diperlihatkan dengan heater (LG) = 4,253%
maksud sebagai satu panduan dalam menganalisis ii. Rugi-rugi panas akibat moisture
distribusi energi dan keseimbangan dalam satu bahan bakar (Lmf+Lh) = 0,546%
siklus pembangkit. Berikut ini adalah hasil iii. Rugi-rugi panas akibat moisture
perhitungan heat and mass balance dengan udara pembakaran (Lma) = 0,1%
menggunakan software Gate Cycle oleh tim teknis iv. Rugi-rugi panas akibat pembakaran
PLTU Indramayu. Perhitungan dibuat pada kondisi tidak sempurna (LUC) = 0,948%
beban 100%. Total uap yang dibutuhkan untuk v. Rugi-rugi panas akibat radiasi (Lr)
menghasilkan daya 277.632 kW (100% beban) = 0,263%
adalah 868.633,33 kg/hari, dengan turbine heat rate vi. Rugi-rugi panas tidak terukur = 0,284%
2.136,62 kcal/kWh, efisiensi High vii. Total rugi-rugi panas boiler = 6,11%

3 5

1
HP Turbine IP Turbine
LP Turbine

Generator

Boiler

4
Kondenser
B E
D G
2
C
16 F
C
22
B 23
A CEP

24 15 13 11 9 8
Steam
Cooler 19 D E F G
B DEA Gland
A
Steam
20
Cond
17

HPH 7 HPH 6 BFP LPH 4 LPH 3 LPH 2 LPH 1 6


10
12 7
14
21 18

Gambar 5. Skema diagram proses PLTU Indramayu Unit 3[15]

102
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015

Rugi-rugi terbesar pada boiler PLTU sealing dan bucket heater-nya. Dengan
Indramayu adalah rugi-rugi panas akibat gas menggunakan persamaan (1) diperoleh nilai
keluar preheater air akibat kebocoran pada efisiensi boiler sebesar 93,89%.

Tabel 2. Nilai heat and mass balance PLTU Indramayu Unit 3[15]
Flow Tekanan Temperatur Entalpi
Titik
(kg/hr) (barA) (°C) (kJ/kg)
1 868.633,3 172,5 573,1 3.389,7
2 76.087,1 35,9 329 3.050,6
3 791.069,6 34,2 534,6 3.530,8
4 664.747,3 4,4 264 2.992,2
5 593.195,9 0,1 38,4 2.292,7
6 706.166,7 21,7 41,2 174,3
7 21.573 55,4 231,9
8 21.573 0,2 57,4 2.401,7
9 28.371,3 0,5 83,5 2.578,8
10 28.371,3 71,1 297,6
11 21.607,1 1,0 119,3 2.714,8
12 74.823,1 85,1 356,6
13 53.216 4,4 264 2.992,2
14 53.216 113,7 477,4
15 706.166,7 143,1 603,1
16 63.112,1 9,2 345,4 3.150
17 917.107,3 186,4 175,6 753,5
18 86.081,3 181,8 771,4
19 9.994,2 18,5 1.563,8
20 76.087,1 35,9 329 3.050,6
21 76.087,1 212,3 908,8
22 899.600 183,7 248 1.077,2
23 9.994,2 18,5 453,2 18,5
24 76.087,1 37,7 334 3.058,8

Gambar 6. Neraca energi PLTU Indramayu Unit 3

103
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106

Untuk perhitungan persentase tertinggi, serta efisiensi termal yang tertinggi.


Pemakaian Sendiri (PS), dapat dengan Heat rate rata-rata Unit 3 sudah mendekati
melihat data dari realisasi kinerja 2015, lalu usulan batas heat rate maksimum, serta efisiensi termal
dibandingkan dengan transfer energi listrik. juga tergolong rendah untuk skala PLTU, sehingga
• PS = 417.148 MWh diperlukan usaha-usaha untuk meningkatkan
• Transfer energi = 4.501.659 MWh efisiensinya
• % PS = 9,27%
Saran
Berdasarkan data-data di atas dapat
Setelah dilakukan penelitian Analisis
dibuat neraca energi PLTU Indramayu Unit 3
Peningkatan Efisisensi Pembangkit Tenaga Listrik di
tahun 2015 seperti tertera pada Gambar 6.
PLTU Indramayu, dapat dirangkum saran/rekomendasi
Mula-mula energi batubara sebagai bahan
untuk para pemangku kebijakan, antara lain:
bakar sebesar 100%, rugi-rugi pertama terjadi
1. Mengurangi kandungan moisture batubara, dengan
di boiler sebesar 6%, rugi-rugi berikutnya
coal dryer atau penambahan shelter
adalah pada siklus uap yang merupakan rugi-
2. Pengecekan parameter kandungan O2 flue gas di
rugi terbesar yaitu 54%, dan untuk pemakaian
sisi economizer outlet dan air heater outlet
sendiri sebesar 9%, sehingga diperoleh
3. Dilakukan pengecekan sealing dan bucket pada
efisiensi PLTU secara total adalah sebesar
air heater, serta mengatur clearance yang sesuai
31%. Sebagai PLTU subcritical dengan
4. Melakukan sootblowing pada air heater secara
efisiensi termal 31%, maka PLTU Indramayu
berkala
termasuk PLTU yang tidak efisien. Harusnya
5. Pengecekan kebocoran pada HP dan IP turbine
efisiensi termal PLTU subcritical berada pada
inlet bushing, gland seal, dan valve pada by pass
rentang 35-38%. Titik-titik yang bisa
system
ditingkatkan efisiensinya pada PLTU
6. Redesain ball catcher pada ball cleaning
Indramayu adalah boiler, kondensor, dan PS.
condensor untuk meningkatkan performa
kondensor
7. Pengaturan aliran udara dan batubara mengikuti
KESIMPULAN DAN SARAN spesifikasi batubara yang masuk, indikasinya
Kesimpulan peningkatan suhu flue gas
Dari 3 unit PLTU Indramayu yang 8. Kalibrasi ulang damper wind box (untuk mengatur
beroperasi selama tahun 2015, diperoleh udara sekunder) di boiler, karena semakin lama
bahwa kinerja Unit 3 merupakan unit yang beroperasi setting pasti berubah
paling efisien dibanding Unit 1 dan Unit 2. 9. Pembersihan slagging dan fouling (scope rutin
Hal ini ditunjukkan dengan nilai heat rate- overhaul)
nya (NPHR) terendah, kalori HHV batubara

104
Analisis Kinerja PLTU Indramayu Sepanjang Tahun 2015

10. Batubara yang basah dari tongkang Simple Inspection.”


disimpan terlebih dahulu di-coal yard [7] Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,
sebelum masuk coal bunker untuk 2013. Laporan Akhir Audit Energi PLTU
mengurangi moisture. Indramayu Unit 1 dan 3 PT. PLN (Persero)
[8] Y. P. Abbi, 2011. Energy Audit: Thermal Power,
UCAPAN TERIMA KASIH Combined Cycle, and Cogeneration Plants. The
Penulis mengucapkan banyak Energy and Resources Institute (TERI).

terima kasih kepada Bapak Wawang dan [9] Hilal Hamzah, 2015. “Kajian Efisiensi PLTU.”
[10] A. Arriola-Medellín, E. Manzanares-
Surya (PT. PJB PLTU Indramayu) atas
Papayanopoulos, and C. Romo-Millares, 2014.
kerjasamanya, serta DIPA P3TKEBTKE
“Diagnosis and redesign of power plants using
atas pendanaan kegiatan ini.
combined Pinch and Exergy Analysis,” Energy,
vol. 72, pp. 643–651.
DAFTAR PUSTAKA
[11] C. J. Koroneos, P. a. Fokaides, and E. a.
[1] Kementerian Keuangan, 2014. Nota
Christoforou, 2014. “Exergy analysis of a
Keuangan dan Anggaran Pendapatan
300 MW lignite thermoelectric power plant,”
dan Belanja Negara Tahun Anggaran
Energy, vol. 75, pp. 304–311.
2014, p. Lampiran 1-11.
[12] S. C. Kaushik, V. S. Reddy, and S. K. Tyagi, 2011.
[2] Kementerian Energi dan Sumber Daya
“Energy and exergy analyses of thermal power
Mineral, 2015. Rencana Usaha
plants: A review,” Renew. Sustain. Energy Rev.,
Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)
vol. 15, no. 4, pp. 1857–1872.
2015 - 2024.
[13] T. Sueyoshi, M. Goto, and T. Ueno, 2010.
[3] Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan,
“Performance analysis of US coal-fired power
2013. “Perhitungan Faktor Emisi 2013
plants by measuring three DEA efficiencies,”
Sistem Interkoneksi Jawa-Madura-
Energy Policy, vol. 38, no. 4, pp. 1675–1688.
Bali.”
[14] Maksum Hasan, 2014. Laporan Akhir: Kajian
[4] M. J. Djokosetyardjo, 1999. Ketel Uap.
Skema Subsidi Listrik PLN Berdasarkan Kinerja
Pradnya Paramita.
Pengelolaan Energi Listrik.
[5] Marsudi Djiteng, 2005. Pembangkitan
[15] PT. PJB UBJ O&M PLTU Indramayu, 2015.
Energi Listrik. Penerbit Erlangga.
“Performance Test Indramayu Unit 3, 25 Juni
[6] PT. PLN (Persero), 2014. “Laporan
2015.”.
Pengujian Heat Rate dan Efisiensi
PLTU Indramayu Unit 3 Sebelum

105
Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan
Vol. 16 No. 2 Desember 2017 : 97 - 106

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

106